cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
melo.iakntoraja@gmail.com
Editorial Address
Jl Poros Makale-Makassar Km 11,5 Mengkendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Melo: Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 27982017     EISSN : 27982254     DOI : https://doi.org/10.34307/mjsaa.v1i2
Melo is a Torajanese term that means good, excellent, pleasant, best. Melo is impression of God when He saw His creation. In Genesis 1, could be found that there are seven times He expresses this word. Every part of creation of God perfectly fulfills His will and purpose. This is the inspiration or view that underlies the use of the term Melo as the name for the study of religions journal. This journal is intended to publish research results that can bring goodness to human civilization as creation of God. Focus and Scope: 1. Digital Culture 2. Religion and Health 3. Philosophy of Religion 4. Religion and Politics 5. Religion, Economic, and Tourism
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024" : 5 Documents clear
IDENTITAS KEAGAMAAN YANG INKLUSIF DALAM KONTEKS RUANG DIGITAL UNTUK MEMBANGUN PERDAMAIAN Pemberian, Pemberian
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.165

Abstract

Abstract: Religious fanaticism and intolerance have increasingly proliferated in the digital space. The rise of individualism, where people often prioritize personal interests over collective well-being, contributes to the growing polarization and separation. The research aims to dig deeper into religious phenomena in the digital space and understand the discourse of scholars' perspectives to build a spirit of inclusivity and interfaith peace. This research uses the Critical Discourse Analysis (CDA) method, which descriptively examines the necessary texts and documents and criticizes them. The theoretical analysis departs from the views of Amartya Sen and F. Budi Hardiman. The results show that Sen emphasizes the importance of not only affiliating with a singular identity but realizing and appreciating the multiplicity of identities. Hardiman elaborates on the importance of ethical moral principles in digital space to prevent religious fanaticism. Both Sen and Hardiman emphasize the importance of inclusivity in fostering interfaith peace solidarity in the public sphere through respecting the difference of perspectives and identities of others. Abstrak: Fanatisme dan intoleransi beragama telah dan sedang menjamur di ruang digital dewasa ini. Setiap orang hidup secara individualis dan mengabaikan kebaikan bersama, sehingga seringkali menciptakan polarisasi hingga perpecahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam fenomena keagamaan dalam ruang digital, dan memahami diskursus pandangan para ahli dalam rangka membangun semangat inklusivitas dan perdamaian antaragama. Penelitian ini menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA), yaitu meneliti secara deskriptif teks dan dokumen yang diperlukan dan mengkritisinya. Analisis teori berangkat dari pandangan Amartya Sen dan F. Budi Hardiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sen menekankan pentingnya tidak hanya berafilisasi pada identitas tunggal, tetapi menyadari dan menghargai keragaman identitas. Hardiman mengelaborasi pentingnya prinsip moral etis dalam ruang digital untuk mencegah fanatisme beragama. Baik Sen dan Hardiman sama-sama memberi penekanan pada pentingnya semangat inklusivitas untuk membangun solidaritas perdamaian antaragama dalam ruang publik melalui penghargaan terhadap perbedaan perspektif dan identitas orang lain.
Tinjauan Terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing Bagi Suku Dayak Ngaju Penyang, Teguh; Anggellyna, Sri; Lianto, Lianto
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.166

Abstract

Abstract: This research discusses the terminology of the Tree of Life Genesis 2:9 with Crisp Trunks in the Dayak Ngaju tribe. Batang Garing is the Tree of Life for the Dayak Ngaju tribe, which is a gift from Ranying Hatalla. The similarity of the term Tree of Life is the focus of the author's research to review the terminology of the Tree of Life in Genesis 2:9 with the Garing Trunk for the Christian Dayak Ngaju tribe. This research will review whether the Tree of Life in Genesis 2:9 is the same as Batang Garing, interpreted as the Tree of Life for the Dayak Ngaju tribe. The research method used by the author is a descriptive qualitative research method. Data analysis techniques include description, reduction, selection, and conclusions. The terminology of the Tree of Life in Genesis 2:9 is a tree that gives eternal life, and its existence in the middle of the Garden of Eden symbolically symbolizes the existence of God as the center of life in the Garden of Eden. Meanwhile, the term Batang Garing is interpreted as the Tree of Life by the Dayak Ngaju tribe, which is the source of the origin of human life in the ancestral belief of the Dayak Ngaju tribe, namely Kaharingan. The Tree of Life is apparent in the context of Genesis 2:9, while the Batang Garing from the ancestral era of the Ngaju Dayak tribe still exists today and is used as a guide to ife values for the Ngaju Dayak tribe. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing di suku Dayak Ngaju. Batang Garing merupakan Pohon Kehidupan bagi suku Dayak Ngaju yang merupakan anugerah dari Ranying Hatalla. Kesamaan istilah Pohon Kehidupan menjadi fokus penelitian penulis untuk meninjau terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing bagi suku Dayak Ngaju yang beragama Kristen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meninjau apakah Pohon Kehidupan di Kejadian 2:9 sama dengan Batang Garing yang dimaknai sebagai Pohon Kehidupan bagi suku Dayak Ngaju. Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Dengan teknik analisis data yaitu deskripsi, reduksi, seleksi dan kesimpulan. Terminologi Pohon Kehidupan di Kejadian 2:9 merupakan sebuah pohon yang memberikan kehidupan kekal dan keberadaannya di tengah taman Eden secara simbolik menyimbolkan eksistensi Allah sebagai pusat kehidupan di taman Eden. Sementara, terminologi Batang Garing dimaknai sebagai Pohon Kehidupan oleh suku Dayak Ngaju yang merupakan sumber asal usul kehidupan manusia dalam keyakinan leluhur suku Dayak Ngaju yaitu Kaharingan. Pohon Kehidupan sangat jelas ada pada konteks Kejadian 2:9, sedangkan Batang Garing dari zaman leluhur suku Dayak Ngaju masih eksis hingga saat ini dan dijadikan pedoman nilai hidup bagi suku Dayak Ngaju.
Moderasi Beragama dan Akulturasi Agama Budaya: Sebuah Dinamika Hidup Beragama di Tana Toraja: Sebuah Dinamika Hidup Beragama di Tana Toraja Darius, Gayus; Safril, Safril
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.167

Abstract

Abstract: Conflicts driven by religious backgrounds or those claiming to represent religion pose significant threats, especially in societies that are highly diverse in terms of culture, ethnicity, race, and religion. In the Toraja community, the acculturation of religion and culture, along with religious moderation, serve as two models of religious practice to address religious conflicts. This study employs a descriptive qualitative research method, focusing on the values developed through the approaches of religious moderation and religious-cultural acculturation. The findings of this research reveal that religious moderation can be integrated with local culture, particularly the value of "karapasan," which aligns with the concept of religious moderation focused on humanity and the public good. Meanwhile, the religious-cultural acculturation approach is more dominant in seeking universal values without relying solely on religion as the moral framework. The socio-cultural approach creates universal values that are acceptable to both Christian and Muslim communities. In this context, it is evident that religion is not in conflict with culture; rather, both can interact and form a dialogue to achieve religious harmony in life. Abstrak: Konflik yang dipicu oleh latar belakang keagamaan atau yang mengatasnamakan agama memang membawa ancaman yang cukup besar apalagi dalam masyarakat yang sangat majemuk. Majemuk dalam budaya, suku, ras maupun agama. Di dalam masyarakat Toraja, akulturasi agama budaya dan moderasi beragama menjadi dua model beragama untuk mengatasi terjadinya konflik keagamaan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan berfokus pada nilai-nilai yang dikembangkan dari pendekatan moderasi beragama dan akulturasi agam-budaya. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa moderasi beragama dapat diintegrasikan dengan budaya lokal khususnya nilai karapasan yang sejalan dengan konsep moderasi beragama yang berfokus pada kemanusiaan dan kemaslahatan umum. Sedangkan pendekatan akulturasi agama-budaya lebih dominan dalam mencari nilai-nilai universal tanpa menggunakan agama sebagai satu-satunya sumber nilai moral. Pendekatan sosio-kultural menciptakan nilai-nilai yang universal yang dapat diterima baik di kalangan umat Kristen maupun umat Islam. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa agama tidak bersifat bertentangan dengan budaya; sebaliknya, keduanya bisa saling berinteraksi dan membentuk dialog dalam mewujudkan harmonisasi hidup beragama.
TEOLOGI MENGGUGAT SISTEM DEMOKRASI DAN POLITIK DI INDONESIA Roni, Roni; Yosbekasa, Yosbekasa
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.168

Abstract

Abstract: This article discusses the democratic and political system in Indonesia, which is not free from challenges such as corruption, money politics, human rights violations, and various other obstacles. These conditions indicate that Indonesian democracy has not reached its final stage. Various individuals and political elites, using the legitimacy of power, tarnish the democratic system in Indonesia, giving rise to various criticisms from democracy advocates to this day. Through this writing, the author attempts to examine the Indonesian democratic system through the lens of Jurgen Moltmann's political theology in Indonesia. This research uses a qualitative literature study approach to describe Moltmann's views regarding political theology within the democratic system in Indonesia. Abstrak: Artikel ini membahas sistem demokrasi dan politik di Indonesia yang tidak terbebas dari tantangan, seperti korupsi, money politik, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan berbagai macam tantangan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia belum sampai pada tahapan final. Berbagai macam oknum dan elit-elit politik dengan legitimasi kekuasaan mencoreng sistem demokrasi di Indonesia, sehingga timbul berbagai macam kritik dari pejuang demokrasi hingga saat ini. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membaca sistem demokrasi Indonesia melalui lensa teologi politik Jurgen Moltmann di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kepustakaan, untuk menguraikan bagaimana pandangan Moltmann terkait teologi politik dalam sistem demokrasi di Indonesia.
Urbanus MERAWAT KEBHINEKAAN: DIALOG INTERRELIGIUS SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN TOLERANSI DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA: MERAWAT KEBHINEKAAN: DIALOG INTERRELIGIUS SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN TOLERANSI DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Sila, Urbanus
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.163

Abstract

Abstract: The focus of the discussion is on Caring for diversity: interreligious dialog as an effort to build tolerance and religious harmony. Indonesia, with its rich culture, is inhabited by people of various ethnicities, religions and races. This diversity is a strength, but it can also be a potential conflict. Interreligious dialogue is important to build tolerance and religious harmony. This article analyzes the role of interreligious dialogue in maintaining Indonesia's diversity. This discussion uses a qualitative method with a literature study. Data were collected from books, scientific journals, and online articles that discuss interreligious dialog and tolerance. The previous literature is discussed using the technique of analyzing the discussion on the text. The results of the discussion show that interreligious dialog has an important role in building tolerance and religious harmony. Interreligious dialogue can help build mutual understanding, respect for differences, and cooperation between religious communities. Interreligious dialog can also help resolve conflicts between religious communities. This research recommends that interreligious dialog continue to be carried out and strengthened. Interreligious dialog needs to involve all stakeholders, including the government, religious leaders and civil society. Interreligious dialog also needs to be carried out at various levels, from the national level to the local level. Abstrak: Fokus pembahasan tentang Merawat kebhinekaan: dialog interreligius sebagai upaya membangun toleransi dan kerukunan umat beragama. Indonesia, dengan kekayaan budayanya, dihuni oleh masyarakat yang beragam suku, agama, dan ras. Keberagaman ini merupakan kekuatan, namun juga dapat menjadi potensi konflik. Dialog interreligius menjadi penting untuk membangun toleransi dan kerukunan umat beragama. Artikel ini dianalisis peran dialog interreligius dalam merawat kebhinekaan Indonesia. Pembahasan ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur. Data dikumpulkan dari buku, jurnal ilmiah, dan artikel online yang membahas tentang dialog interreligius dan toleransi. Literatur terdahulu dibahas dengan menggunakan teknik analisis pembahasan pada teks. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dialog interreligius memiliki peran penting dalam membangun toleransi dan kerukunan umat beragama. Dialog interreligius dapat membantu membangun saling pengertian, menghormati perbedaan, dan kerjasama antarumat beragama. Dialog interreligius juga dapat membantu menyelesaikan konflik antarumat beragama. Penelitian ini merekomendasikan agar dialog interreligius terus dilakukan dan diperkuat. Dialog interreligius perlu melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Dialog interreligius juga perlu dilakukan di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat nasional hingga tingkat lokal.

Page 1 of 1 | Total Record : 5