cover
Contact Name
Katarina
Contact Email
tatayuni76@gmail.com
Phone
+6285867878881
Journal Mail Official
jtki.simpson@gmail.com
Editorial Address
Jl. Agung No. 66, Krajan, Kel. Susukan. Kec. Ungaran Timur, Kab. Semarang (50516) Jawa Tengah.
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27228630     DOI : https://doi.org/10.46445/jtki
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia (JTKI) published twice a year in June and December. Publishing by Simpson Theological Seminary. This Journal accepted articles of colleges, Practitioners, teachers, and lectures. JTKI accepts research papers and conceptual ideas that meet the rules of writing scientific articles. The scopes of this journal published articles are: Contextual Theology, Pastoral Contextual, Anthropology and Ethnography, Theology and Culture, Theology of Missions, Evangelism theology, Contextual Missiology, Community Development, Contemporary Theology, Sociology of Religion, Theology Contemporary Issues.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2020): Juni" : 6 Documents clear
Strategi Misi Lintas Budaya Berdasarkan Kisah Para Rasul 1:8 Deni Triastanti; Ferderika Pertiwi Ndiy; H Harming
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.788 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.246

Abstract

Misi lintas budaya menjadi bagian penting dalam dunia pelayanan kekristenan. Mandat bermisi dalam Kisah Para rasul 1:8, merupakan perintah langsung dari Yesus Kristus sebelum terangkat ke sorga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif literature studi dengan hermenetik deskriptif guna mengerti maksud yang sebenarnya pada masa penulisan teks.  Adapun hasil dari pembahasan tersebut dalam melakukan strategi misi, menggunakan kontekstual budaya yang diikuti dengan membuktikan kebenaran Injil.  Selain itu penjangkauan jiwa-jiwa dengan bersaksi melalui proses pemuridan.  
Perempuan Dalam Konteks Ritual Agama Kaharingan Pada Suku Dayak Maanyan Rama Tulus Pilakoannu
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.502 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.289

Abstract

Women today have advanced and developed in showing their existence in various lines of life. But on the other hand there are still many women who experience injustice. One aspect that causes this injus-tice is the patriaki culture system. Because it is necessary to explore various aspects of community life to show the real existence of women. Kaharingan religious ritual among the Dayak Maanyan com-munity is one phenomenon that deserves to be explored in relation to the existence of women in these rituals. Therefore it is necessary to question how women are in rituals. From there then this paper aims to identify the rituals in which there is a figure of a woman who plays an important role. The study was conducted with library research. Based on the data obtained shows that women are very important even the highest position in the ritual which in this case looks at the figure of Wadian. Wadian plays a role not only in relations with humans, but more than that in relationships with the divine. AbstrakKaum perempuan saat ini telah maju dan berkembang dalam menunjukkan eksistensinya di berbagai lini kehidupan. Namun pada sisi lain masih banyak juga kaum perempuan yang mengalami ketidak adilan. Salah satu aspek yang menyebabkan ketidakadilan itu adalah sistem budaya patriaki. Karena itu perlu mengeksplorasi berbagai sisi kehidupan masyarakat untuk menunjukkan eksistensi perem puan yang sesungguhnya. Ritual agama Kaharingan di kalangan masyarakat Dayak Maanyan salah satu fenomena yang patut untuk dieksplorasi terkait keberadaan perempuan dalam ritual-ritual tersebut. Karena itu perlu untuk mempertanyakan bagaimana keberadaan perempuan dalam ritual-ritual. Dari situ kemudian tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi ritual-ritual yang didalamnya terdapat sosok perempuan yang memegang peranan penting. Penelitian dilakukan dengan penelitian pustaka. Berdasarkan data yang didapat menunjukkan bahwa perempuan berkedudukan sangat penting bahkan tertinggi dalam ritual yang dalam hal ini tampak pada sosok Wadian. Wadian berperan tidak hanya dalam hubungan dengan manusia, namun lebih daripada itu dalam hubungan dengan ilahi.
Iman Kristen Dan Kebudayaan Sundoro Tanuwidjaja; Samuel Udau
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.336 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.299

Abstract

Culture is created by God, as it is the essence of Christian faith, in order to reflects His values and glory. Culture can not be separated from the existence of God relate to its origin, process and ultimate objective. However, culture is never be able separated from humanity's oldest struggle, sin. The existence of sin also takes part in various area in the development of human culture, there for brings those who insult and assume that God is not the highest and must be glorified, even rejecting the existence of God. The teachings of the Christian faith explain the concept of redemption which finally enables the culture to recognize the existence of God as the highest being, and to reveal His glory. This paper expresses various Christian struggles in addressing the existence and development of human culture from the perspective of the Christian faith, and returning it to God's original position and purpose for humans. Kebudayaan berasal dari Allah dijalankan sesuai tata nilai dari Allah dan dan harus kembali kepada Allah, itulah esensi iman Kristen. Budaya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Allah, baik asal mulanya, prosesnya hingga kepada tujuan akhirnya. Walau demikian, kebudayaan tidak terlepas dari pergumulan tertua manusia, yaitu dosa. Keberadaan dosa juga mengambil andil dalam perkembangan kebudayaan manusia ke berbagai bidang, sehingga ada yang melecehkan dan mengganggap bahwa Allah bukanlah yang tertinggi dan harus dimuliakan, bahkan menolak keberadaan Allah. Ajaran iman Kristen memaparkan konsep penebusa yang akhirnya memampukan kebudayaan itu mengakui keberadaan Allah sebagai Pribadi yang tertinggi, dan menyatakan kemuliaan-Nya. Tulisan ini mengungkapkan berbagai pergumulan orang Kristen dalam menyikapi keberadaan maupun perkembangan kebudayaan manusia dari sudut pandang iman Kristen, dan mengembalikannya pada posisi maupun tujuan awal Allah bagi manusia.
Spiritualitas Orang Kristen Dalam Menghadirkan Kerajaan Allah di Tengah Tantangan Radikalisme Martina Novalina
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.141 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.293

Abstract

Radikalisme bukanlah sebuah istilah baru yang ada dalam kehidupan bangsa ini. Di tengah tantangan tersebut, peran spiritualitas seseorang akan sangat membantu bangsa ini, begitu juga dari kalangan spiritualitas orang Kristen; bagaimana orang Kristen bisa menghadirkan Kerajaan Allah di tengah tantangan tersebut. Pembahasan dalam artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik penulisan penelitian yang digunakan adalah literature review atau studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas orang kristen yang dihadirkan dalam masyarakat harus bisa memberikan keteduhan bagi masyarakat plural di Indonesia, bukan justru menimbulkan kegaduhan. Sikap radikal orang Kristen dalam menjalankan imannya tidak harus diwujudkan melalui demonstrasi ekstrim tetapi tindakan radikal orang kristen haruslah mampu membawa orang Kristen menjadi saksi dan membawa damai, keadilan dan kasih bagi sesamanya; menunjukkan kepedulian terhadap sesama dan masyarakat. Spiritualitas orang kristen pun harus menjamah bidang pendidikan, dan pembinaan emosi. Semua hal tersebut di atas memungkinkan untuk dilakukan dalam bangsa ini dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah tantangan radikalisme.
Pelayanan Dalam Konteks Masyarakat Perkotaan Selvester Melanton Tacoy
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.679 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.300

Abstract

Urban community service is a service that must be done by the church. City context services require a contextual service approach, therefore the authors conducted a literature analysis to present an idea of the service of the city context. In serving the city context, the church must begin by equipping the congregation to witness, because the church has a role in a pluralistic society. Because of the complexity of services in the city, we need a counseling center that can help individuals who are vulnerable to mental-psychological disorders. Because poverty is a problem in the city, the church needs to be present by carrying out social actions in an effort to present God's love to others. Educational institutions also play an important role in alleviating poverty in cities, therefore educational institutions need to answer this need. The condition of the city community who keeps trying to interact and build friendships can be facilitated by creating sports groups.  AbstrakPelayanan masyarkaat perkotaan adalah sebuah pelayanan yang harus dilakukan oleh gereja. Pelayanan konteks kota memerlukan pendekatan pelayanan yang kontekstual, oleh sebab itu penulis melakukan analisis pustaka untuk menyajikan sebuah gagasan pelayanan konkteks kota. Dalam pelayanan konteks kota, gereja harus memulainya dengan memperlengkapi jemaat untuk bersaksi,  sebab jemaat memiliki peran dalam masyarakat yang majemuk. Karena kompleksitas pelayanan di kota maka dibutuhkan sebuah pusat konseling yang dapat membantu individu yang rentan terhadap gangguan mental-psikologis. Karena kondisi kemisikinan menjadi masalah di kota maka gereja perlu hadir dengan melakukan aksi Sosial sebagai upaya menghadirkan kasih Allah pada sesama. Lembaga pendidikan juga berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan di kota, oleh sebab itu perlu lembaga pendidikan yang menjawab kebutuhan ini. Kondisi masyarakat kota yang terus berusaha berinteraksi dan membangun persahabatan dapat difasilitasi dengan membuat grup olah raga.
Strategi Misi Lintas Budaya Berdasarkan 1 Korintus 9:19-23 Yohanes Andi; Oktavina Tola; Yabes Doma; I Ketut Gede Suparta
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 1, No 1 (2020): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.938 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v1i1.249

Abstract

Cross-cultural mission strategy based on 1 Corinthians 9: 19-23. There are several main problems, one of which is that 1 Corinthians 9: 19-23 has been studied by several researchers and interpreters, but they look at it from another side. And also in the service really needs a strategy especially in carrying out cross-cultural services. By using a qualitative method with literature study approach and using the Hermeneutic Bible method. To find the results of the cross-cultural mission strategy carried out by Paul. Based on the analysis of the text of 1 Corinthians 9: 19-23, the author found three mission strategies in cross-cultural namely not exclusive, not selfish and does not discriminate against people based on background or social status.

Page 1 of 1 | Total Record : 6