cover
Contact Name
Anak Agung Eka Suwarnata
Contact Email
agrisintech.fpunb@gmail.com
Phone
+6285237240748
Journal Mail Official
agrisintech.fpunb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Bangsa, Jalan K.H. Sholeh Iskandar Km.4, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, 16166
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology)
ISSN : 27218597     EISSN : 27218589     DOI : https://doi.org/10.31938/agrisintech
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrisintech merupakan jurnal ilmiah yang menerima karya ilmiah dalam Rumpun Ilmu dengan kategori: 1. Sub Rumpun Ilmu Pertanian dan Perkebunan Sosiologi dengan bidang Ilmu Tanah, Holtikultura, Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman dan Perkebunan, Perkebunan, Pemuliaan Tanaman dan bidang pertanian dan perkebunan lain yang belum tercantum. 2. Sub Rumpun Teknologi dalam Ilmu Tanaman dengan bidang ilmu Teknologi Industri Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Teknologi Pertanian, Teknologi Pasca Panen,Teknologi Perkebunan, Bioteknologi Pertanian dan Perkebunan, Ilmu Pangan, dan Bidang Teknologi dalam Ilmu Tanaman yang belum tercantum. 3. Sub Rumpun Ilmu Sosiologi Pertanian dengan bidang ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Ekonomi Pertanian, Sosiologi Pedesaan, Agribisnis, Penyuluh Pertanian, dan Bidang Sosiologi Pertanian lain yang belum tercantum.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2024): Oktober" : 5 Documents clear
Karakter Morfologi dan Produksi Pati Sagu (Metroxylon spp.) di Kecamatan Tinombo Selatan, Sulawesi Tengah Pembayun, Putri; Karmanah, Karmanah; Djoefrie, Mochamad Hasjim Bintoro
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.723

Abstract

Sago (Metroxylon spp.) is carbohydrate-producing plant that has high productivity and potential to developed in Indonesia. Distribution of sago area in the world is 6,279,637 hectares and Indonesia is 5,579,637 hectares. Sago can produce dry much as 20-40 tonnes ha-1 year-1, in Mappi Regency there are sago that have dry starch of 1,197.20 kg steem-1. The distribution of sago in Indonesia is extensive, covering the islands of Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku and Java. This study aimed to obtain information on morphological characters and starch production of several sago accessions in South Tinombo District, Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi Province. The research used the obsevation method on fourteen accessions. Sago accessions in The South Tinombo District have different morphological and production characters. Steem length from 5.65-13.10 m. Rachis length from 2.70-6.80 m and petiole length from 0.46-1.66 m. Accession Sigenti has the highest dry starch production. Accession Sigenti had the highest dry starch production of 429.19 kg stem-1 and Accession Sigenti South 2 the lowest of 56.62 kg stem-1. The average dry starch production in Tinombo Selatan sub-district was 245.90 kg stem-1. Accession Sigenti is recommended as a local superior sago and can be further researched for yield stability to become a superior sago variety. Sagu (Metroxylon spp.) merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki produktivitas tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Luas pertanaman sagu di dunia 6.279.637 hektar dan Indonesia sekitar 5.579.637 hektar. Penyebaran sagu di Indonesia cukup luas, meliputi Pulau Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Jawa. Sagu dapat menghasilkan pati kering sebanyak 20-40 ton ha-1 tahun-1, di Kabupaten Mappi terdapat pohon sagu yang memiliki kandungan pati kering 1.197,20 kg pohon-1. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi dan produksi pati beberapa aksesi sagu di Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode observasi terhadap empat belas aksesi. Aksesi sagu di Kecamatan Tinombo Selatan memiliki karakter morfologi dan produksi yang berbeda-beda. Panjang batang berkisar antara 5,65-13,10 m. Panjang rachis berkisar antara 2,70-6,80 m dan panjang petiol berkisar antara 0,46-1,66 m. Aksesi Sigenti memiliki produksi pati kering paling tinggi 429,19 kg batang-1 dan Aksesi Sigenti Selatan 2 paling sedikit 56,62 kg batang-1. Rata-rata produksi pati kering di Kecamatan Tinombo Selatan 245,90 kg batang-1. Aksesi Sigenti direkomendasi sebagai sagu unggul lokal dan dapat diteliti lebih lanjut kestabilan hasilnya untuk menjadi varietas sagu unggul.
Strategi Pengembangan Pemasaran Kopi Robusta di Unit Usahatani Agro Semesta Wartju, Jason Jonathan; Setiawan, I Gede Bagus
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.730

Abstract

The problem faced by coffee farmer groups in Tabanan Bali is marketing. This is also experienced by the Agro Semesta Farming Business Unit (UUT) located in Pajahan Village, Pupuan District, Tabanan Regency. They still have difficulty in marketing their flagship product, namely Sobean Coffee. This study aims to identify factors in the internal and external environment in marketing development, as well as to find alternative marketing development strategies and priority strategies needed by UUT Agro Semesta in developing Sobean Coffee marketing. The analysis tools used in this study include the IFAS, EFAS, IE, SWOT, and QSPM matrices. The results of the study showed that there were six strength factors, namely Superior Brand, Characteristic dark chocolate and fruity flavors, Red Pick and Honey process, Coffee processing facilities and Assistance from the Kopernik Subak Abian Amertha Karya Foundation as a coffee supplier and five weakness factors, namely Lack of human resources in production and marketing, Marketing is still by word of mouth, Decrease in quality after 3 months, Difficulty finding distributors and Not having a production permit, and four opportunity factors, namely Increasing coffee drink trends, Increasing coffee demand, Export of coffee to international markets and E-commerce and social media and three threat factors, namely Lack of interest in village youth, Relatively expensive prices and Lack of extension workers. The results of the IFAS and EFAS matrix analysis on the SWOT diagram, UUT Agro Semesta has quite strong internal strength but faces quite serious threats, this encourages UUT Agro Semesta to seek alternative strategies that are diversified. There are nine alternative strategies generated from the SWOT matrix, and the results of the QSPM matrix show that creating a UUT development program with the Regional Government and the Kopernik Foundation to attract the interest of village youth is a priority strategy for UUT Agro Semesta in developing Sobean Coffee marketing. Permasalahan yang dihadapi kelompok petani kopi di Tabanan Bali adalah soal pemasaran. Hal ini juga dialami oleh Unit Usaha Tani (UUT) Agro Semesta yang berlokasi di Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Mereka masih mengalami kesulitan dalam memasarkan produk andalannya, yaitu Kopi Sobean. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pada lingkungan internal dan eksternal dalam pengembangan pemasaran, serta mencari alternatif strategi pengembangan pemasaran dan strategi prioritas yang diperlukan oleh UUT Agro Semesta dalam mengembangkan pemasaran Kopi Sobean. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini mencakup matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT, dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam faktor kekuatan yaitu Brand unggulan, Ciri khas rasa dark chocolate dan fruity, Petik merah dan Honey process, Fasilitas pengolahan kopi dan Bantuan dari Yayasan Kopernik Subak Abian Amertha Karya sebagai pemasok kopi dan lima faktor kelemahan yaitu Kurangnya SDM dalam produksi dan pemasaran, Pemasaran masih dari mulut ke mulut, Penurunan kualitas setelah 3 bulan, Kesulitan mencari distributor dan Tidak memiliki izin produksi, serta empat faktor peluang yaitu Trend minuman kopi yang meningkat, Permintaan kopi yang meningkat, Ekspor kopi pasar internasional dan E-commerce dan media sosial dan tiga faktor ancaman yaitu Kurangnya minat pemuda desa, Harga relatif mahal dan Kurangnya tenaga penyuluh. Hasil analisis matriks IFAS dan EFAS pada diagram SWOT, UUT Agro Semesta memiliki kekuatan internal yang cukup kuat namun menghadapi ancaman yang cukup serius, hal ini mendorong UUT Agro Semesta untuk mencari alternatif strategi yang bersifat diversifikasi. Ada sembilan alternatif strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT, dan hasil matriks QSPM menunjukkan bahwa membuat program pengembangan UUT dengan Pemda dan Yayasan Kopernik untuk menarik minat pemuda desa menjadi strategi prioritas untuk UUT Agro Semesta dalam mengembangkan pemasaran Kopi Sobean.
Penampilan Karakter Morfologi Enam Kultivar Unggul Kedelai pada Budidaya Sistem Hidroponik Sukmasari, Miftah Dieni; Wijaya, Acep Atma
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.743

Abstract

In order to meet national soybean needs, soybean production must be increased. The use of quality seeds in terms of viability and vigor is one way to increase production results. Meanwhile, soybean seed production at the farmer level is carried out the same as soybean production for consumption, whereas seeds harvested for seeds must have special criteria such as water content, uniformity of seed size, and seeds must be free from disease contamination. One way to improve seed quality is to plant soybeans in a controlled environment. The technology developed in this study is the hydroponic system. The purpose of this study was to observe the morphological appearance of six superior soybean cultivars with hydroponic planting. This study was conducted in a Green House with a DFT hydroponic system installation. The cultivars tested were Grobogan, Anjasmoro, Deja 2, Dering 1, Gepak Kuning, and Dega 1. The results showed that each cultivar showed a different appearance in each observed variable. The Gepak Kuning and Dering 1 cultivars showed good performance on average in plant height, stem diameter, and seed weight. These cultivars have shown their ability to adapt to hydroponic planting systems to improve the quality of soybean seeds. Dalam upaya memenuhi kebutuhan kedelai nasional, produksi kedelai harus ditingkatkan. Pemakaian benih yang bermutu dalam hal viabilitas dan vigor menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksi. Sedangkan produksi benih kedelai ditingkat petani dilakukan sama seperti produksi kedelai untuk konsumsi, padahal biji yang dipanen untuk benih harus memiliki kriteria khusus misalnya kadar air, tingkat keseragaman ukuran biji, dan biji harus terbebas dari kontaminasi penyakit. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas benih adalah dengan menanam kedelai di lingkungan yang terkendali. Teknologi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah dengan system hidroponik. Tujuan penelitian ini adalah melihat penampilan morfologi enam kultivar unggul kedelai dengan penanaman secara hidroponik. Penelitian ini dilakukan di Green House dengan instalasi hidroponik system DFT. Kultivar yang diuji yaitu Grobogan, Anjasmoro, Deja 2, Dering 1, Gepak kuning, dan Dega 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kultivar menunjukkan penampilan yang berbeda pada setiap variable yang diamati. Kultivar Gepak Kuning dan Dering 1 rata-rata menunjukkan penampilan baik pada tinggi tanaman, diameter batang, dan bobot biji. Kultivar-kultivar tersebut mampu beradaptasi pada system penanaman secara hidroponik untuk peningkatan kualitas benih kedelai.
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Interval Penyiraman Terhadap Laju Pertumbuhan Bibit Kopi Robusta Ismoyojati, Roni; Devi, Devi
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.744

Abstract

Various mixtures of planting media and watering with predetermined intervals are used to support the growth process of Robusta coffee seedlings in the early stages of plant cultivation. The aim of this research is to determine how various planting media compositions and watering intervals influence the growth rate of Robusta coffee seedlings. This study used a Randomized Block Design (RBD) with three replication blocks and a 3x3 factorial pattern as an experimental design. The two aspects studied were watering interval (I) and plant media (M). The planting media factor (M) consists of three levels: M0 is top soil media, M1 is top soil and 2:1 TKKS media, and M2 is top soil and 2:1 manure media. The watering interval factor (I) has three levels: I0 indicates a one-day watering interval, I1 indicates a two-day watering interval, and I2 indicates a three-day watering interval. The variables observed included growth rate, dry weight, number of leaves, root length, and plant height. Based on the research findings, there was no interaction between the combination of watering intervals and planting media treatments. However, at the age of 60 HST, 90 HST, and 120 HST there was a significant difference in the variable of plant height between the treatment intervals of watering once every two days (I1), watering once a day (I0), and watering treatment once every three days (I2). At the age of 60 HST there was also a difference in the variable of root length between the planting media treatments. There was a significant difference between the treatment of watering once a day (I0) and the treatment of watering once every two days (I1) in the variable of dry weight at 120 HST. The results of the slope analysis of the line on the logistic pattern growth curve in all treatments showed no significant difference and interaction between the combinations of treatments tested on the variables of plant height and root length. Berbagai campuran media tanam dan pemberian air dengan interval tertentu diuji untuk mendukung proses pembibitan kopi robusta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana laju pertumbuhan bibit kopi Robusta dipengaruhi oleh berbagai komposisi media tanam dan interval penyiraman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga blok ulangan dan pola faktorial 3x3 sebagai rancangan percobaan. Dua faktor yang diteliti adalah interval penyiraman (I) dan media tanaman (M). Faktor media tanam (M) terdiri dari tiga taraf: M0 adalah media top soil, M1 adalah top soil dan media TKKS 2:1, dan M2 adalah top soil dan media pupuk kandang 2:1. Selain itu, Faktor interval penyiraman (I) yang diuji mencakup tiga taraf: I0 menunjukkan interval penyiraman satu hari, I1 menunjukkan interval penyiraman dua hari, dan I2 menunjukkan interval penyiraman tiga hari. Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan, berat kering, jumlah daun, panjang akar, dan tinggi tanaman. Berdasarkan temuan penelitian, tidak terdapat interaksi antara kombinasi interval penyiraman dan perlakuan media tanam. Namun pada umur 60 HST, 90 HST, dan 120 HST terdapat perbedaan nyata variabel tinggi tanaman antara interval perlakuan penyiraman dua hari sekali (I1), penyiraman sehari sekali (I0), dan perlakuan penyiraman tiga hari sekali (I2). Pada umur 60 HST juga terdapat perbedaan variabel panjang akar antar perlakuan media tanam. Terdapat perbedaan nyata antara perlakuan penyiraman satu kali sehari (I0) dengan perlakuan penyiraman dua hari sekali (I1) pada variabel berat kering 120 HST. Hasil analisis kemiringan garis pada kurva pertumbuhan pola logistik di semua perlakuan menunjukkan tidak ada perbedaan nyata dan interaksi antar kombinasi perlakuan yang diujicobakan pada variabel tinggi tanaman dan panjang akar.
Keanekaragaman Serangga di Kebun Masyarakat Kampung Kwau Pegunungan Arfak, Papua Barat Palayukan, Magdalena Rara; Panjaitan, Rawati; de Fretes, Yance
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.754

Abstract

Insect pests are organisms that can cause damage to plants, resulting in the loss or decrease of community harvest production. Kwau Village is one of the villages in the Arfak Mountains whose people work as traditional farmers. Information about insects, especially pests found in community gardens is still very lacking, so this study needs to be conducted. The purpose of this study was to analyze the diversity of insect species in traditional Arfak community gardens. Observations of insects on plants in four community gardens in Kwau Village were selected by cluster random sampling. The study was conducted from 08.00-15.00 WIT. Based on the research conducted, 65 species were found consisting of 32 insect families (331 individuals). The most common type found was Cymbiodyta sp. (Hydrophilidae). The garden with the highest level of insect diversity was Garden 3 (K3) which is a polyculture type garden with an H' index of 3.10. Of all the plants observed, chili  was the plant most serious damaged by insects. Serangga hama merupakan suatu organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga menyebabkan hilang atau menurunnya produksi hasil panen masyarakat. Kampung Kwau merupakan salah satu kampung yang diterdapat di Pegunungan Arfak yang masyarakatnya berprofesi sebagai petani tradisional. Informasi tentang serangga khususnya hama yang terdapat di kebun masyarakat masih sangat kurang, sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman spesies serangga yang ada pada kebun tradisional masyarakat Arfak. Pengamatan serangga pada tanaman di empat kebun masyarakat di Kampung Kwau yang dipilih secara cluster random sampling. Penelitian dilakukan dari Pukul 08.00-15.00 WIT. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan 65 spesies yang terdiri dari 32 famili serangga (331 individu). Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Cymbiodyta sp. (Hydrophilidae). Kebun yang memiliki tingkat keanekaragaman serangga paling tinggi pada dalah Kebun 3 (K3) yang merupakan kebun tipe polikultur dengan indeks H’ sebesar 3,10. Dari semua tanaman yang diamati,  cabai  adalah tanaman paling banyak mengalami kerusakan berat akibat serangga.

Page 1 of 1 | Total Record : 5