cover
Contact Name
Abd Kholiq
Contact Email
kholiq@unesa.ac.id
Phone
+6285731570404
Journal Mail Official
jifi@unesa.ac.id
Editorial Address
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya Kampus Ketintang Unesa, Gedung C3 Lantai 1 Jl Ketintang, Surabaya 60321, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inovasi Fisika Indonesia (IFI)
ISSN : 23024216     EISSN : 28301765     DOI : https://doi.org/10.26740/ifi
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia(IFI) is a peer-reviewed journal, ISSN: 2302-4216, which is managed and published by the Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). This journal is accessible to all readers and covers developments and research in physics (Materials Physics, Earth Physics and Instrumentation Physics).
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2014)" : 18 Documents clear
RELOKASI HIPOSENTER GEMPA BUMI 18 AGUSTUS 2012 (MAGNITUDO 6,2 MB) DAN SUSULANNYA DI DAERAH PALU, SULAWESI TENGAH MENGGUNAKAN METODE MJHD AINIYATUL MUTHOHARO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.964 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakDaerah Palu, Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah yang sering dilanda bencana gempa bumi dan memiliki tingkat aktivitas yang sangat tinggi karena di Pulau Sulawesi terdapat Sesar Palu Koro, dan dilewati oleh formasi Pacific Ring of Fire yang berupa sederetan gunung api aktif maupun tidak aktif di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah merelokasi hiposenter gempa bumi di daerah Palu, Sulawesi Tengah menjadi lebih akurat dengan menggunakan metode Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah inversi MJHD untuk merelokasi gempa bumi utama dan susulannya, sedangkan untuk pemetaan relokasi menggunakan Generic Maping Tool (GMT). Data yang digunakan sebanyak 154 buah gempa bumi, yang terdiri dari 1 gempa bumi utama dan 153 gempa susulan, dengan rentang waktu 18 Agustus 2012 – 30 Agustus 2012. Dari data yang telah dianalisis dengan menggunakan metode inversi MJHD didapatkan jumlah gempa yang direlokasi berjumlah 21 gempa dengan 1 gempa bumi utama dan 20 gempa susulan. Stasiun yang digunakan untuk relokasi 11 stasiun (APSI, BKSI, BNSI, KDI, KKSI, LUWI, MPSI, MRSI, PCI, SPSI, dan TTSI). Kedalaman awal dari hiposenter gempa bumi utama sebelum relokasi bernilai 10 km, tetapi setelah direlokasi kedalamannya berubah menjadi 17,47 km. Posisi gempa bumi utama pada tanggal 18 Agustus 2012 dan susulannya sampai tanggal 30 Agustus 2012 mengalami pergeseran tidak terlalu besar dan mendekati jalur sesar Palu Koro. Rata-rata RMS waktu tempuh BMKG sebesar 0,38146 dan MJHD bernilai 0,07593. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini data gempa bumi sesudah hasil relokasi menjadi lebih akurat.Kata Kunci: Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD), stasiun, RMS (Root Mean Square)AbstractThe Palu regions, Central Sulawesi is one of areas which often hit by the earthquake and has a very high level of activity because in Sulawesi there are Palu Koro Fault, and by passed the formation of the Pasific Ring of Fire which of a row of volcanoes active or not active around the world. The purpose of this research was to relocate the earthquake hypocenter in Palu regions, Central Sulawesi became more accurate by using the Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD). The method used in this research is the inversion MJHD to relocate mainshock and aftershocks, whereas for mapping location using the Generic Mapping Tool (GMT). The data used as many as 154 pieces earthquake, which consists of one mainshocks and 153 aftershocks, with timescales of 18 August 2012 – 30 August 2012. From the data that has been analyzed by using the inversion method MJHD found the number of earthquakes that were relocated were 21 earthquakes with 1 mainshocks and 20 aftershocks. Stations used for the relocation of 11 stations (APSI, BKSI, BNSI, KDI, KKSI, LUWI, MPSI, MRSI, PCI, SPSI, and TTSI). Initial depth of the hypocenter mainshocks before relocated worth 10 km, but after changing the depth relocated to 17.47 km. The position of mainshocks on 18 August 2012 and aftershocks until date of 30 August 2012 shifting is not too big and approaching Palu Koro fault lines. Average RMS travel time BMKG 0,38146 and MJHD 0,07593. It can be concluded that in this research the data after the earthquake relocation results become more accurate.Keywords: Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD), station, RMS (Root Mean Square)
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UKUR KONDUKTIVITAS LARUTAN BERBASIS MIKROKONTROLER ANDRI WIONO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.587 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakKualitas air dapat diidentifikasi secara fisika yaitu dengan cara mengukur daya hantar listrik dalam larutan menggunakan alat ukur konduktivitas larutan dan jumlah zat terlarut yang disebut Total Dissolved Solid (TDS). Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat alat ukur konduktivitas larutan dengan menggunakan sensor empat elektroda yang terbuat dari perak. Empat elektroda disusun sejajar dengan jarak yang sama. Dua elektroda terluar mengalirkan arus searah yang bernilai positif dan negatif secara bergantian dengan frekuensi kurang dari 33 Hz. Dua elektroda lainnya mengukur tegangan. Alat ini dilengkapi dengan sensor suhu LM35. Sinyal analog pengukuran arus, tegangan dan suhu dibaca oleh ADC pada mikrokontroler, selanjutnya mikrokontroler mengolah data tersebut dan menampilkan nilai resistivitas, konduktivitas, TDS dan suhu. Pengujian menggunakan larutan garam dengan konsentrasi 23 ppm sampai 731 ppm. Pembuatan larutan dengan mengukur TDS (Total Dissolved Solid) terlebih dulu dengan menggunakan TDS Meter 3 produksi HM Digital. Hasil pengukuran konduktivitas dengan AWr_88 (alat rancangan) menunjukkan nilai 46,62 μS pada 23 ppm dan terus mengalami peningkatan sampai 1.478,84 μS pada 731 ppm. Hasil ini menunjukan hubungan TDS berbanding lurus dengan konduktivitas larutan, semakin tinggi TDS larutan maka konduktivitas juga semakin besar.Kata kunci: AWr_88, elektroda perak, elekroda empat sel, konduktivitas, TDS.AbstractWater quality can be identified from physical parameters by measuring it conductivity and number for dissolved solid in liquid, namely, Total Dissolved Solid (TDS). This study aims to design and build water conductivity meter and TDS by implementing four silver electrodes as sensor. These four electrodes are inline arranged in same distance. The two outer electrodes injected direct current of positive and negative back and forth with frequency less then 33Hz. The two other measured voltage. This meter is equipped by temperature sensor of LM35. Analog signal of current, voltage and temperature measurement are converted to digital signal by ADC which is integrated in microcontroller. Microcontroller calculated and displayed the value of resistivity, conductivity, TDS and temperature. The conductivity meter is examined for measuring conductivity of water which has varies salt content from 23 ppm to 731 ppm. The salt content of water are measured by TDS Meter HM Digital 3. The results of conductivity measurements by AWr_88 (designed conductivity meter) shows that salt water has 46.62 μS and continue increase until 1478.84 μS at 731 ppm. The value of TDS by AWr_88 is proportional to the conductivity of the solution, when the TDS increased, the conductivity also increased.Keywords: AWr_88, silver electrodes, four point probes, conductivity, TDS.
STUDI POLA KEGEMPAAN PADA ZONA SUBDUKSISELATAN JAWA BARAT DENGAN METODE SEGMEN IRISAN VERTIKAL ANIS YULIA AMANATI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.009 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia. Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat seismisitas yang cukup tinggi, karena Jawa Barat terletak pada jalur pertemuan dua lempeng tektonik yaitu Lempeng Indo-Australia ke arah utara dan Lempeng Eurasia ke arah selatan. Pada penelitian sebelumnya mengkaji subduksi daerah Jawa Tengan yang menghasilkan pola subduksi di daerah Jawa Tengan subduksi diskontinu, pada penelitian ini akan mengkaji pola subduksi di selatan Jawa Barat. Melalui penelitian ini akan dikaji sebagai berikut: (1) Mendeskripsikan pola subduksi pada tiap-tiap segmen irisan vertikal pada zona subduksi selatan Jawa Barat, (2) Mendeskripsikan besarnya sudut penunjaman pada tiap-tiap segmen irisan vertikal pada zona subduksi selatan Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Segmen Irisan Vertikal. Data yang diperoleh adalah data historis gempa bumi USGS (United States Geological Survey) dari tahun 1973-2013, dan pengeplotan episenter gempa menggunakan ArcGis 10. Membagi segmen irisan vertikal menggunakan software Global Mapper12 sehingga jarak yang diinginkan dapat ditunjukkan dengan tepat, kemudian penentuan subduksi menggunakan Ms. Excel, sehingga diperoleh pola subduksi dan besarnya sudut penunjaman pada zona subduksi selatan Jawa Barat. Hasil penelitian memperoleh: (1) Jawa Barat merupakan daerah dengan tingkat seismisitas yang tinggi jika dilihat dari banyak gempa yang terjadi. Pada umunya pola subduksi pada tiap segmen irisan menunjukkan pola penunjaman pendek karena kejadian gempa paling banyak pada daerah dengan kedalaman dangkal, dengan sudut semakin curam terhadap jarak dan kedalaman (2) Sudut subduksi di selatan Jawa Barat terjadi pada kedalaman 10-300 km dengan jarak 10-220 km dari trench.Kata Kunci: pola kegempaan, zona subduksi, metode Segmen Irisan Vertikal.AbstractIndonesia is a country with a level of vulnerability to tectonic earthquakes which is quite high, it is because Indonesia is located at the confluence of three plates the world. West Java is one of the area that has a fairly high level of seismicity. This is because the region of West Java is the confluence of two tectonic plates, the Indo-Australian Plate to the north and the Eurasian Plate to the south. The purpose of this study is twofold, namely: (1) Describe the pattern of subduction in each segments of vertical slice at a subduction zone in south of West Java, (2) to describe the magnitude of the angle in each segments of vertical slice at a subduction zone in south of West Java. The method used in this study is the method of Segment Vertical Slice. The data obtained is the historical data of earthquakes by the USGS (United States Geological Survey) from the years of 1973 to 2013, then the epicenter plotting of the earthquake was using ArcGIS 10. Then dividing the vertical slice segments using the latest software called Global Mapper12 so that the desired distance can be shown in exact. The epicenter plotting of the earthquake on segments of slices was using the latest software and then determining subduction using Global Mapper12 and using MS. Excel in order to obtain the pattern of subduction and subduction angle on the magnitude of the subduction zone south of West Java. Based on the results obtained: (1) In the southern area of West Java has a pattern of subduction on each segment of the slices, showwing an uneven pattern of subduction with an increasingly steep angle to the distance and its depth. (2) The angle of subduction in the southern West Java occurred at a depth of 10-300 km with a distance of 10-220 km from the trench. Keywords: pattern of seismicity, subduction zone, Sliced Vertical Segment method.Keywords: pattern of seismicity, subduction zone, Vertical Slice Segment method
SIMULASI MONITORING EMISI GAS SO2SEBAGAI INDIKATOR BAHAYA LETUSAN GUNUNG APIUNTUK MELATIHKAN TINDAKAN EVAKUASI APRILIAN EKA SAFITRI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.595 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakPosisi geografis Indonesia membawa konsekuensi geologis sebagai negara yang memiliki deretan gunung berapi aktif, oleh karena itu potensial mengalami bencana letusan gunung berapi. Meskipun telah banyak upaya dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam mengatasi dampak dan resiko bencana letusan, namun hampir semua upaya belum membuahkan hasil optimal. Studi mitigasi dan pengelolaan bencana bertumpu pada upaya pencegahan dini, oleh karena itu perlu diintegrasikan dalam kurikulum sains dan fisika universitas. Penelitian ini mempelajari relevansi antara emisi gas SO2 sebagai salah satu indikator bahaya letusan dan peluang letusan dengan memanfaatkan aplikasi Eruption yang mensimulasikan bencana letusan gunung berapi dan melibatkan 16 responden mahasiswa strata satu. Fokus penelitian adalah simulasi monitoring emisi gas SO2 sebagai basis pengambilan keputusan darurat bencana berupa tindakan evakuasi yang cepat dan tepat berdasarkan informasi yang diberikan oleh instrumen monitoring aktivitas vulkanik, yaitu cospec mengukur emisi gas SO2, seismometer mengukur frekuensi gempa vulkanik, dan geodimeter mengukur deformasi tanah. Tujuan penelitian ini adalah melatihkan kemampuan mengambil keputusan darurat kepada mahasiswa strata satu sebagai bagian dari sivitas akademik yang kelak akan menjadi anggota masyarakat. Temuan utama penelitian adalah sebagai berikut: (1) Proses geofisika dan geokimia adalah proses yang mengontrol aktivitas magmatik dan letusan gunung berapi; (2) peningkatan emisi gas SO2 per hari diikuti dengan membesarnya peluang bencana letusan; dan (3) keputusan tindakan evakuasi oleh semua responden penelitian menghasilkan rata-rata 47% dari total penduduk dapat diselamatkan dengan biaya operasional mencapai 27% dari total dana tersedia.Kata Kunci: mitigasi bencana, emisi gas SO2, Eruption.AbstractIndonesia is a country located in the circumference of Pacific ring of fire and has so many active volcanoes, and thus potential to disaster due to volcanic eruption. Efforts for minimising impacts and reducing risks have been implemented by both the government and non-governmental body, but much has not yet been achieved. Attention must first be put on both education and public awareness as these are the cornerstone of fundamental approaches aimed at reducing vulnerabilities to geophysical hazards. Concern with program for disaster risk reduction gives room for Indonesian tertiary institutions to introduce knowledge and skill required for university students by integrating disaster preparedness into university science curricula. This research therefore examines the relevance between SO2 emission as one of volcanic eruption indicators and the probability for the eruption to occur. A small group of 16 undergraduate science students are involved and examine volcanic eruption simulation using an on-line software called Eruption. The study focuses upon monitoring of SO2 emission by running the program for disaster simulation as a basic mechanism of emergency decision making skill to evacuate people living near the volcano. The decision is based on information measured by three monitoring instruments for volcanic activities: cospec for SO2 emission, seismometer for earthquake frequency, and geodimeter for ground deformation. The aims of this study is thus to develop emergency decision making skills to university physics and science students as these are part of education processes. The primary research findings are as follows: (1) geophysical and geochemical processes control volcanic activity and eruption; (2) the probability for volcanic eruption is line with an increase in the level of SO2 emission; and (3) lives saved is 47% of total population with a total of 27% operational cost spent.Keywords: mitigation of disaster, SO2 emission, Eruption
MONITORING GEMPA BUMI VULKANIK DENGAN MEMANFAATKAN SIMULASI BENCANA LETUSAN GUNUNG BERAPI UNTUK MELATIHKAN TINDAKAN EVAKUASI DEWI INDAH N
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.791 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakPosisi geografis dan kondisi geologis Indonesia menghasilkan deretan gunung api, oleh karena itu rawan mengalami bencana letusan. Meskipun telah banyak upaya dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintah serta elemen masyarakat untuk mengurangi dampak dan resiko bencana letusan, namun hampir semua upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal. Pendidikan mitigasi dan pengelolaan bencana memiliki kata kunci pencegahan. Dalam konteks ini, studi mitigasi dan pengelolaan bencana kebumian perlu diintegrasikan ke dalam struktur kurikulum fisika universitas sebagai salah satu solusi alternatif untuk program pengurangan resiko bencana. Penelitian ini mempelajari korelasi antara indikator bahaya letusan dan peluang letusan dengan memanfaatkan aplikasi Eruption untuk mensimulasikan bencana letusan gunung api yang melibatkan 17 orang responden. Fokus penelitian adalah monitoring frekuensi gempa vulkanik melalui simulasi bencana sebagai basis pengambilan keputusan darurat tindakan evakuasi penduduk yang cepat dan tepat berdasarkan informasi terukur yang diberikan oleh instrumen monitoring aktivitas vulkanik, yaitu seismometer mengukur frekuensi gempa vulkanik, cospec mengukur emisi SO2, dan geodimeter mengukur deformasi tanah. Tujuan penelitian adalah melatihkan keterampilan mengambil keputusan darurat kepada mahasiswa strata satu sebagai bagian dari warga kampus terdidik yang kelak akan menjadi anggota masyarakat. Temuan utama penelitian adalah sebagai berikut: (1) frekuensi gempa vulkanik merupakan indikator utama letusan; (2) peningkatan level indikator letusan, terutama frekuensi gempa vulkanik, diikuti oleh membesarnya peluang letusan; (3) keputusan darurat tindakan evakuasi oleh 17 responden menghasilkan rata-rata 55% dari total penduduk dapat diselamatkan dengan biaya operasional mencapai 32% dari total dana yang tersedia.Kata Kunci: mitigasi bencana, frekuensi gempa vulkanik, Eruption.AbstractDue to its geographical position and geological condition, Indonesia is a place for a series of active volcanoes and thus potential to volcanic eruption. Much effort currently organised by both govermental and non-govermental bodies for reducing disaster risks have been done, but only a little is achieved. Mitigation and disaster management put all attention to maximising public awareness and minimising disaster risks in the first place. In this context, the study of mitigation and disaster management should be included into a university physics curriculum as a solution to national program for disaster risk reduction. This research therefore examines the correlation between indicators of magmatic activities and the probability for volcanic eruption to occur using an on line software called Eruption to simulate volcanic eruption with 17 physics students involved as repondences. The study focuses upon earthquake frequency monitoring by running the program for disaster simulation as a mechanism of emergency decision making skill in terms of ‘real action’ to evacuate people living near the volcano. The action is based on information measured by three monitoring instruments for volcanic activities: seismometer for measurements of earthquake frequency, cospec for SO2 emission, and geodimeter for ground deformation. The aims of this study is therefore to introduce emergency decision making skill to university physics students as part of education processes before engaging in a social life. The main research findings are then as follows: (1) volcanic earthquake frequency is the primary indicator of volcanic eruption; (2) an increase in the level of one or more indicators is parallel with an increase in potential threats of volcanic eruption; and (3) from all the data obtained lives saved is, on average, 55% of total population with a total of 32% operational cost spent.Keywords: mitiation of disaster, volcanic earthquake frequency, Eruption
ANALISA PEMETAAN KONTUR DAN KERAPATAN PETIRDENGAN LIGHTNING 2000 DAN METODE KRIGINGDI SURABAYA TAHUN 2000 IGA PUSPITASARI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.9 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakWilayah Indonesia secara astronomis merupakan negara yang beriklimkan tropis, dimana potensi sambaran petir dapat mengancam kelangsungan hidup manusia. Surabaya adalah salah satu kota yang dikategorikan sebagai daerah rawan petir karena daerah ini mempunyai topografi dan topologi yang memungkinkan tumbuhnya awan-awan konvektif disekitar lereng pegunungan. Dalam konteks ini, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa intensitas dan kerapatan sambaran petir dan menentukan kontur intensitas sambaran petir di Surabaya pada tahun 2012 serta menunjukkan daerah mana saja di Surabaya yang memiliki tingkat kerawanan sambaran petir. Untuk mencapai tujuan tersebut maka data yang digunakan untuk dianalisa hanya data petir yang bertipe CG dan bermuatan positif saja, dimana data dengan tipe petir tersebut adalah petir yang sangat berbahaya. Pengolahan data petir dilakukan secara komputasi yaitu dengan penginputan data melalui beberapa software yakni: lightning 2000, Petir dan ArGIS yang sekaligus lengkap dengan metode kriging didalamnya. Metode kriging adalah suatu teknik perhitungan untuk estimasi dari suatu variabel terregional yang dapat menghasilkan nilai kerapatan petir dalam setiap wilayah pada daerah yang diteliti. Dari hasil penelitian dengan mengolah data-data petir tersebut menghasilkan sebuah pemetaan kontur dan kerapatan petir yang terjadi di Surabaya. Berdasarkan analisa data petir yang telah dilakukan diperoleh sebanyak 21.610 data sambaran petir yang terjadi di Surabaya tahun 2012 dengan didapatkan nilai IKL untuk daerah jawa timur sebesar 58.90% dan Surabaya dapat dikategorikan sebagai daerah yang memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap sambaran petir, sedangkan untuk kerapatan sambaran petir didapatkan nilai sebesar 12/km2 yang sering terjadi pada wilayah selatan dan timur Surabaya.Kata Kunci: Kontur, Lightning 2000, Kriging, IKL.AbstractIndonesian territory astronomically has climate a tropical country, where the potential for lightning strikes can threaten human survival. Surabaya is one of the cities that are categorized as lightning prone areas because these areas have topography and topology that enables the growth of convective clouds around the mountain slopes. In this context, the purpose of this study was to analyze the intensity and density of lightning strikes and determining the contours of the intensity of lightning strikes in Surabaya in 2012 and shows which areas in Surabaya, which has a severe impact of lightning strikes. To achieve these objectives, the data used for analysis only the type of CG lightning data and positively charged alone, where data with the type of lightning is very dangerous lightning. Lightning data processing computing is done by inputting data through multiple software namely: Lightning 2000, Lightning and ArGIS that once complete the kriging method in it. Kriging method is a calculation technique for estimation of a variable terregional that can produce lightning density values in each region of the area studied. From the results of research by processing data lightning produces a contour and density of lightning happened in Surabaya. Based on the analysis of lightning data that has been carried out of data obtained as much as 21.610 lightning strikes that occurred in Surabaya in 2012 with IKL values obtained for the region of East Java and Surabaya at 58.90% can be categorized as having a very high level of vulnerability to lightning strikes, while for density lightning strikes obtained a value of 12/km2 is common in the south and east of Surabaya.Keywords : Contour , Lightning 2000, Kriging , IKL.
KAITAN B VALUE DENGAN MAGNITUDO DAN FREKUENSI GEMPA BUMIMENGGUNAKAN METODE GUTENBERG-RICHTERDI SUMATERA UTARA TAHUN 2002-2012 IKHLASUL AMALIAH
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.515 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakSecara geologis, posisi Sumatera Utara terletak pada pertemuan lempeng Indo-Australia yang menunjam lempeng Euroasia, dengan kondisi seperti ini menyebabkan Sumatera Utara beberapa kali mengalami tumbukan dari proses tektonik tersebut. Hal ini mengakibatkan terbentuknya rangkaian jalur patahan, rekahan dan lipatan disertai dengan kegiatan vulkanik. Sehingga gempa bumi berpeluang besar dapat terjadi di Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kaitan b value dengan magnitudo dan frekuensi gempa bumi menggunakan metode Gutenberg-Richter di Sumatera Utara tahun 2002-2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data parameter gempa bumi yang diperoleh dari web Harvard dengan magnitudo 4.0 sampai 9.0 dan kedalaman 0 sampai 100 km pada koordinat -4⁰sampai 4⁰ LU dan 95⁰-105⁰ BT. Berdasarkan data nilai b value dapat menggambar tingkat stress yang sedang terjadi, nilai b value mengalami penurunan sesaat sebelum gempa bumi besar hal ini mengindikasikan terjadi kenaikan stress pada batuan dan b value mengalami kenaikan sesaat setelah gempa bumi besar hal tersebut berkorelasi dengan tingkat stress yang rendah karena energi yang tersimpan dalam batuan telah terlepaskan. Sedangkan frekuensi semakin sedikit dengan bertambah besarnya magnitude, sehingga b value juga bertambah kecil. Dengan mengetahui perubahan nilai b value terhadap magnitudo gempa bumi, dapat digunakan sebagai precursor dan juga memprediksi gempa bumi yang akan datang di Sumatera Utara.Kata kunci : b value, magnitudo, frekuensi gempa bumiAbstractGeologically, north of Sumatra stands on indo-australia slab which penetrate euroasia slab. With this condition,it’s not surprised that north of sumatra experiences collision in many times from the tectonic process. This result in formation of break, crack, and crease line series accompanied by vulcanic activities. Therefore, earthquake in north of sumatera has a big chance to happen. Aim of this research is to analyze corelation between b value and magnitude of earthquake using Gutenberg-Richter method in north of sumatera in periode of 2002 to 2012. Data used in this research is parameter data of earthquake obtained from Harvard website by magnitude 4.0 to 9.0 and depth 0 to 100 km on coordinate of -40 NL to 40 NL and 950 WL to 1050 WL. Based on data of b value, it can describe the on going stress level. b value experiences reduction shortly before the massive earthquake, this indicates stress escalation on the rock and high b value after the massive earthquake earthquake that correlated with lower levels of stress due because potential energy in the rock has been excluded. While the fewer frequencies with increasing magnitude of magnitude, so that a small b value also increases. By knowing alteration of b value to magnitude of earthquake, so b value can be used as precursor and also to predict earthquake in North of Sumatera in the future.Key words : b value, magnitude, frequency of earthquake
RANCANG BANGUN SMART TIMER SEBAGAI ALAT PENGUKUR WAKTU DAN KECEPATAN UNTUK MEDIA PEMBELAJARAN GERAK LURUS INDAH SETIORINI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.888 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakDalam pembelajaran fisika di sekolah banyak dijumpai hambatan teknis dan nonteknis misalnya siswa sulit memahami fisika, sehingga fisika menjadi mata pelajaran yang tidak disukai siswa. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian fisika yang relevan dengan percobaan materi gerak lurus dan merancang serta menerapkan smart timer sebagai alat pengukur waktu dan kecepatan untuk media pembelajaran materi gerak lurus. Hasil perancangan dalam penelitian ini terdiri atas empat komponen utama, yaitu: mikrokontroler ATmega 8, dua sensor fotodioda, lintasan aluminium dengan panjang 1,5 meter, dan benda yang bergerak, yaitu mobil mainan dan bola. Berdasarkan hasil kalibrasi diperoleh kesalahan perhitungan waktu dari smart timer terhadap stopwatch maksimum sebesar 1,13%, sedangkan kesalahan perhitungan waktu dari smart timer terhadap pasco photogate maksimum sebesar 1,08%. Berdasarkan hasil pengukuran smart timer terhadap pasco photogate menggunakan lintasan hasil rancangan pada percobaan instanteneous versus average velocity kesalahan perhitungan waktu maksimum sebesar 1,04% dan kesalahan perhitungan kecepatan maksimum sebesar 0,76%, pada percobaan kinematics on an inclined plane kesalahan perhitungan waktu maksium sebesar 4,65%. Berdasarkan persentase kesalahan perhitungan yang telah diperoleh menunjukkan bahwa smart timer sebagai alat pengukur waktu dan kecepatan layak digunakan untuk media pembelajaran materi gerak lurus, karena nilai yang terukur pada smart timer akurat dan mendekati nilai yang terukur pada alat keluaran pasco scientific.Kata Kunci: waktu, kecepatan, gerak lurus.AbstractIn school physics subject is met many obstacles such as student hard to understanding and learning about physics, then physics becoms unpopular subjects for students. In this context, this research purposed to make physic study relevant to motion in one dimension experiment as well design and applied smart timer as an experimental instrument used in time and velocity measurements for media learning in one dimensional motion. The design result is consisted four main components, they are: microcontroller ATmega 8, two photodiode sensor, aluminium trajectory with 1,5 meter long, as well as mobile objects such as toy car and ball. Smart timer calibration resulted error up to 1,13 % and 1,08 % respectively compare to calibratior of stopwatch and pasco photogate. Base on the result taken from smart timer and pasco photogate using trajectory of design result in instanteneous versus average velocity experiment, resulted error of time measurement up to 1,04% and resulted error of velocity measurement up to 0,76%, and in kinematics on an inclined plane experiment, resulted error of time measurement up to 4,65%. From the result of smart timer as an experimental instrument used in time and velocity measurements can be used to learning media in one dimensional motion, because measurement value of smart timer approached with pasco scientific device.Keywords:time, velocity, one dimensional motion
PENGUKURAN NILAI RESISTIVITAS UNTUK MENENTUKAN TITIK GROUNDING PADA DESA DOROPETI KABUPATEN DOMPU NUSA TENGGARA BARAT GITA SABRINA, INTAN
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.344 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakInformasi tentang nilai resistivitas tanah dapat digunakan sebagai referensi oleh pihak terkait untuk melakukan pengembangan pada suatu daerah, misalnya untuk penentuan titik grounding. Salah satu cara untuk menentukan nilai resistivitas tanah adalah dengan pengukuran geolistrik. Tanah yang baik untuk grounding adalah yang memiliki resistivitas kurang dari 5 Ωm. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran nilai resistivitas untuk menentukan titik grounding pada Desa Doropeti Kabupaten Dompu NTB. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik resistivitas Vertical Electrical Sounding (VES) dengan konfigurasi Schlumberger. VES merupakan salah satu metode geolistrik resistivitas untuk menentukan perubahan resistivitas secara vertikal tanah terhadap variasi kedalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur batuan bawah permukaan daerah penelitian terdiri dari breksi dan tuff yang diduga disebabkan letusan gunung berapi Tambora. Dari 12 titik pengukuran terdapat 3 titik pengukuran yang dapat digunakan sebagai sistem grounding yaitu pada titik pengukuran 7, 11, dan 5 dimana ketiga titik tersebut memiliki nilai resistivitas kurang dari 5 Ωm.Kata Kunci: geolistrik, konfigurasi Schlumberger, groundingAbstractInformation of soil resistivity of an area can be used as a reference for all relevant parties to undertake the development of an area, such as determining grounding point. Geoelectrical measurement is a tool to determine the soil resistivity. An appropriated grounding has resistivity less then 5 Ωm. This research purposed to measure soil resistivity and to determine grounding point at Doropeti village, Dompu NTB. Method used is geoelectric method of vertical electrical sounding (VES) and Schlumberger configuration. Vertical electrical sounding (VES) is one of the geoelectric resistivity method to determine variety in soil resistivity based on its vertical depth. The measurement results identified that subsurface lithology research area consists of breksi and tuff because of volcanic eruption of Tambora. There are 3 points that can be used as the grounding system, they are at the point of measurement 7, 11 and 5 at which has resistivity value less than 5 Ωm .Keywords: geoelectric, schlumberger configuration, grounding
PERANCANGAN SENSOR DIGITAL ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLERUNTUK PENGUKURAN KETINGGIAN PERMUKAAN AIR JAMALUDIN
Inovasi Fisika Indonesia Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.489 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v3n2.p%p

Abstract

AbstrakPerkembangan sains fisika dan teknologi terkait memicu perkembangan bidang fisika instrumentasi untuk peningkatan kualitas teknik dan hasil-hasil pengukuran besaran fisis sebagai bagian dari proses pelaksanaan penelitian menuju kualitas produk penelitian yang lebih baik. Untuk keperluan tersebut, maka instrumen baru yang dikembangkan dari instrumen lama untuk mengatasi beberapa kelemahan teknis dan non-teknis dalam proses pengukuran dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan taraf ketelitian hasil ukur. Dalam penelitian skripsi ini, peneliti merancang sensor digital ultrasonik berbasis mikrokontroler untuk pengukuran ketinggian permukaan air dalam percobaan gravity current di laboratorium. Pengukuran ketinggian permukaan air dalam tangki percobaan memerlukan level konsistensi, akurasi dan presisi yang tinggi untuk menentukan kecepatan gravity current dan kekekalan volume (massa) fluida inkompresibel. Hasil-hasil pengukuran ketinggian permukaan air dalam tangki percobaan pada kedalaman 5 cm, 10 cm, dan 15 cm dengan menggunakan sensor digital ultrasonik menunjukkan bahwa sensor ultrasonik bersifat konsisten, akurat dan presisi dalam proses pengukuran.Kata Kunci: sensor digital ultrasonik, mikrokontroler.AbstractThe development of the physical sciences and related technologies trigger the development of the field of physics instrumentation and techniques for improving the quality of the measurement results of the physical quantities as part of the process of conducting research towards product quality better research. For this purpose, the new instrument was developed from the old instrument to address some of the weaknesses of technical and non technical in the measurement process is designed with the aim to improve the precision of the measurement. In this thesis study, the researchers designed a microcontroller based ultrasonic digital sensors for measuring water levels in the gravity current experiments in the laboratory. Measurement of water levels in the tank experiments require the level of consistency, accuracy and high precision for determining the speed of gravity currents and conservation of volume (mass) incompressible fluid. The results of measurements of water levels in the tank experiments at a depth of 5 cm , 10 cm , and 15 cm using a digital ultrasonic sensors showed that ultrasonic sensors are consistent , accurate and precision in the measurement processKeywords:digital ultrasonic sensor, microcontroller.

Page 1 of 2 | Total Record : 18