cover
Contact Name
Sisparyadi
Contact Email
sisparyadi@ugm.ac.id
Phone
+6281328694342
Journal Mail Official
Jurnalpswk.pusdi@ugm.ac.id
Editorial Address
Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jln. Trengguli E 11 Yogyakarta Telp. (0274) 583546
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Wanita dan Keluarga
ISSN : -     EISSN : 2746430X     DOI : https://doi.org/10.22146/jwk
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Wanita dan Keluarga (JWK) mempublikasikan karya ilmiah dan hasil penelitian dari dalam dan luar negeri yang fokus pada issu pemberdayaan perempuan dalam perspektif gender melalui pendekatan multidisiplin ilmu dan pemberdayaan keluarga yang difokuskan pada perlindungan dan tumbuh kembang anak sebagai penerus generasi. Ruang lingkup  Gender dan kemiskinan  Gender dan Ketahanan Pangan  Gender dan Kesehatan  Gender dan Pendidikan  Gender dan sanitasi lingkungan  Gender dan Energi  Gender dan ketenagakerjaan  Gender dan infrastruktur  Gender dan Agama  Kekerasan berbasis Gender Tumbuh kembang dan perlindungan anak  Kesejahteraan keluarga
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020" : 5 Documents clear
Domestifikasi Perempuan dalam Gerakan Islam Transnasional di Indonesia 1998 – 2016 M Rifai Shodiq Fathoni
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.862 KB) | DOI: 10.22146/jwk.764

Abstract

Gerakan Islam Transnasional yang berkembang setelah reformasi, mendudukkan perempuan pada posisi kuat dalam rumah tangga. Gerakan ini menggunakan istilah hijrah yaitu mengembalikan perempuan pada fitrahnya sesuai syariat Islam; perempuan bertugas mengurus rumah tangga dan laki-laki bekerja mencari nafkah. Kondisi ini sangat berbeda dengan gerakan kesetaraan gender yang mendorong perempuan untuk berkiprah di wilayah publik dan tidak hanya di wilayah domestik. Kajian historis melalui literatur menunjukkan bahwa perempuan Indonesia banyak berkiprah pada sektor publik. Pada zaman pra kolonial perempuan Indonesia berperan sentral pada bidang perdagangan dan pertanian, pada zaman kerajaan Hindu Budha bahkan kerajaan Islam pernah terjadi perempuan memimpin kerajaan. Pada zaman Majapahit memerintah Tri Bhuana Tungga Dewi, pada kerajaan Islam di Aceh pernah memimpin Taj-Al Alam Safiatuddin dan Sri Sultanah Nur Al-Alam Nagiat ad-Din Syah yang memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam. Di Jawa juga pernah memerintah kerajaan Islam Pajang yaitu Ratu Kalinyamat. Pada masa pergerakan, perempuan Indonesia juga sangat berperan seperti pejuang perempuan yang sekarang menjadi pahlawan perempuan. Gerakan Islam Transnasional yang menguat memberi andil besar terhadap gerakan perempuan Indonesia yang semakin terdomestifikasi. Gerakan ini kontraproduktif dengan gerakan kesetaraan gender yang telah berkembang di Indonesia pada saat ini.
Eksistensi Perempuan dalam Tari Masa Mangkunegera IX Bercermin pada Tari Bedhaya Anglir Mendhung dan Bedhaya Suryasumirat Nanang Setiawan
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.286 KB) | DOI: 10.22146/jwk.765

Abstract

Mangkunegara IX mempunyai peran yang sangat besar pada kaum perempuan karena memberi ruang dalam berkesenian. Bedhaya Anglir Mendhung dan Bedhaya Suryasumirat menjadi tarian yang ditampilkan pada acara-acara sakral kerajaan yang diperankan oleh perempuan. Kedua tari tersebut menggambarkan pandangan hidup orang Jawa terhadap sikap ideal perempuan Jawa. Pengambaran Perempuan Jawa harus mampu ditampilkan dalam karakter tari yang dibawakan. Kajian historis pada Bedhaya Anglir Mendhung dan Bedhaya Suryasumirat menunjukkan bahwa perempuan Jawa digambarkan bertutur kata halus, tenang, diam, tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri, memegang peranan ekonomi, dan setia. Perempuan Jawa digambarkan sebagai perempuan yang tata dan semeleh. Melalui tari yang telah diciptakan dan dibawakan tersebut perempuan Jawa mampu mengerahkan potensi dan kecerdasannya dalam mengekpresikan budaya Jawa yang sangat komplek melalui etika, religi dan rasa.
Seks dan Modernitas: Transformasi Tempat Prostitusi Di Jawa Pada Abad XX Appridzani Syahfrullah
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.389 KB) | DOI: 10.22146/jwk.766

Abstract

Komersialisasi industri seks di Indonesia sudah berkembang sejak jaman kolonial. Pemerintah Belanda sejak abad IX telah mengeluarkan peraturan tentang komersialisasi industri seks yang dibatasi untuk wilayah Batavia, Semarang dan Surabaya. Indstri sex berkembang di daerah pusat transportasi seperti sekitar stasiun kereta api. Pada abad XX industri seks tersebut berkembang pesat karena tingginya migrasi orang Eropa akibat industrialisasi yang dikembangkan. Kajian literatur sejarah menunjukkan bahwa para pekerja sex di Indonesia berasal dari berbagai negara seperti kaum bumiputera, Cina dan Jepang. Para pekerja seks dari Jepang mempunyai nilai paling tinggi, disusul pekerja sex dari Cina dan bumiputera. Pelanggan pekerja seks yang disenangi menurut para pramuria ialah para pendatang dari Eropa, kemudian orang Cina dan baru orang Bumiputra. Kategorisasi tempat prostitusi yang diidentifikasi pada saat itu adalah prostitusi di cafe-cafe, pelacuran jalanan, pelacuran di rumah bordil, lokalisasi, pelayanan oleh pembantu rumah tangga, pelayanan oleh wanita Belanda, prostitusi orang Eropa, dan prostitusi homoseksual. Berkembangnya prostusi adalah bagian dari fakta sejarah Indonesia yang disebabkan oleh tekanan ekonomi, tingkat literasi, cacat jiwa, sakit hati dan hiperseksual.
Transisi Sosial Budaya Adat Pernikahan Suku Bugis Di Makassar 1960 A. Fadhilah Utami Ilmi R.
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.673 KB) | DOI: 10.22146/jwk.767

Abstract

Berkembangnya pendidikan di Kota Makasar pada tahun 1960 mampu merubah budaya adat pernikahan Suku Bugis yang sangat mahal dan tatacara yang rumit menjadi lebih sederhana. Tata cara pernikahan yang rumit dan mahal tersebut dipengaruhi oleh ideologi adat pernikahan yang sangat memperhatikan “Siri” yang berarti harga diri dan “Messe” yang berarti peduli pada orang lain. Pernikahan Adat Bugis harus melalui berbagai tahapan yaitu Mammanu ‘manu’ yaitu mencarikan jodoh untuk anak laki-laki, Mappese ‘pese’ yaitu menyelidiki calon pengantin perempuan, Massaro yaitu meminang, Mappetu Ada yaitu menentukan hari pernikahan, uang belanja serta mahar, Mappare Boting yaitu mengantarkan pengantin laki-laki ke pengantin perempuan dan Mapparola yaitu mengantarkan pengantin perempuan ke keluarga pengantin laki-laki. Proses ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan membutuhkan biaya besar. Di samping biaya tersebut pengantin laki-laki juga dibebani uang ‘Panai’ (mahar) yang sangat mahal tergantung kondisi sosial ekonomi pengantin perempuan. Studi Pustaka yang dilakukan menunjukkan majunya pendidikan di Kota Makasar yang ditandai dengan berdirinya Universitas Negeri Makasar (UNHAS) pada tahun 1956 dan Universitas Negeri Makasar (UNM) pada tahun 1961 berdampak pada majunya pendidikan masyarakat setempat dan mampu merubah pola pikir masyarakat tentang adat pernikahan. Perubahan yang terjadi adalah penyederhanaan tatacara pernikahan dan penentuan uang panai yang semakin murah.
Wanita Dalam Pusaran Ekonomi: Migrasi Orang Yogyakarta ke Besuki Tahun 1930 Refi Refiyanto
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.24 KB) | DOI: 10.22146/jwk.769

Abstract

Kondisi ekonomi yang menurun di wilayah Hindia Belanda (Jawa) pada akhir abad XIX menyebabkan perubahan pola migrasi warga Yogyakarta. Pada awalnya migrasi laki-laki dilakukan ke tempat yang lebih jauh sedangkan perempuan bermigrasi lokal (ulang alik) pergi pagi dan pulang sore hari. Kondisi itu disebabkan oleh perbedaan peran yang masih dianut masyarakat bahwa perempuan masih mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan keluarga sedangkan laki-laki pencari nafkah. Kajian historis melalui studi pustaka ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi pada masyarakat Yogyakarta pada masa itu menyebabkan banyak perempuan yang melakukan migrasi jarak jauh ke karesidenan Besuki yang meliputi wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Jember. Perubahan pola migrasi tersebut juga disebabkan oleh dibangunnya transportasi terutama kereta api. Sekitar 50% dari warga Yogyakarta yang melakukan migrasi adalah perempuan. Sebagian besar migran yang menuju Besuki bekerja pada sektor agroindustri. Tekanan ekonomi yang terjadi di masyarakat merubah pola pikir tentang peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga. Perempuan berubah dari sekedar mengurus rumah tangga menjadi bekerja pada sektor ekonomi. Sumber-sumber ekonomi yang berada di luar daerah menjadi tujuan. Karena tuntutan tersebut perempuan akhirnya bermigrasi ke sumber ekonomi tersebut walaupun itu jauh dari tempat tinggalnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5