cover
Contact Name
Aulina Adamy
Contact Email
aulinaadamy@gmail.com
Phone
+6281298061066
Journal Mail Official
jurnal.rumoh@unmuha.ac.id
Editorial Address
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl. Muhammadiyah No. 91 Bathoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Rumoh: Journal of Architecture
ISSN : 20889399     EISSN : 27984648     DOI : https://doi.org/10.37598/rumoh
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel-artikel ilmiah pada lingkup ilmu: arsitektur, lanskap, interior, perancangan kota dan permukiman serta arsitektur lingkungan. Rumoh menerima artikel ilmiah, studi kasus, studi literatur, laporan serta artikel untuk edisi khusus. Artikel ilmiah ini diterima dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 16 (2018): Desember" : 6 Documents clear
KONSEP PENATAAN KAWASAN PUSAT KOTA LAMA BANDA ACEH: Studi Kasus: Pasar Aceh dan Peunayong Desi Safriana
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.465 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.52

Abstract

Kota Banda Aceh adalah salah satu daerah yang sangat rentan terhadap bencana, terutama   gempa   bumi, tsunami   dan   banjir.   Setelah   bencana   besar   yang menerjang kawasan ini pada tahun 2014, pemerintah   bersama dengan   pihak International NonGovernmental Organisation (INGO) telah melakukan pembangunan kembali kota ini terutama di pusat kota lama Pasar Aceh dan Peunayong. Program revitalisasi sangat diperlukan karena daerah ini dianggap sebagai kawasan pusat perdagangan kota Banda Aceh yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh. Pemerintah Kota Banda Aceh telah melaksanakan beberapa program pembangunan untuk mengembangkan kembali kedua   wilayah   inti   ini   dan   daerah   tepi   sungai   di   sekitar   kawasan   ini. Namun, masih   terdapat   beberapa   kendala   dalam   pelaksanaan    program revitalisasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan- permasalahan tersebut melalui observasi lapangan dan wawancara dengan dinas   terkait.   Metode   kualitatif   dilaksanakan   dengan   menganalisis   secara deskriptif temuan di   lapangan. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan dan hasil wawancara dengan dinas terkait, didapatkan bahwa kawasan Pasar Aceh dan Peunayong ini sangat semrawut dan macet. Jalur pedestrian disalahgunakan oleh Pedagang Kaki  Lima (PKL) sebagai  tempat  berdagang,  system  drainase  yang tersumbat  serta  kurangnya  koordinasi  antar  dinas  terkait  dalam  pelaksanaan proyek di kawasan ini. Oleh karena itu kawasan ini perlu direvitalisasi kembali dengan mengadopsi konsep desain revitalisasi dan mensinergikan beberapa program pembangunan yang dilaksanakan oleh beberapa dinas terkait, serta melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan revitalisasi ini. Beberapa konsep perancangan meliputi perencanaan jalur pedestrian yang dapat memudahkan akses bagi     pengguna Pasar Aceh dan Paunayong. Kemudian penataan jalur pedestrian di sekitar tepian sungai Peunayong untuk mengoptimalisasi potensi wisata di kawasan tersebut. Selanjutnya strategi revitalisasi yang dapat mengakomodir kebutuhan  pengguna  seperti  relokasi  para  PKL  ke  pasar  induk  yang  ada disekitar lokasi, membuka akses pejalan kaki di titik-titik tertertu dan pembuatan Standar Operasional Procedures (SOP) untuk dinas-dinas terkait dalam melaksanakan   proyek   di   kawasan   ini.   Diharapkan   penelitian   ini   dapat memberikan kontribusi dan dukungan kepada pemerintah untuk merealisasikan upaya revitalisasi di kawasan Pasar Aceh dan Peunayong sebagai Kawasan Pusat Bisnis Kota Banda Aceh.
HOTEL RESORT SIMEULUE: Tema: Arsitektur Hijau Open Radisah; Suci Farahdilla
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.181 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.54

Abstract

Kabupaten Simeulue terletak di sebuah pulau yang berada di penghujung pulau Sumatera, Indonesia, Memiliki pulau-pulau kecil yang indah juga mempunyai panorama pantai yang bagus, dengan gulungan ombak yang cocok untuk olah raga air, Alam yang masih alami, dengan hasil alam laut yang sangat banyak berupa teripang, ikan, gurita dan lobster. Hal inilah yang melirik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut. Lokasi Hotel resort ini beradadi jalur strategis karena Merupakan potensi wisata yang paling terkenal di simeulue dengan cakupan tiga kecamatan. Lokasi berada di kawasan Noalu Balok, Jl. Lingkar Simeulue Kecamatan Alafan Desa Langi. Maksud dan tujuan dari Hotel Resort ini adalah ingin meningkatan sektor kepariwisataan di Aceh khususnya Kabupaten Simeulue untuk melayani dan menyediakan akomodasi yang nyaman kepada wisatawan, yang menjadi permasalahan pada Hotel Resort ini adalah bagaimana merancang Hotel Resort di Kawasan Noalu Balok yang sesuai dengan standarisasi dan persyaratan yang ada dan bagaimana menerapkan tema Green Architecture pada Hotel Resort Simeulue tersebut. Hotel Resort ini di klarifikasikan sebagai resort pantai berbintang (empat) dengan 51 kamar, restauran, bar dan juga fasilitas penunjang lainnya. Adapun tema yang diterapkan adalah Green Architectekture, alasannya, tema ini mampu berkolaborasi dan bersuaian dengan lokasi yang akan di rencanakan Hotel Resort Simelue, dengan mengadopsi dua prinsip green Architecture yakni, Working with Climate and Respect for Site. Konsep bangunan Hotel Resort ini di transformasikan dari bentuk-bentuk dasar persegi untuk bagian cottage, sedangkan untuk lay-out terinspirasi dari bentuk lobster dengan penerapan tema pada penataan landscape dan material bangunan, terdapat tujuh massa bangunan yang terdiri dari hotel, restoran, tiga tipe cottage & bangunan penunjang. Kapasitas pemakai adalah 101 orang, luas lahan untuk perencanaan Hotel Resort ini 30.000 M2, dengan KDB 3%, terbangun bangunan utama 3161,4. Restaurant 826,4. Cottage 3 tipe 503,06. Bangunan penunjang 116,04 dan pos Satpam 41,5. Sedangkan untuk KLB terbangun lantai 1. 3161,4 lantai 2, 2182,5. Untuk total keseluran Area terbangun 6,831.0018. Dengan fasilitas penunjang Restauran, Reakresi Air (Surfing) play ground dan Volley Ball.
PERPUSTAKAAN MODERN DI SABANG: Arsitektur Postmodern Nasruna Usman; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.979 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.55

Abstract

Pengunjung perpustakaan di Kota Sabang berdasarkan badan perpustakaan daerah sangat minim, yaitu mencapai 11% dari jumlah penduduk per tahunnya. Perpustakaan yang ada di Kota Sabang berupa perpustakaan keliling, perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa yang pengelolaannya kurang maksimal. Kondisi ketidaknyaman untuk membaca pun tidak tercapai serta media pelayanan masih menggunakan sistem manual atau belum menggunakan sistem teknologi digital. Untuk itu diperlukan perencanaan perpustakaan yang dapat menumbuhkan kembali budaya membaca di perpustakaan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Lokasi perencanaan Perpustakaan Modern terletak di Sabang hill, Sukakarya, Sabang, Aceh, Indonesia.Perpustakaan modern yang akan didirikan termasuk kedalam klasifikasi Perpustakaan Umum dan tergolong kedalam perpustakaan Terotomasi. pendekatan tema Arsitektur Postmodern yang bertujuan untuk mengangkat kembali nilai kontekstual dan lokalitas yang ada di lingkungan sekitar. Pada perencanaan ini disertai dengan Analisis-analisis yang di pakai berupa analisis fungsional, analisis tapak atau lingkungan dan analisis bangunan.Bangunan perpustakaan modern ini ditransformasikan dari bentuk buku serta adanya penambahan bentuk setengah dan seperempat lingkaran di sisi kiri dan kanannya. Luas lahan untuk perpustakaan modern di Sabang ini 29.100 m², Massa bangunan yang direncanakan menggunakan pola massa tunggal. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 80% yaitu 23,280 m² dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 2,4 dikali dengan luas lahan tersedia yaitu 69,840 m². Dengan fasilitas-fasilitas seperti taman baca terbuka, ruang koleksi buku, ruang digital, pustaka langka, dll.
PENERAPAN ARSITEKTUR LOKAL ACEH UTARA PADA PERANCANGAN BANGUNAN FASILITAS PENUNJANG BENDUNGAN KEREUTO T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.572 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.56

Abstract

Bendungan Kereuto di Kabupaten Aceh Utara ini merupakan salah satu bendungan terbesar di Sumatera, bendungan ini dibuat untuk menyelesaikan masalah pengairan dan bencana banjir yang kerap melanda kawasan Kabupaten Aceh Utara. Selain adanya konstruksi utama bendungan, terowongan, waduk, dan bangunan penunjang teknis lainnya untuk menunjang sistem pengairan bendungan juga terdapat fasilitas penunjang kegiatan nonteknis di kawasan bendungan. Bangunan fasilitas penunjang Bendungan ini dirancang dengan mengunakan pendekatan Arsitektur lokal khas Aceh Utara, hal ini bertujuan agar bendungan kereuto dapat menjadi ikon baru Kabupaten Aceh Utara. Setelah dianalisa ciri-ciri dan karakter arsitektur lokal Aceh Utara kemudian disesuaikan dengan konteks dan objek atau bangunan yang akan dirancang, maka didapat representasi Arsitektur Lokal Aceh Utara adalah bangunan rumah adat Aceh Utara, unsur yang diambil adalah unsur visual seperti bentuk, ornament serta warna karena lebih mudah dikenali. Sehingga diharapkan Bendungan Kereuto bukan hanya bernilai dari segi teknis namun juga dapat menjadi ikon wisata edukasi dan rekreasi baru di Aceh Utara.
GEDUNG MUSIK BANDA ACEH: Tema: Arsitektur Simbolis Tursina Tursina; Muhammad Joni
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.465 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.57

Abstract

Musik adalah bahasa manusia, karena dengan musik kita dapat mengekspresikan kemauan, atau isi hati kita tanpa harus mengerti terlebih dahulu bahasa yang dipakai oleh mereka yang mendengarkan musik. Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh belum memiliki suatu tempat atau gedung yang di dalamnya terdapat bermacam fasilitas yang bisa digunakan untuk melakukan kegiatan musik, taman budaya yang ada hanya memiliki fasilitas pertunjukan saja. Maksud dan tujuan dari Gedung Musik Banda Aceh ini adalah menciptakan suatu rancangan yang dapat menjadi tempat untuk menggali potensi-potensi seni musik agar dapat menjadi nilai positif bagi dunia seni di Banda Aceh, tempat untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kegiatan musik yang lebih terpusat. Gedung Musik Banda Aceh ini berfasilitaskan tempat belajar musik, Concert Hall, tempat menjual alat-alat musik, dan aksesoris yang berhubungan dengan musik. Gedung musik Banda Aceh berada di jalan Mr. M. Hasan Kec. Lueng Bata Kota Banda Aceh. Penerapan tema Arsitektur Simbolis diharapkan dapat menghasilkan rancangan yang memiliki makna yang luas bagi yang melihatnya dan berfungsi sesuai dengan tujuan. Konsep perancangan gedung musik ini adalah merancang sebuah bangunan yang memiliki ciri khas tersendiri yang di dalamnya mengandung unsur musik, konsep desainnya diambil pada sebuah speaker yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan ruang yang diperlukan. Struktur bentang lebar yang digunakan dengan pemakaian tulangan dan rangka atap dari baja, sehingga mampu memberikan kekuatan dan juga estetika untuk Gedung Musik Banda Aceh tersebut. Luas lahan untuk perencanaan gedung musik ini 18.000 M², luas bangunan 6.205 M², Luas lahan KLB = 17.280 M², luas lantai KDB 40% = 7200 M². Gedung Musik ini tergolong bermassa banyak yaitu bangunan utama yang terdiri dari fasilitas belajar musik yang berkapasitas 500 orang, kantor pengelola, coffe shop dan galeri, dan juga terdapat concert hall yang berkapasitas 900 orang, juga terdapat bangunan mushalla dan ruang mesin.
COASTAL RESTORATION THROUGH COMMUNITY PARTICIPATION: In Meuraxa District, Banda Aceh Faiza Aidina
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.034 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.58

Abstract

Tsunami in 2004 has changed urban condition in Banda Aceh especially along north west coast area.This Strecth line area has lost its vitality as an attractive urban area, in Banda Aceh those situation happened in Meuraxa district Banda Aceh (2005-2006). This qualitative research attempt to seek a way to restore this area to former condition. The idea is the conversion of waste land into more productive land. The action plan is consisted in two phase : 1.to create mangrove cultivation community and sylvofishery, 2. To create a community hub for trading, cultural activity, and recreational place. The analysis start from major scale and then focus on selected location as a starting point for a proposed action plan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6