cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 36 No 2 (2018): Juni" : 5 Documents clear
Penyulit Penyapihan Ventilasi Mekanik pada Pasien Sindrom Distres Pernapasan Akut Akibat Kontusio Paru dan Pneumonia: Sandhie Prasetya, Indriasari Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.733 KB)

Abstract

Kontusio paru didapatkan pada sekitar 20% dari pasien trauma tumpul dada. Kisaran kematian dilaporkan dari 10%–25%, dan 40%–60% pasien memerlukan bantuan pernapasan dengan ventilasi mekanik. Sekitar 20%–30% pasien yang menggunakan ventilasi mekanik mengalami kesulitan dalam proses penyapihan. Pemakaian ventilasi mekanik jangka panjang akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas serta memperpanjang waktu perawatan dan menambah biaya perawatan. Laporan kasus ini membahas penyulit penyapihan ventilasi mekanik pada pasien sindrom distres pernapasan akut akibat kontusio paru dan pneumonia yang dirawat di ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama 21 hari. Selama perawatan didapatkan pneumonia dan penyulit dalam proses penyapihan ventilasi mekanik. Keseimbangan cairan kumulatif positif dapat menjadi salah satu faktor penyulit penyapihan.
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS): Aldreyn Asman Aboet, Tinni Trihartini Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.606 KB)

Abstract

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah cedera paru akut difus inflamasi yang terjadi peningkatan permeabilitas vaskular paru dan kehilangan pengisian udara pada jaringan paru. Faktor predisposisi ARDS berupa pneumonia, sindrom sepsis (septicemia, sepsis berat, dan syok sepsis), gastric aspiration dan trauma multisistem. Tampilan klinis ARDS seperti onset akut, hipoksemia berat, dan infiltrate paru bilateral tanpa bukti-bukti kegagalan jantung kiri atau kelebihan cairan. Ventilasi mekanik dengan low tidal – volume ventilation berfungsi mengurangi cedera paru pada pasien dengan ARDS yang dikenal sebagai lung protective ventilation yaitu memberikan volume tidal yang rendah (6mL/kgBB) dan penggunaan positive end-expiratory pressure (PEEP). Ventilasi non mekanik adalah manajemen cairan dan kortikosteroid dosis tinggi. Lung protective ventilation pada ARDS berfungsi mengurangi kerusakan organ akibat ventilasi mekanik. Acute Respiratory Distress Syndrome akan tetap menjadi sumber utama dari morbiditas dan mortalitas di ICU.
Acute Kidney Injury (AKI) pada Pasien Kritis: Arie Zainul Fatoni, Nurita Dian Kestriani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.281 KB)

Abstract

Acute kidney injury (AKI) adalah gangguan klinis yang kompleks. AKI merupakan sindrom AKI yang paling umum di intensive care unit (ICU) dan terjadi pada sekitar setengah dari pasien kritis yang dirawat di ICU. AKI pada pasien ktitis terjadi akibat kombinasi antara paparan dan kerentanan tubuh pasien. Penyebab utama AKI dibagi menjadi tiga kategori: prerenal, renal dan postrenal. Definisi dan staging AKI awalnya didasarkan pada kriteria risk injury failure loss and end stage (RIFLE) dan kriteria acute kidney injury network (AKIN). Diagnosis terbaru berdasarkan pada guideline kidney disease improving global outcome (KDIGO) dengan berdasarkan pengukuran produksi urin dan kreatinin serum. Namun, beberapa biomarker dan terutama biomarker penarik siklus sel dapat diperiksa. Pasien dengan AKI berada pada peningkatan risiko kematian dan gangguan ginjal. Terapi AKI ditujukan untuk mengatasi penyebab dasar AKI, dan untuk membatasi kerusakan dan mencegah progresifitas serta pada kondisi tertentu diperlukan renal replacement therapy (RRT). Prinsip utamanya adalah untuk mengobati penyakityang mendasarinya, untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan dan mengoptimalkan hemodinamik, dan untuk mengobati gangguan elektrolit. Pencegahan AKI tetap berdasarkan pada resusitasi cairan dan vasopressor untukmenjaga kestabilan hemodinamik.
Plasmafaresis pada Guilain Barre Syndrome dengan Sepsis: Cecep Hidayat, Adhrie Sugiarto, Dita Aditianingsih, Yohanes George Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.896 KB)

Abstract

Terdapat kasus seorang pria, 39 tahun dengan demyelinating inflammatory polyneuropathy akut. Pada perawatan intensif terdapat keluhan kelemahan kaki dan otot pernapasan, sehingga diperlukan alat bantu napas. Selamadelapan hari, sebelum masuk rumah sakit keluhan yang dirasakan kaki lemas saat berjalan dan sering tersedak air liur saat tidur. Hari ke-9 keluhan yang dirasakan demam, diare, sakit kepala, kemudian pasien didiagnosis vertigo. Keluhan satu hari kemudian adalah kelelahan, demam, sulit bangun dan perlu bantuan saat berjalan. Selanjutnya, pasien didiagnosis menderita myasthenia gravis atau stroke, dan dirawat selama tujuh hari, namun tidak adaperbaikan, pasien diminta untuk dipulangkan. Satu hari sebelum masuk RSCM, kondisi pasien di rumah semakin lemah, banyak mengeluarkan liur, kesulitan bernapas, dan sering tersedak. Akhirnya pasien dirujuk ke RSCM menggunakan ambulans klinik dengan bantuan ventilator. Di RSCM pasien didiagnosis “imunitas polineuropati akut”. Pasien dipasang kateter double-lumen di paha kiri, diintubasi dengan respirator, dipindahkan ke unit perawatan intensif selama tujuh hari, serta dilakukan plasmafaresis sebanyak empat kali. Terdapat perubahan signifikan pada hari ke-3, kemudian ventilator dilepas. Plasmaferesis dilakukan dalam perawatan Guilain Barre Syndrome (GBS) dengan tujuan memperbaiki atau mengurangi kelemahan anggota gerak di bawah ventilasi mekanis dan mengurangi lama tinggal di ICU.
Penatalaksanaan Krisis Miastenia: Rommy Fransiscus Nadeak, Tatang Eka Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.995 KB)

Abstract

Krisis miastenia adalah salah satu komplikasi miastenia gravis (MG) yang ditandai oleh kelemahan otot otot sehingga mengakibatkan gagal pernapasan yang membutuhkan intubasi endotrakeal dan pemakaian ventilator mekanik. Kemajuan perawatan di Intensive care unit dapat menurunkan angka kematian pada krisis miastenia. Strategi pengobatan terbaru termasuk penggunaan anticholinesterase, steroid, immunosupresan, plasmapharesis dan thymectomy. Walaupun thymectomy semakin diterima sebagai terapi standard untuk miastenia gravis, krisis miastenia tetap merupakan komplikasi mayor yang mengancam jiwa dari prosedur thymectomy. Plasmapharesis (PE) digunakan untuk menurunkan jumlah antibodi yang bersirkulasi dan sekarang digunakan secara luas untuk terapi MG ketika pengobatan tradisionil tidak sukses dan munculnya krisis miastenia

Page 1 of 1 | Total Record : 5