cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 37 No 3 (2019): Oktober" : 7 Documents clear
Tatalaksana Pasien Ketoasidosis Diabetikum yang Disertai Syok Sepsis Andi Miarta; Zulkifli; Ardi Zulfariansyah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.743 KB)

Abstract

Salah satu kegawatdaruratan hiperglikemia paling serius dan mengancam jiwa ialah ketoasidosis diabetikum (KAD). Kondisi ini khususnya terjadi pada pasien diabetes melitus (DM) yang tidak terkontrol terapi insulin. Pencetus KAD paling banyak adalah infeksi yang dapat mencetuskan respons tubuh tidak teregulasi sehingga menyebabkan disfungsi organ yang mengancam jiwa atau sepsis. Bagian dari sepsis yang disertai dengan abnormalitas sirkulasi dan metabolisme seluler disebut syok sepsis. Kejadian syok sepsis dapat meningkatkan risiko mortalitas. Laporan kasus ini mengenai perempuan umur 42 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) dengan penurunan kesadaran, distres pernapasan dan syok. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gangren pedis. Analisis gas darah menunjukkan asidosis metabolik berat (pH 6,994; HCO3 8 mmol/l). dan keton darah 5 nmol/L, Hasil pemeriksaan abnormal lainnya adalah glukosa darah sewaktu melebihi batas terdeteksi pada alat ukur dan kadar kalium 5,6 mmol/l. Pasien didiagnosis dengan syok sepsis karena gangren pedis sinistra dan diabetes melitus (DM) tipe II dengan komplikasi KAD. American Diabetic Association merekomendasikan terapi KAD meliputi koreksi dehidrasi, terapi insulin untuk kontrol glukosa darah dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit serta identifikasi dan mengobati faktor pencetus termasuk kontrol sumber infeksi. Surviving Sepsis Campaign merekomendasikan untuk melakukan hour-1 bundle resuscitation untuk meningkatkan kesintasan pasien sepsis. Penatalaksanaan yang tepat pada pasien KAD dapat memberikan keluaran yang baik pada pasien.
Tata Laksana Mekanikal Ventilator pada Pasien Acute Respiratory Distress syndrome (ARDS) dengan Pendekatan Driving Pressure Ester Lantika Ronauli Silaen; Nurita Dian Kestriani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.583 KB)

Abstract

Manajemen ventilasi mekanik sindrom distres pernapasan akut (ARDS) antara lain penggunaan volum tidal rendah, positive end expiratory pressure PEEP tinggi, dan menjaga tekanan Pplat ≤30 cmH2O, dengan target untuk mencegah terjadi ventilator menginduksi cedera paru (VILI). Parameter driving pressure (DP) diperhitungkan pada saat ini sehubungan dengan batas aman dan sintasan pada pasien dengan komplians rendah seperti pada ARDS. Laporan kasus ini melaporkan seorang pria, usia 26 tahun, dengan luka tusuk pada dada yang dilakukan debridement dengan median sternotomi. Setelah satu hari dirawat di bangsal, pasien readmisi ke ICU dengan keluhan sesak napas, penurunan kesadaran, penurunan saturasi oksigen menjadi 65%, dan gambaran foto thoraks ditemukan opasitas bilateral. Pasien dilakukan penilaian dan penanganan dilanjutkan dengan manajemen ARDS, dan dipasang ventilator. Pengaturan ventilator dengan modus pressure control, menggunakan PEEP tinggi dan penyesuaian volum tidal berdasarkan nilai DP yang memberikan respon baik dengan meningkatnya oksigenasi pasien. Pasien kemudian berhasil diekstubasi setelah 8 hari dirawat di ICU. Penurunan komplians pada ARDS terjadi dengan hilangnya area paru yang bias ter-aerasi membuat penurunan luas paru yang fungsional. DP berhubungan dengan tekanan stress dalam paru dan merepresentasikan strain siklik yang menjadi sasaran parenkim paru selamat tiap siklus ventilasi. Penyesuaian parameter ventilasi mekanik dengan target driving pressure memberikan luaran yang baik pada kasus ini.
Suplementasi Oksigen via High-Flow Nasal Kanul sebagai Tatalaksana Gagal Napas pada Pasien Kritis: Studi Kohort Retrospektif Irvan Setiawan; Eddy Harijanto; Annemarie Chrysantia Melati
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.465 KB)

Abstract

Terapi oksigen dengan menggunakan High-Flow Nasal Cannula (HFNC) merupakan salah satu opsi ventilasi non-invasif yang dapat memberikan manajemen respirasi yang efektif untuk pasien dengan gagal nafas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektifitas penggunaan HFNC sebagai tatalaksana gagal nafas pada pasien sakit kritis. Studi kohort retrospektif dilakukan di sebuah rumah sakit di Indonesia pada Maret 2017 hingga Maret 2019. Kriteria inklusi meliputi pasien dewasa yang berusia 18 tahun ke atas, dirawat di ruang rawat intensif dengan diagnosis gagal napas (didefinisikan PaO2 <55 mmHg dalam udara bebas), dan mendapatkan terapi HFNC. Kriteria eksklusi merupakan pasien yang pulang paksa dan dirujuk ke pusat kesehatan lainnya. Studi ini menggunakan nilai Respiratory-OXygenation (ROX) dan kebutuhan ventilasi mekanik. Terdapat 82 subjek penelitian dengan rata-rata usia 63,96 tahun dan mayoritas adalah laki-laki (60,9%). Jumlah kasus yang dikonversikan ke ventilasi mekanik adalah 12,1%. Pada kelompok pasien yang dikonversikan ke ventilasi mekanik terdapat 50% pasien yang hidup; sedangkan, pada kelompok yang tidak dikonversikan ke ventilasi mekanik terdapat 56,9% pasien yang hidup. Kelompok pasien yang tidak konversi ventilasi mekanik memiliki perbaikan nilai ROX walaupun dengan nilai ROX di awal perawatan yang lebih tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi HFNC merupakan salah satu moda pilihan ventilasi pada pasien dengan gagal napas di ruang rawat intensif. Pada penelitian juga ini ditemukan jika nilai ROX di awal terapi HFNC berada di atas 4,88 memiliki angka kesuksesan yang lebih baik.
Penggunaan Extracorporeal Membrane Oxygenation Pada Pasien dengan Acute Respiratory Distress Syndrome Ni Luh Kusuma Dewi; Yohanes WS George
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.802 KB)

Abstract

Acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga saat ini memiliki angka mortalitas yang tinggi, bahkan melebihi 45% pada kasus yang berat. Penggunaan veno-venous extracorporeal membrane oxygenation (VVECMO) diharapkan dapat menurunkan mortalitas dan kematian. Inisiasi VV-ECMO untuk ARDS pasien dewasa patut dipertimbangkan saat terapi konvensional tidak mampu mempertahankan oksigenasi secara adekuat serta untuk mengistirahatkan paru. VV-ECMO diharapkan dapat memperbaiki pertukaran gas dan status hemodinamik, sehingga mencegah kerusakan organ lebih lanjut akibat hipoksia. Selama beberapa dekade terakhir, penelitian VV-ECMO pada kasus ARDS tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena interval yang panjang antara onset ARDS dan inisiasi VV-ECMO, kemampuan difusi membran oksigenator yang tidak bertahan lama serta angka komplikasi yang tinggi seperti perdarahan yang dikaitkan dengan penggunaan antikoagulan dosis tinggi. Beberapa tahun terakhir terdapat sejumlah kemajuan dalam konstruksi sirkuit VV-ECMO yang lebih biokompatibel dan tahan lama. Hasil menggembirakan juga diperoleh dari uji klinis VV-ECMO for severe adult respiratory failure (CESAR) dibandingkan terapi ventilasi konvensional. Pada penelitian CESAR, VV-ECMO memiliki efikasi dan efisiensi yang lebih baik dibandingkan terapi konvensional. Pada penelitian ini dipergunakan generasi terbaru VV-ECMO. Tinjauan pustaka ini akan membahas fisiologi VV-ECMO, indikasi serta manajemen sirkuit VV ECMO pada ARDS .
Penyalahgunaan Alkohol dan Delirium pada Perawatan Intensif Jauharul Alam; Dhany Budipratama
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.871 KB)

Abstract

Pada pasien perawatan intensif, delirium yang dicetuskan oleh karena ketergantungan alkohol sering tidak mendapat perhatian yang seksama, namun pada kenyataannya terjadi pada sekitar 10% pasien di ICU. Delirium akibat ketergantungan alkohol merupakan maniftasi yang serius dari penyalahgunaan alkohol dan berhubungan erat dengan berbagai komplikasi yang muncul dan keluaran yang buruk. Oleh karena itu, kondisi tersebut dapat dicegah, dan jika muncul agar dapat dikelola dengan segera, untuk menghindari sekuele negatif pada keadaaninfeksi, komplikasi kardiak dan disfungsi kongnitif jangka panjang.
Perbandingan Efektivitas Metilprednisolon 1 mg/KgBB/i.v. dengan Deksametason 0,2 mg/KgBB/i.v. terhadap Nyeri Tenggorokan Pascaintubasi dinilai dengan Numeric Rating Scale (NRS) Rika Purnama Sari; Rose Mafiana; Rizal Zainal; Legiran Siswo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.182 KB)

Abstract

Intubasi endotrakeal adalah tindakan yang dilakukan dalam anestesi umum dengan cara memasukkan pipa endotrakeal ke saluran napas. Tindakan ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi mulai dari yang ringan sampai berat. Salah satu komplikasi ringan yang dapat terjadi pasca intubasi adalah nyeri tenggorokan. Tindakan farmakologis yang dapat dilakukan adalah pemberian obat anti inflamasi nonsteroid dan steroid seperti deksametason dan metilprednisolon. Sampai saat ini belum ada obat tunggal yang diterima secara luas dan dijadikan baku emas untuk terapi nyeri tenggorokan pasca operasi. Penelitian ini merupakan penelitian randomized post-test only double blinded yang dilakukan di RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Juni 2019-Juli 2019 sampai jumlah sampel terpenuhi, didapatkan total 50 sampel. Rerata NRS 1 jam pascaekstubasi pada kelompok deksametason dan metilpredinosolon sebesar 0,88±0,927 dan 0,64±0,700. Rata-rata NRS 6 jam pascaekstubasikelompok deksametason dan metilprednisolon sebesar 0,64±0,70 dan 0,52±0,51. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata antar keduanya (p=0,420 dan p=0,671). Tidak terdapat perbedaan efektivitas pemberian injeksi metilprednisolon 1mg/kgBB/IV dengan injeksi deksametason 0,2mg/kgBB/IV terhadap nyeri tenggorokan pascaintubasi dinilai menggunakan NRS pada pasien dengan anestesi umum di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang.
Penatalaksanaan Syok Sepsis pada Pasien Community Acquired Pneumonia Pasca Stroke Iskemik dengan Disfungsi Multiorgan Muhammad Rum; Faisal Muchtar; Syarif K. Arif
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1317.205 KB)

Abstract

Sepsis merupakan disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respons tubuh terhadap infeksi. Sepsis dapat timbul dengan adanya infeksi yang diperoleh dari lingkungan masyarakat, rumah sakit, dan sistem perawatan kesehatan, di mana pneumonia merupakan penyebab utama lebih dari 50% angka kejadian sepsis pada pasien yang dimasukkan ke Intensive Care Unit (ICU). Disfagia terjadi pada lebih dari 30% pasien dengan kelainan cerebrovascular seperti stroke iskemik, stroke hemorrhagik, dan perdarahan sub arachnoid, yang menjadi faktor risiko dalam meningkatkan kejadian pneumonia aspirasi pada pasien dengan kelainan cerebrovascular khususnya pada pasien pascastroke. Laporan kasus ini membahas mengenai pasien laki-laki usia 58 tahun yang dikonsulkan untuk perawatan di ICU karena penurunan kesadaran dan sesak napas yang memberat 1 hari sebelumnya. Pasien didiagnosis dengan Community Acquired Pnemonia (CAP), Hypertensive Heart Disease (HHD), hemiparesis dekstra pascastroke iskemik, Acute Kidney Injury (AKI) dengan diagnosis diferensial acute on chronic kidney disease. Pasien diberikan ventilasi mekanik, vasopressor, dilakukan pemasangan monitor invasif, diberikan sedasi dan analgetik, diuretik, dan antibiotik empirik spektrum luas. Pasien dipindahkan ke ruang rawat pada hari ke-11 perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa identifikasi dan resusitasi yang tepat dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas pasien dengan sepsis dan syok sepsis.

Page 1 of 1 | Total Record : 7