cover
Contact Name
Bangkit Ary Pratama
Contact Email
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Phone
+6285326333050
Journal Mail Official
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Editorial Address
Kompleks Perkantoran Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia Jalan Raya Solo-Sukoharjo Km.09 Dukuh Ngepeng, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 57527
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS)
ISSN : -     EISSN : 26230038     DOI : https://doi.org/10.55181/ijms
Core Subject : Health, Engineering,
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS) (https://doi.org/10.55181/ijms) terbit pertama Vol. 1 No.1 Januari 2014. Setiap edisi terdiri dari kurang lebih 100 halaman, yang artikelnya disajikan dalam bahasa Indonesia, kecuali judul dan abstrak disertai dengan bahasa inggris. Mekanisme peer-reviewer dilakukan dengan cara setiap artikel yang diajukan harus direview oleh dua reviewer yang ditunjuk oleh editor. Fokus dan Lingkup : IJMS adalah jurnal terbitan berkala nasional yang memuat artikel penelitian (research article) dibidang kesehatan. IJMS : Jurnal kesehatan diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovas ilmiah dibidang kesehatan kepada para praktisi dan akademisi di bidang kesehatan. IJMS merupakan jurnal peer reveiwer dan open acces journal yang berfokus pada kesehatan. Fokus ini meliputi daerah dan ruang lingkup yang terkait Keperawatan Kebidanan Fisioterapi Farmasi Gizi Masyarakat Kesehatan Masyarakat
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018" : 15 Documents clear
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Hemoglobin (Hb) Pada Mahasiswa Keperawatan Angkatan 2013 Universitas Respati Yogyakarta Siti Fadlilah - Universitas Respati Yogyakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.421 KB)

Abstract

Abstract: Hemoglobin is an iron-containing oxygen transporting protein. The content of hemoglobin in the body is influenced by many factors including age, sex, activity, nutritional status, lifestyle. Studies show caffeine consumption of peptic ulcers, erosive esophagitis, gastroesophageal reflux, impair iron absorption, and cause iron deficiency anemia. Girls have higher hemoglobin levels than men, but women are more likely to experience a decrease in hemoglobin levels. Regular physical activity can increase hemoglobin levels, but excessive physical activity can cause hemolysis and decrease the amount of hemoglobin. The purpose of this study was to know the relationship between age, sex, caffeine consumption, and physical activity with hemoglobin level in the nursing students of 2013 UNRIYO. Quantitative research type of analytic observation with cross sectional design. The sample is nursing student of 8th semester with Probability Proportionate to Size technique. The research instrument is questionnaire. Analysis of research data using independent T Test. Most respondents aged 22 years and female gender are 33 people (45.2%) and 41 people (60.3%). Most of the light physical activity and moderate caffeine consumption were 34 people (50%) and 25 people (36.8%). There is a significant relationship between age with hemoglobin level with p-value 0.002 <0.005. There is a significant relationship between sex with hemoglobin level with p-value 0,001 <0,005 There is no relationship of caffeine consumption with hemoglobin level with p-value 0,195> 0,05. There was no physical activity relationship with hemoglobin level with p-value 0.363> 0.05.Keyword : caffeine consumption, physical activity, hemoglobin Abstrak :Hemoglobin merupakan suatu protein pengangkut oksigen yang mengandung besi. Kandungan hemoglobin di dalam tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya usia, jenis kelamin, aktivitas, status gizi, gaya hidup. Studi menunjukkan konsumsi kafein ulkus peptikum, esophagitis erosif, gastroesophageal refluka, mengganggu absorbsi besi, dan menyebabkan anemia defisiensi besi. Anak perempuan mempunyai kadar hemoglobin lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, tetapi Perempuan lebih mudah mengalami penurunan kadar hemoglobin. aktivitas fisik yang teratur dapat meningkatkan kadar hemoglobin, tetapi aktivitas fisik yang berlebihan dapat menyebabkan hemolisis dan menurunkan jumlah hemoglobin. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, konsumsi kafein, dan aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada mahasiswa keperawatan angkatan 2013 UNRIYO.Jenis penelitian kuantitatifobservasianalitik dengan rancangan cross sectional.Sampel adalah mahasiswa keperawatan semester 8 dengan teknik Probability Proportionate to Size. Instrumen penelitian adalah kuesioner. Analisis data penelitian meggunakan T Test independen.Sebagian besar responden berusia 22 tahun dan berjenis kelamin perempuan yaitu 33 orang (45,2%) dan 41 orang (60,3%). Sebagian besar aktivitas fisik ringan dan konsumsi kafein sedang yaitu 34 orang (50%) dan 25 orang (36,8%). Ada hubungan signifikan antara usia dengan kadar hemoglobin dengan p-value 0,002 < 0,005. Ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kadar hemoglobin dengan p-value 0,001 < 0,005. Tidak ada hubungan konsumsi kafein dengan kadar hemoglobin dengan p-value 0,195 > 0,05. Tidak ada hubungan aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin dengan p-value 0,363 > 0,05.Kata kunci : konsumsi kafein, aktivitas fisik, Hb
Peran Granulosit Sebagai Prediktor Defisit Neurologis Pada Pasien Stroke Hiperakut dan Akut Di RS Bhayangkara Kediri Didit Damayanti - STIKES Karya Husada Kediri
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.171 KB)

Abstract

Abstract: Stroke causes of death in developed countries after heart disease and cancer. In patients with stroke, there are cellular factors that play a role in the process of stroke, such as the release of neurotransmitters due to depolarization of cell membranes and also inflammatory factors that can also cause infarction in cerebral peripheral tissue. Inflammatory factor that plays a role is leukocyte activity (granulocyte). In this case granulocytes play a role in the pathogenesis of acute stroke during the critical phase of inflammation. Increasing the number of leukocytes, especially granulocytes is one of the tests that can identify further neurological deficits in stroke patients ischemia. This study used descriptive correlation with cross sectional approach, that is linking the role of granulocyte enhancement with neurological deficit in ischemia stroke patients at Bhayangkara Kediri Hospital. Sampling technique with eksidental sampling and got sample number 56 respondents. Bivariate test using Spearman. Statistical test results obtained pvalue 0.000 less than α 0.05 with r (correlation strength) 0.801. It can be concluded that, Increasing the number of granulocytes has a relationship with the neurological deficits of patients with acute and sub-acute phase of the phrase ischemia. The higher granulocyte increase may exacerbate the neurologic deficits of ischemia stroke patients.Keywords: Granulocyte, Neurological Deficit            Abstrak: Stroke penyebab kematian ketiga di negara maju setelah penyakit jantung dan kanker. Pada pasien dengan stroke, terdapat faktor selular yang berperan pada proses terjadinya stroke diantaranya adalah pelepasan neurotransmiter akibat depolarisasi membran sel dan juga faktor inflamasi yang juga dapat menyebabkan infark pada jaringan perifer cerebral. Faktor inflamasi yang berperan adalah  aktivitas leukosit (granulosit). Dalam hal ini granulosit berperan dalam patogenesis stroke akut selama fase kritis peradangan. Peningkatan jumlah leukosit terutama granulosit  merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat mengidentifikasi defisit neurologis lebih lanjut pada pasien stroke ischemia. Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan "cross sectional", yaitu menghubungkan antara peran peningkatan granulosit  dengan defisit neurologis pada pasien stroke ischemia di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Teknik sampling dengan eksidental sampling dan didapatkan jumlah sampel 56 responden. Uji bivariat menggunakan Spearman. Hasil uji statistik didapatkan pvalue 0,000 kurang dari α 0,05  dengan r (kekuatan korelasi) 0,801. Dapat disimpulkan bahwa, Peningkatan jumlah granulosit memiliki hubungan dengani defisit neurologis pasien srtoke ischemia fase akut dan sub akut. Semakin tinggi peningkatan granulosit dapat  memperberat defisit neurologis pasien stroke ischemia.Kata kunci: Granulosit, Defisit neurologis 
Penatalaksanaan Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit Umum Daerah Wonogiri Wulandari Agustina; Tri Suwarni - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.009 KB)

Abstract

Abstract  : Pregnancy is a physiological process many changes that occur during pregnancy such us physiological anatomical changes such us uterine enlargement, breast enlargement, as wellas increased HCG, estrogen and progesterone hormones. Hyperemesis gravidarum 2015 by 16,31% and increased by 2016 by 18,15%. Hyperemesis gravidarum is the 2nd largest case of 239 cases by 2015 and 301 cases by 2016 in the regional hospitals Wonogiri. Objective: The aim of this study in order to under take the management ofthe care of pregnant women with severe hiperemesis gravidarum management in a comprehensive manner by using the 7 step Varney. Methods:Using a descriptive observational research method with a case study approach. Results:Patients of Ny. D had 5% dextrose infusion therapy, 4 mg/8 hours ondancentron injection, 50 mg/8 hours ranitidine injection, 125ml 3 x 1 syrup antacid for 2 days so that the general condition of mother and fetus was good. Conclusion: Midwifery caregiven topregnant womenNy. DG1P0A0Age 24 Years Pregnant11+4weeks with hiperemesis gravidarum at the General Hospital Wonogiri has been carried out effectively and in accord ance with existing theory.Keywords  :Pregnancy, Hiperemesis Gravidarum, Midwifery Care Abstrak : Kehamilan merupakan proses yang fisiologis, banyak perubahan yang terjadi selama kehamilan seperti perubahan anatomi fisiologi contohnya pembesaran uterus, pembesaran payudara, serta terjadi peningkatan HCG, hormone estrogen dan progesterone. Hiperemesis gravidarum tahun 2015 sebesar 16,31% dan meningkat pada tahun 2016 sebesar 18,15%. Hiperemesis gravidarum merupakan kasus ke 2 terbesar dari 239 kasus pada tahun 2015 dan 301 kasus pada tahun 2016 di Rumah Sakit Umum Daerah Wonogiri. Penelitian ini bertujuan agar dapat melakukan penatalaksanaan asuhan pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum secara komprehensif dengan menggunakan manajemen 7 langkah Varney. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan studi kasus. Hasil Penelitian: Pasien Ny. D telah dilakukan terapi infus dextrosa 5%, injeksi ondancentron 4 mg/8 jam, ranitidine 50 mg/8 jam, antasida syrup 125 ml 3x1 selama 2 hari sehingga keadaan umum ibu dan janin baik. Kesimpulan: Asuhan kebidanan ibu hamil yang diberikan pada Ny. D G1P0A0 Umur 24 Tahun Hamil 11+4 Minggu dengan hiperemesis gravidarum di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wonogiri sudah berjalan dengan efektif dan sesuai dengan teori yang ada.Kata Kunci :Kehamilan, Hiperemesis Gravidarum
Peran Kader Kesehatan dalam Tindakan Penemuan Kasus Tuberkulosis dengan Pendekatan Theory Planned of Behaviour di Wilayah Kerja Puskesmas Bendosari Novi Indah Aderita; Chusnul Chotimah - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.522 KB)

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) in the world continues to increase, in 2012 as many as 8.6 million people, in 2013 as many as 9 million people and in 2015 as many as 9.6 million people. It is estimated that in Indonesia every year there are 450,000 new cases, and a third are not yet covered by health services. TB case finding is the first step in TB prevention activities. Efforts to find TB cases need to involve many health sectors such as health cadres. The role of health cadres is related to behavioral interventions with the Theory of Planned Behavior (TPB) approach. This study aims for the role of health cadres in the action of finding tuberculosis cases with the planned of behavior theory approach in the work area of the bendosari health center. The design of this study using observational analytic. The study was conducted in May-June 2017 in the Bendosari Community Health Center work area. The research subjects were 60 health cadres who were chosen by fixed disease sampling technique. Endogenous variables consist of: intention and discovery of TB cases. Exogenous variables consist of: attitudes, norms and behavioral control. Instruments used in data retrieval are questionnaires and analyzed by path analysis. The results of this study were: intention (b = 4.96; 95% CI = 2.78 to 7.14; p = 0.001) related to TB case finding. Attitudes (b = 1.87; 95% CI = 0.08 to 3.66; p = 0.040), subjective norms (b = 1.47; 95% CI = 0.35 to 3.29; p = 0.113), perception of behavioral control (b = 2.31; 95% CI = 0.92 to 2.69; p = 0.001), related to intention. The results show that the increased intention to directly improve the discovery of tuberculosis. Increased attitudes, norms and behavioral control directly increase the intention in the discovery of TB. Collaboration between health cadres and health workers is needed for TB case finding in the community.Keyword: Health Caders, Actions of Tuberculosis Cases, Theory of Planned BehaviourAbstrak: Penyakit tuberkulosis (TB) di dunia terus mengalami peningkatan, tahun 2012 sebanyak 8,6 juta jiwa, tahun 2013 sebanyak 9 juta jiwa dan tahun 2015 sebanyak 9,6 juta jiwa. Diperkirakan di Indonesia setiap tahun terdapat 450.000 kasus baru, dan sepertiganya belum terjangkau pelayanan kesehatan. Penemuan kasus TB  merupakan langkah pertama kegiatan penanggulangan TB. Upaya penemuan kasus TB perlu melibatkan banyak sektor kesehatan seperti kader kesehatan. Peran kader kesehatan berkaitan dengan intervensi perilaku dengan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kader kesehatan dalam tindakan penemuan kasus tuberkulosis dengan pendekatan theory planned of behavior di wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Desain penelitian ini dengan menggunakan analitik observasional. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juni 2017 in wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Subjek penelitian berjumlah 60 kader kesehatan yang dipilih dengan teknik fixed disease sampling. Variabel endogen terdiri dari: niat dan penemuan kasus TB. Variabel eksogen terdiri dari: sikap, norma dan kendali perilaku.instrumen yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan kuesioner dan dianalisis dengan path analisis. Hasil menunjukkan bahwa  peningkatan niat meningkatkan secara langsung penemuan tuberkulosis. Peningkatan sikap, norma dan kendali perilaku meningkatkan secara langsung niat dalam penemuan TB.  Kerjasama antara kader kesehatan dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk penemuan kasus TB di masyarakat.Kata Kunci:  Kader kesehatan, Penemuan Kasus TB, Theory Planned Behaviour
Hubungan antara Persepsi Keseriusan, Persepsi Kerentanan, dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Kecacingan Valentina Dili Ariwati; Anggraeni Sih Prabandar; Raka Pradistya; Maria Margareta Sekar Sari - Program Studi Diploma Tiga Analis Kesehatan Politeknik Katolik Mangunwi
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.203 KB)

Abstract

Abstract : The incidence of helminth infection in Indonesia spread across rural and urban areas with the percentage of 45-60% of the 220 million population. The percentage incidence higher in areas with poor sanitation, i.e. 80%. As much as 21% helminth infection’s sufferer was elementary school age children. This research aimed to analyze the factors that influence the incidence of helminth infection in elementary school children. Research conducted in 3 Elementary Schools: SD PL Servatius Gunung Brintik, SD and SD Kanisius Pekunden, and SD Theresiana 02. The sample in this study was 104 elementary school children. The analysis used in this study was path analysis using STATA program assistance 13. The value of AIC = 229.3937 and BIC = 250.5488 so the path analysis model presented could be analyzed. The results showed that there was a positive relationship between perceived of susceptibility with the perceived seriousness (b = 0.33; CI 95% = 0.20 sd 0.47; p = < 0.001). There was a positive association between perceived seriousness with environmental sanitation ((b = 4.4; CI 95% = 2.10 sd 6.76; p < 0.001). There was a positive association between perceived susceptibility with environmental sanitation (b = 3.8; CI 95% = 1.13 sd 6.43; p =  0.005). There was a negative association between environmental sanitation with helminth infection. Conclusion: there was an indirect association between the perceived seriousness and perceived susceptibility with helminth infection. There was a direct relationship between environmental sanitation and helminth infection.Keyword : Environmental sanitation, helminth infection, perceived seriousness, perceived susceptibility.  Abstrak : Kejadian kecacingan di Indonesia tersebar di wilayah pedesaan dan perkotaan dengan presentase sebesar 45-60 % dari 220 juta penduduk. Persentase kejadian kecacingan lebih tinggi pada daerah dengan sanitasi buruk, yaitu 80%. Sebanyak 21% penderita kecacingan adalah anak usia sekolah dasar (SD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kecacingan pada anak sekolah dasar. Penelitian dilakukan di 3 SD: SD PL Servatius Gunung Brintik, SD Kanisius Pekunden dan SD Theresiana 02. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 104 anak sekolah dasar. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur dengan menggunakan bantuan program STATA 13. Nilai AIC = 229.3937 dan BIC = 250.5488 sehingga model analisis jalur yang diajukan dapat dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi kerentanan dengan persepsi keseriusan (b = 0.33; CI 95% = 0.20 sd 0.47; p = < 0.001). Terdapat hubungan positif antara persepsi keseriusan dan sanitasi lingkungan (b = 4.4; CI 95% = 2.10 sd 6.76; p < 0.001). Terdapat hubungan positif antara persepsi kerentanan dengan sanitasi lingkungan (b = 3.8; CI 95% = 1.13 sd 6.43; p =  0.005). Terdapat hubungan negatif antara sanitasi lingkungan dengan kejadian kecacingan (b = -2; CI 95% = -3.52 sd -0.42; p = 0.013). Kesimpulan: terdapat hubungan tidak langsung antara persepsi keseriusan dan persepsi kerentanan dengan kejadian kecacingan. Terdapat hubungan langsung antara sanitasi lingkungan dan kejadian kecacingan.Kata kunci:  Sanitasi lingkungan, kecacingan, persepsi keseriusan, persepsi kerentanan

Page 2 of 2 | Total Record : 15