cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2022): JUNI" : 5 Documents clear
DEFORESTASI VS REBOISASI HUTAN DI INDONESIA (Dalam Terang Ensiklik Laudato Si’) Junior, Gregorius Rivaldo
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.542 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.74

Abstract

Fokus tulisan ini adalah mengangkat masalah pengrusakan hutan yang terjadi terus menerus di Indonesia. Tujuan penulisan ini adalah memberikan penjelasan yang berkaitan dengan pandang Gereja Katolik tentang hutan. Metodologi yang digunakan adalah metode studi kepustakaan. Banyak pihak yang telah mengupayakan berbagai macam cara untuk mengatasi permasalahan ini. Namun semua cara tersebut hanya menemui jalan buntu tanpa ada solusi yang berarti. Kebuntuan tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri. Kebutuhan manusia yang semakin tidak terkendali ternyata memberikan dampak yang buruk bagi hutan. Ribuan bahkan jutaan hektar hutan menjadi korban dari kerakusan manusia. Tindakan yang mengatasnamakan kelestarian hutan menjadi kedok bagi individu maupun kelompok untuk merusak hutan. Manusia harus menyadari akan dampak kerusakan hutan di kehidupan mendatang. Dengan kata lain, manusia harus siap untuk menghadapi berbagai krisis dan bencana alam. Gereja Katolik dalam Laudato Si’” juga menyerukan seruan yang sama yaitu masalah pengrusakan alam, khususnya hutan. Pandangan Gereja Katolik yang memandang hutan sebagai saudara membuat manusia harus mengubah citra dan cara pandang terhadap hutan. Hutan bukanlah objek yang bisa dieksploitasi secara berlebihan oleh manusia. Hutan adalah paru-paru bumi yang memberikan keseimbangan dalam kehidupan. Relasi hutan dan manusia menggambarkan suatu harmoni kehidupan yang indah dan dinamis. 
Memaknai Penguasaan Diri, Sebuah Analisa Teori Kompleksitas Identitas Sosial dalam Gal 5:23 Kartono, Agustinus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.601 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.76

Abstract

Hidup bersama tidak pernah lepas dari penguasaan diri. Sikap ini dapat dimaknai melalui berbagai cara, salah satunya dalam terang Kitab Suci. Rasul Paulus dalam Gal 5:23 memberikan pemahaman baru terkait penguasaan diri dalam hidup manusia. Ia mengajarkan bahwa penguasaan diri tidak melulu berfokus pada kekuatan pribadi masing-masing orang tetapi penguasaan diri merupakan buah dari kehadiran Roh Kudus dalam diri orang tersebut. Dengan penguasaan diri yang seimbang, Rasul Paulus mampu mewartakan Kristus bagi banyak orang, tak terkecuali bagi jemaat non Yahudi. Artikel ini menunjukkan penguasaan diri rasul Paulus dengan analisa Teori Kompleksitas Identitas Sosial-Social Identity Complexity Theory (SICT) yang belum pernah diulas dalam publikasi ilmiah sebelumnya. Penguasaan diri rasul Paulus tampak dalam pilihan sikapnya sebagai pewarta yakni merger. Ia berhasil menggabungkan dua identitas, baik Yahudi maupun non Yahudi dan menanamkan pemaknaan baru di antara jemaat seperti 'ciptaan baru, saudara-saudari dan kamu semua adalah satu’ (Gal 3:28).
Maraknya Perdagangan Manusia dalam Terang Ajaran Sosial Gereja (Evangelium Vitae) dan HAM guru, henriques changestu william; Ghari, Paskalis Rivaldo; Siringoringo, Paulinus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.796 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.75

Abstract

AbstrakArtikel ini meletakkan fokus pada tema perdagangan manusia menurut Ajaran Sosial Gereja (Evangelium Vitae) dan HAM. Metode yang diterapkan ialah analisis kepustakaan dan juga dilihat dari sebuah contoh yang nyata atas perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia. Melalui kasus dan analisis kepustakaan penulis melihat bahwa perdagangan manusia telah melanggar hukum alam yang telah diciptakan oleh Allah. Menurut HAM perdagangan itu melanggar aturan hidup manusia karena tidak memberi kebebasan untuk hidup kepada manusia. Tujuan penulisan ini supaya terlihat dengan jelas bagaimana pandangan Gereja dan HAM mengenai perdagangan manusia sehingga manusia semakin sadar atas pelanggaran yang telah dilakukan selama ini. Perdagangan manusia telah melanggar atau merusak ciptaan Allah yang sempurna. Manusia memiliki hak untuk hidup bebas. Studi analisis kepustakaan ini sampai pada temuan bahwa Gereja dan HAM memandang perdagangan manusia merupakan sebuah perbuatan jahat. Tindakan perdagangan manusia merusak keberadaan manusia itu sebagai manusia karena haknya telah diambil sebagian oleh mereka yang melakukan tindakan perdagangan manusia.Kata Kunci: Perdagangan Manusia, HAM, Hak, Ajaran Sosial Gereja 
Poin Dialog yang Korelasional dan Bertanggungjawab Global dalam Sekolah Lintas Iman Rosario, Agustinus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.551 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.78

Abstract

This article aims to analyze the role of the Sekolah Lintas Iman (SLI, Cross-Faith School) as an interreligious dialogue program in the city of Yogyakarta in implementing a correlational and globally responsible dialogue. The main question to be answered is whether the activities carried out by SLI have reflected a correlational and globally responsible dialogue according to the Paul F. Knitter’s concept. The author uses the theory of Paul F. Knitter's dialogue model contained in the book One Earth Many Religions as a theoretical basis to discover the points of interreligious dialogue contained in it. The research was conducted by distributing questionnaires to former participant, conducting interviews with facilitators, and library research. In this research, the author tries to find the points of interreligious dialogue that are correlational and globally responsible in SLI’s activities, as well as looking for the contribution of SLI in Knitter's thinking.
MEMAKNAI SEKSUALITAS KATOLIK DALAM KONTEKS SKANDAL SEKSUAL PARA IMAM Kowarin, Petrus Fransiskus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.575 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.86

Abstract

Purpose of this study is to find out meaning, reality and impact of sexual scandals. It is also to examine reaction of the Catholic church in facing this issue. The method used in this research is a qualitative method with a phenomenological study approach. The phenomenological study approach used as a scalpel to understand the problem of sexual abuse, and to interpret sexuality in that context, as well as to look at response of the Church in this case.This study underlines several points. First, sexual abuse by priests is an emerging currently topic. Priests committed many sexual scandals and it is exposed in public. The Church apparently tends to protect priests, the perpetrators of crimes than victims. Second, the problem of sexual abuse has a negative impact on victims physically, biologically, psychologically, and spiritually. Third, the Church takes wrong step in resolving the sexual abuse by priests. The church seem protects the victim, but at the same time saves its priest, and even intimidates victims who dare to expose the case in public. Fourth, sex and human instinctive life are good. God gives it to us, and human uses it with the consciousness of the human person. In addition, clergy needs to realize and reflect more on vow of chastity as a pastoral minister. They also have to see value of life, dignity and freedom of the human person.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang realitas dan dampak dari skandal seksual; untuk mengetahui sikap atau tindakan Gereja menyikapi persoalan ini serta untuk mengetahui makna seksualitas dalam konteks realitas skandal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Pendekatan studi fenomenologi ini digunakan sebagai pisau bedah untuk melihat dan memahami permasalahan sexual abuse serta sikap Gereja Katolik dalam menanggapi kasus tersebut dan mencoba untuk memaknai seksualitas dalam persoalan tersebut. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pertama, sexual abuse oleh para imam menjadi suatu topik yang mengemuka saat ini. Hal ini disebabkan lewat terungkapnya banyak kasus skandal seksual. Kasus ini menjadi suatu pukulan untuk Gereja Katolik karena dipandang tidak mampu melindungi mereka yang menjadi korban dari kejahatan para imam sebaliknya melindungi para imam sebagai pelaku kejahatan. Kedua, permasalahan sexual abuse membawa dampak untuk korban yang mengalami gangguan secara fisik-biologis, tetapi juga secara psikologis dan spiritual. Ketiga, dengan melihat persoalan ini, sikap Gereja yakni umumnya melindungi korban dari sexual abuse ini, tetapi langkah diambil dipandang keliru dan menimbulkan banyak pertanyaan lagi sehingga otoritas Gereja mengambil tindakan yang dipandang di satu sisi Gereja tegas dengan menjerat pelaku, tetapi juga di pihak lain melindungi pelaku pelecehan seksual. Para korban berani tampil di depan publik, maka Gereja mencabut kerahasiaan tersebut. Keempat, seks dan kehidupan naluriah manusia itu baik. Tuhan memberikannya untuk disalurkan sesuai dengan kesadaran pribadi manusia. Sehingga perlu untuk menyadari kembali kaul kemurnian sebagai pelayan pastoral. Tetapi juga menyadari kembali akan kehidupam, martabat dan kebebasan pribadi manusia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5