cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017): June 2017" : 7 Documents clear
TRANSFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DI JAMBI: DARI MADRASAH KE PESANTREN Ali Muzakir
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.893 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.212

Abstract

Traditional Islamic education model does not only teach Islam but also provides practical knowledge for modern life. The desire is a great opportunity, because Islamic education in Indonesia has diverse backgrounds, systems, and nomenclature, such as madrassas, boarding schools, rangkang, meunasah, and surau. The model of madrasah education and pesantren seems to be the most viable pedestal. Particularly the pesantren system, rooted in Javanese tradition, is the most widely influenced model of Islamic education in Indonesia. This paper discusses the struggle of madrasah and pesantren in Jambi, with a social-historical approach. The focus of research on some of the most established madrassas in Jambi, which became the forerunner of other madrasah development in Jambi Province. The initial characteristics of Islamic education institutions in Jambi are madrasah. In practice, Madrasahs in Jambi have developed a model of traditional Islamic education, characterized by the study of yellow books, the figures of the master teachers (kyai), students, and boarding schools. The characteristics are similar to the pesantren in Java; minus mosque. In the development, there is a sense of imbalance in responding to changes in the national education system, especially those projected by the Ministry of Religious Affairs. Model pendidikan Islam tradisional tidak hanya mengajarkan Islam tetapi juga membekali ilmu praktis untuk kehidupan modern. Keinginan tersebut menjadi peluang besar, karena pendidikan Islam di Indonesia memiliki latar belakang sejarah, sistem, dan nomenklatur yang beragam, seperti madrasah, pondok pesantren, rangkang, meunasah, dan surau. Model pendidikan madrasah dan pesantren tampaknya menjadi tumpuan yang paling viable. Terutama sistem pesantren, yang berakar pada tradisi Jawa, adalah paling luas mempengaruhi model pendidikan Islam di Indonesia. Tulisan ini membahas pergulatan madrasah dan pesantren di Kota Jambi, dengan pendekatan sejarah-sosial. Fokus penelitian pada beberapa madrasah yang didirikan di Kota Jambi, yang menjadi cikal-bakal pengembangan madrasah lainnya di Provinsi Jambi. Karakteristik awal lembaga pendidikan Islam di Jambi adalah madrasah. Dalam praktiknya, madrasah-madrasah di Jambi mengembangkan model pendidikan Islam tradisional, yang bercirikan kajian kitab kuning, figur tuan guru (kyai), murid, dan pondok. Karakteristik tersebut mirip dengan pesantren di Jawa, tetapi minus masjid. Dalam perkembangannya, terjadi kegamangan dalam merespon perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan nasional, khususnya yang diproyeksikan oleh Kementerian Agama.
PERANAN ORGANISASI BUKAN KERAJAAN (NGO) DALAM KONFLIK KEMANUSIAAN DI PALESTIN Noor Atika Shafinaz Binti Nazri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.841 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.213

Abstract

Humanitarian aid has become one of the human rights agenda in international world. In this case, there are various international organizations including non-governmental organizations (NGOs) involved. For Malaysia, the NGO is well regarded as one of the NGOs most active in providing humanitarian aid to Palestine. The organization has been using the platform of non-governmental organizations in providing humanitarian assistance to the Palestinian people. This study focuses Viva Palestina Malaysia, which is one of Malaysia NGOs active in Palestine. It will review the activities of the police and Viva Palestina Malaysia contribution towards the Palestinians. The study will indicate the role of non-governmental organizations in the fight for the truth, raise awareness of issues, provide assistance and conduct humanitarian activities in Palestine Bantuan kemanusiaan telah menjadi salah satu agenda hak asasi manusia dalam dunia antarabangsa. Terdapat pelbagai organisasi antarabangsa termasuk Organisasi Bukan Kerajaan (NGO) yang terlibat dalam hal ini. Bagi Malaysia, NGO itu dengan baik dianggap sebagai antara kumpulan organisasi bukan kerajaan yang paling aktif dalam menyediakan bantuan kemanusiaan ke Palestin. Organisasi ini telah menggunakan platform bukan kerajaan dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestin. Kajian ini memfokuskan Viva Palestina Malaysia yang merupakan salah satu NGO dari Malaysia bergiat aktif di Palestin. Ia akan mengkaji aktiviti, polisi dan sumbangan Viva Palestina Malaysia terhadap Palestin. Kajian akan menunjukkan peranan organisasi bukan kerajaan dalam memperjuangkan kebenaran, meningkatkan isu kesedaran, menyediakan bantuan dan menjalankan aktiviti kemanusiaan di Palestin
STRATEGI SEGMENTASI PASARAN PRODUK DALAM PERANCANGAN DAKWAH Maryam Binti Abd. Majid
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.934 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.191

Abstract

Da’wah is a mandatory requirement to be implemented by all Muslims. Da’wah planning and execution require a rigorous strategy to ensure the success of the Da’wah undertaken. This paper highlights one of the marketing strategies of the relevant product seen to be applied in the planning of the Da’wah of market segmentation. This study is an analysis of the text through documentation method. Market segmentation strategy involved in the design of propaganda using the basic outlines for each segment of the target, determine the profile, characteristics attraction towards the target, determines the number of segments, determine the location and form of the marketing mix for a given target segment propaganda Dakwah merupakan suatu tuntutan wajib untuk dilaksanakan oleh semua umat Islam. Pelaksanaan dakwah memerlukan perancangan serta strategi yang rapi bagi memastikan kejayaan proses dakwah yang dilaksanakan. Kajian ini mengutarakan salah satu strategi pemasaran produk yang dilihat relevan untuk diaplikasi dalam perancangan dakwah yaitu segmentasi pasaran. Kajian ini adalah analisis teks menerusi metode dokumentasi. Strategi segmentasi pasaran diaplikasi dalam perancangan dakwah menerusi kaedah menggariskan asas bagi setiap segmen sasaran, menentukan profil, ciri-ciri tarikan terhadap sasaran, menentukan jumlah segmen, menentukan lokasi serta membentuk campuran pemasaran bagi segmen sasaran dakwah yang ditentukan.
KEBIJAKAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM: REFLEKSI ATAS KEPEMIMPINAN RKY RAHMAH EL YUNISIYAH Syafwan Rozi; Devi Wahyuni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.593 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.273

Abstract

Normative female leadership has very strong legitimacy, both theologically, philosophically, and legally. One of them is Presidential Instruction No. 9 of 2000 on gender mainstreaming in National Development which requires all National Development Program policies and programs to be designed with a gender perspective. Education that has a basic concept as a process of transfer of value and transfer of knowledge can not be separated from the role and participation of women with the condescendent characteristics, educators, compassionate which is the key to the world of education. However, when it comes to the issue of women's public role it is still a hot and central issue both locally and nationally. The issue is still very seriously debated by society scientifically. Is it proper and capable if women appear to lead the public in social sectors including education. If we do reflections from the past of women's leadership journey, the answer will be found. As the work of Rky Rahmah el Yunusiyyah very subtle in 1923 when establishing a special religious school for women Diniyyah Puteri. The girls' Special School is the main female pillar in Minangkabau to establish its influence in the ranks of religious leadership in the effort to combine religious education and modern education. How a Rahmah strugles with traditions/ customs and religions to assure her debut and her work in leading an institution. In the contemporary context that needs to be prepared by women is the empowerment of independent and intelligent attitudes, so that the potential possessed can develop optimally. Kepemimpinan perempuan secara normatif memiliki legitimasi yang sangat kuat, baik secara teologis, filosofis maupun hukum. Salah satunya adalah Instruksi Presiden (Inpres) nomor 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam Pembangunan Nasional yang mengharuskan seluruh kebijakan dan Program Pembangunan Nasional dirancang dengan perspektif gender. Pendidikan yang mempunyai konsep dasar sebagai proses alih nilai (transfer of value) dan alih pengetahuan (transfer of knowledge) tidak bisa dilepaskan dari peran dan keikutsertaan kaum hawa dengan sifat pengayom, pendidik, pengasih yang merupakan kunci utama dunia pendidikan. Hanya saja, ketika menyinggung persoalan peran publik perempuan masih merupakan isu hangat dan sentral baik secara lokal maupun secara nasional. Persoalan tersebut masih sangat serius diperdebatkan oleh masyarakat. Apakah pantas dan mampu perempuan tampil memimpin publik di sektor sosial kemasyarakatan termasuk pendidikan. Kalau kita lakukan refleksi dari perjalanan kepemimpinan perempuan masa lalu akan ditemukan jawabannya. Seperti kiprah Rky Rahmah el Yunusiyyah sangat kentara pada tahun 1923 pada saat mendirikan Sekolah agama khusus untuk perempuan Diniyyah Puteri. Sekolah Khusus putri ini adalah pilar utama perempuan di Minangkabau untuk menegakkan pengaruhnya dalam jajaran kepemimpinan agama dalam upaya menggabungkan pendidikan agama dan pendidikan modern. Bagaimana seorang Rahmah bergulat dengan tradisi/adat dan agama untuk meyakinkan debut dan kiprahnya dalam memimpin sebuah lembaga. Dalam konteks kekinian yang perlu dipersiapkan kaum perempuan adalah pemberdayaan sikap mandiri dan cerdas, sehingga potensi yang dimiliki bisa berkembang seoptimal mungkin.
THE EDUCATIONAL BACKGROUND OF IMAMS AND ITS CONTRIBUTION TO THEIR RECOGNITION AS RELIGIOUS LEADERS: THE CASE OF INDONESIAN MUSLIM COMMUNITY IN THE NETHERLANDS Asep Muhammad Iqbal
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.31 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.209

Abstract

The Netherlands is one of European countries whose population with Islamic background has been increasing significantly. Statistical data show that there are around one million Muslims in this country or around six per cent of total population of the Netherlands. Some Muslim communities in this country came from Southeast Asia including Indonesia. The number of Muslim population from Indonesia was estimated to be around 200,000 out of 400,000 Dutch population with Indonesian background. This certainly necessitates the involvement and role of religious leaders who are able to serve the need and interests of Muslim community with Indonesian backrgound in this country. One of the important issues needs attention is the educational background of these religious leaders. Therefore, this paper describes the following: what is the educational background of the imams and how this contributes to their recognition as religious leaders by Muslim community with Indonesian background in the Netherlands. It argues that the different patterns of educational background of imams among Indonesian Muslims in the Netherlands have significantly contributed to their recognition as respected religious leaders by their community. Dalam perkembangan kontemporer, Belanda merupakan salah satu negara Eropa di mana jumlah penduduknya yang berlatar belakang Islam mengalami peningkatan yang tinggi. Data statistik menunjukkan bahwa penduduk dengan latar belakang Islam berjumlah sekitar satu juta orang atau sekitar enam persen dari total populasi Belanda yang berjumlah sekitar tujuh belas juta orang. Penduduk Muslim ini sebagian berasal dari Asia Teggara termasuk Indonesia. Penduduk Muslim asal Indonesia diperkirakan berjumlah sekitar 200.000 orang dari sekitar 400.000 orang yang berlatar belakang Indonesia. Kenyataan ini menuntut keterlibatan dan peran pemimpin agama dalam melayani kebutuhan dan kepentingan umat Muslim asal Indonesia di negeri kincir angin ini. Salah satu hal yang menarik untuk dikaji dari para pemimpin agama ini adalah latar belakang pendidikan dan keilmuan mereka sehubungan dengan tugas-tugas keagamaan mereka. Karena itu, tulisan ini berupaya untuk mendeskripsikan pola latar-belakang pendidikan pemimpin keagamaan masyarakat Muslim asal Indonesia yang mana kemudian bisa dilihat kredibilitas dan kompetensi mereka dalam melayani umat. Artikel ini berargumen bahwa latar belakang pendidikan para imam asal Indonesia secara signifikan mempengaruhi pengakuan mereka sebagai pemimpin agama yang dihormati oleh komunitas Muslim asal Indonesia di Belanda.
COMPARISON STUDY ON TEACHER MOTIVATION AT TAMAN PEMBACAAN ALQURAN (TPQ) Reza Fahmi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.635 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.210

Abstract

The research was based on the fact that the TPQ teachers should receive incentives differently depend on their motivation. When the teachers receive high incentives, they also should have high motivation to work compared to those who receive lower incentives. TPQ teachers can raise the motivation in teaching and encouraging the action towards a certain goal after getting encouragement in the form of incentive or certification. The purpose of this study is to describe the work motivation on TPQ teacher, TPQ teacher’s certification, then to test whether any discrepancy of motivation between those who receive incentives with B and C certificate in the Village Kuranji, Kuranji District of Padang. This study uses a quantitative method with data analysis techniques by using two-independent-samples test which was processed with SPSS version 24.0 for Windows. Variables use in this research is the work motivation. The population in this study is TPQ teachers who are located in the Village Kuranji, Kuranji District of the city of Padang who is 93 people and sample around 38 people. The sampling study uses simple random sampling. The data obtained by using psychological scale, which is based on the Likert scale model; this study uses a scale as a measurement that is work motivation, and has a reliability of 0.740. Based on the results of data analysis, it shows that the Independent Sample T-Test with tcount> t table (0.688> 0.05) then the hypothesis Ho accepted, which is meant there is no discrepancy in work motivation among teachers who receive B certification with those who receive C certification in Kuranji District Padang. Penelitian ini didasarkan fakta bahwa seharusnya guru TPQ yang menerima insentif dengan jumlah yang berbeda memiliki motivasi kerja yang berbeda. Ketika guru yang menerima insentif dengan jumlah yang lebih banyak seharusnya memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi dibandingkan guru yang menerima insentif yang lebih rendah. Dimana guru TPQ dapat meningkatkan motivasi kerja dalam mengajar dan mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu setelah mendapat dorongan berupa insentif atau sertifikasi guru TPQ yang diterima. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang motivasi kerja pada guru TPQ, sertifikasi guru TPQ, kemudian untuk menguji apakah ada atau tidaknya perbedaan motivasi kerja guru TPQ antara yang menerima insentif dengan sertifikasi B dan C di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data yaitu analisis uji dua sampel independen (Two-Independent-Samples Test) yang diolah dengan program SPSS versi 24.0 for windows. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah motivasi kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah guru TPQ yang berada di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang yang berjumlah 93 orang dan sampel penelitian berjumlah 38 orang. Penarikan sampel penelitian dengan menggunakansimple random sampling. Data diperoleh dengan menggunakan skala psikologi, yang berpedoman pada skala model Likert, penelitian ini menggunakan satu buah skala sebagai alat ukur yaitu skala motivasi kerja, dan memiliki reliabilitas 0,740. Bedasarkan hasil analisis data penelitian menunjukan Independent Sample T-Test denganthitung> ttabel (0,688>0,05) maka hipotesis Ho diterima artinya tidak ada perbedaan motivasi kerja antara guru yang menerima sertifikasi B denga guru yang menerima sertfikasi C di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN ISLAM ‘ABED AL-JABIRI DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMIKIRAN KEISLAMAN Nurfitriani Hayati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.067 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.211

Abstract

Religious issue that appearing in Arab society and how they give attention to their tradition or Turâts has made them overly glorifies the glories of the part and become retarded in the face of modernity. So the Issue has motivated Al-Jabiri to offer his idea. He pins down critically from what we call or reputed by “reference” and “how to refer to”. Abed al-Jabiri is one of Muslim philosopher and becomes one of the leading Islamic Arab thinker about tradition relevance in the modern era. He describes that today what we need is combination between “critical of the past era” in order to avoid from history manipulation and “critical today” in order to disappear the identity confirmation and the apology within confront every west concept or idea. Therefore, to find out more his epistemology concept about Islam thought also his thought implication for Islam, this paper examines al-Jabiri’s thought by critical analysis with library research method. The result of this paper makes the point that in reviewing and critiquing a tradition, Al-Jabiri uses of "historicity" (tarikhiyyah), "objectivity" (madlu'iyyah), and "continuity" (istimrariyah) to approach the tradition or Turâts. The approach of "Historicity" and "objectivity" itself are both in the sense of separation between the reader and the reading object (fasl al-qari’ ‘an al-maqru), while the "continuity" means connecting the reader to the reading object (washl al-qari ‘an al-maqru). Persoalan keagamaan yang muncul di tengah masyarakat Arab dan bagaimana mereka menyikapi tradisi atau yang disebut sebagai Turâts menunjukkan sikap yang terlalu mengagungkan kejayaan masa lalu dalam menghadapi modernitas. Hal tersebut yang kemudian mendorong al-Jabiri untuk memasarkan gagasan-gagasan yang dimilikinya. Ia menawarkan suatu ajakan untuk dapat memikirkan secara kritis apa yang dianggap sebagai “rujukan” dan “cara merujuk”-nya. ‘Abed al-Jabiri adalah seorang filsuf Muslim dan menjadi salah satu pemikir Arab Islam yang terkemuka terkait dengan pemikirannya akan sebuah relevansi tradisi di zaman yang penuh dengan kemajuan (modernitas). Ia menjelaskan bahwa apa yang dibutuhkan saat ini adalah suatu kombinasi antara “kritik atas masa lalu” agar terhindar dari manipulasi sejarah untuk kepentingan sekarang, dan adanya “kritik masa kini” agar tidak muncul upaya penegasan identitas dan apologi dalam berhadapan dengan konsep-konsep Barat yang dianggap asing. Tulisan ini mengkaji pemikiran al-Jabiri dengan analisis kritis dan menggunakan metode kajian pustaka dalam membahas perjalanan intelektual ‘Abed al-Jabiri, serta konsep epistemologi pemikiran dan implikasinya bagi pemikiran keislaman. Adapun hasil dari analisa tulisan ini menunjukkan bahwa untuk meninjau ulang dan mengkritisi sebuah tradisi, Al-Jabiri menggunakan pendekatan “historisitas” (tarikhiyyah), “objektivitas” (madlu’iyyah), dan “kontinuitas” (istimrariyah) dalam menyikapi tradisi atau Turâts. Pendekatan “historisitas” dan “objektivitas” itu sendiri sama-sama dalam arti pemisahan antara sang pembaca dan objek bacaanya (fasl al-qari’ ‘an al-maqru), sedangkan “kontinuitas” berarti menghubungkan sang pembaca dengan objek bacaannya (washl al-qari ‘an al-maqru)

Page 1 of 1 | Total Record : 7