cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285272790459
Journal Mail Official
fuaduna.uinbukittinggi@gmail.com
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Fuaduna: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan
ISSN : 26148137     EISSN : 26148129     DOI : http://dx.doi.org/10.30983/fuaduna
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan is a peer-reviewed journal which is published by Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi in collaboration with Himpunan Peminat Ilmu-Ilmu Ushuluddin (HIPIUS) and publishes biannually in June and December. It focuses mainly on the related issues to Quran and Hadits, Islamic philosophy and thoughts, culture and social studies, Islamic history studies, and dakwah and communications studies. JURNAL FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakat published at first Vol. 1, No. 1, 2017 biannually in in June and December. Reviewers will review any submitted paper. Review process employs a double-blind review, which means that both the reviewer and author identities are concealed from the reviewers, and vice versa.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021" : 8 Documents clear
The Role of Da'i Kamtibmas in Community Police Partnership Forum through Religious Moderation Sarji Sarji; Budi Permana Yusuf; Ardianto Bayu Wibowo
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.011 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4776

Abstract

The relationship and collaboration between preachers (da'i) and the police is an interesting topic of discussion, especially since there are many cases of terrorism in the name of religion. This article aims to reveal the important role of Da'i Kamtibmas (public security and order) who are members of the FKPM (police and community partnership forum) in strengthening religious moderation in society. This study uses an ethnographic method, several characteristics, namely: exploring or researching social phenomena, unstructured data; few cases or samples; and carried out data analysis and interpretation of data about the meaning of human action. The results showed that the involvement of Da'i Kamtibmas in FKPM was to combat radicalism, extremism, intolerance and terrorism in order to synergize and collaborate with the government and the police in creating security and public order. Therefore, Da'i Kamtibmas need to be equipped with certain standard human resources capabilities such as communication and management skills. So that the preacher can give lectures and advice in accordance with the context of the problem, and can be a mediator between the community and the police.Relasi dan kolaborasi antara pendakwah (da’i) dengan kepolisian menjadi tema pembahasan menarik, terlebih karena munculnya banyak kasus terorisme atas nama agama. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap peran penting Da’i Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) yang tergabung dalam FKPM (forum kemitraan polisi dan masyarakat) dalam memperkuat moderasi beragama di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan beberapa karakteristik, yaitu: menggali atau meneliti fenomena sosial, data tidak terstruktur; kasus atau sampel sedikit; dan dilakukan analisis data dan interpretasi data tentang arti dari tindakan manusia (human action). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan Da’i Kamtibmas dalam FKPM adalah untuk memerangi radikalisme, ekstremisme, intoleransi dan terorisme dalam rangka bersinergi dan berkolaborasi pemerintah dan kepolisian dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Karenanya, Da’i Kamtibmas perlu dibekali dengan kemampuan standar SDM tertentu seperti kemampuan komunikasi dan manajemen. Sehingga da’i tersebut dapat memberikan ceramah dan nasihat sesuai dengan konteks permasalahan, serta dapat menjadi mediator antara masyarakat dengan kepolisian.
Hadarat in Tual City Maluku: The Role of Arab Al-Katiri in Integration of Islam and Local Culture Usman Nomay; Jamain Warwefubun
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.666 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4969

Abstract

This paper examines the hadarat tradition as part of integrating Islam with local culture by the Al-Katiri Arab group in Tual City. Attendance is a unique ritual that the people of Tual City carry out in celebrating religious holidays such as Eid al-Fitr, Eid al-Adha, weddings, circumcisions, and other religious activities. The community conducts friendship around the village while dancing accompanied by chanting shalawat to the Prophet Muhammad with music (tambourine) in the hadarat. This article uses a qualitative descriptive method, with observations, interviews, and documentation as the data collection techniques. This article shows that the Al-Katiri Arab community played a role in the spread of Islam in Tual City through trade routes and social and cultural approaches. The descendants of the marriage between the Arab al-Katiri group and the Kei Community of Tual City have been considered one part of the Kei community of Tual City. The information was obtained using historical research methods. Appreciating the culture of the Kei people of Tual City as a form of preaching the spread of Islam is the key to the success of the Al-Katiri Arab group living in harmony amid society with local cultural traditions.Tulisan ini mengkaji tentang tradisi hadarat sebagai bagian dari strategi mengintegrasikan Islam dengan kebudayaan lokal oleh kelompok Arab Al-Katiri di Kota Tual. Hadarat menjadi sebuah ritual unik yang dilakukan oleh masyarakat Kota Tual dalam merayakan hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, perkawinan, khitanan, dan kegiatan keagamaan lainnya. Masyarakat melakukan silaturahim mengelilingi kampung sambil menari diiringi lantunan shawat kepada Nabi Muhammad dengan musik (rebana) dalam hadarat. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai Teknik pengumpulan datanya. Hasil peneltian artikel ini menunjukkan bahwa komunitas Arab Al-Katiri berperan dalam penyebaran agama Islam di Kota Tual, melalui jalur perdagangan dan pendekatan sosial dan budaya. Keturunan dari hasil pernikahan antara kelompok Arab al-Katiri dengan Masyarakat Kei Kota Tual sudah dianggap sebagai satu bagian dengan masyarakat Kei Kota Tual. Informasi tersebut didapatkan dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Menghargai kebudayaan masyarakat Kei Kota Tual sebagai suatu bentuk dakwah penyebaran agama Islam merupakan kunci kesuksesan kelompok Arab Al-Katiri hidup rukun di tengah-tengah masyarakat dengan tradisi budaya lokal. 
Nahdlatul Ulama, Education, and Da'wah: Tuan Mukhtar Muda Nasution's Contribution in South Tapanuli Muallim Lubis
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.683 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4585

Abstract

This article aims to analyze the contribution of Tuan Mukhtar Muda Nasution to the Nahdlatul Ulama (NU) organization, education, and da'wah, especially in the South Tapanuli region, North Sumatra. In the midst of Tuan Mukhtar’s achievement, researchers have not mentioned much about his contribution. He is also not well known within the NU organization and the wider community in North Sumatra. This study uses a social history approach with the main source coming from the autobiography of Tuan Mukhtar Muda Nasution and other books he has written such as Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama and supported by data from interviews with his friends and students. The results of this study indicate that Tuan Mukhtar was an educated man from the Mandailing tribe, who studied at the intellectual center of the early 20th-century Sunni tradition in the land of the Hijaz. In North Sumatra, Tuan Mukhtar is an icon of Islamic religious education, especially among pesantren (Islamic boarding schools). In Nahdlatul Ulama in North Sumatra, he was once the Mustasyar of PBNU and Syuriah of PWNU of North Sumatra. As for the field of da'wah, he is highly appreciated because he is widely known as a cleric who contributed to Islam in South Tapanuli. This study presents a broader elaboration of Tuan Mukhtar based on new and reliable sources.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi Tuan Mukhtar Muda Nasution terhadap organisasi Nahdlatul Ulama (NU), pendidikan, dan dakwah, khususnya di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Di tengah pencapaian Tuan Mukhtar, para peneliti belum banyak meneliti tentang kontribusinya. Ia juga kurang dikenal baik dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas di Sumatera Utara. Studi ini menggunakan pendekatan sejarah sosial dengan sumber utama berasal dari autobiografi karya Tuan Mukhtar Muda Nasution dan buku-buku lain yang ditulisnya seperti Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama, serta didukung oleh data wawancara dengan para sahabat dan murid-muridnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tuan Mukhtar adalah seorang terpelajar dari suku Mandailing, yang belajar di pusat intelektual dari tradisi Sunni awal abad ke-20 di tanah Hijaz. Di Sumatra Utara, Tuan Mukhtar merupakan ikon tokoh pendidikan agama Islam, terkhusus di kalangan pesantren. Dalam Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara, ia pernah menjabat sebagai Mustasyar PBNU dan Syuriah PWNU Sumatera Utara. Adapun dalam dunia dakwah, ia sangat dihargai sebab dikenal luas sebagai ulama yang berkontribusi terhadap Islam di Tapanuli Selatan. Studi ini menyajikan elaborasi yang lebih luas dari Tuan Mukhtar berdasarkan sumber baru dan tepercaya.
The Library Development Based on Social Inclusion: SWOT Analysis and Socio-Religious Role Moch Lukluil Maknun; Umi Muzayanah; Muhamad Khusnul Muna; Andjar Prasetyo; Milta Eliza
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.835 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4915

Abstract

Rural libraries have an essential role in providing information services for rural communities. The heterogeneity of rural communities from social, economic, and religious aspects is the basis for the importance of social inclusion-based library services. This study uses qualitative methods to describe the implementation of an inclusion-based village Perpustakaan Muda Bhakti (Permubha) Ngablak Village, Srumbung District, Magelang Regency and its role in the social, economic, and religious life of the village community. Through a SWOT analysis, this study resulted in several research findings. First, three things become Permubha's strengths in providing services: information disclosure and access policies, communication in services, and circulation of library facilities. Second, Permubha's weakness is the unavailability of a computer-based library catalog. Third, the opportunities/opportunities that exist in Permubha are descriptive and normative officer ethics, responsibility in providing services, the role of citizen donations, and infrastructure. Fourth, Permubha has several challenges ahead in terms of service evaluation, increasing the competence and qualifications of officers, and increasing responsibilities. Fifth, in addition to library services, Permubha plays a role in social, economic, and religious activities through programs that can be participated in by the Ngablak Village community, such as the salak library program, Suluh Libraries, satellite reading, and commemoration of Islamic holidays. Perpustakaan desa memiliki peran penting dalam memberikan layanan informasi bagi masyarakat desa. Heterogenitas masyarakat desa dari aspek sosial, ekonomi, dan agama menjadi dasar pentingnya layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyelenggaraan perpustakaan desa berbasis inklusi pada Perpustakaan Muda Bhakti, (Permubha) Desa Ngablak Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang serta perannya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan masyarakat desa. Melalui analisis SWOT, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penelitian. Pertama, ada tiga hal yang menjadi kekuatan Permubha dalam memberikan layanan, yaitu keterbukaan informasi dan kebijakan akses, komunikasi dalam layanan, dan sirkulasi sarana perpustakaan. Kedua, kelemahan yang dimiliki Permubha adalah belum tersedianya katalog pustaka berbasis komputer. Ketiga, peluang/kesempatan yang ada di Permubha adalah adanya etika petugas secara deskriptif dan normatif, tanggungjawab dalam memberikan layanan, adanya peran donasi warga, dan sarana prasarana. Keempat, Permubha memiliki beberapa tantangan ke depan dalam hal evaluasi layanan, peningkatan kompetensi dan kualifikasi petugas, dan peningkatan tanggung jawab. Kelima, selain layanan pustaka, Permubha berperan dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan keagamaan melalui program-program dapat diikuti oleh masyarakat Desa Ngablak, seperti program salak pustaka, suluh pustaka, satelit baca, dan peringatan PHBI.
Ritual and Pandemic: The Suluk Tradition of the Tarekat Naqsyabandiyah Bukittinggi Amid the Covid-19 Adlan Sanur Tarihoran
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.678 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4988

Abstract

This article analyzes the suluk tradition carried out in Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi during the Covid-19 Pandemic with health protocol regulations. This study uses a qualitative method. Data were collected through observation, interviews and also documentation. The data analysis technique was descriptive analytic as described by Schaltzman and Strauss from the three data interpretation models. The results showed that the Tarekat Naqsyabandiyah in performing suluk at Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi was still running as usual. However, during the time of Covid-19 with strict health protocols. Surau provides a place to wash hands, measure temperature, and are required to wear masks. When carrying out the suluk ritual, each individual is ensured of safety by staying at a safe distance. In the context of mysticism, the reduction in mobility does not occur. It is because suluk is a negation of mobility itself. The ritual of suluk during the pandemic is following the presentation of the murshid that the existence of performing rituals has become a means of self-quarantine for the Tarekat Naqsyabandiyah. The goal is to avoid disease and increase faith and body immunity through remembrance worship.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang tradisi suluk yang dilakukan di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi pada masa Pandemi Covid-19 yang mensyaratkan adanya protokol kesehatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif analisi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dengan deskriptif analitik sebagaimana yang dikemukan oleh Schaltzman dan Strauss dari tiga model penafsiran data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah Tarekat Naqsabandiyah dalam melakukan suluk di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Kota Bukittinggi masih tetap berjalan seperti biasa pada masa Covid-19 dengan protocol kesehatan yang ketat. Surau menyediakan tempat mencuci tangan, pengukur suhu dan wajib memamakai masker. Dalam hal menjaga jarak karena di tempat suluk ada tempat masing-masing jadi tentu tetap terjaga. Mengurangi mobilitas tentu tidak terjadi karena mereka bersuluk itu tidak adanya mobilitas. Ritual bersuluk pada masa Pandemi sesuai dengan penyampaian mursyid bahwa dengan adanya kegiatan bersuluk menjadi sarana karantina mandiri bagi jamaah tarekat Naqsabandiyah untuk terhindar dari penyakit serta dengan adanya zikir yang kuat meningkatkan daya iman dan imun tubuh.
Islamic Hegemony in Forming Religious Attitudes: Study of Majority and Minority Islam in Southeast Asia Moh Bashori Alwi Almanduri
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.825 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.5011

Abstract

This article critically examines why the dualism of the Islamic model occurs in Southeast Asia. This article uses a historical approach with the literature method to identify how is the map of the distribution of majority and minority Islam in Southeast Asia, what causes the dualism of the Islamic model in Southeast Asia, and how the minority model occurs in the minority Islamic countries. The results show that Islamic syncretism in the archipelago is a logical consequence of the complicated process of struggling religious reflection. His entity also received many challenges from local Indigenous. The majority of Islam is largely determined by the success of harmonizing Islam with political, social and cultural conditions. On the other hand, poor harmonization with the rulers, military invasion, and colonialism cause Muslim minorities. Islamic minority models can be classified into three parts: First, Separatists, such as the Moro Philippines Muslim Separatist movement. Second, accommodating Pattani Muslims in Thailand and Singapore. Third, Genocide happened to Rohingya Muslims in Burma and Khmer Muslims in Cambodia. Furthermore, research on each minority model can be carried out further to enrich the treasures of Islamic studies in Southeast Asia.Artikel ini menelaah secara kritis mengapa terjadi dualisme model Islam di Asia Tenggara. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dengan metode kepustakaan akan mengidentifikasi: Bagaimana peta persebaran Islam mayoritas dan minoritas di Asia Tenggara, apa yang menyebabkan dualisme model Islam di Asia Tenggara, dan bagaimana model keminoritasan yang terjadi pada negara-negara Islam minoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sinkretisme Islam di Nusantara merupakan konsekuensi logis dari proses pergulatan refleksi keagamaan yang rumit. Entitasnya pun banyak mendapatkan tantangan dari Indigeneous lokal. Islam mayoritas sangat ditentukan oleh keberhasilan harmonisasi Islam dengan kondisi politik, sosial, dan budaya. Sebaliknya harmonisasi yang kurang baik dengan penguasa, invasi militer, dan kolonialisme menjadi faktor penyebab minoritas Islam. Model-model minoritas Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian: Pertama, Separatis, seperti gerakan Separatis Muslim Moro Philipina. Kedua, Akomodatif, muslim Pattani di Thailand dan Singapura. Ketiga, Genosida, terjadi kepada muslim Rohingya di Burma dan Muslim Khmer di Kamboja. Selanjutnya penelitian terhadap masing-masing model minoritas bisa dilakukan untuk semakin memperkaya khazanah studi Islam di Asia Tenggara.
Between Transcendence and Immanence: The Construction of Fazlur Rahman's Thoughts about God Amril Amril; Endrika Widdia Putri
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.377 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4968

Abstract

This article analyzes the construction of Fazlur Rahman's thoughts about God. This qualitative research uses Friedrich Schleimacher's hermeneutic method (1764-1834). This study finds that in the construction of Fazlur Rahman's thought, God is One and the First. God is not a dimension, but He is the creator of the dimensions. The existence of God can be found with Himself because He is the evidence for all things. For this reason, everything created by God has a (teleological) purpose, namely as proof of His functional existence. God is transcendent and immanent. Transcendent God implies that God is completely different from all His material creatures. At the same time, the immanent God is "along" with His creation. God has a direct relationship with his creation, it does not mean that God is in everything that exists in nature, even though His presence is all-encompassing.Artikel ini menganalisis tentang kontruksi pemikiran Fazlur Rahman tentang Tuhan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode hermeneutika Friedrich Schleimacher (1764-1834). Studi ini menemukan bahwa dalam kontruksi pemikiran Fazlur Rahman Tuhan adalah Esa dan Yang Pertama. Tuhan bukanlah dimensi, tapi Ia pencipta dimensi-dimensi yang wujud. Wujud Tuhan dapat ditemukan dengan diri-Nya sendiri, karena diri-Nya merupakan bukti bagi segala sesuatu. Untuk itu, dalam pemikiran Fazlur Rahman segala yang diciptakan Tuhan mempunyai tujuan (teleologis) yaitu sebagai bukti wujud-Nya yang bersifat fungsional. Kemudian, bagi Fazlur Rahman Tuhan bersifat transenden dan imanen. Transenden Tuhan mengandung makna bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan segala makhluk-Nya yang bersifat materi. Sedang imanen Tuhan adalah “bersama-sama” dengan ciptaan-Nya. Tuhan mempunyai hubungan langsung dengan ciptaannya, bukan berarti Tuhan ada di dalam setiap sesuatu yang ada di alam, sungguhpun kehadiran-Nya serba meliputi.
The Role of Pesantren in Fighting Religious Radicalism in West Sumatra Muhammad Ridha; Zainal Zainal; Nofri Andy.N
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.531 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.5142

Abstract

This article aims to examine the role of pesantren (Indonesian Islamic boarding schools) in West Sumatra in countering religious radicalism. The two pesantren used as case studies are the Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Banuhampu and the Perguruan Islam Darul Muwahhidin Panyalaian West Sumatra. This issue is critical to reveal because radicalism targets adults and Islamic boarding school students who are in the process of deepening and understanding religious knowledge. The existence of pesantren in educating students and instilling friendly Islamic values has become a little disturbed by the issue of radicalism which has spread to pesantren. The method used in this study is a qualitative method with a historical approach. The reality that occurs in the pesantren is revealed along with the history and background of the establishment of the pesantren. The results of this study indicate that the learning system in pesantren can counteract radicalism through several things, including strengthening the capacity of students, reviewing the curriculum, enlightening teachers and employees regarding radicalism, and having a friendly and tolerant environment for students.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pesantren di Sumatra Barat dalam menangkal paham radikalisme agama. Dua pesantren yang dijadikan studi kasus adalah Pondok Pesantren Sumatra Thawalib Parabek Banuhampu dan Perguruan Islam Darul Muwahhidin Panyalaian Sumatra Barat. Isu ini penting diungkap karena radikalisme ternyata tidak hanya menyasar orang dewasa namun juga santri pesantren yang sedang berproses dalam mendalami dan memahami ilmu agama. Keberadaan pesantren dalam mendidik santri dan menanamkan nilai-nilai Islam yang ramah menjadi sedikit terganggu dengan adanya isu radikalisme telah menjalar ke pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan historis, realitas yang terjadi di pesantren diungkap bersamaan dengan histori dan latar belakang berdirinya pesantren. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pembelajaran di pesantren dapat menangkal radikalisme melalui beberapa hal, di antaranya: penguatan kapasitas santri, peninjauan kurikulum, pencerahan bagi guru dan pegawai terkait radikalisme dan adanya lingkungan yang ramah dan toleran bagi santri.

Page 1 of 1 | Total Record : 8