cover
Contact Name
Nailis Syifa
Contact Email
nailissyifa@umm.ac.id
Phone
+6285810289644
Journal Mail Official
farmasains@umm.ac.id
Editorial Address
Jl. Bendungan Sutami No.188, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 20863373     EISSN : 2620987X     DOI : 10.22219
Core Subject : Health, Science,
Farmasains publishes articles that cover textual and fieldwork studies with various perspectives of pharmacy science including: Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Chemistry Biology Pharmacy and Natural Products Pharmacology and Toxicology Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacoepidemiology Pharmacogenomic and Pharmacogenetic Pharmacoeconomic Health-related topics
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010" : 13 Documents clear
STUDI BEBERAPA DOSIS INFUS DAUN SALAM (Syzygium polyanthum Wight Walp) SEBAGAI ANTIDIARE PADA MENCIT (Mus musculus) Sundari .; Masruhen .
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.428

Abstract

Daun Syzygium pholyanthum Wight Walp masyarakat seringkali menyebutnya dengan sebutan daun salam biasanya digunakan masyarakat sebagai bumbu masak. salam merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak khasiat dalam mengobati berbagai penyakit,salah satunya sebagai obat diare.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiare infus daun salam dengan pengamatan jumlah feses, konsistensi feses, serta lama diare. Daun salam diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan. Hewan coba dibagi secara acak menjadi 8 kelompok terdiri dari kelompk yang tidak didiarekan, kelompok kontrol positif, kontrol negatif serta kelompok diberikan infus daun salam secara oral dengan berbeda dosis yaitu 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35% b/v. Waktu pengamatan dilakukan setiap 1 jam selama 4 jam, evaluasi hasil dilakukan dengan menghitung jumlah feses, skor kosistensi feses serta lama diare mencit. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis varian ( ANAVA), dilanjutkan dengan uji Student Newman Keuls (SNK). Hasil analisis penelitian diperoleh data bahwa infuse daun salam dengan dosis 25% b/v, memberikan efek daya antidiare terbesar yaitu dengan rata rata jumlah feses 56%, konsistensi feses sebesar 51,77%, serta lama diare 36,66 menit. Infus daun salam dosis 15% rata rata jumlah 46,66%, konsistensi feses 43,26%, serta lama diare 46,66 menit. Salam. Dosis 20% rata rata jumlah feses 42,66%, konsistensi feses 36,18,serta lama diare51,67%. Dosis 30% rata rata jumlah feses 32%,konsistensi feses 33,33%,serta lama diare 53,33%.Dosis 35% rata rata jumlah feses 45,33%, konsistensi feses 41,14%, serta lama diare 51,67%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan daun salam dapat mengurangi jumlah feses, lama diare serta meningkatkan konsisitensitensi feses terhadap mencit. Semakin tinggi dosis infus daun salam yang digunakan untuk antidiare belum tentu daya antidiare infus daun salam semakin meningkat hal itu terbukti bahwa dosis 25% memiliki daya antidiare tertinggi dibanding dosis 15%, 20%, 30%, dan 35%. Dosis 25% memiliki efek yang sama seperti efek yang dihasilkan oleh loperamid dosis 0,052 mg. Berdasarkan hasil penelitian disarankan. Masyarakat menggunakan daun salam sebagai obat antidiare dosis 25%. Isolasi tannin yang terdapat dalam daun salam sehingga zat-zat lainya tidak ikut tersari sehingga memaksimalkan pengobatan diare. Dilakukan penelitian mengenai ED50. Senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antidiare ini adalah tannin. Kata kunci: daun Syzygium pholyanthum, diare, infus
STUDI ETNOBOTANI DAN ETNOFARMAKOLOGI UMBI BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Siti Rofida
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.429

Abstract

Pengetahuan penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional hanyalah berdasarkan empiris. Perubahan pola pengobatan modern ke pengobatan tradisional, menyebabkan kebutuhan terhadap obat yang berasal dari bahan alam menjadi meningkat. Bahan alam yang digunakan sebagai obat sebaiknya berpegangan kepada pedoman bahwa bahan obat tersebut tidak menimbulkan keracunan baik akut maupun kronis dan terbukti bisa menyembuhkan penyakit atau berkhasiat sebagai obat serta dapat diperoleh secara kontinu. Secara empiris masyarakat kota Malang menggunakan umbi binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) untuk mengobati nyeri pada gigi yang disertai dengan pembengkakan yang keluar nanah, gastritis akut, nyeri kepala, panas dalam yang disertai sariawan, mengobati luka bekas operasi, mengurangi nyeri setelah operasi dan lain-lain. Ciri-ciri morfologi umbi binahong berbentuk silindris dengan tekstur permukaan yang tidak rata, panjangnya antara 4-7 cm dengan diameter 0,5-2 cm dan berdaging lunak. Secara anatomis tampak jaringan dasar (parenkim), berkas pengangkutan (xylem dan floem) dan benda ergastrik berupa amilum. Tumbuhan ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kata kunci: obat tradisional, umbi, Anredera cordifolia (Tenn) Steenis,.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA HATI MENCIT GALUR SWISS YANG DIINDUKSI DENGAN CCl4 Arina Swastika Maulita
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.430

Abstract

Liver is an the important organ, it plays an essential role in maintaining the biological equilibrium of vertebrates. Reactive oxygen species (ROS) play an important role in pathological changes in the liver. The research has been carried out to know the potential use of buah merah (Pandanus conoideus) extract as hepatoprotrctive agent against CCl4 poisoning in mice. In this study, the hepatoprotective activity was determined by the reduction of SGPT (serum glutamic pyruvate transaminase) and SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) level. Application of buah merah extract significantly (p< 0,05) reduced SGPT and SGOT level. Microscopically, several changes were found, such as severe hydrofic degeneration and necrosis at liver cell that treated by CCl4. Base on histological examination of application of buah merah extract, could inhibit damage and reduced the degeneration and necrosis of liver cell. Keywords: buah merah, SGPT, SGOT, hepatoprotective.

Page 2 of 2 | Total Record : 13