Bandung Conference Series: Economics Studies
Bandung Conference Series Economic Studies (BCSES) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Ilmu Ekonomi dan Bisnis dengan ruang lingkup Amanah, Antisipasi Bencana, Bank Umum Syariah, Belanja Daerah, Pengangguran, BMT, BOPO, BPRS, CAR, Data Envelopment Analysis. Demand, Efisiensi, Ekspektasi Inflasi, Era Digital UMKM, Etika bisnis islam, Faktor Penarik dan Migrasi Internasional, Faktor Pendorong, fathanah, FDR, Frontier Stokastik, Fungsi Produksi, Good Coorporate Governance (GCG), Hearing, Inflasi, IPM Maqashid syariah, istiqamah, Jumlah Uang Beredar, Kecukupan Modal, Konfeksi, Kualitas Aset, Lembaga Pengelola Zakat, Likuiditas. Mudharabah, NOM, NPF, Output Nasional, Nilai Tukar Jumlah, Penduduk Miskin, PAD, PDRB, Pegawai, Mudharabah, Pendayagunaan Zakat, Pengelola, Perspektif Masyarakat Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi, Profitabilitas, Program Edukasi, Rentabilitas, RGEC, ROA, shiddiq, tabligh, Upah Minimum, Upah Strategi Pengembangan Usaha, Usaha Mikro, Zakat. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"479 - 486"
:
1 Documents
clear
Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Bumdes Sebelum dan Pasca Revitalisasi (Studi Kasus Bumdesa Amanah Mandiri Desa Cipanas Periode 2020-2026)
Mertavia Ardhany Junaedi;
Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 479 - 486
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.25819
Abstract. This study is motivated by an anomaly at BUMDesa Amanah Mandiri Desa Cipanas, which held pioneer status despite the village achieving Independent Village status, caused by governance failures in legacy business units and a liquidity crisis. This study aims to analyze the level of financial management effectiveness and efficiency before and post-revitalization, compare performance, and identify influencing factors. A mixed-methods approach with a sequential explanatory design was employed. Primary data were gathered through in-depth interviews, while secondary data comprised financial reports and the 2020–2026 business plan. Financial analysis utilized ratio formulas based on Ministerial Decree Kepmendagri No. 690.900-327 of 1996 alongside qualitative interactive model analysis. The results show that the average effectiveness before revitalization (2020–2025) was 75.69% (less effective) with an efficiency rate of 5,695.32% (inefficient). Post-revitalization (2026), effectiveness stood at 68.49% (less effective) due to a steep increase in revenue targets from IDR 25,000,000 to IDR 300,000,000, despite actual nominal revenue surging to IDR 205,460,500. However, the efficiency ratio improved significantly to 74.08% (efficient). The key distinction lies in terminating unprofitable legacy units and shifting to oyster mushroom cultivation supported by food security capital. Influencing factors include budget planning mechanisms, business restructuring, regulatory support, and operational cost control. In conclusion, revitalization successfully restored financial efficiency and expanded BUMDesa's business scale. Implications suggest that BUMDesa managers and village officials must strengthen market analysis, budget discipline, and institutional oversight. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anomali BUMDesa Amanah Mandiri Desa Cipanas yang berstatus perintis di tengah status Desa Mandiri, akibat kegagalan tata kelola unit usaha lama dan krisis likuiditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan sebelum dan pasca-revitalisasi, membandingkan kinerjanya, serta mengidentifikasi faktor pemengaruh. Metode yang digunakan adalah mixed methods desain sequential explanatory. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, sedangkan data sekunder berupa laporan keuangan dan business plan 2020–2026. Analisis keuangan menggunakan rasio efektivitas dan efisiensi berbasis Kepmendagri No. 690.900-327/1996 serta analisis kualitatif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata efektivitas sebelum revitalisasi (2020–2025) sebesar 75,69% (kurang efektif) dan efisiensi 5.695,32% (tidak efisien). Pasca-revitalisasi (2026), efektivitas tercatat 68,49% (kurang efektif) akibat lonjakan target pendapatan dari Rp25.000.000 menjadi Rp300.000.000, meskipun realisasi nominal naik tajam menjadi Rp205.460.500. Namun, rasio efisiensi membaik secara signifikan menjadi 74,08% (efisien). Perbedaan utama terletak pada pembekuan unit usaha lama yang merugi dan pengalihan ke budidaya jamur tiram yang didukung modal ketahanan pangan. Faktor pemengaruh meliputi mekanisme perencanaan anggaran, restrukturisasi bisnis, dukungan regulasi, dan pengendalian biaya operasional. Kesimpulannya, revitalisasi berhasil memulihkan efisiensi keuangan dan mempebesar skala bisnis BUMDesa secara nyata. Implikasinya, pengelola BUMDesa dan pemerintah desa perlu memperkuat analisis pasar, disiplin anggaran, serta pengawasan kelembagaan.