cover
Contact Name
Alfiana Laili
Contact Email
alfiana.laili@undikma.ac.id
Phone
+6285330983989
Journal Mail Official
m.veterinary@undikma.ac.id
Editorial Address
Jl. Pemuda No.59A, Dasan Agung Baru, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MANDALIKA VETERINARY JOURNAL
ISSN : 27988732     EISSN : 27988732     DOI : https://doi.org10.33394/mvj.v2i2.6224
Mandalika Veterinery Journal (mvj) menerbitkan makalah berkualitas tinggi dan kebaruan yang berfokus pada Kedokteran Hewan dan Ilmu Peternakan. Bidang studi tersebut adalah anatomi, patologi, kedokteran dasar, kesehatan masyarakat veteriner, mikrobiologi, reproduksi veteriner, parasitologi, peternakan, dan kesejahteraan hewan. Makanan hewan, hewan pendamping, obat kuda, hewan air, hewan liar, jamu, akupunktur, epidemiologi, biomolekuler, forensik, hewan laboratorium dan model hewan dari infeksi manusia dipertimbangkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER" : 5 Documents clear
Case Report: Identification of Eimeria tenella Infection and Pathologic Changes in a Broiler Chicken in Kutuh Village Farm, Badung, Bali Putra, I Putu Cahyadi; Sari, Ni Komang Wahyu Centika; Kardena, I Made; Besung, I Nengah Kerta
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.15522

Abstract

Coccidiosis is a serious parasitic disease of chickens caused by the protozoan Eimeria, with Eimeria tenella being one of the most virulent species. The infection causes necrosis and hemorrhage of the large intestine, resulting in significant economic losses in the poultry industry. The purpose of this case report was to determine the cause of death of broiler chickens in one farm in Kutuh Village, South Kuta Subdistrict, Badung Regency. The case animal (protocol number 39/N/24) was a 20-day-old broiler from the farm with a population of 18,000 birds. The examination process included anamnesis, clinical signs, anatomical pathology, histopathology, bacteriology, parasitology (including coprology and McMaster techniques), and morphometric identification of Eimeria tenella using ImageJ software. The clinical signs observed included anorexia, weakness, dull feathers, and reddish feces with a porridge-like consistency. Pathological examination revealed alterations in the cecum and colon. Histopathological analysis indicated typhlitis hemorrhagis et necrotican and colitis necrotican. Bacteriological examination revealed Escherichia coli, a normal flora, in the caecum and colon. Morphological and morphometric analyses of the oocysts revealed that E. tenella is ovoid, with two wall layers, an average size of 21.670 × 19.942 μm, and an oocyst count of 188,600 per gram of feces (OPG). The cause of death of the case chickens was due to severe Eimeria tenella infection.
Uji Kualitas Daging Dengan Metode H2S Dan Uji Organoleptik Pada Sampel Daging Ayam Di Pasar Tradisional Di Kota Mataram Fadilah, Aulia Rizki; Kurniasih, Yeti; Riwu, Katty Hendriana Priscilia; Kholik, Kholik
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.16935

Abstract

Daging ayam broiler yang populer di Indonesia memiliki beberapa keunggulan, seperti kandungan gizi yang tinggi, ketersediaan yang luas di pasar tradisional, harga yang terjangkau, rasa yang disukai oleh semua kalangan masyarakat dan berbagai usia, serta kemudahan dalam pengolahan, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan konsumsi ayam yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas daging ayam yang beredar di Pasar Tradisional di Kota Mataram dengan menggunakan uji H2S dan uji organoleptik. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Random Sampling yakni teknik penentuan penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. pada penelitian ini dapat diketahui hasil yang sudah di uji yaitu secara umum hasil uji H2S dan hasil uji organoleptik daging ayam di Pasar Tradisional Kota Mataram berkualitas baik dapat dilihat dari sisi penampakan, aroma, tekstur, rasa, warna. Hanya terdapat 1 sampel yang positif secara uji H2S dan uji organoleptik.
Aktivitas Penyembuhan Luka Sayat Mencit (Mus musculus) dengan Pemberian Topikal Minyak Buah Merah (Pandanus conoideus Lam.) Ningtyas, Novarina Sulsia Ista'In; Reza, Reno Rangga
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.17057

Abstract

Salah satu luka yang sering terjadi adalah luka sayat yang merusak struktur anatomis kulit. Pengobatan secara tradisional dipilih masyarakat untuk mengobati luka sayat dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh disekitarnya. Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia sudah dikenal secara turun temurun sejak berabad abad lamanya untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu yang memiliki potensi adalah minyak buah merah yang didalamnya terdapat berbagai kandungan diantaranya alkaloid, flavonoid betakaroten, tokoferol dan asam lemak Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas penyembuhan luka sayat pada mencit dengan pemberian secara topical minyak buah merah yang diamati secara makroskopis. Rancangan yang digunakan yaitu adalah Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dengan 5 ulangan. K1 (Kontrol Negatif), K2 (Povidon Iodine), K3 (Minyak Buah Merah 0,1 ml/Hari), K4 (Minyak Buah Merah 0,2 ml/Hari) selanjutnya dilakukan pengamatan dengan mengamati secara makroskopis penyembuhan luka yakni fase inflamasi dan fase proliferasi. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu fase inflamasi pada K1 berlangsung sampai hari ke 5, sedangkan pada K2, K3 dan K4  berlangsung sampai hari ke 4 dengan ciri terdapat kemerahan dan pembengkakan pada sekitar luka sayatan. Fase Proliferasi K1 berlangsung sampai hari ke 5, K2 dan K3 berlangsung sampai hari ke 10 sedangkan K3 berlangsung sampai hari ke 9 dengan ciri terbentuknya granulasi disekitar luka sayat, tidak terdapat kemerahan dan pembengkakan.
Vulnus Laceratum Pada Balpython Umur 5 tahun Ayu Lestari Zulmi, Nurlathifa
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.17064

Abstract

Luka atau vulnus adalah hilangnya/rusaknya sebagian komponen jaringan tubuh. Vulnus laceratum adalah luka robek yang disertai dengan kehilangan jaringan yang minimum yang disebabkan oleh trauma benda tumpul. Kasus Vulnus Laceratum terjadi pada ular  Ballpython, ular ini berjenis kelamin jantan berumur lima tahun dengan bobot badan 1,1 kg, memiliki warna sisik hitam kecoklatan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, ular sudah memiliki luka robek pada bagian caudal abdomen , luka tersebut awalnya merupakan luka kecil dibagian caudal abdomen sehingga ular menggesekkan badannya kemudian luka tersebut infeksi dan membesar. Penanganan dilakukan dengan operasi untuk menjahit luka dan untuk operasi menjahit luka itu menghentikan infeksi yang akan menyebar lebih besar lagi. Ular ballphython diberikan anestesi lokal lidokain diarea luka disekitar luka dengan dosis 2 ml. Setelah ular ballpython teranastesi sempurna dengan tidak adanya respon ketika area anestesi disentuh, tidak ada gerakan spontan dan otot-otot diarea anestesi sudah relaks dan tidak tegang dilakukan operasi pada luka dengan cara membersihkan luka (cleansing) menggunakan Nacl 0,9% kemudian dilakukan pengangkatan jaringan mati atau rusak (debridement) untuk membuat luka tersebut bisa menyatu serta pemisahaan kulit dengan subkutan agar mudah ditarik untuk dijahit. Perawatan pascaoperasi dilakukan dengan pemberian antibiotik enrofloksasin, pemberian anti-inflamasi yaitu meloksikam secara injeksi, salep gentamicin, dan pemberian iodin pada luka jahitan. Pada hari kesepuluh luka jahitan sudah kering dan jahitan sudah bisa dilepas.
Antibiotic Resistance in Salmonella sp. Isolated from Layer Chicken in North Lombok, West Nusa Tenggara Agustin, Alfiana Laili Dwi
Mandalika Veterinary Journal Vol. 5 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v5i2.18082

Abstract

Resistance antibiotic Salmobnella sp. difficult to recover when treated. Antibiotic resistance can occur due to inappropriate use of antibiotics, such as incorrect dosage, incorrect indications, and incorrect use. This research was conducted based on reports from farmers that their chickens did not recover after being given antibiotics when they had diarrhea. The results of interviews with farmers show that they usually use antibiotics without advice from a veterinarian, they can buy antibiotics freely at poultry shops. The samples in this study were taken from egg-laying chicken farms in Santong village, North Lombok, West Nusa Tenggara. Samples were taken from farms with the most reported cases of persistent diarrhea, with 32 samples taken from two farms 16 samples each. Samples were taken using sterile cotton buds from chickens showing symptoms of chalky diarrhea, the results of the rectal swab from each chicken were inserted into the brain heart infusion (BHI) transport media and placed in an ice box to then be planted in the media in the laboratory. From BHI media, cotton buds were swabbed on XLD media, the colonies that grew were purified and then tested for gram and biochemistry. esult was determined by standard biochemical procedures using Bergeyʼs Manual. Identified salmonella bacteria were tested with the antibiotics trimethoprim, ampicillin, ciprofloxacin, penicillin G, and erythromycin. Isolation results from 32 samples tested, 22 samples showed Salmonella sp. isolates. The results of the antibiotic resistance test showed that 22 isolates were resistant to penicillin G, ciprofloxacin was no longer able to kill 21 isolates resistant, and 11 isolates were resistant to the antibiotics erythromycin and ampicillin. The evidence of antibiotic resistance in Salmonella sp. bacteria from layer chickens in North Lombok can have an impact on human health, one health and can be spread through livestock food.

Page 1 of 1 | Total Record : 5