cover
Contact Name
Ni'matul Huda
Contact Email
notarium.editor@uii.ac.id
Phone
+6287738216661
Journal Mail Official
notarium.editor@uii.ac.id
Editorial Address
Jurnal Officium Notarium Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Islam Indonesia. Jl. Cik Dik Tiro No. 1, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Officium Notarium
ISSN : 27765458     EISSN : 28082613     DOI : 10.20885/JON
Core Subject : Social,
Jurnal Officium Notarium adalah jurnal yang diterbitkan oleh program Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Jurnal Officium Notarium mulai tahun 2021 terbit tiga kali dalam satu tahun (April, Agustus dan Desember). Jurnal ini adalah media komunikasi dan pengembangan ilmu. Redaksi menerima naskah artikel laporan hasil penelitian dari mahasiswa, akademisi maupun praktisi, sepanjang relevan dengan misi redaksi.Diantaranya masalah yang terkait dengan undang-undang dan peraturan Notaris Indonesia dan negara lain, hukum kontrak, hukum pertanahan, hukum administrasi, kode etik profesi, dan hukum Islam yang terkait dengan topik ini, dll. We are interested in topics which cover issues in Notarial related law and regulations Indonesia and other countries. Articles submitted might included topical issues in contract law, security law, land law, Administrative Law, Etical codes of Profession, acts and legal documents, and Islamic law related to these topics, etc.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022" : 20 Documents clear
Implikasi Yuridis Agunan Yang Diambil Alih Oleh Perbankan Syariah Dalam Akad Murabahah Iva Latifah Permana
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art9

Abstract

To minimize the risk of problematic financing by the debtor, Islamic banks require collateral/guarantee in murabahah financing. Land rights are usually used as collateral objects which will then be burdened with Mortgage Rights. When the debtor defaults or defaults, Islamic banks can execute collateral against the collateral. One alternative for solving problem financing is through the Foreclosed Collateral (AYDA) process. This is a normative juridical research with the type of library research. The results of this study conclude that the settlement of troubled financing through Foreclosed Collateral (AYDA) if carried out under Article 12 A of the Banking Law, this has violated the provisions of Article 12 of the Mortgage Law where the object of collateral/guarantee is not to be owned by the creditor, in in terms of the agreement made at the beginning between the sharia bank and the customer, in the implementation of the AYDA there has been a transfer of rights, the implications for the agreement in the murabahah contract are deleted or cancelled.Key Word: Collateral, Take Over, Islamic Banking, Murabahah AbstrakUntuk meminimalisir adanya risiko pembiayaan bermasalah oleh pihak debitur maka bank syariah mensyaratkan adanya agunan/jaminan dalam pembiayaan murabahah. Hak atas tanah biasanya yang digunakan sebagai objek jaminan yang kemudian akan dibebani dengan Hak Tanggungan. Ketika debitur cidera janji atau wanprestasi maka bank syariah dapat melakukan eksekusi jaminan terhadap agunan tersebut. Salah satu alternatif penyelesaian pembiayaan bermasalah adalah melalui proses Agunan Yang Diambil Alih (AYDA). Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan jenis penelitian penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menyimpulkan penyelesaian pembiayaan bermasalah melalui Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) apabila dilaksankan berdasarkan Pasal 12 A Undang-Undang Perbankan, hal tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Hak Tanggungan dimana objek agunan/jaminan bukan untuk dimiliki oleh kreditur, dalam hal perjanjian yang dilakukan diawal antara bank syariah dan nasabah, dalam pelaksanaan AYDA telah terjadinya peralihan hak maka berimplikasi pada perjanjian dalam akad murabahah menjadi hapus atau batal.Kata-kata Kunci: Agunan, Ambil Alih, Perbankan Syariah, Murabahah
Keabsahan Akta Autentik Dari Risalah e-RUPS PT Terbuka Melalui Aplikasi eASY.KSEI Krismanova Dwi Cahyasari
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art4

Abstract

The The implementation of e-GMS in public company (PT) can be carried out with an application called eASY.KSEI which according to the provisions requires that it be made in the form of an authentic deed. Hence this study discusses, first, whether the authentic deed originating from the minutes of the e-GMS of Public Company through the eASY.KSEI Application complies with the provisions of Law No. 40 of 2007 on Limited Liability Companies? second, how is the validity of the authentic deed made from the e-GMS of public company minutes through the eASY.KSEI Application. The type of research used is normative law with statutory and conceptual approaches. The results of this study conclude, first, the form of minutes of meetings made in the eASY.KSEI application is not in accordance with the Limited Liability Company Law, but the minutes have been specifically regulated in accordance with the provisions of the Republic of Indonesia Financial Services Authority Regulation No. 16/POJK.04/2020 on Implementation of Electronic General Meeting of Shareholders of Public Companies; and secondly, the validity of an authentic deed will be fulfilled if the formal and material requirements are fulfilled as stipulated in the provisions of the Notary Office Law.Key Word: Authentic Deed, Electronic General Meeting of Shareholders, eASY.KSEI Application AbstrakPelaksanaan e-RUPS PT Terbuka dapat dilakukan dengan sebuah aplikasi bernama eASY.KSEI yang dalam ketentuannya diwajibkan dibuat dalam bentuk akta autentik. Sehingga dalam penelitian ini dibahas mengenai, pertama, apakah akta autentik yang berasal dari risalah e-RUPS PT Terbuka melalui Aplikasi eASY.KSEI telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas? kedua, bagaimana keabsahan akta autentik yang dibuat dari risalah e-RUPS PT melalui Aplikasi eASY.KSEI. Jenis penelitian yang digunakan adalah hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menyimpulkan, pertama, bentuk risalah rapat yang dibuat dalam aplikasi eASY.KSEI tidak sesuai dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas namun risalah tersebut telah diatur secara khusus sesuai dengan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka Secara Elektronik; dan kedua, keabsahan akta autentik akan terpenuhi apabila syarat formil dan materil terpenuhi sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-Undang Jabatan Notaris.Kata-kata Kunci: Akta Autentik, Rapat Umum Pemegang Saham Elektronik, Aplikasi eASY.KSEI
Interpretasi Hukum Pasal 15 Ayat (2) Huruf g Undang-Undang Jabatan Notaris Yudhana Hendra Pramapta
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art16

Abstract

The existence of the authority of a Notary in making the minutes of the auction deed in Article 15 paragraph (2) letter g of Notary Position Law (UUJN) has its own legal consequences. This is due to the discovery of vague norms in Article 15 paragraph (2) letter g UUJN, and conflicts between legal norms (antinomy norms) between Article 15 paragraph (2) letter g UUJN and Consitutional Court Regulation (PMK) No. 189/PMK.06/2017 on Class II Auction Officers. In addition, there is debate about the nature of the minutes of the auction deed that must be in accordance with Article 38 UUJN or Article 37 Vendu Reglement. The researcher formulates two problems, first, what is the legal interpretation regarding the authority of a Notary in making a deed of minutes of auction deed in UUJN? Second, what is the nature of the minutes of auction deed made by a Notary as Class II Auction Officer? The research method used is normative juridical with literature study. The results of the study concluded that PMK No. 189/PMK.06/2017 can be waived due to the principle of Lex Superior Derogat Legi Inferiori and a Notary who wishes to hold concurrent positions as Class II Auction Officer can be directly appointed by the Ministry of Finance without having to go through stages such as selection and work practice (apprenticeship). In addition, the deed of minutes of auction as an authentic deed (Ambtelijke Acte) drawn up by a Notary must comply with the provisions of Article 37 Vendu Reglement based on the principle of Lex Specialis Derogat Legi Generalis.Key Word: Legal Interpretation, Minutes of the Auction Deed AbstrakAdanya kewenangan Notaris dalam membuat akta risalah lelang dalam Pasal 15 ayat (2) huruf g UUJN memberikan akibat hukum tersendiri. Hal tersebut dikarenakan ditemukannya norma yang kabur (vage normen) dalam Pasal 15 ayat (2) huruf g UUJN, dan konflik antar norma hukum (antinomy normen) antara Pasal 15 ayat (2) huruf g UUJN dengan PMK No. 189/PMK.06/2017 tentang Pejabat Lelang Kelas II. Selain itu, adanya perdebatan mengenai sifat akta risalah lelang tersebut harus sesuai dengan Pasal 38 UUJN atau Pasal 37 Vendu Reglement. Peneliti merumuskan dua rumusan masalah, pertama, bagaimana interpretasi hukum mengenai kewenangan Notaris dalam membuat akta risalah lelang dalam UUJN? Kedua, bagaimana sifat akta risalah lelang yang dibuat oleh seorang Notaris selaku Pejabat Lelang Kelas II? Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa PMK No. 189/PMK.06/2017 dapat dikesampingkan karena adanya asas Lex Superior Derogat Legi Inferiori dan seorang Notaris yang hendak merangkap jabatan sebagai Pejabat Lelang Kelas II dapat langsung diangkat oleh Kementerian Keuangan tanpa harus melalui tahapan seperti seleksi dan praktik kerja (magang). Selain itu, akta risalah lelang sebagai akta otentik (Ambtelijke Acte) yang dibuat oleh Notaris harus mengikuti ketentuan Pasal 37 Vendu Reglement berdasarkan asas Lex Specialis Derogat Legi Generalis.Kata-kata Kunci: Interpretasi Hukum, Akta, Risalah Lelang
Kedudukan Jaminan Syariah dalam Perbankan Syariah Novita Indah Sulistyowati
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art18

Abstract

The growth of Islamic banking each year has an influence on the regulations that underlie the existence of Islamic banks in Indonesia. The existence of Islamic banks helps people a lot in facing the world economic competition. Therefore, the more advanced lives of the people, the more law is needed as in the provisions of sharia guarantees in sharia banking. The formulation of the problem in this study is, first, what is the position of Islamic guarantees in Islamic banking? Second, what are the provisions in Islamic banking regarding customers who default on the al-rahn contract? The research method used is normative or doctrinal with the research object of the Al-Quran and Hadith as well as laws and regulations. The approach used is the case study and doctrinal approach with primary legal materials in the form of laws and regulations, and secondary legal materials in the form of books and journal articles. The results of this study conclude that the position of sharia guarantees in Islamic banking is dependent on the contract to be made between the bank and the customer as in the DSN-MUI Fatwa hence it can be concluded that sharia guarantees in Islamic banking are not required to be carried out and arrangements regarding al-Rahn in Islamic banking if there is default is the same as the provisions of western civil law, namely through sharia auctions.Key Word: Sharia Guarantee, Islamic Banking AbstrakPertumbuhan perbankan syariah dari tahun ke tahun mempunyai pengaruh atas peraturan yang mendasari keberadaan bank syariah di Indonesia. Keberadaan bank syariah banyak membantu masyarakat dalam menghadapi persaingan ekonomi dunia. Oleh karena itu, semakin maju kehidupan masyarakat maka semakin dibutuhkan hukum sebagaimana ketentuan jaminan syariah pada perbankan syariah. Rumusan masalah pada penelitian ini, pertama, bagaimana kedudukan jaminan syariah dalam perbankan syariah? Kedua, bagaimana ketentuan dalam perbankan syariah mengenai nasabah yang wanprestasi atas akad al-rahn? Metode penelitian yang digunakan adalah normatif atau doktrinal dengan objek penelitian Al-Quran dan Hadist serta peraturan perundang-undangan. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kasus dan doktrin dengan bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan, dan bahan hukum sekunder berupa buku serta jurnal. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa kedudukan jaminan syariah dalam perbankan syariah adalah tergantung pada akad yang hendak dilakukan antara bank dan nasabah sebagaimana Fatwa DSN-MUI sehingga dapat disimpulkan bahwa jaminan syariah dalam perbankan syariah adalah tidak wajib dilaksanakan dan pengaturan mengenai Rahn pada perbankan syariah jika terjadi wanprestasi sama dengan ketentuan hukum perdata barat yaitu melalui lelang syariah.Kata-kata Kunci: Jaminan Syariah, Perbankan Syariah
Peningkatan Fungsi Pengawasan oleh Majelis Pengawasan Notaris Dalam Pencegahan Pelanggaran Kewenangan Dan Tugas Jabatan Notaris Nanda Ayu Lestari
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art14

Abstract

This research was conducted to examine the arrangement of notary supervision carried out by the Notary Supervisory Board (MPD) in the Indonesian legal system. In its journey, notary supervision arrangements have increased, both in terms of the authority of MPD and the implementation procedures which are accommodated in Ministry of Law and Human Rights Regulation (Permenkumham) No. 15/2020. The formulation of the problem raised in this study includes the background and urgency of increasing notary supervision by the Notary Supervisory Board? and how are the inspection procedures for the Supervisory Board regulated and used in supervising Notaries? This is a normative legal research which is descriptive analytical with statutory and conceptual approaches. The results of the study concluded that first, the foundation and urgency for the birth of an increase in notary supervision by the Notary Supervisory Board can be seen through Permenkumham No. 15/2020. This regulation is more influenced by sociological factors because of the need to increase the capacity of the MPD in the midst of increasingly complex problems of violations by Notaries. Second, an increase in oversight procedures can be seen by adding an element of reference for inspection by the MPD to clarify the source of the budget for implementing Permenkumham No. 15/2020. In realizing this supervision, of course, it needs to be supported by socialization activities to the fulfillment of adequate facilities and infrastructure.Key Word: Examination, Supervision, Notary Supervisory Board AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaturan pengawasan notaris yang dilakukan oleh Majelis Pengawas Notaris dalam sistem hukum Indonesia. Dalam perjalanannya, pengaturan pengawasan notaris mengalami peningkatan baik dari sisi kewenangan MPD hingga tata cara pelaksanaannya yang terakomodir dalam Permenkumham No.15/2020. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini mencakup bagaimana latar belakang dan urgensi peningkatan pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Notaris? dan bagaimana tata cara pemeriksaan Majelis Pengawas diatur dan digunakan dalam mengawasi Notaris? Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menyimpulkan, pertama, landasan dan urgensi lahirnya peningkatan pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Notaris dapat dilihat melalui Permenkumham No.15/2020. Dalam peraturan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosiologis karena kebutuhan peningkatan kapasitas MPD di tengah persoalan pelanggaran oleh Notaris yang semakin kompleks. Kedua, peningkatan tata cara pengawasan terlihat dengan menambah unsur acuan pemeriksaan oleh MPD hingga mempertegas sumber anggaran pelaksanaan Permenkumham No.15/2020. Dalam merealisasikan pengawasan ini tentu perlu didukung dengan kegiatan sosialisasi hingga pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai.Kata-kata Kunci: Pemeriksaan, Pengawasan, Majelis Pengawas Notaris
Konsekuensi Yuridis Penyalahgunaan Keadaan Dalam Akta Pengikatan Jual Beli Hak Atas Tanah Aprilia Wulandari
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art8

Abstract

The mutual consent between the parties is an important condition in an agreement. However, in practice the said consent is not always given freely. There are several agreements made on the basis of coercion, threats, or ignorance of the parties, this results in the agreement being made indicating a defect of will. Defects in the agreement can occur due to elements of dwang, dwaling, bedrog or due to misuse of circumstances. An agreement in which there is an element of misuse of circumstances can potentially be sued in court when one of the parties files a lawsuit in court. This study uses normative research using a statutory approach and a conceptual approach. Legal materials obtained through case studies in court decisions and analyzed by legal interpretation methods. Based on the results of the research and discussion conducted, it was concluded that the abuse of circumstances in the agreement is included in the agreement which is flawed in will. Where the agreement is made in a state where one party is in a strong position to be able to suppress the weak party so that the position becomes unbalanced and can cause losses.Key Word: Agreement, defect of will, abuse of circumstances AbstrakKesepakatan antara para pihak merupakan syarat penting dalam sebuah perjanjian. Namun, dalam praktiknya kesepakatan tersebut tidak selalu diberikan secara bebas. Ada beberapa perjanjian yang dibuat atas dasar keterpaksaan, ancaman, atau ketidaktauan para pihak, hal tersebut berakibat pada perpanjian yang dibuat terindikasi adanya cacat kehendak. Kecacatan pada kesepakatan bisa terjadi karena adanya unsur dwang, dwaling, bedrog maupun karena terjadinya penyalahgunaan keadaan. Perjanjian yang didalamnya dibuat adanya unsur penyalahgunaan keadaan dapat berpotensi untuk digugat di Pengadilan ketika salah satu pihak mengajukan gugatannya ke Pengadilan. Penelitian ini menggunakan penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang didapatkan melalui studi kasus dalam putusan pengadilan dan dianalisis dengan metode interprestasi hukum. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan disimpulkan penyalahgunaan keadaan dalam perjanjian termasuk dalam perjanjian yang cacat kehendak. Dimana perjanjian tersebut dibuat dalam keadaan salah satu pihak dalam posisi yang kuat untuk dapat menekan pihak yang lemah sehingga posisi tersebut menjadi tidak seimbang dan dapat menimbukan kerugian.Kata-kata Kunci: Perjanjian, cacat kehendak, penyalahgunaan keadaan
Standar Mitigasi Bagi Notaris Dalam Menerima Dan Mempertanggungjawabkan Kebenaran Dokumen Serta Keterangan Para Pihak Tania Issabelle Adrian Selayar
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art20

Abstract

Supporting documents and statements of applicants are the basis for a Notary in making an authentic deed. However, it is not uncommon for the documents and information provided by the applicants to be incorrect or can be categorized as fake. Therefore, Notaries must be careful in receiving documents and statements from applicants by applying mitigation standards. The formulation of the problem in this study is what is the form of mitigation standards for a Notary in receiving documents and statements from the parties to be used as the basis for the deed, and how is the responsibility of the Notary for the correctness of the documents and statements of the parties as the basis for the deed. This is an empirical legal research conducted with a statutory approach and a conceptual approach. The results of the research and discussion conclude that the standard form of mitigation for a notary in receiving supporting documents for a deed is, first, the notary checks all supporting documents. Second, the Notary needs to check the legal actions to be included in the deed. Third, a notary who finds fake documents before the process of making the deed can refuse the appearer to draw up the desired deed. Fourth, the Notary can provide its own characteristics in making the deed as long as it does not conflict with laws and regulations. In addition, it was also found that the Notary is not responsible for fake documents and statements as long as the Notary can prove that the Notary did not participate in falsifying the deed.Key Word: Standard, Mitigation, Notary, Accountability AbstrakDokumen pendukung dan keterangan para penghadap merupakan dasar bagi Notaris dalam membuat akta autentik. Namun, tidak jarang dokumen dan keterangan yang diberikan penghadap bukan merupkan yang sebenarnya atau dapat dikategorikan palsu. Maka dari itu, Notaris harus berhati-hati dalam menerima dokumen dan keterangan dari penghadap dengan menerapkan standar mitigasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk standar mitigasi bagi seorang Notaris dalam menerima dokumen dan keterangan para pihak untuk dijadikan dasar akta, dan bagaimana pertanggung jawaban Notaris atas kebenaran dokumen dan keterangan para pihak sebagai dasar akta. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian dan pembahasan menyimpulkan bahwa bentuk standar mitigasi bagi notaris dalam menerima dokumen pendukung akta ialah, Pertama Notaris melakukan pengecekan seluruh dokumen pendukung. Kedua, Notaris perlu melakukan pengecekan terhadap perbuatan hukum yang ingin dituangkan dalam akta. Ketiga, Notaris yang menemukan dokumen palsu sebelum dilakukan proses pembuatan akta, dapat menolak penghadap untuk membuatkan akta yang diinginkan. Keempat, Notaris dapat memberikan ciri khas tersendiri dalam pembuatan aktanya selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan. Selain itu ditemukan juga bahwa Notaris tidak bertanggung jawab atas dokumen dan keterangan palsu selama Notaris dapat membuktikan bahwa Notaris tidak turut serta memalsukan akta.Kata-kata Kunci: Standar, Mitigasi, Notaris, Pertanggung Jawaban
Tanggung Jawab PPAT Atas Pembatalan Akta Yang Dibuat Dihadapannya Emha Ainun Rizal
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art17

Abstract

This study proposes two formulations of the problem, namely, first, how to apply the precautionary principle of the Land Titles Registrar (PPAT) in formulating the deed so that it will not be cancelled, and secondly, what is the responsibility of the PPAT for canceling the deed made before them. This type of research is normative legal research supported by information from various sources. The approach used in this study is a conceptual approach (Conceptual Approach), statutory approach (Statute Approach) and case approach (Case Approach), then analyzed in a descriptive qualitative manner. The results of this study conclude that, first, one of the application of the precautionary principle that must be carried out by PPAT is by issuing a Statement of Authenticity which is approved and signed by the parties concerned. The purpose of this Statement of Authenticity is to minimize and prevent bad faith from the parties applying before the PPAT. In addition to minimizing and preventing bad faith from the parties in the form of providing false statements or fake documents, the Statement of Authenticity is also useful for providing protection for PPAT to not get involved in legal problems. Second, the responsibility of the PPAT for canceling the deed made before them is a form of consequence that must be accepted by the PPAT who is proven to have committed a violation. As a form of accountability for violations committed, the PPAT receives sanctions in accordance with the form of the violation, namely in the form of civil, criminal and administrative sanctions. Meanwhile, products made by PPAT are authentic deeds, so their status will be null and void.Key Word: Deed Cancellation, PPAT, Responsibility AbstrakPenelitian ini mengajukan dua rumusan masalah yaitu, pertama, bagaimana penerapan prinsip kehati-hatian PPAT dalam membuat akta agar tidak dibatalkan, dan kedua, bagaimana tanggung jawab PPAT atas pembatalan akta yang dibuat dihadapannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yang didukung dengan keterangan dari berbagai narasumber. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan konspetual (Conceptual Approach), pendekatan undang-undang (Statute Approach) dan pendekatan kasus (Case Approach), kemudian dianalisis secara Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, pertama, penerapan prinsip kehati-hatian yang harus dilakukan PPAT salah satunya dengan cara membuat Surat Pernyataan Keaslian yang disetujui dan ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan. Tujuan dibuatnya Surat Pernyataan Keaslian ini bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah adanya itikad tidak baik dari para pihak yang menghadap ke PPAT. Selain untuk meminimalisir dan mencegah adanya itikad tidak baik dari para pihak yang berupa pemberian keterangan palsu maupun dokumen palsu, Surat Pernyataan Keaslian juga berguna untuk memberikan perlindungan pada PPAT agar tidak turut serta terjerat permasalahan hukum. Kedua, tanggungjawab PPAT atas pembatalan akta yang dibuat dihadapannya adalah bentuk konsekuensi yang harus diterima oleh PPAT yang terbukti melakukan pelanggaran. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelanggaran yang dilakukan, maka PPAT menerima sanksi sesuai dengan bentuk pelanggarannya yaitu berupa sanksi perdata, pidana maupun administratif. Sedangkan produk yang dibuat oleh PPAT yaitu akta otentik, maka statusnya akan batal demi hukum.Kata-kata Kunci: Pembatalan Akta, PPAT, Tanggung Jawab
Analisis Yuridis Mengenai Tanggung Jawab Notaris Dan Dalam Perkara Mafia Tanah Este Miranda
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art12

Abstract

The population growth and development is increasing rapidly while the land area is not increasing and economic growth is not moderate in Indonesia, which requires the community to make efforts and justify any means so as not to fall into this situation, one of which is land mafia practices involving notaries as the competent authority in legal implementation. The formulation of the problem is, first, what are the parameters or benchmarks for legal responsibility for notaries involved in land mafia cases? Second, what are the legal consequences for a notary involved in a land mafia case? This type of research is normative research with statutory and conceptual approaches. The results of this study conclude that first, a notary can be held responsible for their actions in terms of conspiring to commit land mafia practices. Second, from their actions, the notary can receive legal consequences through three mechanisms, namely civil, administrative and criminalKey Word: Land Mafia; Population development; economic growth AbstrakPertumbuhan dan perkembangan penduduk yang semakin pesat dan luas tanah yang tidak bertambah serta pertumbuhan ekonomi yang tidak moderat di Indonesia menuntut masyarakat untuk melakukan upaya dan menghalalkan segala cara agar tidak terpuruk di situasi ini, salah satunya yaitu praktek mafia tanah yang melibatkan notaris sebagai pihak yang berwenang dalam pelaksana legal. Adapun rumusan masalah yaitu, pertama, bagaimana parameter atau tolak ukur tanggung jawab hukum bagi notaris yang terlibat dalam kasus mafia tanah? Kedua, bagaimana akibat hukum terhadap notaris yang terlibat dalam perkara mafia tanah? Jenis penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan, pertama, bahwa notaris dapat bertanggungjawab atas perbuatanya dalam hal persekongkolan melakukan praktek mafia tanah. Kedua, dari perbuatannya maka notaris dapat menerima akibat hukum melalui tiga mekanisme yaitu secara perdata, administratif dan pidana.Kata-kata Kunci: Mafia Tanah; Perkembangan penduduk; pertumbuhan ekonomi
Keabsahan Akad Perbankan Syariah Dengan Pengikatan Jaminan Hak Tanggungan Siti Soimah
Officium Notarium Vol. 2 No. 2: AGUSTUS 2022
Publisher : Faculty of Law Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JON.vol2.iss2.art19

Abstract

This research examines the problems of guaranteeing Mortgage Rights in Islamic Financing. This type of research is normative legal research, examined using a statutory approach, conceptually analyzed qualitatively. The results of the analysis carried out conclude that the validity of the Islamic Banking Contract with the Binding of Mortgage Guarantees based on Surah Al-Baqarah verse 283 shows that material guarantees are permitted. Whereas legally stated in the Fatwa of the Indonesian National Sharia Council number 25/DSN/MUI/III/2002 on al-Rahn which provides an explanation regarding the ijma' of the scholars that al-rahn contracts or debt guarantees are broadly permissible. The use of guarantees in Islamic banking contracts prioritizes the application of the ijtihad method but does not intend to override the original law but is based more on the principle of using the istihsan method. The virtue of the istihsan method is to realize the benefit and avoid the dangers. Mortgage has executive power, this power is equated with a court decision or known as the principle of parate execution, this is what makes the istihsan method more often used. When viewed further, the imposition of mortgage rights on Islamic banking contracts basically should not be equated with the imposition of mortgage rights on conventional banking, both should have different principles. If the installation of the Mortgage is to guarantee mudharib trust, then the Mortgage is declared valid. with the consequence that in the event of a default it is not immediately auctioned off, in other words the principle of parate execution is not necessarily carried out. Then the Mortgage if used as a guarantor for the return of capital of the shahibul maal becomes invalid and null and void by law. These two aspets can determine the validity of the sharia banking contract with the binding of the Mortgage guarantee.Key Word: Akad, Islamic Banking, Collateral, Mortgage AbstrakPenelitian ini ini mengkaji problematika penjaminan Hak Tanggungan di dalam Pembiayaan Syariah. Jenis penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, diteliti menggunakan pendekatan perundang-undangan, konseptual yang dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis yang dilakukan menyimpulkan, keabsahan Akad Perbankan Syariah dengan Pengikatan Jaminan Hak Tanggungan berdasarkan Surah AL-Baqarah ayat 283 menunjukkan bahwa jaminan kebendaan diperbolehkan. Sedangkan secara legalitas yang tercantum dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Indonesia nomor 25/DSN/MUI/III/2002 tentang Rahn yang memberikan penjelaskan mengenai ijma’ para ulama bahwa akad rahn atau penjaminan utang secara garis besar diperbolehkan. Penggunaan jaminnan dalam akad Perbankan Syariah lebih mengedepankan penerapan metode ijtihad namun tidak bermaksud mengesampingkan hukum asalnya akan tetapi lebih didasarkan pada prinsip penggunaan metode istihsan. Keutamaan dari metode istihsan adalah mewujudkan kemaslahatan dan menolak bahaya-bahaya. Hak Tanggungan memiliki kekuatan eksekutorial, kekuatan ini dipersamakan dengan putusan pengadilan atau dikenal dengan asas parate eksekusi, hal tersebut yang menjadikan metode istihsan lebih sering digunakan. Apabila dilihat lebih lanjut pembebanan Hak Tanggungan pada akad Perbankan Syariah pada dasarnya tidak boleh disamakan dengan pembebanan Hak Tanggungan pada perbankan Konvensional, harusnya keduanya memiliki prinsip yang berbeda. Jika Pemasangan Hak Tanggungan tersebut untuk menjamin mudharib amanah maka hak tanggungan dinyatakan sah. dengan konsekuensi dimana pada saat terjadi wanprestasi maka tidak secara serta merta dilelang, dengan kata lain asas parate eksekusi tidak serta merta dijalankan. Kemudian Hak Tanggungan jika digunakan sebagai penjamin pengembalian modal shahibul maal menjadi tidak sah dan batal demi hukum. Kedua hal tersebut yang dapat menentukan keabsahan akad perbankan syariah dengan pengikatan jaminan Hak Tanggungan.Kata-kata Kunci: Akad, Perbankan Syariah, Jaminan, Hak Tanggungan

Page 2 of 2 | Total Record : 20