cover
Contact Name
Munifah Abdat
Contact Email
munifahabdat_dr@usk.ac.id
Phone
+6281317577701
Journal Mail Official
cakradonyadentaljournal@gmail.com
Editorial Address
FKG USK Darussalam Banda Aceh Aceh
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Cakradonya Dental Journal
ISSN : 2085546X     EISSN : 26224720     DOI : 10.24815/cdj.v
Core Subject : Health,
Cakradonya Dental Journal (CDJ) is a scientific journal publishes twice a year, on February and August. CDJ publishes conceptual articles from original research results that are relevant to the fields of medicine, dental care, oral health, general dentistry, dental materials, and public health. CDJ also publishes literature reviews and case reports.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013" : 20 Documents clear
Kombinasi Bahan Cetak Alginat Dan Polyvinilsiloxane Untuk Mencetak Gigi Yang Goyang Mirna Febriani; Irsan Ibrahim; Lisbeth Aswan
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.896 KB)

Abstract

Bahan cetak kombinasi dari irreversible hydrocolloid dengan polyvinylsiloxane dapat digunakan dalam metoda pencetakan gigi tiruan untuk mencegah peningkatan kegoyangan gigi. Bahan-bahan ini digunakan karena cepat mengeras dalam mulut, dan cetakan dapat dikeluarkan dalam dua arah yang berbeda sehingga tidak mengganggu gigi yang goyang. Metode pencetakan pada gigi yang goyang akibat kerusakan jaringan periodontal dapat digunakan bila beberapa gigi terletak dalam sumbu gigi yang berbeda. Pengeluaran bahan cetak dari dalam mulut dapat mencabut beberapa gigi karena sumbu panjangnya tidak sesuai dengan arah pencabutan. Kombinasi dari bahan cetak irreversible hydrocolloid dengan polyvinylsiloxane dapat menghasilkan protesa gigi tiruan yang akurat dan detil yang baik.
Perubahan pH Saliva Buatan Setelah Diinteraksikan Dengan Candida Albicans, Streptococcus Mutans, dan Aggregatibacter Actinomycetemcomitans Basri A. Gani; Cut Soraya; Sunnati -; Abdillah Imron Nasution; Nurfal Zikri; Rina Rahadianur
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.148 KB)

Abstract

Saliva merupakan cairan eksokrin yang mengandung unsur protein dan antibodi seperti sIgA laktoferin peroksidase, albumin, polipeptida dan oligopeptida yang berperan pada pertahanan mukosa rongga mulut dan gigi guna mencegah infeksi oral mikropatogen seperti C. albicans, S. mutans, dan A. actinomycetemcpmitans. Patogenesis ketiga oral mikropatogen tersebut diawali dengan mempengaruhi perubahan pH saliva sebagai langkah invasi dan infeksi pada mukosa oral dan pelikel gigi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perubahan pH saliva buatan setelah diinteraksikan dengan S. mutans, C. albicans,dan A. Actinomycetemcpmitans. Materi penelitian ini berupa Streptococcus mutans strain ATCC 31987, Candida albicans strain ATCC 10231, Aggregatibacter actinomycetemcomitans strain ATTC 702358, dan saliva buatan. Untuk mengetahui perubahan pH saliva, maka ketiga mikrobiota tersebut dikultur dan untuk menguji perubahan pH saliva dilakukan uji interaksi ketiga mikroorganisme tersebut dalam saliva buatan selama 24 jam dengan pengaturan pH saliva sebagai indikator hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan interaksi S. mutans, C. albicans, dan A. actinomycetemcomitans dalam saliva buatan mampu mereduksi perubahan pH saliva mengarah ke pH netral dengan kontrol perlakuan pH saliva 4, 5, 6, 8, dan pH 9 secara statistik tidak tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p0,05), begitu juga ketika dilakukan interakasi diantara masing-masing mikroorganisme tersebut dalam saliva buatan menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p0,05). Hasil penelitian memperlihatkan aktivitas biologi S. mutans, C. albicans, dan A. actinomycetemcomitans dalam saliva buatan mampu merubah pH Saliva sekaligus mempertahankan pH netral, ini menggambarkan bahwa mikrobiota tersebut saling mendukung dan bekerjasama dalam mempengaruhi siklus biologi rongga mulut dengan pH saliva sebagai indikator.
Pengaruh Perendaman Elemen Gigi Tiruan Resin Akrilik Dalam Larutan Daun Sirih (Piper Betle Linn) Terhadap Perubahan Warna Ifwandi .; Viona Dian Sari; Lismawati .
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.135 KB)

Abstract

Gigi tiruan yang sering digunakan adalah gigi tiruan resin akrilik. Saat ini telah berkembang pembersih gigi tiruan yang alami, salah satunya daun sirih (Piper betle Linn). Daun sirih diketahui berkhasiat sebagai antiseptik dan desinfektan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman elemen gigi tiruan resin akrilik dalam larutan daun sirih (Piper betle Linn) terhadap perubahan warna. Data hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat perubahan nilai hue, tetapi terdapat perubahan nilai value dan chroma. Hasil pengukuran value dan chroma dianalisis menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney (p0,05) untuk mengetahui adanya pengaruh perendaman larutan daun sirih (Piper betle Linn) terhadap perubahan warna, didapatkan nilai signifikansi p0,05 yang menunjukkan adanya pengaruh perendaman larutan daun sirih (Piper betle Linn) terhadap nilai value dan chroma pada elemen gigi tiruan resin akrilik. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa perendaman larutan daun sirih (Piper betle Linn) mempengaruhi perubahan warna elemen gigi tiruan resin akrilik.
Pengaruh Durasi Perendaman Resin Akrilik Heat Cured Dalam Larutan Sodium Hipoklorit 0,5% Terhadap Perubahan Dimensi Diana Setya Ningsih; Liana Rahmayani; Prabowo Bomazdicahyo
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.4 KB)

Abstract

Resin akrilik heat cured sering digunakan sebagai basis gigi tiruan. Resin akrilik heat cured memiliki kemampuan menyerap larutan sehingga menyebabkan kenaikan berat dan ekspansi linier. Basis gigi tiruan resin akrilik dapat dibersihkan dengan larutan sodium hipoklorit 0,5%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama perendaman resin akrilik heat cured dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% selama 1, 3, 5, dan 7 hari terhadap perubahan dimensi. Penelitian ini menggunakan 15 spesimen resin akrilik heat cured (merek Meliodent, diameter = 50 ± 1 mm dan tebal = 0,5 ± 0,1 mm) yaitu 10 spesimen direndam dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan 5 spesimen dalam akuades (kontrol). Perendaman dilakukan selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan menggunakan neraca analitik digital dan jangka sorong digital untuk mengukur perubahan dimensi pada spesimen resin akrilik heat cured. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Repeated ANOVA. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan bermakna perubahan dimensi setelah direndam dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% selama 1, 3, 5, dan 7 hari (p 0,05). Analisis Pairwise Comparisons menunjukkan ada perbedaan bermakna perubahan dimensi resin akrilik heat cured setelah perendaman selama 1 hari (p 0,05) dibandingkan perendaman selama 3, 5, dan 7 hari (p 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh lama perendaman resin akrilik heat cured dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% terhadap perubahan dimensi.
Perbandingan Kebocoran Mikro Antara Basis Gic Conventional Dan Rmgic Pada Restorasi Resin Komposit Nanofiller Dengan Teknik Sandwich Iin Sundari; Diana Setya Ningsih; Citra Feriana Putri
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.426 KB)

Abstract

Glass Ionomer Cement (GIC) Conventional dan Resin Modified Glass Ionomer Cement (RMGIC) merupakan material kedokteran gigi yang sering digunakan sebagai basis pada restorasi resin komposit. Penggunaan basis di bawah restorasi resin komposit dikenal dengan teknik sandwich. Restorasi dengan menggunakan teknik sandwich dapat mengurangi terjadinya kebocoran mikro pada restorasi resin komposit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kebocoran mikro antara basis GIC Conventional dan RMGIC pada restorasi resin komposit nanofiller dengan teknik sandwich. Penelitian ini menggunakan 20 spesimen gigi premolar dengan kavitas klas 1 kemudian direstorasi dengan teknik sandwich, lalu dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok A adalah teknik sandwich yang menggunakan resin komposit nanofiller dengan basis GIC Conventional dan kelompok B adalah teknik sandwich yang menggunakan resin komposit nanofiller dengan basis RMGIC. Seluruh spesimen direndam dalam larutan pewarna biru metilen selama 24 jam kemudian dilakukan pengamatan untuk pengukuran skor kebocoran mikro dengan menggunakan stereomikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basis GIC Conventional memiliki rerata skor kebocoran mikro sebesar 0,20 ± 0,422 dan basis RMGIC 0,00 ± 0,00. Sedangkan hasil penelitian pada teknik sandwich kelompok A (nanofiller dan GIC konventional) menunjukkan rerata skor kebocoran mikro sebesar 0,60±0,843 dan kelompok B (nanofiller dan RMGIC) sebesar 0,30±0,483. Hasil uji statistik non parametrik Mann Whitney antara basis GIC Conventional dan RMGIC serta antara kelompok A dan B menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p 0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kebocoran mikro yang tidak bermakna pada kelompok teknik sandwich dengan basis GIC Conventional dan basis RMGIC.
Indek Sefalik Dan Basis Kranium Anak Retardasi Mental Dan Hubungannya Dengan IQ (Intelligence Quetiont) Dewi Elianora; Iwa Sutardjo; Bambang Udji Rianto
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah lama diketahui bahwa subjek dengan retardasi mental berhubungan dengan misshapen crania, microcephaly dan dysmorphic features. Telah diketahui juga bahwa ukuran kepala berhubungan dengan intelegensia yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara ukuran indek sefalik dan basis kranium dengan IQ, dengan cara membandingkan antara anak retardasi mental dengan anak normal. Penelitian ini terdiri dari 168 anak umur 7-12 tahun. 84 anak retardasi mental dan 84 anak normal yang diambil secara random dari SLBN dan SDN Yogyakarta. Subyek terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang sama. Usia tujuh tahun dipilih karena 7 tahun merupakan usia maksimal pertumbuhan otak. Data dibagi menjadi ukuran indek sefalik dan radiographik sefalometri lateral. Indek sefalik didapatkan mengunakan rumus : Maksimal lebar kepala / maksimal panjang kepala x 100. Berdasarkan rumus ini diklasifikasikan menjadi dolichocephalic, mesocephalic, dan brachycephalic. Penilaian IQ dilakukan di Bagian Psikologi UGM, Penilaian sefalometri secara komputerisasi dilakukan di Bagian Radiologi. Semua subyek telah mengisi informed concern. Data dianalisa dan hasilnya dibandingkan antara kedua grup. Hasilnya 63 % anak retardasi mental sedang didapatkan brachycephalic. Umumnya ukuran lebar dan panjang kepala menunjukkan indikasi mikrosefali. Analisa sefalometri menunjukkan bahwa komponen garis dan sudut ((S-N, S-Ar dan NSAr) lebih pendek pada anak retardasi mental daripada anak normal. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan pada S-N dan Ar, tidak berbeda pada sudut NSAr. Kesimpulan pada penelitian ini adalah indek sefalik dan basis kranium anak retardasi mental didapatkan lebih pendek dari anak normal. Brachycephalic (pendek dan datar) mengambarkan bahwa nak retardasi mental mempunyai IQ rendah. Basis kranial anak retardasi mental kurang berkembang, ini diasumsikan berhubungan dengan gangguan pertumbuhan otak dan ada kaitannya dengan IQ.
Penilaian Komunikasi Interpersonal Dokter Gigi Muda Dengan Pasien Prostodonsia Di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Universitas Syiah Kuala Liana Rahmayani; Cut Fera Novita; Rahmaini -
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.708 KB)

Abstract

Komunikasi interpersonal berperan penting dengan perawatan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan dokter gigi terhadap pasien secara individual. Komunikasi interpersonal dokter gigi muda dengan pasien prostodonsia di RSGM tidak terlepas dari perilaku, empati maupun tampilan dokter gigi muda saat memberikan perawatan kepada pasien. Beberapa penelitian sebelumnya membuktikan bahwa komunikasi interpersonal dapat meningkatkan kepuasan dan mengurangi kecemasan pasien saat melakukan perawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai komunikasi interpersonal anatar dokter gigi muda dengan pasien prostodonsia di RSGM Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi interpersonal dokter gigi muda denganpasien prostodonsia yang menilai cukup baik sebanyak 2 orang (3,3%), subjek yang menilai baiksebanyak 28 orang (46,7%) dan yang menilai sangat baik sebanyak 30 orang (50%). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal dokter gigi muda dengan pasien prostodonsia di RSGM Universitas Syiah Kuala sangat baik.
Profil Jaringan Lunak Dan Keras Wajah Lelaki Dan Perempuan Dewasa Etnis Aceh Berdasarkan Keturunan Campuran Arab, Cina, Eropa Dan Hindia Komalawati -; Etty Indriaty; Al Supartinah
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.03 KB)

Abstract

Profil Jaringan Lunak Dan Keras Wajah Lelaki Dan PPenelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik bentuk wajah etnis Aceh pada ukuran dan perbandingan profil jaringan lunak dan jaringan keras wajah lelaki dan perempuan dewasa Aceh berdasarkan keturunan campuran Arab, Cina, Eropa dan Hindia yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Keturunan Arab diseleksi berdasarkan daerah Aceh Besar dan Banda Aceh, keturunan Cina di seleksi pada daerah Aceh Utara dan Aceh Timur, keturunan Eropa di seleksi pada daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan, keturunan Hindia di seleksi pada daerah Aceh Sigli dan Aceh Pidie. Pendekatan sefalogram lateral sejumlah 273 lembar terdiri dari subjek 130 lelaki dan 143 perempuan, umur 17 – 21 tahun dengan oklusi normal, klas I Angle, wajah simetris, jarak tumpang gigit 2-4 mm dan dua generasi keturunan keatas. Analisis Downs dipakai untuk menentukan derajat retrusi atau protrusi mandibula dan maksila dengan mengukur sudut fasial dan sudut konveksity, garis estetik Riketts di gunakan untuk menentukan posisi jaringan lunak bibir terhadap profil wajah secara keseluruhan. Analisis of varian 2 jalur digunakan untuk menentukan taraf signifikansi asal keturunan jenis kelamin antara lelaki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil wajah adalah lurus (orthognathi) dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p 0,05) antara bentuk profil jaringan lunak dan keras wajah suku Aceh keturunan Arab, Cina, Eropa dan Hindia, baik pada lelaki maupun pada perempuan. Kesimpulan: Etnik Aceh berasal dari ras Mongoloid subras Deutero-Melayid mempunyai profil jaringan lunak dan keras wajah lurus (orthognathi), sama seperti ras Kaukasian.rempuan Dewasa Etnis Aceh Berdasarkan Keturunan Campuran Arab, Cina, Eropa Dan Hindia
Panjang Rata-rata Gigi Insisivus Sentralis Permanen Maksila Pada Mahasiswa Suku Aceh Cut Soraya; Kemala Hayati; Aci Saspita Reni
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.578 KB)

Abstract

Panjang kerja yang ditentukan dengan benar merupakan faktor utama keberhasilan dalam perawatan saluran akar. Salah satu cara untuk menentukan panjang kerja adalah dengan mengetahui panjang rata-rata gigi. Perbedaan dalam ukuran gigi telah dikaitkan dengan latar belakang etnis/suku yang berbeda dan maloklusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui panjang rata-rata gigi insisivus sentralis permanen maksila pada mahasiswa suku Aceh Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala angkatan 2007-2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara subjek menandatangani informed consent, wawancara, pengisian kuisioner dan pemeriksaan gigi insisivus sentralis permanen maksila oleh peneliti kemudian dilanjutkan dengan pengambilan foto roentgen gigi tersebut menggunakan foto radiograf periapikal dengan teknik paralelling. Kemudian foto diproses dan panjang gigi diukur dengan penggaris endodonsia. Panjang rata-rata gigi insisivus sentralis permanen maksila pada mahasiswa suku Aceh PSKG Unsyiah angkatan 2007-2010 adalah 25,86 mm dengan Standar Deviasi (SD) sebesar 1,45. Simpulan pada penelitian ini adalah panjang rata-rata gigi insisivus sentralis permanen maksila pada penelitian ini lebih panjang dibandingkan dengan penelitian yang telah ada sebelumnya.
Apex Resection and Retrograde Filling After Enucleation of Radicular Cyst : A Case Report Teuku Ahmad Arbi; Abdul Latif
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.741 KB)

Abstract

Radicular cyst is a cyst at the apex of a non-vital tooth and is a sequel of pulp inflammation. The associated tooth is usually asymptomatic. Acute infectious episodes may cause pain. The lesion appears as a sharply circumscribed radiolucent lesion around the apex of the associated tooth. Several treatment options exist for such cysts. Many small cysts resolve with endodontic therapy (‘root canal treatment’) of the involved tooth. Those lesions should be monitored to ensure such resolution. Cysts that fail to resolve with such therapy should be surgically removed. This is often accompanied by an ‘apex resection’ of the tooth involved. This entails cutting off the end of the tooth and sealing, preventing the leakage of root canal filling. We present a case of Indonesian female, 24 years old with radicular cyst at second left maxillary incisor. The teeth was already performed root canal treatment, but the cyst did not decreased in size and the teeth was mobile. We decided to perform enucleation and apex resection of involved teeth. A mucoperiosteal flap over the cyst is raised a window is opened in the bone to give adequate access. The cyst is carefully separated from its bony wall. The entire cyst is removed intact. The apex was cutting off 3 mm and MTA was place at the orifice of the root. The edge of bony cavity are smoothened off, free bleeding is controlled and cavity is irrigated to remove debris. Mucoperiosteal flap is replaced back and sutured in place. Three weeks after surgery, the patient has no complain on operation area, the tooth was not mobile and no pain. Radiographic evaluation shows that the operation area is healing successfully.

Page 1 of 2 | Total Record : 20