cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2000)" : 13 Documents clear
INTERFERENSI MORFOLOGIS PENUTUR BAHASA BUGIS DALAM BERBAHASA INDONESIA Masrurah Mokhtar
Humaniora Vol 12, No 2 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.871 KB) | DOI: 10.22146/jh.693

Abstract

Di antara berbagai masalah bahasa yang dihadapi, yang akhir-akhir ini mendapat perhatian cukup besar dalam masyarakat, tetapi sampai kini belum diteliti secara sungguh-sungguh oleh para ahli bahasa di Indonesia, adalah peristiwa alternasi atau pemakaian bahasa secara silih berganti antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam satu kalimat, paragraf, atau wacana . Kontak yang semakin intensif antara bahasa Indonesia selanjutnya disebut (BI) dan bahasa daerah (selanjutnya disebut BD) te- Iah membawa perubahan dalam Iingkup dan bentuk pemakaian kedua bahasa tersebut. Prestise dan daya guna BI yang terus meningkat telah mendorong penutur BD, termasuk bahasa Bugis (selanjutnya disebut BB), untuk menguasai bahasa Indonesia di samping bahasa ibunya . Dalam komunikasi sehari-hari kadang-kadang dapat disaksikan pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Daerah seolah-olah dikacaukan . Sering terjadi BB atau bahasa Makassar (selanjutnya disebut BM) dan BI dipakai secara silih berganti dalam suatu wacana atau kalimat dalam penuturan . Tidak jarang dijumpai kalimat-kalimat dimulai dengan BI, tetapi di tengah-tengah terselip kata-kata BB atau BM atau diakhiri BI dan sebaliknya. Akibatnya, kalimat yang demikian seolaholah bukan kalimat BB atau BM dan bukan pula BI . 2. Metode Penelitian Penelitian "interferensi Morfologis BB oleh Masyarakat Bugis dalam ber-Berbahasa Indonesia" dilaksanakan dengan responden sebanyak 200 orang yang diambil berdasarkan pekerjaan (pegawai, guru, dosen, pedagang, petani, dan pelajar), umur (antara 18-22 tahun, 23-27 tahun, 28-32 tahun, 33-37 tahun, 38-42 tahun, 43-47 tahun), dan pendidikan (SLTA, SI, S2, dan S3). Penelitian ini berhasil mengumpulkan data sosiolinguistik dalam bentuk data morfologis sebanyak 109 buah, 39 yang diolah menurut sifat-sifat morfemnya, kemudian ditranskripsikan untuk menemukan ruas-ruas asainya . Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan situasi kebahasaan yang bersitat sosiolinguistik, yang merupakan salah satu gejala kebahasaan yang teriadi pada penutur BB dalam ber-BI serta menggambarkan kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi dalam masyarakat yang dwibahasawan (bilingual) . Meskipun gejala interferensi antara bahasa-bahasa yang dipakai di Indonesia, misalnya antara BD satu dengan BD lainnya, atau antara BD dengan BI merupakan gejala yang umum, penelitian yang tuntas mengenai bentuk pemakaian bahasa ini, lebih-lebih penelitian yang memperhatikan kesalahan-kesalahan yang ada pada perilaku berbahasa seperti itu, boleh dikatakan masih sangat Iangka . Kalaupun ada, biasanya penelitian atau studi-studi itu hanya dipandang sebagai suatu peristiwa kebetulan atau ditelaah semata-mata dari sudut sosial atau fungsi-fungsi pragmatiknya
KLASIFIKASI FOLK BIOLOGI DALAM BAHASA JAWA SEBUAH PENGAMATAN AWAL . Suhandano
Humaniora Vol 12, No 2 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.686 KB) | DOI: 10.22146/jh.694

Abstract

Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk mengidentifikasikan dan- mengklasifikasikan benda-benda di lingkungan sekitar manusia . Demikianlah, misalnya, penutur bahasa Jawa mengidentifikasikan benda-benda di sekitarnya dengan kata-kata alang-alang 'ilalang' . teki 'teki' . tuton. kremah. krokot (untuk ketiga nama yang disebut terakhir ini penulis belurn menemukan nama padanannya dalam bahasa Indonesia) . dan sejenisnya, dan kemudian mengklasifikasikannya dengan kata suket 'rumput'. Mereka juga mengidentifikasikan benda-benda di sekitarnya dengan kata-kata wedus 'kambing' . pitik 'ayam' . sapi 'lembu' . kebo 'kerbau' . bebek 'itik', dan sejenisnya. dan kemudian mengkiasifikasikannya dengan kata ingon-ingon binatang piaraan' . Pengidentifikasian dan pengklasifikasian tersebut tidak hanya berlaku pada benda-benda hidup saja, tetapi juga pada benda-benda mati . Untuk bendabenda mati . penutur bahasa Jawa misalnya, mengidentifikasikan benda-benda tertentu dengan kata-kata kaos 'kaos', klambi 'baju' . sarung 'sarung', jarik Rain' . kathok Icelana', dan sejenisnya yang kemudian mengklasifikasikannya dengan kata sandangan pakaian' . Dalam hal fungsi bahasa sebagai alat untuk mengidentifikasikan benda-benda, sejauh ini dipaharni bahwa hubungan antara benda yang diidentifikasikan dengan kata atau bentuk bahasa yang digunakan untuk mengidentifikasikannya bersitat arbitrer . Jadi, tidak ada alasan mengapa benda yang sama dalam bahasa Jawa diidentifikasikan dengan kata klambi, tetapi dalam bahasa Indonesia diidentifikasikan dengan kata baju. Dalam hal fungsi bahasa sebagai alat untuk mengklasifikasikan benda-benda, sifat arbitrer tersebut memang masih berlaku. Sangat sulit mencari alasan, misalnya, mengapa dalam bahasa Jawa krokot, teki, kremah, alang-alang, tuton diklasifikasikan dengan kata suket bukan dengan kata lain. Akan tetapi, berkaitan dengan klasifikasi ini ada hal menarik yang perlu dikaji, misalnya, mengapa alang-alang, teki, kremah, krokot, tuton diklasifikasikan dalam satu kategori suket, sernentara sere 'serai', sledri 'seledri', bayem 'bayam', lompong 'batang daun keladi', dan sejenisnya yang dalam beberapa hal mirip dengan benda-benda dalarn kategori sukettidak termasuk di dalamnya. Persoalan klasifikasi ini lebih menarik lagi karena diketahui bahwa pengklasifikasian benda-benda tertentu ke dalam kategori tertentu berbeda dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Sebagai contoh, dalam bahasa Jawa ada kategori ingon-ingon yang anggotanya meliputi hewan-hewan sapi, kerbau, kambing, itik, ayarn, dan sejenisnya seperti dicontohkan di atas, tetapi dalam bahasa Inggris kategori semacam itu tidak ada. Memang dalam bahasa Inggris ada kategori pet 'binatang piaraan', tetapi kategori ini tidak sama dengan ingon-ingon; kerbau, misalnya, tidak termasuk dalam pet.
RECONSIDERING SOME CULTURAL CONSTRAINTS IN THE IMPLEMENTATION OF COMMUNICATIVE ENGLISH LEARNING FX Nadar
Humaniora Vol 12, No 2 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.413 KB) | DOI: 10.22146/jh.695

Abstract

English is perhaps the most important foreign language in Indonesia . It is used for communication in business with other countries and studied in schools from junior high school to university level . People in Indonesia study English for different reasons . Many of them study English because if they understand English well they will be able to improve their general knowledge . Others particularly university students and lecturers study English because English may help them develop their academic achievement . Other people who are active in tourism and hotel industries need to study English because they have to communicate regularly with people from other countries . Despite the fact that English has been extensively studied, many learners feel they cannot use it for daily communication . This brief essay attempts to explore the constraints, particularly from the cultural views, which may have reduced the success of learning English . Approaches to language learning have undergone changes. Celce-Murcia (1991 :5- 8), for example, describes the stages of 20"-century approaches of language learning . In the sequence of approaches, communicative approach comes last . The origins of communicative language learning are to be found in the changes in the British language learning tradition dating from the late 1960's (Richards and Rogers, 1986 :64) which focus on the functional and communicative potential of the language . Richards and Rogers write (p .64) that with the interdependence of European countries 'the need to articulate and develop alternative methods of language learning was considered a high priority' . It seemed that since then the terms 'communicative' and also 'communication' became more and more popular (Atkinson, 1992 :6) . The implementation of communicative language learning in an EFL (English as a Foreign Language) context may cause problems . Paulston (1979 :3-4) describes the problems of non-native English teacher's imperfect proficiency, sociocultural values, class sizes, social behaviour, etc. which should all be taken into consideration . There may be constraints which reduce the effectiveness of its good values. This essay which views the possibility of implementing the communicative language learning and the likely cultural constraints in its implementation is divided into five main parts : firstly, the introduction; secondly, a glance at English learning in Indonesia; thirdly, communicative English learning ; fourthly, some constraints and how to minimize them ; and finally, the conclusion .

Page 2 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue