cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 44 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2019): November 2019" : 44 Documents clear
Pengaruh Konsentrasi Minyak Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) dan Sari Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia, Swingle) terhadap Sifat Kimia dan Sensori Permen Keras (Hard Candy) Maya Maulida Zamda; Anshar Patria; Ismail Sulaiman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.796 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12823

Abstract

Abstrak. Hard Candy adalah permen yang memiliki tekstur keras dan penampakan bening serta berkilau (glossy) yang digunakan sebagai penyegar mulut dimana bahan bakunya terdiri dari minyak atsri atau buah. Pada pembuatan ini, kombinasi serai wangi-jeruk nipis dipilih karena serai wangi termasuk salah satu minyak atsiri yang mengandung sumber sitronelol. Sedangkan jeruk nipis mengandung sumber asam sitrat dan vitamin C. Penambahan sari jeruk nipis untuk mengurangi rasa sepat dan kelat pada serai wangi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama serai wangi terdiri dari 3 taraf, yaitu S1 = 0,75 ml, S2 = 1,5 ml, S3 = 2,25 ml. Faktor kedua jeruk nipis terdiri dari 3 taraf, yaitu J1 = 7,5 ml, J2 = 15 ml, J3 = 22,5 ml. Analisis yang dilakukan terhadap hard candy meliputi kadar air, gula reduksi, dextrose equivalent, organoleptik (hedonik). Pada setiap perlakuan berpengaruh sangat nyata dan nyata sehingga perlu dilakukan uji lanjut (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kadar air jeruk nipis yaitu semakin tinggi dengan nilai 16,42 – 24,84, sedangkan kadar air serai wangi semakin tinggi akan semakin rendah dengan nilai 17,19 – 25,36. Pada gula reduksi dan dextrose equivalent saling berkaitan yaitu semakin tinggi konsentrasi serai wangi dan jeruk nipis maka semakin tinggi nilai yang dihasilkan. Pada uji organoleptik aroma dan rasa dengan konsentrasi serai wangi semakin tinggi maka nilai yang yang dihasilkan semakin rendah, sedangkan aroma dan rasa dengan konsentrasi jeruk nipis semakin tinggi makan nilai yang dihasilkan semakin tinggiAbstract. Hard Candy is a candy that have a hard texture clear appearance and glossis that is used as a mouth freshener where the raw material consists of essential oils or fruit. This manufacture is combination of lemon grass lime was chosen because lemongrass fragrant is one of the essential oils that containing citronellol. While lime contains a source of citric acid and vitamin C. Adding lemon juice to reduce the feeling of sour and chelation on citronella scented. This study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern consisting of two factors. The first factor of lemongrass fragrant consisted of 3 levels, namely S1 = 0.75 ml, S2 = 1.5 ml, S3 = 2.25 ml. The second factor of lime consists of 3 levels, namely J1 = 7.5 ml, J2 = 15 ml, J3 = 22.5 ml. Analysis of hard candy includes water content, reducing sugars, dextrose equivalent, organoleptic (hedonic). Each treatment has a very real and real effect so further testing (DMRT) is needed. The results showed that the water content of lime was higher with a value of 16.42 - 24.84, while the water content of lemongrass fragrant was higher, the lower the value of 17.19 - 25.36. In reducing sugars and dextrose equivalent are interrelated, the higher the concentration of citronella and lemon, the higher the value produced. In the organoleptic test of aroma and taste with the concentration of citronella scent, the higher the value produced was lower, while the aroma and taste with the concentration of lime increased the higher the value produced.
Analisis Efektifitas Penyaluran Beras Sejahtra (RASTRA) di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Reza Fahmi; Anwar Deli; Zakiah Zakiah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.54 KB)

Abstract

Daerah penelitian ditentukan secara purposive (secara sengaja) yaitu di Desa Bayu dan Desa Lamcot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Penentuan daerah penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki populasi dimana terdapat program subsidi Rastra. Penelitian berlangsung pada bulan Maret sampai dengan April 2018.Penelitian ini dilakukan terkait dengan masalah Keefektifan dalam hal pendistribusian beras sejahtera di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Hal ini sangat diperlukan bagi para pengelola program Rastra dalam mengevaluasi dan menilai efektivitas pelaksanaan programRastra.Populasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar yang menerima subsidi Beras Sejahtera dari pemerintahan setempat. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 50 Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Hasil penelitian bahwa efektifitas sistem pendistribusian rastra di Kabupaten Aceh Besar sudah dilaksanakan dengan cukup baik, karena dari 6 indikator responden menjawab sudah tepat 3 indikator diantaranya: tepat harga, tepat kualitas dan tepat administrasi, dapat lihat nilai rata-rata jawaban responden yang menjawab sudah tepat sebanyak 86% dan 14% yang menjawab tidak tepat. Selanjutnya ketidaktepatan sasaran, tepat jumlah dan tepat waktu beras yang diterima juga ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program penyaluran Rastra. Maka penyaluran Rastra di Desa Bayu dan Desa Lamcot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar belum dilaksanakan dengan sangat baik, karena dari 6 indikator masih ada 3 indikator yang belum tepat/tidak efektif. Sesuai dengan nilai rata-rata jawaban responden yang menjawab sudah tepat sebanya 19,3% dan 80,7% yang menjawab tidak tepat.
Analisis Dampak Wisata Alam Terhadap Kondisi Sosial Dan Ekonomi Masyarakat Desa Iboih Kecamatan Sukakarya Kota Sabang Reva Amanda Putra; Safrida Safrida; Romano Romano
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.878 KB)

Abstract

Objek wisata alam menjadi pilihan bagi seseorang maupun kelompok untuk melakukan rekreasi pada saat merasa jenuh atau sekedar melepas penat. Dalam penelitian ini wisata alam menjadi objek penelitian untuk kemudian di analisa apakah terdapat dampak atau pengaruh yang disebabkan oleh wisata alam terhadap sosial budaya setempat dan perubahan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat desa iboih. Faktor sosial dalam penelitian ini berdasarkan hasil analisis berdampak posif dan negatif, dampak positif yang terjadi adalah terjaganya kebersihan lingkungan, keamanan yang lebih terjaga, terpeliharanya budaya lokal, dapat mempelajari bahasa asing dan berbagai wawasan lainnya. Sedangkan  dampak negatif yang terjadi yaitu seperti kebisingan, mengganggu kenyamanan masyarakat dan lunturnya budaya lokal. Adapun faktor ekonomi yaitu adanya pengaruh peningkatan pendapatan maupun peluang kerja bagi masyarakat setempat.
Analisis Pendapatan Petani Kakao Sebagai Sumber Penghasilan Utama Dan Penghasilan Sampingan Di Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Putri Deva; Irwan A. Kadir; Sofyan Sofyan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.229 KB)

Abstract

Abstrak. Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor dari subsektor perkebunan yang merupakan komoditas unggulan nasional di mana komoditas ini memberikan sumbangan devisa ketiga terbesar setelah kelapa sawit dan karet (Hasibuan, et.al. 2012). Pada tahun 2016, produksi kakao di Provinsi Aceh tinggi berada di Aceh Tenggara yang mencapai sebesar 9.242ton/ha (BPS, 2017). Salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara yang memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk budidaya kakao ialah Kecamatan Babussalam. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Kecamatan ini rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani kakao namun ada pula beberapa petani kakao yang pekerjaan utamanya adalah sebagai pedagang, petani komoditi lain ataupun pekerja di kebun milik orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan petani yang budidaya kakao sebagai sumber  penghasilan  utama  dengan  yang  budidaya  kakao sebagai penghasilan sampingan. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode analisis deskriptif kualitatif, tabel frekuensi dan uji hipotesis dua sampel saling bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan utama dan pendapatan sampingan  petani   kakao yang di analisis dengan  uji sampel dua  arah,  diperoleh  df  =  28 dengan α = 10 %, maka nilai ttabel  1,313 serta dari hasil uji Independen T-test diperoleh thitung 1,5. Dari data tersebut dapat di analisis bahwa thitung 1,5 ttabel  1,313, maka Ho ditolak dan terima Ha dengan tingkat kepercayaan 90%. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan petani dengan penghasilan utama dan pendapatan petani dengan penghasilan sampingan. Rata - rata pendapatan utama petani kakao lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan sampingan petani kakao. Rata-rata pendapatan utama petani kakao sebesar Rp 9.030.955/Ha dalam satu tahun terakhir.   Sementara  itu, rata-rata pendapatan sampingan petani kakao sebesar Rp 1.238.777/Ha dalam satu tahun terakhir.
Analisis Perbandingan Struktur Biaya pada Tiga Sistem Budidaya Udang Pasca Tsunami di Aceh Sitti Maghfirah; Irfan Zikri; Agus Nugroho
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.242 KB)

Abstract

Terdapat tiga sistem budidaya udang yang dilakukan yaitu, tradisional, semi intensif dan intensif. Pada dasarnya ke 3 sistem tambak ini memiliki perbedaan yang terletak pada struktur fisik tambak, penggunaan teknologi, dan jumlah pemberian pakan serta obat-obatan. Dalam budidaya udang masing-masing sistem memiliki perbedaan biaya yang digunakan. Struktur biaya pada ketiga sistem budidaya udang ini dapat menentukan tingkat pendapatan petambak yang diperolehnya. Apabila para petambak efesien dalam pengelolaan biaya maka hasil yang didapatkan akan lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur biaya dari tiga sistem budidaya tambak udang tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa biaya tetap (fixed cost) tertinggi selama budidaya adalah sistem intensif, selanjutnya secara berurutan yaitu semi intensif dan tradisional vaname serta windu. Sedangkan biaya tidak tetap (variabel cost) tertinggi selama budidaya adalah sistem intensif, selanjutnya secara berurutan yaitu semi intensif dan tradisional vaname serta windu. Total biaya produksi (total cost) tertinggi selama masa budidaya adalah sistem intensif, selanjutnya secara berurutan yaitu semi intensif dan tradisional vaname serta windu. Total penerimaan (total revenue) tertinggi selama masa budidaya yaitu sistem intensif, kemudian secara berurutan yaitu semi intensif dan tradisional vaname serta windu. Setelah dilakukan analisis pendapatan maka didapatkan total pendapatan tertinggi selama masa budidaya yaitu sistem tradisional vaname kemudian tradisional windu, sedangkan semi intensif dan intensif mengalami kerugian.
Karakteristik Pengeringan Kulit Melinjo (Gnetum gnemon L) dengan Alat Pengering Tipe Tray Dryer untuk Pembuatan Keripik Kulit Melinjo Durry Munawar; Dewi Sri Jayanti; Raida Agustina
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.886 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12681

Abstract

Abstrak. Pemanfaatan kulit melinjo sebagai produk makanan olahan belum banyak diketahui oleh masyarakat. Biasanya kulit melinjo tidak dimanfaatkan lagi dan dibuang begitu saja padahal kulit melinjo dapat diolah kembali menjadi beberapa produk makanan seperti keripik kulit melinjo, manisan, teh, pewarna makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengeringan dan mutu dalam pembuatan keripik kulit melinjo dengan alat pengering tipe tray dryer pada suhu 35oC dan 45oC. Masing-masing suhu tersebut diulang sebanyak dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu 35oC kelembaban udara yang diperoleh adalah 70,50% dengan lama pengeringan 390 menit (6,5 jam) dan rata-rata laju pengeringan sebesar 1,08 bk/menit, sedangkan pada suhu 45oC kelembaban udara yang diperoleh adalah 60,72% dengan lama pengeringan 300 menit (5 jam) dan rata-rata laju pengeringan sebesar 1,32 bk/menit. Kecepatan aliran udara ruang pengering pada suhu 35oC dan 45oC adalah konstan (2,4 m/s). Rata-rata kadar air awal kulit melinjo adalah 82,26% sedangkan kadar air akhir adalah 21,36%. Susut bobot pada suhu 35oC adalah 77,56% dan pada suhu 45oC adalah 77,32%. Hasil uji organoleptik terbaik adalah pada suhu 35oC dengan skor 4,28 untuk warna, 4,50 untuk aroma, 4,53 untuk rasa dan 4,40 untuk tekstur.Characteristic Melinjo Peel (Gnetum gnemon L) Drying with Tray Dryer for Making Melinjo Peel ChipsAbstract. The use of melinjo peel as a processed food product is not widely known in the public. Melinjo peel is usually no longer used and thrown away even though the peel could be reprocessed into several food products such as melinjo peel chips, confectionery, tea, and food coloring. This research aimed to determine the characteristics of drying and quality in the making of melinjo peel chips with tray dryer at 35oC and 45oC. Each temperature is repeated twice. The results showed that at a temperature of 35oC, the humidity was 70.50% with a drying time was 390 minutes (6.5 hours) and the average of drying rate was 1.08 dw/minute, meanwhile at 45oC the humidity was 60.72% with a drying time was 300 minutes (5 hours) and an average of drying rate was 1.32 dw/minute. The airflow velocity of the drying chamber at 35oC and 45oC was constant (2.4m/s). The average of initial moisture of melinjo peel was 82.26% and final moisture was 21.36%. The weight loss at 35oC was 77.56% and at 45oC was 77.32%. The best results of organoleptic test was at temperature 35oC with score 4.28 for color, 4.50 for flavor, 4.53 for taste and 4.40 for texture.
Uji Kinerja Alat Penyangrai Kopi Tipe Silinder Menggunakan Band-Heater sebagai Pemanas Gamal Abdil Nasir; Syafriandi Syafriandi; Mustaqimah Mustaqimah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.429 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12789

Abstract

Abstrak. Konsumsi kopi di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 3 % setiap tahunnya. Meningkatnya nilai konsumsi kopi menjadi pendorong bagi pelaku pengolahan kopi untuk meningkatkan produksinya. Oleh karena itu penting untuk memiliki alat penyangrai yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Penelitian ini dilakukan pengujian mesin sangrai tipe silinder yang dilengkapi elemen panas (heater) sebagai pemanas dan diharapkan dapat mempercepat proses penyangraian dengan kadar air sangrai yang lebih seragam.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kinerja mesin sangrai kopi tipe silinder menggunakan elemen panas (heater) untuk penyangraian kopi robusta sebanyak 2 kg/penyangraian.Prosedur penelitian dimulai dengan persiapan alat, pengumpulan data dan analisa data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. Pengamatan dan analisis data meliputi distribusi suhu, kadar air, kuat arus listrik, daya listrik dan kebutuhan energi listrik.Hasil penelitian menunjukan penyangraian dilakukan pada tingkat menengah (medium), nilai distribusi suhu yang dihasilkan berbeda, sesuai jumlah heater yang digunakan. Heater 7, suhu berkisar 70-85 °C dengan kadar air kopi sangrai 2.2 % sementara suhu sangrai 9 Heater, berada di 98.33-114 °C kadar air 1.37 % dengan tingkat kematangan yang relatif beragam. Daya listrik yang diperlukan untuk menjalankan semua elemen panas pada penyangraian dengan 7 heater yaitu 2160.56 watt dengan kuat arus yang diperlukan 9.95 ampere, daya listrik sangrai dengan 9 heater 2726.74 watt arus listrik yang dibutuhkan 12.71 ampere.Test the Performance of Coffee Roasters by Using a Heat Element as a Heat SourceAbstract. Coffee consumption in Indonesia has increased an average of around 3% every year. The increasing value of coffee consumption is driving the coffee processing industry to increase its production. Therefore it is important to have a roaster that can improve the quality and quantity of production. This research is carried out testing a cylindrical type roaster machine equipped with a heating element (heater) as a heater and is expected to accelerate the roasting process with a more uniform roasting water content.The purpose of this study was to determine the performance of a cylindrical type coffee roaster machine using a heat element (heater) for roasting robusta coffee of 2 kg / roasting. The research procedure begins with the preparation of tools, data collection and data analysis. Data collection is done by observation method. Data observations and analyzes include temperature distribution, water content, electric current strength, electric power and electrical energy requirements.The results showed that roasting was done at the medium level (medium), the resulting temperature distribution values were different, according to the number of heaters used. Heater 7, the temperature ranges from 70-85 ° C with 2.2% roasted coffee water content while the temperature of the roasted 9 Heater, is at 98.33-114 ° C the water content is 1.37% with a relatively diverse level of maturity. The electric power needed to run all the heat elements in roasting with 7 heaters is 2160.56 watts with the required strong current of 9.95 amperes, roasted electrical power with 9 heaters 2726.74 watts of electric current required 12.71 amperes.
Analisis Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) di Kabupaten Gayo Lues Rachmatul Rizki; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.236 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12756

Abstract

Abstrak. Terpeliharanya kelangsungan fungsi ekologis dari kawasan hutan di Kabupaten Gayo Lues mempunyai arti penting bagi wilayah di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena secara fisik wilayah Kabupaten Gayo Lues merupakan kawasan hulu dan penyangga bagi wilayah hilir. Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah mendorong meningkatkannya kebutuhan lahan yang menimbulkan persaingan dalam pemanfaatan ruang khususnya kawasan untuk budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis kawasaan hutan Tata Guna Hutan Kesepakatan Kabupaten Gayo Lues. Hasil penelitian menunjukkan luas kawasan hutan Tata Guna Hutan Kesepakatan Kabupaten Gayo Lues hutan lindung seluas 436.089,10 ha atau 78%, hutan produksi terbatas seluas 86.401,43 ha atau 16%, dan hutan produksi seluas 32.500,54 ha atau 6%.Analysis the Forest Use Agreement in Gayo Lues DistrictAbstract. The survival ecological function of the forest area in Gayo Lues District means a great deal to surrounding rigion. This is physically because Gayo Lues District is the upper and buffer zone for lower region. Growing population growth is driving up the land needs that have created competition for room use, especially a land of cultivation. This research is meant to analysis the forest use agreement in Gayo Lues District. Research show the area of forest use agreement in Gayo Lues District is forest protect pants 436.089,10 hectares or 78%, forest limited pants 86.401,43 hectares or 16%, and forest of pants  32.500,54 hectares or 6%.
Strategi Pengembangan Usaha Agroindustri Minyak Nilam Di Kecamatan Darul Hikmah Kabupaten Aceh Jaya Muhammad Khalil Rizki; Mustafa Usman; Teuku Makmur
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.546 KB)

Abstract

Provinsi Aceh merupakan penghasil minyak nilam  terbaik  diseluruh  dunia karena mutunya diakui di tingkat Internasional. Minyak nilam banyak dibutuhkan oleh berbagai  industri di  berbagai  belahan dunia salah satunya sebagai bahan baku dalam pembuatan parfum.  Usaha pengolahan terna nilam  menjadi  minyak nilam skala industri koperasi terdapat di Kabupaten Aceh Jaya yang diusahakan oleh KINA (Koperasi Industri Nilam Aceh). Besarnya  permintaan  terhadap  produksi  minyak nilam  dan  keterbatasan  modal  oleh  Koperasi Industri Nilam Aceh menjadi permasalahan yang harus dihadapi.  Penelitian  strategi  pengembangan usaha agroindustri minyak nilam yang  bertujuan untuk  mengetahui  faktor -faktor  internal  dan  eksternal  apa  yang  mempengaruhi pengembangan  agroindustri,  serta  untuk  mengetahui  strategi  pengembangan  yang menjadi alternatif pada Koperasi Industri Nilam Aceh. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  yang  menjadi  faktor  kunci  internal  pada kekuatan  yang  dimiliki  adalah  sumberdaya  manusia   berkompeten,  manajemen  usaha yang  teratur,  produk  yang  dihasilkan  berkualitas,  jaringan  pemasaran  luas  dan  baik , produk  unggulan,  memiliki  inovasi  varian  wangi  dan  faktor  kunci  internal  pada kelemahan  terdiri  dari  permodalan  yang  masih  kurang,  keterbatasan  bahan  baku, kapasitas  produksi   yang   terbatas,  lokasi  usaha   kurang  strategis,  dan  teknologi   kurang modern. Faktor eksternal pada   peluang adalah   pangsa pasar  yang besar,  adanya dukungan pemerintah,  permintaan  pasar   tinggi,  komunikasi  dengan konsumen terjalin dengan baik,  tidak  ada nya pesaing  produk  sejenis,  kondisi  lingkungan   yang  kondusif  aman  dan  faktor  eksternal pada  ancaman  terdiri  dari  hubungan  dengan  pemasok,  harga  bahan  baku  terus meningkat, ekonomi masyarakat   belum stabil, produk subsitusi dan keadaan iklim yang mempengaruhi bahan baku. Strategi  yang  dapat  diterapkan  Koperasi Industri Nilam Aceh dalam  pengembangan usahanya berdasarkan hasil analisis SWOT berada pada kuadran I yang berarti strategi agresif (strategi SO) yaitu strategi memperluas jaringan pemasaran dengan pemanfaatan pangsa pasar  dan  strategi penetrasi  pasar  dengan  meningkatkan  mutu/kualitas  produk dan  terdapat  5  strategi  pengembangan,  yaitu  :  1) meningkatkan  kapasitas  produksi  dengan  menambah  permodalan;  2)  memperluas jaringan  pemasaran;  3)  menciptakan  inovasi  baru  dan  produk  turunan;  4)  melakukan penetrasi pasar; dan 5) menjaga kerjasama dan hubungan dengan berbagai pihak terkait.
Persepsi Petani Terhadap Risiko Usahatani Padi Sawah Di Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar Ikhram Maulidi; Irwan A. Kadir; Teuku Fauzi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.593 KB)

Abstract

Keberhasilan dalam suatu usahatani padi sawah  yaitu dengan berhasilnya mendapatkan hasil yang tinggi sehingga dapat mensejahterakan petani. Tentunya dalam usaha untuk meningkatkan hasil produksi dalam berusahatani akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,seperti gangguan hama,kekurangan air dan sebagainya. Oleh karena itu perlu untuk meminimalisir risiko-risiko yang akan terjadi sehingga dapat mengurangi tingkat kegagalalan dalam usahatani padi sawah. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Blang Bintang desa data Makmur dan Kayee Kunyet. Objek dalam penelitian ini yaitu petani padi sawah di Desa Data Makmur dan Kayee Kunyet di Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yang diukur dengan menggunakan skala likert.