cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 3 (2007): November" : 5 Documents clear
OPTIMISASI SISTEM USAHA TANI UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN PESISIR BALI UTARA (Optimization of Farming System Towards Sustainable Agriculture in North Coastal Plain Bali) I Wayan Budiasa; Sri Widodo; Slamet Hartono; Irham Irham
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18668

Abstract

ABSTRAKPengembangan sistem usaha tani secara intensif pada lahan kurang subur dengan sumberdaya air yang terbatas dapat mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan permasalahan lingkungan dalam jangka panjang. Akibat degradasi lingkungan yang meningkat dan alokasi sumberdaya yang tidak efisien, sistem usahatani akan tidak berlanjut. Studi ini bertujuan untuk mengoptimalkan model sistem usahatani beririgasi dan menilai keberlanjutannya. Dengan menggunakan analisis programasi linier, petani di kawasan pesisir Bali bagian Utara telah optimal dalam alokasi sumberdaya yang diindikasikan oleh pencapaian solusi optimal pada model sistem usahatani konvensional yang mencerminkan kondisi kenyataan. Dengan berbagai penyesuaian model sistem usahatani konvensional dapat diperluas menjadi model sistem usahatani berkelanjutan. Diperoleh bahwa sistem usahatani berkelanjutan lebih baik ketimbang sistem usahatani konvensional. Karena semua komponen dan indikator keberlanjutan telah dipertimbangkan dalam model dan semua kriteria berkelanjutan telah tercapai dalam solusi optimal, maka model sistem usahatani yang telah diperluas tersebut juga menjamin bahwa pengembangan sistem usahatani beririgasi pda level rumah-tangga akan dapat berkelanjutan. Agar sistem usahatani rumah-tangga dapat berlanjut, petani seharusnya menggunakan air tahan sebesar atau kurang dari 8.547 L/dt, menambah pupuk organik dari pupuk kandang minimal sebesar 5t/ha/th, meneruskan sistem usahatani campuran dan rotasi tanaman, tetap mempertimbangkan pengeluaran minimum rumah-tangga, dan bersedia membayar harga air sebesar Rp 1.218,29/m3. Model sistem usahatani berkelanjutaan yang dihasilkan dari studi ini telah melalui proses validasi. Dengan demikian, hasil tersebut dapat dikontribusikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Juga, hasil tersebut dapat dijadikan pilihan praktek manajemen oleh petani dalam usahataninya. ABSTRACTIntensive farming system development (FSD) on poor fertile soil with limited water source can lead to trade-off between economic benefit in the short run and environmental problems in the long run. As environmental degradation increases and inefficient in resources allocation, farming system will become unsustainable. This study aims to optimize irrigated farming system model and to assess its sustainability. By using linear programming analysis, local farmer in north coastal plain of Bali was optimal in resources allocation indicated from optimal solution of conventional farming system model which conforms to observed behavior. By several adjustments, conventional farming system model can be extended to sustainable farming system model. It is found that the sustainable farming system is better than the conventional farming system. Since all components and indicators of sustainability were considered into model and all criteria of sustainability were fulfilled by optimal results, the extended farming system model also guarantees that irrigated farming system development at household level will become sustaipable. To make the sustainable farming system at household level, the farmer should be able to allocate the groundwater less than or equal to 8.547 Lis, to add the organic fertilizer from manure more than or equal to 5 t/ha/yr, to continue the mixed-farming system and crops rotation, to consider minimum household expenditure, and to put the sustainable value in the use of water in approximately Rp I ,218.29/CM into effect. The sustainable farming system model generated from this study passed validated process. Thus, it can be contributed to scientific development. Also, its results can become best management practices by local farmers on their farms.
KONSERVASI SAUJANA BUDAYA KAWASAN BOROBUDUR - ZONASI ULANG DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM (Conservation of the Borobudur Cultural Landscape: Rezoning of area Management by Ecosystem Approach) Amiluhur Soeroso
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18669

Abstract

ABSTRAKDalam banyak aspek, nilai saujana budaya Borubudur memiliki arti penting bagi masyarakat yang hidup di sekitamya. Namun demikian, sejak selesainya proyek restorasi, dan kemudian Candi Borobudur dijadikan sebagai pus aka dunia pada tabun 1991, saujana budayanya menghadapi berbagai konftik kepentingan yang disebabkan oleh ketidak-tepatan zonasi lama (karena hanya berorientasi kepada candi, monumen atau artifak sehingga menafikan ekosistem) dan pengelolaan yang dilakukan oleh banyak institusi. Masalah ini mengakibatkan risiko degradasi kualitas saujana budaya (polusi fisik, visual dan kebudayaan) yang berpengaruh terhadap eksistensi situs Borobudur di masa depan. Berkaitan dengan kelangkaan sumberdaya lingkungan yang dimilikinya, dibutuhkan studi mendalam dengan fokus mengkonsolidasikan dan melindungi integritas saujana budaya tersebut. Data zonasi ulang dengan tujuan untuk pengelolaan dilakukan dengan menampalkan peta-peta tematik berdasarkan pendekatan ekosistem. Hasilnya adalah: (1) zonasi konservasi Kawasan Borobudur dialokasikan menjadi empat bagi!ln (Mandala), (2) pentingnya konservasi pusaka sebaiknya dikomunikasikan melalui sarana pendidikan terhadap para pengguna dan menempatkan masyarakat di sekitamya sebagai titik penting dalam pengelolaan kawasan Borobudur. Dengan demikian, kelestarian Borobudur di masa depan tergantung pada kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Manajemen Kawasan Borobudur tidak dapat hanya fokus pada situs, material atau artifak semata tetap harus bergeser untuk memperhatikan ruang dan kawasan tempat manusia hidup. ABSTRACT The Borobudur cultural landscape values have conferred important meanings in many aspects for those who live in its surrounding neighborhood. Nevertheless, since the beginning of Borobudur restoration project and the acknowledgement of Borobudur Temple as the world's heritage in 1991, its cultural landscape is continually facing out of the ordinary kinds of conflicts caused by unappropriate old zoning area (because just oriented to the temple, monument or artifact so that neglected its ecosystem) and the taking part of many authorities in managing Borobudur area. This issue brings a serious concern on the risk of degrading quality of cultural landscape (pollution of physical, visual and cultural) which affecting the future existence of Borobudur’s site. Recognized to the scarcity nature of environmental resources, a widespread research on such area is required and should be conducted with focus on consolidating and protecting the integrity of its cultural landscape. Data of rezoning area were obtained from thematic maps and after that being super imposed basically on ecosystem approach. Its product is zone of management. The results indicate that: (1) the zoning allocation of Borobudur conservation area is specified in four parts called ‘ekomuseum’ (ecomuseum), ‘malar’ (continues), ‘trubus’ (growth) and ‘rumbai’ (fringe), (2) the importance of heritage conservation should be communicated by means of educating the users and putting the surrounding society as the focal point in managing Borobudur area. For the reason, the survival of Borobudur’s site in the future will fully depend on its sustainable development policy to those products. Management of Borobudur should have not to focus on sites, material or artifacts and shifting to space or area where human being living.
PEMANFAATAN LIMBAH BIOMASSA CANGKANG KAKAO DAN KEMIRI SEBAGAI BAHAN BAKAR BRIKET (Utilization of Biomass Wastes from Cocoa and Candlenut Shells as Fuel Briquette) Harwin Saptoadi; Moch. Syamsiro; Bisrul Hapis Tambunan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18670

Abstract

ABSTRAK Biomassa adalah sumber energi utama jutaan manusia di dunia, akan tetapi penggunaannya menurun ketika batubara, minyak dan gas tersedia cukup melirnpah. Namun akhir-akhir ini perhatian muncul kembali karena terjadinya krisis energi dan isu-isu lingkungan. Pemanfaatan biomassa untuk menggantikan bahan bakar fosil dapat menurunkan persoalan emisi CO2 global. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji alternatif sumber energi terbarukan dengan pemanfaatan limbah biomassa cangkang kakao dan kemiri. Penelitian dilakukan dengan menghaluskan biomassa dengan ukuran partikel kurang dari I mm. Kemudian 5 gram campuran bahan baku dengan bahan pengikat gel tepung kanji dengan perbandingan 70:30 untuk kakao dan 80:20 untuk kemiri dibriket dalarn cetakan berdiarneter l6 mm. Setelah dibriket kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50 oC selama 5 jam. Pembakaran dilakukan dalam ruang bakar pada temperatur dinding 350 oC dan laju aliran udara bervariasi antara 0,1 - 0,4 m/s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang kakao dan kemiri mempunyai nilai kalor masing-masing 16.998 dan 21.960 kJ/kg. Emisi CO cukup signifikan pada tahap devolatilisasi. Cangkang kakao memberikan total emisi CO lebih tinggi dibandingkan dengan cangkang kemiri. Laju aliran udara juga berpengaruh terhadap emisi CO yang dihasilkan. Penambahan laju aliran udara akan mengurangi emisi CO, hal ini karena adanya penambahan suplai oksigen sehingga pemnbakaran dapat berlangsung lebih sempurna. ABSTRACT Biomass was the  primary source of energy for millions of people in the world, but when coal, oil, and gas became widely available, its use was declined. However, in recent years interest in biomass utilization increases because of energy crisis and environmental issues. Utilization of biomass for substituting fossil fuel can reduce global CO2 emission problem. The objective of this research is to study alternative energy sources that utilize biomass waste from cocoa and candlenut shells. Biomass materials were crushed until particle size of less than 1 mm were obtained. Five grams mixture  of biomass and binder with composition 70:30 for cocoa and 80:20 for candlenut were briquetted in 16 mm cylindrical mould and dried in an oven at  50C for 5 hours. Combustion tests were conducted in a combustion chamber at constant wall temperature 350C and air velocity ranges between 0.1 – 0.4 m/s. The results show that cocoa and candlenut shells have calorific value of 16,998 and 21,960 kJ/kg respectively. The CO emission was generated significantly during devolatilization phase. Cocoa shell generate total CO emission higher than that of candlenut shell. The increase of air velocity can reduce CO emission, because more oxygen is supplied to the briquette that can help completing the combustion.
STUDI BIODEGRADASI POLI HIDROKSI BUTIRAT DALAM MEDIA CAIR (Biodegradation of Poly Hydroxy Butyrate in Liquid Medium) Eka Sari; Siti Syamsiah; Sarto Sarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18671

Abstract

ABSTRAK Poli hidroksi butirat (PHS) termasuk dalam golongan bioplastik. Plastik jenis ini diharapkan dapat menjadi plastik altematif yang ramah lingkungan sebagai pengganti plastik sintetis yang bersifat sangat suI it terdegradasi. Penelitian ini bertujuan menguji potensi biodegradabilitas PHS komersial dalam media cair dengan menggunakan lumpur aktif dan unit pengolahan limbah pabrik plastik sintetik. Identifikasi proses degradasi dilakukan dengan cara mengamati perubahan karakteristik PHS yang meliputi perubahan visual, perubahan morfologi permukaan, penurunan berat, perubahan kristalinitas, dan perubahan berat molekul selama 15 pekan inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan PHS se1ama proses degradasi dapat dilihat secara visual. Disamping itu, morfologi permukaan mengalami perubahan signifikan. Adapun penurunan berat, kristalinitas, dan berat molekul berturut-turut mencapai 22,91 %,57.44 %, dan 29,52 %. ABSTRACT Poly hidroxy butyrate (PHB) is a member of bioplastic group. This type of plastic is expected to be alternative plastic which is environmently friendly to replace synthetic plastic that is known to be very difficult to degrade. This research aims to test the biodegradability of commercial PHB in liquid mediums used activated sludge from waste water treatment plant in plastic synthetic factory. Identification of biodegradation process  was done by monitoring the changes of PHB characteristics including visual change, surface morphology change, reduction of weight, reduction of crystallinity, and reduction of molecular weight during 15 weeks incubation. The result shows that  the damage of PHB sample during biodegradation could be seen visually and liquid medium show the existence of change which can be seen visually and the surface morphology of PHB changed significantly. Weight reduction, crystallinity  reduction, and molecular  weight reduction  revealed of 22.91%, 57.44%, and 29.52% respectively.
OKSIDASI SENYAWA ORGANIK DENGAN RADIASI UV DAN HIDROGEN PEROKSIDA : TOLUEN DALAM LARUTAN (Oxidation of Organic Compounds with UV Radiation And Hydrogen Peroxide : Toluene in Aqueous Solutions) I Made Bendiyasa; Sarto Sarto; Aprodhita Kusumaningtyas
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18672

Abstract

ABSTRAK Umumnya limbah cair mengandung bermacam-macam senyawa organik dan unorganik. Sebagian besar senybawa organik, diantaranya adalah senyawa-senyawa aromatis, seperti toluene, tidak dapat dikenakan proses kemis maupun biologis konvensional. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian yang terkait dengan oksidasi toluen dengan gabungan UV (ultra violet) dan H2O2 yang sering disebut Advance Oxidation Processes (AOPs). Percobaan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal H2O2 maupun pH mempengaruhi tingkat oksidasi toluen. Order reaksi yang sesuai dengan sistem ini adalah reaksi order satu semu terhadap toluen. Hubungan nilai kapparent dengan konsentrasi awal H2O2 adalah linier sedangkan hubungan kapparent dengan pH adalah eksponensial. Pengaruh konsentrasi awal H2O2 terhadap kapparent dapat dituliskan dalam bentuk persamaan kapparent = 0,0015 Cinitial + 0,0204 min-1 dan pH awal terhadap konsentrasi kapparent adalah sebagai berikut kapparent =  0,0309 0,027 (pH) min-1. Pengaruh gabungan nkonsentrasi H2O2 dan pH awal dapat dinyatakan dalam persamaan kapparent  = (0,0374 = 0,0009 Cinitial) e -0,0316 (pH) min-1ABSTRACT Generally, waste water contains a large variety of organic and inorganic compounds. Most organic compounds are resistant to conventional chemical and biological treatments. Among them are aromatic compounds, such as toluene. This paper presents the results of experimental oxidation of toluene with combinations of UV and H2O2 which are usually called Advanced Oxidation Processes (AOPs). The experiments were performed in a batch system at room temperature. The experimental results exhibit that both initial concentration of hydrogen peroxide and initial pH affect the degree of oxidation. It is found that the order of reaction is pseudo first order with regard to toluene. The value of kapparent. is observed linearly with respect to the initial hydrogen peroxide concentration and exponentially with regard to the initial pH. The effect of the initial hydrogen peroxide concentrations on  kapparent is expressed as kapparent = 0,0015 Cinitial + 0,0204 min-I and of the initial values of pH is kapparent =  0,0309 -0,027 (pH) min-I. The effect of Cinitial and pH on kapparent can be expressed as kapparent = (0,0374+ 0,0009 Cinitial) e -0,0316 (pH) min-1.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue