cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2010): Maret" : 6 Documents clear
SISTEM PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG PADA WATER POND DAN APLIKASI MODEL ENCAPSULATION IN-PIT DISPOSAL PADA WASTE DUMP TAMBANG BATUBARA (Acid Mine Drainage Treatment System in Water Pond and Application of Encapsulation In-Pit Disposal Model in Waste Dump) Andy R. Erwin Wijaya
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18521

Abstract

ABSTRAKKegiatan pertambangan batubara umumnya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di lokasi penambangan. Salah satu dampak negatif yang signifikan adalah terjadinya pencemaran air asam tambang yang dapat merusak fungsi lingkungan seperti komponen air dan tanah. Umumnya lokasi tambang batubara yang berpotensi besar sebagai sumber terbentuknya air asam tambang adalah kolam penampungan air tambang (water pond) dan tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dump). Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan rembesan air asam tambang yang berasal dari kolam penampungan air (water pond) dan mengurangi terbentuknya air asam tambang pada tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dunp). Sistem pengendalian pencemaran air asam tambang meliputi pengolahan air asam tambang (water pond) dan pengelolaan material sulfida (waste dump). Metode pengolahan air asam tambang adalah menetralisasi air asam dengan reagen alkali. Reagen alkali yang paling efektif dan ekonomis adalah batugamping (kalsium karbonat). Jumlah batugamping yang dibutuhkan untuk menetralkan air asam lambang pada water pond (5040 m3) sebesar 104,56 kg. Pengelolaan material buangan sulfida (waste dump) adalah menerapkan model encapsulation in-pit disposal. Hal ini sangat efektif untuk mencegah terbentuknya air asam tambang. Material perlapisan yang digunakan adalah lempung (clay), karena mempunyai nilai permeabilitas yang sangat kecil yaitu sebesar 2,3148 x 10-9 m/det dan ketersediaannya mencukupi. ABSTRACTCoal mining activity generally can generate negative impact to environment on mining location. One of the negative impact is contamination of acid mine drainage which able to destroy environment and ecosystem as water and soil. High potency source of acid mine drainage formed on coal mining location are water pond and waste dump. This aim of the research are control of acid mine drainage from water pond and prevention of acid mine drainage formed on the waste dump. The control system of acid mine drainage contamination included treatment of acid mine drainage into water pond and management of oxide/benign waste on the waste dump. Treatment method is neutralization of acid mine drainage into water pond using alkali reagent. The most effective and economic alkali reagent is limestone. Amount of limestone needed to neutralize of acid mine drainage (5040 m3) into water pond is 104.56 kg. The management of oxide/benign waste is application of encapsulation in-pit disposal model. This model is more effective to prevent acid mine drainage formed. Cover materials are often clay subsoils and have been used for covering to prevent oxidation. The clay have high compaction rates and low permeability (2.3148 x 10-9 m/s) and this material is sufficient availability. 
PENURUNAN TOKSISITAS LEACHATE (AIR LINDI) DARI TPAS PUTRI CEMPO MOJOSONGO SURAKARTA DENGAN PAC (POLY ALUMINUM CHLORIDE) (Toxicity Reduction of Leachate from Putri Cempo Municipal Landfill (TPAS) Mojosongo Surakarta with PAC (Poly Aluminium Chloride) Dwi Astuti; Sarto Sarto; Susi Iravati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18522

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah menetapkan persen penurunan toksisitas sesudah diperlakukan dengan PAC. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen murni dengan pretest-posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah air lindi yang berasal dari TPAS Putri Cempo M<rjosongo Surakarta. Sampel penelitian berupa air lindi sebanyak 250 liter yang diambil dari bagian outlet, cara pengambilan sampel dengan metode quota sampling. Hasil menunjukkan bahwa toksisitas air lindi terhadap ikan uji berdasarkan LC50 24-96 jam sebagai berikut: (1) tanpa perlakuan PAC: 25,06% (24 jam); 21,07% (48 jam); 17,49% (72 jam); dan 14,97% (96 jam). (2) Dengan perlakuan PAC: 89,44% (24 jam); 63,73% (48 jam); 49,99% (72 jam); dan 40,96% (96 jam). Sehingga persentase penurunan toksisitasnya adalah: 64,38% (24 jam), 42,66% (48 jam), 32,50% (72 jam), dan 25,99% (96 jam).  ABSTRACTThe aims of the current study were to determine percentage of leachate toxicity reduction after treatment with PAC. The experimental design used was true experimental study with pretest-posttest with control group design. Population in this study was leachate from Putri Cempo Landfill (TPAS Putri Cempo) Mojosongo Surakarta. The sample was 250 litres leachate obtained from the landfill outlet by quota sampling method. The results revealed the leachate toxicity based on LC50 24-96 hours were: (1) without PAC treatment: 25.06% (24 hours), 21.07% (48 hours), 17.49% (72 hours), and 14.97% (96 hours); (2) with PAC treatment: 89.44% (24 hours), 63.73% (48 hours), 49.99% (72 hours), and 40.96% (96 hours). Therefore, the toxicity reductions were: 64.38% (24 hours), 42.66% (48 hours), 32.50% (72 hours), and 25.99% (96 hours).
IMPACT OF TROPICAL RAIN FOREST CONVERSION ON THE DIVERSITY AND ABUNDANCE OF TERMITES IN JAMBI PROVINCE (Dampak Konversi Hutan Tropika Basah Terhadap Keragaman Jenis dan Kelimpahan Rayap di Provinsi Jambi) Suryo Hardiwinoto; Sri P Rahayu; Widyatno Widyatno; Haryono Supriyo; FX Susilo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18523

Abstract

ABSTRACTThe degradation of tropical rain forest might exert impacts on biodiversity loss and affect the function and stability of the ecosystems. The objective of this study was to clarify the impacts of tropical rain forests conversion into other land-uses on the diversity and abundance of termites in Jambi, Sumatera. Six land use types used in this study were primary forest, secondary forest, rubber plantation, oil-palm plantation, cassava cultivation and Imperata grassland. The result showed that a total of 30 termite species were found in the six land use types, with highest species richness and abundance in the forests. The species richness and the relative abundance of termites decreased significantly when the tropical rain forests were converted to rubber plantation and oil-palm plantation. The loss of species richness was much greater when the forests were changed to cassava cultivation and Imperata grassland, while their abundance greatly decreased when the forests were degraded to Imperata grassland. Termite species which had high relative abundances in primary and secondary forests were Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes longinasus and Procapritermes setiger. ABSTRAK Kerusakan hutan tropika basah dapat menimbulkan dampak lingkungan berupa penurunan keanekaragaman hayati serta terganggunya fungsi dan stabilitas ekosistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak konversi hutan tropika basah  menjadi bentuk penggunaan lahan lain di Jambi Sumatra terhadap keragaman jenis dan kelimpahan rayap. Enam tipe penggunaan lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hutan primer, hutan sekunder, tanaman karet, tanaman kelapa sawit, kebun ketela pohon dan padang alang-alang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 30 jenis rayap pada 6 tipe penggunaan lahan tersebut, dengan keragaman jenis dan kelimpahan individu rayap tertinggi pada lahan hutan. Kekayaan jenis dan kelimpahan relatif rayap menurun secara nyata apabila ekosistem hutan dikonversi menjadi tanaman karet dan kelapa sawit. Penurunan kekayaan jenis menjadi jauh lebih besar ketika hutan dikonversi menjadi kebun ketela pohon dan padang alang-alang. Kelimpahan individu rayap akan sangat menurun apabila terjadi perubahan ekosistem hutan menjadi padang alang-alang. Jenis-jenis rayap yang mempunyai kelimpahan tinggi pada ekosistem hutan adalah Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes langinasus dan Procapritermes stiger.
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN KEKRITISAN DI DAS LUK ULO HULU JAWA TENGAH (Use of Remote Sensing Data and GIS (Geographic Informatiion System) for Monitoring Cryticalness in DAS Luk Ulo Stream, Central Java Province) Puguh Dwi Raharjo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18524

Abstract

ABSTRAKDAS Lukulo Hulu adalah DAS yang berada di Jawa Tengah dengan koordinat 340.000 - 365.000 mT dan 916.0000 - 917.5000 mU. Aktifitas masyarakat dimungkinkan sangat mempengaruhi kondisi DAS, yaitu dengan ekploitasi sumberdaya alam (batu, pasir). Pada DAS Lukulo Hulu mempunyai 7 (tujuh) Sub DAS yaitu, DAS Lukulo, DAS Lokidang, DAS Maetan, DAS Gebang, DAS Loning, DAS Mondo, dan DAS Cacaban. Pehitungan lndeks Erosivitas Tertimbang menggunakan SIG (Sistem lnformasi Geografis) memperlihatkan bahwa DAS Lokidang merupakan DAS kritis yang mempunyai prioritas pertama, nilai dari total lndeks Erosivitas Tertimbangnya sebesar 1082,62 dengan luas DAS sebesar 3602,705 hektar. Darr sudut nandang penutup lahan (vegetasi) dengan metode penginderaan jar.rh menggunakan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) DAS Gebang, DAS Cacaban, dan DAS Lukulo merupakan DAS yang sangat mudah rusak (erosi) hal tersebut karena pentrukaan lahannya tidak terdapat vegetasi sehingga mudah tererosi.  ABSTRACTLukulo Upstream Watershed is watershed which located in Central Java with coordinate 340.000  - 365.000 mT and 916.0000 - 917.5000 mU. Human activities  which still immeasurable influence the watershed condition, its exploitation of natural resouces (rocks, sand). In Lukulo Upstream Watershed there are seven sub  watershed they are Lukulo sub watershed, Lokidang sub watershed, Maetan watershed, Gebang watershed, Loning watershed, Mondo watershed, and Cacaban watershed. Calculation using GIS (Geographic Information System) for  deliberated erosivity index formula found that Lokidang watershed is first priority of watershed  criticaly, value the deliberated erosivity index equal to 1082,62 broadly 3602,705 hectare. While from viewpoint  land cover (vegetation)  with remote sensing method transformation using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Gebang watershed, Cacaban watershed, and Lukulo watershed is watershed which is very easy of damage (erosion) because the land surfaces which do not closed with vegetatation so erosion is easy.
PRINSIP KERUANGAN BAGI PETANI LADANG TBMBAKAU DI LINGKUNGAN DESA KAPENCAR, LERENG GUNUNG SINDORO, WONOSOBO (The Spatial Principal By the Tobacco Farmer at the Kapencar Village, on the Slope of the Sindoro Mountain, Wonosobo) Sri VG Rejeki; Nindyo Soewarno; Sudaryono Sudaryono; Yoyok T. W. Subroto; Heddy SA Putra
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18525

Abstract

ABSTRAKTipologi bangunan rumah Jawa yang ada selama ini, sebagian besar merupakan bagian dari Arsitektur Kraton (Joglo, Trajumas, Limasan), dan sebagian kecil mengungkapkan bangunan pedesaan (srotongan, panggang pe). Tipe-tipe bangunan yang ada itu mengungkapkan karakter dari atap yang melingkupi bangunan, bukan dilihat dari aspek tata ruang sesuai sistem sosialnya. Fenomena menunjukkan sistem tata keruangan di desa Kapencar sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan ruang gerak para petani tembakau. Dengan metode penelitian naturalistik kualitatif, riset ini memperoleh hasil bahwa di Kapencar terdapat 3 kelompok masyarakat yang berkaitan dengan tembakau, yaitu: petani pemilik ladang luas/petani priyayi, petani pemilik ladang kecil-buruh tani, dan pengrajin tembakau. Masing-masing kelompok ini memiliki karakter tata ruang bangunan dan lingkungan yang unik, baik dalam skala mikro (sistem keruangan rumah), skala messo (sistem keruangan desa) sampai skala makro (sistem keruangan antara desa). Sesuai dengan kelompok masyarakat, terdapat 3 pola keruangan rumah yaitu bagi petani ladang luas yang mengutamakan ruang jogan dan loteng/pyan, bagi perajin tembakau yang mengutamakan ruang jogan, loteng dan pyan, dan bagi pemilik ladang kecil maupun buruh tani yang mengutamakan pawon sebagai ruang berkumpul. ABSTRACTThe Java Architecture typologies dominated by Kraton Architecture (Joglo, Trajumas, Limasan), and the village/ rural architecture (srotongan, panggang- pe). Those are expressed about the roof type, but not explored about the spatial setting aspect that is suitable the social system.  Some phenomena’s indicated that the spatial setting at the Kapencar Village very specifically, that are suitable with the tobacco farmers activities. By the naturalistic inquiry, the research resulted that the farmer at Kapencar Village divided into three classifications of farmer. Those are the rich farmer/ priyayi farmer, the poor farmer/ farm worker and the craft farmer. Each of them has the uniqueness of spatial setting for both their houses and environment. The uniqueness be applied for the three spatial setting typologies suitable for the classification of farmer. The priority rooms of the priyayi farmer houses are the jogan and loteng/pyan, the priority room of farm craft farmer houses are the jogan, loteng and pyan, and the priority room of the farm worker houses are the pawon as the communal space.
ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN AGROWISATA KANDANG KELOMPOK TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH DI DESA GIRIKERTO TURI SLEMAN YOGYAKARTA (The Analysis of Public Perception Toward the Existence Of Etawah Crossbreed Goat Agrotourism in) Tri Anggraeni Kusumastuti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 1 (2010): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18526

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar persepsi masyarakat sebagai pengguna dilihat dari sisi ekonomi, lingkungan , dan sosial. Penelitian dilakukan pada sentra usaha Kambing Peranakan Etawah sistem kandang kelompok di Desa Girikerto Turi Sleman. Pengarnbilan sampel secara purposive pada Dusun Nganggring, Dusun Kemirikebo, dan Dusun Sukorejo sebanyak 40 sampel. Persepsi dibagi menjadi 5 bagian yaitu skor I (sangat tidak setuju), skor 2 (tidak setuju), skor 3 (netral), skor 4 (setuju), dan skor 5 (sangat setuju). Uji validitas sampel menggunakan Analisis Faktor sedangkan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach's didukung software SPSS versi 13. Persepsi masyarakat berdasar pendekatan matematis dan statistik dengan one sample t test. Untuk mengetahui besar perbedaan persepsi menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji Latin of Square (LSD). Perhitungan rerata skor total masyarakat dari sisi ekonomi menyatakan respons tidak setuju terhadap keberadaan kandang kelompok Kambing PE. Dari sisi lingkungan dan sosial masyarakat ketiga dusun menyatakan setuju terhadap keberadaan kandang kelompok. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan apresiasi masyarakat terhadap keberadaan kandang kelompok Kambing PE adalah setuju. Hal ini menunjukkan potensi kandang kelompok sebagai agrowisata ternak dari sisi ekonomi perlu dipertimbangkan sedangkan dari sisi lingkungan dan sosial sudah mendatangkan manfaat bagi masyarakat. ABSTRACTThe objectives of this research were to analyze  how the public perception as the users viewed from economic, environmental, and social sides. The study was carried out in the central of Etawah Crossbreed Goat in Village Group system in Girikerto Village, Turi, Sleman. The sampling was using purposive sampling in Nganggring, Kemirikebo, and Sukorejo hamlets of 40 samples. The perception were divided into 5 parts: score 1 (completely disagree), score 2 (disagree), score 3 (neutral), score 4 (agree), and score 5 (completely agree). Parameter of validity test was using Factor Analysis. The reliability testing was using Alpha Cronbach supported by SPSS version 13 software. Perception tools were mathematics and statistics estimated with one sample t test.  The calculation of average score of attitude and perception was using Analysis of Variance (ANOVA) with Latin of Square Test (LSD). The calculation of average score of economic side from three subvillages  stated that they disagreed toward the existence of PE Goat in village group system. From environmental and social sides, people in three subvillages said   agreed. The overall result showed that there was tendency of people appreciation toward the existence of PE Goat in village group system to be agree. This showed the potential of village group system as farm agro tourism from economic view must be considered, but from environmental, and social sides had been useful for the people.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue