cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 2 (2014): Juli" : 16 Documents clear
KAJIAN BENTUK DAN SENSITIVITAS RUMUS INDEKS PI, STORET, CCME UNTUK PENENTUAN STATUS MUTU PERAIRAN SUNGAI TROPIS DI INDONESIA (Assessment of the Forms and Sensitivity of the Index Formula PI, Storet, CCME for The Determination of Water Quality Status) Sri Puji Saraswati; Sunyoto Sunyoto; Bambang Agus Kironoto; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18536

Abstract

ABSTRAKMetode-metode Pollution Index (USA), metode Storet (USA) dan metode CCME (Canada) adalah metode indeks kualitas air (IKA) untuk penentuan status mutu air. Dua yang pertama banyak digunakan praktisi lingkungan di Indonesia karena dirujuk dalam Keputusan Menteri  Lingkungan Hidup No. 115/2013. Ketiganya dapat menghitung IKA dengan baku mutu kualitas air lokal sungai kajian. Mengingat negara penyusun metode tersebut  berbeda kondisi lingkungannya dan masing-masing metode mempunyai faktor spesifik untuk menghitung IKA, maka perlu dikaji kesesuaian masing-masing metode untuk diterapkan di sungai tropis Indonesia. Masing-masing metode akan dikaji bentuk persamaan dan  sensitivitasnya dengan menggunakan banyak parameter kualitas air dan menggunakan jumlah parameter kualitas air tertentu mengacu pada metode IKA yang dikembangkan di negara tropis lainnya. Kajian menggunakan data pemantauan “Prokasih” di sungai Gadjah Wong Yogyakarta tahun 1996/1997 - 2011/2012. Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun metode IKA sungai tropis Indonesia pada umumnya dan di sungai Gadjah Wong khususnya serta program pengelolaan kualitas air untuk pengendalian pencemaran air sungai, dengan target konservasi air sungai yang multifungsi atau overall/general use(memenuhi kriteria kesehatan  air baku, memenuhi kriteria estetika serta kriteria ekologi/aman bagi kehidupan di perairan). Hasil kajian menunjukkan bahwa dibandingkan 2 metode lainnya, metode CCME dinilai paling obyektif (secara statistik) menghitung IKA perairan sungai Gadjah Wong. CCME paling sensitif merespon dinamika indeks mutu air di setiap lokasi pemantauan,  lebih universal untuk dapat diaplikasikan di luar negara penyusunnya. Namun untuk diaplikasikan di sungai Gadjah Wong, metode CCME perlu diadaptasi terhadap beberapa hal yaitu jumlah dan jenis parameter kualitas air yang dianggap signifikan, jumlah dan kelas mutu air. Adaptasi mempertimbangkan program pengendalian pencemaran air dan strategi operasional/manajemen aliran sungai yang ekologis dan berkelanjutan. Skor batas dan makna setiap kelas mutu air dalam IKA harus diverifikasi terhadap data lingkungan lain misal hasil biotilik ataupun bioassay sehingga status indeks kualitas air tidak bertentangan dengan kondisi biologi di sungai. Pelibatan parameter bakteriologi kualitas air (Escherichia Coli dan Total Coliform) serta Electric Conductivity/EC sebagai parameter kualitas air signifikan dalam metode IKA masih perlu dikaji lebih lanjut  untuk pengembangan metode IKA khas perairan sungai di negara tropis Indonesia. ABSTRACTPollution Index method (USA), Storet method (USA)  and CCME (Canada) method  are  water quality index (WQI) methods used to determine water quality status of a river, the first two are widely used by environmental practioners in Indonesia since it is referred  by Environmental Ministry Regulation No. 115/2003.  These methods can be used based on local water quality standard. Considering that the country of WQI methods were developed have different environmental condition and each method has its own characteristics to calculate the index,  it is necessary to review a suitable WQI method for Indonesia tropical stream in general and for Gadjah Wong stream in particular. This research reviewed the form of the formula of each index, then analyze  the sensitivity of each index by  using many water quality parameters with and without bacteriology, and reducing the number of water quality parameters similar to those WQI index developed in other tropical countries. Indexes are reviewed using “Prokasih” (Clean River Program) monitoring data at Gadjah Wong stream from 1996/1997 to 2011/2012. Water quality statuses are reviewed in the contex of river water quality management for water pollution prevention, with the target of river water conservation which is “multifunction” or “overall/generall use” to meet health criteria for raw water, aesthetical criteria and ecological safety for aquatic life. Research conclusion showed that compared to the other 2 methods, CCME is considered as the most objective (statistically) to determine water quality index for river waters. It is also the most sensitive to respond to the dynamic of water quality index at each monitoring location (spatial & temporal). This method is also considered as more universally applicable outside of the country it was developed. To be applied at Gadjah Wong stream however, CCME index method needs to be adapted on the number and types of significant water quality parameters. The number of quality status classes of CCME index should be limited to simplify water quality management as well as ecological and sustainability of operational & management strategy. Score limit of  every class and significance of water quality classes need to be verified againts other environmental data such as results from biomonitoring and bioassay, the status results of the water quality index should not contradict with the stream biological condition. The use of bacteriology (Escherichia Coli and Total Coliform) and Electrical Conductivity/EC water quality parameters as criteria should be further reviewed for development of WQI method specific for Indonesia tropical stream
PENURUNAN KADAR PROTEIN LIMBAH CAIR TAHU DENGAN PEMANFAATAN KARBON BAGASSE TERAKTIVASI (Protein Reduction of Tofu Wastewater Using Activated Carbon Bagasse) Candra Purnawan; Tri Martini; Shofiatul Afidah
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18537

Abstract

ABSTRAKPenurunan kadar protein limbah tahu telah dilakukan dengan pemanfaatan karbon Bagasse teraktivasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum dari karbon teraktivasi NaOH dan H2SO4 dalam menurunkan kadar protein limbah cair tahu dan mengetahui jenis isoterm adsorpsi dari karbon aktif yang digunakan untuk menyerap protein limbah cair tahu. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi NaOH yang optimum untuk aktivasi karbon aktif 15%, massa optimum karbon bagasse teraktivasi NaOH adalah 2 g dan penurunan kadar proteinnya 71,95%, sedangkan massa optimum karbon bagasse teraktivasi H2SO4 adalah 1 g dengan penurunan kadar protein sebesar 38,19%. Waktu kontak optimum karbon bagasse teraktivasi  NaOH dan H2SO4 adalah 12 jam. Adsorpsi protein oleh karbon bagasse teraktivasi NaOH mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir dan Freundlich sedangkan karbon bagasse teraktivasi H2SO4 dominan mengikuti isoterm Freundlich. ABSTRACTThe protein reduction of tofu wastewater using activated carbon from bagasse  had been conducted. The purposes of this research were to analysis optimum condition of activated carbon bagsse using NaOH and H2SO4 for reduction protein in tofu wastewater, and analysis adsorption isotherm of activated carbon with protein. The result showed that optimum mass of carbon bagasse activated NaOH was  2 g with 71.95% protein reduction, while carbon bagasse activated H2SO4 has 1 g with 38.19% protein reduction. The optimum contact time between protein and activated carbon (with NaOH and H2SO4) was happened in 12 hours. Adsorption protein with carbon bagasse activated NaOH had followed Langmuir and Freundlich adsorption isotherm, while adsorption with carbon bagasse activated H2SO4 dominantlyhad followed Freundlich adsorption isotherm
KANDUNGAN KADMIUM (Cd) PADA TANAH DAN CACING TANAH DI TPAS PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Cadmium (Cd) Content in Soil and Earthworms in Piyungan Controlled Landfill Municipal Waste Disposal, Bantul Yogyakarta Special District) Heny Mayasari Setyoningrum; Suwarno Hadisusanto; Tukidal Yunianto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18538

Abstract

ABSTRAKAnalisis kandungan logam berat cadmium (Cd) pada tanah dan cacing tanah telah dilakukan di TPAS Piyungan Bantul untuk mengetahui tingkat pencemaran Cd dalam tanah. Penelitian dibagi menjadi penelitian di lapangan yang meliputi pengambilan sampel tanah-cacing tanah dan pengukuran parameter lingkungan, serta penelitian di laboratorium yang meliputi analisis kandungan kadmium, bahan organik dan tekstur tanah. Tingkat pencemaran kadmium ditentukan menggunakan Indeks Kontaminasi-Polusi. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada tanah di TPAS Piyungan antara tidak terdeteksi (< 0.01) – 0.47 ppm. Kandungan kadmium di TPAS Piyungan lebih rendah dibandingkan jumlah maksimum kadmium yang diperbolehkan di tanah dan khusus untuk zona III dan zona I titik sampling 1 dan 2 lebih tinggi dari standar kandungan kadmium pada tanah yang bebas polusi, sedangkan kandungan kadmium pada tanah kontrol lebih rendah dibandingkan kandungan kadmium secara umum pada tanah bebas polusi tersebut. Kandungan kadmium dalam tanah di lokasi TPAS tidak selalu lebih tinggi bila dibanding kontrol. Cacing tanah mengandung kadmium antara 0.35 – 0.45 ppm, kandungan kadmium dalam cacing tanah di beberapa lokasi TPAS lebih rendah dibanding kontrol. Tingkat pencemaran kadmium di TPAS Piyungan berada pada tingkat kontaminasi sangat ringan hingga kontaminasi sangat berat. Lokasi TPAS yang masih aktif digunakan memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi bila dibanding lokasi lain. Rasio kadmium pada tanah dan cacing tanah di TPAS Piyungan adalah 0.13 : 1.75. ABSTRACTCadmium (Cd) analysis has been done at Piyungan TPAS (Piyungan TPAS, stands for Tempat Pembuangan Akhir Sampah) for knowing the level of Cd contamination insoil. The research was divided into in-sites study, which consisted of soil and earthworms sampling, and soil environmental factors measurement, and laboratory analysis, which consisted of cadmium content, organic compounds and soil textures analysis. Cadmium pollution level analyzed with Contamination-Pollution Index. The results showed that cadmium content in soil were undetected (<0.01) – 0.47 ppm, it had lower content than maximum cadmium content allowed in soil. Especially for zone III and zone I sampling point 1 and 2, they had higher soil cadmium content than cadmium content standard for unpolluted soil, and for control areas, they had lower cadmium content than maximum cadmium content allowed in soil. The cadmium content inPiyungan TPASsoilwere not alwayshigher than control sites. Earthworms contained 0.35 – 0.45 ppm of cadmium and in several Piyungan TPAS’s zones contained less cadmium thancontrol sites. Cadmium pollution level were ranged from very slight contamination to very severe contamination. The active area of Piyungan TPAS had a worse cadmium contamination than other area. Cadmium ratio in soil and in earthworms were 0.13 : 1.75.
PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN MELALUI EVALUASI PROGRAM KONVERSI MINYAK TANAH KE LPG DI PULAU GILI RAJA-SUMENEP (Developing Renewable Energy Through An Evaluation for A Program of Kerosene Conversion to LPG in Gili Raja Island - Sumenep) Nian Riawati; Anggraeni RR. E. W. Eksi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18539

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengevaluasi program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada kelompok sasaran di pulau Gili Raja kabupaten Sumenep Jawa Timur. Kajian sebelumnya terhadap program ini masih bersifat formatif dengan fokus efisiensi dan efektivitas implementasi. Dengan menggunakan metode Minimum Evaluation Procedure (MEP) penelitian ini mempertanyakan implementasi program secara runtut, mulai output, outcome sampai impact. Melalui pendekatan kualitatif penelitian ini dapat mendeskripsikan konteks dan setting secara alamiah. Hasil penelitian menunjukkan adanya pungutan dalam proses distribusi paket program, rendahnya akses atau penggunaan paket program serta tidak adanya dampak program. Selain itu, ditemukan adanya potensi lokal berupa kotoran ternak yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya energi terbarukan. Berdasarkan hal itu, disarankan sebuah program dapat dikembangkan secara asimetris sesuai dengan kondisi lokasi dan kelompok sasaran, terjadinya komunikasi intensif antara pelaksana program dengan kelompok sasaran serta stakeholders lainnya. Berdasarkan potensi kelompok sasaran di pulau Gili Raja, hendaknya dikembangkan kebijakan energi alternatif biogas untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat serta mendukung pencapaian tujuan kebijakan energi nasional. ABSTRACTThe purpose of this research is to evaluate the conversion programfrom kerosene to Liquefied Petroleum Gas (LPG) on a target group in Gili Raja island of SumenepMunicipal, East Java. Previous study on this program was quite formative one and focusing on the efficiency and the effectiveness of the program implementation. In addition, by applying Minimum Evaluation Procedure’s (MEP) method, this research questioned the implementation of the program consecutively from the output, the outcome as well as the impact. Furthermore, through a qualitative approach, this research will be able to describe context and setting naturally. Result of the research shows that there is illegal fees (levies) in the process of distributing the program package, also the limited access or the low utilization of the program package, as well as the non-existing evidence of the program’s impact. Furthermore, it is found a local potential in the form of renewable energy that is generated from livestock’s feces. Hence, it is recommended to establish a program, asymmetrically, in accordance with the local condition and the target group that ensures the occurrence of an intensive communication amongst program implementer, target group, and other stakeholders. Moreover, based on the potency of the target group of Gili Raja, an alternative policy on renewable energy should be developed in order to fulfill the need of energy for Gili Raja’s people, as well as to support the achievement of the National energy policy.
LIFE CYCLE COSTING DAN EKSTERNALITAS BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT DAN MINYAK ALGA DI INDONESIA (Life Cycle Costing and Externities of Palm and Algal Biodiesel in Indonesia) Arif Dwi Santoso; Sudaryono Sudaryono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18540

Abstract

ABSTRAKBiaya produksi biodiesel menjadi salah satu hambatan program konversi bahan bakar minyak ke biodiesel negara-negara termasuk Indonesia dalam upaya mengantipasi terjadinya krisis energi. Salah satu penyebab biaya produksi yang tinggi adalah karena variabel biaya produksi yang diperbandingkan selama ini belum sepenuhnya mencerminkan keseluruhan potensi yang terkandung dalam biodiesel. Potensi biodiesel yang tergolong ke dalam komoditas lingkungan seperti sifat terbarukan, rendah dalam penggunaan lahan, dan ramah lingkungan perlu dimasukkan dalam perhitungan agar mendapatkan perbandingan perhitungan yang obyektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan komoditas lingkungan pada stuktur biaya produksi biodiesel dari minyak sawit dan minyak alga. Nilai komoditas lingkungan diperkirakan dengan metode metode benefit transfer dan untuk memperlihatkan nilai keuntungan digunakan pendekatan willing to pay (WTP). Nilai-nilai komoditas lingkungan diacu dari hasil perhitungan perangkat lunak Environmental Priority Strategy (EPS) versi 2000. Untuk kasus Indonesia, nilai komoditas lingkungan EPS diinferensi dengan elastisitas berdasarkan dari perbandingan nilai pendapatan per kapita negara Swedia dan Indonesia. Hasil penelitian menyatakan bahwa analisis life cycle costing (LCC) yang diaplikasikan dengan menambahkan variabel eksternalitas dapat memberikan informasi yang detil tentang komposisi biaya produksi biodiesel dan dapat digunakan sebagai metode untuk mendapatkan gambaran total biaya produksi yang paling kompetitif dari beberapa sumber.  Analisis juga menyimpulkan bahwa variabel eksternalitas turut mempengaruhi kenaikan total biaya produksi biodiesel hingga 14%. Hasil analisis profitabilitas menyatakan bahwa pasokan biomasa alga untuk produksi biodiesel lebih terjamin dan berkelanjutan dibandingkan biomasa sawit karena kendala teknis dan non teknis pada produksi biomasa alga lebih mudah diatasi selain itu juga keunggulan perannya dalam mitigasi GRK yang turut memperbesar peluang sebagai bahan utama biodiesel di masa depan. ABSTRACTThe high cost of biodiesel production was to be an obstacle conversion to biodiesel fuel including Indonesia due to anticipate the energy crisis. The high cost of production due to the variable cost of production has not fully comparable reflect the overall potential contained in biodiesel. Potential biodiesel belonging to the commodity nature of the environment such as renewable biomass, low in land use, and environmentally friendly should be included in the calculation in order to obtain an objective comparison of the calculations.This study aimed to evaluate the effect of adding commodities to the structure of the production cost of biodiesel between palm oil and algal oil. Estimated value of the commodity by the method of benefit transfer method shows the value used is the approach gains willingness to pay (WTP). Environmental commodity values referenced from the calculation software Environmental Priority Strategy (EPS) version 2000. For the case of Indonesia, the commodity value of the elasticity was infered EPS basis of comparison of income per capita of Sweden and Indonesia.The results stated that the analysis of life cycle costing (LCC) applied by adding variable externalities can provide detailed information about the composition of biodiesel production costs and can be used as a method to get a total picture of the most competitive production costs from several sources. The analysis also concluded that the externality variables also affect the total cost of biodiesel production by up to 14%. Profitability analysis stated that the algal biomass for biodiesel production more secure and sustainable than palm biomass due to technical and non-technical constraints on the production of algal biomass more easier to treat but it also advantages role in GHG mitigation that helped widen the opportunities as the main ingredient of biodiesel in the futur 
HUBUNGAN KEDEKATAN EKOLOGIS ANTARA FAUNA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT YANG DIDRAINASE UNTUK HTI Acacia crassicarpa (Ecological Proximity Relationship Between Soil Fauna and The Characteristics of Drained Peatland for Industrial Plantation) Yunita Lisnawati; Haryono Suprijo; Erny Poedjirahajoe; Musyafa Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18541

Abstract

ABSTRAKPengelolaan lahan gambut untuk pengembangan HTI Acacia crassicarpa diawali dengan pembuatan saluran drainase dan pembukaan lahan (land clearing) yang kemudian dilanjutkan dengan penyiapan lahan untuk penanaman, sedangkan kegiatan pemeliharaan meliputi pemberantasan gulma dengan menggunakan herbisida dan pemupukan. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan tentunya mempunyai dampak bagi kondisi ekologis lahan gambut. Perubahan kondisi ekologis terjadi karena perubahan lahan yang selanjutnya berpengaruh terhadap kelimpahan dan keragaman fauna tanah.Kelimpahan dan keragaman fauna tanah serta fungsi ekosistem menunjukkan hubungan yang sangat kompleks dan belum banyak diketahui dengan pasti. Kecenderungan fauna tanah untuk memilih suatu habitat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kedekatan ekologis antara karakteristik tanah gambut yang didrainase untuk HTI A. crassicarpa dengan kelimpahan fauna tanahnya. Penelitian dilakukan di HTI lahan gambut  PT. Arara Abadi, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau.  Pengambilan sampel fauna tanah dengan metode pencuplikan contoh tanah yang berukuran 25 x 25 x 25 cm3, pemisahan fauna tanah dengan tanah dilakukan dengan menggunakan modifikasi corong barlese.  Parameter yang diamati adalah kelimpahan dan keragaman fauna tanah, kematangan gambut (C/N), kadar air gambut, dan kedalaman muka air tanah gambut. Untuk menilai kedekatan ekologis digunakan analisis hirarki.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fauna tanah tertinggi terdapat pada tegakan A. crassicarpa umur 2 tahun. Keragaman jenis fauna tanah di lokasi penelitian termasuk melimpah sedang dengan nilai H’ 1,2. Formicidae berpotensi sebagai bioindikator kelembaban tanah gambut yang rendah yang dicirikan dengan kandungan kadar air yang rendah dan mempunyai tingkat kematangan gambut yang lebih tinggi. Entomobryidae berpotensi sebagai bioindikator kadar air yang tinggi dan mempunyai tingkat kematangan yang masih rendah. ABSTRACTManagement of peatlands for HTI cultivation of Acacia crassicarpa begins by making drainage ditches and land clearing, followed by the preparation of land for planting. As for the maintenance activity, it includes weed control using herbicides and fertilizer. Management and maintenance activities certainly have implications for the ecological condition of peatlands, where the changes in ecological conditions due to land conversion will impact the abundance and diversity of soil fauna. Abundance and diversity of soil fauna and ecosystem function showed a very complex relationship not widely known this far.  Soil fauna tendency to select certain habitat is affected by several ecological factors, both biotic and abiotic. The study aims to assess the ecological proximity between the characteristics of peatland drained for HTI cultivation of A. crassicarpa and the abundance of soil fauna. The study was conducted in HTI peatlands of PT. Arara Abadi, Rasau Kuning District, Siak Regency, Riau. Soil fauna sampling was conducted by taking soil sample of 25 x 25 x 25 cm in size.  Separation of soil fauna from the soil was performed by a modification to a barlese funnel. Observed variables were the abundance and the diversity of soil fauna, peat maturity (C/N), water contentof peatand ground water table.  For observing ecological proximity, hierarchical analysis was used.  Result showed that the highest of soil fauna abundance was found in A. crassicarpa stand, 2 year’s old of age. The species diversity of soil fauna in research location included as medium abundant by H’ value 1,2. Formicidae was potential become a low level-humidity bioindicators of peatsoil, which described by those pattern : low water content and higher level of peat maturity. Entomobryidae was potential become a high water content  bioindicator and low level of peat maturity.
PERAN MIKROBA STARTER DALAM DEKOMPOSISI KOTORAN TERNAK DAN PERBAIKAN KUALITAS PUPUK KANDANG (The Role of Microbial Starter in Animal Dung Decomposition and Manure Quality Improvement) Cahyono Agus; Eny Faridah; Dewi Wulandari; Benito Heru Purwanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18542

Abstract

ABSTRAKPupuk organik perlu didekomposisi oleh mikroba dan memerlukan lingkungan yang sesuai agar cepat matang sempurna dan tidak memberikan dampak negatif pada aspek sosial, estetika maupun kesehatan pada makluk hidup dan lingkungan. Dekomposisi bahan pupuk organik dilakukan dengan menggunakan kotoran sapi, dengan 2 perlakuan mikroba (tanpa dan dengan mikroba starter) dan 3 variasi waktu, yaitu 0, 6 dan 24 jam setelah diberi mikroba starter. Analisis meliputi  uji fisik bahan pupuk yang meliputi pH, warna, aroma, lengas, dan DHL,  uji mikroba patogen (Eschericia. coli dan Salmonella) pada pupuk, pengujian kandungan hara pupuk total (C, N, P, K, Ca, Mg, Na, S, Cd, Cr, B, Fe, Cu, Zn)  dan Ntersedia (NH4 dan NO3),  serta analisis emisi gas amonia (NH3), oksigen (O2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), NOx, NO, dan SO2. Mikroba starter mengandung mikrobia dan unsur hara yang sangat diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik. Pupuk kandang sapi setelah aplikasi  mikroba starter masih mengandung E. coli dan Salmonella sp. yang cenderung menurun seiring dengan lama waktu inkubasi. Terjadi dinamika kandungan unsur-unsur hara seperti P, K, Mg, Fe dan Cu serta logam berat Cr selama proses inkubasi baik pada pupuk kandang ayam maupun sapi. Dengan perlakuan mikroba starter, bagian senyawa sulfur dari bahan organik banyak yang terombak menjadi gas SO2 yang relatif tidak berbau, dan sebaliknya H2S serta senyawa reduktif sulfida lainnya menjadi terhambat pembentukannya. Perombakan dengan  mikroba starter sebaiknya diupayakan dalam suasana aerobik atau dengan suasana lembab tetapi tidak sampai anaerobik sehingga kehadiran senyawa H2S dan senyawa sulfur reduktif lainnya dapat dikurangi atau tidak terbentuk. Hasil penelitian ini menunjukkkan pentingnya penggunaan mikroba starter optimal dan benar untuk memperbaiki kandungan nutrisi dan kualitas pupuk kandang. ABSTRACTProcess of decomposition of organic fertilizer relies on the microbial decomposer population and requires a condusive environment. Those two factors influence on the  rate of organic material decomposition and limites the negative impact of this organic fertilizer on the aspect of social, ethic, and health of living organism. Cow dung was used as the material for decomposition of organic fertilizer. Two treatments were applied: with or without microbial decomposer (microbial starter) followed by incubation in the dark condition under room temperature. The cow dung was sampled in 0, 6, and 24 hours after microbial starter application.The cow dung pH, color, smell, water content, and electrical conductivity were analyzed.  Furthermore, microbial pathogen (Eschericia coli and Salmonella), cow dung total nutrition (C,N,P,K,Ca,Mg,Na,S,Cd,Cr,B,Fe,Cu,Zn), and available N (NH4 dan NO3) were also determined. Amonia emision (NH3), oxygen (O2), carbon monoxide (CO), carbon dioxide (CO2), methane (CH4), NOx, NO, and SO2were analyzed as well. The result showed that microbial starter contained of important microbial for the process of cow dung decomposition. Application of microbial starter in cow dung reduced E. coli dan Salmonella sp. by the length of incubation time.Variation of nutrition, i.a. P, K, Mg, Fe, Cu, and heavy metal, i.a. Cr was found during incubation, both in chicken and cow manure.Application of microbial starter reduced sulfur in organic matter to be SO2 without smell, and inhibited H2S production. Decomposition by application of microbial starter should be conducted in aerob condition to reduce H2S production.  This research implied that application of microbial starter is crucially important in improving manure nutrition and quality.
PERANAN MANGROVE SEBAGAI BIOFILTER PENCEMARAN AIR WILAYAH TAMBAK BANDENG TAPAK, SEMARANG (Role of Mangrove as Water Pollution Biofilter in Milkfish Pond, Tapak, Semarang) Nana T.M. Kariada; Andin Irsadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18543

Abstract

ABSTRAKMangrove yang tumbuh di ujung sungai besar berperan sebagai penampung terakhir bagi limbah dari industri di perkotaan dan perkampungan hulu yang terbawa aliran sungai. Area hutan mangrove mempunyai kemampuan mengakumulasi logam berat yang terdapat dalam ekosistem tempat tumbuhnya. Tujuan yang hendak dicapai dari  penelitian ini adalah mengkaji peranan mangrove sebagai biofilter pencemaran air dan  mengetahui jenis mangrove yang terbaik berperan sebagai biofilter pencemaran air di di lingkungan tambak bandeng Tapak Kota Semarang. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Berdasarkan hasil penelitian tentang akumulasi logam berat Cu antara air dan sedimen tambak, diperoleh hasil telah terjadi akumulasi Cu dengan Faktor Konsentrasi antara 43-400.  Pada stasiun 3 dan 4 terdapat akumulasi Cu dengan nilai Faktor Konsentrasi 3 dan 0,3. Hal ini menunjukkan akumulasi Cu dari sedimen ke akar mangrove relatif masih kecil. Perbedaan akumulasi dari tiap stasiun penelitian yang diamati menunjukkan adanya perbedaan jenis mangrove yang tumbuh pada masing-masing stasiun penelitian. Mangrove yang berada di lingkungan tambak bandeng wilayah Tapak Kota Semarang disimpulkan dapat berperan sebagai biofilter pencemaran air yang ada di perairan tersebut. Mangrove dari jenis Avicennia marina mempunyai peranan yang lebih baik dari jenis Rhizophora sp sebagai biofilter pencemaran air di lingkungan tambak bandeng Tapak Kota Semarang. ABSTRACTMangroves,  that is growing at the end of a great river, has a role as the last place for the waste water from urban and domestic industry at the upstream that were carried by the flow of river. Mangrove area  has  ability to accumulate a heavy metals  which is contained in it. The  goals  from this research is to assess role of mangrove as biofilter of water pollution and to find out the best species of mangrove as biofilter of water pollution in milkifish pond in Tapak, Semarang. This research used exploratory descriptive  design. The result showed that the accumulation of  Cu in the location has concentration factor of 43-400.  Whereas at station 3 and 4 there is accumulation of Cu with concentration factor value 3 and 0.3. It was  showed that accumulation of  Cu  from sediment to mangrove roots relatively small. The big difference in the accumulation from each station is due to differences of mangrove species that is growing at each research station. The conclution of this research  is; mangrove are located in milkfish pond can be role as biofilter of existing water pollution in these teritory. The mangrove species of Avicennia marina having a better role as biofilter of water pollution in milkfish pond in Tapak Semarang than Rhizophora sp.
SERANGAN BENALU PADA BEBERAPA KELAS UMUR TANAMAN JATI DI WILAYAH HUTAN BKPH BEGAL, KPH NGAWI, JAWA TIMUR (An Attact of Parasitic Plant on Several Ages of Teak Plantation In Begal Forest Sub-District, Ngawi Forest District, East Java) Soewarno Hasanbahri; Djoko Marsono; Suryo Hardiwinoto; Ronggo Sadono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18544

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelas umur tanaman jati dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon jati akibat serangan benalu, serta pola sebaran tumbuhan benalu secara horizontal. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini ialah Multistage Sampling dengan penempatan plot contoh pada setiap kelompok kelas umur tanaman jati (KU I s.d. KU VII). Pada setiap kelompok kelas umur diwakili satu petak/anak petak, dan setiap petak/anak dibuat contoh pohon individu sebanyak 10% untuk KU V ke atas (kelas umur tua), 5% untuk KU III dan KU IV (kelas umur sedang), dan 1% untuk KU I dan KU II (kelas umur muda) terhadap total populasi pohon penyusun petak/anak petak tersebut. Hubungan kelas umur dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon akibat serangan benalu dianalisis dengan rumus uji korelasi, sedangkan sebaran serangan benalu dengan rumus distribusi Poisson dan uji statitik binomial terbalik. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis tumbuhan benalu yang dijumpai yaitu Dendrophthoe pentandra dan Scurula parasitiaca, anggota famili Loranthaceae, sub-famili Viscoidae. Frekuensi pohon jati yang terserang tumbuhan benalu berkisar antara 12,88% untuk KU II diikuti 15,55% untuk KU I, 15,72% untuk KU V, 18,06% untuk KU IV dan KU VI, serta 19,73% untuk KU III. Hubungan tingkat serangan benalu dengan kelas umur hutan jati terbukti bahwa kelas umur memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kesehatan bagian cabang antara batang dan benalu (proksimal). Di bagian lain, terbukti bahwa kelas umur tidak memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kerusakan pada bagian cabang setelah benalu (distal). Walaupun demikian, kerusakan pohon jati yang mengalami serangan tumbuhan benalu lebih banyak terjadi pada pohon-pohon di kelas umur muda. Hal ini ditunjukkan oleh perbandingan bagian cabang proksimal dan distal pada setiap kelas umur, yaitu:   -23,81 cm untuk KU I, -1,56 cm untuk KU II, 14,66 cm untuk KU III, 24,13 cm untuk KU IV, 22,40 cm untuk KU V, dan 54,59 cm untuk KU VI. Dengan hilangnya masa pertumbuhan yang dihadapi oleh pohon-pohon jati di kelas umur muda menjadi sangat rawan dengan adanya tumbuhan benalu tersebut. Pola sebaran benalu adalah mengelompok untuk tanaman jati kelas umur muda, kelas umur sedang dan kelas umur tua. ABSTRACTThe objectives of the study were to determine the relationship of teak plantation age class with the frequency and severity of teak trees due to an attack of parasitic plant (mistletoe), and parasitic plant distribution patterns horizontally. The sampling method in this study was the Multistage Sampling, i.e. at each age group classe (KU) represented one compartment and each compartment made an individual sampling tree as much as 10 % for KU V and up (old age classes), 5 % for KU III – IV (middle age classes) and 1 % for KU I - II (young age classes) to the total trees populations. Age class relationship with the frequency and degree of tree damage due to an attack of parasitic plant were analyzed by correlation test formula and for the parasitic plant distribution were analysed by the Poisson distribution formula and the Binomial Test Statistically Reversed. The conclusions of this study that were found two species of parasitic plants of Dendrophthoe pentandra and Scurula parasitiaca of the Loranthaceae family members, sub-family Viscoidae. The frequency of teak trees that were attacted by parasitic plants ranged from 12.88 % for KU II and  followed by 15.55 % for KU I, 15.72 % for KU V, 18.06 % for KU IV and VI, up  to 19.73 % for KU III. The correlation between an attack of parasitic plants and the teak forest age classes have proven that significant relationship to the level of the proximal health. In another part, proved that age class does not have a significant relationship to the distal extent of damage. Nevertheless , the teak tree damage suffered an attack of parasitic plants were more prevalent on trees in the younger age classes. It was shown by a comparison of proximal and distal branches in each age class, namely: -23.81 cm for KU I, -1.56 cm for KU II, 14.66 cm for KU III, 24.13 cm for KU IV, 22.40 cm for KU V and 54.94 cm for KU VI. With the loss of future growth faced by teak trees in the young age classes become very vulnerable in the presence of the parasitic plants. The distribution pattern of parasitic plants were clumped in all age classes of teak plantations . 
MONITORING RESISTENSI POPULASI Plutella xylostella, L TERHADAP RESIDU EMAMEKTIN BENZOAT DI SENTRA PRODUKSI TANAMAN KUBIS PROPINSI JAWA TENGAH (Monitoring the Resistance of Plutella xylostella, L Population against Emamektin Benzoate Residues) Udi Tarwotjo; Jesmandt Situmorang; Hidayat R.C. Soesilohadi; Edhi Martono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18545

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepekaan populasi lapangan Plutella xylostella terhadap residu dari insektisida emamektin benzoat, menetapkan konsentrasi diagnostik untuk memonitor perkembangan resistensi populasi P. xylostella terhadap insektisida emamektin benzoat, dan untuk menentukan mekanisme resistensi P. xylostella terhadap insektisida tersebut. P. xylostella dikoleksi dari sepuluh Kecamatan Provinsi Jawa Tengah sejak Agustus 2010 sampai September 2012. Data dari uji bioassay dianalisis dengan probit analisis untuk mendapatkan nilai LC50. Hasil uji kepekaan menunjukkan, bahwapopulasi Puasan (Ngablak) nilai Faktor resistensi (FR) 3,97 kali merupakan populasi dengan nilai FR paling tinggi, dan nilai FR yang paling rendah adalah populasi Selo (Boyolali) dan merupakan populasi yang paling peka. Hasil pengujian validasi konsentrasi diagnostik menunjukkan, bahwa nilai c2 hitung semua populasi yang diuji lebih kecil dari nilai c2 tabel, maka konsentrasi diagnostik yang ditetapkan (2443,99 ppb) sesuai untuk monitoring kepekaan populasi P. xylostella. Resistensi P. xylostella terhadap insektisida emamektin benzoat disebabkan oleh laju peningkatan detoksifikasi di dalam tubuh serangga oleh enzim MFO, tetapi aktivitas enzim esterase non spesifik tidak mencerminkan aktitas esterase. ABSTRACTThe objectives of this research to know the susceptible of P. xylostella population against emamectin benzoate insecticide, to monitor the resistance development of  P. xylostella against insecticides by determine of a diagnostic concentration, to determine the resistance mechanism of P. xylostella population. P. xylostella  was collected from central of Java areas from August 2011 up to September 2012.  The data from bioassay test was analized using Probit analysis to obtain LC50 value. The suseptibility test of the insect resulted show that Puasan population (Ngablak) FR value was 3.97 and it was higher than  the Selo population (Cepogo). The concentration of 2443.99 ppb as selected diagnostic consentration. The test result of diagnostic concentration validation indicated that the value of calculated c2 of all the tested population was lower than the value of c2table. Therefore the diagnostic concentration of 2443.99 ppb can be used monitoring device of susceptible P, xylostella population. The resistance mechanism of the P. xylostella to the insecticide resulted from the increase in the detoxification rate in the insect body by MFO enzyme, but non-specific esterase enzyme activity did not reflect the esterase activity. 

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue