cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 1 (2015): Maret" : 16 Documents clear
PENGARUH PENGENDALIAN pH TERHADAP PEMBENTUKAN ETANOL DAN PERGESERAN PRODUK ASIDOGENESA DARI FERMENTASI LIMBAH CAIR INDUSTRI MINYAK SAWIT (The Influence of pH Control on Ethanol and Switch of Acidogenic Products Formation from Palm Oil Mill Effluent) David Andrio; Mindriany Syafila; Marisa Handajani; Dessy Natalia
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18719

Abstract

ABSTRAKLimbah cair industri minyak sawit memiliki potensi sebagai substrat pembentukan etanol. Pemanfaatan kultur campuran dalam pembentukan etanol memiliki keuntungan karena tidak memerlukan sterilisasi substrat, namun akan dihasilkan berbagai produk samping dan sebaliknya pada Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengaturan pH terhadap pembentukan etanol dan produk asidogenesa. Rancangan penelitian terdiri dari reaktor bakteri anaerob dan ragi dengan perlakuan pengendalian pH pada rentang 6-6,5 dan tanpa pengendalian pH dengan pH awal fermentasi 6-6,5. Hasil penelitian menunjukkan Degree Acidification (DA), Total Asam Volatil (TAV) dan etanol tertinggi berurutan sebesar 0,32; 808,03 mg/L dan 24,03 mg/L pada reaktor bakteri dengan pengendalian pH; 0,23; 522,43 mg/L dan 23,12 mg/L pada reaktor tanpa pengendalian pH; 0,25; 775,78 mg/L dan 34,11 mg/L pada reaktor ragi dengan pengendalian pH dan 0,32; 866,71 mg/L dan 29,17 mg/L pada reaktor ragi tanpa pengendalian pH. Pengendalian pH fermentasi meningkatkan pembentukan produk asetil-KoA dari 4,35% menjadi 7,34% pada reaktor bakteri dan dari 17,92% menjadi 18,78% pada reaktor ragi dan tidak berpengaruh terhadap pembentukan etanol. ABSTRACTPalm oil mill effluent has potention for substrate to ethanol formation. Utilization of anaerobic mixed culture bacteria to form ethanol has advantages i.e not requiring sterilization of the substrate and vice versa in Saccharomyces cerevisiae, but resulting side products. The aims of this research are to study effect of controlling pH on ethanol formation and acidogenic products. Design experiment consisted of anaerobic bacteria and yeast reactor with the pH control in the range of pH 6 - 6.5 and initial pH 6-6.5 for without pH control treatment. The results showed the highest Degree Acidification (DA), Total Volatile Fatty Acid (TVFA) and ethanol are 0.32; 808.03 mg/L and 24.03 mg/L for bacteria reactor with pH control; 0.23; 522.43 mg/L and 23.12 mg/L for bacteria reactor without pH control; 0.25; 775.78 mg/L and 34.11 mg/L for yeast reactor with pH control and 0.32; 866.71 mg/L and 29.17 mg/L for yeast reactor without pH control. Controlling pH increasing acetyl-CoA product formation from 4.35% to 7.34% for bacteria reactor and from 17.92% to 18.78% for yeast one and not affect to rising ethanol formation.
KARAKTERISTIK KUALITAS AIR DAN ESTIMASI RESIKO EKOBIOLOGI HERBISIDA DI PERAIRAN RAWA BANJIRAN LUBUK LAMPAM, SUMATERA SELATAN (Water Quality Characteristics and Estimation of Ecobiological Risk of Herbicide in Lubuk Lampam Floodplain, South Sumatera) Dade Jubaedah; M. Mukhlis Kamal; Ismudi Muchsin; Sigid Hariyadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18720

Abstract

ABSTRAKPerairan rawa banjiran Lubuk Lampam (RBLL) merupakan ekosistem khas yang mempunyai arti penting terutama secara ekologi sebagai habitat ikan khas rawa banjiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air di RBLL terkait dengan perubahan muka air dan adanya masukan bahan antropogenik terutama dari kegiatan perkebunan kelapa sawit yang berada di dalam dan sekitar area RBLL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perubahan muka air di RBLL. Fluktuasi muka air yang tidak ekstrim sebagai akibat dari curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun menyebabkan karakteristik kualitas air antar periode musim menjadi cenderung sama. Secara umum, karakteristik kualitas air RBLL dicirikan dengan pH cenderung asam, kandungan oksigen rendah, kekeruhan tinggi serta konsentrasi total nitrogen dan total fosfor yang tinggi. Bahan antropogenik berupa herbisida dari jenis paraquat dan glyfosat ditemukan dalam konsentrasi relatif kecil (rataan 0,004 mg/L dan 0,003 mg/L), sehingga berdasarkan nilai resiko (Risk Quotient, RQ) kedua jenis herbisida ini memiliki resiko ekobiologi rendah (<0,01) sampai dengan sedang (0,01<RQ≤0,1).ABSTRACTLubuk Lampam floodplain is one of unique ecosystems that has important ecologycal value as floodplain fishes habitat. The objective of this study was to identify the water quality characteristics in Lubuk Lampam related to the water level fluctuation and anthropogenic substance especially from oil palm plantation activities that was develop in Lubuk Lampam area. The results study showed that water level fluctuation affected mainly by local rainfall. The pattern of local rainfall was not significantly different seasonally causing water quality characteristic simillar year-around. The general water quality characterisctis of Lubuk Lampam floodplain were acid waters, low dissolved oxygen, turbid, and high total nitrogen dan total phosphorus concentrations. Anthropogenic substance, i.e. from herbiside paraquat and glyphosate, found in study area with low concentration (mean values 0.004 mg/L and 0.003 mg/L, respectively). Hence, based on Risk Quotient (RQ) the ecobiological risk of two kinds of herbicides were low (<0.01) and moderate (0.01<RQ≤0.1).
PENDEKATAN MULTI DIMENSIONAL SCALING UNTUK EVALUASI KEBERLANJUTAN WADUK CIRATA - PROPINSI JAWA BARAT (Multidimensional Scaling Approach to Evaluate Sustainability of Cirata Reservoir – West Java Province) Kholil Kholil; Tony Atyanto Dharoko; Ani Widayati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18721

Abstract

ABSTRAKWaduk Cirata merupakan salah satu waduk di Indonesia yang memiliki peran sangat besar bagi pembangunan ekonomi, sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pertumbuhan Keramba Jaring Apung (KJA) dan perkembangan permukiman di sekitar waduk, serta perubahan tataruang di DAS Citarum untuk kegiatan permukiman, industri, pertanian, dan peternakan menyebabkan peningkatan sedimentasi dan penurunan kualitas air waduk, sehingga berpengaruh terhadap kinerja dan keberlajutan waduk. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberlanjutan waduk dengan menggunakan metode Multidimesional Scaling berdasarkan 5 dimensi yaitu ekologi dan tata ruang, ekonomi, sosial dan budaya, peraturan dan kelembagaan, dan infrastruktur dan teknologi. Hasil analisis MDS menunjukkan bahwa dimensi ekologi dan tataruang, dan peraturan dan kelembagaan kurang berlanjut dengan nilai indeks keberlanjutan masing-masing 45,76 dan 42,24. Sementara untuk dimensi ekonomi, sosial dan budaya, dan infrastruktur dan teknologi memiliki nilai indeks keberlanjutan masing-masing 63,12; 64,42 dan 68,64 yang berarti hanya masuk kategori cukup berlanjut. Atribut yang paling sensitif yang mempengaruhi indeks keberlanjutan ekologi dan tataruang adalah laju sedimentasi, jumlah KJA dan kualitas air waduk. Pada dimensi peraturan dan kelembagaan adalah lemahnya koordinasi, perijinan dan penegakan hukum. Untuk menjamin keberlanjutan kinerja Waduk Cirata perlu dilakukan pengendalian penggunaan lahan di DAS Citarum dan permukiman di sekitar waduk, pengetatan perijinan, dan penegakan hukum.ABSTRACTCirata reservoir is one of the reservoirs in Indonesia, that plays an important role for economic development as a Hydroelectric Power Plant. The development of settlement around the dam, and land use change of Citarum’s watershed for industrial activities, agriculture, and animal husbandry have increased the erosion, sedimentation and degradation water quality of reservoir. This paper will discuss the level of sustainability of the reservoir using Multidimesional Scaling (MDS) based on five dimensions: ecology and spatial, economics, social and culture, regulations and institutional, and infrastructure and technology. MDS analysis results showed that the dimension of ecological and spatial, institutional and the regulation are lack of sustainability due to the low index score of 45.76 and 42.24. While for economic, social and culture, and infrastructure and technology dimension score is 6312; 64,42 and 68,64 (only the sufficient sustainability). The most sensitive atributes that influence to sustainability index of ecological and spatial dimension are sedimentation rate, the amount of KJA, and water quality of reservoir. To ensure sustainability of cirata reservoir required to control land use change in upstream Citarum Watershed and settlement around the reservoir, tightening of licensing and law enforcement.
KAJIAN KARAKTERISTIK MUARA CILIWUNG DENGAN MODEL BUDGET NITROGEN (Assessment of Ciliwung Estuary Characteristic with Nitrogen Budget Model) Devi Dwiyanti Suryono; Setyo S. Moersidik
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18722

Abstract

ABSTRAKPerairan muara merupakan perairan yang mempunyai karakteristik yang khas karena dipengaruhi oleh faktor hidrodinamika dan pola musim, yaitu musim timur dan musim barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan metode perhitungan biogeokimia berdasarkan pendekatan LOICZ pada perairan muara Ciliwung dan memperoleh informasi tentang karakteristik nitrogen pada perairan muara Ciliwung. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pada musim timur dan musim barat perairan muara Ciliwung berperan sebagai nitrogen. Pada musim timur perairan muara Ciliwung bersifat autotrofik, sedangkan pada musim barat perairan tersebut bersifat heterotrofik. Hal ini dicirikan melalui siklus nitrogen dengan laju fiksasi lebih besar daripada laju respirasi pada musim timur, sedangkan pada musim barat yang terjadi adalah sebaliknya, laju respirasi lebih besar dibandingkan dengan laju fiksasinya, sebesar 21,14 mg/hari. ABSTRACTEstuarine ecosystem was an unique ecosystem because of the hydrodynamic factor and seasonal pattern i.e. east season and west season, that influence the characteristic of the estuarine. The purpose of this study was to apply the LOICZ biogeochemical budgeting approach to Ciliwung estuary and to get the information about nitrogen budget in Ciliwung estuary. Based on the analysis the function of the estuary was as source of nitrogen on west season and east season. Nitrogen budget of the Ciliwung estuary obtained that the system was autotrophic while in east season, and tend to heterotrophic in west season. This condition was indicated that in the east season the fixation rate was more than respiration rate, but in west season the respiration rate was more than fixation rate with the respiration rate is 21.14 mg/day.  
PERENCANAAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK KOTA BOGOR MENGGUNAKAN AIR HUJAN UNTUK DEBIT PENGGELONTORAN (Planning of Domestic Wastewater Sewerage in Bogor City Using Rainwater for Flushing Flowrate) Allen Kurniawan; Nura Adithia Dewi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18723

Abstract

ABSTRAKSistem penyaluran air limbah merupakan bagian penting dalam sistem prasarana perkotaan. Tujuan penelitian ini merancang konfigurasi sistem penyaluran air limbah domestik dan memodifikasi sistem drainase skala mikro di Kota Bogor untuk memenuhi debit penggelontoran. Data penelitian berupa data sekunder dari instansi terkait, studi pustaka, dan hasil beberapa penelitian terdahulu. Perkiraan jumlah penduduk setiap kelurahan pada tahun perencanaan 2035 menggunakan metode geometrik. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dibangun pada dua lokasi yaitu IPAL 1 di Kelurahan Bantarjati dan IPAL 2 di Kelurahan Mekarwangi. Perencanaan blok pelayanan sebanyak 254 buah dan jumlah manhole sebanyak 334 buah. Perhitungan kebutuhan air bersih menghasilkan nilai debit jam puncak air limbah (Qjp) rata-rata sebesar 5,75 L/detik. Debit air bersih menghasilkan perkiraan sebesar 80% air limbah. Nilai Qp pada inlet IPAL 1 sebesar 0,59 m3/detik dengan diameter 900 mm, sedangkan nilai Qp pada inlet IPAL 2 sebesar 1,42 m3/detik dengan diameter 1000 mm. Pengaliran air limbah diusahakan secara gravitasi dengan kedalaman galian maksimum sebesar 6 m. Sistem drainase skala mikro dirancang untuk memenuhi debit penggelontoran. Perhitungan intensitas hujan terpilih menggunakan Metode Sherman. Titik penggelontoran sebanyak 53 titik dengan debit penggelontoran rata-rata sebesar 0,03 m3/detik. Debit saluran drainase rata-rata sebesar 0,25 m3/detik.ABSTRACTSewerage system is an important part of the urban infrastructure. The research objectives were to design a system configuration domestic wastewater sewerage and modify drainage systems in Bogor City for flushing discharge. The research used secondary data from relevant institutions, literature, and the results of previous researches. Estimated of the population of each village in 2035 used geometric method. Wastewater Treatment Plant (WWTP) would be constructed in two locations in Bantarjati and Mekarwangi Village. Planning of services area included 254 blocks and the number of manholes were 334. Clean water which produced peak hours flowrate (Qph) was 5.75 L/sec. Water flowrate produced an estimated of 80% wastewater flowrate. Q peak at the inlet of the WWTP 1 was 0.59 m3/sec with diameter of 900 mm, while Q peak at the inlet of the WWTP 2 was 1.42 m3/sec with diameter of 1000 mm. The stream of wastewater carried out by gravity with the maximum digging depth of 6 m. The system of micro-scale drainage was designed to supply flushing flowrate. Rainfall intensity calculation is done using the Sherman Method with period of 20 years rain repetition. Flushing points were 53 with flowrate average of 0.03 m3/sec. Drainage flowrate average was 0.25 m3/sec. Micro-scale drainage was designed rectangular. Result of the width and height average dimension were 0.43 m and 0.42 m, respectively.
NILAI EKONOMI KARBON HUTAN RAWA GAMBUT MERANG KEPAYANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN (Economic Value of Carbon of Merang Kepayang Peat Swamp Forest, South Sumatera Province) Nur Arifatul Ulya; Sofyan P. Warsito; Wahyu Andayani; Totok Gunawan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18724

Abstract

ABSTRAKHutan rawa gambut menyimpan cadangan karbon baik di tanah maupun di atas tanah. Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK) merupakan kawasan hutan yang berada di kubah gambut terbesar di Sumatera Selatan, yaitu Kubah Gambut Merang (KGM), yang didalamnya terdapat gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter. Meskipun menurut aturan KGM seharusnya dikonservasi, pada kenyataannya kawasan HRGMK dihadapkan pada konversi. Konversi HRGMK diduga akan mengakibatkan terganggunya fungsi hutan rawa gambut sebagai cadangan karbon dunia sehingga akan menyebabkan terjadinya emisi karbon ke atmosfer dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan HRGMK sebagai penyimpan cadangan karbon. Hasil penelitian diharapkan menjadi acuan pelestarian HRGMK sebagai stabilisator iklim dunia. Nilai ekonomi karbon HRGMK ditaksir dengan menggunakan harga bayangan. Harga karbon yang digunakan untuk menaksir nilai ekonomi karbon diperoleh dengan metode benefit transfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total karbon HRGMK adalah US$ 1.591.878.378,00 atau Rp. 14.002.162.211.645,00. Nilai tersebut sebagian besar berasal dari cadangan karbon di bawah tanah.ABSTRACTPeat swamp forests store aboveground and belowground carbon. Merang Kepayang Peat Swamp Forest (MKPSF) is a forest area which is located in Merang Peat Dome (MPD), the largest peat dome in South Sumatra, with peat thickness more than 3 meters. Although the order should be conserved MPD, in fact MKPSF area exposed to the conversion. MKPSF conversion would presumably result in impaired function of peat swamp forest as world's carbon storage that will be caused carbon emissions into the atmosphere in large quantities. This study aimed to determine the economic value of the HRGMK as carbon storage. The results are expected to be justifications for conservation of MKPSF as climate stabilizers. The economic value of carbon HRGMK assessed using shadow pricing method. The carbon price used to assess the economic value of carbon derived by benefit transfer method. The results showed that the total carbon value of HRGMK is U.S. $ 1,591,878,378.00 or Rp. 14,002,162,211,645.00. This value is largely derived from belowground carbon.
KONDISI HABITAT DAN EKOSISTEM MANGROVE KECAMATAN SIMPANG PESAK, BELITUNG TIMUR UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG (Habitat Conditions and Mangrove Ecosystem in Simpang Pesak District, East Belitung for Development of Shrimp Pond) Endang Juwita; Kadarwan Soewardi; Yonvitner Yonvitner
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18725

Abstract

ABSTRAKKondisi habitat dan eksosistem mangrove menjadi aspek penting dalam pengembangan usaha perikanan budidaya di wilayah pesisir. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kondisi habitat dan ekosistem mangrove berdasarkan kualitas perairan, tanah, dan vegetasi mangrove serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan di empat desa Kecamatan Simpang Pesak Kabupaten Belitung Timur pada bulan April – November 2013. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air seperti salinitas 28–30, suhu 27–36 oC, pH 7–7,5, kecerahan 50–70, TSS 11–85 mg/L dan kekeruhan 0,91–46,00 NTU, yang rata-rata tidak melebihi ambang batas baku mutu untuk tambak udang dan biota laut, sedangkan kualitas tanah yaitu tekstur tanah (liat berpasir), pH tanah 4,8–6,8 dan bahan organik tanah 9–13% juga menunjukkan nilai yang tidak lebih dari ambang batas yang ditentukan. Kajian lainnya yaitu kondisi mangrove dengan kisaran indeks nilai penting 0–300 menunjukkan mangrove yang berperan dalam ekosistem tersebut dan dalam status mutu baik yang didukung dengan kerapatan 460 pohon/hektar. Oleh karena itu, nilai kerapatan yang tinggi dapat mendukung kegiatan pengembangan tambak udang yaitu dengan konsep ramah lingkungan (silvofisheries). Selain secara ekologi, secara sosial masyarakat juga mendukung pengembangan budidaya tambak udang (wawancara) dengan menyediakan (sewa) lahan dan tidak mengabaikan kerusakan lingkungan yaitu tetap mempertahankan mangrove.ABSTRACTThis research discusses about conditions of habitats and mangrove ecosystems which become an important aspect to develop a good aquaculture in coastal areas. This study aims to analyze the condition of the habitat and mangrove ecosystem based on the quality of water, soil, vegetation of mangroves, and socio-economic conditions of the social community. The study was conducted in four villages in Simpang Pesak, East Belitung Regency from April to November 2013. The results showed the indicator for water quality such as salinity 28-30, temperature 27-36 oC, pH 7-7.5, visibility 50-70, TSS 11-85 mg/L and turbidity 0.91-46.00 NTU, are on average rate so it does not exceed the threshold quality standards for shrimp and marine life. Besides, the quality of the soil, which is indicated by the soil texture (sandy clay), soil pH 4.8-6.8 and soil organic matter 9-13% also showed that it was not exceed a specified threshold too. Advance studies represent mangrove condition with important value index range from 28.30-69.94 showed that mangrove hold an important role in these ecosystem and in good quality supported by the density of 460 trees/ha. Therefore, the value of high density can support the development of shrimp farming that have an environmentally friendly concepts (silvofisheries). Social community can also supports the development of aquaculture shrimp. Interview results showed community provides (lease) of land and try to preserve the mangrove condition to protect it from the environmental damage.
SEBUAH DILEMA PERTANIAN ORGANIK TERKAIT EMISI METAN (A Dilemma on Organic Farming in Relation to Methane Emission) Ernitha Panjaitan; Didik Indradewa; Edhi Martono; Junun Sartohadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18726

Abstract

ABSTRAKGas metana (CH4) adalah salah satu gas rumah kaca yang cukup berperan setelah CO2. Peningkatan metana di atmosfer pada belakangan ini perlu diantisipasi mengingat daya pemanasan global yang ditimbulkannya per satu molekul gas metana di troposfer 21 kali lebih tinggi daripada daya pemanasan satu molekul CO2. Tanah sawah adalah salah satu kontributor gas metana sekitar 10-15%. Metana diproduksi sebagai hasil akhir dari proses dekomposisi mikrobial bahan organik secara anaerobik oleh bakteri metanogen. Emisi gas metana ditentukan oleh pengelolaan air, pengolahan tanah, varietas, dan iklim. Seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat, serta ramah lingkungan, maka permintaan akan beras organik meningkat, sehingga perlu diupayakan dengan giat intensifikasi maupun ekstensifikasi budidaya padi organik. Namun, budidaya padi organik menghadapi dilema yaitu peningkatan produksi gas metana lebih tinggi daripada budidaya padi konvensional.ABSTRACTMethane (CH4) is the second main type of gas after CO2 in contributing global warning. The increasing of methane in our atmosphere should be anticipated because its effect of single molecule of methane to the warning up our trophosphere is 21 times higher than single molecule of CO2 . Paddy field soils as one of contributors produce 10-15 % of methane in our atmosphere. The methane is produced as results of microbial processes on aerobic organic matters decomposition by metanogene bacteria. The amount of methane production is determined by soil water management, crop species, and climate. In line with the community awarness in healthy and environmental friendly product of food, the demand of organic rice has increased. However, the organic farming has trade off situation due to its methane production higher than the conventional farming.
USAHA DOMESTIFIKASI TUMBUHAN POKEM (Setaria italica L.) MASYARAKAT LOKAL PULAU NUMFOR, KABUPATEN BIAK NUMFOR SEBAGAI UPAYA MENUNJANG KETAHANAN PANGAN NASIONAL (The Effort of Domestication of Pokem {Setaria italica (L.) Beauv} by Local Communities) Suharno Suharno; Supeni Sufaati; Verena Agustini; Rosye Hefmi Rechnelty Tanjung
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18727

Abstract

ABSTRAKDaya dukung lingkungan (habitat) sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Usaha domestikasi tumbuhan pokem (Setaria italica L.) di Pulau Numfor Kabupaten Biak Numfor telah diusahakan sejak lama oleh masyarakat lokal. Tumbuhan yang termasuk kelompok rumput–rumputan (Familia: Poaceae) telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan dan proses budidaya yang dilakukan oleh masyarakat lokal di pulau Numfor sebagai upaya dalam memenuhi bahan pangan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha budidaya pokem telah lama berlangsung secara turun–temurun sejak nenek moyang mereka tinggal di Pulau Numfor. Sistem budidaya yang mereka lakukan masih tergolong sederhana (konvensional). Masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar kampung masing–masing karena mudah terjangkau. Sistem pertanian yang dilakukan masih dengan pola ladang berpindah. Kondisi sumber daya alam di wilayah pulau ini sangat terbatas. Kondisi tanah berkapur dan ketidaktersediaan tanaman sagu sebagaimana sumber bahan pangan utama orang Papua menyebabkan masyarakat berusaha menyediakan bahan pangan lokal, termasuk pokem. Nilai gizi biji tanaman ini cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu upaya dalam mengatasi ketahanan pangan nasional.ABSTRACTCarrying capacity of the habitat plays important role in the fulfillment of human needs. The effort of pokem plant {Setaria italica (L.) Beauv} domestication in Numfor Island, Biak Numfor regency has been started by local communities since long time ago. The Plant grouping as grass (Family: Poaceae) have been used as local foodstuff. The aim of the study is to know the usage and cultivation of the plant performed by local communities in Numfor Island in strugling of fulfilling local foodstuff.  The result showed cultication of pokem has been done from one to other generation since their ancestors had arrived for the first time in the Numfor Island. Culture systems that they do are still relatively simple (conventional). Community has used of land around the village because it is easily affordable. Agricultural system is still done with the pattern of shifting cultivation. Condition of natural resources in the area of the island is very limited. The soils is calcareous and unavailability of sago palm as a major food source among Papuans enable the community to find  the alternative sources to provide local food, including pokem. The nutritional value of the seeds of this plant is quite high, so it would be possible to develope as one candidate to strengthen national food security.
PENGARUH UMUR POHON, BONITA DAN POSISI AKSIAL BATANG TERHADAP STRUKTUR MAKROSKOPIS DAN KUALITAS KAYU JATI SEBAGAI BAHAN FURNITUR (Effect of Tree Age, Site Quality Index and Trunk Axial Position on Macroscopic Structure and Quality of Teak Wood) Yustinus Suranto; Tibertius Agus Prayitno; Djoko Marsono; Johanes Pramana Gentur Sutapa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18728

Abstract

ABSTRAKPenggunaan kayu jati muda merupakan solusi alternatif terhadap terbatasnya ketersediaan bahan baku yang dihadapi oleh industri mebel. Kayu muda cenderung memiliki kayu berkualitas rendah. Salah satu pengukur kualitas kayu adalah sifat struktur makroskopik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur pohon, bonita dan posisi aksial batang terhadap struktur makroskopis kayu dan kualitas kayu. Tiga puluh enam pohon jati muda ditebang dari kawasan hutan KPH Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Tiga cakram berketebalan 3 cm diambil dari masing-masing posisi aksial batang, yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung. Pengukuran proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun dilakukan berdasarkan perbedaan warna alami dan dengan menggunakan lembaran plastik transparan bergambar pola milimeter. Data dianalisis dengan analisis varians dalam rancangan acak lengkap berblok yang disusun secara faktorial. Pengujian lanjutan dilakukan dengan uji HSD Duncan. Kualitas kayu ditentukan dengan analisis determinan berdasarkan kurva normal Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi tiga faktor tidak berpengaruh terhadap proporsi kayu teras, dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi kelas umur dan bonita pengaruh nyata terhadap proporsi kayu teras dan dimensi lingkarah tahun. Posisi aksial batang berpengaruh secara nyata terhadap proporsi kayu teras dan berpengaruh sangat nyata terhadap dimensi lingkaran tahun. Semakin mendekat pada posisi pangkal batang, semakin tinggi proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi tiga faktor yaitu kelas umur V, bonita 4 dan posisi tengah batang menghasilkan kualitas kayu tertinggi, yaitu kelas 2, dan interaksi kelas umur V, bonita 3 dan bagian ujung batang menghasilkan kualitas terendah, yaitu kelas 4. Penggunaan kayu berbasis kualitas akan memaksimalkan nilai guna dan meningkatkan umur pakai produk, sehingga mengurangi intensitas penebangan hutan dan lebih ramah lingkungan hidup.ABSTRACTYoung teak utilization is an alternative solution of limited raw materials faced by furniture industry. Young wood tends to have a low-quality wood. One element for measuring wood quality is wood macroscopic structure properties. This study was aimed to determine the effect of tree age, site quality index and axial stem position on wood structures and wood quality. Thirty-six young teak trees were harvested on forest areas of Kendal Forest District, Central Java Province. Three disks were taken from each trunk, namely from the butt, middle and upper parts. Heartwood proportion and annual ring dimensions were measured based on natural color difference by using millimeter grid apparatus. Data were analyzed by using variance analysis arranged in blocked factorial and further testing were performed by using HSD Duncan. Wood quality was analyzed using determinant method which elaborated based on Z norm curve. Results showed that interaction of three factors did not affect on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Interaction of age classes and site quality index influence significantly on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Stem axial position significantly affects on heart-wood proportion and very significantly effect on growth ring dimensions. The lower wood position, the higher heart-wood proportion and the wider growth ring dimensions. Interaction of three factors namely class age V, site quality index 4 and middle trunk position has a highest wood quality, namely class 2, but interaction of age class V, site quality index 3 and top trunk has the lowest one, namely class 4. The use of wood-based quality will maximize the value and increase the product lifespan, thereby reducing the intensity of logging and become more environmental friendly.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue