cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2002): Juli" : 5 Documents clear
PEMBIAYAAN RESTRUKTURISASI INDUSTRI BUS PERKOTAAN SESUAI DENGAN KERANGKA KERJA PROTOKOL KYOTO (Funding for Industrial Restructuring Urban Bus Industry following Kyoto Protocol) Danang Parikesit; Muchlich Z. Asikin
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18588

Abstract

ABSTRAKSektor transportasi, khususnya sektor angkutan umum telah lama disadari sebagai kontributor utama emisi gas rumah kaca (Green House Gases Emissions). Investasi pada angkutan umum perkotaan sangat dibutuhkan walaupun pembiayaan yang konvensional sering sulit dilakukan karena tingginya tingkat investasi dan prioritas pemerintah saat ini. Angkutan perkotaan juga dilihat sebagai daerah kekuasaan sektor swasta yang membuat pemerintah sulit untuk mengeluarkan uang publik. Ratifikasi Kyoto Protocol telah memberi jalan untuk mengembangkan alternatif pembiayaan untuk pembangunan yang berkelanjutan. Clean Development Mechanism pada Kyoto Protocol telah membuka kesempatan bagi otoritas angkutan umum perkotaan dengan menggunakan prinsip carbon trading. Sumber daya untuk menerapkan proyek angkutan umum perkotaan dengan CDM sangat esensial. Pekerjaan di masa datang harus diarahkan untuk mempelajari metodologi dalam mengkombinasi soft measures dan melaksanakan proyek secara optimal. Pembiayaan dengan sistem CDM ini telah dimulai di Yogyakarta dengan judul The Green House Gases Emission Reduction Program for Urban Buses in Yogyakarta atau Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Bus Perkotaan di Yogyakarta. Sebuah aliansi dengan nama YUPTA (Yogyakarta Urban Public Transport Alliance) telah dibentuk yang terdiri dari 3 lembaga yaitu Dinas Perhubungan Propinsi DIY, Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM dan Koperasi Pengusaha Angkutan Kota Yogyakarta (KOPATA). ABSTRACTTransportation sector, especially public transportation, has been known as the main contributor to the green house hases emission. Investment to urban public transportation is needed but conventional funding is often difficult to be obtained because of the high investment level and the present government priority. Urban transportation is also seen as a private sector domain making the government difficult to use public fund. Kyoto protocol ratification has opened the way to develop funding alternative to sustainable development. Clean development mechanism of Kyoto Protocol provides opportunity for urban public transportation in developing countries to support urban public transportation project applying CDM is essential in which future tasks should be directed to study the methodology in combining soft measures and conducting the project optimally. Funding applying CDM system has been started in Yogyakarta under the title “the Green House Gases Emission Reduction Program for Urban Buses in Yogyakarta”. An alliance called YUPTA (Yogyakarta Urban Public Transport Alliance) has been established which it consist of three institution, i.e, the Transportation office of Yogyakarta Province, study Center for Transportation and Logistic Gadjah Mada University and KOPATA (Cooperation of Urban Transportation Businessman of Yogyakarta)
CONTINGENT VALUATION METHODS DALAM PENILAIAN KUALITAS UDARA DI YOGYAKARTA (Contingent Valuation Methods in Air Quality Valuation in Yogyakarta, Indonesia) Indah L. Murwani Yulianti; Dwijoko J. Ansusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18589

Abstract

ABSTRAKKegiatan transportasi merupakan salah satu penyumbang yang besar bagi pencemaran udara di daerah perkotaan. tempat terakumulasinya polutan cenderung berada pada tempat-tempat yang direncanakan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Akibatnya masyarakat tidak cukup mendapat perlindungan kenyamanan yang kemudian dirasakannya sebagai suatu ketidakadilan. Dengan prinsip polluters pay kiranya dapat dirasakan bahwa keadilan itu ada apabila pencemar baik perorangan ataupun pemerintah melakukan pembayaran penuh atas biaya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan mereka. Metode valuasi kontingensi dapat digunakan untuk mengetahui keinginan membayar (willingness to pay) dari masyarakat untuk pemulihan kualitas udara tersebut. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat mempunyai kemauan membayar untuk upaya memelihara lingkungan melalui dana yang ditarik dari setiap liter BBM yang dikonsumsi untuk melakukan perjalanan (transportasi). ABSTRACTTransportation activities are one of the largest contributors to the air pollution in urban area. The locations of accumulative pollution tend to take place allocated as the central economic activities. As a consequences, people have not been adequately protected against the pollution which has been considered as injustice. based on the “polluters pay” principle, justice is in existence if the polluters pay in full for the environmental degradation as the impact of their activities. The contingeny valuation method can be used to identify the willingness to pay of the people to improve the air quality. The study concluded that people has “willingness to pay” in order to conserve the environment through payment of each liter of fuel consumed for transportation.
VALUASI EKONOMI BIODIVERSITY KARS: STUDI KASUS VALUASI EKONOMI KAWASAN KARS MAROS, SULAWESI SELATAN (Economic Valuation of Karst Biodiversity: A Case Study of Karst Region in Maros, South Sulawesi, Indonesia) Gustami Gustami; Heru Waluyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18590

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk menghitung nilai ekonomi total dari kawasan kars Maros Sulawesi Selatan. Studi berlokasi di Taman Wisata Alam bantimurung, Cagar Alam Karaenta, dan Taman Wisata Alam Gua Pattunang. Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI) dengan melibatkan Staf Bapedal Regional III Makassar, Pemda Maros, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. Pendekatan biaya perjalanan adalah yang pertama dikaji untuk menghitung nilai guna langsung dari kegiatan rekreasi. Penghitungan nilai tidak langsung keberadaan kawasan kars beserta hutannya yang didasarkan pada nilai dari fungsinya sebagai sumber air dan pencegah terjadinya banjir dan longsor. Nilai preservasi kawasan kars yang dinilai dengan menghitung keinginan membayar pengunjung untuk konservasi kupu-kupu dan kumbang,perbaikan lingkungan terutama yang berkaitan dengan kebersihan, keindahan dan kesejukan dengan jumlah kunjungan pertahun. Berdasarkan hasil analisis, nilai ekonomi total yang terdiri dari nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung serta nilai bukan guna (non use value) yang berupa nilai preservasi adalah Rp. 639,556,607,830,-. Walaupun kenyataannya masih banyak nilai ekonomi lain yang belum dikaji, namun studi ini telah mengungkapkan sebagian nilai ekonomi kawasan kars yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat di luar yang mengunjungi kawasan ini untuk menikmati fenomena “kars tropika klasik” Maros. ABSTRACTThe objective of this study is to assess total economic values of karst region in Maros, South Sulawesi, spesifically at Taman wisata alam Bantimurung, Cagar alam Karaenta, and Taman Wisata Alam Gua Pattunuang. This activity was a joint project between the Ministry of Environmental Republic of Indonesia and the Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI) involving staff of BAPEDAL Regional III, Makassar, local government of Maros, Muhammadiyah University and Hassanudin University in Makassar. A travel expenditure approach was firstly assessed to determine the direct use value of recreation activities. Indirect value determination abou the existence of karst region including its forest was conducted based lor the value of its function as water resources and prevention of flood and land slide. The preservation value of karst region was determined by computing visitors willingness to pay for butterfly conservation, environmental improvement, amenity, and also the number of visitors. Based on the result of the analysis, the total economic value consisted of the direct use value, indirect use value, and non-use value which formed the preservation value amounting Rp. 639.556.607,830,-. Even though there other economic values which have not been assessed, this study has addressed some parts of economic values of a karst region which was developed by both local and outside people who enjoy the classical tropical karst of Maros.
MENAKSIR NILAI EKONOMI TAMAN HUTAN WISATA TAWANGMANGU: APLIKASI INDIVIDUAL TRAVEL COST METHOD (Estimating the Economic Value of Tawangmangu Tourism Forest: An Application of the Travel Cost Method) Achmad Raharjo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18591

Abstract

ABSTRAKStudi ini merupakan kajian dalam rangka penerapan salah satu dari metode valuasi lingkungan, individual travel cost method (ITCM), yang implementasinya menggantungkan data masing-masing individu. Untuk kajian ini dipilih Taman Hutan Wisata Twangmangu yang merupakan salah satu obyek wisata hutan terkenal khususnya di Jawa. Selanjutnya, untuk pentahapan pengumpulan data dilakukan survei langsung (wawancara) berasar kuesioner kepada pengunjung. Diasumsikan, nilai valuasi ekonomi hasil penerapan ITCM di negara berkembang mungkin lebih kecil angkanya bila dibandingkan studi serupa di negara maju akibat perbedaan karakteristik sosial-ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, hipotesis studi ini adalah jumlah kunjungan ke obyek wisata (rekreasi) juga relatife lebih sedikit sebagai akibat tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatife lebih rendah dibandingkan masyarakat negara maju. Dari kondisi tersebut, nilai keuntungan kegiatan rekreasi yang dicerminakn dengan agregat consumer surlus (CS) juga akan kecil. Studi ini menunjukkan bahwa nilai keuntungan rata-rata sebesar US$41.50 per tahun per individu atau sebesar US$18.20 per individu setiap kunjungan. Total nilai ekonomi Taman Hutan Wisata Tawangmangu adalah US$7.51 juta. Nilai hasil studi ini comparable terhadap studi-studi serupa di beberapa negara maju maupun negara sedang berkembang di Asia. ABSTRACTThe study applied the Individual Travel Cost Method (ITCM) as one of the available environmental evaluation methods. The implementation of ITCM depends on individual data. Tawangmangu Tourism Forest, a well-known tourism forest in Java, was selected as the study area. The data were collected by directly interviewingthe visitors. It was assumed the values as a result of ITCM application in developing countries were lower than those in developed countries because of their different socio-economic characteristics. Therefore, the hypothesis of this study was just adjusted: the number of the visitors to the tourism objects is lower as a consequence of the lower people welfare compared to that of developed countries. Based on this condition, benefit obtained from recreation activities reflected by consumer surplusa aggregate (CS) will also small. This study shows that the average economic benefit was US$ 41.50 per year per individual or US$ 18.20 per individual in each visit. The total economic values of Tawangmangu tourism forest was US$ 7.51 millions. This value is comparable to the values of similar studies conducted in other countries.
STUDI VALUASI EKONOMI (NILAI CADANGAN) BATUBARA: STUDI KASUS OMBILIN (Coal Economic Valuation: A Case Study in Ombilin, Indonesia) Wisnu R. Ali Martono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18592

Abstract

ABSTRAKBatubara merupakan salah satu sumber energi yang banyak terdapat di dunia, dengan tingkat pemakaian yang cenderung mengingkat di dunia. Batubara terdapat dalam bentuk dan kualitas yang beragam. Di Indonesia, produksi batubara terus meningkat, sebagian untuk keperluan eksport, sebagian untuk mencukup kebutuhan dalam negri. Makalah ini mencoba menyajikan valuasi ekonomi untuk batubara yang ditambang di wilayah Ombilin, khususnya yang dilakukan oleh PT. Bukit Asam Unit Produksi Ombilin. ABSTRACTCoal is one of the energy sources available which its utilization tends to increase steadily. Coal is available in various forms and quality. In Indonesia, the coal production has been increasing to fulfill both domestic and foreign demand. This paper presents economic valuation for coals mined in Ombilin region, especially those conducted by PT. Bukit Asam Unit Produksi Ombilin. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue