cover
Contact Name
Pandu Febriyanto
Contact Email
inovasiproses@akprind.ac.id
Phone
+6285642058253
Journal Mail Official
inovasiproses@akprind.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jl. Kalisahak No. 28 Kompleks Balapan, Yogyakarta 55222
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Inovasi Proses
ISSN : -     EISSN : 23386452     DOI : https://doi.org/10.34151/jip
Core Subject : Engineering,
Jurnal Inovasi Proses merupakan Jurnal Nasional Jurusan Teknik Kimia IST AKPRIND Yogyakarta yang menyajikan informasi tentang hasil penelitian dan pengabdian yang berkaitan dengan teknik kimia.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020" : 7 Documents clear
OPTIMASI PEMANFAATAN MINYAK SERAI (CYIMBOPOGANCITRATES DC) SEBAGAI ZAT ANTISEPTIK PADA PEMBUATAN SABUN LUNAK HERBAL
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sabun komersial sekarang ini menggunakan zat antibakteri sintetis yang tidak baik jika digunakan dalam jangka waktu panjang. Sabun yang biasa digemari masyarakat adalah sabun dengan antiseptik herbal dengan berbagai manfaatnya. Minyak serai mengandung senyawa eugenol yang dapat berperan aktif membunuh bakteri pathogen. Maka penelitian tentang pembuatan sabun antiseptik herbal dari VCO dan minyak sereh sebagai antiseptik, dengan variabel konsentrasi KOH dan temperatur proses perlu dilakukan. Pada penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan sabun dari Virgin Coconut Oil (VCO) dengan minyak sereh, dimana reaksi saponifikasi dengan meraksikan minyak dan larutan KOH dengan perbandingan konsentrasi KOH divariasikan (20%, 30%, 40% dan 50%) pada suhu 500C, kecepatan pengadukan 350 rpm selama 45 menit. Pemisahan dilakukan dengan larutan NaCl 30%. Hasil sabun kemudian dianalisis yang meliputi uji organoleptik, uji alkali bebas, uji asam lemak bebas, dan uji daya hambat bakteri. Hasil terbaik dari variasi konsentrasi KOH tersebut kemudian divariasikan pada suhu meliputi (300C, 400C, 500C, dan 600C) dengan prosedur yang sama. Hasil sabun yang diperoleh dianalisis dan dibandingkan dengan standar mutu sabun (SNI 06-3532-1994). Produk sabun terbentuk lunak berwarna kuning pekat, aroma khas serai. Kondisi proses yang baik diperoleh dengan menggunakan sabun yang dibuat dengan konsentrasi KOH 30% dan temperatur proses 600C. Dengan kondisi tersebut diperoleh sabun dengan pH 10, kadar alkali bebas 0.028%, asam lemak bebas 1.14%, dan efektivitas daya hambat bakteri 72,09%.
PIROLISIS LIMBAH KULIT NANGKA MENJADI ARANG AKTIF DAN ASAP CAIR DENGAN AKTIVATOR NATRIUM KLORIDA (NaCl) (Variabel Waktu Pirolisis dan Konsentrasi Zat Aktivator)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan tanaman buah yang termasuk golongan tanaman tropis. Buah nangka yang dikonsumsi adalah bagian daging buahnya. Komposisi buah nangka terdiri dari 28% daging buah, 34% bijidan 38% kulit buah.. Kulit nangka selama ini umumnya hanya dibuang dan kurang dimanfaatkan. Salah satu cara penanganan hal tersebut adalah dengan melakukan pengolahan kembali untuk menjadikan kulit nangka sebagai salah satu bahan baku pembuatan arang aktif dan asap cair. Sebagai biomassa kulit nangka memiliki komposisi organik dan arang yang cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan arang aktif dan asap cair dengan pirolisis. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan metode pirolisis, yaitu pengarangan tanpa terjadi kontak dengan udara. Limbah kulit nangka yang telah dipotong dengan ukuran rata-rata 1cm x 1cm dan telah dilakukan pengeringan awal dianalisis kadar air dan kadar abu kemudian dilakukan pirolisis. Pirolisis limbah kulit nangka 150 gram dengan kadar air 11,7% dan kadar abu 7,8% dilakukan pada suhu 400 ºC menit dengan variasi waktu pirolisis 30 menit, 40 menit, 50 menit, 60 menit dan 70 menit. kemudian direndam dalam zat aktivator larutan NaCl selama 4 jam deng variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada proses pirolisis dengan menggunakan bahan baku 150 gram, suhu proses 400 ºC didapat lama waktu pirolisis optimum pada lama waktu 60 menit dengan kereaktifan arang sebesar 208,116 mg/g dan volume asap cair sebanyak 49 mL. Arang hasil pirolisis dengan suhu 540 ºC dan lama waktu 60 menit sebanyak 5 gram direndam dalam larutan aktivator natrium klorida selama 4 jam didapat konsentrasi zat aktivator optimum natrium klorida 20% dengan kereaktifan arang 276,642 mg/g. Hasil analisis asap cair diperoleh pH 3,84, densitas 1,0059 gram/mL, warna coklat gelap, tidak transparan, ada bahan terapung, dan memiliki kandungan etilen glycol dan isobutyl alcohol.
Pengambilan Zat Antimicrobial Saponin dari Batang Pisang (Musa Acuminata) dengan Pelarut Methanol (Variabel pengaruh waktu dan suhu ekstraksi)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, menurut Direktorat Bina Produksi Hortikultura serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, pisang merupakan salah satu buah prioritas untuk dikembangkan dan diteliti di Indonesia. Produksi pisang di Indonesia meningkat tiap tahunnya dan menempati peringkat tertinggi diikuti oleh mangga pada urutan kedua dan jeruk urutan ketiga. Bahkan Indonesia merupakan negara penghasil pisang terbesar ke-6 di dunia setelah India, Brazil, China, Ekuador dan Piliphina. Namun, pemanfaatan pisang masih terbatas pada buahnya saja, sedangkan kulit, daun dan batang pisang masih menjadi limbah, sehingga dibutuhkan inovasi dalam pengolahan limbah tersebut. Batang pisang merupakan salah satu limbah yang dihasilkan di dunia industri pisang di Indonesia. Diamana kita mengetahui bahwa di dalam batang pisang terdapat getah pohon pisang mengandung senyawa saponin, antrakuinon dan kuinon yang berfungsi sebagai antibakteri dan penghilang rasa sakit. Terdapat pula kandungan lektin yang berfunfgsi untuk menstimulasi sel kulit, tanin yang bersifat antiseptik, dan kalium yang bermanfaat untuk melancarkan air seni, serta saponin yang berkhasiat untuk mengencerkan dahak. Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa ekstrak batang pisang mengandung beberapa jenis senyawa fitokimia yaitu saponin, tanin, dan flavonoid (Wijaya, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui cara pengambilan zat antimicrobial saponin yang ada pada batang pisang (Musa acuminata) serta kondisi prosesnya agar diperoleh hasil yang optimal. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa pengambilan zat saponin dengan cara ekstrasi dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut metanol dengan konsentrasi 70%. Selain itu kami juga dapat mengambil kesimpulan bahwa semakin lama waktu dan semakin tinggi suhu dalam menjalankan proses ekstraksi ini maka akan menghasilkan juga jumlah saponin yang terekstrak semakin tinggi.
PENENTUAN LETHAL DOSE 50% (LD50) PESTISIDA NABATI DARI CAMPURAN BUAH BINTARO, SEREH, BAWANG PUTIH, LENGKUAS (Variabel Waktu Pemasakan Dan Ratio Masing-Masing Bahan)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pestisida selalu mengalami peningkatan khususnya Indonesia, karena mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, berdasarkan data prospek indusri dan pemasaran pestisida, pemasaran serta penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat mencapai Rp 6 Triliun per tahunnya. Petani selama ini bergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain harga yang mahal, pestisida sintesis atau kimia juga memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatip dari penggunaan pestisida kimia antara lain, hama berpeluang menjadi kebal (resisten), terjadi peledakan hama baru (resurjensi), berpotensi menciptakan epidemi, penumpukan residu bahan kimia pada bagian tubuh tanaman yang berpotensi meracuni ternak bahkan organisme lain sehingga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati, penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen sehingga berpotensi meracuni manusia, terbunuhnya predator alami, pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia dan kecelakaan operasi bagi pengguna pestisida kimia yang dapat menyebabkan keracunan, kebutaan, kemandulan serta efek buruk lainnya. Bila dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik akan lebih aman dan mengguntungkan bila ditinjau dari segi ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini berujuan untuk mengetahui Lethal Dose (LD50) dalam pestisida nabati dari campuran buah bintaro, sereh, bawang putih, dan lengkuas. Lethal Dose (LD50) memiliki definisi sebagai dosis yang mematikan terhadap 50% dari kelompok hewan uji. Telah dilakukan penelitian Uji Lethal Dose 50% (LD50) Pestisida nabati (campuran buah bintaro, sereh, bawang putih, lenguas) terhadap jangkrik (Gryllus). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jangkrik (Gryllus). Jangkrik (Gryllus) dibagi secara rata menjadi 3 kelompok dalam suatu area. Setiap area berisikan 30 ekor jangkrik (Gryllus) dengan berat yang bervariasi. Pada setiap kelompok jangkrik (Gryllus) disemprotkan 3 ml pestisida. Kemudian jangkrik (Gryllus) diamati selama beberapa hari. Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan jangkrik mati sebanyak 50% pada hari ke-3 dengan komposisi 200 gram buah bintaro dengan waktu pemasakan selama 120 menit dan Uji Lethal Dose 50% (LD50) sebesar 1,5849.10-3 mg/kg.BB. Berdasarkan keputusan menteri tenaga kerja R.I No. Kep. 187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja menteri tenaga kerja R.I bahwa Pestisida termasuk dalam kategori sangat toksik.
EKSTRAKSI ANTOSIANIN DARI KULIT BAWANG MERAH SEBAGAI PEWARNA ALAMI MAKANAN (Variabel Volume Pelarut dan Kecepatan Pengadukan)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah merupakan tanaman lokal yang banyak ditemukan di Indonesia. Umbi bawang merah dapat dimakan secara langsung, dijadikan sebagai bumbu masakan, obat tradisional, dan lain – lain. Selain itu, ternyata didalam kulit bawang merah mengandung senyawa anthosianin yang diduga sebagai pigmen yang memberi warna merah keunguan pada kulit bawang merah. Pada saat ini penggunaan zat pewarna semakin meningkat seiring dengan berkembangnya industri pengolahan pangan, khususnya jenis pewarna sintetis, maka dari itu diperlukan pewarna alami pengganti pewarna sintetis. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti pewarna sintetis adalah kulit bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pengambilan zat warna antosianin dari kulit bawang merah dan jumlah antosianin yang terekstrak. Penelitian ini dilakukan melalui metode ekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dan air jeruk nipis sebagai asam sitrat 1N dengan melanjutkan hasil optimum pada variabel sebelumnya yang diperoleh waktu ekstraksi 120 menit dan suhu 600C. Kemudian, ekstraksi dilanjutkan dengan memvariasikan volume pelarut (100 mL, 125 mL, 150 mL, 175 mL dan 200 mL) dan kecepatan pengadukan (200 rpm, 250 rpm, 300 rpm, 350 rpm, dan 400 rpm) pada bahan baku kulit bawang merah 25 gram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yang paling baik yaitu dengan kondisi operasi volume pelarut 150 mL dan kecepatan pengadukan 300 rpm dengan jumlah antosianin terekstrak sebesar 0,523 mg/g. Diharapkan dari hasil penelitian ini zat warna antosianin dari kulit bawang merah dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami pengganti pewarna sintetis.
Pembuatan Nitroselulosa Dari Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria) (Variabel Waktu Nitrasi dan Rasio Asam Penitrasi)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini maraknya isu tentang tanaman lidah mertua menjadi tren masyarakat Indonesia yang sedang digemari. Tanaman lidah mertua selain sebagai tanaman hias juga dikenal sebagai tanaman yang mengandung serat yang cukup tinggi. Dengan kadar serat yang tinggi, tanaman lidah mertua dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan nitroselulosa. Nitroselulosa dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar plastik, lacquer (bahan pelapis), film, bahan dasar semen, bahan baku propelan (peledak) dan smokless powder. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses nitrasi selulosa pada tanaman lidah mertua menjadi nitroselulosa. Selain itu juga bertujuan untuk mempelajari kondisi yang optimum pada proses nitrasi tanaman lidah mertua untuk menghasilkan nitroselulosa dengan kadar nitrogen yang tinggi. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan, yaitu proses pre-treatment dan proses nitrasi. Proses pre-treatment bertujuan untuk meningkatkan kadar α-selulosa dalam bahan baku, melalui proses pre-hidrolisis, delignifikasi, dan bleaching. Sedangkan proses nitrasi menggunakan asam campuran yang terdiri dari asam nitrat dan asam sulfat sebagai katalisator. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh waktu reaksi, dan perbandingan asam sulfat dengan asam nitrat. Hasil penelitian menunjukkan proses nitrasi yang memberikan hasil terbaik pada waktu reaksi 90 menit, perbandingan asam sulfat terhadap asam nitrat 7:3. Pada kondisi ini diperoleh yield sebanyak 76,6% dengan kandungan nitrogen sebesar 11,6% dan termasuk dalam kualitas AM grades serta di bidang industri dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar film dan lacquer. Hasil uji FTIR menunjukkan bahwa telah terbentuk dua serapan gugus -NO2 pada nitroselulosa, sehingga termasuk dalam jenis selulosa di-nitrat.
PEMBUATAN KITOSAN DARI LIMBAH SISIK IKAN (Variabel Konsentrasi Larutan NaOH dan Waktu Ekstraksi)
Jurnal Inovasi Proses Vol. 5 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : JURNAL INOVASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sisik ikan merupakan limbah yang belum dimanfaatkan dengan optimal, selama ini sisik ikan dimanfaatkan sebagai sumber kolagen. Sisik ikan kering memiliki kadar air 9,00%, kadar protein 25,81% dan kadar lemak 7,64%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sisik ikan sebagai bahan baku dalam pembuatan kitosan. Pembuatan kitosan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap deproteinasi untuk menghilangkan protein yang terkandung dalam sisik ikan, tahap demineralisasi untuk menghilangkan mineral yang terkandung dalam sisik ikan, dan tahap deasetilasi untuk menghilangkan gugus asetil yang terdapat dalam kitin dan membentuk kitosan. Bahan baku berupa sisik ikan yang telah dikeringkan dibawah sinar matahari dan disangrai, ditimbang sebanyak 95,00 g kemudian diekstraksi dengan menggunakan larutan NaOH 5% selama 2 jam dengan suhu operasi 65°C dan dilanjutkan proses demineralisasi dengan menggunakan larutan HCl 0,5N selama 30 menit sehingga diperoleh kitin. Proses selanjutnya yaitu deasetilasi dengan memvariasikan konsentrasi larutan NaOH dan waktu ekstraksi. Kitin sebanyak 10 g diekstraksi menggunakan larutan NaOH 10% 50 mL dengan waktu ekstraksi 2 jam. Dengan menvariasikan konsentrasi larutan NaOH. Proses selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan memvariasikan waktu ekstraksi. Kitosan yang dihasilkan dari proses ini dianalisis derajat deasetilasinya dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red). Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat deasetilasi kitosan tertinggi pada variasi konsentrasi larutan NaOH 40% sebesar 87,28%, sedangkan pada variasi waktu ekstraksi sebesar 86,31 % yang didapat dari proses deasetilasi menggunakan suhu 90°C dengan waktu pemanasan 2 jam.

Page 1 of 1 | Total Record : 7