cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025" : 12 Documents clear
Efektivitas teknik fisioterapi dada pada pasien anak dengan bronkopneumonia Rizkiawan, Rachmat; Setiawati, Setiawati; Novikasari, Linawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.860

Abstract

Background: Pneumonia is an inflammatory condition that attacks the lungs triggered by a bacterial infection. Symptoms include high fever accompanied by a productive cough with phlegm, rapid breathing, shortness of breath, and other symptoms such as restlessness, headache, and decreased appetite. The consequences of pneumonia can be impaired or obstructed breathing due to secretions, requiring airway clearance treatment. Chest physiotherapy is an important treatment modality for pediatric patients with respiratory diseases. Purpose: To create a final scientific paper on the application of chest physiotherapy to maintain airway clearance in patients with bronchopneumonia. Method: This type of research uses qualitative descriptive research conducted in Kupang Kota Village, Bandar Lampung City in 2024. Analytical research design with a One-group pretest-posttest quasi-experimental approach. The intervention given was in the form of chest physiotherapy for 15 minutes in one day and was carried out for 3 days. Results: The research subjects An. N and An. A showed significant improvements, including being able to expel phlegm, normal respiratory rate (24 and 28 times per minute respectively), clear breath sounds without rhonchi, normal pulse rate (82 and 86 times per minute respectively), and an increase in SpO2 with a level of up to 99% after administering chest physiotherapy for 15 minutes a day for three days. Conclusion: After three days of chest physiotherapy, the child's airway clearance was effective. Patients An. N and An. A showed significant improvement, including being able to expel phlegm, normal respiratory rate (24 and 28 times per minute, respectively), clear breath sounds without rhonchi, pulse rate within normal limits (82 and 86 times per minute, respectively), and an increase in SpO2 levels of up to 99%.   Keywords: Bronchopneumonia; Chest Physiotherapy; Pediatric Nursing   Pendahuluan: Pneumonia adalah suatu kondisi peradangan yang menyerang paru-paru yang dipicu oleh infeksi bakteri. Gejalanya berupa demam tinggi yang disertai batuk produktif berdahak, napas cepat, sesak napas, dan gejala lain seperti gelisah, sakit kepala, dan penurunan nafsu makan. Akibat dari pneumonia dapat berupa terganggunya atau terhambatnya upaya pernafasan akibat sekret sehingga memerlukan pengobatan pembersihan jalan nafas. Fisioterapi dada merupakan modalitas pengobatan yang penting bagi pasien anak dengan penyakit pernafasan. Tujuan: Untuk membuat karya ilmiah akhir tentang penerapan terapi fisioterapi dada untuk mempertahankan bersihan jalan nafas pada pasien bronkopneumonia. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan di Kelurahan Kupang Kota, Kota Bandar Lampung pada tahun 2024. Desain penelitian analitik dengan pendekatan quasi eksperimen One-group pretest-posttest. Intervensi yang diberikan berupa tindakan fisioterapi dada selama 15 menit dalam satu hari dan dilaksanakan selama 3 hari. Hasil: Subjek penelitian An. N dan An. A menunjukkan peningkatan yang signifikan, diantaranya mampu mengeluarkan dahak, frekuensi pernapasan normal (masing-masing 24 dan 28 kali per menit), suara napas jernih tanpa ronki, denyut nadi normal (masing-masing 82 dan 86 kali per menit), dan peningkatan SpO2 dengan tingkat hingga 99% setelah pemberian tindakan fisioterapi dada selama 15 menit sehari selama tiga hari. Simpulan: Setelah tiga hari dilakukan fisioterapi dada, bersihan jalan nafas anak efektif. Pasien An. N dan An. A menunjukkan peningkatan yang signifikan, diantaranya mampu mengeluarkan dahak, frekuensi pernapasan normal (masing-masing 24 dan 28 kali per menit), suara napas jernih tanpa ronki, denyut nadi dalam batas normal (masing-masing 82 dan 86 kali per menit), dan peningkatan Kadar SpO2 hingga 99%.   Kata Kunci: Bronkopneumonia; Fisioterapi dada; Keperawatan Anak
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dispepsia Amanda, Adelia; Anita, Fitri; Andora, Novika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.885

Abstract

Background: Dyspepsia is a collection of complex gastrointestinal symptoms that are often encountered in daily clinical practice. This condition is characterized by a series of symptoms related to the gastroduodenal digestive tract, such as pain or burning sensation in the upper abdominal area (epigastrium), a feeling of fullness after eating (postprandial fullness), or feeling full quickly (early satiety). Purpose: To determine the factors associated with the occurrence of dyspepsia. Methods: Quantitative research with an observational analytical survey design and a cross-sectional approach. The population in this study were dyspepsia patients who visited the Kotabumi I Health Center and was carried out on January 4-January 15, 2025. The sample in this study amounted to 114 respondents. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Bivariate analysis used the chi square test which was used to analyze the correlation between categories with categories with the provision that if p, 0.05 then there is a correlation between the independent and dependent variables. Results: Most respondents experienced dyspepsia as many as 77 respondents (67%) and those who did not experience it were 37 respondents (32%). Based on the results of statistical tests, there is a relationship between diet and the incidence of dyspepsia syndrome p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between stress levels and the incidence of dyspepsia syndrome dyspepsia p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between NSAID use and the incidence of dyspepsia syndrome dyspepsia p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between irritating foods and drinks dyspepsia p-value 0.001 or p-value <0.05. Conclusion: There is a significant relationship between diet, stress levels, use of NSAIDs, irritating foods and drinks and the incidence of dyspepsia syndrome.   Keywords: Diet; Dyspepsia; Stress   Pendahuluan: Dispepsia merupakan kumpulan gejala gastrointestinal (gastrointestinal symptoms) yang kompleks dan sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini ditandai dengan rangkaian gejala yang terkait dengan saluran pencernaan gastroduodenal, seperti nyeri atau sensasi terbakar di daerah perut atas (epigastrium), perasaan kenyang setelah makan (postprandial fullness), atau cepat merasa kenyang (early satiety). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dispepsia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan survey analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dispepsia yang berkunjung ke Puskesmas Kotabumi I dan dilaksanakan pada tanggal 4 januari-15 januari 2025. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 114 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisa bivariat menggunakan uji chi square yang dimanfaatkan untuk menganalisis korelasi antar kategori dengan kategorik dengan ketentuan jika p,0.05 maka terdapat korelasi antara variabel independen dengan dependen. Hasil: Sebagian besar responden mengalami dispepsia sebanyak 77 responden (67%) dan yang tidak mengalami responden sebanyak 37 responden (32%). Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian sindrom dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara tingkat stress dengan kejadian sindrom dispepsia dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara penggunaan NSAID dengan kejadian sindrom dispepsia dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara makanan dan minuman iritatif dispepsia p-value 0.001 atau p-value <0.05. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pola makan, tingkat stress, penggunaan NSAID, makanan dan minuman iritatif dengan kejadian sindrom dispepsia.   Kata Kunci : Dispepsia; Pola Makan; Stress
Faktor-faktor yang memengaruhi kekambuhan gastritis Septiana, Annisa; Andora, Novika; Erwin, Tubagus
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.886

Abstract

Background: Gastric mucosa can experience acute or chronic inflammation known as gastritis. In 2021, gastritis attacked 40-50% of the world's population, as reported by the World Health Organization (WHO). According to data from the Ministry of Health, gastritis ranked sixth in 2018, covering 60.86% of all hospitalizations (a total of 34.580). Patients with gastritis will have productivity and quality of life that are disrupted by this disease. In addition to disrupting daily activities, this disease also has an impact on the social and economic welfare of sufferers. Purpose: To determine the factors that influence and are associated with gastritis recurrence. Methods: This study used a cross-sectional method with a quantitative descriptive research design. The participants of the study were individuals who were treated at the Kotagajah Health Center with gastritis. The sampling technique used incidental sampling, so that a sample of 98 people was obtained. Data collection was carried out using a questionnaire containing questions about food and the use of OAIN. Results: The prevalence of unhealthy eating patterns was 81 (82.7%) and the prevalence of OAIN use variables was 72 (73.5%) in respondents. The results of the study showed a correlation between gastritis recurrence and factors indicated by a p value <0.05 obtained from the chi-square statistical test. Conclusion: Gastritis recurrence is associated with several factors, including poor diet and NSAID use. The results of the study stated that there was a significant relationship between diet and gastritis recurrence between the two variables and the results of the chi square test of the NSAID use variable also showed a significant relationship between the two variables. Keywords: Diet; Recurrence of Gastritis; Use Of Oains Pendahuluan: Mukosa lambung dapat mengalami peradangan akut maupun kronis yang dikenal dengan sebutan gastritis. Tahun 2021 gastritis menyerang 40-50% dari populasi dunia, sebagaimana dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut data Kementerian Kesehatan gastritis menduduki peringkat keenam pada tahun 2018 yang mencakup 60.86% dari seluruh kasus rawat inap (total 33.580). Pasien dengan penyakit gastritis akan memiliki produktivitas dan kualitas hidup yang terganggu oleh adanya penyakit ini. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, penyakit ini juga berdampak pada kesejahteraan sosial dan ekonomi penderitanya. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan berhubungan dengan kekambuhan gastritis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Partisipan penelitian adalah individu yang berobat ke Puskesmas Kotagajah dengan penyakit gastritis. Teknik pengambilan sampling menggunakan sampling insidental, sehingga diperoleh sampel sebanyak 98 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang makanan dan penggunaan OAIN. Hasil: Prevalensi pola makan tidak sehat sebesar 81 (82.7%) dan prevalensi variabel penggunaan OAIN sebesar 72 (73.5%) pada responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kekambuhan gastritis dengan faktor-faktor yang ditunjukkan dengan nilai p<0.05 yang diperoleh dari uji statistik chi-square. Simpulan: Kekambuhan gastritis berhubungan dengan beberapa faktor, diantaranya yaitu pola makan yang buruk dan penggunaan Oains. Hasil penelitian menyatakan adanya hubungan pola makan dengan kekambuhan gastritis secara signifikan antara kedua variabel tersebut dan hasil uji chi square variabel penggunaan oains juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Kata Kunci: Kekambuhan Gastritis; Penggunaan Oains; Pola Makan      
Implementasi massage effleurage terhadap nyeri punggung ibu hamil trimester III Fitri, Feni Elda; Saputri, Tiara Wulan; Yunitasari, Eva
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.910

Abstract

Background: Normal pregnancy changes the physiological system significantly, which can affect the health status of pregnant women and fetuses. Especially in pregnant women in the third trimester, so that the mother feels uncomfortable doing activities, experiences changes in body structure, and experiences long-term back pain. Complaints of back pain can be treated with effleurage massage techniques. Purpose: To provide nursing care to pregnant women in the third trimester who receive effleurage massage implementation. Method: Qualitative descriptive research design with research conducted at Yosomulyo Health Center, Metro Pusat City. The subjects in this study were two pregnant women in their third trimester referred to as patients I and II. Patient I (Mrs. P) was 26 years old with a gestational age of 33 weeks, and Patient II (Mrs. S) was 25 years old with a gestational age of 35 weeks. Effleurage massage was given for 5-10 minutes according to the SOP and then evaluated after giving effleurage massage. Results: Patient I showed a pain scale at level 6 on the first day, then after the intervention was carried out on the 4th day, the pain scale decreased to level 4. In line with these results, patient II also showed significant positive changes. The first day in patient II showed a pain scale level of 5, after the application of effleurage massage for four days there was a significant decrease, namely at a pain scale level of 2. Conclusion: The application of effleurage massage to patient I and patient II gave positive results from day 1 to the last day. Based on this, it can be concluded that the implementation of effleurage massage can reduce back pain in pregnant women in the third trimester. Keywords: Back Pain; Effleurage Massage; Pregnancy; Third Trimester Pendahuluan: Kehamilan normal mengubah system fisiologis secara bermakna, yang dapat mempengaruhi status kesehatan ibu hamil dan janin. Khususnya pada ibu hamil trimester 3, sehingga ibu merasa tidak nyaman beraktivitas, mengalami perubahan bentuk struktur tubuh, mengalami nyeri punggung jangka panjang. Keluhan nyeri punggung dapat ditangani dengan teknik massage effleurage. Tujuan: Untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil trimester III yang mendapat implementasi massage effleurage. Metode: Desain penelitian deskriptif kualitatif dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Yosomulyo Kota Metro Pusat. Subyek dalam penelitian ini berjumlah dua orang ibu hamil trimester III yang disebut sebagai pasien I dan pasien II. Pasien I (Ny.P) usia 26 tahun dengan usia kehamilan 33 minggu, dan Pasien II (Ny.S) usia 25 tahun dengan usia kehamilan 35 minggu. Pemberian massage effleurage dilakukan selama 5–10 menit sesuai dengan SOP kemudian dievaluasi setelah pemberian massage effleurage. Hasil: Pasien I menunjukkan skala nyeri pada tingkat 6 di hari pertama, kemudian setelah intervensi dilakukan pada hari ke 4 menunjukkan skala nyeri menurun menjadi tingkat 4.  Sejalan dengan hasil tersebut, pasien II juga menunjukkan perubahan positif yang signifikan. Hari pertama pada pasien II menunjukkan tingkat skala nyeri berada pada skala 5, setelah penerapan massage effleurage selama empat hari terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu berada di tingkat skala nyeri 2. Simpulan: Penerapan massage effleurage pada pasien I dan pasien II memberikan hasil positif mulai dari hari 1 sampai hari terakhir. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi massage effleurage dapat menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III.   Kata Kunci : Kehamilan; Massage Effleurage; Nyeri Punggung; Trimester III
Pengaruh kompres aloe vera terhadap pembengkakan payudara pada ibu post partum Puspitasari, Vimala; Yuliana, Dewi; Nela, Ari Sukma
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.931

Abstract

Background: Postpartum is the period that begins after the placenta is delivered until the uterus returns to normal as before pregnancy. Problems that often arise in the breasts of postpartum mothers are sore and sore nipples, swollen breasts, and mastitis or breast abscesses. Swollen breasts that press on the milk ducts will result in the baby not getting milk. Purpose: To find out whether aloe vera compresses have an effect on breast swelling in postpartum mothers. Methods: Quantitative research and the design used is quasi-experimental with one group pretest and posttest approach. The sample in the study were postpartum mothers who experienced breast swelling in the Gantiwarno Health Center Working Area on January 12-February 18 as many as 13 people using accidental sampling. Data analysis used univariate and bivariate analysis to identify the influence of each variable. Results: The mean value of the breast swelling scale before aloe vera compress was given to postpartum mothers was 5.31 with a minimum value of 4 and a maximum of 6. In addition, the mean value of the breast swelling scale after aloe vera compress was given to postpartum mothers was 4.00 with a minimum value of 2 and a maximum of 5. The non-parametric statistical test, namely the Wilcoxon test, showed that (p = 0.002) or <0.05, meaning that there was an effect of aloe vera compress on breast swelling in postpartum mothers. Conclusion: There is an effect of aloe vera compresses on breast swelling in postpartum mothers.   Keywords: Aloe Vera; Breast Engorgement; Post Partum.   Pendahuluan: Post partum merupakan masa yang dimulai setelah lahirnya plasenta sampai kondisi rahim kembali normal seperti saat sebelum hamil. Masalah yang sering timbul pada payudara ibu nifas yaitu puting susu nyeri dan lecet, payudara bengkak, dan mastitis atau abses payudara. Payudara yang bengkak dan menekan saluran air susu akan mengakibatkan bayi tidak mendapatkan air susu. Tujuan: Untuk mengetahui apakah pengaruh kompres aloe vera terhadap pembengkakan payudara pada ibu post partum. Metode: Penelitian kuantitatif dan desain yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest and posttest. Sampel dalam penelitian adalah ibu postpartum yang mengalami pembengkakan payudara di Wilayah Kerja Puskesmas Gantiwarno pada 12 Januari-18 Februari sebanyak 13 orang dengan menggunakan accidental sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat untuk mengidentifikasi pengaruh dari masing-masing variabel. Hasil: Nilai rata-rata (mean) skala pembengkakan payudara sebelum diberikan kompres aloe vera pada ibu post partum adalah 5.31 dengan nilai minimum 4 dan maximum 6. Selain itu, nilai rata-rata (mean) skala pembengkakan payudara sesudah diberikan kompres aloe vera pada ibu post partum adalah 4.00 dengan nilai minimum 2 dan maximum 5. Uji statistic non parametric yaitu uji Wilcoxon yang menunjukkan bahwa (p= 0,002) atau <0,05, artinya ada pengaruh kompres aloe vera terhadap pembengkakan payudara pada ibu post partum. Simpulan: Ada pengaruh kompres aloe vera terhadap pembengkakan payudara pada ibu post partum.   Kata Kunci: Aloe Vera; Pembengkakan Payudara; Post Partum.
Pengaruh health education tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche pada siswi Sari, Nur Atika; Yuliana, Dewi; Puspita, Richta
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.935

Abstract

Background: Menarche is the first menstruation experienced by a woman. Anxiety about menarche can occur because young women do not know the steps to take when they menstruate. Through the health education provided, it is hoped that individuals, families, and communities can experience changes in the way they think, act, and behave so that they can help overcome existing problems. Purpose: To determine whether there is an influence of health education about menstruation on the level of anxiety of female students facing menarche. Methods: Quantitative research with Pre-experimental Design research design and One Group Pretest and Posttest design. The sample in this study amounted to 30 female students with a sampling technique using Non-Probability Sampling through the Total Sampling technique. The analysis test used univariate and bivariate analysis using the Wilcoxon test. Results: Wilcoxon test analysis shows the influence of health education about menstruation in female students on the level of anxiety in facing menarche with a p-value = 0.000, which means p-value <0.05. Conclusion:  There is an influence of health education about menstruation on the level of anxiety in facing menarche in female students.   Keywords:Anxiety; Health Education; Menarche   Pendahuluan: Menarche adalah menstruasi pertama yang dialami seorang Perempuan. Kecemasan menghadapi menarche dapat terjadi karena remaja putri tidak mengetahui langkah yang harus diambil saat mengalami menstruasi. Melalui pendidikan kesehatan yang diberikan, diharapkan individu, keluarga, dan masyarakat bisa mengalami perubahan dalam cara berfikir, cara bersikap, dan cara berperilaku sehingga bisa membantu mengatasi masalah yang ada. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh health education tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan siswi menghadapi menarche. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Pre-experimental Design dan rancangan One Group Pretest dan Posttest. Sampel pada penelitian ini berjumlah 30 siswi dengan teknik pengambilan sampling menggunakan Non-Probability Sampling melalui teknik Total Sampling. Uji analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat yang menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Analisis uji wilcoxon terdapat pengaruh health education tentang menstruasi pada siswi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche dengan p-value = 0.000 yang artinya p-value<0.05. Simpulan: Terdapat pengaruh health education tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche pada siswi.   Kata Kunci: Health Education; Kecemasan; Menarche.
Pengaruh air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri pada penderita dispepsia Clarissa, Elga Manda; Andora, Novika; Andini, Sandra
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.936

Abstract

Background: Dyspepsia is a complex gastrointestinal symptom that is often encountered in daily clinical practice. This condition is characterized by a series of symptoms related to the gastroduodenal digestive tract, such as pain or a burning sensation in the upper abdomen (epigastrium). Purpose: To determine the effect of Curcuma longa juice on reducing the duration of pain in dyspepsia sufferers. Methods: Quantitative research with observational pre-experimental design and cross-sectional approach. The population in this study were dyspepsia sufferers who accidentally met the researcher and met the inclusion and exclusion criteria. The sample in this study amounted to 38 participans with the sampling technique used was Acidental sampling. Data analysis used univariate and bivariate analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test and a confidence level of <0.05. Results: Wilcoxon test with statistical test with mean duration of dyspeptic pain before intervention was 11 but after intervention the average became 95 with p value of 0.000 <0.05 meaning there was an effect of squeezing cucuma longa on reducing duration of pain. Conclusion: Based on the results of the Wilcoxon Signed Rank Test, there is an effect of curcuma longa juice on reducing the duration of pain with a p-value of 0.000.   Keywords: Curcuma Longa; Dyspepsia; Pain.   Pendahuluan: Dispepsia merupakan gejala gastrointestinal (gastrointestinal symptoms) yang kompleks dan sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini ditandai dengan rangkaian gejala yang terkait dengan saluran pencernaan gastroduodenal, seperti nyeri atau sensasi terbakar di daerah perut atas (epigastrium). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri pada penderita dispepsia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan pra eksperimen observasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita  dispepsia yang tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan kriteria inklusi ekslusi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 partisipan dengan teknik sampling yang di gunakan adalah Acidental sampling. Analisis data menggunakan analisi univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan derajat kepercayaan <0.05. Hasil: Pengujian wilcoxon menggunakan test statistic dengan mean lama nyeri dispepsia sebelum intervensi sebesar 11, setelah intervensi rata-rata menjadi 95 dengan nilai p sebesar 0.000<0.05 artinya ada pengaruh dari perasan cucuma longa terhadap penurunan lama nyeri. Simpulan: Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Tes, terdapat pengaruh antara air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri p-value 0.000.   Kata Kunci : Curcuma Longa; Dispepsia; Nyeri.
Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku merokok pada remaja Suharti, Sri; Marliyana, Marliyana
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.937

Abstract

Background: Smoking is one of the activities carried out by an individual from children to adults, it is possible for individuals who have previously smoked to smoke again, or for individuals who have never smoked to be interested in trying it. The Ministry of Health of the Republic of Indonesia released the results of a global survey of tobacco use in adults (Global Adult Tobacco Survey-GATS) conducted in 2011 stating that over the past 10 years there has been a significant increase in the number of adult smokers increasing by 8.8 million people, from 60.3 million in 2011 to 69.1 million smokers in 2021. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes towards smoking behavior in adolescents. Method: Cross-sectional research design with emphasis on the time of data measurement/observation is only done once using the Chi square test. The sample used by researchers was 47 respondents. Data analysis used univariate and bivariate analysis using the chi square test. Results: Most respondents have good knowledge 70.2%, negative attitude 59.6% and negative behavior 61.7%. The results of the Chi square test showed that there was a significant relationship between knowledge and smoking behavior in adolescents p = 0.008 (p <0.05) and there was a significant relationship between attitudes and smoking behavior in adolescents p=0.004 (p <0.05). Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and attitudes towards smoking behavior in adolescents.   Keyword: Attitude; Knowledge; Smoking Behavior in Adolescents.   Pendahuluan: Merokok adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu mulai dari anak-anak hingga dewasa, tidak menutup kemungkinan individu yang sebelumnya sudah merokok kemudian merokok kembali, ataupun bagi individu yang belum pernah merokok menjadi tertarik untuk mencobanya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis hasil survei global penggunaan tembakau pada usia dewasa (Global Adult Tobacco Survey-GATS) yang dilaksanakan pada tahun 2011 menyatakan  selama kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa meningkat sebanyak 8.8 juta orang, dari 60.3 juta tahun 2011 menjadi 69.1 juta orang perokok tahun 2021. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku merokok pada remaja. Metode: Desain penelitian Cross sectional dengan menekankan waktu pengukuran/observasi data hanya dilakukan satu kali dengan menggunakan uji Chi square. Sampel yang digunakan peneliti sebanyak 47 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik 70.2%, sikap negatif 59.6% dan perilaku negatif 61.7%. Hasil uji Chi square menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku merokok pada remaja p=0.008(p<0.05) dan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap terhadap perilaku merokok pada remaja p=0.004(p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku merokok pada remaja.   Kata Kunci: Pengetahuan; Sikap; Perilaku Merokok pada Remaja.
Pengaruh pemberian kompres lidah buaya (aloe vera) terhadap penurunan suhu tubuh bayi pasca imunisasi DPT-HB Ermayanti, Ni Luh Gede; Subardiah, Ida; Puspita, Richta
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.938

Abstract

Background: Dpt-Hb immunization is a combination vaccine given to protect the body from diphtheria, pertussis, tetanus, and hepatitis B infections. After Dpt-Hb immunization, babies usually experience fever that lasts 1-2 days, accompanied by pain in the injection area and the baby is a little fussy. Aloe vera compress therapy is chosen because it has 95% water content which has saponin and lignin compounds that can be used to reduce fever through the body's heat absorption mechanism. Purpose: To determine whether there is an effect of giving aloe vera compresses on reducing the body temperature of babies after Dpt-Hb immunization. Methods: This study was conducted using a pre-experimental method with a one group pretest-posttest design. Sampling using accidental sampling technique with 24 participants. The intervention was carried out by giving aloe vera compresses for 15 minutes, measuring body temperature using a thermometer. Data analysis used the Wilcoxon statistical test. Results: There was a decrease in body temperature in participants after aloe vera compress was given. The results of the analysis using the Wilcoxon Sign Rank test obtained a p value = 0.000 where (a = <0.05) Conclusion: There is an effect of giving aloe vera compresses on reducing the body temperature of infants after Dpt-Hb immunization in the working area of ​​the Seputih Raman Health Center, Central Lampung.   Keywords: Aloe Vera; Body Temperature; Immunization.   Pendahuluan: Imunisasi Dpt-Hb merupakan vaksin kombinasi yang diberikan untuk melindungi tubuh dari infeksi difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B. Pasca imunisasi Dpt- Hb biasanya bayi mengalami demam yang berlangsung 1-2 hari, disertai rasa sakit di daerah suntikan dan bayi sedikit rewel. Terapi kompres lidah buaya (aloe vera) dipilih karena memiliki 95% kandungan air yang memiliki senyawa saponin dan lignin yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan demam melalui mekanisme penyerapan panas tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian kompres lidah buaya (aloe vera) terhadap penurunan suhu tubuh bayi pasca imunisasi Dpt-Hb. Metode: Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode pre eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan 24 partisipan. Intervensi yang dilakukan dengan memberikan kompres lidah buaya (aloe vera) selama 15 menit, pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer. Analisis data yang digunakan yaitu uji statistik Wilcoxon. Hasil: Terdapat penurunan suhu tubuh pada partisipan setelah dilakukan pemberian kompres lidah buaya (aloe vera). Hasil analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank didapatkan nilai p value = 0.000 dimana (a= <0.05). Simpulan: Ada pengaruh pemberian kompres lidah buaya (aloe vera) terhadap penurunan suhu tubuh bayi pasca imunisasi Dpt- Hb.   Kata Kunci: Imunisasi; Lidah Buaya; Suhu Tubuh.
Hubungan status gizi dengan kebugaran jasmani siswa SMP Ferani, Kadek Dila Selvia; Kurniasari, Septi; Oktavia, Santi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.941

Abstract

Background: Physical fitness is the body's ability and capability to make adjustments and adaptations to the physical release given to it from daily work without causing excessive fatigue. Physical fitness is a need that must be met so that we can carry out daily life activities well. Nutrition is an important part of the health sector and receives serious attention from the government. Good nutrition is the foundation for public health. The influence of nutritional problems on growth, development, intellectual, and productivity shows the great role of nutrition in human life. Purpose: To find out whether there is a relationship between nutritional status and physical fitness of junior high school students. Methods: Quantitative research with cross-sectional design conducted at SMP Perjuangan, Sekampung Udik District, East Lampung Regency. Data were collected using questionnaires, tests, and in-depth interviews. The sampling technique used was accidental sampling and obtained 50 people as respondents in the study. Data analysis used the Chi-Square Test statistical test with a degree of confidence p <0.05. Results: The chi square test shows a p-value=0.000 (<0.05) which indicates that there is a significant relationship between BMI and physical fitness. This means that the more ideal the nutritional status (normal BMI), the higher the child's physical fitness. Conclusion: There is a relationship between nutritional status and physical fitness of junior high school students.   Keywords: BMI; Nutrition; Physical Fitness.   Pendahuluan: Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian adaptasi terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya dari kerja yang dilakukan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Kebugaran jasmani merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi agar kita dapat menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan baik. Gizi merupakan bagian dari sektor kesehatan yang penting dan mendapat perhatian serius dari pemerintah. Gizi yang baik merupakan fondasi bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh masalah gizi terhadap pertumbuhan, perkembangan, intelektual, dan produktivitas menunjukkan besarnya peranan gizi bagi kehidupan manusia. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada hubungan status gizi dengan kebugaran jasmani siswa SMP. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di SMP Perjuangan Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, tes, dan wawancara mendalam. Teknik pengambilan sampel yang digunakan accidental sampling dan diperoleh sebanyak 50 orang menjadi responden dalam penelitian. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square Test dengan derajat kepercayaan p<0.05. Hasil: Uji chi square menunjukkan p-value = 0.000 (<0.05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan kebugaran jasmani. Artinya semakin ideal status gizi (IMT normal), maka semakin tinggi kebugaran jasmani anak. Simpulan: Ada hubungan status gizi dengan kebugaran jasmani siswa SMP.   Kata Kunci: Gizi; IMT; Kebugaran Jasmani.

Page 1 of 2 | Total Record : 12