cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025" : 25 Documents clear
Faktor-faktor yang berhubungan dengan siklus menstruasi pada remaja putri Rahmawati, Cori Dwi; Sunarsih, Sunarsih; Susilawati, Susilawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1556

Abstract

Background: Menstrual disorders are common among adolescents worldwide, with a prevalence of approximately 45% in early adolescence among women. Furthermore, 13.7% of Indonesian adolescents aged 10-17 experience irregular menstruation. Factors associated with menstrual cycle disorders include stress, nutritional status, hemoglobin levels, physical activity, and sleep duration. Objective: To identify factors associated with menstrual cycle disorders in adolescent girls. Purpose: To determine factors associated with menstrual cycle disorders in adolescent girls. Method: This quantitative study used a cross-sectional design. The population in this study was all 125 female students of SMP Negeri 44 Gunung Sulah Bandar Lampung. The sampling technique used purposive sampling with 55 respondents. Bivariate analysis used the chi-square test. Results: The chi-square test obtained a p-value of 0.198 > 0.05 for the variables of menarche age and menstrual cycle. Furthermore, a p-value of 0.000 < 0.05 was obtained for the variables of stress and menstrual cycle. The chi-square test results showed a p-value of 0.000 < 0.05 for the variables of nutritional status and menstrual cycle. Conclusion: Stress and nutritional factors influence the menstrual cycle, but age at menarche does not affect the menstrual cycle in adolescents.   Keywords: Age at Menarche; Menstrual cycle; Nutritional status; Stress level.   Pendahuluan: Gangguan menstruasi merupakan hal yang umum terjadi pada kelompok remaja di dunia dengan prevalensi pada wanita di awal masa remaja sekitar 45%. Selain itu, remaja di Indonesia usia 10-17 tahun mengalami masalah menstruasi tidak teratur sebanyak 13.7%. Faktor-faktor yang berhubungan  dengan gangguan siklus menstruasi meliputi stres, status  gizi,  kadar hemoglobin, aktivitas  fisik,  dan  durasi  tidur. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan siklus  menstruasi pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh siswi remaja putri SMP Negeri 44 Gunung Sulah Bandar Lampung sebanyak 125 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 55 responden. Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Uji chi square diperoleh p value  0.198 > 0.05 pada variabel faktor usia menarche dan siklus menstruasi. Selain itu, diperoleh juga nilai p 0.000 < 0.05 pada variabel faktor stres dan siklus menstruasi. Kemudian hasil uji chi square menunjukkan nilai p 0.000 < 0.05 pada variabel status gizi dan siklus menstruasi. Simpulan: Faktor stress dan faktor gizi mempengaruhi siklus menstruasi, namun faktor usia menarche tidak memengaruhi siklus menstruasi pada remaja.   Kata Kunci: Siklus menstruasi; Status gizi; Tingkat stress; Usia menarche.
Gambaran pengetahuan ibu terhadap penanganan tersedak pada anak usia dini Supiyawati, Supiyawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1616

Abstract

Background: There are 17,537 cases of choking in Indonesia, of which 12,400 are children aged 14 years and older. The Segala Mider Community Health Center in Bandar Lampung City reported that families lacking knowledge about the causes and treatment of choking can result in death. Purpose: To determine maternal knowledge about choking management in early childhood. Method: This study was quantitative with a descriptive design. The population was all 150 mothers with children under 5 years old. The sampling technique used was proportional random sampling. The sample used the Slovin formula, resulting in 109 respondents. Data analysis used bivariate and univariate analysis. Results: The frequency distribution of education was high school graduates (46.8%) of the 109 respondents. Based on occupation, the majority were housewives (34.9%), and the majority of patients were in the poor knowledge category (52.3%). Conclusion: Most respondents had a low level of knowledge regarding the management of choking in toddlers.   Keywords: Choking; Management; Maternal Knowledge.   Pendahuluan: Kasus tersedak di Indonesia sebanyak Sebanyak 17.537 jiwa dan diantara jumlah tersebut, sebanyak 12.400 anak-anak berusia 14 tahun. Puskesmas Segala Mider di Kota Bandar Lampung melaporkan bahwa keluarga yang memiliki kekurangan pengetahuan tentang penyebab dan penanganan tersedak dapat mengakibatkan kematian. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang penanganan tersedak pada anak usia dini. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki anak di bawah 5 tahun yang berjumlah 150 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh 109 responden. Analisis data menggunakan analisis bivariat dan univariat. Hasil: Distribusi frekuensi pendidikan mayoritas adalah lulusan SMA sebanyak 46.8% dari 109 responden. Berdasarkan pekerjaan, mayoritas bekerja sebanyak ibu rumah tangga yaitu sebanyak 34.9%, dan pengetahuan pasien sebagian besar berada pada kategori kurang yaitu sebanyak 52.3% dari 109 responden. Simpulan: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang penanganan tersedak pada balita.   Kata Kunci: Penanganan; Pengetahuan Ibu; Tersedak.
Penerapan mirror therapy berbasis keluarga pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis: Studi kasus Putri, Intan; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1824

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a decline in kidney function that often leads to muscle weakness and decreased mobility. Mirror therapy is a non-invasive rehabilitative intervention that utilizes the mirror neuron system to improve motor function. Purpose: To analyze the implementation of family-based mirror therapy in CKD patients on hemodialysis, based on the principles of nursing ethics and nursing law. Method: A case study was conducted on Mr. S, a 62-year-old patient with CKD undergoing hemodialysis. Mirror therapy was implemented at home, guided by a booklet and educational videos for the patient and family. Data were collected through clinical assessment and interviews with the patient and family. The application of ethical principles (autonomy, beneficence, non-maleficence, and justice) and compliance with Law No. 38 of 2014 and Minister of Health Regulation No. 26 of 2019 were also evaluated. Results: Mr. S, a 62-year-old male with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis, experienced muscle weakness, fatigue, and decreased ability to perform daily activities, with a hemoglobin level of 7.9 g/dL. His family did not understand appropriate rehabilitation strategies, so the patient often rested completely or refused assistance. The implementation of family-based mirror therapy, through educational booklets and videos, facilitated safe light exercise, increased family understanding, and ensured that interventions adhered to ethical principles. Conclusion: The implementation of family-based mirror therapy has been shown to improve the patient's muscle strength, mobility, and independence.   Keywords: CKD; Ethical Principles; Family; Mirror Therapy; Nursing Law.   Pendahuluan: Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penurunan fungsi ginjal yang sering menyebabkan kelemahan otot serta penurunan mobilitas. Mirror therapy adalah intervensi rehabilitatif non-invasif yang memanfaatkan sistem neuron cermin untuk meningkatkan fungsi motorik. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan mirror therapy berbasis keluarga pada pasien CKD hemodialisa, berdasarkan prinsip etik keperawatan dan hukum keperawatan. Metode: Penelitian studi kasus pada Tn. S sebagai subjek berusia 62 tahun dengan CKD yang menjalani hemodialisis. Mirror therapy diterapkan di rumah dengan panduan booklet dan video edukatif bagi pasien dan keluarga. Data dikumpulkan melalui pengkajian klinis serta wawancara dengan pasien dan keluarga. Penerapan prinsip etik (autonomy, beneficence, non-maleficence, dan justice) serta kesesuaian dengan UU No. 38 Tahun 2014 dan Permenkes No. 26 Tahun 2019 juga dievaluasi. Hasil: Tn. S berjenis kelamin laki-laki berusia 62 tahun dengan CKD yang menjalani hemodialisis, mengalami kelemahan otot, mudah lelah, dan penurunan kemampuan beraktivitas sehari-hari dengan kadar hemoglobin 7.9 g/dL. Keluarga belum memahami strategi rehabilitatif yang tepat, sehingga pasien sering beristirahat total atau menolak bantuan. Penerapan mirror therapy berbasis keluarga, melalui edukasi booklet dan video, membantu latihan ringan yang aman, meningkatkan pemahaman keluarga, dan memastikan intervensi sesuai prinsip etik. Simpulan: Penerapan mirror therapy berbasis keluarga terbukti meningkatkan kekuatan otot, mobilitas, dan kemandirian pasien.   Kata Kunci: CKD; Keluarga; Hukum Keperawatan; Mirror Therapy; Prinsip Etik.
Pemberian terapi kombinasi range of motion (ROM) dengan rangsang taktil dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien CVA Syamsiyah, Alfiatus; Husna, Chairul Huda Al
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1825

Abstract

Background: Stroke is a neurological disorder that can cause muscle weakness, decreased sensory function, and impaired physical mobility. Range of Motion (ROM) therapy and tactile stimulation are forms of non-pharmacological therapy that can help improve motor and sensory function in post-stroke patients. Purpose: To determine the effect of ROM therapy and tactile stimulation on improving motor and sensory abilities in post-stroke patients, focusing on changes in joint range of motion (ROM) and increased tactile sensation response after one week of intervention. Method: This case study was conducted on one patient diagnosed with impaired physical mobility due to a Cerebrovascular Accident (CVA). The intervention, consisting of ROM therapy and tactile stimulation, was administered for one week, with progress measured using a joint range of motion (ROM) assessment sheet and tactile sensation scoring. Results: The patient's initial ROM score was 24 and tactile sensation was 5, indicating limited movement and decreased sensation. After one week of intervention, the ROM score increased to 28 and tactile sensation to 7, indicating improved muscle strength and tactile recognition. Conclusion: The application of ROM therapy and tactile stimulation has been proven effective in increasing muscle strength and sensory function in stroke patients, thus helping to improve physical mobility and support the restoration of independence in functional activities.   Keywords: Cerebrovascular Accident; Range of Motion (ROM) Therapy; Tactile stimulation.   Pendahuluan: Stroke merupakan gangguan neurologis yang dapat menyebabkan kelemahan otot, penurunan fungsi sensorik, serta gangguan mobilitas fisik. Terapi Range of Motion (ROM) dan rangsang taktil merupakan bentuk terapi non-farmakologis yang dapat membantu meningkatkan fungsi motorik dan sensorik pada pasien pasca stroke. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi ROM dan rangsang taktil terhadap peningkatan kemampuan motorik dan sensorik pada pasien pasca stroke dengan memfokuskan pada perubahan rentang gerak sendi (ROM) serta peningkatan respon sensasi sentuhan setelah dilakukan intervensi selama satu minggu. Metode: Studi kasus ini dilakukan pada satu pasien dengan diagnosa gangguan mobilitas fisik akibat Cerebrovascular Accident (CVA). Intervensi berupa terapi ROM dan rangsang taktil diberikan selama 1 minggu, dengan pengukuran perkembangan menggunakan lembar penilaian rentang gerak sendi (ROM) dan skoring sensasi taktil. Hasil: Skor ROM pada awal pengukuran pasien sebesar 24 dan sensasi taktil 5, hal ini menunjukkan keterbatasan gerak dan penurunan sensasi. Setelah dilakukan intervensi selama satu minggu, skor ROM meningkat menjadi 28 dan sensasi taktil menjadi 7 yang menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot dan kemampuan mengenali sentuhan. Simpulan: Penerapan terapi ROM dan rangsang taktil terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot dan fungsi sensorik pada pasien stroke, sehingga dapat membantu memperbaiki mobilitas fisik dan mendukung pemulihan kemandirian aktivitas fungsional.   Kata Kunci: Cerebrovascular Accident; Rangsang taktil; Terapi Range of Motion (ROM).
Penggunaan surgical safety checklist (SSC) di kamar operasi: Studi kasus implementasi prinsip etik Candra, Candra; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1862

Abstract

Background: A crucial part of being a professional nurse is ensuring patient safety in the operating room. The Surgical Safety Checklist (SSC) is used to prevent errors during surgery and ensure the surgical team performs better. However, in practice, negligence in implementing the SSC still occurs frequently and can lead to ethical violations and patient harm. Purpose: To analyze the application of ethical principles in cases of violations of the Surgical Safety Checklist (SSC) in the operating room. Method: This study used a case report design with a qualitative descriptive approach to describe in-depth real-life experiences in implementing the Surgical Safety Checklist (SSC) in the operating room, specifically related to the application of nursing ethical principles such as autonomy, beneficence, non-harm, and justice. Results: The case of Mrs. D (38 years old) with peritonitis due to bowel perforation demonstrated a failure to implement the SSC (Surgical Safety Checklist) during the handover phase, resulting in the arterial clamp being left in the peritoneal cavity. Analysis showed that this incident violated the principles of non-maleficence and beneficence and demanded moral and professional responsibility from the entire surgical team, especially the nurses as the controllers of patient safety. Conclusion: Adherence to the Surgical Safety Checklist reflects the application of nursing ethics principles and is a key component in ensuring patient safety in the operating room.   Keywords: Nursing Ethics; Operating Room; Patient Safety; Surgical Safety Checklist.   Pendahuluan: Bagian penting dari menjadi perawat profesional adalah memastikan keselamatan pasien di ruang operasi. Daftar Periksa Keselamatan Bedah (Surgical Safety Checklist/SSC) digunakan untuk mencegah kesalahan selama operasi dan memastikan tim bedah bekerja sama dengan lebih baik. Namun dalam prakteknya, kelalaian dalam menerapkan SSC masih sering terjadi dan dapat menyebabkan pelanggaran etika dan membahayakan pasien. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan dalam kasus kelalaian penggunaan Daftar Periksa Keselamatan Bedah (SSC) di ruang operasi. Metode: Studi ini menggunakan desain laporan kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan secara mendalam pengalaman nyata dalam menerapkan Daftar Periksa Keselamatan Bedah (SSC) di ruang operasi, khususnya terkait dengan penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan seperti otonomi, kemurahan hati, tidak membahayakan, dan keadilan. Hasil: Kasus pasien Ny. D (38 tahun) dengan peritonitis akibat perforasi usus menunjukkan kegagalan dalam menerapkan SSC (Surgical Safety Checklist) selama tahap serah terima tugas yang mengakibatkan ketertinggalan klem arteri di rongga peritoneum. Analisis menunjukkan bahwa insiden ini merupakan pelanggaran prinsip non-maleficence dan beneficence serta menuntut tanggung jawab moral dan profesional dari seluruh tim bedah, terutama perawat sebagai pengendali keselamatan pasien. Simpulan: Kepatuhan terhadap Daftar Periksa Keselamatan Bedah mencerminkan penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan dan merupakan komponen kunci dalam memastikan keselamatan pasien di ruang operasi.   Kata Kunci: Daftar Periksa Keselamatan Bedah; Etika Keperawatan; Keselamatan Pasien; Ruang Operasi.
Terapi kompres dingin NaCl 0.9% dalam menurunkan intensitas nyeri: Studi kasus pada pasien selulitis Maulidina, Rossyana Amelia; Purwanto, Edi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1885

Abstract

Background: Cellulitis is an acute bacterial infection of the skin and subcutaneous tissue characterized by pain, swelling, and warmth. It can cause high morbidity and worsen the patient's quality of life. Pain in cellulitis arises from the inflammatory process that activates nociceptors and increases nerve sensitivity. One non-pharmacological therapy for pain reduction is a cold compress using 0.9% NaCl, which works through vasoconstriction, edema reduction, and local analgesic effects. Purpose: To evaluate the effectiveness of cold compress therapy using NaCl solution in reducing pain levels in cellulitis. Method: This was a case study using an Evidence-Based Nursing Practice approach in one patient with cellulitis who met the inclusion criteria. The intervention, a cold compress with 0.9% NaCl, was applied for 10-20 minutes for three consecutive days. Pain was measured before and after the procedure using the Numeric Rating Scale (NRS). Results: There was a consistent decrease in pain intensity: on the first day, the pain decreased from a 7 to a 6, on the second day, from a 6 to a 5, and on the third day, from a 5 to a 4. Furthermore, patients reported reduced heat and swelling, and increased comfort after therapy. Conclusion: Cold compresses using 0.9% NaCl have been shown to be effective in reducing pain in cellulitis patients through vasoconstriction, decreased nerve activity, and reduced edema.   Keywords: Cellulitis; Cold Compress; Pain.   Pendahuluan: Selulitis adalah infeksi bakteri akut pada kulit dan jaringan subkutan yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan rasa hangat, serta dapat menyebabkan morbiditas tinggi dan memperburuk kualitas hidup pasien. Nyeri pada selulitis muncul akibat proses inflamasi yang mengaktifkan nosiseptor dan meningkatkan sensitivitas saraf. Salah satu terapi non farmakologis untuk mengurangi nyeri adalah kompres dingin menggunakan NaCl 0.9% yang bekerja melalui vasokonstriksi, penurunan edema, dan efek analgesik lokal. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas terapi kompres dingin berupa cairan NaCl dalam menurunkan skala nyeri pada selulitis Metode: Studi kasus yang menggunakan pendekatan Evidence Based Nursing Practice pada satu pasien selulitis yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa kompres dingin NaCl 0.9% diberikan selama 10-20 menit selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah tindakan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil: Terdapat penurunan intensitas nyeri yang konsisten: hari pertama dari skala 7 menjadi 6, hari kedua dari 6 menjadi 5, dan hari ketiga dari 5 menjadi 4. Selain itu, pasien melaporkan berkurangnya rasa panas, pembengkakan, serta peningkatan kenyamanan setelah terapi. Simpulan: Kompres dingin menggunakan NaCl 0,9% terbukti efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien selulitis melalui mekanisme vasokonstriksi, penurunan aktivitas saraf, dan pengurangan edema.   Kata Kunci : Kompres Dingin; Nyeri; Selulitis.
Efektivitas terapi rendam kaki air hangat terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi: A cast report Pratama, Julian Syaputra; Mashfufa, Erma Wahyu
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1922

Abstract

Background: Hypertension is the third leading cause of death after stroke and tuberculosis, accounting for 6.7% of deaths across all ages in Indonesia. Hypertension is known as the silent killer because its symptoms are often asymptomatic. Hypertension can be managed pharmacologically and non-pharmacologically. Non-pharmacological management includes healthy lifestyle changes such as a low-salt diet, exercise, and smoking cessation, as well as warm water immersion therapy at 39-40°C. Purpose: To determine the effectiveness of foot immersion therapy in lowering blood pressure in hypertensive patients. Method: This case study of nursing care was conducted at Malang City Hospital. The subject of this study was a patient referred to as Mr. A. The intervention was administered for three days, involving foot immersion therapy using warm water at 39-40°C. Results: After three consecutive days of foot immersion therapy, Mr. A's blood pressure decreased. Mr. A's blood pressure decreased to 147/88 mmHg from 158/100 mmHg on the first day. Conclusion: Foot soak therapy is effective in reducing Mr. A's blood pressure.   Keywords: Foot Soak Therapy; Hypertension; Non-Pharmacological.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6.7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi disebut sebagai pembunuh senyap karena gejalanya sering tanpa keluhan. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis maupun non farmakologis. Penatalaksanaan non farmakologis diantaranya dengan mengubah gaya hidup sehat seperti diet rendah garam, olahraga dan tidak merokok, dan terapi rendam air hangat dengan temperature 39-40oC. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi rendam kaki dalam menurunkan tingkat tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian studi kasus asuhan keperawatan yang dilakukan di RS Kota Malang. Subjek penelitian ini adalah satu orang yang disebut sebagai Tn. A. Intervensi dilakukan selama tiga hari dengan pemberian terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan temperatur 39-40oC. Hasil: Setelah tiga hari berturut-turut diberikan intervensi berupa terapi rendam kaki, tekanan darah Tn. A menurun menjadi 147/88 mmHg dari yang sebelumnya pada hari pertama sebesar 158/100 mmHg. Simpulan: Ada efektifitas pemberian terapi rendam kaki terhadap tekanan darah Tn. A.   Kata Kunci: Hipertensi; Non Farmakologis; Terapi Rendam Kaki.
Analisis risiko potensi bahaya pada pekerja lapak kayu gelam Kurniaati, Fransisca; Hasan, Amrul
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1963

Abstract

Background: Gelam wood processing activities at stalls in Sidomulyo Village, Mesuji District, Mesuji Regency, are an economic activity that carries a high potential for occupational safety and health (OHS) risks.   Purpose: To analyze the potential hazards and risk levels faced by gelam wood stall workers in carrying out their work activities.   Method: A qualitative descriptive study using an observational approach and in-depth interviews with timber workers. Hazard identification was conducted using the HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) method using the AS/NZS4360:2004 standard. Risk assessment was conducted using a risk matrix.   Results: The study showed several major potential hazards faced by workers, including mechanical hazards resulting from the use of gelam bark stripping tools, ergonomic hazards resulting from improper working positions, and exposure to wood dust, which can irritate the respiratory system. The highest risk levels were found in the gelam bark stripping process and wood transportation.   Conclusion: The lack of use of personal protective equipment (PPE) and low worker awareness of OHS principles increase the potential for workplace accidents. Therefore, increased OHS education and training for workers, adequate provision of PPE, and routine supervision by relevant parties are needed to minimize occupational risks in gleam timber staking.   Keywords: Gelam Wood; Occupational Health and Safety (OHS); Occupational Risks; Potential Hazards.   Pendahuluan: Kegiatan pengolahan kayu gelam di lapak-lapak Desa Sidomulyo, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji merupakan salah satu aktivitas ekonomi masyarakat yang memiliki potensi risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang cukup tinggi.   Tujuan: Untuk menganalisis potensi bahaya serta tingkat risiko yang dihadapi oleh para pekerja lapak kayu gelam dalam menjalankan aktivitas kerjanya.   Metode: Deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasional dan wawancara mendalam terhadap pekerja lapak kayu. Identifikasi bahaya dilakukan menggunakan metode HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) dengan menggunakan standard AS/NZS4360:2004. sedangkan penilaian risiko dilakukan dengan menggunakan matriks risiko.   Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa potensi bahaya utama yang dihadapi pekerja, di antaranya adalah bahaya mekanis akibat penggunaan alat pengupasan kulit kayu gelam, bahaya ergonomis akibat posisi kerja yang tidak sesuai, serta bahaya dari paparan debu kayu yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Tingkat risiko tertinggi ditemukan pada proses pengupasan kulit kayu gelam dan pengangkutan kayu.   Simpulan: Kurangnya penggunaan alat pelindung diri (APD) serta rendahnya kesadaran pekerja terhadap prinsip K3 memperbesar potensi terjadinya kecelakaan kerja. Sehingga perlu adanya peningkatan edukasi dan pelatihan K3 bagi pekerja, penyediaan APD yang memadai, serta pengawasan rutin oleh pihak terkait untuk meminimalisir risiko kerja di lapak kayu gelam.   Kata Kunci: Kayu Gelam; Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3); Potensi Bahaya; Risiko Kerja.
Manajemen risiko pada pengelolaan limbah medis padat bahan berbahaya beracun (B3) di rumah sakit Volleyta, Devita Anggun Trey; Trigunarso, Sri Indra
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1969

Abstract

Background: Hospitals have a high risk of occupational diseases and accidents. Medical waste can transmit disease to waste management personnel. Therefore, efforts are needed to minimize accidents and disease transmission. Purpose: To understand medical waste management, conduct hazard identification, risk analysis, risk evaluation, and implement risk management in the hazardous medical waste management process in hospitals. Method: This quantitative study was conducted at Hermina Hospital, Lampung, in 2025. Observations and interviews were conducted with the Head of K3RS and the medical waste management officer. Data analysis in this study involved conducting a risk analysis by determining the likelihood and consequences of the risk, with the aim of ranking the existing risks. Results: Potential risks or hazards identified in this study included exposure to sharp objects (syringes, broken laboratory equipment, ampoules, and other sharp objects), slipping, unpleasant odors while working in the hazardous medical waste management process, exposure to chemical fluids, exposure to blood, muscle and back pain, and fatigue due to long working hours. Conclusion: The highest risk was reported for complaints of muscle and back pain during the handling and transportation of hazardous solid medical waste, with a risk score of 10 (high category).   Keywords: Hazard Identification; Risk Analysis; Risk Evaluation; K3RS.   Pendahuluan: Rumah Sakit memiliki risiko tinggi terhadap penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Limbah medis dapat menjadi sarana penularan penyakit pada petugas pengelola limbah. Sehingga, diperlukan upaya meminimalisasi kecelakaan dan penularan penyakit. Tujuan: Untuk mengetahui pengelolaan limbah medis, melakukan identifikasi bahaya, analisis risiko, evaluasi risiko, serta melakukan pengelolaan risiko pada proses pengelolaan limbah medis B3 di Rumah Sakit. Metode: Penelitian kuantitatif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Hermina Lampung pada Tahun 2025. Observasi dan wawancara dilaksanakan dengan Kepala K3RS dan petugas pengangkut khusus pengelola limbah medis.. Analisis data pada penelitian ini yaitu melakukan analisis risiko dengan menentukan nilai peluang terjadinya risiko (likelihood) dan besaran risiko (consequences) dengan tujuan menetapkan peringkat risiko yang ada. Hasil: Potensi risiko atau bahaya yang ditemukan pada penelitian ini adalah terkena benda tajam (jarum suntik, pecahan alat laboratorium, ampul, dan benda tajam lainnya), terpeleset, mencium bau tidak sedap ketika bekerja pada proses pengelolaan limbah medis B3, terkena cairan kimia, terkena cairan darah, nyeri otot dan punggung, serta lelah akibat kerja karena jam kerja yang Panjang. Simpulan: Nilai risiko tertinggi terdapat pada keluhan nyeri otot dan punggung saat proses pewadahan dan pengangkutan limbah medis padat B3 dengan nilai risiko 10 (kategori tinggi).   Kata Kunci: Analisis Risiko; Evaluasi Risiko; Identifikasi Bahaya; K3RS.
Kerentanan kesehatan penyintas bencana terhadap perubahan iklim Fikri, Mohammad; Firmansyah, Firmansyah; Krisnasari, Sendhy; Ashari, Muhammad Rizki; Megasari, Anitatia Ratna; Afdhal, Muhammad Ridha
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1833

Abstract

Background: Global climate change has increased the frequency and intensity of natural disasters, including in previously affected areas such as Palu City. Disaster-affected communities relocated to the Tondo Permanent Housing (Huntap) continue to face potential disaster risks. Purpose: To examine the health vulnerability of disaster survivors to the impacts of climate change in Huntap Tondo. Method: . A qualitative approach with a case study design was employed, and data were collected through in-depth interviews using the snowball sampling technique. Data analysis was conducted using content analysis supported by NVIVO 12 software. Data validity was ensured through source triangulation and peer debriefing. Results: Communities still face the potential for disasters such as mudflows, strong winds, and the risk of landslides, which impact access to clean water and environmental conditions. Infrastructure, such as drainage, is deemed inadequate, while building structures raise doubts about their durability. However, mitigating behaviors such as community service and social adjustment are emerging within the community. Conclusion: Although residents have been relocated to permanent housing, they remain vulnerable to the impacts of climate change and require strengthened mitigation systems and supporting infrastructure   Keywords: Climate Change; Survivor; Susceptibility.   Pendahuluan: Perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam, termasuk di wilayah yang telah terdampak sebelumnya seperti Kota Palu. Masyarakat penyintas bencana yang direlokasi ke Hunian Tetap (Huntap) Tondo masih menghadapi potensi risiko bencana. Tujuan: Untuk mengkaji kerentanan kesehatan masyarakat penyintas terhadap dampak perubahan iklim di Huntap Tondo. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan teknik snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) menggunakan aplikasi NVIVO 12. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan peer debriefing Hasil: Masyarakat masih menghadapi potensi bencana seperti banjir lumpur, angin kencang, dan risiko tanah longsor yang memengaruhi akses terhadap air bersih dan kondisi lingkungan. Infrastruktur seperti drainase dinilai belum memadai, sementara struktur bangunan menimbulkan keraguan terhadap ketahanannya. Meski demikian, terdapat perilaku mitigatif seperti kerja bakti dan penyesuaian sosial yang tumbuh di kalangan masyarakat Simpulan: Meskipun telah direlokasi ke hunian tetap, masyarakat masih mengalami kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan perlu penguatan sistem mitigasi serta infrastruktur pendukung.   Kata Kunci : Kerentanan; Penyintas; Perubahan Iklim.

Page 1 of 3 | Total Record : 25