cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2023): June" : 7 Documents clear
Khitan pada Wanita dalam Tinjauan Hadis dan Medis Gusnanda, Gusnanda; Wijaya, Roma
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.22855

Abstract

 This article purpose to resolve the controversy about female circumcision from the perspektive of hadith and health science. The problem is religius order about circumcision for women is clearly contained in the hadith of the Prophet SAW. This hadith is believed have a goodness for women. But this religious argument contradicts the world view of health. Circumcision is actually considered a practice detrimental to women's groups. Reinforcer the perspektive The Indonesian Ministry of Health issued a circular letter concerning the Prohibition of Medicalization of Female Circumcision with number: HK.00.07.1.3.1047a. on April 20, 2006. This study is literature research. To analyse the issue, this study uses the paradigm of fiqh al-hadis and modern health theory regarding female circumcision. The conclusion in this research is the Islamic recommendation regarding female circumcision and the disclaimer of the Indonesian Ministry of Health are not fundamentally contradictory. The hadiths advocating circumcision are not absolute. In Islamic fiqh, it is also regulated how the procedure for female circumcision. For example, the right time to do circumcision and the application process so that. This provision was formulated with the aim of safeguarding women's rights in accordance with religious goals. Although this provision actually still originates from the product of patriarchal fiqh and cannot be separated from the developing cultural construction. However, this provision is well established and must be universally understood. Meanwhile, the circular letter from the Ministry of Health is not absolute. This policy must be understood in a certain context because it departs from cases that occurred in the field. The important point is that circumcision for women must be carried out in accordance with the correct methods and procedures, by not spending the entire labium minora on the female genitalia.  Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menyelesaikan kontroversi masalah khitan bagi perempuan dalam perspektif hadis dan medis. Letak persoalannya yakni: perintah khitan bagi perempuan termuat jelas dalam hadis Rasul SAW. Anjuran hadis tersebut diyakini mengandung sejumlah kebaikan bagi perempuan. Tetapi dalil agama ini bertolak belakang dengan pandangan dunia kesehatan modern. Khitan justru dianggap sebagai praktik merugikan kelompok perempuan. Mempertegas masalah itu Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan surat edaran tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan dengan nomor: HK.00.07.1.3.1047a. pada 20 April 2006. Studi ini merupakan library research (kajian kepustakaan). Dalam menganalisis persoalan, studi ini menggunakan paradigma fiqh al-hadis dan teori kesehatan modern menyangkut sunat bagi perempuan. Kajian dalam tulisan ini menyimpulkan bahwa anjuran Islam tentang khitan bagi perempuan dan sikap Kementerian Kesehatan RI tidaklah bertentangan secara hakiki. Hadis-hadis yang menganjurkan perempuan berkhitan tidaklah bersifat mutlak. Dalam fiqih Islam juga diatur bagaimana tata cara khitan bagi perempuan. Misalnya, waktu yang tepat melakukan khitan dan proses aplikasinya. Ketentuan ini dirumuskan bertujuan untuk menjaga hak-hak perempuan sesuai dengan tujuan agama. Meskipun ketentuan ini sesungguhnya masih berasal dari produk fiqih patriarki dan tidak bisa dilepaskan dari kunstruksi budaya yang berkembang. Akan tetapi, ketentuan ini sudah mapan dan harus dipahami secara universal. Sedangkan surat edaran Kementerian Kesehatan juga bersifat tidak mutlak. Kebijakan ini mesti dipahami dengan konteks tertentu karena beranjak dari kasus-kasus yang terjadi di lapangan. Poin pentingnya bahwa pelaksanaan khitan bagi perempuan harus dilakukan sesuai dengan metode dan prosedur yang benar, dengan tidak menghabiskan seluruh labium minora pada alat kelamin wanita. 
Mitologi Sedekah: Penerapan Semiotika Roland Barthes pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 Habibie, Ilham Akbar; Hairul, Moh. Azwar
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.23143

Abstract

This research discusses the meaning of charity in interpreting Surah Al-Baqarah [2]: 271 using Roland Barthes' semiotic approach. The article focuses on revealing both denotative and connotative meanings, as well as discussing the signs found in Surah Al-Baqarah [2]: 271. The method employed in this research is qualitative, utilizing primary and secondary source analysis. Primary sources include classical and contemporary interpretations and Roland Barthes' book titled "Mythologies." Classical interpretations refer to Al-Maraghi's, Marah Labid's, and Jalalain's interpretations, while contemporary interpretations refer to Al-Mishbah's interpretation discussing Surah Al-Baqarah [2]: 271. Secondary data include articles and books discussing the concept of charity, which are works of others but are still relevant to the interpretation of charity. The study concludes that there are denotative and connotative meanings in Surah Al-Baqarah [2]: 271 related to charity. The denotative meaning of Surah Al-Baqarah [2]: 271 is giving wealth to others based on alleviating the burden of those in need with the intention of drawing closer to Allah. Meanwhile, its connotative meaning includes doing good deeds, speaking kind words, uttering greetings, commanding good deeds, and forbidding wrongdoing. The mythological meaning of Surah Al-Baqarah [2]: 271 is derived from the most dominant connotative meaning, which encompasses the prohibition of wrongdoing to oneself and others. The significance of the meaning of Surah Al-Baqarah [2]: 271 in the contemporary context is manifested in organizations such as the United Nations (UN). The UN is an organization tasked with maintaining communication with other countries, preserving national security stability, ensuring economic stability, and safeguarding human rights stability.   Abstrak: Penelitian ini membahas makna sedekah dalam penafsiran Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Artikel ini berfokus untuk mengungkapkan makna denotatif dan konotatif, serta mendiskusikan tentang tanda yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 271. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis sumber primer dan sekunder. Sumber primer berasal dari tafsir klasik, kontemporer, dan buku karya Roland Barthes. Adapun tafsir klasik dalam penelitian ini merujuk pada tafsir Al-Maraghi, tafsir Marah Labid, tafsir Jalalain, sedangkan tafsir kontemporer merujuk pada tafsir Al-Mishbah yang membahas Q.S. Al-Baqarah [2]: 271, adapun buku Barthes berjudul “mythologies”. Data sekunder adalah artikel dan buku yang membahas konsep sedekah dan merupakan karya orang lain namun masih bersinggungan dengan hasil penafsiran sedekah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat makna denotatif dan konotatif dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 yang berkaitan dengan sedekah. Makna denotatif Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 adalah memberikan harta kepada orang lain atas dasar meringankan beban orang yang membutuhkan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan makna konotatifnya adalah berbuat baik, perkataan baik, mengucapkan salam, perintah melakukan perbuatan baik, dan larangan barbuat zalim. Adapun makna mitologi dari Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 didapatkan dari makna konotatif yang paling dominan dan mencakup, yakni larangan berbuat zalim pada diri sendiri maupun orang lain. Signifikansi makna dari Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 pada konteks kekinian terwujud dalam organisasi seperti “Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). PBB adalah organisasi yang bertugas untuk menjaga hubungan komunikasi dengan negara lain, menjaga stabilitas keamanan negara, menjaga stabilitas ekonomi, dan menjaga stabilitas hak asasi manusia. 
Kemaslahatan Manusia Sebagai Puncak Maqāṣid al-Qur`ān: Tinjauan Terhadap Konsep Maqāṣid al-Qur`ān Abd al-Karīm Hāmidī Noor, M. Fahrian; Wahyuni, Yuni; Samsuri, Bisri
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.23249

Abstract

The article discusses the theory of maqāṣid al-Qurān conceptualized by Abd al-Karīm Hāmidī, which leads to the concept of human welfare (al-maṣlahah). There are several developments from the concepts of his predecessors, such as Rasyid Riḍa, Mahmūd Syaltūt, and Ibn Āsyūr, formulated in their concept of maqāṣid al-Qurān. Hāmidī extensively elaborates on the maqāṣid al-Qurān oriented towards the welfare of individuals, society, and nature. The discussion in this article will focus on answering two questions: first, what is the concept of maqāṣid al-Qurān according to Abd al-Karīm Hāmidī, and second, what is the purpose of maqāṣid al-Qurān in relation to maqāṣid al-syarīah. This research is a type of literature study using a descriptive-analytical method. The researcher will describe Hāmidī's thoughts on maqāṣid al-Qurān and then analyze the concept of al-maṣlahah he intended. The findings of this study show that maqāṣid al-Qurān has a hierarchy consisting of al-maqāṣid al-āmmah, which is the overall wisdom of the Qur’an covering: the goals of individual goodness, the goals of social and community welfare, and the goals of worldly goodness. Al-maqāṣid al-khāṣsah, specifically the shariah, which includes the goals of improving the mind, self, body, family, wealth, law, legislation, and politics. Then, al-maqāṣid al-juz’iyyah, meaning, and rules related to laws that stand alone, such as the goal of purification, facing the qibla, prayer times, and others. The three aspects of maqāṣid al-Qurān have one goal, which is to realize the welfare and goodness of humanity on this earth. Additionally, there is a continuity between the concept of maqāṣid al-Qur`ān proposed by Hāmidī and the concepts in maqāṣid al-syarīah formulated by Muslim scholars before him.  Abstrak: Tulisan ini membahas tentang teori maqāṣid al-Qur`ān yang dikonsepsi oleh Abd al-Karīm Hāmidī yang berujung kepada kemaslahatan manusia (al-maṣlahah). Ada beberapa pengembangan dari para konsep para pendahulunya seperti Rasyid Riḍa, Mahmūd Syaltūt dan Ibn `Āsyūr yang dirumuskan dalam konsep maqāṣid al-Qur`ān-nya. Hāmidīmenjelaskan panjang lebar tentang maqāṣid al-Qur`ān yang berorientasi kepada kemaslahatan manusia secara individu, masyarakat dan alam. Adapun pembahasan dalam tulisan ini akan terfokus untuk menjawab pertanyaan; pertama, bagaimana konsep maqāṣid al-Qur`ān menurut Abd al-Karīm Hāmidī; dan kedua, apa tujuan dari maqāṣid al-Qur`ān tersebut dalam kaitannya dengan maqāṣid al-syarīah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Peneliti akan mendeskripsikan pemikiran Hāmidī tentang maqāṣid al-Qur`ān kemudian menganalisis seperti apa konsep al-maṣlahah yang dimaksudkannya. Temuan dari penelitian ini memaparkan bahwa maqāṣid al-Qur`ān memiliki hierarki yang terdiri dari al-maqāṣid al-`āmmah, merupakan hikmah keseluruhan Al-Qur’an yang mencakup: tujuan kebaikan individu, tujuan memperoleh kebaikan sosial dan masyarakat dan tujuan memperoleh kebaikan dunia. Al-maqāṣid al-khāṣsah, syariat secara khusus yang mencakup tujuan memperbaiki pikiran, diri, jasad (badan), keluarga, harta, hukum, undang-undang, dan politik. Kemudian al-maqāṣid al-juz’iyyah, merupakan makna dan aturan yang terkait dengan hukum yang berdiri sendiri seperti tujuan bersuci, menghadap kiblat, waktu salat dan lain-lain. Ketiga aspek maqāṣid al-Qur`ān itu memiliki satu tujuan yaitu mewujudkan kemaslahatan dan kebaikan manusia di muka bumi ini. Selain itu terdapat kesinambungan antara konsep maqāṣid al-Qur`ān yang digagas oleh Hāmidī dengan konsep-konsep dalam maqāṣid al-syarīah yang telah dirumuskan oleh cendekiawan muslim sebelumnya.
Bahasa Ilmiah Sebagai Sarana Berpikir Dalam Studi Islam Serta Implementasinya Pada Interpretasi Teks-teks Al-Qur’an Khaerati, Fadhilah Nur; Muflihah, Muflihah; Alwi HS, Muh.
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.22840

Abstract

This article aims to discuss the role of language as a scientific tool in Islamic Studies, focusing on the exploration of means of interpreting the texts of the Qur'an. As the sacred book of Islam, the Qur'an possesses profound meanings that require deep understanding and careful interpretation. In this article, one of the scholarly methods used in the interpretation of Qur'anic texts as religious language, namely scientific language, is elaborated. This research is significant in presenting the texts of the Qur'an, which constitute religious language, as objects of study in scientific thinking. To achieve this goal, library-based research is utilized with a descriptive-analytical method, which involves describing and analyzing the data found using a qualitative approach. Several aspects are outlined, including Islam as the object of study, language as a means of scientific thinking, and scientific language as a means of interpreting the texts of the Qur'an (religious language). The results of this research find that there are two methods commonly used in interpreting the Qur'an from a linguistic perspective: semantics and hermeneutics. The interpretations derived from both methods are inseparable from the basic meanings and historical context of the texts, as well as the surrounding context of the interpreted texts. Despite their methodological differences in interpreting the Qur'anic texts, both methods employ scientific language that maintains the relationship between text and context, thus producing contextual and applicable interpretations in the modern-contemporary era.  Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan peran bahasa sebagai sarana ilmiah dalam studi Islam, dengan fokus pada eksplorasi sarana interpretasi teks-teks Al-Qur’an. Sebagai kitab suci agama Islam, Al-Qur’an memiliki kedalaman makna yang membutuhkan pemahaman mendalam dan interpretasi yang cermat. Dalam artikel ini, diuraikan salah satu sarana berpikir ilmiah yang dapat digunakan dalam proses interpretasi teks Al-Qur’an sebagai bahasa agama, yaitu bahasa ilmiah. Penelitian ini signifikan dilakukan dalam rangka mengetengahkan teks-teks Al-Qur’an yang merupakan bahasa agama sebagai objek studi dalam berpikir ilmiah. Untuk mendapatkan hasil tersebut, digunakan penelitian berbasis kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analisis, yakni mendeskripsikan data-data yang ditemukan sekaligus menganalisisnya, dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Di dalamnya akan diuraikan beberapa hal, diantaranya Islam sebagai objek studi, bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah, serta bahasa ilmiah sebagai sarana dalam interpretasi teks-teks Al-Qur’an (bahasa agama). Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa ada dua metode yang banyak digunakan dalam penafsiran al-Qur’an jika ditinjau dari aspek bahasa, yaitu semantik dan hermeneutika. Hasil interpretasi dari keduanya tidak terlepas dari makna dasar dan makna historis teks, serta konteks yang mengelilingi keberadaan teks yang diinterpretasikan. Dengan kedua metode ini, meskipun berbeda pada langkah-langkah metodisnya dalam menginterpretasikan teks Al-Qur’an, terlihat bahwa keduanya memiliki kesamaan dalam penggunaan bahasa ilmiah yang tidak melepaskan fungsi relasi teks dan konteks sehingga dapat menghasilkan interpretasi yang kontekstual dan applicable dalam era modern-kontemporer saat ini.
Resepsi Hadis dalam Sinetron Taqdir Ilahi: Ujian dari Allah Wijayanti, Sherina
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.22953

Abstract

  This research discusses a movie titled “Taqdir Ilahi Ujian dari Allah” whose content is from Prophet Muhammad PBUH hadith. This article tries to photograph the role of hadith meditation which is presented in religious movies, where the religious proselytizing of hadith through the movie attracts the society to reconsider the hadith until the functional which is illustrated by the actors and actresses involved. The development of technology takes place transforming hadith into a form of a movie as its development, however, on the other side, it becomes harder challenging when the hadith is only visualized textually. At this point, the hadith formed into a movie has not been entirely respresenting the reality of sequences there. It’s not without cause, this happens because the divergence between the reality of people in the past to this era is inapplicable. The movie presents the delivering of Prophet PBUH hadith effectively through the scenes with actually with the chronological background in Indonesia Archipelago. The purpose of this study is to provide the occurrence of digital hadith which has shaped into the visual domain presented in the form of religious movies. The research uses the qualitative method by directly having the observation through watching the movie titled “Taqdir Ilahi Ujian dari Allah” as the primary source, then together with this, the library study is used as the secondary source which correlates to this research. This research shows first, the scenes illustrate hadith tangibly by the actors and actresses so that the society can take the wisdom. Second, the movie “Taqdir Ilahi Ujian dari Allah” reflects hadith through exegetical, aesthetic, and functional. Third, even though the movie has tried to present hadith’s, it still does not reflect the hadith entirely, but it can become the alternative for society to understand hadith easily.  Abstrak: Kajian ini membahas Sinetron Taqdir Ilahi_Ujian dari Allah yang subtansinya bersumber dari sabda Nabi Muhammad SAW. Artikel ini berupaya memotret model mediatisasi hadis yang dikemas dalam bentuk sinetron religi, dimana penyajian dakwah hadis melalui sinetron menarik masyarakat untuk meresepsi hadis sampai tahap fungsional dengan diperagakan oleh para aktris dan aktor yang terlibat. Kemajuan teknologi turut mentransformasi hadis ke ranah mediatisasi sinetron sebagai kemajuan, namun disisi lain menjadi tantangan yang lebih berat ketika hadis tervisualisasi hanya secara tekstual. Pada titik  ini, mediatisasi hadis berupa sinetron belum sepenuhnya dapat mewakili realitas kronologis yang ada. Bukan tanpa sebab, hal ini dikarenakan kesenjangan realitas masyarakat masa dulu dengan masa kini yang tidak relevan. Potret sabda Nabi Muhammad SAW yang dikisahkan dalam sinetron disampaikan secara praktis, melalui adegan-adegan yang diperagakan secara aktual dengan latar kronologis Nusantara. Tujuan penelitian untuk menyajikan fenomenologi digital hadis yang sudah sampai ranah visual dengan dikemas dalam sinetron religi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi langsung dalam menyaksikan film sinetron “Taqdir Ilahi_Ujian dari Allah” sebagai sumber primer, serta menggunakan pendekatan studi pustaka sebagai sumber sekunder terkait topik yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan pertama, adegan yang diperankan para pemain sinetron mengilustrasikan hadis secara konkrit sehingga dapat diambil hikmahnya oleh masyarakat luas. Kedua, sinetron “Taqdir Ilahi_Ujian dari Allah” meresepsi hadis secara eksegesis, estetis dan fungsional. Ketiga, hadis yang dikemas berupa sinetron tidak sepenuhnya mewakili realitas pada hadis, namun cukup menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memahami hadis secara praktis.
Metodologi Pemahaman Hadis M. Yusuf al-Qaradhawi: Studi Analitis Atas Hadis Partisipasi Wanita Dalam Berpolitik Choiroh, Wahyuni Nuryatul; Munawir, Munawir
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.22817

Abstract

Sunni scholars view Hadith as a normative source capable of embodying the essence of the Qur'an, considering Hadith's position as the second source of Islamic religious teachings after the Qur'an. The controversy between textual and contextual schools of thought regarding the study of Hadith has existed since the early development of Islam. Even to this day, textualist scholars continue to advocate for their principles. This study aims to uncover Yusuf al-Qaradhawi's thoughts on the methodology of understanding Hadith in his book "Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah" (How to Interact with the Prophetic Sunnah), enabling scholars of Hadith to understand Hadith properly. In this context, the author raises the issue of women's participation in politics as an implication of the offered methodology. This research adopts a qualitative approach with a library research method. The results of this study indicate that al-Qaradhawi proposes eight basic principles for understanding the Hadith of the Prophet Muhammad (peace be upon him). These principles include understanding Hadith in harmony with the Qur'an, combining several Hadiths on one topic, reconciling conflicting Hadiths, understanding Hadiths in their background, situation, and orientation, distinguishing between the inconsistency of the means and the consistency of the objectives of the Hadith, comparing literal and metaphorical expressions in understanding Hadiths, comparing the unseen with the visible, and validating the terminology of Hadith. The methodological framework proposed by al-Qaradhawi is expected to keep the study of Hadith relevant to the changing times. Regarding the implications and significance of his methodology regarding women's participation in politics through Hadith, it can be concluded that, according to al-Qaradhawi, women have the same rights to participate and engage in politics as men.  Abstrak: Ulama sunni memandang hadis sebagai sumber normatif yang dapat mengejawantahkan esensi al-Qur'an,  mengingat posisi hadis sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah al-Qur'an. Adanya kontroversi antara mazhab tekstual dan kontekstual terhadap kajian hadis, sejatinya telah ada semenjak awal Islam berkembang. Bahkan hingga masa kini, kaum tekstualis masih memiliki eksistensi untuk menggaungkan prinsipnya. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap pemikiran Yusuf al-Qaradhawi terkait metodologi pemahaman hadis dalam kitabnya Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah (bagaimana berinteraksi dengan hadis Nabi) bagi para pengkaji hadis untuk dapat memahami hadis secara baik dan benar. Dalam hal ini penulis mengangkat tentang hadis partisipasi wanita dalam berpolitik sebagai implikasi dari metodologi yang ditawarkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa al-Qaradhawi menawarkan delapan asas dasar dalam memahami hadis Rasulullah Saw, yaitu pemahaman hadis selaras dengan Al-Quran, penggabungan beberapa hadis dalam satu topik, penggabungan atau mentarjih hadis yang  kontradiktif, pemahaman hadis dengan tinjauan latar belakang, situasi kondisi dan orientasi hadis, pemilahan antara inkonsistensi sarana dan konsistensi sasaran hadis, perbandingan antara ungkapan haqiqi dengan majazi dalam pemahaman hadis, perbandingan antara ghaib dengan yang nyata,  dan validasi kaidah terminologi hadis. Tawaran metodologi yang dikemukakan oleh al-Qaradhawi diharapkan membuat kajian hadis tetap relevan dengan perkembangan zaman. Terkait implikasi dan signifikansi dari metodologinya melalui hadis partisipasi wanita dalam berpolitik, secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut al-Qaradhawi, seorang wanita memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan berkiprah dalam dunia politik layaknya seorang laki-laki.
Membangun Gender Partnership di Era 5.0 Perspektif QS. Al-Hujurat ayat 13 dan QS. Al-An’am ayat 165 A'la, Nusrotul; Aini, Adrika Fithrotul; Irsyadi, Najib
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.23236

Abstract

The Introduction to gender and their respective roles is crucial from an early age. Islam does not differentiate between the roles of women and men. The continuity of the relationship between men and women must be maintained within the corridor of Islamic law without gender intimidation. This article aims to build gender partnership in Era 5.0 based on the Qur'an, Surah Al-Hujurat, verse 13, and Surah Al-An'am, verse 165. Thus, understanding gender partnerships can be one way to address gender disparities, enhance well-being, and improve Human Resources (HR) quality. The research method used in this article is qualitative research in the form of a literature review based on sources such as books, articles, and works discussing gender partnerships. Data collection methods are conducted through a literature review of data obtained from various sources. The primary data sources are the Qur'an, Surah Al-Hujurat, and Al-An'am. From the study's results, it can be concluded that gender partnership means a condition where there is mutual understanding, respect, and cooperation with the different attitudes and strengths of the opposite sex. In efforts to build gender partnership in Era 5.0 according to the perspective of the Qur'an, Surah Al-Hujurat, verse 13, and Surah Al-An'am, verse 165, it is crucial to establish equal and humane rights for both women and men. This entails fully guaranteeing the rights of each gender and treating them well. Efforts to build gender partnerships include understanding and recognizing that men and women have different characteristics, paying attention to the gender division of labor, fostering good collaboration and coordination, mutual respect and non-discrimination, and offering differences in strategic needs for each gender.  Abstrak: Pengenalan gender dan tugas masing-masing penting dimulai sejak dini. Agama Islam tidak membedakan peran antara perempuan dengan laki-laki. Kesinambungan hubungan laki-laki dan perempuan harus tetap terjaga dalam koridor syariat Islam tanpa adanya intimidasi gender. Artikel ini bertujuan untuk membangun kemitraan gender (gender partnership) pada Era 5.0 berdasarkan al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 dan surah Al-An’am ayat 165. Sehingga pemahaman tentang kemitraan gender mampu menjadi salah satu cara mengatasi kesenjangan gender, meningkatkan kesejahteraan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan bentuk studi pustaka berdasarkan sumber data dari buku, artikel, dan karya yang membahas kemitraan gender. Adapun metode pengumpulan data dilakukan melalui kajian literatur kepustakaan dari sumber data yang diperoleh. Sumber data primernya adalah al-Qur’an Surat Al-Hujurat dan Al-An’am. Dari hasil studi dapat ditarik hasil bahwa kemitraan gender berarti kondisi di mana terdapat rasa saling memahami, menghargai, dan bekerja sama dengan sikap dan kekuatan yang berbeda dari lawan jenis. Dalam upaya membangun kemitraan gender pada era 5.0 sesuai perspektif al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 dan surah Al-An’am ayat 165 menetapkan hak-hak perempuan dan laki-laki secara berimbang dan penuh dengan perikemanusiaan. Secara totalitas menjamin sepenuhnya hak-hak setiap gender dan memperlakukannya dengan baik. Upaya membangun kemitraan gender yaitu dengan memahami dan menyadari antara laki-laki dan perempuan memilki karakteristik yang berbeda, menaruh perhatian pada pembagian kerja gender, kolaborasi dan koordinasi yang baik, saling menghormati dan tidak membeda-bedakan, serta menawarkan perbedaan pada kebutuhan strategis masing-masing.

Page 1 of 1 | Total Record : 7