cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2025): June" : 7 Documents clear
Analisis Implementasi Teori Munāsabah pada Penafsiran Saintifik: Studi terhadap Ayat-ayat Cahaya dalam Tafsir Kemenag RI Himaya, Karuma Afada; Nahri, Delta Yaumin
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29170

Abstract

This study aims to examine the significance of the concept of munāsabah in the interpretation of verses that contain scientific indications. It reviews the interpretation provided by Ministry of Religious Affairs/Department of Religious Affairs of the Republic of Indonesia called "Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan)" and analyzes the application of munāsabah in these verses. The science of munāsabah often receives insufficient attention in studies of scientific tafsir. Many interpretations tend to focus solely on the meanings of the verses in isolation, without considering the relationships and contexts of the verses with those that precede or follow them. This study employs a qualitative method, focusing on the verses of light found in Surah an-Nūr (24:35), Yūnus (10:5), Nūḥ(71:16), al-Furqān (25:61), and an-Nabā’ (78:13). It utilizes the perspective of Badruddīn Muḥammad bin ‘Abdullāh al-Zarkasyi as presented in his book, al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. The primary data for analysis is derived from the tafsir book published by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. The results indicate that the Kemenag RI Tafsir team has effectively employed the munāsabah method by considering the context of both preceding and succeeding verses, thereby enhancing the depth and reliability of Qur’anic interpretation. The Tafsir Kemenag RI integrates modern scientific insights with the traditional tafsir method based on munāsabah, resulting in a more holistic and contextual interpretation. The identified patterns of munāsabah include relationships among groups of verses, between surahs, and even between words within a single verse. These patterns largely align with al-Zarkasyi’s theory of munāsabah, although some forms of munāsabah fall outside the scope of his theory. This study underscores the significance of inter-verse and inter-surah relationships in scholarly interpretation and opens avenues for further research that encompasses a broader range of scientific verses and the integration of other relevant theories.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi konsep munāsabah dalam penafsiran ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah, dengan menelaah tafsir Kementerian Agama/Departemen Agama Republik Indonesia yang disebut “Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan)” serta implementasi munāsabah pada ayat-ayat tersebut. Ilmu munāsabah sering kali kurang mendapat perhatian dalam kajian tafsir-tafsir saintifik. Banyak penafsiran cenderung fokus hanya pada makna ayat yang dikaji secara terpisah, tanpa memperhatikan hubungan dan konteks ayat tersebut dengan ayat-ayat yang mendahului atau mengikutinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fokus kajiannya pada ayat-ayat cahaya yang terdapat pada surah an-Nūr (24): 35, Yūnus (10): 5, Nūḥ (71): 16, al-Furqān (25): 61, dan an-Nabā’ (78): 13, menggunakan perspektif Badruddīn Muḥammad bin ‘Abdullāh al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Data primer yang digunakan sebagai kajian analisis yakni kitab tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim penyusun Tafsir Kemenag RI secara efektif telah menerapkan metode munāsabah dengan memperhatikan konteks antar ayat baik sebelum maupun sesudahnya, sehingga meningkatkan kedalaman dan keandalan penafsiran Al-Qur’an. Tafsir Kemenag RI memadukan wawasan ilmiah modern dengan metode tafsir tradisional yang berbasis munāsabah, sehingga menghasilkan interpretasi yang lebih holistik dan kontekstual. Pola-pola munāsabah yang ditemukan mencakup hubungan antar kelompok ayat, antar surah, serta antar lafal dalam satu ayat. Pola ini sebagian besar sesuai dengan teori munasabah al-Zarkasyi, namun di sisi lain masih ada bentuk munāsabah yang tidak tercakup dalam teori tersebut. Penelitian ini menegaskan pentingnya hubungan antar-ayat dan antar-surah dalam penafsiran saintifik dan membuka peluang pengembangan riset dengan cakupan ayat saintifik lebih luas serta integrasi teori lain yang relevan.
Otoritas Kufah Asy-Sya‘bī dan Konstruksi Sanad: Kritik terhadap Pendekatan Joseph Schacht dalam Studi Hadis Tabi‘in Riady, Fahmi; Karim, Abdul
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.34464

Abstract

This study aims to describe and critique Joseph Schacht’s arguments regarding the historicity of the authority of Asy-Sya‘bī (d. 103–110 AH), a prominent figure in Kufah, as presented in his monumental work “The Origins of Muhammadan Jurisprudence”. Asy-Sya‘bī’s authority is widely recognized within the Islamic scholarly tradition, particularly in the rijāl literature that documents the credibility of hadith transmitters. However, Schacht posits a controversial hypothesis that the name of Asy-Sya‘bī was often artificially employed by hadith scholars and early madhhab figures to reinforce legal positions. This research employs a qualitative-descriptive approach, utilizing documentary analysis and historical-critical methods on both primary and secondary sources. The analysis reveals that Schacht’s claims are heavily influenced by his theoretical framework regarding the early development of Islamic law, including the concept of the common link as an indicator of fabricated chains of transmission (sanad). Although some of the evidence presented appears compelling, Schacht’s generalization of asy-Sya‘bī’s authority is reductive and overlooks the contextual dynamics of scholarship during the Tabi‘in period. Furthermore, critiques of the common link theory suggest that assumptions regarding the inauthenticity of the sanad cannot be accepted unconditionally. Therefore, this study affirms that asy-Sya‘bī’s position as a legal authority in Kufah remains significant and should not be disregarded in the study of Islamic legal history. Interpretations of asy-Sya‘bī’s role must take into account the complexity of knowledge transmission and authority in early Islamic times. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkritik argumen Joseph Schacht mengenai kesejarahan otoritas asy-Sya‘bī (w. 103–110 H) seorang figur terkemuka di Kufah, sebagaimana dikemukakan dalam karya monumental The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Otoritas asy-Sya‘bī diakui secara luas dalam tradisi keilmuan Islam, terutama dalam literatur rijāl yang merekam kredibilitas perawi hadis. Namun, Schacht mengajukan hipotesis kontroversial bahwa nama asy-Sya‘bī kerap digunakan secara rekayasa oleh ulama hadis dan tokoh mazhab awal untuk memperkuat posisi hukum masing-masing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis dokumenter dan kritik historis terhadap data primer dan sekunder. Hasil analisis menunjukkan bahwa klaim Schacht sangat dipengaruhi oleh konstruksi teoretisnya tentang perkembangan hukum Islam awal, termasuk konsep common link sebagai indikator fabrikasi sanad. Meskipun beberapa bukti yang diajukannya tampak kuat, generalisasi Schacht terhadap otoritas asy-Sya‘bī cenderung reduktif dan mengabaikan konteks dinamika keilmuan pada masa tabi‘in. Lebih jauh, kritik terhadap teori common link menunjukkan bahwa asumsi tentang ketidakotentikan sanad tidak dapat diterima secara mutlak. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa posisi asy-Sya‘bī sebagai otoritas hukum di Kufah tetap signifikan dan tidak dapat diabaikan dalam studi sejarah hukum Islam. Interpretasi terhadap peran asy-Sya‘bī perlu mempertimbangkan kompleksitas transmisi ilmu dan otoritas pada masa awal Islam.
Keruntuhan Eksistensi Tafsir Lokal Sunda: Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dalam Sorotan Historis dan Sosiologis Masyarakat Kontemporer Falabibah, Nur Hayyah; Bagaskara, Syamsul Ma’arif
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29618

Abstract

This article aims to conduct a critical analysis of the decline of Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun using text analysis methods, historical studies, and critical approaches. Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun is a local Sundanese-language tafsir that was once popular in West Java and was the only complete 30-juz tafsir book in Sundanese that had been printed repeatedly. However, in recent years, this tafsir has experienced a significant decline, nearly leading to its extinction. Through historical and social analysis, this study reveals how the tafsir once held considerable cultural influence among the Sundanese community but has suffered a decline due to several key factors. These factors include subjective interpretations often based on individual perceptions without a solid scientific foundation, as well as the misuse of the tafsir for specific political and ideological interests, which has distorted its understanding. Additionally, rapid cultural changes and shifting contexts were not adequately anticipated by the interpreters, along with the minimal application of scientific methods such as linguistic, historical, and social analysis, which contributed to the acceleration of the tafsir’s decline. Theological differences have also caused divisions that diminished the tafsir’s credibility in the eyes of the broader community. This study emphasizes the importance of adopting a more critical, comprehensive, and contextual approach to understanding and interpreting sacred texts, integrating historical, scientific, and social contexts. As a solution, the study recommends revitalizing this local tafsir through the development of systematic scientific methods, improved documentation, and interdisciplinary involvement to maintain its relevance in contemporary societal dynamics. Abstrak: Artikel ini bertujuan melakukan analisis kritis terhadap keruntuhan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dengan menggunakan metode analisis teks, kajian sejarah, dan pendekatan kritis. Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun merupakan tafsir lokal berbahasa Sunda yang pernah populer di Jawa Barat dan menjadi satu-satunya kitab tafsir lengkap 30 juz dalam bahasa Sunda yang pernah dicetak berulang kali. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tafsir ini mengalami penurunan signifikan hingga hampir kehilangan eksistensinya. Melalui analisis historis dan sosial, penelitian ini mengungkap bagaimana tafsir ini dahulu memiliki pengaruh kultural yang kuat di masyarakat Sunda, namun mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor penting. Faktor-faktor tersebut meliputi interpretasi subjektif yang kerap didasarkan pada presepsi individual tanpa landasan ilmiah yang kuat, serta adanya penyalahgunaan tafsir untuk kepentingan politik dan ideologis tertentu yang menyebabkan distorsi pemahaman. Selain itu, perubahan budaya dan konteks zaman yang cepat tidak diantisipasi dengan baik oleh penafsir, serta minimnya penggunaan metode ilmiah seperti analisis linguistik, historis, dan sosial, turut mempercepat kemunduran tafsir ini. Perbedaan teologis juga menimbulkan perpecahan yang mengurangi kredibilitas tafsir tersebut di mata masyarakat luas. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih kritis, komprehensif, dan kontekstual dalam memahami serta menafsirkan teks-teks suci, yang mengintegrasikan konteks historis, ilmiah, dan sosial. Sebagai solusi, penelitian merekomendasikan revitalisasi tafsir lokal ini melalui pengembangan metode ilmiah yang sistematis, dokumentasi yang lebih baik, serta keterlibatan lintas disiplin untuk menjaga relevansi tafsir dengan dinamika masyarakat kontemporer.
Strategies and Methods for Memorizing al-Qur’an: A Comparative Analysis of al-Qur’an Memorization Systems at Ummu Aiman and An-Nahl Islamic Boarding Schools in Kampar, Riau Jannah, Miftahul; Hakim, Lukmanul; Saifullah, Saifullah
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.30677

Abstract

This study aims to compare the Qur’an memorization methods employed at two specialized Tahfidz Islamic boarding schools: Ummu Aiman and An-Nahl Kampar in Riau. Both institutions implement the Wahdah method, a technique that involves memorizing one verse sequentially through repeated recitation to establish a strong and systematic memory pattern. This research adopts a qualitative approach, utilizing an in-depth field study to examine the characteristics of the memorization methods and to identify the similarities and differences in the memorization practices at both schools. The findings indicate that the Wahdah method serves as the foundational basis for memorization learning in both pesantrens. However, notable differences exist in the organization of halaqah (study circles), the habituation methods employed prior to memorization, and the establishment of memorization targets. At Ummu Aiman Islamic boarding school, students are required to attend tahsin classes to perfect their Qur’anic recitation according to proper tajwid rules before commencing the memorization process. In contrast, at An-Nahl Islamic boarding school, students are directed to begin memorizing according to predetermined tahfidz targets without first participating in recitation habituation classes. This study provides a comprehensive and informative comparative analysis of the Wahdah method as practiced in these Tahfidz pesantrens. The results can serve as a strategic reference for developing more effective and efficient Qur’an memorization teaching methods and assist similar educational institutions in designing memorization programs tailored to the needs and characteristics of their students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan membandingkan metode menghafal Al-Qur’an yang diterapkan di dua pesantren khusus Tahfidz, yaitu Pondok Pesantren Ummu Aiman dan Pondok Pesantren An-Nahl Kampar, Riau. Kedua pesantren tersebut menggunakan metode wahdah, yaitu teknik menghafal satu ayat secara berurutan dengan pengulangan berulang untuk membentuk pola ingatan yang kuat dan sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi lapangan mendalam yang memfokuskan pada karakteristik metode penghafalan, serta identifikasi persamaan dan perbedaan dalam pelaksanaan hafalan di kedua pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode wahdah menjadi landasan utama pembelajaran hafalan di kedua pesantren, tetapi terdapat perbedaan pada aspek pembagian halaqah, metode pembiasaan sebelum menghafal, serta penetapan target hafalan. Pondok Pesantren Ummu Aiman mewajibkan santri mengikuti kelas tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid yang benar sebelum memulai proses menghafal. Sebaliknya, Pondok Pesantren An-Nahl langsung mengarahkan santri menghafal sesuai target tahfidz yang telah ditentukan tanpa melalui kelas pembiasaan bacaan terlebih dahulu. Penelitian ini memberikan gambaran komparatif yang mendalam dan informatif mengenai praktik metode wahdah di pesantren-pesantren tahfidz tersebut. Hasilnya dapat menjadi acuan strategis dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz Al-Qur’an yang lebih efektif dan efisien, serta membantu institusi pendidikan serupa dalam merancang program penghafalan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik santri.
Resepsi Fungsional Al-Qur’an dalam Tradisi Keagamaan Lokal: Studi atas Tradisi Roah Kemalik pada Masyarakat Rembiga, Nusa Tenggara Barat Anshori, Muhammad Helmi; Muhaimin, Abdul; Azmi, Aulul; Fathoni, Ahmad
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29784

Abstract

This article aims to examine how the Rembiga community in West Nusa Tenggara receives and interprets the verses of the Qur’an within the Roah Kemalik tradition, which is deeply embedded in their social and cultural life. The Roah Kemalik tradition developed from the spread of Islam by figures such as Sunan Prapen and Ratu Ambiya and consists of rituals involving the recitation of Qur’anic verses believed to offer protection from disasters and calamities. This study employs a qualitative approach with a descriptive analytical method to elucidate the meanings and social functions of this tradition. The research questions addressed in this study are as follows: First, how is the Qur’an understood by the Rembiga community within the Roah Kemalik tradition? Second, in what forms is the reception of the Qur’an manifested in this tradition? The study concludes that the Rembiga community regards the Qur’an as sacred and deserving of sanctification. This tradition also serves as a process for the transmission and transformation of knowledge and practices that have existed since the arrival of Islam on Lombok Island. Generally, they interpret the Qur’an as a form of tafa’ul (a sign of good fortune); consequently, the meanings that emerge do not always align logically with the original intent of certain verses. The Roah Kemalik tradition is also grounded in several hadiths of the Prophet that legitimize the practice, which has been inherited and preserved by community authorities. This study affirms that the Roah Kemalik tradition is a dynamic social construct that harmonizes Islamic teachings with local culture, thereby shaping the religious identity of the Rembiga community to this day. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat Rembiga, Nusa Tenggara Barat menerima dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dalam tradisi Roah Kemalik yang melekat kuat dalam kehidupan sosial dan budaya mereka. Tradisi Roah Kemalik berkembang mulai dari penyebaran Islam oleh tokoh-tokoh seperti Sunan Prapen dan Ratu Ambiya’, meliputi ritual pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang diyakini memberikan perlindungan dari bencana dan musibah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis untuk mendeskripsikan makna dan fungsi sosial tradisi tersebut. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah: Pertama, bagaimana Al-Qur'an dipahami oleh komunitas Rembiga dalam tradisi Roah Kemalik? Kedua, dalam bentuk apa penerimaan komunitas Rembiga dalam tradisi Roah Kemalik? Studi ini menyimpulkan bahwa komunitas Rembiga memandang Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci dan harus disucikan. Tradisi ini juga merupakan proses transmisi dan transformasi pengetahuan serta praktik yang telah ada sejak kedatangan Islam di pulau Lombok. Mereka umumnya memahami Al-Qur’an sebagai bentuk tafa’ul (tanda keberuntungan), sehingga dalam praktik yang dilakukan oleh masyarakat Rembiga, makna yang terkadang muncul tidak selalu sejalan secara logis dengan maksud asli ayat tertentu. Tradisi Roah Kemalik ini juga didasarkan pada beberapa hadis Nabi yang melegitimasi tradisi tersebut dan telah menjadi praktik yang diwariskan serta dilestarikan oleh otoritas masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa tradisi Roah Kemalik merupakan konstruksi sosial dinamis yang mengharmoniskan antara ajaran Islam dan budaya lokal, membentuk identitas keagamaan masyarakat Rembiga hingga saat ini.
Dialektika Transgender dan Hadis Nabi: Analisis Semiotika terhadap Hadis Riwayat Bukhari No. 5885 Lubis, Manahara Alamsyah; Harun, Amrullah
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29726

Abstract

The transgender phenomenon is a social reality that is becoming increasingly evident in contemporary society. From the perspective of hadith, behaviors that mimic the opposite gender are regarded as prohibited. This study aims to examine the hadith that prohibits the imitation of the opposite gender within the context of the transgender phenomenon, utilizing Umberto Eco’s semiotic communication approach. The research questions include: What are the general and Islamic views on transgender issues? How does the dialectic between the hadith regarding transgender and Eco’s semiotic theory manifest? How is this theory applied to the hadith that prohibits dressing like the opposite gender? This study employs qualitative methods, drawing on literature sources, with the primary hadith sourced from al-Bukhari No. 5885, and theoretical insights from the Theory of Semiotics. The analysis is conducted by adapting the elements of semiotic communication: source, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II, and destination, with the addition of message I to capture the intention of the Prophet as the direct transmitter. The results indicate that the Prophet serves as the source, the Prophet’s sayings represent message I, the narrators act as transmitters, oral transmission functions as signal I, hadith collections serve as the channel, the written text represents signal II, the Muslim community acts as the receiver, the hadith text constitutes message II, and the understanding of meaning serves as the destination. The hadith explicitly prohibits Muslims from deliberately imitating the opposite gender in various aspects, including clothing, adornments, speech style, and mannerisms. Intentional engagement in transgender behavior is categorized as condemned conduct. However, for individuals with innate tendencies, Islam underscores the importance of self-adjustment in accordance with fitrah, as taught in Islamic teachings.Abstrak: Fenomena transgender merupakan realitas sosial yang semakin nyata dalam masyarakat modern. Dalam perspektif hadis, perilaku menyerupai lawan jenis dipandang sebagai sesuatu yang terlarang. Penelitian ini bertujuan mengkaji hadis larangan menyerupai lawan jenis dalam konteks fenomena transgender dengan menggunakan pendekatan semiotika komunikasi Umberto Eco. Rumusan masalah mencakup: bagaimana pandangan umum dan Islam terhadap transgender, bagaimana dialektika antara hadis tentang transgender dan teori semiotika Eco, serta bagaimana penerapan teori tersebut terhadap hadis larangan berpakaian seperti lawan jenis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan, sumber utama hadis riwayat al-Bukhari No. 5885 dan teori dari A Theory of Semiotics. Analisis dilakukan dengan mengadaptasi unsur-unsur komunikasi semiotik: source, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II,dan destination, serta menambahkan message I untuk menangkap intensi makna Nabi sebagai penyampai langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa Nabi merupakan sumber (source), sabda Nabi sebagai message I, perawi sebagai transmitter, penyampaian lisan sebagai signal I, kitab hadis sebagai channel, redaksi tertulis sebagai signal II, umat sebagai receiver, redaksi hadis sebagai message II, dan pemahaman makna sebagai destination. Hadis tersebut secara eksplisit melarang umat Islam untuk menyerupai lawan jenis dalam aspek pakaian, perhiasan, gaya bicara, dan cara berjalan secara sengaja. Fenomena transgender yang dilakukan secara sadar masuk dalam kategori perilaku yang dilaknat. Namun, bagi individu yang memiliki kecenderungan bawaan, Islam menekankan pentingnya penyesuaian diri sesuai fitrah menurut ajaran Islam.
Rekonstruksi Makna Fasad dalam Isu Pemanasan Global Perspektif Tafsir Maqasidi Agita, Nadia; Harun, Muhammad Safwan
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29774

Abstract

This article aims to reconstruct the meaning of fasād (enviromental damage) in the Qur’an through a tafsir maqāṣidīapproach, serving as a theological response to the issue of global warming. Contemporary phenomena of environmental degradation, such as pollution, deforestation, and extreme climate change, are understood as tangible manifestations of the concept of fasād, as referenced in Q.S. Ar-Rūm: 41. This study employs qualitative research methods, utilizing library sources and the maqāṣidī interpretative approach as its analytical framework. The findings indicate that the understanding of ecological verses has evolved from classical textual interpretations to scientific and logical approaches during the medieval period, and further to contextual interpretations that address contemporary environmental challenges. The reconstruction of the meaning of fasād is highly relevant in developing an Islamic ecotheology paradigm and supports the establishment of a civilized and sustainable society. This study emphasizes that tackling global warming necessitates not only technical and scientific solutions, but also spiritual and ethical approaches grounded in revealed values. The maqāṣidī interpretation offers an integrative and transformative analytical framework for understanding fasād as a moral failure of humanity in fulfilling the mandate of khilāfah on earth. Environmental preservation requires the integration of religious and moral dimensions as the ethical foundation for collective action within the Muslim community, with the maqāṣidī approach serving as a normative basis for Islamic ecological policies aimed at fostering sustainable ecological awareness and facilitating constructive dialogues between theology, environmental science, and public policy in comprehensively addressing the climate crisis.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi makna fasād (kerusakan lingkungan) dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī sebagai respons teologis terhadap isu pemanasan global. Fenomena kerusakan lingkungan kontemporer seperti pencemaran, deforestasi, dan perubahan iklim ekstrem dipahami sebagai manifestasi nyata dari konsep fasād sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ar-Rūm: 41. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang memanfaatkan sumber-sumber pustaka serta menggunakan pendekatan tafsir maqashidi sebagai pisau analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat ekologis telah mengalami perkembangan dari tafsir klasik tekstual, menuju pendekatan ilmiah dan logis di era pertengahan, hingga tafsir kontekstual yang responsif terhadap tantangan lingkungan kontemporer. Rekonstruksi makna fasād ini memiliki relevansi penting dalam membangun paradigma ekoteologi Islam serta mendukung pembangunan peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan. Studi ini menegaskan bahwa penanggulangan pemanasan global tidak hanya membutuhkan solusi teknis dan ilmiah, tetapi juga pendekatan spiritual dan etis berbasis nilai-nilai wahyu. Tafsir maqāṣidī memberikan kerangka analisis integratif dan transformatif dalam memahami fasād sebagai kegagalan moral manusia dalam menjalankan mandat khilāfah di bumi. Pelestarian lingkungan menuntut integrasi dimensi religius dan moral sebagai fondasi etis dalam tindakan kolektif masyarakat Muslim, dengan pendekatan tafsir maqāṣidī yang berperan sebagai dasar normatif bagi kebijakan ekologis berwawasan Islam, guna membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan serta membuka ruang dialog konstruktif antara teologi, ilmu lingkungan, dan kebijakan publik dalam merespons krisis iklim secara komprehensif.

Page 1 of 1 | Total Record : 7