cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building, 2nd floor, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Gurun Aua St, Kubang Putih, Banuhampu, Agam - West Sumatra - Indonesia Tel. 0752 33136 | Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam
ISSN : -     EISSN : 30264405     DOI : 10.30983/aljamahiria
Core Subject : Education,
Islamic Thought Review (e-ISSN : 3025-695X) is an academic peer-reviewed journal published by the Depatment of Islamic Theology and Philosophy, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia. The journal publishes scholarly articles addressing issues specific to the discipline of Islamic thought and wider issues from an Islamic theological and philosophical perspective. The journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all the aforementioned fields. Editor welcome scholars, researchers and practitioners around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025" : 8 Documents clear
Membangun Ruang Aman untuk Remaja Broken Home: Strategi Komunikasi Insan GenRe Kediri melalui Media Konsultasi Online Retpitasari, Ellyda; Silvi Nuryana
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.8648

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi komunikasi media konsultasi online Let’s Talk dalam menjangkau remaja dari keluarga broken home. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R) dari Hovland untuk menganalisis bagaimana pesan-pesan konsultasi online memengaruhi sikap dan respons psikologis remaja. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan dua narasumber utama, yaitu Moh. Khoirul Anam selaku Ketua Insan GenRe Kediri dan Lilis Rahmawati selaku admin serta konselor sebaya di platform Let’s Talk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi berbasis pendekatan REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble) efektif dalam membangun relasi konsultatif yang empatik dan konstruktif. Strategi ini menciptakan ruang komunikasi yang aman dan terbuka, mempermudah remaja menyampaikan perasaan serta permasalahan mereka. Kontribusi utama penelitian ini adalah memperkaya literatur tentang komunikasi daring dalam konteks konseling psikososial remaja. Signifikansinya terletak pada penyediaan model komunikasi berbasis nilai yang dapat diadaptasi oleh lembaga sejenis dalam menghadapi persoalan remaja akibat disfungsi keluarga.   This study aims to identify the communication strategies employed by the Let’s Talk online counseling platform in engaging adolescents from broken home families. A qualitative approach was adopted, guided by the Stimulus-Organism-Response (S-O-R) theory by Hovland, to analyze how online counseling messages influence adolescents' attitudes and psychological responses. Data were collected through observation, documentation, and in-depth interviews with two key informants: Moh. Khoirul Anam, Head of Insan GenRe Kediri, and Lilis Rahmawati, the platform’s administrator and peer counselor. The findings reveal that the REACH-based communication strategy—comprising Respect, Empathy, Audible, Clarity, and Humble—proves effective in fostering empathetic and constructive counselor-client relationships. This approach creates a safe and open communicative space, enabling adolescents to express their emotions and personal issues more freely. The main contribution of this research lies in enriching the discourse on online communication in psychosocial counseling for youth. Its significance is reflected in providing a value-based communication model that can be adapted by similar institutions in addressing youth issues stemming from family dysfunction.
Paradigma Manhajul fikr wal harokah sebagai Landasan Komunikasi Dakwah: Analisis Kritis Model Dakwah Kontemporer Iwan Rudiansyah, Intihaul Khiyaroh; Razif Baharuddin
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9532

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis model dakwah kontemporer dengan menempatkan Manhajul fikr wal harokah sebagai paradigma dasar dalam komunikasi dakwah Islam. Pendekatan ini menekankan integrasi antara pemikiran yang sistematis dan gerakan yang terorganisir dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui kajian pustaka, wawancara mendalam, dan observasi pada komunitas dakwah terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dakwah yang berlandaskan Manhajul fikr wal harokah memiliki potensi signifikan untuk mengatasi stagnasi metode dakwah tradisional. Paradigma ini mampu menjembatani nilai-nilai Islam yang bersifat normatif dengan kebutuhan masyarakat kontemporer yang dinamis, sehingga menghasilkan kerangka komunikasi yang lebih transformatif dan responsif terhadap konteks sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan menawarkan perspektif baru dalam komunikasi dakwah serta kontribusi praktis dengan memberikan rujukan strategis bagi para da’i dan organisasi dakwah dalam merancang program yang adaptif dan berdampak sosial. Temuan ini menegaskan urgensi pengembangan Manhajul fikr wal harokah sebagai paradigma berkelanjutan bagi komunikasi dakwah kontemporer.   This study critically examines contemporary da'wah models by placing Manhajul fikr wal harokah as the basic paradigm in Islamic da'wah communication. This approach emphasizes the integration of systematic thinking and organized movements in conveying Islamic values to modern society. This study employs a qualitative method with a case study design, where data is collected through literature review, in-depth interviews, and observations within selected da'wah communities. The findings indicate that the da'wah model grounded in Manhajul fikr wal harokah holds significant potential to address the stagnation of traditional da'wah methods. This paradigm bridges normative Islamic values with the dynamic needs of contemporary society, resulting in a more transformative and socially responsive communication framework. This study contributes theoretically by offering a new perspective on da'wah communication and practically by providing strategic references for da'is and da'wah organizations in designing adaptive and socially impactful programs. These findings underscore the urgency of developing Manhajul fikr wal harokah as a sustainable paradigm for contemporary da'wah communication.
Instagram sebagai Media Dakwah: Pengaruh Paparan Akun @nihayaah._ terhadap Minat Remaja dalam Pengajian Al-Qur’an Gemilang Inna Pratiwi; Dhifi Zulputri
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9559

Abstract

Artikel ini membahas pengaruh paparan promosi akun Instagram @nihayaah._ terhadap minat remaja dalam mengikuti pengajian Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Ning Nilatin Nihayah. Media sosial saat ini menjadi sarana yang strategis dalam menyampaikan pesan dakwah, terutama di kalangan generasi muda. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode survei, artikel ini mengkaji bagaimana intensitas paparan konten dakwah di media sosial dapat memengaruhi ketertarikan remaja terhadap kegiatan keagamaan. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada responden remaja yang pernah terpapar konten dari akun @nihayaah._. Instrumen penelitian difokuskan pada variabel paparan promosi, minat beragama, serta partisipasi dalam pengajian. Analisis data menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat paparan konten dakwah dengan meningkatnya minat remaja mengikuti pengajian Al-Qur’an. Artikel ini juga menelaah strategi komunikasi visual dan naratif yang digunakan dalam akun tersebut sebagai bentuk dakwah digital yang kontekstual. Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan strategi dakwah berbasis media sosial, serta menjadi referensi praktis bagi lembaga keagamaan dalam menarik minat generasi muda terhadap pendidikan keislaman yang lebih adaptif dan inklusif.  This article examines the influence of promotional exposure from the Instagram account @nihayaah._ on adolescents' interest in attending Qur’anic study sessions organized by Ning Nilatin Nihayah. Social media has become a strategic platform for conveying religious messages, particularly among younger generations. Using a quantitative approach and survey method, this study investigates how the intensity of exposure to religious content on social media affects adolescents' interest in religious activities. Data were collected through questionnaires distributed to adolescents who had encountered content from the @nihayaah._ account. The research instrument focused on variables such as promotional exposure, religious interest, and participation in Qur’anic study sessions. The data analysis reveals a positive and significant correlation between the level of exposure to religious content and the increased interest of adolescents in participating in Qur’anic learning. This article also explores the visual and narrative communication strategies used in the account as a form of contextual digital da’wah. The findings are expected to contribute to the development of social media-based da’wah strategies and offer practical insights for religious institutions in engaging the younger generation with more adaptive and inclusive Islamic education.
Emha Ainun Nadjib dan Reaktualisasi Dakwah di Perkotaan: Studi pada Komunitas Maiyah Kenduri Cinta Jakarta Ayis Mukholik
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9587

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan dakwah Emha Ainun Nadjib dalam konteks Indonesia kontemporer, dengan fokus pada forum Maiyah Kenduri Cinta sebagai media utama dakwahnya. Kajian ini menitikberatkan pada kolaborasi antara dua pola dakwah, yakni dakwah kultural dan dakwah dinamis. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif etnografis, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung pada kegiatan Maiyah Kenduri Cinta Jakarta serta analisis dokumentasi dari situs resmi caknun.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Emha Ainun Nadjib berhasil membentuk pola dakwah kolaboratif yang relevan dan kontekstual, yaitu dakwah kultural yang menekankan pada ekspresi seni, seperti selawat, zikir, doa, dan musik; serta dakwah dinamis yang berbasis pada tadabur ayat dan diskusi reflektif. Pola ini mampu memadukan nuansa spiritual dan intelektual secara harmonis, mendorong keterlibatan aktif dari masyarakat, serta memperkuat inklusivitas dakwah. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan model dakwah transformatif yang adaptif terhadap dinamika masyarakat urban Indonesia masa kini.   This study aims to explore the development of Emha Ainun Nadjib’s da'wah in contemporary Indonesia, focusing on the Maiyah Kenduri Cinta forum as his primary medium of religious communication. The research emphasizes the integration of two distinct da'wah models: cultural da'wah and dynamic da'wah. Employing a qualitative ethnographic approach, data were collected through direct observation of the Maiyah Kenduri Cinta gatherings in Jakarta and document analysis from the official website caknun.com. The findings reveal that Emha Ainun Nadjib has successfully developed a collaborative da'wah pattern that is contextually relevant to Indonesia’s contemporary socio-religious landscape. The cultural da'wah model incorporates artistic expressions such as shalawat, dhikr, prayer, and music, while the dynamic model involves reflective interpretation of Qur’anic verses (tadabbur) and interactive discussions. This integrative approach harmonizes spiritual and intellectual dimensions, fosters inclusive community engagement, and provides practical solutions for broader audiences. This study contributes new insights into collaborative da'wah models and offers inspiration for the development of transformative Islamic communication strategies in urban Indonesian settings.
Dari Mimbar ke Media: Adaptasi Dakwah Fiqih Klasik Pondok Pesantren Lirboyo di Era Digital M. Rizqy Zamiluddin A; Muhammad Ni'am Masrukhil Hadi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9597

Abstract

Artikel ini membahas peran strategis Pondok Pesantren Lirboyo dalam menyebarkan ajaran fiqih klasik di era digital melalui studi kasus pada unit media LIM Production. Penelitian ini dilatarbelakangi dari tantangan institusi pendidikan Islam tradisional untuk beradaptasi dengan lanskap media kontemporer agar tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi komunikasi yang dijalankan pesantren dalam memanfaatkan media digital sekaligus menganalisis keterlibatan audiens dalam proses dakwah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa peran strategis Lirboyo diwujudkan melalui dua pilar utama: (1) fleksibilitas institusional dengan cara mengadaptasi format dakwah konvensional ke platform digital populer serta mengkontekstualisasikan ajaran kitab klasik agar relevan dengan isu-isu modern; dan (2) pembangunan budaya partisipatif yang menempatkan audiens sebagai subjek aktif dalam pembentukan konten. Sinergi antara fleksibilitas institusional dan partisipasi audiens melahirkan ekosistem dakwah yang dialogis, interaktif, dan efektif di ruang digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi hubungan sinergis antara fleksibilitas dakwah dan budaya partisipatif sebagai kunci keberhasilan dakwah digital di pesantren.   This article discusses the strategic role of Pondok Pesantren Lirboyo in disseminating classical fiqh teachings in the digital age through a case study of the LIM Production media unit. This research was motivated by the challenges faced by traditional Islamic educational institutions in adapting to the contemporary media landscape in order to remain relevant amid changing patterns of information consumption. This study aims to identify the communication strategies implemented by Islamic boarding schools in utilizing digital media while analyzing audience engagement in the da'wah process. The method used in this study is qualitative with a case study approach through in-depth interviews, observation, and documentation. This study found that Lirboyo's strategic role is realized through two main pillars: (1) institutional flexibility by adapting conventional da'wah formats to popular digital platforms and contextualizing classical teachings to be relevant to modern issues; and (2) the development of a participatory culture that places the audience as active subjects in content creation. The synergy between institutional flexibility and audience participation has given rise to a dialogical, interactive, and practical preaching ecosystem in the digital space. The novelty of this research lies in identifying the synergistic relationship between preaching flexibility and participatory culture as the key to the success of digital preaching in Islamic boarding schools.
Representasi Relasi Suami Istri dalam Islam pada Film Buya Hamka Vol. 1 dan Vol. 2 Lutfiah, Zumrotul; Primi Rohimi, Primi Rohimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9651

Abstract

Film Buya Hamka merupakan film bioskop Indonesia yang menggambarkan perjalanan hidup Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) serta relasi rumah tangganya dengan Siti Raham. Artikel  ini bertujuan untuk menganalisis representasi relasi suami istri dalam Islam yang digambarkan dalam film tersebut sekaligus memahami konstruksi makna di baliknya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotika Roland Barthes pada level denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menemukan bahwa relasi suami istri dalam film ini merefleksikan nilai tanggung jawab, kesetiaan, saling menghormati, dan keterlibatan intelektual. Pada level denotasi, rumah tangga digambarkan harmonis dan penuh kasih sayang; pada level konotasi, relasi suami istri tidak hanya domestik tetapi juga ideologis dan intelektual; sementara pada level mitos, film membangun gambaran rumah tangga ideal dalam Islam sebagai relasi yang egaliter, dialogis, serta menjadi fondasi kekuatan moral dan perjuangan umat. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian komunikasi Islam dan studi representasi melalui media film, dengan menunjukkan bagaimana film religius dapat berfungsi sebagai sarana dakwah kultural sekaligus inspirasi dalam membangun rumah tangga Islami yang harmonis dan berkeadilan. The film Buya Hamka is an Indonesian movie that depicts the life journey of Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) and his marital relationship with Siti Raham. This article aims to analyze the representation of husband-wife relationships in Islam as depicted in the film and to understand the construction of meaning behind it. This study employs a literature review method with a descriptive qualitative approach, drawing on Stuart Hall's theory of representation and Roland Barthes' semiotic analysis at the denotative, connotative, and mythical levels. This study finds that the husband-wife relationship in this film reflects the values of responsibility, loyalty, mutual respect, and intellectual involvement. At the denotative level, the household is depicted as harmonious and loving; at the connotative level, the husband-wife relationship is not only domestic but also ideological and intellectual; while at the mythical level, the film constructs an image of the ideal household in Islam as an egalitarian, dialogical relationship that serves as the foundation of moral strength and the struggle of the ummah. This research contributes to enriching the study of Islamic communication and representation through film media by showing how religious films can serve as a means of cultural da'wah (proselytizing) as well as inspiration in building a harmonious and just Islamic household.
Literasi Digital dan Kesadaran Budaya sebagai Solusi Tantangan Atemporalitas dalam Komunikasi Antarbudaya Fakhri, Muh Nur; Zakiah, Farah Nurul; Lely Novia
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9841

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tantangan komunikasi antarbudaya di era digital, khususnya fenomena atemporalitas dan kelebihan informasi yang muncul di media sosial. Komunikasi digital sering kali berlangsung tanpa kejelasan waktu dan konteks budaya, sehingga memicu kebingungan serta salah tafsir antar pengguna dari latar budaya yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk tantangan tersebut dan strategi yang digunakan individu dalam menghadapinya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur. Partisipan berjumlah delapan orang mahasiswa Universitas Negeri Makassar yang aktif berinteraksi secara daring dengan individu dari budaya berbeda. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan respons partisipan. Hasil menunjukkan bahwa partisipan mengalami stres akibat banjir informasi dan disorientasi waktu. Mereka kesulitan membedakan informasi yang akurat dan relevan. Sebagai respons, mereka menggunakan strategi verifikasi sumber, pemeriksaan fakta, dan peningkatan literasi media. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat pentingnya literasi digital dan kesadaran budaya sebagai bekal menghadapi disinformasi. Temuan ini juga merekomendasikan pengembangan fitur media sosial yang kontekstual dan mendukung komunikasi antarbudaya yang lebih akurat dan inklusif.   This study explores the challenges of intercultural communication in the digital era, focusing on the phenomena of atemporality and information overload emerging on social media platforms. Digital communication often occurs without clear temporal or cultural context, leading to confusion and misinterpretation among users from diverse cultural backgrounds. The purpose of this research is to identify the nature of these challenges and examine the strategies individuals use to navigate them. The study employs a qualitative approach using semi-structured interviews. Eight student participants from Universitas Negeri Makassar were selected, all of whom actively engage in online intercultural interactions. The data were analyzed thematically to identify patterns of experience and response among participants. Findings reveal that participants experienced stress due to the overwhelming volume of information and temporal disorientation. They found it difficult to distinguish accurate and relevant information. In response, participants adopted strategies such as source verification, fact-checking, and improving their media literacy. This research contributes to strengthening the role of digital literacy and cultural awareness as essential tools for countering disinformation. It also recommends the development of social media features that promote contextualized and inclusive intercultural communication.
Instagram and Political Power: How Social Media Enhances the Self-Image of Political Actors Ahmad Suryadi; Jeni Mona Melisa
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9925

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan Instagram oleh politisi untuk menciptakan citra positif dalam mempengaruhi pemilih. Artikel ini akan menganalisis secara komperhensih penggunaan Instagram oleh calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 menggunakan analisis konten kualitatif menggunakan kerangka Pierre Bourdieu: habitus, modal, field. Penelitian ini menemukan bahwa Instagram telah menjadi arena politik strategis bagi para politisi, dimana kekuasaan simbolik diperjuangkan melalui unggahan visual, gambar, video pendek, dan hastag. Pasangan Mahyeldi–Vasco secara konsisten memanfaatkan modal simbolik, budaya, dan sosial untuk memperkuat branding mereka dalam berbagai posting, terutama melalui hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Sebaliknya, akibat ketidakkonsistenan dalam memposting informasi dan penggunaan hashtag, pasangan Epyardi-Ekos belum optimal memanfaatkan Instagram sebagai alat komunikasi politik. Strategi komunikasi politik melalui Instagram ini menjadi salah satu keunggulan pasangan Mahyeldi-Vasco dalam membentuk opini publik di Instagram. Studi ini menyoroti pentingnya aktor politik mengelola narasi, menjaga konsistensi posting, dan berkolaborasi dalam memanfaatkan modal untuk membangun dan memperkuat citra positif. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam memahami dinamika politik di media digital serta memperluas pengetahuan tentang strategi komunikasi politik kontemporer dalam konteks pemilihan berbasis media sosial. This article explores and analyzes politicians' use of Instagram to create a positive image and influence voters. This study will comprehensively examine the use of Instagram by the candidates for governor and deputy governor of West Sumatra in the 2024 regional head elections (Pilkada) using a qualitative content analysis approach based on Pierre Bourdieu's theoretical framework: habitus, capital, and field. The research found that Instagram has become a strategic political arena where symbolic power is contested through visual posts, images, short videos, and hashtags. The Mahyeldi–Vasco pair consistently leveraged symbolic, cultural, and social capital to strengthen their branding in various posts, particularly through the hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Conversely, due to inconsistencies in posting information and hashtag usage, the Epyardi-Ekos pair has not optimally utilized Instagram as a political communication tool. This political communication strategy via Instagram has become one of the strengths of the Mahyeldi-Vasco pair in shaping public opinion on Instagram. This study highlights the importance of political actors managing narratives, maintaining post consistency, and collaborating on capital to build and strengthen a positive image. These findings contribute theoretically and practically to understanding political dynamics in digital media and expanding knowledge about contemporary political communication strategies in the context of social media-based electoral contests, particularly on Instagram.

Page 1 of 1 | Total Record : 8