cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)" : 10 Documents clear
Anestesi pada Diabetes Mellitus Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Widyastuti, Yunita; Krisdiyantoro, Nova
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7256

Abstract

Di Indonesia diperkirakan sekitar 25% penderita DM akan menjalani anestesi dan pembedahan, sehingga ahli anestesi akan banyak berhadapan dengan penderita DM yang membutuhkan operasi, baik elektif maupun emergency. Angka mortalitas penderita DM yang mengalami pembedahan kurang lebih 5 kali lebih tinggi dari penderita non DM. Kunci untuk mengelola kadar glukosa darah pra bedah pada pasien diabetik adalah menetapkan sasaran yang jelas dan kemudian memantau kadar glukosa darah cukup sering untuk menyesuaikan terapi guna mencapai sasaran tersebut. Pengelolaan glukosa darah selama dan setelah operasijuga menentukan keberhasilan tatalaksana anestesi pada pasien DM.
Perbandingan Onset dan Kejadian Hipotensi antara Propofol LCT dengan Propofol MCT/LCT Ramayani, Julita; Suryono, Bambang; Sari, Djayanti
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7257

Abstract

Latar belakang: Propofol adalah obat anestesi intravena yang paling sering digunakan saat ini. Propofol digunakan untuk induksi, rumatan anestesi dan sedasi baik di dalam maupun di luar kamar operasi. Induksi anestesi dengan propofol dikaitkan dengan beberapa efek samping yaitu hipotensi dan nyeri injeksi. Formula propofol awalnya digunakan dengan konsentrasi 10 mg/ml dalam emulsi lemak long-chain triglyceride (LCT). Sejak tahun 1995 telah muncul propofol dalam emulsi 50% MCT dan 50% LCT (propofol MCT/LCT) yang telah digunakan secara klinis dapat diterima dengan baik oleh pasien karena mengurangi nyeri injeksi sedang sampai berat akibat propofol. Hal ini disebabkan karena konsentrasi free propofol dalam propofol MCT/LCTlebih rendah dibandingkan propofol LCT. Jumlah fraksi obat bebas dalam plasma dapat menentukan potensi serta onset obat, semakin banyak fraksi obat bebas dalam plasma maka potensi suatu obat akan lebih besar dan onsetnya akan lebih cepat.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui onset dan kejadian hipotensi antara propofol LCT dengan propofol MCT/LCT.Metode penelitian: Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak buta berganda (double blind randomized controlled trial/RCT). Subyek penelitian berjumlah 66 orang yang terbagi menjadi dua kelompokyaitu kelompok A (kelompok yang mendapatkan propofol LCT 2 mg/kgbb) dan kelompok B (kelompok yang mendapatkan Propofol MCT/LCT 2 mg/kgbb) dengan masing-masing subyek sebanyak 33 orang. Kriteria inklusi antara lain pria dan wanita usia 18-60 tahun, ASA I dan II, prosedur operasi elektif selain bedah saraf, bedah jantung dan seksio sesaria, dan BMI >20 dan < 30 kg/m2, sedangkan kriteria eksklusi yaitu pasien dengan gangguan kardiovaskuler seperti penyakit jantung, hipertensi, pasien dengan gangguan endokrin seperti DM, hipertiroid, hipotiroid, gangguan fungsi ginjal, pasien yang menggunakan obat-obatan antiaritmia, vasopresor atau vasodilator dan riwayat alergi propofol. Onset dicatat sejak mulai propofol diinjeksikan sampai refleks bulu mata hilang dan genggaman tangan terbuka. Tekanan darah diukur pada saat pasien masuk kamar operasi dan 1 menit setelah induksi.Hasil penelitian: Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada onset propofol antara kelompok A dan kelompok B dengan penilaian refleks bulu mata hilang (p = 0,339) maupun genggaman tangan terbuka (p = 0,783). Hasil pemeriksaan tekanan darah sistolik dan diastolik pada saat pasien masuk ke kamar operasi dan 1 menit setelah induksi pada kedua kelompok penelitian tidak didapatkan perbedaan yang signifikan (p > 0,05).Simpulan: Propofol LCT dengan jumlah free drug yang lebih banyak, tidak mempunyai onset yang lebih cepat dan tidak mempunyai efek hipotensi lebih besar dibandingkan dengan propofol MCT/LCT.
Perbandingan Insidensi Batuk akibat Pemberian Fentanil 2 µG/ KGBB IV dengan Perlakuan Huffing Manoeuvre dan tanpa Perlakuan Fitri, Lillah; Uyun, Yusmein; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7258

Abstract

Latar Belakang: Pemberian fentanil intravena sebagai Preemptive Analgesia sering dan umum dilakukan untuk menumpulkan respon hemodinamik pada saat intubasi trakea. Tetapi fentanil dapat menyebabkan batuk dapat menggangu. Salah satu usaha pencegahan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan perlakuan huffing manoeuvre. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fentanil intravena 2 μg/kgbb dengan perlakuan manuver huffing dibandingkan dengan fentanil intravena 2 μg/kgbb tanpa perlakuan dalam mencegah batuk.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain Uji klinis acak terkontrol yang mengikutsertakan 94 sampel ASA I-II, yang menjalani prosedur operasi bedah elektif dengan anestesi umum. Setelah dilakukan randomisasi, subyek penelitian dikelompokkan menjadi dua. Masing – masing kelompok mendapat fentanil 2 μg/kg. Kelompok 1 sampel mendapat perlakuan manuver huffing dan kelompok 2 sampel tidak dapat perlakuan. Insiden batuk dinilai dalam 120 detik setelah injeksi fentanil yang dibagi dalam menit pertama dan menit kedua. Derajat keparahan batuk dibagi atas batuk ringan (1-2), sedang (3-5), berat (> 5). Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik yaitu uji t test dan uji chi kuadrat, di mana nilai p<0,05 dianggap bermakna.Hasil: Pemberian fentanil 2 ug/kgbb iv dengan huffing manoeuvre dapat mencegah batuk dibanding pemberian fentanil 2 ug/kgbb iv tanpa huffing manoeuvre. Secara statistik ada perbedaan bermakna (p <0,05) insiden batuk pada kedua kelompok. Kelompok dengan huffing manoeuvre dapat mencegah batuk dari insidensi batuk 4,3% menit pertama dan pada menit kedua 8,5%, sedangkan kelompok tanpa huffing manoeuvre yaitu insidensi batuk 19,2% menit pertama dan 12,8% pada menit kedua.Simpulan: Insidensi batuk pada pemberian fentanil 2µg/kgBB IV dengan perlakuan huffing manoeuvre lebih sedikit dibandingkan pemberian fentanil 2µg/kgBB IV tanpa perlakuan dengan beda tidak bermakna.
Penatalaksanaan Anestesi Colostomy pada Pasien Atresia Ani dengan Tetralogi of Fallot (TOF) Artika, I Gusti Ngurah Rai; Pratomo, Bhirowo Yudo; Setiawan, Yosy Budi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7260

Abstract

Insiden kejadian penyakit jantung kongenital berkisar antara 0,3% - 1,2% pada neonates. Tetralogi of fallot (TOF) merupakan penyakit jantung congenital tipe sianotik yang paling banyak didapatkan, dimana kelainannya terdiri dari defek septum ventrikel (VSD), overriding aorta, stenosis pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan (RVH). Pengelolaan anestesi pada anak dengan kelainan jantung kongenital untuk operasi non jantung memiliki suatu hal khusus yang harus diperhatikan sesuai dengan defek yang terjadi, agar tidakmemperberat kondisi penderita. Pada kasus berikut dilaporkan penatalaksanaan anestesi pada anak usia enam bulan dengan tetralogi of Fallot yang menjalani operasi kolostomi.
Hipertensi Berat Disertai Edema Pulmo pada Pasien Trauma Mata Anak-Anak yang Diberikan Fenlyefrine Tetes Mata Mahmud; Uyun, Yusmein; Gutama, Bayu Satria
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7261

Abstract

Telah dilakukan tindakan anestesi pada seorang anak laki-laki 13 tahun dengan diagnosa ruptur bulbi dilakukan repair bulbi. Pasien dengan status fisik asa 2 asma. Dilakukan anestesi dengan teknik anestesiumum intubasi semi clossed ET no 6,5 level di bibir 20 nafas kendali. Monitoring dilakukan dengan NIBP, EKG, SpO2. Operasi berlangsung 2 jam durante operasi hemodinamik TDS 90-220mmHg, TDD 50-130mmHg, HR 50-160x/menit, saturasi 70-99%, Beberapa menit setelah pemberian dua tetes phenylephrine 10% didapatkan rhonki di seluruh paru dan didapatkan cairan berbusa kemerahan yang kami suction dari trakea dengan kemungkinan adanya edema paru akut berlangsung selama 15 menit. Pasca operasi dilakukan ekstubasi sadar. Pasien dipulangkan dari unit perawatan pasca anestesi 4 jam setelah operasi dengan pernapasan spontan, SpO2 99% pada ruang udara, tekanan darah normal dan auskultasi paru yang bersih.
Resusitasi pada Pasien Intoksikasi Methanol Jufan, Akhmad Yun; Adiyanto, Bowo; Hartono, Pinter
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7262

Abstract

Laki laki 24 tahun, pasien dengan rujukan keracunan alkohol. Pasien riwayat mengkonsumsi alcohol 1 hari yang lalu. 8 jam setelah konsumsi alkohol campuran pasien mengeluh kepala pusing dan pandangan menjadi kabur. Pasien mengalami muntah dan penurunan kesadaran, tekanan darah turun, sesak nafas, asidosis metabolik serta gagal ginjal. Pertolongan yang dilakukan intubasi, ventilasi mekanik, obat inotropik serta koreksi asidosis dengan bicarbonat, selanjutnya dilakukan hemodialisa di ICU. Pasien tidak mendapatkan penghambat metabolik untuk toksin methanol.
Anestesi Bedah Saraf (Trauma) Uyun, Yusmein; Rahardjo, Sri; Sunartejo, Bayu
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7263

Abstract

Traumatic brain injury (TBI) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama dan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Sekitar 1,7 juta orang dengan TBI setiap tahun di Amerika Serikat, yang mengarah ke 275.000 rawat inap dan 52.000 kematian. TBI adalah 30,5% dari semua kematian terkait cedera di Amerika Serikat. TBI terjadi paling sering pada anak usia 0-4 tahun, remaja berusia 15-19 tahun dan lansia berusia 65 tahun dan lebih. Dalam semua kelompok umur, laki-laki memiliki insidensi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Terjatuh dan cedera lalu-lintas adalah penyebab utama dari TBI di Amerika Serikat. TBI adalah suatu kondisi yang kompleks yang mempengaruhi bukan hanya encephalon, tetapi juga fungsi sistem tubuh lainnya dengan beberapa presentasi klinis. Dari 20% pasien yang tiba di rumah sakit meninggal akibat TBI. Saat mengikuti algoritma ABC (Airway Breating Circulation) dari resusitasi, ahli anestesi harus memastikan mekanisme dan luasnya cedera. Cidera cervical harus dicurigai sampai benar-benar bisa disingkirkan. Tujuan anestesi untuk prosedur intrakranial adalah meliputi hipnosis, amnesia, imobilitas,kontrol ICP dan CPP, dan “relaxed brain” (yaitu, optimal untuk kondisi bedah).
Pengelolaan Pasien di Post Anestesi Care Unit (PACU) Sudadi; Sarosa, Pandit; Hamdany, Ferry
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7264

Abstract

Pengelolaan pasien pasca operasi dengan general maupun regional harus dilakukan dengan baik sampai pasien benar-benar layak dikembalikan ke bangsal. Nyeri, agitasi, menggigil, hipotermia, mual dan muntah merupakan masalah yang sering timbul di post anesthesia care unit. Komplikasi respirasi dan kardiovaskuler yang umum terjadi harus cepat dikenali dan manajemen yang tepat harus cepat dilakukan. Desain ruangan, sumber daya manusia, perlengkapan dan standar lainnya harus dipenuhi untuk mendapatkan sebuah post anesthesia care unit yang ideal.
Penatalaksanaan Cairan Perioperatif pada Gastroschisis Handayani, Susi; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7265

Abstract

Gastroschisis merupakan sebuah kelainan kongenital yang menyebabkan neonatus harus menjalani operasi pada awal kehidupannya. adanya segmen usus ataupun gastrointestinal yang terpapar udara luar mengakibatkan pasien lebih berisiko jatuh ke dalam kondisi hipovolumia. Perhitungan kebutuhan cairan baik sebelum, selama ataupun sesudah operasi harus diperkirakan dengan tepat.
Efektifitas Penambahan Infus Efedrin 3 Mg/Menit sebelum Blok Subarakhnoid Dilanjutkan 1 Mg/ Menit 18 Menit Berikutnya untuk Mengurangi Kejadian Hipotensi karena Blok Subarakhnoid pada Seksio Sesaria Aji, Bambang Hantoro Sarti; Suryono S, Bambang; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7276

Abstract

Tujuan penelitian : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas profilaksis prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb, 30 menit sebelum blok subarakhnoid ditambah infus efedrin 3 mg/menit, 2 menit sebelum blok subarakhnoid dilanjutkan 1 mg/menit selama 18 menit berikutnya untuk mengurangi kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani seksio sesaria. Desain penelitian Double Blind Randomized Controlled Clinical Trial. Subyek penelitian 92 pasien wanita, usia 20–45 tahun, BMI < 35 kg/m2, dan status fisik ASA I– II.Metode penelitian : Ruang lingkup penelitian adalah wanita hamil aterm yang menjalani seksio sesaria terencana dengan anestesi blok subarakhnoid, di kamar operasi RSUD Banyumas. Subyek dibagi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 46 pasien. Kelompok A adalah kelompok yang diberikan prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb ditambah infus NaCl 0,9% 100 ml + efedrin 100 mg, sementara kelompok B adalah kelompok yang diberikan prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb dan infus NaCl 0,9% 100 ml + NaCl 0,9% 2 ml. Pengukuran dilakukan pada semua subyek TDS, TDD, dan SpO2 setelah prabeban ringer laktat, setelah pemberian infus efedrin sebelum blok subarakhnoid, selanjutnya setiap 2 menit sampai menit ke 20 setelah blok subarakhnoid. Komplikasi dan tindakan rescue dicatat dan dilaporkan. Analisis data kuantitatif menggunakan menggunakan uji independent samples t-test dan data kualitatif akan diuji dengan chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%, dan dianggap bermakna bila p < 0,05 serta sangat bermakna bila p < 0,01.Hasil penelitian : Kejadian hipotensi diukur dengan menghitung penurunan tekanan darah sistolik dari tekanan darah sistolik basal. Kelompok A (efedrin) terjadi hipotensi pada 7 pasien (15,2%) atau mengurangi hipotensi 84,8%, sedangkan pada kelompok B (kontrol) terjadi hipotensi pada 26 pasien (56,5%) atau mengurangi hipotensi 43,5%. Hal ini menunjukkan ada perbedaan bermakna diantara kedua kelompok p < 0,05 (p = 0,001)Kesimpulan : Profilaksis prabeban ringer laktat 20 mg/kgbb, 30 menit sebelum anestesi blok subarakhnoid ditambah infus efedrin 3 mg/menit, 2 menit sebelum anestesi blok subarakhnoid dilanjutkan dengan 1 mg/menit selama 18 menit berikutnya efektif mengurangi kejadian hipotensi karena anestesi blok subarakhnoidpada pasien yang menjalani seksio sesaria.

Page 1 of 1 | Total Record : 10