cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Singuda ENSIKOM
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 34 (2015)" : 8 Documents clear
PERANCANGAN INSTALASI ALIRAN AIR PLTA RENUN GUNA PENINGKATAN DAYA KELUARAN GENERATOR SINKRON Richard Manumpak Batubara; Eddy Warman
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.97 KB)

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Renun adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran air sungai renun dan sebelas anak sungai lain yang kemudian dikumpulkan dalam suatu bendungan pengantar. PLTA Renun menghasilkan sebesar 313,5 GWh energi yang dihasilkan per tahun. Namun potensi sumber daya air pada sungai renun masih dapat dimanfaatkan lebih maksimal lagi dengan memodifikasi aliran air menuju rumah turbin guna meningkatkan daya keluaran turbin. Pada tulisan ini membahas tentang perancangan atau modifikasi aliran air menuju rumah turbin meliputi perubahan panjang, diameter dan bahan material pipa penstock yang digunakan dalam instalasi sehingga dapat mengurangi rugi gesekan air terhadap permukaan pipa dengan itu mengurangi juga rugi-rugi kehilangan tinggi tekan air (meningkatkan head efektif) sehingga daya keluaran turbin atau daya input mekanis generator pun meningkat.
ANALISIS LINK BUDGET JARINGAN SERAT OPTIK GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK Puti Mayangsari Fhatony; Naemah Mubarakah
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.524 KB)

Abstract

Meningkatnya kebutuhan data service memerlukan suatu Jaringan Lokal Akses Fiber yang lebih handal yaitu Fiber to The Home (FTTH) yang menawarkan paket lengkap untuk layanan triple play (data, audio, dan video). Teknologi yang mendukung layanan triple play adalah Gigabit Passive Optical Network (GPON) yang mendukung bit rate yang lebih tinggi dan ketersediaan bandwidth yang besar. Penulisan ini membahas tentang uji kelayakan jaringan serat optik berbasis GPON dengan menghitung besar daya sinyal yang diterima pelanggan (Pr), Signal to Noise Ratio (SNR) dan Bit Error Rate (BER) pada pelanggan di gedung Witel Malang. Pengambilan data dilakukan dari OLT (Optical Line Terminal) yang terletak di STO (Sentral Telepon Otomat) Blimbing yang terhubung kabel feeder sejauh 509 m ke ODC (Optical Distribution Cabinet) yang terletak di depan gedung Witel Malang, yang kemudian diteruskan ke ONU (Optical Network Unit). Dari hasil pengukuran daya sinyal yang diterima pelanggan (Pr) dan BER untuk semua pelanggan dinyatakan layak karena telah memenuhi standar. Dari hasil perhitungan SNR, hanya 4 pelanggan yang memiliki standar kelayakan SNR untuk sistem komunikasi serat optik. Hal ini disebabkan oleh pengaruh jarak sehingga mempengaruhi total loss sepanjang saluran optik ke suatu pelanggan yang akhirnya berpengaruhi terhadap daya sinyal yang diterima oleh pelanggan.
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA TEKNOLOGI MSAN DAN GPON PADA LAYANAN TRIPLE PLAY Fratika Arie Yolanda; Naemah Mubarakah
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.883 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang mendorong pengembangan layanan adalah hadirnya beberapa teknologi akses yang dapat menggabungkan suara,data dan gambar dalam satu layanan yaitu layanan triple play. Untuk dapat mendukung hal tersebut dibutuhkan suatu sistem baru yang dapat menyokong teknologi ini. Teknologi tersebut antara lain adalah Multi Service Access Node (MSAN) dan Gigabit Passive Optical Network (GPON). Penyedia jasa layanan telekomunikasi menggantikan kabel tembaga menjadi kabel fiber optik untuk memenuhi kepuasan pelanggan terhadap layanan tersebut. Adapun tulisan ini membahas tentang perbandingan kualitas jaringan dan mencari solusi layanan komunikasi yang optimal pada MSAN dan GPON untuk layanan triple play. Sehingga diketahui hasil perhitungan parameter kualitas jaringan pada pelanggan dengan menggunakan teknologi MSAN dan GPON. Berdasarkan data pengukuran yang dihitung diperoleh  hasil parameter line rate diperoleh peningkatan kinerja GPON terhadap MSAN sebesar 9,24 % pada jalur upstream sedangkan untuk jalur downstream sebesar 0,0841 %. Parameter attenuation diperoleh GPON mengalami penurunan kinerja terhadap MSAN sebesar 0,0262 % pada jalur upstream sedangkan untuk jalur downstream sebesar 0,005184 %. Parameter attainable rate diperoleh peningkatan kinerja GPON terhadap MSAN sebesar 12.268,9 % pada jalur upstream sedangkan untuk jalur downstream sebesar 62.135,032 %. 
PERANCANGAN JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) BERBASIS TEKNOLOGI GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK (GPON) Nurul Ismi Mentari Sidauruk; Naemah Mubarakah
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.286 KB)

Abstract

Jaringan FTTH merupakan jaringan yang menggunakan media transmisi serat optik yang digelar dari Stasiun Telepon Otomat (STO) sampai ke pelanggan. Pada penerapannya, teknologi yang digunakan adalah GPON. Tulisan ini membahas perancangan jaringan FTTH berbasis teknologi GPON dari STO Cinta Damai sampai ke perumahan Pesona Nabila, Jl. Sei Mencirim, Sunggal – Medan. Setelah menentukan lokasi perancangan, dilakukan identifikasi komponen dan konfigurasi jaringan, kemudian dilakukan analisis kelayakan jaringan dengan menghitung nilai link power budget dan rise time budget. Berdasarkan perhitungan link power buudget dengan jarak terjauh 5,23 km, total redaman untuk uplink adalah 24,1755 dB dan untuk downlink adalah  23,8094 dB. Nilai – nilai tersebut sesuai standar, dimana nilai maksimal total redaman adalah 28 dB. Hasil perhitungan rise time budget untuk uplink adalah 0,250 ns dan untuk downlink adalah 0,26024 ns. Nilai – nilai ini terhitung baik dilihat dari nilai maksimal yang diijinkan untuk sistem ini, yaitu sebesar 0,563 ns untuk uplink dan  0,2814 ns untuk downlink.
RANCANG BANGUN POWER HARVESTER UNTUK TRANSFER DAYA WIRELESS MENGGUNAKAN ANTENA TV FREKUENSI 470 – 860 MHZ Anthony Wang; Arman Sani
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.066 KB)

Abstract

Di alam bebas ini terdapat banyak sekali sumber gelombang elektromagnetik bebas. WiFi transmitters, base station telepon seluler, radio AM/FM, stasiun pemancar TV adalah sumber gelombang elektromagnetik dengan daya keluaran yang berbeda-beda. Gelombang elektromagnetik ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik alternatif. Dalam tulisan ini membahas tentang sistem Ambient Electromagnetic Harvesting dimana digunakan antena yagi TV sebagai antena penerima dan power harvester sebagai rectifier untuk merubah sinyal AC gelombang elektromagnetik daerah frekuensi TV yang diterima pada antena menjadi sinyal listrik DC dan menguatkannya. Sistem ambient electromagnetic harvesting yang dirancang dapat menghasilkan tegangan rata-rata sebesar 433 mV untuk pengukuran di daerah kota Medan, yaitu pada Laboratorium Sistem Komunikasi Radio, Sedangkan pengukuran di daerah pemancar TV di Bandar Baru Sibolangit, diperoleh tegangan rata-rata sebesar 2160 mV. Dari pengukuran yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa semakin dekat ke sumber pemancar semakin besar juga tegangan yang dihasilkan.
Penentuan Titik Interkoneksi Distributed Generation (DG) pada Jaringan Distribusi 20 KV Dengan Bantuan Metode Artificial Bee Colony. Syilvester Sitorus Pane; Zulkarnaen Pane
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.077 KB)

Abstract

Abstract - Development of a Distributed Generation (DG), is a solution to overcome the lack of power capacity on the network. However, the development of DG often negative impact that the increasing loses on the network. Increased loses on the network caused by a mismatch between the location of the construction of a DGwith DG power capacity built. A possibility that can be done to reduce the total loses of network is the determination of an interconnection point DG. This paper discusses the determination of interconnection points better for Hydropower of Aek Silau 2 are currently interconnected to PM6 feeders. G.I. Pematangsiantar, North Sumatra, Indonesia. By using the methods of Artificial Bee Colony represented by MATLAB program, produced a better interconnection point for  a Hydropower of Aek Silau 2 in order to reduce the value of loses of network. Prior research conducted, DG studied interconnected on the bus 20, and after the study, obtained DG interconnection point on the bus 15 with the use of different cable sizes on a link between the DG to the network PM6. As a result, the value of loss - loss of tissue was reduced by approximately 19%. In addition, the voltage profile in several buses to be better.Abstark - Pembangunan sebuah Distributed Generation (DG), merupakan sebuah solusi untuk mengatasi kurangnya kapasitas daya pada jaringan. Namun, pembangunan DG kerap menimbulkan dampak negatif yaitu meningkatnya rugi – rugi pada jaringan. Meningkatnya rugi – rugi pada jaringan terjadi akibat ketidakcocokan antara lokasi dibangunnya sebuah DG dengan kapasitas daya DG yang dibangun. Sebuah kemungkinan yang dapat dilakukan untuk mengurangi total rugi – rugi jaringan adalah dengan penentuan sebuah titik interkoneksi DG. Tulisan ini membahas mengenai penentuan titik interkoneksi yang lebih baik untuk PLTMH Aek Silau 2 yang saat ini terinterkoneksi pada Penyulang PM6. G.I. Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia. Dengan menggunakan metode Artificial Bee Colony yang direpresentasikan dengan program MATLAB, dihasilkan sebuah titik interkoneksi yang lebih baik bagi sebuah DG PLTMH Aek Silau 2 guna mengurangi nilai rugi – rugi jaringan. Sebelum penelitian dilakukan, DG yang diteliti diinterkoneksikan pada bus 20, dan setelah dilakukan penelitian, diperoleh titik interkoneksi DG pada bus 15 dengan penggunaan ukuran kabel yang berbeda pada saluran penghubung antara DG ke jaringan PM6. Hasilnya, nilai rugi – rugi jaringan berkurang hingga sekitar 19%. Selain itu, profil tegangan pada beberapa bus pun menjadi lebih baik.
RANCANG BANGUN SISTEM AUTOTRACKING UNTUK ANTENA UNIDIRECTIONAL FREKUENSI 2.4GHZ DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTOLER ARDUINO Ryandika Afdila; Arman Sani
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.463 KB)

Abstract

Pengamatan cuaca pada kondisi vertikal atmosfer sangat diperlukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Pengamatan ini dilakukan dengan cara menerbangkan muatan (payload) yang terdiri dari berbagai sensor untuk pengamatan cuaca. Muatan kemudian akan mengirimkan informasi ke stasiun penerima melalui frekuensi komunikasi 2.4 GHz. Agar komunikasi antara muatan dengan stasiun penerima dapat terjalin dengan baik, maka stasiun penerima harus selalu terarah ke muatan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem yang dapat mendeteksi posisi muatan lalu mengarahkan antena stasiun penerima ke arah muatan tersebut. Tulisan ini membahas bagaimana cara merancang sistem autotracking untuk antena unidirectional dengan frekuensi operasi 2.4 GHz yang memungkinkan pengarahan antenna kea rah muatan secara otomatis dan akurat. Dari pengujian langsung di Laboratorium Sistem Komunikasi Radio, diperoleh nilai RSSI rata-rata adalah 156.8, 157, dan 156.6 untuk sudut hadap antena 400, 900 dan 1400 terhadap muatan dan kesalahan pengarahan rata-rata dari sistem autotracking yang dirancang adalah < 90.
PERANCANGAN PROPELLER CLOCK DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLER Robin Robin; Ahri Bahriun
Singuda ENSIKOM Vol 12, No 34 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.544 KB)

Abstract

Seiring perkembangan zaman, banyak cara untuk menampilkan waktu, tidak terbatas hanya pada jam analog atau jam digital yang sering dijual di pasaran. Salah satu contohnya adalah propeller clock, dimana prinsip dari jam ini adalah dengan memutar sebaris LED yang dipasang berderet di atas sebuah papan PCB dengan kecepatan tinggi sehingga menghasilkan suatu efek persistence of vision dimana mata kita seolah-olah melihat gambaran dari suatu jam. Dalam tulisan ini dibahas perancangan suatu alat yang dapat menampilkan waktu secara digital hanya dengan menggunakan sebaris LED. Metode yang dilakukan adalah dengan memutar rangkaian dengan kecepatan tinggi sehingga menghasilkan efek persistence of vision. Setelah itu dilakukan pengujian untuk melihat pengaruh dari perubahan tegangan penggerak motor terhadap karakter yang ditampilkan. Dari hasil pengujian didapat bahwa semakin kecil tegangan penggerak motor maka karakter yang ditampilkan juga akan semakin sempit.

Page 1 of 1 | Total Record : 8