cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Singuda ENSIKOM
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 35 (2015)" : 8 Documents clear
PENGUKURAN TINGKAT HARMONISA PADA BEBERAPA MERK JUICER (DENGAN STANDAR IEC 61000 3-2) Vitra Juniva; Rachman Hasibuan
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.599 KB)

Abstract

Harmonisa adalah gejala dari pembentukan gelombang sinus dengan gelombang fundamental yang apabila digabungkan dengan frekuensi harmonisa akan terjadi nya gelombang yang terdistorsi. Apabila hal ini terjadi maka akibatnya peralatan listrik akan mengalami efek buruk. Beberapa standar internasional seperti IEC dan IEEE telah mengeluarkan tingkat harmonisa yang diizinkan pada peralatan listrik. Tulisan ini membahas tentang pengukuran tingkat harmonisa pada beberapa merk juicer dengan menggunakan acuan standar IEC 61000 3-2. Pengukuran tingkat harmonisa pada beberapa merk juicer menggunakan alat Fluke 435 power Quality Analyzer. Alat ini dapat mengukur besar kecilnya harmonisa yang dihasilkan oleh juicer sehingga dapat diketahui apakah juicer-juicer tersebut memiliki harmonisa yang melebihi standar atau tidak yang diizinkan oleh IEC 61000 3-2.
PERENCANAAN SMARTGRID JARINGAN LISTRIK SUMBAGUT 150 KV MENGGUNAKAN SIMULINK MATLAB Fransisco Wiartone Simbolon; Yulianta Siregar
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.495 KB)

Abstract

Jaringan listrik konvensional yang digunakan saat ini memiliki beberapa kekurangan – kekurangan, antara lain adalah tidak adanya informasi aliran daya yang pasti serta kurang efisiennya mulai dari pembangkitan sampai dengan penyaluran energi listrik. Kekurangan – kekurangan ini dapat diatasi dengan  menggunakan  konsep smartgrid, dimana smartgrid merupakan sebuah penamaan terhadap sistem kelistrikan yang menggunakan perkembangan teknologi, sehingga nantinya didapatkan sistem yang baik, otomatis dan efisien dalam pengoperasiannya. Tulisan ini membahas mengenai perancangan sistem smartgrid untuk jaringan listrik SUMBAGUT 150 kV,  menggunakan simulink matlab. Dengan metode penggabungan dari rancangan  sistem komunikasi, rancangan  sistem kontrol dan selanjutnya menggabungkan sistem ini dengan sistem kelistrikan yang ada,  maka akan didapatkan konsep smartgrid. Dari hasil percobaan yang dibuat dengan mengubah beberapa parameter daya beban, didapatkan persen rugi – rugi jaringan terkecil adalah pada keadaan 10% beban puncak yaitu sebesar 12,64% dari daya yang dibangkitkan, sedangkan persen rugi – rugi terbesar pada jaringan adalah pada keadaan 95% beban puncak yaitu sebesar 17,65% dari daya yang dibangkitkan.  Dari  perencanaan dan percobaan yang dilakukan dalam tugas akhir ini maka didapatkan sistem yang  terotomatisasi dengan memperhatikan keefisienan dari segi pembangkitan dan keandalan dari segi tegangan.
ANALISIS MODEL PROPAGASI PATH LOSS SEMI-DETERMINISTIK UNTUK APLIKASI TRIPLE BAND DI DAERAH URBAN METROPOLITAN CENTRE Nining Triana; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.586 KB)

Abstract

Gedung-gedung bertingkat yang ada di daerah perkotaan (urban), khususnya daerah perkotaan yang sangat padat dengan beberapa gedung pencakar langit (metropolitan centre) merupakan faktor utama penyebab terjadinya path loss. Hal ini ditandai dengan menurunnya level daya yang diterima dibandingkan dengan level daya efektif yang dipancarkan. Pada tulisan ini, untuk memprediksikan nilai path loss yang terjadi adalah dengan menggunakan model propagasi yang cocok untuk daerah urban metropolitan centre, yaitu model propagasi COST231 Hata dan COST231 Walfisch-Ikegami dengan frekuensi kerja triple band, yaitu 935 Mhz untuk sistem GSM900, 1812,5 MHz untuk sistem GSM1800 dan 2140 MHz untuk sistem 3G. Dari analisis yang dilakukan secara perhitungan dan pengukuran di lokasi penelitian diperoleh bahwa model propagasi COST231 Walfisch-Ikegami adalah model yang paling cocok dan layak digunakan untuk sistem GSM1800 dan 3G dengan mean error masing-masing sebesar 1,84 dB dan 0,57 dB dan standar deviasi sebesar 1,45 dB.
Analisis Pengaruh Slope Terrain terhadap Pathloss pada Daerah Suburban untuk Mode Point to Point pada Sistem GSM 900 Fadilah Rahma; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.342 KB)

Abstract

Faktor slope terrain sangat mempengaruhi besaran pathloss yang terjadi pada daerah yang berbukit. Karena pengaruh faktor slope terrain dapat menyebabkan terjadinya drop call. Untuk memprediksi besaran pathloss pada daerah yang memiliki faktor slope terrain dapat menggunakan model Okumura dan model Lee. Kedua model ini memiliki faktor slope terrain yang berbeda   yaitu faktor slope terrain Ksp berdasarkan sudut slope terrain dan faktor tinggi efektif antena base station yang dipengaruhi oleh tinggi kontur tanah. Tulisan ini membahas tentang pengaruh slope terrain terhadap pathloss pada daerah suburban. Adapun metode yang digunakan adalah menghitung pathloss dengan model Lee, serta membandingkan pathloss kedua model propagasi dengan pathloss data pengukuran. Untuk mendapatkan model propagasi yang sesuai pada daerah yang diteliti, maka dilakukan juga metode prediksi yaitu model regresi parabola kuadratik dan MAPE (Mean Absolute Percentage Error). Berdasarkan hasil metode prediksi, maka diperoleh model yang sesuai digunakan pada daerah Sidikalang untuk sistem GSM 900 adalah model Lee. Hal ini dikarenakan dari hasil grafik regresi data pengukuran mendekati grafik dari model Lee dengan nilai MAPE (Mean Absolute Percentage Error) sebesar 4.25 %.
PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN METROPOLITAN AREA NETWORK DENGAN INTERNET PROTOCOL VERSI 4 DAN VERSI 6 Muhammad Barkah; Muhammad Zulfin
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.884 KB)

Abstract

Komunikasi data berbasis teknologi TCP/IP telah umum digunakan sebagai jaringan dasar pada Local Area Network (LAN), baik dengan kabel (802.3) maupun wireless (802.11). Pada umumnya jaringan Local Area Network (LAN) diimplementasikan sebagai bagian Metropolitan Area Network (MAN). Tulisan ini membandingkan kinerja jaringan MAN menggunakan internet protocol versi 4 dan internet protocol versi 6. Adapun model jaringan MAN menggunakan metode routing routing static, EIGRP, RIP dan OSPF. Kinerja jaringan dievaluasi menggunakan aplikasi GNS3 dan aplikasi wireshark dengan parameter throughput, delay, dan packet loss. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh throughput jaringan IPv6 lebih besar 54,92% dibandingkan jaringan IPv4. Sementara delay pada jaringan IPv4 lebih besar 53,2% dibandingkan jaringan IPv6. Packet loss pada jaringan IPv4 lebih besar 41,8% dibandingkan jaringan IPv6.
Analisis Kinerja Jaringan MultiProtocol Label Switching untuk Layanan Video Streaming Dimas Yudha Prawira; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.358 KB)

Abstract

Peningkatan kinerja jaringan dapat dilakukan dengan teknologi Multiprotocol Label Switching (MPLS). MPLS merupakan teknologi yang memadukan fungsi switching layer 2 dan routing layer 3 dengan memberi label pada paket data. Tulisan  ini membahas pengaruh MPLS terhadap Quality of Service pada layanan video streaming. Pemodelan jaringan video streaming dilakukan pada MPLS atau tanpa MPLS dengan metode routing Open Shortest Path First (OSPF). Evaluasi simulator menggunakan Graphical Network Simulator 3 (GNS3). Hasil pengukuran menggunakan WireShark diketahui rata-rata di lima puluh percobaan layanan video streaming dengan MPLS menunjukkan parameter QoS  yaitu: throughput 0,2402 Mbps, delay 44,322 ms , dan packet loss 2,995 %. Sedangkan tanpa MPLS memiliki throughput 0,233 Mbps, delay 45,594 ms, dan packet loss 4,176 %. Hasil ini menunjukkan bahwa jaringan dengan MPLS lebih baik dibandingkan tanpa MPLS.
ANALISIS KINERJA TEKNIK PENJADWALAN PADA WIMAX UNTUK LAYANAN VIDEO ON DEMAND Said Reza Fakhrizal; Suherman Suherman
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.885 KB)

Abstract

Video on Demand (VoD) merupakan aplikasi teknologi multimedia video interaktif yang dapat diakses sesuai kebutuhan user. Worldwide interoperabilty microwave acces (WiMAX) merupakan jaringan yang memiliki layanan berkapasitas tinggi dapat menjadi sarana untuk mengimplementasikan sistem VoD. Salah satu cara mengoptimalkan aplikasi VoD pada jaringan WiMAX adalah menyesuaikan teknik penjadwalan yang digunakan. Tulisan ini merancang teknik penjadwalan berbasis fitur untuk mengoptimalkan pengiriman video berdasarkan kebutuhan subjektif user tertentu. Evaluasi kinerja pada tulisan ini menggunakan metode simulasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa teknik penjadwalan yang dirancang menghasilkan nilai PSNR yang meningkat rata-rata 1.05 dB sampai 4.09 dB. Sedangkan untuk nilai packet loss, teknik penjadwalan ini menghasilkan nilai terkecil sebesar 0.4 % sampai 5.8 % dibanding teknik penjadwalan lainnya. Secara umum teknik penjadwalan yang dirancang berhasil memperbaiki kualitas pelayanan video untuk kebutuhan subjektif user.
PERANCANGAN ALAT PENGISI BATERAI LEAD ACID BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535 Bukry Chamma Siburian; T. Ahri Bahriun
Singuda ENSIKOM Vol 13, No 35 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.427 KB)

Abstract

Baterai merupakan salah satu bentuk teknologi penyimpan energi yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi kimia dan energi kimia menjadi energi listrik kembali. Penggunaan baterai juga sangat banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah baterai lead acid. Untuk menjaga agar kondisi baterai selalu dalam kondisi yang baik maka diperlukan perawatan, termasuk memilih alat pengisi baterai yang berkualitas. Tulisan ini membahas tentang perancangan sebuah alat pengisi baterai lead acid. Rangkaian alat pengisi baterai ini terdiri dari beberapa bagian utama, antara lain : mikrokontroler ATMega 8535 sebagai pengendali utama, trafo CT sebagai catu daya, IC regulator untuk menjaga tegangan tetap konstan, dan LCD sebagai penampil nilai tegangan. Alat ini bekerja dengan cara memantau keadaan tegangan baterai pada saat kosong dan saat penuh. Ketika tegangan baterai berada pada tegangan minimum maka akan dilakukan proses pengisian dan ketika tegangan baterai berada pada tegangan maksimum maka akan menghentikan proses pengisian. Tegangan maksimum yang diinginkan adalah sebesar 13,8 Volt dan tegangan minimum sebesar 12,1 Volt. Setiap tegangan baterai yang tebaca ditampilkan pada LCD.

Page 1 of 1 | Total Record : 8