cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014)" : 149 Documents clear
Penentuan Kawasan Agroindustri Berbasis Komoditas Unggulan Sektor Pertanian di Kabupaten Probolinggo Firda Nurul Lailia; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.594 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7246

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menentukan kawasan agroindustri di Kabupaten Probolinggo yang berbasis komoditas unggulan sektor pertanian. Sasaran pertama yang dilakukan adalah menentukan komoditas unggulan yang potensial menggunakan alat analisis LQ dan Shift-Share, kedua menentukan bobot faktor-faktor penentu kawasan agroindustri menggunakan analisis AHP, kemudian ketiga menentukan kawasan agroindustri berdasarkan komoditas unggulan sektor pertanian Kabupaten Probolinggo dengan analisis penilaian variabel. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat 18 komoditas unggulan yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga subsektor unggulan yaitu Subsektor Tanaman Pangan dan Hortikultura, Subsektor Peternakan dan Subsektor Perikanan. Dalam penentuan kawasan agroindustri, faktor ketersediaan bahan baku memiliki nilai bobot (tingkat pengaruh) paling besar baik untuk subsektor tanaman pangan dan hortikultura, subsektor peternakan, dan subsektor perikanan. Berdasarkan analisa penilaian variabel adapun kecamatan yang terpilih sebagai kawasan yang paling potensial sebagai kawasan agroindustri subsektor tanaman pangan dan hortikultura yaitu Kecamatan Tongas dengan komoditas unggulan mangga dan jagung, kawasan agroindustri subsektor peternakan yaitu Kecamatan Kraksaan dengan komoditas unggulan sapi potong, dan kawasan agroindustri perikanan di Kecamatan Paiton dengan komoditas unggulan perikanan laut.
Faktor yang Berpengaruh dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Perikanan di Pulau Poteran Dira Arumsani; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.516 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7248

Abstract

Pulau Poteran memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakatnya, yaitu pada sektor perikanan. Namun masih terdapat beberapa kendala dalam pengembangannya tersebut, yaitu dari sarana prasarana perikanan yang kurang memadai, keterbatasan pemahaman sumber daya manusia, modal, serta kelembagaan. Oleh karena itu perlu untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh dalam pengembangan sektor perikanan pada masing-masing wilayahnya, sehingga selanjutnya akan diketahui bagaimana pengembangan ekonomi lokal di wilayah penelitian sesuai dengan faktor-faktor tersebut. Berdasarkan hasil analisis korelasi didapatkan variabel yang memiliki hubungan dengan variabel dependen meliputi: self esteem, jumlah nelayan, hasil produksi, biaya operasional, aksesibilitas, keterkaitan antar sektor, tingkat pendidikan, biaya tetap, pendapatan masyarakat, peran pemerintah, ketersediaan unit pemasaran, basic needs, keterjangkauan harga, full employment, self esteem, biaya operasional, dan ketersediaan unit pengolahan. Selanjutnya dari hasil analisis regresi didapatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan sektor perikanan antara lain: pendapatan masyarakat, basic needs, self esteem, keterkaitan antar sektor, jumlah nelayan, hasil produksi, tingkat pendidikan, biaya operasional, aksesibilitas, ketersediaan unit pengolahan, dan ketersediaan unit pemasaran.
Arahan Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Singosari Malang Sebagai Heritage Tourism Lilik Krisnawati; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.969 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7249

Abstract

Permasalahan di kawasan cagar budaya Singosari yaitu kurangnya peran serta stakeholder dan keterpaduan perencanaan dalam mengembangkan obyek pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan cagar budaya Singosari Malang sebagai Heritage Tourism. Tahapan dalam penelitian ini meliputi mengetahui potensi dengan menggunakan analisa teoritical descriptif dan skoring, mengetahui kendala dengan menggunakan analisa teoritical descriptif dan skoring. Selanjutnya dilakukan penentuan faktor yang berpengaruh dengan menggunakan teknik analisa deskriptif dan analisa Delphi. Kemudian dalam perumusan arahan pengembangan kawasan cagar budaya di Singosari Malang menggunakan teknik content analysis. Arahan untuk pengembangan kawasan cagar budaya Singosari sebagai heritage tourism terdiri dari arahan mikro spasial-non spasial dan arahan makro spasial-non spasial yang dibagi menjadi 3 zona pengembangan secara spasial di kawasan cagar budaya Singosari yaitu zona inti, zona pendukung langsung dan zona pendukung tidak langsung. Zona inti merupakan tempat adanya bangunan cagar budaya sebagai daya tarik wisata, zona pendukung langsung berkaitan dengan arahan mikro spasial-non spasial yaitu penataan bangunan cagar budaya yang kondisinya sebagai ikon kawasan dan kesejarahan yang terkandung didalamnya, fasilitas akomodasi serta fasilitas pendukung pengembangan. Kemudian zona pendukung tidak langsung berkaitan dengan arahan makro spasial-non spasial yaitu partisipasi masyarakat, atraksi wisata, pemasaran, aksesibilitas, implementasi kebijakan, pengembangan antar obyek wisata, kerjasama sektor swasta serta pendanaan di kawasan wisata cagar budaya.
Mitigasi Kawasan Rawan Banjir Rob di Kawasan Pantai Utara Surabaya Medhiansyah Putra Prawira; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.681 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7252

Abstract

Kenaikan permukaan air laut berdampak pada munculnya bencana banjir rob di Kawasan Pantai Utara Surabaya. Banjir rob ini menyebabkan terendamnya permukiman, pertambakan dan pergudangan. Ketinggian banjir rob yang meningkat setiap tahun berdampak pada peningkatan luasan genangan yang ditimbulkan dan peningkatan kerugian ekonomi masyarakat yang bekerja di sektor rentan. Oleh sebab itu, diperlukan upaya mitigasi yang efektif berdasarkan faktor kerentanan banjir rob di Kawasan Pantai Utara Surabaya. Adapun faktor kerentanan yang ditinjau yaitu kerentanan fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan. Dalam menganalisa relevansi dan aplikasi mitigasi banjir rob berdasarkan faktor kerentanan digunakan metode content analysis. Berdasarkan hasil analisa terdapat 11 faktor kerentanan yaitu kepadatan bangunan yang tinggi, kondisi jaringan jalan yang tergenang banjir rob, kurang optimalnya kondisi saluran drainase, permukiman penduduk berada di dataran rendah, fasilitas umum yang tergenang banjir rob, kepadatan penduduk yang tinggi, menurunnya pendapatan masyarakat pada sektor rentan, berkurangnya kawasan resapan air, berkurangnya kawasan hutan mangrove, permukiman penduduk berada di dataran rendah dan kawasan terbangun dibangun di lahan bekas rawa. Berdasarkan faktor kerentanan tersebut didapatkan upaya mitigasi banjir rob yaitu pembangunan tanggul, pintu air dan rumah pompa, penyediaan konsep rumah panggung, pengembangan kawasan hutan bakau, penataan bangunan di sekitar pantai, pembentukan organisasi pemerintah dan non pemerintah terkait bencana, penyediaan peta bahaya dan risiko serta penyediaan konsep penataan ruang yang akrab bencana.
Tipologi Klaster Industri Pengolahan Jagung di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban Berdasarkan Karakteristik Pengembangan Ekonomi Lokalnya Rusyidi Huda Prasetyo; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.817 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7254

Abstract

Pengembangan wilayah Kabupaten Tuban khususnya Kecamatan Merakurakurak masih berorientasi pada growth oriented semata. Pontensi jagung yang menjadi komoditas basis pada wilayah tersebut masih belum terkelola dengan optimal, karena tidak adanya arahan yang lebih spesifik terkait diversifikasi dan pengolahan jagung lebih lanjut. Oleh karena itu diperlukan perumusan arahan yang tepat guna dalam mengembangkan industri pengolahan jagung di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tipologi klaster industri pengolahan jagung di Kecmatan Merakurak Kabupaten Tuban dengan pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Hal ini dikarenakan konsep PEL sejalan dengan fenomena yang terjadi di wilayah penelitian, yaitu trkait berkembanganya wirausahawan lokal (industri penglahan jagung) dalam rangka mengembangkan ekonomi lokal yang mandiri. Terdapat tiga tahapan mencapai tujuan penelitian. Pertama, identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dengan menggunakan metode analisis faktor konfirmatori, selanjutnya mengelompokkan klaster industri berdasarkan faktor-faktor dengan analisis klaster ttersebut dan pada tahap terakhir menginterpretasi analisis klaster pada setiap tipologi yang muncul dengan analisis deskriptif. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah tipologi klaster industri yaitu industri intijagung yang berada pada Desa Tuwiri Kulon, Tlogowaru, Tobo, Sugihan. Kemudian industri pemasok yang berada pada Desa Kapu, Tuwiri Wetan, Pongpongan, Temandang, Tegalrejo dan Tahulu. Serta, industri pendukung yang berada pada Desa Mandirejo, Bogorejo, Sumberejo, Sendang Haji, Sambonggede, Sumber, Boreh Bangle, Senori dan Sembungrejo.
Clustering Permukiman Kumuh di Kawasan Pusat Kota Surabaya Patrica Bela Barbara; Ema Umilia
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.104 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7262

Abstract

Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di Kota Surabaya kurang diimbangi dengan ketersediaan tempat tinggal yang dapat dijangkau semua kalangan masyarakat. Kondisi tersebut memicu munculnya permukiman yang dibangun dengan kondisi minim tanpa memperhatikan struktur tata ruang dan konstruksi bangunan yang baik. Fenomena tersebut terjadi di kawasan pusat kota Surabaya yang saat ini memiliki banyak fenomena permukiman kumuh dengan karakteristik yang beragam. Dengan melihat keberagaman karakteristik permukiman kumuh di kawasan pusat kota Surabaya, maka diperlukan suatu upaya untuk mengelompokkan permukiman kumuh berdasarkan kemiripan karakteristiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan permukiman kumuh berdasarkan kemiripan karakteristik kekumuhannya. Terdapat 2 alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, statistik deskriptif untuk mendapatkan karakteristik permukiman kumuh di kawasan pusat kota Surabaya. Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan mengolah hasil kuisioner ke dalam tabel, diagram, prosentase, dan grafik serta membandingkannya dengan peraturan atau standar yang berlaku. Sedangkan metode kedua ialah analisis cluster untuk mengelompokkan permukiman kumuh berdasarkan kemiripan karakteristik kekumuhan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan 3 cluster permukiman kumuh. Cluster 1 terdiri dari area kumuh Kedungturi, Wonorejo, Kampung Malang Tengah, Kedondong Kidul, dan Kupang Panjaan. Cluster 2 terdiri dari area kumuh Dupak, Margorukun, Tembok Dukuh, Asembagus, dan Sidotopo. Cluster 3 terdiri dari area kumuh Kemayoran Baru, Kapasari, Kenjeran DKA, Donorejo, dan Gembong. Cluster 1 memiliki ketersediaan prasarana dan kondisi fisik yang paling baik diantara ketiga cluster. Sedangkan cluster 3 memiliki ketersediaan prasarana dan kondisi fisik yang paling buruk.
Faktor-Faktor Kerentanan yang Berpengaruh terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Manggala Kota Makassar Ade Reza Rachmat; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.917 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7263

Abstract

Banjir yang terjadi di Kecamatan Manggala berdampak negatif kepada masyarakat baik berupa kerugian material, evakuasi warga maupun terhentinya aktivitas sosial ekonomi. Kondisi tersebut diakibatkan oleh kondisi geografis yang rentan, curah hujan tinggi, dan laju pembangunan yang tinggi yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan air. Namun, upaya adaptasi yang dilakukan belum efektif untuk mengurangi kerentanan wilayah, dikarenakan adaptasi yang dilakukan masih bersifat reaktif. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian dalam mengidentifikasi faktor-faktor kerentanan wilayah yang berpengaruh terhadap banjir di Kecamatan Manggala, sebagai bahan dalam perumusan adaptasi yang lebih efektif kedepannya. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai penentuan arahan adaptasi kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Manggala Kota Makassar. Melalui teknik content analysis dapat diketahui faktor-faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap bencana banjir di Kecamatan Manggala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap Banjir di Kecamatan Manggala adalah faktor kondisi drainase yang tidak memadai, dekatnya jarak bangunan dengan sungai, lokasi permukiman di daerah akumulasi genangan, penurunan daya infiltrasi tanah, konstruksi jalan yang rentan kerusakan akibat genangan, dan tingginya potensi penduduk terdampak.
Pengembangan Komoditas Unggulan Sektor Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Karangasem Melalui Pendekatan Agribisnis kd. Ayu Novita Prahastha Dewi; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.355 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7265

Abstract

Sektor pertanian merupakan sektor utama pendukung perekonomian Kabupaten Karangasem. Meskipun Kabupaten Karangasem memiliki potensi pada sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan yang cukup besar, namun hingga kini belum mampu meningkatkan perekonomian daerah secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan komoditas unggulan sektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Karangasem melalui pendekatan agribisnis. Tahapan penelitian untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini yaitu analisis LQ dan Shift Share untuk menentukan komoditas unggulan tanaman pangan, analisis Delphi untuk menentukan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan nilai tambah komoditas unggulan, analisis Expert Judegement untuk menentukan jenis kegiatan pasca panen subsistem agribisnis hilir dan analisis Descriptive Kualitatif untuk merumuskan arahan pengembangan. Hasil penelitian dari keseluruhan proses analisa didapatkan bahwa komoditas unggulan tanaman pangan yang berpotensi dan memiliki daya saing dan dapat dikembangkan lebih lanjut adalah padi, ubi kayu dan kacang kedelai. Arahan pengembangan komoditas unggulan terdiri atas kegiatan penanganan primer (pasca panen) dan kegiatan penanganan sekunder (pengolahan) dari masing–masing komoditas unggulan sektor pertanian tanaman pangan. Arahan kegiatan penanganan primer (pasca panen) berupa arahan untuk menekan kehilangan hasil komoditas unggulan dan sebagai penyediaan bahan baku berkualitas yang akan digunakan dalam kegiatan pengolahan. Selanjutnya, kegiatan penanganan sekunder (pengolahan) berupa produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan perekonomian.
Faktor Penyebab Belum Berkembangnya Industri Kecil Batik Desa Kenongo Kecamatan Tulangan-Sidoarjo Vinza Firqinia Fristia; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.657 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7267

Abstract

Perkembangan terakhir program pemerintah Kabupaten Sidoarjo ialah menggali potensi unggulan beberapa kawasan usaha kecil. Salah satu keahlian masyarakat lokal yang berpotensi menciptakan produk unggulan dan memberikan peningkatan ekonomi daerah ialah industri kecil batik Desa Kenongo. Namun potensi tersebut belum memiliki kemampuan pengembangan industri kecil batik yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk menentukan faktor penyebab belum berkembangnya industri kecil batik Desa Kenongo di Kecamatan Tulangan,Sidoarjo. Metode analisis yang digunakan yaitu analisa Delphi. Hasil analisa Delphi didapat faktor penyebab belum berkembang ialah kurangnya kemampuan teknis kegiatan produksi, kurangnya kemampuan pengrajin menjadi pengusaha batik, kurangnya interaksi kegiatan pembatik, serta kurangnya pengetahuan pengelolaan limbah dan aksesbilitas.
Keterkaitan Karakteristik Kawasan Transit berdasarkan Prinsip Transit Oriented Development (TOD) terhadap Tingkat Penggunaan Kereta Komuter Koridor Surabaya-Sidoarjo Muhammad Hidayat Isa; Ketut Dewi Martha Eli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.873 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7275

Abstract

Koridor Surabaya-Sidoarjo telah dilayani dengan kereta komuter dalam mendukung tulang punggung transportasi perkotaan Surabaya. Namun penggunaan moda ini belum optimal. Hal ini dilihat dari besarnya pergerakan penduduk yang masih didominasi oleh penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan kemacetan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan strategi inovatif yang mengedepankan integrasi antara penggunaan lahan dengan transportasi, salah satunya melalui konsep Transit Oriented Development (TOD) di kawasan stasiun kereta di sepanjang koridor Surabaya-Sidoarjo. Sebagai upaya pengimplementasiannya, perlu dilakukan studi mengenai keterkaitan karakteristik kawasan transit berbasis TOD terhadap jumlah penggunaan kereta komuter koridor Surabaya-Sidoarjo. Melalui analisis korelasi diperoleh hasil penelitian bahwa kepadatan penggunaan lahan (KLB), index keberagaman guna lahan (mixed use entrophy index) perdagangan dan jasa dan fasilitas umum, rata-rata lebar jalur pejalan kaki, dan luas jalur pejalan kaki signifikan memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan tingkat penggunaan kereta komuter. Hal ini menunjukkan bahwa adanya potensi pengembangan kawasan transit berbasis TOD pada koridor Surabaya-Sidoarjo dalam mendorong penggunaan kereta komuter.

Page 6 of 15 | Total Record : 149