cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014" : 7 Documents clear
Identifikasi Pengaruh Beberapa Karakter Agronomi Terhadap Daya Hasil Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) Dengan Analisis Lintas Mia Sri Listiani Ahmad; Aji Hamim Wigena; Soeranto Human
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.279 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2711

Abstract

Tanaman sorgum perlu dibudidayakan dan diperbaiki kualitas daya hasilnya karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Daya hasil dipengaruhi oleh beberapa karakter agronomi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Pencarian sorgum berdaya hasil unggul memerlukan seleksi genotipe melalui analisis setiap karakter agronomi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh karakter agronomi melalui keeratan hubungan dan besarnya pengaruh terhadap daya hasil sehingga diketahui karakter agronomi yang dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi tanaman sorgum. Besarnya pengaruh dapat diperoleh dengan analisis lintas dan tingkat pewarisan sifat-sifatnya dengan nilai heritabilitas. Analisis lintas ini menggunakan model statistik yang serupa dengan model regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hasil berdasarkan produksi biji kering dan produksi biomassa keseluruhan paling dipengaruhi bobot malai sehingga bobot malai dapat dijadikan kriteria seleksi dengan tingkat heritabilitas sedang. Panjang malai juga dapat dijadikan kriteria seleksi karena total pengaruhnya besar terhadap produksi biomassa keseluruhan dengan tingkat heritabilitas tinggi. Daya hasil berdasarkan produksi biomassa tanpa biji tidak dipengaruhi karakter agronomi lainnya. Kata kunci : analisis lintas, heritabilitas, sorgum
Degradasi Sorghum pada Rumen Kerbau dengan Suplementasi Probiotik BIOS-K2 secara In Sacco Irawan Sugoro; Nissa Kamila; Dewi Elfidasari
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.146 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2708

Abstract

Tingkat kecernaan pakan ternak ruminansia dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan suplemen berupa probiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan adanya potensi BIOS-K2 sebagai probiotik secara in sacco dengan menggunakan substrat hijauan sorghum dalam cairan rumen kerbau. Penelitian ini dilakukan dengan 2 jenis perlakuan yaitu dengan pemberian probotik BIOS-K2 dan non-probiotik pada rumen kerbau. Probiotik dan sampel hijauan sorghum diberikan melalui fistula kerbau. Inkubasi sampel dilakukan sampai jam ke-48. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi cairan rumen setelah ditambah probiotik mengalami peningkatan kualitas dan terjadi degradasi pada pakan sorgum. Peningkatan kualitas cairan rumen ditunjukkan dengan nilai pH yang lebih stabil, konsentrasi ammonia yang menurun, VFA yang meningkat dan protein mikroba yang meningkat dibandingkan dengan non-probiotik. Degradasi pada pakan sorgum ditunjukkan dengan hasil kecernaan bahan kering, bahan organik, protein, lignin, selulosa dan hemiselulosa yang diberi probiotik lebih tinggi sebesar 25,75; 20,88; 52.68; 12,28; 59,52; dan 15,39% dibandingkan dengan non-probiotik. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka diketahui bahwa BIOS-K2 memiliki potensi sebagai probiotik ruminansia. Kata Kunci: Ruminansia, In Sacco, Sorgum, Probiotik, BIOS-K2
Keanekaragaman Bakteri Serta Kandungan Unsur Mikro dan Logam yang Dianalisis Secara Teknik Nuklir pada Beberapa Makanan Olahan Asap Harsojo Harsojo; Made Sumarti Kardha
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.888 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2707

Abstract

Makanan tradisional seperti daging ayam dan dendeng sapi asap kemungkinan dapat tercemar bakteri dan mengandung unsur mikro serta logam yang melebihi ambang batas Standar Nasional Indonesia (SNI: 7388:2009). Telah diteliti keanekaragaman bakteri serta kandungan unsur mikro dan logam yang terdapat dalam makanan olahan asap berupa daging ayam dan dendeng sapi. Analisis bakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total sedang untuk analisis Salmonella dilakukan menggunakan media perbenihan. Analisis unsur mikro dan logam dilakukan dengan menggunakan Analisis Aktivasi Neutron. Parameter yang diukur adalah jumlah total bakteri aerob, bakteri koli, Staphylococcus spp, Salmonella, dan kandungan unsur mikro serta logam. Iradiasi dilakukan dengan sinar gamma (Co60) pada dosis 3 kGy dengan laju dosis 1,140 kGy/jam dan kontrol sampel tanpa iradiasi. Penyimpanan dilakukan pada suhu lemari es (6o C)dengan interval waktu pengamatan 0, 1 dan 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman jenis bakteri pada makanan olahan asap terdiri dari bakteri aerob, koli dan Staphylococcus spp. Pada dosis 3 kGy tidak ditemukan adanya bakteri aerob, koli dan Staphylococcus spp. pada daging ayam asap. Akan tetapi, pada dendeng sapi asap dengan dosis 3 kGy bakteri aerob dan koli terjadi penurunan masing-masing sebesar 2 dan 1 desimal. Kandungan bakteri Staphylococcus spp pada dendeng sapi asap dengan dosis 3 kGy tidak ditemukan lagi. Kandungan seng pada daging ayam dan dendeng sapi asap masingmasing adalah 261,734 dan 206,058 ppm yang telah melebihi ambang batas SNI. Pada semua sampel yang diteliti tidak ditemukan adanya Salmonella. Ditemukan beberapa unsur mikro dan logam dalam makanan olahan asap. Teknik nuklir membantu analisis kandungan unsur mikro dan logam serta dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging ayam asap dan dendeng sapi asap yang diteliti.Kata kunci : makanan tradisional, SNI, bakteri koli, Staphylococcus, iradiasi, AAN, ALT
Kualitas Nyamuk Jantan Mandul Aedes aegypti L. Hasil Iradiasi Gamma: Efek Iradiasi Pada Fase Pupa dan Dewasa Hadian Iman Sasmita; Beni Ernawan
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.045 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2722

Abstract

Pemandulan nyamuk dengan radiasi sinar gamma lebih mudah dilakukan pada fase pupa dibandingkan dengan fase dewasa. Di sisi lain, diduga iradiasi pada fase pupa akan membuat nyamuk jantan mandul menjadi tidak kompetitif terhadap jantan di alam. Penelitian tentang fase hidup yang tepat untuk memandulkan nyamuk telah dilakukan pada genus Anopheles, tetapi belum pernah ada penelitian serupa pada jenis Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas dan daya saing kawin jantan mandul yang diiradiasi pada fase pupa dan dewasa, untuk kemudian dipilih fase terbaik dalam memandulkan. Penelitian dilakukan pada dua fase hidup nyamuk, pupa dan dewasa. Baik pupa dan dewasa masing-masing diiradiasi dengan dosis 0 (kontrol), 20, 40, 60, 80 dan 100 Gy. Semua perlakuan menggunakan 3 kali ulangan. Parameter penelitian yang diukur untuk menentukan kualitas nyamuk jantan yang telah diiradiasi dengan sinar gamma adalah umur nyamuk, tingkat sterilitas, nilai daya saing kawin dan persentase kemunculan nyamuk dewasa. Umur nyamuk ditentukan dengan mencatat kematian nyamuk harian. Tingkat sterilitas ditentukan dengan persentase jumlah telur yang tidak menetas. Nilai daya saing kawin ditentukan dengan Fried index. Persentase kemunculan nyamuk dewasa diperoleh dari banyaknya jumlah pupa yang berhasil muncul sebagai dewasa dibagi dengan jumlah awal pupa yang diperlakukan. Umur nyamuk jantan yang diiradiasi pada fase pupa dan dewasa tidak memiliki perbedaan yang nyata (p ≤ 0.05), demikian juga dengan tingkat sterilitas, nilai daya saing kawin dan persentase kemunculan nyamuk dewasa jika dibandingkan pada dosis yang sama. Maka dari itu, dengan penanganan proses radiasi yang lebih mudah, metode pemandulan nyamuk jantan pada fase pupa dapat digunakan sebagai salah satu prosedur aplikasi Teknik Serangga Mandul untuk menekan populasi nyamuk Ae. aegypti. Kata kunci : Teknik serangga mandul, daya saing kawin, sterilitas, Fried index, Aedes aegypti
Pengujian Ransum Kerbau Berbahan Baku Sorgum Sebagai Sumber Serat Secara In Vitro dan In Sacco Teguh Wahyono; Dewi Apri Astuti; Komang G. Wiryawan; Irawan Sugoro
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.353 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2709

Abstract

Sorgum merupakan salah satu tanaman sumber serat untuk kebutuhan ransum kerbau yang potensial dikembangkan di Indonesia. Sorgum varietas Samurai 1 dan samurai 2 masing-masing merupakan hasil pemuliaan melalui mutasi radiasi yang berasal dari indukan sorgum varietas Pahat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi ransum yang mengandung sorgum samurai 2 sebagai sumber serat dibandingkan dengan ransum yang mengandung sorgum pahat dan bagas sorgum samurai 1. Potensi yang diamati adalah pengaruhnya terhadap laju pertumbuhan mikroba rumen kerbau (in vitro) dan degradasi bahan pakan (in sacco). Rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan diterapkan dalam percobaan ini. Enam ransum yang diuji adalah: P1 (50% jerami sorgum pahat + 50% konsentrat), P2 (50% silase jerami sorgum pahat + 50% konsentrat), P3 (50% jerami sorgum samurai 2 + 50% konsentrat), P4 (50% silase jerami sorgum samurai 2 + 50% konsentrat), P5 (50% bagas sorgum samurai 1 + 50% konsentrat) dan P6 (50% silase bagas sorgum samurai 1 + 50% konsentrat). Peubah yang diamati adalah pH, konsentrasi amonia (NH3), Total Volatile Fatty Acid (TVFA), sintesis protein mikroba (teknik radioisotop 32P), degradasi Bahan Kering (BK), karakteristik degradasi BK, degradasi Neutral Detergent Fiber (NDF) dan karakteristik degradasi NDF. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi NH3, laju pertumbuhan bakteri rumen dan degradasi NDF tertinggi dihasilkan ransum P4 dengan nilai masing-masing 24,87 mg/100 ml; 8,11 mg/2 jam/100 ml dan 31,96%. Konsentrasi TVFA dan pH antar perlakuan tidak berbeda nyata. Keenam perlakuan ransum mampu mendukung fermentasi dan kecernaan pakan didalam rumen namun perlakuan yang terbaik adalah ransum yang mengandung silase sorgum samurai 2. Kata kunci : sorgum, kerbau, in vitro, in situ, radioisotop 32P
Teknik Pb-210 excess untuk Estimasi Laju Erosi Lahan Berlereng di Kabupaten Nganjuk Yang Lebih Akurat Barokah Aliyanta
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2706

Abstract

Penelitian laju erosi dengan menggunakan teknikperunut Pb-210 excess telah dilakukan di daerah Nganjuk. Penelitian mencakup daerahKecamatan Sawahan, Ngetos dan Loceret, dengan luas area berkisar 11.000 ha. Pengambilancontoh tanah dilakukan dengan pendekatan pengelompokan berdasarkan lokasi, peta jenistanah, peta tataguna lahan, peta topografi dan peta drainage. Dari tiap kelompok tanah, contohtanah diambil mengikuti transek lerengan (hillslope transect) dengan kedalaman 30 cm.Adapun contoh pembanding diambil pada lokasi lerengan bukit (hillslope) dengan ciri tertutupsecara baik dengan tanaman rumput dan tanaman utama pinus. Hasil inventori pembandingPb-210 excess rerata adalah 2465 Bq/m2, dan nilai ini digunakan untuk menghitung laju erosirata-rata tahunan dari rentang waktu tahun 1963 sampai 2006. Estimasi laju erosi yangdidapat bervariasi dari suatu lokasi ke lokasi lainnya adalah antara 5 sampai mendekati 100ton/ha/th, dan nilai rasio penghantaran sedimen (SDR) adalah dari 12 % sampai 100%. Proseserosi terjadi di semua jenis tanah. Hal ini disebabkan belum diterapkannya secara bersamasamatindakan konservasi lahan secara fisik dan vegetatif.Kata kunci : Pb-210 excess, inventori, transek, laju erosi, rasio penghantaran sedimen
Study of Susceptibility of Pari Island Groundwater – To Surface Water Using Natural Isotopes and Hydrochemicals E. Ristin Pujiindiyati; Paston Sidauruk; Satrio Satrio; Agustin Rustam
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2721

Abstract

The Pari Island with a total area of 40,32 ha is situated at the southern end of a chain of more than a hundred islands, commonly known as Seribu Islands, in Java Sea.  Its topography is flat land and mainly consists of coral reefs such that fresh water supply for local people is very limited. The scarcity of fresh water to the local people  is still worsen by the intrusion of sea water to the aquifer system. The objective of this study is to get a better understanding of mixing process between sea water and ground water and to trace the sources of salinity in shallow groundwater of Pari Island. The combinations of natural isotopes of 18O and 2H in water and hydrochemical (such as Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42- and HCO3-) content were used in this study. Results of hydrochemicals showed that almost all of the shallow groundwaters of Pari island had undergone mixing process with sea water. Mostly, they were classified as brackish water and gradually changed to saline water along the flowpath of the water. Only two groundwater samples were still characterized as fresh water type. Mixing ratios of seawater-groundwater water were estimated to be between 2% and 38%. Isotopic results of 18O and 2H revealed that slope of groundwater samples had decreased compared to local water meteoric line. Obviously, those distributions a long the mixing line of sea water – rain water, indicated that high salinity of groundwaters in Pari Island  originated from encroachment of sea water. It implied that the salinity was caused by flushing of minerals into soil by direct precipitation could not be taken into consideration. Key words: Pari Island, groundwater, sea water intrusion, natural isotopes, hydrochemicals

Page 1 of 1 | Total Record : 7