cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jstni_batan@batan.go.id
Editorial Address
PSTNT BATAN Bandung Jalan Tamansari 71
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology)
Focus of Publication in Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology : Result of experiment in the field of nuclear science and technology and its applications in various fields. Acceptable topics include: Radioisotope, Radiopharmacy, Nuclear Medicine, Nuclear Radiation and its Measurement, Nuclear Physics and Reactors, Nuclear Instrumentation and Radioactive Waste including its applications in the fields of health, biology, industry, agriculture, metallurgy and environment
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016" : 6 Documents clear
KANDUNGAN 226Ra, 210Pb, 210Po DAN 40K PADA BEBERAPA TEMBAKAU ROKOK DI INDONESIA Putu Sukmabuana
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.304 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2696

Abstract

Kandungan 226Ra, 210Pb, 210Po dan 40K pada beberapa tembakau rokok di Indonesia.  Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran radionuklida alam 226Ra, 210Pb, 210Po dan 40K yang terkandung didalam tembakau rokok, tujuannya untuk memperkirakan dosis efektif yang diterima oleh orang yang menghisap asap rokok.  Sampel tembakau yang telah diukur meliputi 14 merek rokok yang umum dijual dan dikonsumsi di Indonesia.  Konsentrasi 226Ra, 210Pb dan 40K diukur menggunakan spektrometri sinar γ, didapat konsentrasi 226Ra bervariasi dari 2,86 hingga 6,04 Bq/kg, rata-rata 4,18 ± 0.67 Bq/kg, untuk 210Pb bervariasi dari 3,04 hingga 6,76 Bq/kg rata-rata 4,71 ± 0.82 Bq/kg, sedangkan konsentrasi 40K bervariasi dari 23,57 hingga 32,69 Bq/kg rata-rata 26,50 ± 2,08 Bq/kg.  210Po dihitung berdasarkan kesetimbangan radioaktif, hasilnya bervariasi dari 2,65 hingga 5,88 Bq/kg rata-rata 4,09 ± 0,71 Bq/kg.  Dengan menggunakan koefisen dosis efektif yang diberikan oleh ICRP, dapat dilakukan estimasi dosis efektif tahunan yang diterima oleh perokok.  Rata-rata dosis efektif tahunan untuk 226Ra adalah 80,46 ± 12,93 µSv/tahun, untuk 210Pb rata-rata 28,47 ± 4,96 µSv/tahun, dan 210Po rata-rata 74,31 ± 12,96 µSv/tahun.  Dengan menjumlahkan dosis rata-rata dari 226Ra, 210Pb dan 210Po, didapat total estimasi dosis efektif rata-rata pertahun 183,24 µSv/tahun atau sekitar 14,5% dari batas dosis paparan radiasi secara inhalasi di dunia 1260 µSv/tahun.  Estimasi dosis efektif radionuklida 40K tidak dapat dilakukan karena koefisien dosis untuk 40K tidak tersedia di ICRP 71.
EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99mTc-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Rizky Juwita Sugiharti; Iim Halimah; Isa Mahendra; Maula Eka Sriyani
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.702 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2596

Abstract

EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99mTc-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan utama dan penyebab kematian di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diagnosis infeksi dengan metode pencitraan di kedokteran nuklir memerlukan sensitivitas dan spesifitas yang baik. 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka antibiotik yang disintesis dengan menandai ketokonazol dengan radionuklida teknesium-99m. Radiofarmaka ini diharapkan dapat digunakan  untuk mendeteksi infeksi di kedokteran nuklir, sehingga 99mTc-ketokonazol harus selektif dapat terakumulasi di daerah infeksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan evaluasi spesifitas 99mTc-ketokonazol untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme. Hasil uji biodistribusi 99mTc-ketokonazol menunjukkan akumulasi 99mTc-ketokonazol di paha yang diinfeksi pada 1 jam setelah injeksi dengan rasio target/non target (T/NT) sebesar 3,40 untuk Candida albicans; 1,93 untuk Staphylococcus aureus dan 2,81 untuk Escherichia coli. Studi ini menunjukkan bahwa 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka yang menjanjikan untuk deteksi infeksi dengan cepat dan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik.  
PENENTUAN PROFIL ELUSI IODIUM-125 SEBAGAI PERUNUT UNTUK TUJUAN RADIOIMMUNIASSAY (RIA) Maiyesni Maiyesni; Mujinah Mujinah; Dede Kurniasih; Witarti Witarti; Triyatno Triyatno; Herlan S
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.899 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2404

Abstract

Manfaat iodium-125 (125-I) sudah banyak diketahui. 125-I  dapat digunakan antara lain sebagai perunut dalam teknik Radioimmunoassay (RIA) untuk deteksi dini berbagai penyakit kanker, menentukan kesuburan hewan ternak serta cemaran mikotoksin di dalam pangan secara invitro.  125-I  yang dibutuhkan dalam teknik ini disamping harus mempunyai kemurnian radiokimia > 95%,  konsentrasi radioaktifitas   juga tinggi, sehingga volume  125-I  haruslah sekecil mungkin. Dengan demikian perlu dipelajari profil elusi 125-I dari kolom reduktor Jones saat proses peningkatan kemurnian  radiokimia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan volume optimal  eluat dengan efisiensi dan kemurnian radiokimia yang dapat diterima. Pada penelitian ini kondisi kolom yang dipilih adalah kolom dengan pH basa. Kolom reduktor Jones yang mengandung  125-I dielusi dengan larutan  NaOH 0,01N secara  fraksinasi volume 1 ml. Radioaktifitas  masing-masing fraksi diukur menggunakan  dose calibrator. Penentuan kemurnian radiokimia dilakukan pada fraksi yang memiliki radioaktifitas  tertinggi dan fraksi gabungan  dengan  metode kromatografi kertas. Radioaktifitas  tertinggi ditunjukkan pada  fraksi kedua  yaitu  16,59  mCi dengan efisiensi 33,95% dan fraksi gabungan yaitu 50,19 mCi dengan efisiensi 92,26%. Kemurnian radiokimia 125-I bulk, fraksi kedua dan fraksi gabungan berturut-turut adalah 41,50, 97,5  dan  98,50%.  Volume optimal eluat adalah 7 ml serta  pH 125-I sebelum dan sesudah fraksinasi adalah 10 -11.  Determination of  Elution Profile the Iodine-125 as a tracer for Radioimmunoassay (RIA). The benefits of the Iodine-125 (125I ) isotope was well known. 125I are used as radiotracer in Radioimmunoassay (RIA) technique for early detection of cancer, determine of hormone content which related with fertility of livestock and also for contamination detection of mycotoxins on food by in vitro.  125I which is needed in this technique not only must have high radiochemical purity above 95% but also high radioactivity concentration, so that  125I volume which is use must as little as possible. Therefore, 125I elution profile for increasing radiochemical purity using a reductor Jones column should be studied. Aim of this study is to determine the optimum volume of eluate which have efficiency and radiochemical purity that can be accepted. The preliminary study was conducted to determine the optimal conditions of reductor Jones  column. Reductor Jones column is conditioned on neutral and alkaline pH. At this elution study, the columns conditions selected is alkaline pH. Reductor Jones column which containing 125I eluted with NaOH 0,01 N solution by fractionated in 1mL. The radioactivity of each fraction is measured with dose calibrator.  Determination of the radiochemical purity of carried out on the fraction which have the highest radioactivity and the combined fractions using paper chromatography. Highest radioactivity is shown in the second fraction at 16,59 mCi with efficiency 33,95%  and combined fractions at 50,19 mCi with efficiency 92,26%. The radiochemical purity of 125-I bulk, second fraction and combined fractions are 41,50%, 97,5 % dan  98,50%, respectively.  Optimum fraction is 7 mL and pH of 125-I before and after fractination are 10-11. By studying the elution profile can be known that the optimal volume is the smallest total volume of eluent with efficiency and radiochemical purity level that can be accepted. 
Cover dan Redaksi, Vol 17, No:2, 2016 - Agustus 2016 Muhamad Basit Febrian
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.303 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.3649

Abstract

OPTIMASI PEMISAHAN RADIOISOTOP 161Tb HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN GADOLIUM OKSIDA DIPERKAYA ISOTOP 160Gd MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI EKSTRAKSI Azmairit Aziz; Resya Nuryadin
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.015 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2620

Abstract

OPTIMASI PEMISAHAN RADIOISOTOP 161Tb HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN GADOLINIUM OKSIDA DIPERKAYA ISOTOP 160Gd MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI EKSTRAKSI. Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Menurut WHO, jumlah penderita kanker terus meningkat setiap tahun dan 2/3 diantaranya berasal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Radioisotop Terbium-161 (161Tb) merupakan  pemancar-β- lemah yang memiliki Eβ- rata-rata sebesar 0,150 MeV dan waktu paro (T1/2) selama  6,9 hari, sehingga potensial untuk terapi kanker ukuran kecil. Di samping itu, 161Tb juga melepaskan elektron konversi internal dan elektron Auger yang dapat meningkatkan kemampuan terapi. Telah dilakukan optimasi pemisahan radiokimia 161Tb dari hasil iradiasi bahan sasaran Gd2O3 diperkaya isotop 160Gd dengan metode kromatografi ekstraksi menggunakan resin Ln. Radioisotop 161Tb diperoleh melalui reaksi inti 160Gd (n,γ) 161Tb di RSG-G.A.Siwabessy pada fluks neutron termal ~1014 n.cm-2.s-1 selama ± 4 hari menggunakan sebanyak 5 mg bahan sasaran gadolinium oksida diperkaya isotop 160Gd (98,2%). Gadolinium oksida hasil iradiasi dilarutkan dalam larutan HCl 2N. Radioisotop 161Tb dipisahkan dari hasil iradiasi Gd2O3 diperkaya dengan metode kromatografi ekstraksi menggunakan sebanyak 1 dan 2 g resin Ln  dengan ukuran partikel  50 – 100 μm sebagai fase diam, serta larutan asam nitrat dengan konsentrasi 0,8N dan 3N sebagai fase gerak masing-masing untuk memisahkan isotop gadolinium dan terbium. Pada penelitian ini diperoleh  optimasi pemisahan 161Tb menggunakan 2 g resin Ln dengan yield sebesar 93,2 ± 2,1%, sedangkan Gd recovery diperoleh sebesar 98,11 ± 1,2%. Fraksi 161Tb hasil pemisahan  memiliki  kemurnian radionuklida  99,92 ± 0,5%. Produk akhir larutan radioisotop  161Tb yang diperoleh berada dalam bentuk  senyawa 161TbCl3 dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,83 ± 0,2%.
ANALISIS LAJU DOSIS NEUTRON TERAS RGTT200K DENGAN MCNP5 Suwoto Suwoto; Zuhair Zuhair
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.94 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2350

Abstract

ANALISIS LAJU DOSIS NEUTRON TERAS RGTT200K DENGAN MCNP5. Disain koseptual teras reaktor RGTT200K (Reaktor berpendingin Gas Temperatur Tinggi) berdaya 200 MWth yang mampu untuk kogenerasi. Teras reaktor berbentuk silinder non anular yang mengadopsi teknologi HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) berbahan bakar kernel partikel berlapis TRISO dalam bentuk pebble dan berpendingin gas helium. Temperatur keluaran panas gas helium teras reaktor RGTT200K dirancang pada kisaran 950°C dengan temperatur masukan sekitar 625°C. Karena mampu untuk kogenerasi, di samping menghasilkan listrik, reaktor RGTT200K  menghasilkan panas temperatur tinggi yang dapat digunakan untuk penelitian panas proses lainnya. Bahan bakar RGTT200K berbentuk pebble (bola) yang berisikan kernel partikel berlapis TRISO yang berupa uranium oksida (UO2) diperkaya 10%. Lapisan TRISO terdiri 4 lapisan yaitu lapisan-lapisan:  karbon berpori,  karbon pirolitik dalam (IPyC, Inner Pyrolitic Carbon), Silikon Karbida (SiC) dan karbon pirolitik luar (OPyC, Outer Pyrolitic Carbon). Perhitungan laju dosis neutron pada teras RGTT200K dilakukan menggunakan program Monte Carlo MCNP5v1.2 yang memanfaatkan file data nuklir ENDF/B-VII, JENDL-4 dan JEFF-3.1 pada temperatur operasi Tkernel=1200K dan pada kondisi kecelakaan Tkernel=1800K. Pemodelan heterogenitas ganda pada kernel bahan bakar partikel berlapis TRISO dan pada bahan bakar pebble. Dengan memanfaatkan program EGS99304, jumlah struktur group energi yaitu 640 (SAND-II group structure) digunakan dalam perhitungan spektrum dan fluks neutron reaktor RGTT200K. Teras reaktor RGTT200K dibagi dalam 25 zona (5 zona arah radial dan 5 arah aksial). Perisai biologis reaktor RGTT200K menggunakan spesifikasi material beton dari LANL-USA. Perhitungan laju dosis neutron yang dipancarkan oleh sumber neutron dengan kartu tally F4 yang tersedia dalam program Monte Carlo yang dinormalisasi terhadap kuat sumber neutron reaktor RGTT200K. Distribusi laju dosis neutron ditentukan menggunakan faktor konversi flux-to-dose dari International Commission on Radiological Protection (ICRP). Hasil perhitungan laju dosis neutron dengan faktor konversi ICRP-74 untuk pekerja radiasi pada arah radial di bagian ujung luar perisai biologis pada temperatur operasi masing-masing adalah : 7,99; 14,30 dan 5,66 µSv/jam,  untuk ENDF/B-VII, JENDL-4 dan JEFF-3.1, sedangkan untuk kondisi kecelakaan laju dosis neutron masing-masing diperoleh: 8,77; 5,71 dan 10,70 µSv/jam. Perhitungan dengan file JENDL-4 perlu dikaji ulang, karena hasilnya tidak ada konsistensi. Dari hasil analisis tersebut tampak bahwa perisai biologis telah memenuhi standar keselamatan radiasi yang disyaratkan, khususnya untuk perhitungan laju dosis neutron dengan file ENDF/B-VII kedua kondisi operasi reaktor RGTT200K di bawah nilai standar persyaratan yaitu 10 µSv/jam (20 mSv/thn), sesuai dengan Perka BAPETEN No. 4 tahun 2013. Namun demikian untuk pemenuhan persyaratan keselamatan radiasi yang tinggi, maka ketebalan perisai biologis dari material beton untuk RGTT200K disarankan ketebalannya harus lebih dari 100 cm.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 2 (2023): August 2023 Vol 24, No 1 (2023): February 2023 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): February 2022 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): February 2021 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 15, No 2 (2014): Agustus 2014 Vol 15, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 14, No 2 (2013): Agustus 2013 Vol 14, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 13, No 2 (2012): Agustus 2012 Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012 Vol 12, No 2 (2011): Agustus 2011 Vol 12, No 1 (2011): Februari 2011 Vol 11, No 2 (2010): Agustus 2010 Vol 11, No 1 (2010): Februari 2010 Vol 10, No 2 (2009): Agustus 2009 Vol 10, No 1 (2009): Februari 2009 Vol 9, No 2 (2008): Agustus 2008 Vol 9, No 1 (2008): Februari 2008 Vol 8, No 2 (2007): Agustus 2007 Vol 8, No 1 (2007): Februari 2007 Vol 7, No 2 (2006): Agustus 2006 Vol 7, No 1 (2006): Februari 2006 Vol 6, No 2 (2005): Agustus 2005 Vol 6, No 1 (2005): Februari 2005 Vol 5, No 2 (2004): Agustus 2004 Vol 5, No 1 (2004): Februari 2004 Vol 4, No 4 (2003): Agustus Edisi Khusus 4 2003 Vol 4, No 3 (2003): Agustus Edisi Khusus 3 2003 Vol 4, No 2 (2003): Agustus Edisi Khusus 2 2003 Vol 4, No 1 (2003): Agustus Edisi Khusus 1 2003 Vol 4, No 1 (2003): Februari 2003 Vol 3, No 2 (2002): Agustus 2002 Vol 3, No 1 (2002): Februari 2002 Vol 2, No 2 (2001): Agustus 2001 Vol 2, No 1 (2001): Februari 2001 Vol 1, No 2 (2000): Agustus 2000 Vol 1, No 1 (2000): Februari 2000 More Issue