cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 4 (2014): November 2014" : 46 Documents clear
PERKEMBANGAN INDUSTRI DI PEDESAAN DAN PERUBAHAN KARAKTERISTIK WILAYAH DESA DI DESA NGUWET KECAMATAN KRANGGAN KABUPATEN TEMANGGUNG Feptian Kuni Rahmawati; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.568 KB)

Abstract

Proses pembangunan di Indonesia dewasa ini lebih mengarah pada proses pembangunan desa yang didorong untuk bertransformasi menjadi penyangga perekonomian. Proses pembangunan pedesaan di Indonesia salah satunya melalui proses industrialiasasi pedesaan, dimana sektor industri lebih dianggap dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sektor yang lain dalam mengatasi permasalahan di perdesaan. Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan merupakan salah satu desa yang mengalami proses industrialisasi, dimana desa ini berdasarkan RTRW Kabupaten Temanggung Tahun 2011-2031 dirujuk sebagai kawasan industri skala besar dan menengah. Adanya industri di Desa Nguwet mendorong perubahan dari wilayah dengan karakteristik pedesaan menjadi wilayah dengan karakteristik perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan pada hubungan antara keberadaan industri di pedesaan yang dikaitkan dengan adanya transformasi dari desa menjadi kota yaitu pada perubahan guna lahan, struktur sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Nguwet. Penelitian mengenai transformasi ini berdasarkan dari perspektif masyarakat.
EFEKTIVITAS TAMAN SRIWEDARI SEBAGAI RUANG PUBLIK DI KOTA SURAKARTA Shalli Aggi Iswari; Nurini .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.766 KB)

Abstract

Pada umumnya permasalahan ruang publik di kota – kota Indonesia timbul seiring dengan perkembangan suatu kota yang terus menerus melakukan pembangunan. Permasalahan ruang publik akan semakin rumit jika ruang publik tersebut berwujud warisan kota dan situs cagar budaya. Permasalahan ruang publik yang berwujud warisan kota banyak terjadi di kota – kota yang tergolong ke dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), seperti Kota Surakarta. Salah satu ruang publik di Kota Surakarta yang merupakan warisan kota adalah Taman Sriwedari. Taman Sriewedari adalah ruang publik yang memiliki nilai historis dan sudah berdiri sejak Tahun 1901 hingga saat ini. Kondisi Taman Sriwedari saat ini tidak mengalami kemajuan dan mulai kehilangan rohnya sebagai ruang publik yang memiliki nilai historis. Hal ini terlihat dari kondisi fisik Taman Sriwedari yang tidak terawat dengan baik serta aktivitas kebudayaan yang kalah dengan aktivitas modern. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi menyebabkan masyarakat modern saat ini cenderung kurang tertarik dengan aktivitas kebudayaan karena dianggap tidak menarik dan membosankan. Sehingga permasalahan ini menarik untuk menjadi objek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Taman Sriwedari sebagai salah satu ruang publik yang memiliki nilai historis di Kota Surakarta saat ini. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan maka diketahui bahwa Taman Sriwedari tergolong tidak efektif sebagai ruang publik yang memiliki nilai historis di Kota Surakarta saat ini. Hal ini dikarenakan Taman Sriwedari masih memiliki kekurangan dan permasalahan yang harus diselesaikan. Maka, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah selaku pengelola dan masyarakat selaku pengguna untuk memenuhi kekurangan dan menyelesaikan permasalahan yang ada di Taman Sriwedari
IDENTIFIKASI BENTUK MORFOLOGI PERKAMPUNGAN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL DI JORONG BALIMBIANG KENAGARIAN BALIMBIANG, MINANGKABAU. Rahmi Nelisa; Nurini .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.206 KB)

Abstract

Nagari Balimbiang adalah salah satu nagari (desa) tertua di Sumatera Barat, yang terletak di Kec. Rambatan Kab. Tanah Datar. Nagari ini memiliki keunikan yang sulit ditemui di nagari-nagari lain, yaitu adatnya yang masih asli dan merupakan permukiman tradisional Minangkabau. Nagari Balimbing ini merupakan perkampungan unik yang memiliki nilai budaya yang tinggi dan patut untuk dilestarikan. Sifat kegotongroyongan diantara masyarakatnya masih sangat kuat, kebiasaan-kebiasaan/ adat istiadat yang sudah ada sejak dahulu tetap dilestarikan sampai saat sekarang ini. Nagari Balimbiang terdiri dari 5 jorong yaitu jorong Kinawai, jorong Padang Pulai, jorong Sawah Kareh, jorong Bukit Tamasu dan jorong Balimbiang. Dari kelima jorong ini jorong yang paling pertama didirikan yaitu jorong Balimbiang, letak rumah gadang pertama dan balai adat juga terletak di jorong ini, dan bentuk fisik tempat tinggal dengan ciri khas rumah gadang juga lebih banyak berada pada jorong Balimbiang. Oleh karena itu peneliti lebih mengerucutkan wilayah studi dari cakupan Nagari Balimbiang kecakupan yang lebih spesifik yaitu Jorong Balimbiang. Terjadinya perkembangan zaman  dan perubahan waktu sama sekali tidak menjadikan masyarakat di Jorong Balimbiang melupakan kebudayaan dan adat istiadat yang sudah ada sejak dahulu. Morfologi kawasan di Jorong Balimbiang masih bertahan sampai saat sekarang. Hal inilah yang menjadi daya tarik peneliti untuk melakukan penelitian terkait dengan identifikasi bentuk morfologi perkampungan berdasarkan kearifan lokal di Jorong Balimbiang. Berdasarkan isu dan permasalahan tersebut maka dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu : Bagaimana morfologi perkampungan berdasarkan kearifan lokal di Jorong Balimbiang Kenagarian Balimbiang?”. Bertolak dari rumusan penelitian di atas maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk morfologi perkampungan berdasarkan kearifan lokal di Jorong Balimbiang Kenagarian Balimbiang. Dari penelitian ini didapatkan temuan bahwa bentuk morfologi perkampungan di Jorong Balimbiang di bagi atas 3 kawasan yaitu taratak, dusun, dan koto. Ketiga kawasan ini lah yang mewadahi dari berbagai macam aktivitas masyarakat yang menyangkut dengan adat istiadat dan kehidupan sosial, serta memberikan rekomendasi ataupun arahan bagi masyarakat dan pemerintah dalam mempertahankan morfologi perkampungan dan kearifan lokal di Jorong Balimbing.
TIPOLOGI RTH PRIVAT BERDASARKAN PREFERENSI PENGHUNI DI PERUMAHAN TERENCANA DAN PERUMAHAN TIDAK TERENCANA (Studi Kasus: Kelurahan Gedawang Kota Semarang) Relly Marselina; Mussadun .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.442 KB)

Abstract

Dewasa ini Kota Semarang mengalami perkembangan yang semakin pesat. Kelurahan Gedawang merupakan pinggiran Kota Semarang yang mengalami perkembangan permukiman yang cukup pesat. Akibatnya terjadi pemanfaatan RTH untuk pemenuhan kebutuhan hunian masyarakat perkotaan. Untuk mengatasi permasalahan polusi udara dan suasana panas yang terjadi di kelurahan Gedawang, peran RTH sangat diperlukan. Dari hal tersebut muncul pertanyaan peneliti, yaitu “Bagaimanakah bentuk tipologi RTH privat berdasarkan preferensi penghuni di perumahan terencana dan perumahan tidak terencana di Kelurahan Gedawang”. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengidentifikasi tipologi RTH privat berdasarkan preferensi penghuni di perumahan terencana dan perumahan tidak terencana di Kelurahan Gedawang. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sasaran-sasaran meliputi identifikasi karakteristik penghuni perumahan terencana dan perumahan tidak terencana dengan analisis distribusi frekuensi,identifikasi tipologi kapling perumahan terencana dan perumahan tidak terencana dengan analisis deskriptif kuantitatif, dan menganalisis tipologi RTH privat di perumahan terencana dan perumahan tidak terencana berdasarkan preferensi penghuni dengan analisis deskriptif kuantitatif. Dari hasil analisis diketahui bahwa dari variabel sosial (jumlah keluarga, usia, tingkat pendidikan) diketahui penghuni perumahan terencana memilih luas kapling 211-270 m2 sebagai luas kapling ideal dan tipologi RTH privat yang dipilih tipe A. Sedangkan dari  variabel ekonomi (jenis pekerjaan dan jumlah penghasilan) diketahui penghuni perumahan terencana memilih luas kapling 150-210 m2 dan 211-270 m2 sebagai luas kapling ideal dan tipologi RTH privat yang dipilih tipe A. Pada perumahan tidak terencana dari variabel sosial diketahui penghuni memilih luas kapling 71-200 m2 sebagai luas kapling ideal dan tipologi RTH privat yang dipilih tipe A. Dari variabel ekonomi diketahui penghuni perumahan tidak terencana memilih luas kapling 71-200 m2 sebagai luas kapling ideal dan tipologi RTH privat yang dipilih tipe A. Hasil penelitian nantinya dapat dijadikan masukan dalam upaya mempertahankan keberadaan RTH privat mengingat pentingnya peran RTH privat dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
PENGARUH AKTIVITAS PARIWISATA PANTAI TAPLAU KOTA PADANG TERHADAP EKONOMI, SOSIAL MASYARAKAT, DAN LINGKUNGAN Yudha Rahman; Mohammad Muktialie
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.903 KB)

Abstract

Aktivitas pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang berperan dalam proses pengembangan wilayah dan memberikan kontibusi bagi pendapatan daerah. Pariwisata berkembang menjadi sektor yang menjanjikan dan memberikan efek nilai manfaat kepada banyak pihak dari pemerintah, masyarakat, ataupun swasta. Kota Padang adalah salah satu Kota Pantai di Indonesia yang memiliki aktivitas wisata dan rekreasi di pantai. Pantai Taplau di pusat Kota Padang adalah salah pantai bagian barat Sumatera yang memiliki garis pantai yang panjang. Pantai Taplau menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke Kota Padang. Dalam perkembangannya aktivitas dan rekreasi di Pantai Taplau Padang mempunyai konsekuensi logis berupa dampak terhadap Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial  masyarakat Kota Padang. Permasalahan yang terjadi berupa penurunan kualitas lingkungan Pantai Kota Padang akibat posisi garis Pantai yang rawan gempa dan tsunami dan kurangnya perawatan pantai sehingga kotor, serta pola perubahan sosial masyarakat yang berkunjung ke Pantai Kota Padang yang banyak melakukan kegiatan maksiat di tenda rendah di sepanjang jalan Pantai Taplau Kota Padang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh dampak Aktivitas Pariwisata Pantai Taplau Kota Padang terhadap Ekonomi, Sosial Masyarakat, dan Lingkungan di Sepanjang Koridor Jalan Pantai Barat Kota Padang. Dari hasil penelitian diperoleh pengaruh terhadap ekonomi berupa pendapatan dan kesempatan berusaha pada skala sedang, pengaruh sosial masyrakata, serta kerusakkan lingkungan. Hasil dari penelitian ini merupakan wawasan dan arahan kepada Masyarakat, Pemerintah dan dan swasta. Dari pengaruhaktivitas wisata Kota Padang akan menunjang Karakteristik masyarakat dan Kota Padang sebagai salah satu Kota Pantai terbesar di Indonesia dengan aktivitas wisata sebagai salah satu icon dan sektor unggulan yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
KARAKTERISTIK MOBILITAS SUMBERDAYA PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG Aviep Hasworo P.W; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.8 KB)

Abstract

Lingkaran perangkap kemiskinan suatu wilayah dapat semakin diperburuk dengan adanya kebocoran modal ke luar wilayah. Wilayah yang sudah lebih dulu maju dan semakin cepat perkembangan ekonominya, sedangkan wilayah yang terbelakang perkembangannya tetap lamban bahkan cenderung menurun. Fenomena migrasi adalah bentuk respons dari masyarakat karena adanya ekspektasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bemigrasi. Dengan kata lain, aliran sumberdaya desa-kota akan terus berlangsung sepanjang terjadi kesenjangan perkembangan desa-kota. Kesenjangan atau polarisasi desa kota yang semakin melebar di banyak wilayah yang sedang berkembang memperderas arus proses migrasi penduduk berlebihan dari perdesaan ke perkotaan. Interaksi antara Kota Semarang dengan daerah hinterland salah satunya yaitu adanya perpindahan sumberdaya manusia atau migrasi menuju Kota Semarang. Namun disisi lain, beberapa imigran tersebut tidak dibekali dengan keahlian khusus yang dapat diserap oleh dunia kerja formal. Dengan demikian, beban permasalahan yang ditampung oleh Kota Semarang menjadi bertambah dalam aspek ketenagakerjaan. Hal inilah yang menyebabkan para imigran tidak dapat diterima pada dunia kerja formal sehingga mereka mencari pekerjaan secara informal. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak berdatangan pendatang dari berbagai wilayah yang bekerja pada sektor informal di Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. Pendatang tersebut datang dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, Kalimantan dan Sumatera. Aliran sumberdaya bahan baku mengalir dari perdesaan menuju perkotaan karena adanya rasio perbedaan harga komoditas yang lebih tinggi di kawasan perkotaan. Selain itu, aliran sumberdaya keuangan akan mengalir menuju perkotaan maupun perdesaan mengikuti banyaknya transaksi keuangan yang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik mobilitas sumberdaya pada pedagang kaki lima di Kawasan Universitas Dipongoro Tembalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui karakteristik mobilitas sumberdaya yang dapat dijelaskan melalui kasus pedagang kaki lima. Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara singkat dan koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab banyaknya pendatang yang bermigrasi ke Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang yaitu adanya faktor penarik dan pendorong migrasi, perbandingan harga komoditas dan aliran sumberdaya keuangan. Faktor pendorong migrasi tersebut seperti minimnya pendapatan ketika bekerja di daerah asal, kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal dan adanya dorongan dari keluarga untuk bekerja di Kota Semarang. Disisi lain, faktor penarik migrasi yaitu meliputi tingginya pendapatan bekerja di Kota Semarang, tingkat kehidupan yang lebih baik di Kota Semarang dan kondisi sarana dan prasarana yang lebih baik pada Kota Semarang. Selain itu, mobilitas sumberdaya bahan baku/mentah terjadi ketika adanya perbedaan rasio harga komoditas dimana harga komoditas di Kota Semarang lebih tinggi bila dibandingkan daerah asal responden. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan terjadi antarwilayah seiring adanya transaksi yang terjadi antara 2 wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diberikan saran untuk menangani masalah migrasi tersebut seharusnya Pemerintah memberikan keterampilan khusus untuk pedagang kaki lima sehingga dapat bekerja pada sektor formal. Selain itu, perlu adanya peningkatan harga jual komoditas di perdesaan agar tidak terjadi ketimpangan antara desa dengan kota. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan seharusnya terjadi adanya keseimbangan antara desa dengan kota agar tidak terjadi kesenjangan.
EVALUASI KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERMUKIMAN DI KELURAHAN BANDARJO KABUPATEN SEMARANG Dina Puspita; Djoko Suwandono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.554 KB)

Abstract

Perkembangan suatu kota, diiringi pula dengan peningkatan aktivitas masyarakatnya. Peningkatan aktivitas masyarakat menimbulkan perubahan-perubahan fisik lingkungan yang secara tidak sadar dapat meningkatkan permasalahan yang ada di perkotaan. Salah satu permasalahan yang dapat timbul adalah masalah permukiman. Permukiman yang baik, dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang ada, dan pemerintah telah menerbitkan peraturan standar sarana dan prasarana permukiman. Di Indonesia kita dapat dengan mudah menemukan permukiman yang tidak atau kurang  layak. Salah satu dari permukiman tersebut adalah permukiman Bandarjo, yang memiliki bentuk yang cukup berantakan serta kotor. Melalui kondisi tersebut kita dapat mengobservasi mengenai ketersediaan sarana dan prasarana berdasar standar yaitu menggunakan Peraturan Kementrian Sarana dan Prasarana no 534/2001 mengenai standar pelayanan minimum serata menggunakan persepsi penghuni. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditentukan apakah prasarana (jalan, drainase, sanitasi, air bersih dan persampahan) dan sarana (pendidikan, kesehatan, perdagangan, sosial budaya dan ruang terbuka hijau) di permukiman Kelurahan Bandarjo telah memadai atau tidak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan analisis karakteristik sosial ekonomi, analisis ketersediaan sarana prasarana berdasarkan standar dan analisis sarana prasarana berdasarkan persepsi penghuni. Adapun metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, penyebaran kuisioner, dan telaah dokumen. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah tingkat ketersediaan sarana prasarana di Kelurahan Bandarjo yang telah memadai kecuali persampahan dan ruang terbuka hijau.
PENYEDIAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DITINJAU DARI PREFERENSI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KABUPATEN KUDUS Zulinar Irfiyanti; Widjonarko .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263 KB)

Abstract

Rusunawa merupakan salah satu program nasional untuk mengatasi permasalahan permukiman kumuh dan liar. Salah satu pembangunan rusunawa berada di Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Bakalan Krapyak. Rusunawa ditujukan bagi MBR yang belum memiliki hunian tetap, bertempat tinggal di permukiman kumuh dan liar. Rusunawa terdiri dari 4 blok yaitu blok A, B, C dan D. Blok A dan B sudah dihuni 81% yang artinya sudah dimanfaatkan oleh MBR secara optimal. Namun blok C dan D belum dapat dioperasikan karena belum adanya MBR yang mendaftar sebagai penghuni rusunawa. Permasalahan inilah yang mendasari penelitian tugas akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi MBR dan faktor yang mempengaruhi preferensi MBR dalam pemanfaatan rusunawa. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, teknik pembobotan dengan menggunakan skala likert dan analisis crosstab. Hasil dari penelitian adalah menunjukkan bahwa minat MBR di Kabupaten Kudus dalam pemanfaatan rusunawa adalah rendah yaitu 26%. Rendahnya minat MBR terhadap rusunawa dikarenakan rusunawa dinilai tidak nyaman, tidak aman, tidak dapat dijadikan sebagai hak milik, harga sewa yang dinilai mahal, fasilitas yang kurang memadai dan hunian MBR saat ini lebih nyaman bila dibandingkan dengan rusunawa. Faktor sosial, ekonomi, budaya masyarakat dan kondisi lingkungan hunian dan rusunawa juga berpengaruh terhadap rusunawa. dari keempat aspek tersebut maka dapat diketahui bahwa faktor yang berpengaruh terhadap preferensi MBR dalam pemanfaatan rusunawa adalah permanensi bangunan, tingkat kenyamanan hunian, usia MBR dan jenis pekerjaan MBR. MBR sebenarnya berminat untuk tinggal di rumah susun namun bukan dengan sistem sewa melainkan sistem milik. Dengan menggunakan sistem hak milik maka MBR merasa lebih aman dalam hal kepemilikan terhadap rumah susun tersebut.
PENGARUH PARIWISATA TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PADA KAWASAN OBJEK WISATA CANDI BOROBUDUR KABUPATEN MAGELANG Rudi Biantoro; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.192 KB)

Abstract

Aktivitas pariwisata merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam upaya pembangunan dan pengembangan wilayah dengan berkontribusi terhadap pendapatan suatu daerah. Salah satu wilayah yang berkembang karena kontribusi dari sektor pariwisatanya adalah Kebupaten Magelang, Jawa Tengah. Keberadaan kawasan wisata Candi Borobudur yang berskala internasional memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebagai salah satu objek wisata budaya, Candi Borobudur banyak dikunjungi wisatawan karena keunikan budaya yang terdapat di lingkungan masyarakatnya. Hal tersebut mendorong munculnya aktivitas lain sebagai pendukung aktivitas pariwisata. Ditandai dengan semakin bertumbuhnya aktivitas perdagangan dan jasa di kawasan wisata Candi Borobudur, karakterisitik pengunjung ysng bersifat heterogen membawa pengaruh terhadap perubahan karakteristik sosial masyarakat yang tinggal di kawasan wisata Candi Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh keberadaan aktivitas pariwisata Candi Borobudur terhadap karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel yang di pilih adalah masyarakat desa borobudur yang berada dan bekerja di dalam kawasan wisata candi borobudur. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat perubahan guna lahan dan karakteristik sosial ekonomi masyarakat sebagai pengaruh dari aktifitas pariwisata di objek wisata Candi Borobudur. Perubahan guna lahan yang terjadi antara tahun 2004-2013 di kawasan wisata Candi Borobudur yaitu berubahnya lahan kosong menjadi lahan terbangun. Lahan terbangun tersebut diantaranya museum kapal, hotel, perdagangan jasa dan permukiman. Untuk perubahan karakteristik sosial, terjadi penurunan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan untuk perubahan karakteristik ekonomi terlihat dari meningkatnya pendapatan masyarakat yang bekerja di dalam kawasan wisata Candi Borobudur. Jadi dapat simpulkan bahwa dengan adanya pariwisata candi borobudur memberikan pengaruh terhadap karakteristik sosial ekonomi  masyarakat. Diperlukan upaya pelestarian kegiatan sosial seperti pengajian, upacara adat. Selain itu koordinasi antara pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan.
PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 SALATIGA DI KOTA SALATIGA DAN KABUPATEN SEMARANG Yuniar Rizka; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.46 KB)

Abstract

Pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam meningkatkan kualitas manusia.Di Indonesia, pelayanan pendidikan menjadi program utama pemerintah yang merupakan salah satu urusan wajib pemerintah daerah. Namun, pada kenyataannya pelayanan pendidikan tidak hanya berlaku bagi siswa yang berasal dari dalam wilayahnya saja, sehingga menimbulkan pelayanan pendidikan lintas batas daerah. Kondisi tersebut juga terjadi di SMA Negeri 1 Salatiga, yang melayani pendidikan bagi siswa dari dalam dan luar Kota Salatiga, terutama Kabupaten Semarang. Kondisi aksesibilitas yang baik, didukung dengan transpotasi yang memadai serta kualitas sekolah yang baik, menyebabkan pelayanan lintas batas tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai pelayanan lintas batas daerah Pendidikan SMA Negeri 1 Salatiga di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, dengan pertanyaan penelitian “Bagaimana pelayanan lintas batas daerah SMA Negeri 1 Salatiga yang terjadi di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang dan mengapa demikian?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga data yang didapat berasal dari wawancara kepada narasumber. Kajian yang dilakukan meliputi kajian kondisi pelayanan pendidikan lintas batas daerah, proses pelayanan pendidikan lintas batas daerah, dan penyebab pelayanan pendidikan lintas batas daerah. Berdasarkan kajian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pelayanan pendidikan di SMA Negeri 1 Salatiga tidak hanya dimanfaatkan oleh siswa dalam wilayahnya, namun juga dimanfaatkan oleh siswa dari Kabupaten Semarang. Oleh karena itu, Kota Salatiga melakukan pengendalian untuk mengontrol jumlah siswa dari luar daerah. Terjadinya pelayanan pendidikan lintas batas daerah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta motivasi siswa, yang dapat dilihat dari aksesibilitas yang baik, transportasi yang mendukung, kondisi sarana prasarana sekolah yang baik, serta kualitas pendidikan. Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun sudah dilakukan pengendalian dalam pelayanan pendidikan lintas batas daerah, kondisi tersebut akan tetap terjadi di Kota Salatiga seiring dengan kondisi lingkungan yang mendukung serta motivasi siswa yang besar.

Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue