Articles
46 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 4 (2014): November 2014"
:
46 Documents
clear
KINERJA PELAKSANAAN PNPM PARIWISATA DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN DI DESA WISATA KEMBANGARUM DAN DESA WISATA PENTINGSARI KABUPATEN SLEMAN
Ninik Wahyuning Tyas;
Asnawi .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (568.001 KB)
Kemiskinan merupakan permasalahan klasik yang telah ada sejak dahulu. Di Indonesia sendiri,kemiskinan masih menjadi fenomena yang belum dapat dipungkiri. Fenomena kemiskinan ini pun juga dialamiKabupaten Sleman sebagai salah satu kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Daerah Istimewa Yogyakartayang memiliki potensi pariwisata yang cukup beragam. Salah satu obyek wisata yang saat ini berkembang pesatdi Sleman adalah desa wisata. Dari 34 desa wisata yang terdapat di Sleman, terdapat dua desa yangberkembang pesat, yaitu dengan Desa Wisata Kembangarum dan Desa Wisata Pentingsari. Sementara itu,pemerintah telah mencanangkan PNPM Pariwisata yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan melaluiadanya desa wisata. Oleh karena itu, tentunya diperlukan kajian mengenai kinerja PNPM Pariwisata dalammengentaskan kemiskinan melalui pelaksanaan program desa wisata. Hal ini menjadi topik yang menarik untukdilakukan penelitian, sehingga memunculkan pertanyaan penelitian “Bagaimana kinerja pelaksanaan PNPMPariwisata dalam upaya pengentasan kemiskinan di Desa Wisata Kembangarum dan Desa Wisata PentingsariKabupaten Sleman?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga data yang didapatkanberasal dari kuesioner dengan menggunakan teknik sampling simple random sampling. Hasil penelitian iniberupa identifikasi program kegiatan PNPM Pariwisata, identifikasi keterlibatan masyarakat,identifikasikarakteristik masyarakat yang terlibat serta evaluasi mengenai kinerja pelaksanaan PNPM Pariwisata.
KAJIAN KEMBALI TERHADAP RISIKO TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH
Dara Zaiyana;
Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (564.457 KB)
Kota Banda Aceh merupakan salah satu wilayah yang berpotensi terkena tsunami. Tragedi gempa bumi Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 merupakan gempa terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Ketinggian gelombang muka air laut saat tsunami mencapai daratan (run up height) terukur setinggi 20 meter, genangan (inundation) bisa menghempas daratan sejauh 8 kilometer jauhnya dari pinggir pantai sehingga 50% dari semua bangunan rusak akibat terkena gelombang tsunami. Selama hampir 10 tahun setelah kejadian gempa dan tsunami tersebut, Kota Banda Aceh telah pulih kembali dalam menjalankan peran pentingnya dalam tatanan aspek kehidupan masyarakat Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh, bahkan pembangunan yang telah dilakukan relatif lebih maju jika dibandingkan dengan pembangunan sebelum masa tsunami. Pemerintah Kota Banda Aceh juga telah melakukan berbagai macam upaya mitigasi bencana salah satunya yaitu dengan adanya peta risiko bencana tsunami. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko bencana tsunami di Kota Banda Aceh melalui peninjauan kembali dengan menggunakan data dan informasi terbaru dengan menggunakan Sistem Infromasi Geografis (SIG) kemudian mengidentifikasikan wilayah-wilayah mana saja yang berada pada kelas kerentanan rendah, sedang dan tinggi. Penelitian ini dilakukan melalui metode pendekatan kuantitatif. Pengolahan data yang dilakukan untuk mendapatkan risiko tsunami yaitu melalui skoring dan overlay dua komponen, yaitu bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Melalui analisis dan pemodelan SIG analisis bahaya tsunami diklasifikasikan ke dalam 2 zona yaitu tinggi dan rendah. Analisis kerentanan diklasifikasi menjadi 3 zona yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil overlay dan klasifikasi penilaian tingkat kerentanan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh sebagian besar termasuk dalam kategori tingkat kerentanan sedang sebesar 41%. Hal ini disebabkan karena sebagian besar lahan yang akan terdampak tsunami jauh dari pinggir pantai dan untuk analisis risiko secara keseluruhan Kota Banda Aceh memiliki tingkat risiko tsunami yang rendah dengan persentase sebanyak 18%, risiko tsunami yang sedang sebanyak 42% dan risiko tsunami tinggi sebanyak 40%.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMUGARAN TAMAN MUSTIKA DI KOTA BLORA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK
Meinar Kartikasari;
Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (243.026 KB)
Keberadaan taman sebagai ruang terbuka publik yang begitu penting menjadikan Pemerintah berupaya untuk menyediakan taman dengan berbagai cara termasuk pemugaran. Pemugaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk merombak/membangun kembali suatu objek dengan tujuan yang lebih baik. Kawasan perkotaan Blora merupakan kawasan yang padat bangunan dan minim ruang terbuka publik. Pemugaran taman pasif yang berada di jantung kota menjadi sebuah taman aktif merupakan suatu hal yang baru yang ada di Blora dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang terbuka publik yang aksessibel bagi masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap pemugaran Taman Mustika di Kota Blora sebagai ruang terbuka publik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualtatif deskriptif dengan metode studi kasus. Hasil temuan dari penelitian adalah kondisi Taman Mustika sebelum pemugaran berdasarkan persepsi masyarakat sangatlah tidak layak, masyarakat tidak dapat memanfaatkan taman tersebut sebagai ruang terbuka publk. Berdasarkan persepsi masyaraat kondisi Taman Mustika sesudah pemugaran banyak memiliki manfaat seperti sebagai tempat bersantai, menunggu, dan belajar. Kondisi taman sesudah pemugaran juga jauh lebih baik karena masyarakat dapat mengakses Taman Mustika dan mampu melayani kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka publik. Dari persepsi masyarakat sebelum dan sesudah pemugaran Taman Mustika, peneliti menemukan adanya perubahan fungsi taman dari taman pasif menjadi taman aktif. Kondisi taman sebelum dan sesudah pemugaran taman yang dilakukan oleh Pemerintah Blora mengalami perubahan yang signifikan dan mampu menampung aktivitas masyarakat. Berdasarkan hasil temuan, maka dapat diambil kesimpulan yaitu pemugaran taman yang dilakukan oleh Pemerintah Blora telah merubah Taman Mustika dari taman pasif menjadi taman aktif. Perubahan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat khususnya yang berada pada kawasan perkotaan Blora. Masyarakat berpendapat bahwa Taman Mustika setelah pemugaran lebih bermanfaat bagi mereka sebagai tempat berinteraksi, bersantai, hiburan, berkreasi dan belajar.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN DAN SOSIAL EKONOMI DI SEKITAR APARTEMEN MUTIARA GARDEN
Bagus Nuari Priambudi;
Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (665.619 KB)
Perkembangan bisnis properti di Kota Semarang khususnya bangunan yang berorientasi komersial seperti condotel (kondominium hotel), perkantoran, mall dan apartemen, belakangan ini semakin meningkat. Pertumbuhan pasar properti di kota Semarang setiap tahunnya meningkat sebesar 10-12%. Peningkatan tersebut, terjadi di sekitar Kampung Petempen dan Kelelengan yang terletak di kawasan Gajahmada Semarang. Kawasan tersebut merupakan permukiman padat penduduk, sekarang beralih fungsi menjadi perdagangan jasa berupa apartemen. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pemanfaatan lahan dan kondisi sosial ekonomi di sekitar apartemen tersebut, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh. Instrumennya meliputi form observasi, wawancara, telaah dokumen, kuesioner serta menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan spasial. Hasil penelitian menunjukan faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan pemanfaatan lahan dan kondisi sosial ekonomi, yaitu lokasi strategis (aksesbilitas) dan factor ekonomi (tingkat pendapatan).
FAKTOR-FAKTOR YANG MENINGKATKAN RESILIENSI MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BENCANA ROB DI KELURAHAN TANJUNG EMAS SEMARANG
Nur Ariviyanti;
Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (205.436 KB)
Perubahan iklim yang terjadi saat ini telah mengacam usaha penanggulangan kemiskinan di Indonesia dan pencapaian Target Millennium Development Goals – MDGs. Salah satu dampak perubahan iklim yang umum dijumpai di Indonesia sebagai negara maritim adalah adanya kenaikan permukaan air laut yang menyebabkan rob pada beberapa wilayah pesisir. Kelurahan Tanjung Emas merupakan salah satu kelurahan di Kota Semarang yang identik dengan masalah rob. Rob ini diterima oleh individu sebagai stimulus yang memberikan pengalaman dan mempengaruhi tingkat kesiapan seseorang dalam menghadapi bencana. Perilaku kesiapan ini juga didukung oleh kemampuan individu untuk bangkit kembali dari peristiwa trauma yang pernah terjadi. Kemampuan inilah yang kemudian disebut dengan resiliensi. Resiliensi sendiri dipengaruhi oleh faktor internal masyarakat maupun dari faktor eksternal. Oleh karena itu, masyarakat melakukan berbagai upaya dan dukungan dari luar untuk tetap dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan mereka di Kelurahan Tanjung Emas. Penelitian ini disusun untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut: faktor-faktor apa yang meningkatkan resiliensi masyarakat dalam menghadapi bencana rob di Kelurahan Tanjung Emas Semarang? Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut maka penilitian ini disusun dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiliensi masyarakat dalam menghadapi bencana rob di Kelurahan Tanjung Emas Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yaitu dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif, pembobotan dan analisis regresi linier berganda. Hasil akhir dari penelitian ini adalah dari 9 faktor yang diidentifikasi dapat meningkatkan resiliensi terdapat 3 faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan resiliensi, faktor-faktor tersebut adalah faktor peninggian rumah, peninggian jalan, serta adanya organisasi sosial yang peduli lingkungan dan tanggap bencana.
PEMETAAN TIPOLOGI DAYA TARIK WISATA DALAM KERANGKA PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA DESA BONDO KABUPATEN JEPARA
Tita Widyawati;
Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (293.352 KB)
Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu prioritas utama dalam menunjang pembangunan suatu daerah. Desa Bondo merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Jepara yang kurang berkembang. Kondisi ini bertolak belakang dengan potensi pariwisata yang dimiliki. Desa Bondo memiliki potensi wisata yaitu Pantai Bondo yang masih alami dan terdapat Telaga Sejuta Akar yang merupakan sebuah sumber air yang menyerupai telaga dan dikelilingi pohon karet yang sangat besar. Akantetapi Telaga Sejuta Akar yang seharusnya digunakan untuk tempat wisata, digunakan untuk melakukan hal yang tidak sewajarnya. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang ada, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam pengembangan pariwisata di Desa Bondo. Oleh karena itu terdapat pertanyaan penelitian apa tipologi daya tarik wisata yang ada di Desa Bondo. Dengan pertanyaan tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan tipologi daya tarik wisata dalam rangka pengembangan potensi wisata di Desa Bondo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menganalisis demand dan supply pariwisata yang kemudian menggunakan matriks Boston Consulting Group untuk mengetahui tipologi daya tarik wisata yang ada. Analisis berikutnya adalah identifikasi siklus hidup daya tarik wisata Desa Bondo. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa demand pariwisata di Desa Bondo lebih tinggi dari supply nya. Dengan demikian maka perlu adanya pengembangan potensi produk wisata sehingga diharapkan potensi yang ada akan berkembang. Sedangkan dari sisi siklus hidupnya pariwisata desa Bondo saat ini berada pada posisi awal perkembangan. Sehingga potensi yang ada saat ini apabila tidak ditindak lanjuti dengan strategi-strategi pengembangan yang baik maka akan berpotensi terjadi penurunan.
KONSEP PENGEMBANGAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DESA MOJO, KECAMATAN ULUJAMI, KABUPATEN PEMALANG
Selma Mutia;
Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (429.657 KB)
Ecotourism is one of the special forms of the tourism activities. Ecotourism is positioned as opposed to the conventional tourism. Unlike the conventional tourism, ecotourism is a responsible tour with environmental conservation and improve the local community welfare. Citizen put down as primary factor owning importance participate directly in decision making to increase citizen prosperity through conservation effort and also natural resources exploiting. One of the activity of is mangrove forest ecotourism that can be found in Mojo, a village that still classified on coastal region and has a lot of potential. Mangrove forest ecotourism was formed by local goverment and Japans NGO (OISCA) assisted by ‘Pelita Bahari’. Mangrove forest in Mojo covering approximately 16 hectares and has many attractions such as bird watching, mangrove tree plantation, boating, fishing, and tracking. But this potential attractions was faced by the less optimalization of mangrove forest ecotourism activities that can be seen from the use of excessive natural resources, planting location on the edge of the estuary causes the dependence on transportation facilities, and local people who have not been able to see the economic potential that can be provided by the mangrove forest ecotourism activities. Of the key issues above, the purpose of this study is to formulate a development concept of mangrove forest ecotourism in Mojo, related to environmental conservation and improvement of the local community welfare. Research method that used is qualitative method. Technique of data collecting that done is primary data collecting technique through field observation, interview and also spreading of quesioner. Technique of secondary data collecting through to look for data in institution, mass media article, internet and also from research which have been done previously. In reaching the aim of this research, analysis that done is identification of community efforts related to environment conservation and improvement of local welfare, lesson learned from best practice MIC Bali, and then formulated a development concept with making a zoning map. Results of this research is increasing the quality of mangrove forest ecotourism which is responsible in a way to conserve the environment and improve the welfare of local communities that can be used as a lesson learned for other villages that have similar characteristics as Mojo tourism development.
PEMENUHAN KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA STUDI KASUS: KETERKAITAN MASYARAKAT KAMPUNG PETEMPEN DENGAN MASYARAKAT APARTEMEN MUTIARA GARDEN SEMARANG
Fiska Ambarwati;
Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (190.045 KB)
Lingkungan permukiman merupakan suatu lingkungan yang dapat mendukung perikehidupan dan penghidupan, terdiri atas dua aspek tinjauan yaitu aspek fisik seperti sarana, dan prasarana serta aspek non fisik seperti sosial. Kampung Petempen, Semarang merupakan salah satu perkampungan yang berada di kawasan perkotaan di Semarang. Lingkungan permukiman tersebut memiliki dua karakter hunian yakni hunian vertikal yakni Apartemen Mutiara Garden dan hunian horizontal yakni Kampung Petempen.Masyarakat apartemendan masyarakat Kampung Petempen memiliki kebutuhan saranadan prasarana masing- masing.Tujuan penelitian yang dilakukan adalah melakukan identifikasi terhadap keberadaan afinitas yang terjadi pada kebutuhan sarana dan prasarana antara masyarakat apartemen dengan masyarakat Kampung Petempen.Pada hubungan ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan akan menghasilkan identifikasi terkait dengan afinitas antar kedua kelompok masyarakat. Hubungan afinitas terjadi pada kebutuhan sarana dan prasarana antara masyarakat kampung Petempen dan masyarakat apartemen. Keberadaan afinitas dirasa penting untuk menunjukkan hal- hal yang dapat dilakukan secara bersama antara masyarakat sekitar dengan penghuni apartemen, sehingga menghindari adanya kesenjangan sosial yang terjadi pada kawasan tersebut. Afinitas terhadap kebutuhan prasarana terjadi pada prasarana jalan, drainase, dan sistem pengelolaan persampahan. Pada kondisi ini tidak terjadi afinitas pada kebutuhan sarana lingkungan permukiman. Metode yang dipergunakan adalah metode kualitatif.
PENGARUH PENINGKATAN NILAI LAHAN TERHADAP PEMANFAATAN RUANG TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA PERUMAHAN DI KELURAHAN MUGASARI
Agus Ricky Hartanto;
Mussadun .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ketersediaan lahan sempit dan harga tanah meningkat karena nilai pembangunan lahan di pusat kota dapat dilihat dalam wilayah penelitian seperti di Kelurahan Mugasari. Kegiatan ini mendukung aktivitas perumahan dan perubahan pola dan struktur yang berfungsi utamanya untuk hunian, yang merupakan fungsi dari bangunan sebagai tempat tinggal untuk tumbuh sebagai fungsi perdagangan jasa dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga. Perubahan kegiatan yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di lingkungan perumahan dan perubahan fungsi tata guna lahan di pusat kota menjadi faktor utama meningkatnya nilai tanah di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek dari pembangunan pada nilai lahan terbangun dan ruang terbuka di perumahan Kelurahan Mugasari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan analisis kuantitatif metode kuantitatif dikombinasikan dengan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ruang terbangun dengan nilai lahan pada perumahan, berdasarkan analisis regresi berganda antara variabel bebas yang terdiri dari KDB, KDH, dan KLB dengan variabel terikat yaitu nilai lahan dihasilkan bahwa apabila KDB dan KDH meningkat nilai lahan juga akan meningkat. Sedangkan apabila KDH meningkatnilai lahan akan turun. Hal itu disebabkan karena faktor lokasi yang sangat strategis di pusat kota yang memiliki nilai lahan yang tinggi sehingga masyarakat dipusat kota cenderung untuk memaksimalkan lahan mereka untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga yang lebih baik.
HUBUNGAN KUALITAS LINGKUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP MASYARAKAT PERUMNAS TLOGOSARI KOTA SEMARANG
Desi Permatasari;
Parfi Khadiyanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kota merupakan ruang yang dinamis, pertambahan jumlah penduduk yang kian meningkat sudah tidak dapat dipungkiri. Kota Semarang terdapat perumahan besar yakni Perumnas Tlogosai di Kecamatan pedurungan yang kini daerah sekitarnya sudah berkembang pesat dan menjadi kawasan yang padat penduduk dan bangunan. Perkembangan kawasan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Siahaan (2004) menyatakan jika lingkungan yang baik maka manusia dapat mencapai hidupnya yang baik dan sebaliknya. Oleh karena itu selain mencari tahu kualitas lingkungan yang ada di Perumnas Tlogosari, penelitian juga mencari tahu mengenai kualitas hidup masyarakatnya. Penelitian ini juga mencari tahu hubungan antara kualitas lingkungan dengan kualitas hidup menggunakan skoring hasil kuisioner masyarakat dan analisis tabulasi silang. Kualitas lingkungan diketahui dengan kondisi bangunan, sarana dan prasarana, lokasi dan aksesibilitas serta kenyamanan. Sedangkan Kualitas hidup masyarakat tersebut diketahui dengan kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan kontak sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukan skor kualitas lingkungan dan kualitas hidup yang memiliki angka sama yakni 2,85 (mendekati baik) yang menunjukan adanya hubungan antara kualitas lingkungan dan kualitas hidup.Hal ini diuji pula dengan analisi tabulasi silang yang menunjukan chi square 0.005 yang berarti terdapat hubungan antar kedua variabel tersebut. Nilai kuaitas lingkungan tertinggi ada pada karakteristik wilayah dengan tipe rumah kecil dan lokasi akses yang mudah dan dekat dengan fasilitas. Sedangkan kualitas hidup yang baik terdapat pada kawasan rumah bedar yang berdekatan dengan perkampungan. Selain itu terdapat pula beberapa variabel yang saling mempengaruhi