cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Oceanography
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Oseanografi diterbitkan oleh Program Studi Oseanografi, FPIK, Undip. Jurnal ini digunakan untuk menerbitkan jurnal-jurnal karya lulusan S1 Oseanografi Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2015)" : 16 Documents clear
PEMODELAN DISTRIBUSI RADIONUKLIDA 137Cs DI MUARA SUNGAI CISADANE PERAIRAN TELUK JAKARTA BERDASARKAN DATA RADIOLOGI DAN OSEANOGRAFI Agustini Sinaga; Muslim Muslim; Heny Suseno
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.327 KB)

Abstract

Radionuklida merupakan unsur cemaran yang sangat penting untuk diketahui persebarannya. Radionuklida137Cs bersifat konservatif sehingga penyebarannya dalam laut sangat dipengaruhi oleh proses pencampuran dan difusi. Tujuan dari penelitian ini memodelkan distribusi radionuklida137Cs di Perairan Teluk Jakarta seandainya di Muara Sungai Cisadane terdapat limbah 137Cs dengan pendekatan model hidrodinamika menggunakan Software Surface Water Modelling System (SMS). Penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu tahap survey lapangan dan tahap pemodelan hidrodinamika menggunakan Software Surface Water Modeling System (SMS) modul Resources Management Associates-2 (RMA2) untuk memodelkan arah dan kecepatan arus laut serta dilanjutkan modul Resources Management Associates-4 (RMA4) untuk memodelkan distribusi 137Cs. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan penetapan lokasi penelitian dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi hidrodinamika perairan Teluk Jakarta menunjukkan bahwa kecepatan arus maksimum yaitu 0,036 m/s pada saat pasang. Distribusi Radionuklida 137Cs di perairan Teluk Jakarta selama 15 hari menunjukkan, bahwa 137Cs telah menyebar lebih dominan ke arah timur, namun nilai aktivitasnya masih lebih banyak terdapat didaerah awal mulanya lepasan. Hal ini menunjukan ternyata waktu simulasi selama 15 hari nilai aktivitas 137Cs belum mampu tersebar seluruhnya ke perairan laut, karena lemahnya arus.
ARUS GEOSTROPIK PERMUKAAN MUSIMAN BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI TAHUN 2012-2013 DI SAMUDERA HINDIA BAGIAN TIMUR R, Rendhy Dimas; Setiyono, Heryoso; Helmi, Muhammad
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.798 KB)

Abstract

Arus geostropik merupakan fenomena fisik kelautan yang mencakup wilayah yang luas, maka dalam melakukan perekaman data dengan alat konvensional sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Informasi mengenai arus ini sangat penting dalam berbagai keperluan, seperti, mendeteksi dan memahami fenomena arus eddy, upwelling, dan downwelling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola arus geostropik permukaan rerata musiman dalam satu tahun berdasarkan data anomali tinggi muka laut menggunakan data satelit altimetri di Samudera Hindia Bagian Timur. Penelitian ini menggunakan data satelit, yaitu anomali tinggi muka laut (Jason-1, Jason-2, Cryosat-2 dan AltiKa) serta angin permukaan (ECMWF) dan data spasial berupa vektor garis pantai Data anomali tinggi muka laut dan angin diolah menggunakan program ArcMap 10.0. Data anomali tinggi muka laut menghasilkan sebaran spasial anomali tinggi muka laut dan arus geostropik permukaan. Data angin menghasilkan sebaran angin permukaan. Data spasial vektor garis pantai menunjukkan batas daratan dengan laut. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan kecepatan dan pergerakan arus geostropik setiap musimnya. Kecepatan arus geostropik permukaan paling tinggi terjadi pada Musim Barat dengan kecepatan berkisar antara 0,013 - 1,078 m/s dengan pergerakan arus menuju timur dan paling rendah terjadi pada Peralihan Musim Barat ke Musim Timur dengan kecepatan berkisar antara 0,010 – 0,929 m/s dengan arah yang tidak menentu. Selain itu, arus geostropik permukaan juga membentuk pusaran (arus eddy) dan menimbulkan terjadinya fenomena downwelling dan upwelling. 
Kajian Ovetopping akibat run-up gelombang pada breakwater di perairan balongan indramayu, jawa barat fahmi, Hafist; S, Denny Nugroho; Purwanto, Purwanto
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7771.858 KB)

Abstract

Breakwater merupakan infrastruktur penting di daerah pantai yang berfungsi sebagai pelindung pantai dari berbagai faktor fisis laut yang bersifat merusak, salah satunya  gelombang laut. Breakwater yang berada di PT. Pertamina RU VI balongan yang biasa disebut Jetty Cargo, berfungsi sebagai sarana jasa angkut dan perlindungan kapal-kapal tunda milik PT. Pertamina RU IV balongan. Overtopping akibat run-up gelombang merupakan masalah terjadi akibat kurang efektifitasnya breakwater yang berdampak merusak daerah belakang perlindungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji overtopping akibat run-up gelombang yang terjadi pada breakwater sambung pantai milik PT.PertaminaRU VI Balongan Indramayu, Jawa Barat.Penelitian dilaksanakan diperairan balongan yang lokasinya berada pada area PT. Pertamina  RU VI Balongan Indramayu, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan lokasi pengambilan data gelombang disebelah timur Jetty Cargo.Hasil perhitungan run-up gelombang diperoleh tiap musim yang digunakan sebagai masukan perhitungan overtopping yang menyimpulkan bahwa breakwater tersebut cukup efektif karena tidak terjadi overtopping di setiap musimnya, berdasarkan persamaan (H-ds) ≥ R yaitu, musim barat 3,45 meter, peralihan I 3,16 meter, timur 3,07 meter, peralihan II 3,15 meter dan gelombang ulang 100 Tahun yaitu 3,5 meter. Syarat ini memenuhi karena nilai terebut lebih besar dari run-up gelombang.
STUDI KARBON ORGANIK DI SEDIMEN DENGAN UKURAN BUTIR PADA PERAIRAN TELUK JAKARTA Marissa Dwikartika; Muslim Muslim; Murdahayu Makmur
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.237 KB)

Abstract

Perairan Teluk Jakarta memiliki berbagai aktivitas yang menimbulkan pencemaran kandungan organik yang berasal dari matinya hewan atau tumbuhan yang terendapkan dalam waktu lama atau kandungan anorganik hasil dari aktivitas industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karbon organik di sedimen dengan ukuran butir sedimen kaitannya dengan arus permukaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Penentuan 6 stasiun yang mewakili daerah penelitian secara keseluruhan secara purposive. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa karbon organik tidak memiliki hubungan yang kuat terhadap ukuran butir sedimen yang kasar (pasir).  Arus berpengaruh terhadap karbon organik karena terjadi proses pengadukan.
SEBARAN TUMPAHAN MINYAK DENGAN PENDEKATAN MODEL HIDRODINAMIKA DAN SPILL ANALYSIS DI PERAIRAN CILACAP, JAWA TENGAH Widhayanti, Arintika; Ismanto, Aris; Yulianto, Bambang
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.898 KB)

Abstract

Perairan Cilacap memiliki pelabuhan laut yang berfungsi sebagai pelabuhan ekspor-impor termasuk aktivitas bongkar muat minyak dari kapal-kapal tanker yang menyebabkan perairan Cilacap rentan terhadap tumpahan minyak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola sebaran dan proses pelapukan (weathering) yang meliputi waktu pemaparan, proses disolusi, proses dispersi vertikal, proses emulsifikasi, dan proses evaporasi pada tumpahan minyak mentah dan aspal di Perairan Cilacap yang dimodelkan menggunakan model hidrodinamika 2D dan Spill Analysis. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data arus laut, data pasang surut, data angin, data suhu air laut, data batimetri, data suhu udara, data cloudiness, data oil properties, dan data lalu lintas kapal. Hasil simulasi model sebaran tumpahan minyak mentah dan aspal memperlihatkan sebaran menuju ke arah barat laut saat pasang tertinggi, sebaliknya minyak menyebar ke arah tenggara saat surut terendah. Penyebaran tumpahan minyak berbentuk lintasan saat kondisi perbani dan partikel minyak berbentuk acak saat kondisi purnama. Waktu pemaparan aspal berlangsung lebih lama, yaitu berkisar 280 jam daripada waktu pemaparan minyak mentah, yaitu berkisar 259 jam. Proses pelapukan pada tumpahan minyak terhadap lamanya waktu tumpahan minyak menunjukkan bahwa perubahan laju emulsifikasi berlawanan dengan laju evaporasi dan sebanding dengan laju dispersi vertikal, sedangkan laju disolusi tidak mengalami perubahan signifikan. Tumpahan minyak setelah 24 jam memperlihatkan bahwa proses disolusi, dispersi vertikal, dan evaporasi pada minyak mentah lebih tinggi daripada aspal. Namun, proses emulsifikasi pada aspal lebih tinggi daripada minyak mentah.
SEBARAN KARBON ORGANIK TOTAL PADA SEDIMEN DI PERAIRAN LAUT BELITUNG Retno Argian Pangesti Putri; Muslim Muslim; Murdahayu Makmur
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2311.005 KB)

Abstract

Kepulauan Belitung merupakan kepulauan yang mayoritas penduduknya didominasi oleh nelayan. Tidak jarang pulau ini dikunjungi oleh wisatawan sehingga banyak aktivitas yang berlangsung terutama di pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran karbon organik total pada sedimen sebagai parameter kondisi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisa deskriptif. 6 stasiun ditentukan untuk mewakili kawasan Perairan Belitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran karbon organik total pada sedimen mempunyai konsentrasi tertinggi 12,05%. Kisaran konsentrasi karbon organik total pada sedimen yaitu  0,78% – 12,05%.

Page 2 of 2 | Total Record : 16