cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Number 1, Tahun 2017" : 17 Documents clear
WALTER WHITE’S MOTIVATION IN TV SERIES BREAKING BAD S01E01 (PILOT) DIMYATI, MIFTAH FARIS
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.653 KB)

Abstract

Motivasi merupakan elemen yang penting di dalam hidup. Ketika seseorang menginginkan sesuatu, mereka membutuhkan motivasi sebagai alat pendorong untuk mendapatkannya. Dalam skripsi ini, penulis tertarik untuk menganalisa elemen - elemen yang membentuk motivasi seseorang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Penulis memilih TV Seri Breaking Bad karya Vince Gilligan sebagai bahan penelitian. Hal yang menjadi fokus dalam skripsi ini adalah bagaimana Walter bisa terdorong untuk membuat meth daripada menikmati sisa hidupnya bersama keluarga setelah mengidap penyakit kanker paru – paru yang tidak bias disembuhkan. Tujuan penelitian skripsi ini adalah untuk menganalisa faktor - faktor yang mempengaruhi tindakan Walter. Data yang digunakan berupa episode pertama di musim pertama TV Seri Breaking Bad yang berjudul Pilot. Metode penelitian menggunakan metode pustaka.Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan teori ekspetansi motivasi dari Victor H. Vroom. Penulis membatasi persoalan hanya pada analisa terhadap tindakan yang dilakukan Walter sebelum dan sesudah mendengar tentang penyakitnya.Hasil analisa menunjukkan bahwa tindakan Walter dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi kesehatan, kondisi finansial keluarga, dan latar belakang pendidikan yang membuat dirinya yakin untuk bisa mendapatkan uang dan keamanan finansial bagi keluarganya
The Occurence of Abbreviation in Indonesia Lawak klub (ILK) To Obtain Humor Effect Setyowati, Hari
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.633 KB)

Abstract

ABSTRACT            Language is the core part that we need to build a communication among people. For many cases, language is dynamic so that its users can manipulate it to give a certain meaning, such as, Indonesian. Many abbreviations occurred are used for different purposes, for instance, a slogan of cities, a trend among teenagers and a humor. Indonesia Lawak Klub (ILK), as a parody show of television, proves how language can be manipulated to obtain humor effect.            The theories used are Morphology from Yule and Kridalaksana in order to analyze the data through word formation and to find out pattern of abbreviation used in ILK. In addition, the writer also shows why abbreviations can obtain the humor effect in this show.            The writer conducts the research by using a descriptive qualitative approach and random sampling. The data were taken from seven episodes of ILK broadcasted in April 2014. The analyzed sample data are 13 abbreviations from 10 conversations accomplished by varies of word formation processes.            The result of the research is the fact that most of abbreviations happened during ILK are formed by multiple processes. They mostly go through by borrowing and contraction. Besides, the humor that the speakers uttered can be mostly gained by contradictive.Keywords: abbreviation, word process, humor
Semantic Analysis on Javanese Perception Verbs Setiawan, Risky Hendra
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.235 KB)

Abstract

Penggunaan verba persepsi dalam sebuah bahasa memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Seperti dalam bahasa Jawa yang menjadi objek penelitian kali ini, terdapat banyak sekali leksikon yang menrepresentasikan sebuah verba persepsi. Namun, penggunaannya berbeda-beda sesuai dengan kolokasi maknanya. Untuk itu penelitian ini bertujuan menggambarkan struktur semantis dari tiap leksikon. Selain itu, ciri kewaktuan internal dan makna inheren tiap leksikon dapat diketahui.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk mengambil data dari kamus dan majalah bahasa Jawa serta intuisi dari penulis sendiri. Dalam menganalisis data penulis menggunakan metode agih, serta teknik substitution dan interruption sebagai teknik lanjutannya. Hasilnya, penulis menemukan makna asali MELIHAT, BERPIKIR, INGIN, TAHU, MENDENGAR, MELAKUKAN, dan TERJADI yang dapat digunakan untuk menjelaskan verba persepsi bahasa Jawa. Makna asali tersebut berpolisemi untuk membangun sebuah makna, seperti MELIHAT atau MENDENGAR berpolisemi dengan BERPIKIR dan TAHU, MELAKUKAN berpolisemi dengan TERJADI. Selain itu, makna inheren verba dianalisis dengan melihat kedinamisan, kepungtualan, dan ketelisan verba tersebut. 
ID, EGO, ANDSUPEREGO REPRESENTED BY THE MAIN CHARACTEROFFIFTY SHADES OF GREYMOVIE CRHISTIAN GREY Sudrazat, Riza Alun
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.65 KB)

Abstract

Fifty Shades of Grey is an American romantic drama movie directed by Sam Taylor-Johnson adapted from a novel by E.L James. The movie depicts the relationship between Christian Grey and Anastasia Steel. Omitted of this study analyzes the main character’s personality by discussing intrinsic and extrinsic aspects in this movie. The focus of this study is Christian Grey’s id, ego, and superego. To figure this out, the writer uses psychoanalysis approach by using Sigmund Freud’s theory on the id, ego, and superego. From this analysis, it can be concluded that Christian Grey’s personality is leaning on his id which is BDSM. BDSM denotes a set of erotic behaviors involving bondage and discipline, dominance and submission, sadism and masochism, and/or slave and master relationship. Then, his ego and superego works to restricts the id into nondestructive ways.
TRAUMATIC EXPERIENCE RESULTING FROM SEXUAL ABUSE IN STEPHEN CHBOSKY’ THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER Austriani, Fenita
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.78 KB)

Abstract

Skripsi ini menganalisis tentang pengalaman traumatis dalam novel yang berjudul The Perks of Being a Wallfloweroleh Stephen Chbosky. Novel ini mendeskripsikan tentang kehidupan Charlie sebagaian akremaja yang mengalami pengalaman traumatis. Tujuan dari skripsi ini adalah untuk menjelaskan kepribadian dan pengalaman traumatis Charlie akibat dari kekerasan seksual. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode studipustaka dan pendekatan psikologi. Penulis menggunakan novel sebagai data utama dan beberapa sumber buku, jurnal dan sumber-sumber online sebagai data pendukung. Dalam menganalisis unsure intrinsik, penulis menggunakan tema, karakter, latar, dan konflik. Selain itu, untuk menganalisis unsure ekstrinsik, penulis menggunakan teori gangguan stress pasca trauma yang berasal dari Asosiasi Psikiatris Amerika. Berdasarkan Asosiasi Psikiatris Amerika, ada lima gejala gangguan stress pasca trauma: terpapar oleh pemicu stress, mengalami kembali peristiwa trauma, penghindaran, kebangkitan dan durasi terjadinya gejala. Hasil analisis membuktikan bahwa Charlie menderita gangguan stress pasca trauma. Kepribadian Charlie juga dipengaruhi oleh gejala-gejala dari gangguan stress pasca trauma.
ANIMISM PRACTICES IN APOCALYPTO MOVIE Primadinda, Dewintha
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Projek ini membahas tentang cerita dan praktek animisme yang terjadi didalam film Apocalypto, arahan sutradara Mel Gibson. Projek ini bertujuan untuk menunjukkan praktek animisme yang dipercayai oleh penduduk asli Amerika. Animisme dikenal sebagai suatu kepercayaan manusia primitif, dimana mereka mempercayai hal hal yang tidak masuk di akal oleh kebanyakan manusia modern pada zaman ini.  Salah satu praktek animisme yaitu persembahan manusia termasuk praktek kekerasan yang dianggap kegiatan suci untuk mempersembahkan untuk dewa mereka demi memperoleh berkat dan  kesejahteraan bagi penyembahnya.
BOOK REVIEW OF FAMILY LIFE WRITTEN BY AKHIL SHARMA Arrina, Tri Ati
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.814 KB)

Abstract

Family Life is the 2ndsemi-autobiographical novel by Akhil Sharma, an award-winning Indian-American author. This novel was published in 2014 and had gone into New York Times best books list. Family Life tells about an Indian family that came to America in the late 1970s as part of the first large wave of Indian immigration to the U.S. and, two years later, suffered a terrible tragedy. The family has two children; two boys, ten and fourteen. The older boy dives into a pool and strikes his head on the bottom of the floor. After the accident, he has sufferred severe brain damage: he can no longer walk or talk; he can’t move in his sleep; he has to be fed through a tube. After the brain-damagedboy spends a year in a hospital and a year in nursing home, the family decides to take him home and take care of him themselves. This causes the family to breakdown.
CROSS CULTURAL PRAGMATICS: POLITENESS STRATEGY USED IN RUSH HOUR MOVIE Hasanah, Nur Hayati Uswatun
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.251 KB)

Abstract

Strategi kesopanan erat kaitannya dengan budaya. Setiap budaya memiliki bentuk strategi yang berbeda-beda. Strategi kesantunan dapatdiamati di setiap percakapan antar manusia termasuk juga dalam film.Film Rush Hour merupakan film seri terkenal yang karakter utamanya adalah Jackie Chan dan Chris Tucker yang keduanya memiliki latar belakang budaya berbeda.Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan jenis-jenis strategi kesantunan yang digunakan oleh kedua karakter utama dan menjelaskan persamaan dan perbedaan dari strategi kesopanan yang digunakan oleh kedua karakter utama tersebut. Pengumpulan data menggunakan non-participant observation dengan teknik note taking. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan.Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua karakter menggunakan keempat strategi kesopanan, yaitu strategi bald on record, positive politeness, negative politeness, dan off record.Detective James menggunakan 224 jenis strategi kesantunan dan  Detective Lee menggunakan65 jenis strategi kesantunan. Ada beberapa perbedaan dan persamaan dalam strategi kesantunan yang digunakan kedua karakter utama.Persamaannya adalah kedua karakter utama menggunakan keempat strategi kesantuna yang paling sering digunakan oleh keduanya adalah bald on record, dan keduanya juga menggunakan beberapa multiple strategies.Beberapa perbedaannya adalah (1) Detective James lebih leluasa menggunakan strategi  bald on record kepada semua orang dalam berbagai situasi sedangkan Detective Lee menggunakannya untuk orang yang lebih rendah dari atau sama dengan statusnya dan pada keadaan yang mendesak, (2) dalam menggunakan positive politeness strategy, Detective James cenderung menggunakan use in-group identity markers sedangkan Detective Lee cenderung menggunakan include both S and H in the activity, (3) dalam menggunakan negative strategy, Detective James cenderung menggunakan question, hedge dalam bentuk interrogative sedangan Detective Lee dalam bentuk inperative, dan (4) Detective James lebih banyak menggunakan multiple strategies daripada Detective Lee.
RACIAL SEGREGATION IN LANGSTON HUGHES’S “I, TOO” Utama, Fajri Khaimara
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.02 KB)

Abstract

“I, Too”is a poem written by Langston Hughes. The poem tells us about how the racial segregation happened between the whites and the blacks in America. In this paper, the writer analyzes the racial segregation by discussing intrinsic and extrinsic aspects in this poem. For the intrinsic elements the writer describes imagery and diction and for the extrinsic elements the writer describes racism. From this discussion it can be concluded that the whites think their social status are higher than the blacks are and the whites regard the blacks as slaves not as citizens of America, while the blacks believe that someday the whites will realize that they are wrong and will be ashamed. The blacks hope that they will have the same rights as the whites.
Code Switching in Utterances of Korean Multilingual Child (A Case Study of AKorean Multilingual Child Who Lives in Semarang) Naufal, Muhamad Syihabuddin
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 6, Number 1, Tahun 2017
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.264 KB)

Abstract

Saatiniakanlebihbaikapabilaseseorangmemilikikemampuan multi bahasa (multilingual)sebagaialatkomunikasidalamberbagaisituasi. Ditemukan  diSeamrang, para imigranakanmembutuhkankemampuanberbahasa Indonesia untukberkomunikasidengan orang lokal. Salah satufaktabahasaterjadipadaseoranganaklaki-laki yang berasaldarikeluargawarganegara Korea yang sudah lama hidup di Indonesia.Menjalanikehidupan di Indonesia dalamwaktu yang cukup lama membuatanaktersebutmemilikikemampuanbahasa yang cukupberagamsepertibahasa Korea, Indonesia, Inggris, danbahkanbahasaJawa.Sudahpastianaktersebutmelakukanalihkode (code switching) dalampercakapansehari-harinya.Berdasarkanperistiwabahasatersebutpenelititertarikuntukmengamatidanmengidentifikasialihkode yang terjadidalampercakapananaktersebut.Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmengidentifikasijenisalihkodedan juga faktorpenyebab yang mempengaruhialihkode yang dilakukanolehanaktersebut.Penelitimenggunakanmetodesimakdan juga metodecakapuntukmengumpulkan data.Data yang dianalisisadalahpercakapananaktersebut yang mengandungunsuralihkode.PenelitimenggunakanteoridariSudaryantoyaitumetodepadanuntukmenganalisis data. Dari hasilanalisis yang dilakukan, penelitimenemukanbahwaadabeberapajenisalihkode yang ditemukanyaitudelapan (11) situationalcode witchingdantiga (3) intra-sentential code switching.Sedangkanfaktor-faktorpenyebabalihkode yang di temukandalampercakapananaktersebutadalahparticipantsdansetting. Faktorterbanyak yang mempengaruhiadalahfaktorparticipantkarenaditemukan di semua data denganfaktortersebut

Page 1 of 2 | Total Record : 17