cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013" : 40 Documents clear
HUBUNGAN STATUS GIZI IBU DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 5 – 6 BULAN YANG MENDAPAT ASI EKSKLUSIF Ardiny, Fidya; Rahayuni, Arintina
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.198 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3820

Abstract

Latar belakang : Pemerintah menetapkan progam ASI eksklusif untuk mencapai Millenium Developmental Goal’s (MDG’s). Bayi ASI eksklusif sangat bergantung pada asupan ASI saja selama 6 bulan. Status gizi ibu menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASI. Bayi yang mendapat cukup ASI diharapkan dapat mencapai status gizi optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.Metode : Penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 35 bayi usia 5 dan 6 bulan yang dipilih secara consecutive sampling di wilayah kerja Puskesmas Pandanaran dan Ngemplak Simongan pada bulan Mei – Juni. Data identitas dan  pemberian ASI eksklusif didapat melalui wawancara dengan ibu bayi. Status gizi bayi dinilai berdasarkan z-score BB/U, sedang status gizi ibu dinilai menggunakan IMT. Analisis bivariat menggunakan correlation Pearson product moment.Hasil : Rerata z-score BB/U bayi adalah (-0,114) ± 1,00. Rerata IMT ibu menyusui  adalah  23,93  ±  3,71. Tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.
PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK (RED YEAST RICE) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA WANITA PREDIABETES Sulistyaning, Afina Rachma; Wirawanni, Yekti
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.746 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3736

Abstract

Latar Belakang : Manajemen DM efektif dilakukan pada tahap awal sebelum timbul gejala atau prediabetes. Prediabetes ditandai dengan kadar glukosa darah puasa (GDP) mencapai 100 - 125 mg/dl. Angkak merupakan beras hasil fermentasi oleh kapang Monascus purpureous yang dikaitkan dengan perbaikan toleransi glukosa dan penurunan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian angkak terhadap kadar GDP pada wanita prediabetes.  *)Penulis Penanggungjawab Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan pre test-post test design. Subjek penelitian adalah karyawati kantor BPPT, Bappeda, BPS, dan yayasan Pangudi Luhur Kota Semarang yang diambil secara purposive sampling sebanyak 28 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok secara simple randomization. Kelompok perlakuan diberi angkak 5,4 gram selama 14 hari, sedangkan kelompok kontrol diberi air filtrasi beras sangrai. Pengukuran kadar GDP dilakukan sebelum dan setelah intervensi dengan metode spektrofotometri. Asupan makan subjek sebelum intervensi diperoleh dengan metode food recall 3x24 jam dan selama intervensi dengan metode food recall 5×24 jam. Analisis statistik menggunakan Independent sample t-test, Mann-Whitney test, Paired t-test, korelasi dan regresi linear. Hasil : Kelompok perlakuan mengalami penurunan kadar GDP yang bermakna (p=0.006) sebesar 9.14±10.48 mg/dl sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 1.35±7.39 mg/dl. Secara statistik, terdapat perbedaan perubahan kadar GDP antara kelompok perlakuan dan kontrol yang bermakna (p=0.005).Simpulan : Terdapat penurunan kadar GDP yang bermakna setelah pemberian 5,4 mg angkak selama 14 hari.
KONTRIBUSI MP-ASI BISKUIT SUBSTITUSI TEPUNG GARUT, KEDELAI, DAN UBI JALAR KUNING TERHADAP KECUKUPAN PROTEIN, VITAMIN A, KALSIUM, DAN ZINK PADA BAYI Aini, Nurly Qurrota; Wirawani, Yekti
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.7 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3727

Abstract

Latar Belakang: MP-ASI biskuit bayi dengan substitusi tepung komposit garut, kedelai, dan ubi jalar kuning merupakan upaya perbaikan gizi masyarakat melalui pendekatan penganekaragaman pangan lokal. Dengan demikian dilakukan penelitian mengenai kontribusi MP-ASI biskuit substitusi pati garut, tepung kedelai, dan tepung ubi jalar kuning terhadap kecukupan protein, vitamin A, kalsium, dan zink pada bayi.Tujuan: Menganalisis pengaruh substitusi tepung garut, kedelai, dan ubi jalar kuning terhadap kandungan zat gizi dan sifat fisik serta menentukan takaran saji untuk mengetahui kontribusi zat gizi.Metode: Merupakan penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor pada pembutan MP-ASI biskuit bayi dengan substitusi tepung garut, kedelai, dan ubi jalar kuning yaitu K (0 %:0 %:0 %), PI (40 %:15 %:25 %), P2 (30 %: 20 %: 30 %), dan P3 (35 %:25 %:20 %). Analisis statistik zat gizi dan sifat fisik menggunakan One Way Anova CI 95% dilanjutkan dengan analisis Multipel Comparation (Posthoct test).Hasil: Substitusi tepung garut, kedelai, dan ubi jalar kuning meningkatkan kadar protein, lemak, β-karoten, zink, daya serap air, dan tingkat kekerasan pada biskuit, sedangkan kadar karbohidrat menurun. Kadar kalsium, densitas kamba dan uji seduh tidak berbeda nyata dengan biskuit kontrol. Konsumsi satu takaran saji biskuit P3 sebesar 50 g (2 keping biskuit) dapat memenuhi energi 40,63 %, protein 31,31 %, vitamin A 31,27 %, kalsium 62 %, dan zink 18,75 % pada bayi.Simpulan: Konsumsi dua takaran saji biskuit dengan substitusi tepung garut 35 %, kedelai 25 %, dan ubi jalar kuning 20 % dapat memenuhi kecukupan zat gizi bayi kecuali zink. Selain itu, biskuit mempunyai sifat fisik yang baik dilihat dari daya serap air dan tingkat kekerasan.
KETIDAKPUASAN TERHADAP CITRA TUBUH DAN KEJADIAN FEMALE ATHLETE TRIAD (FAT) PADA REMAJA PUTRI Yuliana, Budiar Ningrum; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.248 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3834

Abstract

Latar Belakang : Kekhawatiran citra tubuh pada remaja putri yang menginginkan bentuk tubuh ramping dengan berat badan kurang dapat mempengaruhi terjadinya female athlete triad (FAT). FAT merupakan tiga kondisi yang saling berkaitan, yaitu penyimpangan perilaku makan, gangguan menstruasi, dan kepadatan tulang rendah. Tujuan penelitian mengetahui gambaran ketidakpuasan terhadap citra tubuh dan prevalensi female athlete triad pada remaja putri.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bertempat di SMA Negeri 1 Semarang. Jumlah sampel 91 subjek yang dipilih dengan metode propotional stratified random sampling. Data penelitian meliputi identitas, berat badan, tinggi badan, persen lemak tubuh, dan kepadatan tulang. Penilaian citra tubuh menggunakan Body Shape Questionaire (BSQ). Penilaian status gizi menggunakan z-score IMT/U dan persen lemak tubuh, pengukuran persen lemak tubuh menggunakan body fat analyzer. Penilaian penyimpangan perilaku makan menggunakan eating disorder diagnostic scale (EDDS). Penilaian gangguan menstruasi menggunakan kuesioner. Penilaian kepadatan tulang menggunakan quantitative ultrasound bone densitometry.Hasil : Subjek yang merasa tidak puas terhadap citra tubuhnya (merasa gemuk) sebanyak 42 subjek (46.2%). Delapan belas subjek (19.8%) mengalami Eating Disorder Not Otherwise Specified (EDNOS). Subjek dengan gangguan menstruasi sebanyak 25 subjek (27.5%). Subjek dengan kepadatan tulang rendah 23 subjek (25.3%). Pada penelitian ini ditemukan subjek yang mengalami female athlete triad (FAT) sebanyak 2 subjek (2.2%).Simpulan : Sebanyak 46.2% subjek memiliki ketidakpuasan citra tubuh, dan prevalensi FAT di SMA N 1 Semarang sebesar 2.2%.
HUBUNGAN KADAR SENG (Zn) RAMBUT DENGAN Z-SCORE PANJANG BADAN MENURUT UMUR (PB/U) BALITA USIA 12-24 BULAN Susilo, Mursid Tri; Widyastuti, Nurmasari
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.789 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3825

Abstract

Latar Belakang :  Stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek sebagai akibat dari pertumbuhan linear yang terhambat, ditandai dengan z-score panjang badan menurut umur (PB/U) kurang dari -2 SD.  Kadar seng rambut dapat menggambarkan kadar seng kronis pada masa lampau sehingga tepat untuk mengukur kadar seng pada kondisi stunting yang merupakan kondisi malnutrisi yang sudah berlangsung lama.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar seng (Zn) rambut dengan z-score panjang badan menurut umur (PB/U) balita usia 12-24 bulan sehingga dapat menjadi acuan dalam menjelaskan pengukuran kadar seng (Zn) rambut sebagai indikator kejadian stunting secara biokimia.Metode :  Penelitian observasional dengan desain cross sectional, jumlah subjek 58 balita usia 12-24 bulan di kecamatan Semarang Timur.  Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling.  Data asupan makanan diperoleh menggunakan food recall 3x24 jam.  Kadar seng rambut diukur dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS).  Analisis bivariat menggunakan uji Pearson dan Rank-Spearman.Hasil :  Angka kejadian balita stunting (< -2SD) yaitu 36,21%.  Semua subjek memiliki kadar seng rambut normal (198,61 ± 49,73 ppm) dan tidak terdapat hubungan antara kadar seng (Zn) rambut dengan z-score PB/U (r = -0,069; p=0,607).  Kesimpulan :  Kadar seng (Zn) rambut tidak berhubungan dengan z-score PB/U (r = -0,069; p=0,607).     
PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK (Red Yeast Rice) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA WANITA PENDERITA HIPERLIPIDEMIA Balgis, Balgis; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.381 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3741

Abstract

Latar Belakang : Hiperlipidemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Angkak mengandung Monakolin K, yaitu metabolit sekunder yang dapat menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase sehingga menghambat sintesis kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian angkak (Red Yeast Rice) terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada wanita penderita hiperlipidemia.  Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan rancangan control group pre test – post test. Subjek adalah 38 wanita hiperlipidemia dengan kadar kolesterol total ≥200 mg/dl dan atau kadar trigliserida ≥150mg/dl, kelompok perlakuan mendapat 4.8 g/hari angkak dan kelompok kontrol mendapat plasebo. Intervensi dilakukan selama 14 hari. Metode CHOD-PAP digunakan untuk menganalisis kadar kolesterol total dan metode GPO-PAP digunakan untuk menganalisis kadar trigliserida, darah diambil setelah subyek berpuasa selama 10 jam. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji dependent t-test, Wilcoxon, independent t-test dan Mann Whitney.Hasil : Rerata kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum intervensi kelompok perlakuan berturut-turut yaitu 227,52 mg/dl dan 166,57 mg/dl. Rerata kadar kolesterol total dan trigliserida setelah intervensi kelompok perlakuan berturut-turut yaitu 234.31 mg/dl dan 123.36 mg/dl. Konsumsi angkak dengan dosis 4.8 g/hari tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol total (p=0.370) dan trigliserida (p=0.099). Tidak ada perbedaan kadar kolesterol total (p=0.442) dan trigliserida (p=0.447) antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kesimpulan : Konsumsi angkak tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada wanita penderita hiperlipidemia. Tidak terdapat perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida antara kelompok kontrol dan perlakuan.
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PENURUNAN PERSEN LEMAK TUBUH IBU MENYUSUI Harsanti, Yulia; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.317 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3732

Abstract

Latar Belakang: Sebagian besar ibu setelah melahirkan mengalami kenaikan berat badan sampai terjadi obesitas.  Obesitas yang terjadi pada wanita disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi, lingkungan, dan faktor reproduksi. Perubahan fisiologi yang terjadi pasca melahirkan, masa kehamilan dan  menyusui menyebabkan terjadinya obesitas pada ibu. Menyusui secara eksklusif dapat menurunkan berat badan ibu sehingga dapat mengurangi risiko obesitas postpartum.Tujuan: Mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh ibu menyusui.Metode: Desain penelitian cohort dengan jumlah subjek 54 ibu menyusui di wilayah puskesmas Ngemplak Simongan dan Candi Lama. Data yang diteliti meliputi pemberian ASI eksklusif dengan cara wawancara dan kuesioner, persen lemak tubuh yang diukur dengan alat Omron Body Fat Analyzer Scale model HBF-200, dan  asupan lemak menggunakan formulir FFQ semi quantitative. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan uji Fisher’s. Analisis multivariat menggunakan  uji regresi logistik untuk melihat hubungan kedua variabel setelah dikontrol oleh asupan lemak.Hasil: Proporsi pemberian ASI eksklusif sebesar 19 subjek (35,2%) dan ASI tidak eksklusif sebesar 35 subjek (64,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 12 subjek (63,2%) pada kelompok ASI eksklusif dan sebesar 9 subjek (25,7%) pada kelompok ASI tidak eksklusif mengalami penurunan persen lemak tubuh. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh (p=0,007; RR= 2,7). Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh setelah dikontrol oleh asupan lemak (p= 0,006).Kesimpulan: Terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh. Menyusui secara eksklusif menurunkan persen lemak tubuh 2,7 kali lebih besar dibandingkan dengan tidak menyusui secara eksklusif.
HUBUNGAN ANTARA TB/U DENGAN FUNGSI MOTORIK ANAK USIA 2-4 TAHUN Febrikaharisma, Mega Herdanti; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3723

Abstract

Latar Belakang : Perkembangan motorik merupakan perkembangan yang mengontrol gerakan-gerakan tubuh dengan melibatkan koordinasi antara susunan syaraf, syaraf pusat dan otot. Kegiatan yang berhubungan dengan fungsi motorik ini melibatkan suatu mekanisme yang membutuhkan energidan fisik yang adekuat, sehingga status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fungsi motorik. TB/U merupakan indeks yang paling banyak digunakan untuk menentukan status gizi yang diukur secara antropometri terkait dengan fungsi motorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status antropometri dengan fungsi motorik anak.Metode : Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan subjek 40 anak yang diambil secara random sampling. Data status gizi diperoleh dengan pengukuran antropometri dan dikategorikan berdasarkan WHO Anthro 2005. Data fungsi motorik diperoleh dengan menilai fungsi motorik anak menggunakan DDST kemudian dikategorikan berdasarkan penilaian DDST. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji rank Spearman.Hasil : Pada penelitian ini ditemukan 17,5% subjek stunting dan 2,5% subjek severe stunting. Sebanyak 15% subjek memiliki fungsi motorik kasar yang abnormal dan 17,5% subjek suspect. Terdapat 10% subjek dengan motorik halus abnormal dan 20% subjek suspect. Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara TB/U dengan fungsi motorik kasar maupun motorik halus (p>0,05). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara status TB/U dengan fungsi motorik anak usia 2-4 tahun.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 12-24 BULAN (Studi di Kecamatan Semarang Timur) Al-Anshori, Husein; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3830

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan gangguan pertumbuhan karena malnutrisi kronis, yang ditunjukkan dengan nilai z-score panjang badan menurut umur (PB/U) kurang dari -2 SD. Anak 12–24 bulan sangat rentan terjadi masalah gizi stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian stunting.Metode : Penelitian observasional dengan desain case-control dan subjek adalah anak usia 12-24 bulan di Kecamatan Semarang Timur. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, 36 subjek untuk tiap kelompok. Derajat stunting dinyatakan dengan z-score ­PB/U. Data identitas subjek dan responden, riwayat ASI eksklusif, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga dan riwayat penyakit infeksi diperoleh melalui kuesioner. Data asupan zat gizi  diperoleh melalui food recall  24 jam selama 2 hari tidak berurutan. Analisis menggunakan metode Chi Square dengan melihat Odds Ratio (OR) dan multivariat dengan regresi logistik ganda.Hasil : Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 12–24 bulan adalah status ekonomi keluarga rendah (OR= 11.769; p= 0.006; CI 1.401 – 98.853), riwayat ISPA (OR= 4.043; p= 0.023; CI 1.154 – 14.164), dan asupan protein kurang (OR = 11.769; p = 0.006; CI 1.401 – 98.853). Riwayat pemberian ASI eksklusif, pendidikan orang tua, riwayat diare, asupan energi, lemak, karbohidrat, seng dan kalsium bukan merupakan faktor risiko kejadian stunting.Kesimpulan : Status ekonomi rendah, riwayat ISPA, dan asupan protein kurang merupakan faktor risiko yang bermakna pada kejadian stunting anak usia 12-24 bulan.
HUBUNGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 0-6 BULAN Setiyani, Lusi; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.236 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3821

Abstract

Latar Belakang: Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI yang diproduksi dipengaruhi oleh asupan makan dan riwayat gizi ibu. Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan mikronutrien seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Anemia ibu akan berhubungan dengan performa ibu,  kualitas dan kuantitasASI yang akan berpengaruh pada status gizi bayi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan. Metode: Desain penelitian Cross Sectional dengan jumlah sampel 51 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 0-6 bulan. Sampel ditentukan secara Purposive Sampling. Data yang diteliti meliputi kadar Hemoglobin pada ibu yang ditentukan dengan metode Cyanmethemoglobin, berat badan bayi diukur dengan Baby Scale, pemberian ASI eksklusif diketahui melalui wawancara, dan asupan mikronutrien diperoleh melalui formulir Recall 3x24 jam kemudian dihitung dengan nutrisoft. Uji yang digunakan adalah uji Chi Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 60,78% ibu menyusui mengalami anemia dan 3,92% bayi usia 0-6 bulan mengalami gizi kurang. Rerata kadar hemoglobin ibu menyusui sebesar 11,75±1,19 SD dan rerata untuk z-score BB/U bayi sebesar 0,08±1,05 SD. Tidak ada hubungan bermakna antara kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan (p=0,75). Simpulan: Tidak ada hubungan antara kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan.

Page 1 of 4 | Total Record : 40