cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 4 (2020): Oktober" : 10 Documents clear
PENGARUH PEMBERIAN MI BASAH IKAN PATIN TERHADAP INTAKE ENERGI, PROTEIN DAN BERAT BADAN SISWA SD DI PEKANBARU Roziana, Roziana; Fitriani, Fitriani; marlina, yessi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.28785

Abstract

Latar Belakang: Pada tahun 2019, sebanyak 290 juta porsi mi instan dikonsumsi setiap hari di seluruh dunia. Mi basah ikan patin merupakan mi basah yang terbuat dari tepung terigu tinggi protein dimodifikasi dengan menambahkan ikan patin dalam proses pembuatannya untuk meningkatkan kandungan protein pada mi. Berbeda dengan mi instan, mi basah tidak mengandung pengawet, pewarna dan penyedap buatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intake energi, protein dan berat badan sebelum dan sesudah pemberian mi basah ikan patin. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain one group pretest-posttest ini dilakukan pada siswa SDN 147 Pekanbaru dengan metode purposive sampling. Jumlah responden yang terpilih sebanyak 30 siswa dengan status gizi kurang. Intervensi berupa pemberian olahan mi basah ikan patin sebanyak 200 g selama 10 hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan uji wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi, rata-rata intake energi adalah 1174,50 kkal, intake protein 89,66 g dan berat badan awal 27,16 kg. Setelah dilakukan intervensi, rata-rata intake energi menjadi 1371,11 kkal, intake protein 45,95 g dan berat badan akhir adalah 27,67 kg. Simpulan: Terdapat perbedaan rerata intake protein dan berat badan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p = 0,02 dan p = 0,001), sedangkan rerata intake energi tidak mengalami perbedaan yang signifikan (p = 0,142).
PERBEDAAN ASUPAN ENERGI, ZAT GIZI MAKRO, AKTIVITAS FISIK, DAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR Taradipa, Priska Tamara; Margawati, Ani; Purwanti, Rachma; Candra, Aryu
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.28445

Abstract

Latar Belakang: Beberapa sekolah menerapkan proses pembelajaran dan kebijakan yang berbeda terkait aktivitas fisik dan penyelenggaraan makanan. Status gizi dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi dan aktivitas fisik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan asupan energi, zat gizi makro, aktivitas fisik dan status gizi anak sekolah dasar di SD Negeri Lerep 05 dan SD Alam Ungaran. Metode: Desain penelitian cross sectional dengan 44 subjek yang dihitung menggunakan rumus besar sampel 2 kelompok kategorik tidak berpasangan. Subjek berasal dari SD Negeri Lerep 05 dan SD Alam Ungaran. Asupan energi dan zat gizi makro diperoleh dari food record (3 hari: 2 weekdays, 1 weekend) dan dianalisis menggunakan Nutrisurvey. Aktivitas fisik diukur menggunakan Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C). Status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Data dianalisis dengan uji Chi-Square dan Mann-Whitney. Hasil: Sebagian besar subjek dari SDN Lerep 05 memiliki asupan energi kurang selama di sekolah (90,9%), tingkat aktivitas fisik sedang (63,6%), status gizi berlebih IMT/U > 1 SD (45,5%). Sebagian besar subjek dari SD Alam Ungaran memiliki asupan energi cukup selama di sekolah (40,9%), tingkat aktivitas fisik sedang (45,5%), status gizi normal (68,2%). Terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan energi (p=0,001), protein (p=0,001), karbohidrat (p=0,013) subjek selama di sekolah, protein total subjek (p=0,002), aktivitas fisik subjek selama di rumah (p=0,021). Tidak terdapat perbedaan antara asupan energi total subjek (p=0,221), aktivitas fisik subjek di sekolah (p=0,602), status gizi subjek (p=0,167). Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan energi, protein dan karbohidrat subjek selama di sekolah; asupan protein total subjek dan aktivitas fisik subjek selama di rumah. Namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan energi total subjek, aktivitas fisik subjek di sekolah dan status gizi subjek. 
THE EFFECTS OF PAPAYA LEAVES JELLY IN LIPID PROFILE AMONG OVERWEIGHT WOMEN Nissa, Choirun; Pratiwi, Syafira Noor; Majidah, Siti; Rahma, Nadia; Paramastuti, Ratih; Hindarta, Nadhea Alriessyanne; Syauqy, Ahmad; Wijayanti, Hartanti Sandi; Afifah, Diana Nur
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.29160

Abstract

Background : Insulin resistance that occurred in diabetic state could promote endothelial dysfunction which lead to metabolic disease in obese subjects. Although several studies showed papaya leaves had antidiabetic and antihyperlipidemic agent, the effect of papaya leaves jelly is rarely studied on lipid profiles among overweight women.Objectives : We aimed to examine the effect of papaya leaves jelly on lipid profiles in women with overweight. Methods : This study was a pre-posttest controlled group design with both of the groups were overweight. The treatment group consumed papayq leaves jelly with 24.6 grams papaya leaves jelly that contains 182.4 mg chlorophyll, while the control group consumed 24.6 grams jelly with green dye for 20 days in a row. Three-day recall in three non-consecutive days and physical activity using International Physical Activity (IPAQ) were taken three times. Fasting blood sugar was measured using Glucose Oxidase Phenol 4-Aminophenazone (GODPAP). LDL, HDL, total cholesterol, triglyceride levels were measured using Cholesterol Oxidase Para Aminophenazone (CHOD-PAP). Statistical analysis using Paired t-test was used within group, while Independent t-test and Mann-Whitney were used in between groups. Papaya leaves jelly effects on lipid profiles was analyzed using multiple linear regression after considering energy, protein, fat, and carbohydrate intakes. Results : Triglyceride levels was reduced significantly (p=0.014) in the treatment group despite there were no differences in triglyceride (p= 0.407), LDL (p= 0.923), HDL (p= 0.749) and total cholesterol (p= 0.277) between 2 groups. Conclusion : Papaya leaves jelly consumption could lower triglyceride levels significantly in the treatment group.
PENGETAHUAN PEDOMAN GIZI SEIMBANG DAN PERILAKU PILIHAN PANGAN PADA REMAJA PUTRI OVERWEIGHT: STUDI KUALITATIF Silalahi, Vivi Cinthya Rotua; Sufyan, Dian Luthfiana; Wahyuningsih, Utami; Puspareni, Luh Desi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.28708

Abstract

Latar Belakang: Pedoman gizi seimbang merupakan pengetahuan gizi yang harus dipahami oleh remaja putri, namun konsep pedoman gizi seimbang masih belum sefamiliar 4 sehat 5 sempurna. Perilaku pilihan pangan tidak sesuai anjuran pedoman gizi seimbang meningkatkan risiko overweight. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan pedoman gizi seimbang dan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pilihan pangan pada remaja putri overweight. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan triangulasi sumber. Jumlah subjek sebanyak 16 orang. Subjek penelitian ialah remaja dengan status gizi overweight dan normal (sebagai pembanding). Penelitian dilakukan selama 8 minggu. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan seluruh subjek penelitian lebih mengenal 4 sehat 5 sempurna daripada Pedoman Gizi Seimbang. Pedoman gizi seimbang bukan menjadi alasan utama pilihan pangan subjek. Kebiasaan selalu sarapan sudah cukup baik diantara subjek, namun masih tingginya konsumsi pangan tidak sehat seperti makanan/minuman manis, gurih/asin, gorengan, serta komposisi makanan tidak seimbang diantara subjek penelitian.  Simpulan: Perilaku pilihan pangan remaja putri overweight belum sesuai dengan pedoman gizi seimbang disebabkan minimnya keterpaparan informasi PGS serta lebih kuatnya pengaruh faktor eksternal (lingkungan rumah, sekolah, keluarga, dan media digital) maupun faktor internal (organoleptik pangan dan uang saku) dalam pembuatan keputusan pilihan pangan subjek.
HUBUNGAN HbA1c DENGAN CRP PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE-2 DENGAN OBESITAS DAN TANPA OBESITAS Permatasari, Narulita Dyah; Rachmawati, Banundari; Riansari, Anugrah; Limijadi, Edward Kurnia Setiawan
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.29011

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa plasma. Kadar glukosa plasma yang tinggi dalam jangka waktu lama (hiperglikemia kronik), menstimulasi peningkatan kadar C-reactive protein (CRP). Penderita DMT2 dengan obesitas kemungkinan memiliki kadar CRP yang lebih tinggi karena penumpukan sel adiposa juga dapat memicu reaksi inflamasi di dalam tubuh. Mengetahui hubungan antara obesitas, DMT2, dan kadar CRP sangat diperlukan untuk tujuan klinis serta mencegah terjadinya komplikasi penyakit.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dan CRP pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas dan tanpa obesitasMetode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan belah lintang dilakukan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro dan beberapa klinik pratama di Semarang pada Mei-Juli 2020. Subjek penelitian adalah 30 penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas dan 30 penderita diabetes melitus tipe 2 tanpa obesitas usia 35-60 tahun Pengukuran kadar HbA1c dan CRP dilakukan menggunakan alat ichroma metode fluorescence immunoassay (FIA). Analisis statistik untuk menguji normalitas data menggunakan Shapiro wilk test, Independent t test dilakukan untuk mengetahui perbedaan rerata karakteristik antara kelompok obesitas dan non-obesitas, dan Spearman Rank digunakan untuk melihat korelasi antara HbA1c dengan kadar CRP.Hasil:  Tidak ada korelasi antara kadar HbA1c dengan CRP pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas p = 0.420, r = 0,153 dan tanpa obesitas yaitu p= 0,182, r = 0,250.Simpulan: Kadar CRP yang terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dimana inflamasi berjalan kronis tidak dipengaruhi oleh tingginya HbA1c baik pada kondisi obesitas maupun tidak obesitas.
DIETARY PATTERNS WERE ASSOCIATED WITH OBESITY PARAMETERS AMONG HEALTHY WOMEN Syauqy, Ahmad; Noer, Etika Ratna; Fajrani, Alifia Mukti; Kurniawati, Dewi Marfu’ah; Purwanti, Rachma; Rahadiyanti, Ayu; Rahma, Devi Elvina
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.28674

Abstract

Background: Obesity is a growing major health problem in some developing countries including Indonesia. Study examined the association between dietary patterns and obesity parameters using both body mass index (BMI) and waist circumference (WC) among healthy women in Indonesia was still rare.  Objectives: The objective of this study was to evaluate the correlation between dietary patterns and obesity parameters using BMI and WC among healthy women.Methods: This study used a cross-sectional design with consecutive sampling. Healthy women aged 20 and above were selected in this study. Dietary data were collected using a food frequency questionnaire (FFQ). For categorical data, chi-squared test was done to compare the differences in the characteristics of the subjects among tertiles of dietary patterns. For continuous variables, a general linear model test was used for comparison. To evaluate the association between dietary patterns and obesity parameters (BMI and WC), we used multiple linear regression analysis adjusting for multiple confounding variables (age, current smoking, current drinking, and physical activity). Results: Dietary pattern 1 consisted of 12 food items: snack cooked with oil, fish and seafood, processed food, organ meats, meat, poultry, rice- or flour-based products, staples cooked with oil, sugary drinks, refined dessert, and tea and coffee. Dietary pattern 2 consisted of 5 food items: eggs, light-colored vegetables, dark-colored vegetables, fruits, and soybeans. Dietary pattern 3 consisted of 7 food items: milk products, legumes, processed fruits, wholegrain, snacks cooked without oil, root crops, and jam/honey. Dietary pattern 1 was positively associated with obesity parameters including BMI and WC (P < 0.05); whereas, dietary pattern 2 and dietary pattern 3 were inversely correlated (P < 0.05).Conclusions: Our study find that dietary patterns were associated with BMI and WC among healthy women.
GAMBARAN KEJADIAN STUNTING DAN WASTING PADA BAYI DAN BALITA DI TENAYAN RAYA PEKANBARU Addawiah, Rabiatul; Hasanah, Oswati; Deli, Hellena
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.28482

Abstract

Latar belakang: Stunting dan wasting merupakan masalah gizi yang memiliki dampak pada pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak sehingga perlu dilakukan identifikasi sebagai bentuk pencegahan dan diagnosis dini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat angka kejadian stunting dan wasting pada bayi dan balita di Kelurahan Rejosari, Tenayan Raya, Pekanbaru.Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang bersifat retrospektif dengan pendekatan analisis data sekunder. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 409 anak usia 0-59 bulan yang memiliki catatan berat badan dan tinggi badan di Posyandu di Kelurahan Rejosari pada Februari 2020 yang diambil dengan teknik total sampling. Alat ukur yang digunakan adalah data catatan berat badan dan tinggi badan bayi dan balita dan tabel standar antropometri penilaian status gizi anak oleh Kementerian Kesehatan. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden adalah anak usia toddler (45,2%) dan lebih dari separuh responden adalah perempuan (50,6%). Mayoritas anak memiliki status gizi normal menurut indeks panjang/tinggi badan menurut usia (PB/U atau TB/U) dan berat badan menurut panjang/tinggi badan (BB/PB atau BB/TB), ditemukan angka kejadian stunting sebanyak 17,8% dengan kategori pendek (11,7%) dan sangat pendek (6,1%) dan angka kejadian wasting sebanyak 12,2% dengan kategori gizi kurang (8,1%) dan gizi buruk (4,2%). Berdasarkan usia, kejadian stunting lebih banyak terjadi pada toddler (18,9%) dan wasting lebih banyak terjadi pada preschool (15,3%), selanjutnya berdasarkan jenis kelamin, kejadian stunting pada laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda (17,8% dan 17,9%) sedangkan untuk wasting lebih banyak terjadi pada laki-laki (16,3%).Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan meskipun mayoritas anak memiliki status gizi normal berdasarkan PB/U atau TB/U dan BB/PB atau BB/TB, namun masih ditemukan angka kejadian stunting dan wasting. Penelitian ini merekomendasikan kepada masyarakat khususnya keluarga yang memiliki bayi dan balita untuk terus melakukan pemantauan pertumbuhan bayi dan balita secara rutin.
TINGGI BADAN IBU SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN PLERET DAN KECAMATAN PAJANGAN, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA Andari, Wiwid; Siswati, Tri; Paramashanti, Bunga Astria
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.26992

Abstract

Latar belakang:Prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih tinggi (30,8%). Salah satu faktor risiko stunting yaitu siklus malnutrisi kronis antar generasi yang terjadi antara ibu dan anak.Tujuan: Untuk menganalisis apakah tinggi badan ibu merupakan factor risiko stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Pleret dan Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kasus kontrol dengan total kasus sejumlah 43 anak dan total kontrol sebanyak 43 anak. Seluruh sampel diambil dengan menggunakan teknik pengambilan sampel multistage cluster sampling. Variabel dependen yang diteliti adalah stunting, sedangkan variabel independent adalah tinggi badan ibu. Data dianalisis dengan menggunakan deskriptif statistik, uji chi-square dan regresi logistik ganda.Hasil: Tinggi badan ibu secara signifikan merupakan prediktor stunting (adjusted OR= 2,720; 95%CI: 1,050-7,049). Faktor lain seperti tinggi badan ayah, tingkat pendidikan ayah dan ibu, jenis pekerjaan ayah dan ibu, serta jenis kelamin anak bukan merupakan faktor risiko stunting.Simpulan: Tinggi badan ibu merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 24-59 bulan. Intervensi yang difokuskan pada periode 1000 hari pertama kehidupan dibutuhkan untuk mencegah terjadinya stunting akibat dari siklus malnutrisi antar generasi.
HUBUNGAN KONSUMSI IKAN TERHADAP RISIKO SINDROM METABOLIK PADA WANITA OBESITAS ABDOMINAL Noer, Etika Ratna; Syauqy, Ahmad; Rahardiyanti, Ayu; Fitranti, Deny Yudi; Ayustaningwarno, Fitriyono; Fajrani, alifiaA muktiM
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.29147

Abstract

Latar belakang: Obesitas abdominal dikaitkan dengan sindrom metabolic yang dikombinasikan dengan dislipidemia, intoleransi glukosa, dan hipertensi. Obesitas abdominal muncul untuk mendahului munculnya komponen sindrom metabolik lainnya, dipicu oleh kenaikan berat badan, terutama peningkatan penumpukan lemak perut. Ikan merupakan sumber protein hewani yang bergizi. Konsumsi ikan diketahui dapat menjadi pangan fungsional dengan cara melindungi terhadap beberapa jenis penyakit.Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan ikan dalam seminggu dengan sindrom metabolik dan komponennya pada wanita obesitas abdominal, diharapkan bahwa konsumsi ikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko sindrom metabolic yang lebih rendah dan profil metabolisme yang lebih baikMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observatif dengan desain cross–sectional dan teknik pengambilan sampel purposive sampling sebanyak 88 wanita yang mengalami obesitas abdominal. Pengumpulan data dilakukan setelah melakukan puasa selama 12 jam sebelum pemeriksaan dan asupan ikan diperolah dari FFQ. Uji hubungan dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson.Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara konsumsi ikan dalam seminggu dengan komponen sindrom metabolic seperti GDP (p < 0,001, r=-0,376), kolesterol total (p < 0,05, r=-0,270), HDL (p < 0,001, r=0,349), LDL (p < 0,001, r= -0.421) dan LBTB (p < 0,001, r=-0,856) dengan korelasi positif dan sangat kuat. Terdapat 53,4% subjek mengonsumsi ikan 1-3 kali/minggu.Simpulan: Konsumsi ikan memiliki korelasi positif dengan komponen sindrom metabolic. Penggantian sumber lemak jenuh menjadi lemak n-3 dapat menjadi efek terapeutik untuk perbaikan sindrom metabolik, namun diikuti dengan jangka waktu yang lama
ANALISIS KANDUNGAN LEMAK PADA ABON YANG DIBUAT DARI JANTUNG PISANG (Musa paradisiaca) DAN IKAN SIDAT (Anguilla marmorata) Astija, Astija; Djaswintari, Djaswintari
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.27789

Abstract

Latar belakang: Jantung pisang biasa diolah dalam bentuk abon, namun nilai gizinya masih rendah khususnya lemak. Oleh karena itu maka abon tersebut perlu ditambhakan ikan sidat yang diketahui memiliki cukup kadar lemak.Tujuan: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kadar lemak pada abon dari campuran jantung pisang (Musa paradisiaca) dengan ikan sidat (Anguilla marmorata).Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimen yang terdiri atas 5 perlakuan yaitu abon dengan; komposisi 100 gram jantung pisang (P0), komposisi 75 gram jantung pisang dan 25 gram ikan sidat (P1), komposisi 50 gram jantung pisang dan 50 gram ikan sidat (P2), komposisi 25 gram jantung pisang dan 75 gram ikan sidat (P3) dan komposisi 100 gram ikan sidat (P4). Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Kemudian, abon dianalisis mengenai kandungan lemaknya dengan menggunakan metode soxhlet.Hasil: Nilai rata-rata kandungan lemak yang diperoleh pada abon campuran jantung pisang dan ikan sidat adalah P0 (=15,59%) P1 (=17,57%), P2 (=23,12%), P3 (=26,42%) dan P4 (27,23%).Simpulan: Ikan sidat menambah nilai kadar lemak pada abon namun kadar lemaknya masih dibawah standar yang ditentukan oleh Standar Industri Indonesia sehingga abon ini layak dikonsumsi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10