cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015" : 21 Documents clear
TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT DAN STATUS EKOSISTEM ZONA INTI DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Perdana, Ratri Canar; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.91 KB)

Abstract

Zona inti sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Perairan diperuntukan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, penelitian dan pendidikan dengan tetap mempertahankan perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati yang asli dan khas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status ekosistem zona inti dilihat dari kondisi ekosistem karang, ikan karang dan keberadaan biota khas; mengukur kualitas perairan zona inti ditinjau dari tingkat tropik saprobik perairan; dan mengetahui tingkat pemahaman dan kepedulian masyarakat Kepulauan Seribu mengenai batas dan fungsi ekosistem zona inti di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Metode penelitian ini adalah metode deskriptif yang digunakan untuk membuat gambaran atau deskripsi  suatu keadaan secara objektif. Pengamatan dilakukan pada dua aspek, yaitu aspek ekologi dan sosial.Pengamatan aspek ekologi di 5 stasiun pada zona inti II dan 3 stasiun pada zona inti III, mencakup karang, ikan karang, biota khas dan parameter kualitas air. Pengamatan aspek sosial dilakukan wawancara kepada Petugas BTNKpS dan 40 responden masyarakat. Hasil menunjukkan status ekosistem zona inti masih tergolong baik. Pengamatan di lapangan ditemukan 10 famili karang, 8 famili ikan karang dan 2 biota khas dilindungi yaitu Tridacna sp dan Lambis sp yang sudah sulit ditemukan. Kualitas perairan  juga masih tergolong baik dengan rata-rata nilai SI dan TSI perairan di zona inti II yaitu 0,834 dan 1,592 tergolong dalam oligosaprobik dengan indikasi tercemar ringan atau belum tercemar sedangkan pada zona inti III rata-rata yaitu 0,64 dan 0,72 tergolong dalam β – mesosaprobik dengan indikasi adanya pencemaran ringan sampai sedang. Tingkat pemahaman masyarakat mengenai batas dan fungsi zona inti  yang tergolong paham sebanyak 47,5% lebih sedikit dari jumlah yang tergolong kurang sampai tidak paham yaitu 52,5%. Tingkat kepedulian masyarakat terhadap konservasi di kawasan zona inti yang tergolong peduli sebanyak 53,8% sedikit lebih banyak dari jumlah responden yang tergolong kurang peduli sampai tidak peduli yaitu 46,2%. Core zone as partof  Waters Conservation Area was intended for absolute protection of both habitat and fish populations, research and education purpose and  maintenance the protection of nature and typical biodiversity representation. The purpose of the study were to determine the core zone ecosystem status based on the condition of existing coral ecosystems, coral fishes and the presence of typical biota; to measure waters quality of the nucleus zone reviewed by aquatic trophic saprobic levels; and to determine  level of local community comprehension and participation of the boundaries and function of the nucleus zone at the Seribu Island National Park. The research method was descriptive method to makes a description of a situation objectively. Observation was made on two aspects, that were ecological and social aspects. Observation on the ecological aspects was set in 5 stations at the core zone II and 3 stations at the core zone III, includes corals, coral fishes, typical biota and waters quality parameters. Observation on the social aspect done by interviewing 40 respondens of local community and BTNKpS officers. Results indicate that the status of core zone ecosystem was still relatively good. Field observation was found 10 families of corals, 8 families of coral fishes and 2 typical biota that were Tridacna sp and Lambis sp which were rarely found. The average value of SI and TSI waters in the core zone II was 0.834 and 1.592 categorized in oligosaprobic with indication light polluted or not polluted while in the core zone III the average is 0.64 and 0.72 categorized in β - mesosaprobic with indication mild to moderate polluted. The level of local community comprehension about the boundaries and functions of the corezone was 47,5% understand, less than not understand categorized which was 52,5%. The level of local community awareness of conservation in the core zone was 53,8% aware, more than the not aware categorized which was 46,2%.
TINGKAT KELAYAKAN KUALITAS AIR UNTUK KEGIATAN PERIKANAN DI WADUK PLUIT, JAKARTA UTARA da Linne, Eugene Ramarta; Suryanto, Agung; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.283 KB)

Abstract

Jakarta memiliki banyak rawa untuk mengatasi masalah banjir. Salah satunya, waduk pluit. Tetapi, waduk pluit hanya dijadikan sebagai ekosistem yang berguna untuk mengurangi banjir, dan rekreasi taman keluarga, belum terdapat upaya pengembangan dalam bidang ekonomi dan perikanan yang berguna bagi peningkatan nilai ekonomi dan perikanan. Mengenai pemanfaatan sumberdaya perairan untuk kepentingan kegiatan perikanan, maka perlu diadakan analisa tingkat kelayakan kualitas air di Waduk Pluit berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kelayakan kualitas air Waduk Pluit untuk kegiatan perikanan dan jenis kegiatan perikanan yang cocok dikembangkan di Waduk Pluit. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis yang dapat diartikan sebagai prosedur penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa ataupun kejadian, serta mengumpulkan informasi berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya kemudian dianalisis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive Sampling dimana pengambilan sampel diambil berdasarkan keperluan penelitian, artinya setiap unit atau individu yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja berdasar pertimbangan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan Waduk Pluit ditinjau dari parameter fisika, kimia dan biologi memiliki nilai kualitas air yang tidak layak untuk dilakukan kegiatan perikanan.  Jakarta has a lot of swamps to overcome the problem of flooding. One of them is Waduk Pluit. However, the reservoir is only used as development ecosystem to reduce flooding and recreation family parks, there has no effort in the field of economic and fisheries that use to improve economic value and fisheries. Regarding the utilization of aquatic resources for fisheries activities, it is necessary to analysis feasibility of water quality in the Waduk Pluit based on parameters of physical, chemistry, and biological. The general objective of this study were to determine the feasibility of reservoir water quality for fisheries activities and suitable fisheries activities to be developed in the Waduk Pluit. The method used is descriptive analysis which can be interpreted as a research procedure that seeks to describe a phenomenon, event or occurrence, and to gather information based on the facts as they appear or later be  analysed. The sampling technique used was purposive sampling. In which sample took based on the purposes of the study, meaning that every unit or individual drawn from the population selected purposefully based on certain considerations. The results showed that the water quality of the Waduk Pluit in terms of physical, chemistry and biological parameters has water quality values that unsuitable for fisheries activities.
STRUKTUR POPULASI DAN ANALISIS PARASITOLOGI KEONG MAS (Pomacea canaliculata Lamarck 1819) DI DESA JABUNGAN, SEMARANG Widiastuti, Lusiana Rahayu; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.269 KB)

Abstract

Desa Jabungan memiliki sawah yang cukup luas dengan beberapa jenis Gastropoda didalamnya. Gastropoda yang banyak ditemui adalah keong mas (Pomacea canaliculata) yang merupakan salah satu sumberdaya perikanan tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Penelitian yang dilaksanakan pada Juni – Juli 2014 ini bertujuan untuk mengaji struktur populasi serta mengetahui jenis parasit yang dikandung keong mas. Sampel dikumpulkan dari sawah irigasi Desa Jabungan, Kecamatan Tembalang. Area pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga lokasi di perairan sawah Desa Jabungan, yaitu: inlet, tengah, dan outlet. Metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini, sedangkan teknik pengambilan sampel bersifat purposive sampling. Ukuran keong mas yang didapat selama 4 kali sampling berkisar antara 9,1 mm – 40,5 mm, dengan total kerapatan populasi tertinggi pada inlet, yaitu sebanyak 100 ind/m2, di bagian tengah 40 ind/m2, dan di outlet sawah 96 ind/m2. Pola distribusi populasi keong mas selama penelitian bersifat mengelompok. Sifat pertumbuhan alometrik yang ditaksir dari variabel panjang cangkang terhadap berat kering jaringan, antara tanggal 19 Juni 2014 dan 3 Juli 2014 diketahui bersifat alometrik positif, sedangkan pada tanggal 26 Juni 2014 dan 10 Juli 2014 bersifat alometrik negatif. Pengamatan parasit dilakukan pada individu dengan kisaran ukuran 13,3 mm – 40,7 mm. Sampel tanggal 19 Juni 2014 mengandung 8 spesies parasit yaitu Opistorchis viverrini, Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, dan Echinococcus granulosus. Adapun sampel tanggal 10 Juli 2014 mengandung 13 spesies parasit yaitu Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, dan Telur Echinostoma sp.Jabungan is a village with a fairly extensive rice fields with some type of gastropod therein. Gastropods mostly found is the golden snail (Pomacea canaliculata) which is one of the freshwater fishery resources consumed by local residents. This study was carried out in June-July 201, aimed to examine the structure of the golden snail population and knowing the type of parasite contained within the golden snail. Snail collected from rice fields irrigated Village Jabungan, district Tembalang. Sampling area were divided into three locations in the waters of the rice field Jabungan village, namely: the inlet, middle, and outlet. The Case study method is used in this study, whereas the technique of sampling is purposive sampling. Size of golden snail obtained from 4 times sampling ranged between 9,1 mm – 40,5 mm, with a total population of highest density on the inlet i.e., 100 ind/m2, in the central part of the rice fields 40 ind/m2, and at the outlet of the rice fields 96 ind/m2. The snail population distribution patterns during the study is clumped. Type of allometric growth obtained from dry tissue weight against shell length varied, between June 19, 2014 and July 3, 2014 is positive allometric, while on June 26, 2014 and July 10, 2014 is a negative allometric. Observation of parasite performed on individuals with a range of size 13.3 mm – 40,7 mm. A sample on June 19, 2014 contained 8 species of parasites i.e., Opistorchis viverrini Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, and Echinococcus granulosus. Whereas a sample on July 10, 2014 13 species of parasites were found Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spirallis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, and Echinostoma sp’s egg.
SUMBERDAYA PERIKANAN BENTOS: Terebralia sp. DI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE (STUDI KASUS DI KAWASAN MANGROVE DESA BEDONO, KEC. SAYUNG, KAB. DEMAK) Noersativa, Farah Nabila; Anggoro, Sutrisno; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.624 KB)

Abstract

Terebralia sp. merupakan salah satu jenis gastropoda yang menjadi indikator kestabilan dari ekosistem mangrove Keberadaan struktur dan distribusi populasi bentos Terebralia sp. dapat melihat seberapa jauh keberhasilan penghijauan yang ada di kawasan hutan mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan distribusi populasi serta pola pertumbuhan bentos Terebralia sp. di kawasan mangrove, dan mengetahui hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi bentos Terebralia sp.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengambilan sampel siput Terebralia sp. menggunakan metode plot sampling yang terdiri dari 3 stasiun. Setiap stasiun terdiri dari line transek sepanjang 100 m  yang dibentangkan tegak lurus dari garis pantai memotong hutan mangrove yang kemudian dibagi menjadi 20 plot dan dilakukan pemeriksaan siput Terebralia sp. dengan kuadran 0,5x0,5m. Sampel yang diperiksa dicatat panjang cangkang dan berat basah. Distribusi dan pola persebaran siput Terebralia sp. dianalisis dengan Indeks Morisita. Pola dan sifat pertumbuhan dianalisis dengan analisis panjang berat dan faktor kondisi. Analisis komunitas vegetasi mangrove dianalisis dengan metode inventarisasi.  Analisis hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan Terebralia sp. dilakukan dengan uji statistik korelasi non paramterik. Hasil penelitian didapatkan struktur populasi Terebralia sp. terdiri dari kepadatan populasi tertinggi sebanyak 152 individu/m2, pola sebaran populasi Terebralia sp. ketiga stasiun adalah dengan pola mengelompok, distribusi frekuensi panjang paling banyak adalah pada kelas interval 25-28 mm yaitu sebanyak 74 individu, pola pertumbuhan siput Terebralia sp. berdasarkan hubungan panjang dan berat adalah allometrik negatif dan nilai faktor kondisi Stasiun 1, 2, dan 3 berkisar antara 4,54 – 5,12 . Hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi Terebralia sp. ditemukan memiliki korelasi sangat lemah (r = 0,118). Terebralia sp. is one type of gastropods as indicators of the mangrove ecosystem stability. The existence of the population structure and distribution of Terebralia sp. could determined how much the success of reforestation in the area of mangrove forests in Bedono village, District Sayung, Demak. This research was conducted in order to know the population structure and distribution and growth patterns of Terebralia sp. in mangrove areas, and determining the relationship between mangrove density and Terebralia sp  density. The methods that used in this research is using sampling plot methods that consist of 3 stasions. Each stations are consist of 100 metres transect line whixh was stretched perpendicular to the shoreline and cut off the mangrove forest area. The transect line was divided to 20 plots. The examination of lenght and weight of  Terebralia sp. was did with 0,5x0,5 metres quadrant at each plots. The distribution pattern of Terebralia sp. was analyzed by Morisita Index. The growth pattern of Terebralia sp. was analyzed by weight and lenght analysis and condition factor analysis. The mangrove comunity analysis was analyzed by Inventarisation method. The  relationship between mangrove density and Terebralia sp. density is performed using a statistical test of non-parametric correlation. The results showed that a population structure Terebralia sp. consists of the highest population density as much as 152 individuals/m2, the pattern of population distribution Terebralia sp. at all station showed a clustered pattern, the length frequency distribution at the most is as many as 74 individuals on the 25-28 mm class intervals, the pattern of growth Terebralia sp. based on the length and weight relationship is negative allometric, and the value of condition factors of Station 1, 2, and 3 is about 4.54 -  5.12. The relationship between mangrove density and Terebralia sp. density found that they have a very weak correlation (r = 0.118).
RESPON IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) TERHADAP MAKANAN BUATAN PADA SKALA LABORATORIUM Sembiring, Asrika Yupina; Hendrarto, Boedi; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.254 KB)

Abstract

Indonesia memiliki sumberdaya alam yang mendukung untuk kegiatan budidaya ikan sidat. Salah satu faktor utama dalam budidaya untuk meningkatkan pertumbuhan adalah asupan makanan yang baik dan memiliki kandungan gizi yang cukup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ikan Sidat yang mendekat dan yang mengkonsumsi pakan buatan yang diberikan; untuk mengetahui berapa lama waktu ikan Sidat mendekati pakan; dan untuk mengetahui nilai FCR pakan buatan yang diberikan kepada ikan Sidat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen laboratoris dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pemberian jenis pakan yang berbeda digunakan sebagai perlakuan A, B dan C yaitu pemberian pakan keong mas, ikan rucah dan udang rebon. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 10,14 gram/ulangan. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Sidat (Anguilla bicolor) pada stadia yellow eel dengan rata-rata bobot awal 7-10 gram. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran (100x30x50) cm3 yang diisi dengan 40 liter air tawar. Lama pemeliharaan selama 30 hari dengan padat tebar 5 ekor/akuarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan Sidat yang paling banyak mendekat dan mengkonsumsi pakan pada pengamatan pagi hari maupun sore hari terdapat pada perlakuan C, diikuti dengan perlakuan B dan yang paling sedikit terdapat pada perlakuan A. Berdasarkan hasil yang didapat selama penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa respon ikan Sidat berbeda terhadap makanan buatan yang diberikan. Udang rebon merupakan jenis makanan yang paling direspon oleh ikan Sidat baik dari jumlah ikan yang mendekat maupun yang mengkonsumsi pakan. Nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang paling tinggi adalah pada perlakuan A yaitu 17,82 dan yang paling rendah adalah pada perlakuan C yaitu 15,38. Indonesia has a natural cultivation to increase the growth is good food intake that enough nutrients contains. The purpose of this research were to find out the respond of Eel which approach and consume the artificial food; to know the approaching time to the feed; and to know Food Convertion Ratio (FCR) value of the artificial food given to Eel. The method used in this research was laboratory experimental using a random complete design (RCD) with 3 treatments and 3 replications. The treatments of different kond of food applied as A, B and Ctreatments were golden anails, trash fish and brine shrimp. The amount of feed that given as much as 10,14 grams for each treatments. The experimental fish that used in this research was yellow eel with average body weigth of 7-10 grams. The Eel were kept in 100x30x50 cm3 size aquarium filled with 40 liter fresh water. The Eel stock density was 5/container and be reared for 30 days. The result showed that the highest number of Eels approaching and comsuming the feed in the morning and afternoon observation days was treatment C, followed by treatment B and the last found in treatment A. Based on the results obtained during the research could be inferred that Eel respond was different toward the given artificial food. Brine Shrimp was a kind of feed that are most responded by Eel, both in the number of fish that approach and consume the feed. The highest Food Convertion Ratio (FCR) values was in the treatment A (17,82) and the lowest was in the treatment C (15,38).
LAJU FILTRASI KERANG HIJAU (Perna viridis) TERHADAP Skeletonema costatum PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS Hutami, Febry Entya; Supriharyono, -; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.796 KB)

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan organisme filter feeder dimana dalam mendapatkan  makanannya dilakukan dengan cara menyaring makanan berupa plankton di perairan. Kemampuan filtrasi akan mempengaruhi kuantitas makanan yang masuk ke dalam organ pencernaan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan kerang itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju filtrasi kerang hijau pada berbagai tingkat salinitas dan mengetahuihubungan antara salinitas media penelitian terhadap laju filtrasi.Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga kali pengulangan. Perlakuan A (penggunaan kerang hijau dengan kepedatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 25‰), B (pengunaan kerang hijau dengan kepadatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 30‰), dan C (pengunaan kerang hijau dengan kepadatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 35‰). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju fiktrasi kerang hijau (Perna viridis) pada t1 untuk salinitas 25‰ diperoleh sebesar 0,071 L/jam, salinitas 30‰ diperoleh sebesar 0,052 L/jam, dan salinitas 35‰ diperoleh sebesar 0,083 L/jam. Pada t2 salinitas 25‰ diperoleh sebesar 0,046 L/jam, salinitas 30‰ diperoleh sebesar 0,024 L/jam, dan salinitas 35‰ diperoleh sebesar 0,049 L/jam. Berdasarkan analisa anova satu arah antara nilai laju filtrasi dan salinitas tidak diperoleh nilai signifikan, sedangkan analisa anova satu arah antara laju filtrasi dan waktu diperoleh nilai signifikan yaitu 0,013.Salinitas 35‰ menunjukkan laju tertinggi filtrasi kerang hijau (Perna viridis). Green mussel (Perna viridis) is a filter feeder organism which get food by filtering plankton from the waters. Filtration ability will effect in food quantity which enter throught digestion and finally will effect on mussel growth. The objective of this study is to investigate the ratio of the value of filtration rate of Perna viridis and to find the correlation between variousof salinity level on filtration rate of green mussel (Skeletonema costatum). This study used laboratories experimental method, using Completely Randomize Design (RAL) with 3 (three) treatments and 3 (three) replications. Treatment A (using 5000000 sel/L density of green mussel on 25‰), B ( using 5000000 sel/L density of green mussel on 30‰), and C ( using 5000000 sel/L density of green mussel on 35‰). Result of the study shows that the average of filtration rate Perna viridis on t1; salinity of 25‰ was 0,071 L/hour, salinity of 30‰ was 0,052 L/hour, and salinity of 35‰ was 0,083 L/hour. While on t2; salinity of 25‰ was 0,046 L/hour, salinity of 30‰ was 0,024 L/hour, and salinity of 35‰ was 0,049 L/hour. According to ANOVA with one way analisys between filtration rate and salinity showed that not significant different (p<0,05), while  analysis between  filtration rate and time showed significantly different (p>0,05). The highest filtration rate of green mussel (Perna viridis) occurred on salinity 35‰. 
KELIMPAHAN ZOOXANTHELLAE PADA Acropora sp. BERDASARKAN KEDALAMAN PERAIRAN DAN NAUNGAN YANG BERBEDA DI PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Rauf, Khaslinda Pratiwi; Supriharyono, -; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.14 KB)

Abstract

Zooxanthellae merupakan mikroalga yang hidup bersimbiosis dengan karang. Acropora sp. merupakan salah satu jenis karang yang dapat hidup dan berkembang mulai dari rataan terumbu (reef flat) hingga tubir (slope), baik dalam keadaan ternaung maupun tidak. Tipe naungan akan mempengaruhi simbiosisnya dengan zooxanthellae. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran karang Acropora sp. yang ada di pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta, dan menganalisis perbedaan kelimpahan zooxanthellae karang Acropora sp. berdasarkan kedalaman dan tipe naungan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di 3 stasiun selatan pulau Pari, berlangsung antara 20-23 Juni 2014. Pada Penelitian ini diukur penutupan terumbu karang khususnya Acropora sp yang hidup, kualitas air dan kelimpahan zooxanthellae. Analisis perbedaan kelimpahan zooxanthellae menggunakan uji chi-kuadrat. Persentase penutupan Acropora sp. di selatan pulau Pari mendominasi jenis karang hidup dengan persentase 30,6 % sampai dengan 41,6 % di reef flat dan 29,5 % sampai dengan 50,1 % di slope. Kelimpahan zooxanthellae pada tipe naungan non-shading lebih tinggi dan terdapat perbedaan yang sangat nyata dibandingkan tipe naungan shading. Berdasarkan kedalaman perairan yang berbeda, kelimpahan zooxanthellae yang ditemukan pada level kedalaman reef flat lebih tinggi dan terdapat perbedaan yang sangat nyata daripada level kedalaman slope. Kelimpahan zooxanthellae berdasarkan stasiun menunjukkan bahwa kelimpahan tertinggi terdapat pada staiun I kemudian stasiun III dan yang terendah pada stasiun II, hal ini terjadi dikarenakan kondisi lingkungan antar stasiun yang berbeda.  Zooxanthellae is a microalga lived inside the coral’s tissue by symbiotic system. Acropora sp. is one of those species that can live and develop from the reef flat to slope, both in shading or not. The difference of shading will affect the symbiotic between coral and zooxanthellae. The purposes of this study were to determine the distribution of Acropora sp. in Pari Island and analyze the differences abundance of zooxanthellae inside Acropora sp based on depth  and  shading’s type. This research had been carried out in three stations in south of Pari island from 20 to 23 June 2014. This study measured the covering of living coral especially Acropora sp., water quality and zooxanthellae's abundance. Analysis for differences of zooxanthellae's abundance used chi-square test. Percentage of coral cover, Acropora sp., in the south of Pari Island was dominated by living coral species, at 30.6-41.6% in the reef flat area and 29.5-50.1% in the slope area. Zooxanthellae's abundance on non-shading part was highly significant higher than shading part. As well based on the depth, the abundance of zooxanthellae on reef flat was highly significant higher (P > 0.01) than on  the slope. Abundance of zooxanthellae based on station showed that the highest abundance found in station I, station III and the lowest one appeared at station II, because the environmental condition in every stations were different.
TINGKAT KERJA OSMOTIK DAN PERKEMBANGAN BIOMASSA BENIH BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii) YANG DIKULTIVASI PADA MEDIA DENGAN SALINITAS BERBEDA Putri, Adelia Khrisna; Anggoro, Sutrisno; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.794 KB)

Abstract

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) atau yang dikenal dengan Pompano, mulai mendapat tempat di hati masyarakat, serta merupakan salah satu potensi unggulan dari perikanan. Ikan ini dapat dibudidayakan di Indonesia dan mempunyai daya adaptasi tinggi dan mudah dibudidayakan. Sebagai upaya optimalisasi budidaya bawal bintang (Trachinotus blochii), dibutuhkan kondisi yang optimum sesuai kebutuhan hidup bawal bintang. Dalam media, salinitas merupakan salah satu faktor fisiologis yang berpengaruh terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Tujuan penelitian adalah mengkaji respon tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan biomassa benih bawal bintang. Benih bawal bintang diperoleh di Balai Budidaya Laut Batam. Pakan yang diberikan adalah pellet sebanyak 10% bobot biomassa/hari. Metode rancangan acak lengkap diterapkan dalam penelitian ini dengan perlakuan media salinitas 15‰, 23‰, dan 31‰. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas media yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan biomassa. Tingkat salinitas media memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan benih bawal bintang (Trachinotus blochii). Media salinitas 23‰ merupakan media terbaik bagi tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan benih bawal bintang. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak bagi benih bawal bintang. Silver Pompano (Trachinotus blochii) known as Pompano and is one of the excellent potential of the fishery. These fish can be cultivated in Indonesia and has a high adaptability and easily cultivated. The optimum condition of the media in accordance with the necessities of life (eco physiology) Silver pompano for domestication is not been understood, therefore the present work was aimed to examine the influence of different media salinity on the level of osmotic performance, growth, survival rate and feed efficiency. Three salinity medium were applied, 15‰, 23‰, and 31‰. The result showed that salinity affected very significantly (P<0,05) on the level of osmotic work (TKO), growth, feed utilization efficiency but no effect (P>0,05) on survival rate of Silver Pompano (Trachinotus blochii). The isoosmotic media (23‰) is the best for osmotic performance, growth, survival rate, and feed utilization efficiency silver pompano (Trachinotus blochii). Water quality during the research is still in a decent range for Silver pompano seeds. 
PENILAIAN KERENTANAN PANTAI DI SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG TERHADAP VARIABEL OCEANOGRAFI BERDASARKAN METODE CVI (COASTAL VULNERABILITY INDEX) Handartoputra, Aly; Purwanti, Frida; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.985 KB)

Abstract

Pantai Sendang Biru berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, perlu dijaga karena letaknya berdekatan dengan wilayah Cagar Alam Pulau Sempu. Banyak aktivitas masyarakat yang dapat mempengaruhi kerentanan ekosistem pantai, sehingga perlu dilakukan kajian tentang kerentanan ekosistem pantai agar dapat mengantisipasi dampak kerentanan dan mendukung konservasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerentanan ekosistem pantai berdasarkan parameter fisik sebagai variabel oceanografi dan parameter sosial ekonomi, serta mengetahui nilai indeks kerentanan ekosistem pantai di Pantai Sendang Biru. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014 dengan menganalisis data parameter fisik (geomorfologi, erosi/akresi, kemiringan pantai, jarak tumbuhan dari pantai, tinggi gelombang, dan kisaran pasang rata rata) sebagai variabel oceanografi dan parameter sosial ekonomi menggunakan konsep Coastal and Vulnerability Index (CVI) yang diadaptasi dengan kondisi perairan setempat. Metode pengambilan data lapangan dengan mengamati sepanjang garis pantai menggunakan sel ukuran 50x50 m sehingga didapatkan 18 sel. Hasil penelitan Kerentanan Ekosistem Pantai berdasarkan parameter fisik sebagian besar termasuk dalam kategori kerentanan rendah < 20,5, namun bila dikaitkan dengan faktor sosial ekonomi masyarakat termasuk dalam kategori kerentanan sangat tinggi, Nilai CVI sebagian besar berada di tingkat rendah dengan kisaran < 20,5., kecuali sel 5 pada kategori tingkat kerentanan menengah (CVI 23,09), sedangkan sel 6 dan 18 pada kategori tingkat kerentanan tinggi (CVI 25,82). Sendang Biru Beach is located at District Sumbermanjing Wetan, Malang Regency, should be managed because of near by the Sempu Island Sanctuary. Many community activities could affect vulnerability of coastal ecosystems, so it is necessary to study on vulnerability of coastal ecosystems to anticipate vulnerability impact and to support environmental conservation. This study aimed to determine vulnerability condition of coastal ecosystems based on physical parameters as oceanography variables and socio-economic parameters, and to know the value of coastal ecosystem vulnerability index at the Sendang Biru Beach. The study was conducted on May 2014 by analyzing the physical parameters data (geomorphology, erosion / accretion, coastal slope, vegetation distance from the coast, wave height, and average tidal range) as oceanographic variables and the socio-economic parameters using Coastal Vulnerability Index (CVI) concept that is adapted to the coastal waters. Data collection methods on the field by observing coastline using 50x50 meter cell so it gained 18 cells. The results of Coastal Ecosystem Vulnerability based on physical parameters mostly categorized at low level with a range <20.5, however when it associated to the socio-economic factors was categorized at very high levels, CVI value mostly categorized at low level with a range <20.5, except for the 5th cells was categorized at medium level of vulnerability (23.09)., while the 6th and 18th cells were categorized at high levels of vulnerability (25,82).
KELIMPAHAN UNDUR-UNDUR LAUT (HIPPIDAE) DAN SEBARAN SEDIMEN DI PANTAI PAGAK KECAMATAN NGOMBOL, PURWOREJO, JAWA TENGAH Darusman, Viki; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.652 KB)

Abstract

Undur-undur laut (Hippidae) merupakan jenis Krustasea yang memiliki nilai ekonomis dan memiliki peran ekologis pada suatu perairan. Undur-undur laut banyak tersebar di seluruh belahan dunia, namun keberadaan Undur-undur laut di Indonesia masih belum banyak diketahui.  Pantai Pagak merupakan pantai berpasir di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata dan area budidaya udang. Pantai Pagak memiliki gelombang yang kuat karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sedimen di pantai Pagak memiliki ukuran diameter butiran yang bervariasi dan merupakan habitat bagi Undur-undur laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan Undur-undur laut (Hippidae) dan mengetahui hubungan ukuran diameter butiran sedimen dengan kelimpahan Undur-undur laut di pantai Pagak, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data kelimpahan Undur-undur laut menggunakan line transek sepanjang 10 meter ke arah laut, dimana tiap meternya dilakukan pengambilan sampel Undur-undur laut dan sedimen dengan kuadran transek berukuran 1x1 meter. Hasil penelitian menunjukkan ada dua jenis Undur-undur laut di pantai Pagak, yaitu Emerita emeritus dan Hippa ovalis, dengan kelimpahan 684 individu/50m2. Kelimpahan Undur-undur laut berhubungan erat dengan ukuran diameter butiran sedimen, dimana Undur-undur laut lebih melimpah pada ukuran diameter butiran sedimen 0,25 – 1 mm. Mole Crab (Hippidae) is a type of Crustacean that has economic value and ecological role in marine environment. Mole crab widely spread around the world, however the presence of Mole crab in Indonesia is still not widely known. Pagak beach is a sandy beach on the South coast of Java island which be a tourist attraction and shrimp cultivation area. The Pagak beach has a strong waves due to direct connection to the Indian Ocean. Sediment in the Pagak beach have a varied grain size diameter, and be a mole crab habitat. This research aims to determine  abundance of Mole crab and relationship of sediment grain size diameter to the abundance of Mole crab in the Pagak beach, Purworejo, Central Java. This research was conducted on April 2014. The data collection method of Mole crab abundance using line transect along 10 meters toward the sea, and samples of Mole crab and sediment were taken in every meter using 1x1 quadrant transect. The research show that there are two kinds of Mole crab, i.e.  Emerita emeritus and Hippa ovalis with an abundance of 684 individual/50m2. The abundance of Mole crab has a close relationship to sediment  grain size diameter in which the Mole crab more abundent in the sediment  grain size diameter of 0,25-1 mm.

Page 2 of 3 | Total Record : 21