cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 29 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015" : 29 Documents clear
KELIMPAHAN LARVA UDANG Penaeid PADA SAAT PASANG DI SALURAN TAMBAK DESA GEMPOLSEWU, KAB. KENDAL Riyana, Hesty; Hutabarat, Sahala; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.864 KB)

Abstract

Larva udang merupakan organisme yang bersifat planktonik, hidupnya mengapung atau melayang yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Distribusi dan kelimpahan larva udang di perairan dipengaruhi oleh arus pasang surut. Pergerakan arus saat pasang yang terjadi di perairan pantai akan membawa larva udang menuju muara, kemudian memasuki sungai yang nantinya akan masuk ke dalam saluran tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan larva udang penaeid yang masuk ke dalam saluran tambak dan mengetahui pengaruh perbedaan jarak lokasi saluran tambak dengan muara terhadap ketersediaan larva udang Penaeid di Desa Gempolsewu, Kab. Kendal. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2014 -Januari 2015. Lokasi penelitian terdiri dari dua stasiun dengan jarak 300 m dari stasiun I ke stasiun II. Teknik pengambilan sampel larva udang dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel larva udang dilaksanakan dengan menggunakan metode pasif di mana plankton net diameter 45 cm dan mesh size jaring 150 mikron dipasang di tengan saluran tambak menghadap muara selama 1 jam. Spesies Larva udang Penaeid yang ditemukan selama penelitian pada kedua stasiun yaitu Penaeus merguiensis dan Metapenaeus sp. Kelimpahan yang diperoleh selama penelitian pada stasiun I sebanyak 412 ind/100m3 dengan jumlah stadia mysis 240 ind/100m3 dan postlarva 172 ind/100m3. Pada stasiun II sebanyak 312 ind/100m3 dengan jumlah stadia Mysis 214 ind/100m3 dan postlarva 98 ind/100m3. Kelimpahan Relatif Penaeus merguiensis 84% pada stasiun I dan 90% pada stasiun II. Sedangkan Kelimpahan Relatif  Metapenaeus sp. 16% pada stasiun I dan 10% pada stasiun II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jarak dari bibir sungai/ estuari berpengaruh pada kelimpahan larva udang.    Shrimp larvae is planktonic organisms that live by floating or drifting, and its movement is affected by current. Its Swimming ability is very limited, so the presence is determined where the flow through. Distribution and abundance of shrimp larvae in waters influenced by tidal current. The current when flood tide that transport shrimp larvae to the estuary, then enter the river until to the channel brackish water ponds. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of penaeid shrimp larvae that enter the channel ponds and to determine the effect of different distance of channel pond locations with the estuary toward the availability of Penaeid shrimp larvae in the Gempolsewu Village, Kendal. The study was conducted from December 2014 to January 2015. Location of the study consists of two stations with a distance 300 m from stasiun I to stasiun II. The sampling technique of collecting shrimp larvae in this study used purposive sampling method. Sampling of the shrimp larvae was carried out by using the passive method in which the plankton net of 45 cm diameter and 150 micron mesh size nets were installed in the middle of channel facing the estuary when flood tide for 1 hour. The result showed that two spesies of Penaeid shrimp larvae i.e  Penaeus merguiensis and Metapenaeus sp. were found in both stasions. The abundance of both spesies obtained during the research in the station I was 412 ind / 100m3 consist of stadia mysis 240 ind / 100m3 and postlarva 172 ind / 100m3. While at the station II was 312 ind / 100m3  consist of stadia Mysis 214 ind / 100m3 and postlarva 98 ind / 100m3. Relative abundance of Penaeus merguiensis 84% at station I and 90% at station II. While the Relative Abundance Metapenaeus sp. 16% at station I and 10% at station II. Based on the results of this research could be concluded that the distance from mouth of river/ estuary influenced the abundance of shrimp larvae.
PENUTUPAN KARANG LUNAK (SOFT CORAL) PADA DAERAH RATAAN DAN DAERAH TUBIR DI PULAU CEMARA KECIL KEPULUAN KARIMUN JAWA Nababan, Sehat Martua Parulian; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.451 KB)

Abstract

 Komunitas karang daerah yang satu dengan daerah lainnya juga akan memiliki perbedaan, sehingga sebaran karang lunak yang terdapat di daerah rataan dan tubir memiliki perbedaan. Komposisi karang lunak yang terdapat pada daerah rataan terumbu yang merupakan perairan dangkal dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan kemungkinan akan memiliki perbedaan komposisi jenis karang pada daerah tubir, yang merupakan perairan yang cukup dalam, serta memiliki tingkat kemiringan yang bervariasi. Sebaran jenis suatu komunitas akan mengalami perubahan bila lingkungan berubah, baik karena tekanan fisik, biologi maupun aktifitas manusiaTujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui penutupan karang lunak pada zona rataan dan pada zona tubir di perairan Pulau Cemara Kecil, Karimun jawa. Dan mengetahui nilai indeks keanekaragaman karang lunak pada daerah rataan dan daerah tubir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, diletakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antar line dimasing – masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang lunak yang ditemukan di daerah rataan dan daerah tubir Lobophytum, Sarcophyton, nepthea dan Xenia. Prosentase penutupan karang lunak tertinggi pada daerah tubir yaitu yaitu sebesar 26,13% sedangkan pada daerah rataan sebesar 24,03%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A dan B sama yaitu 0,96 yang termasuk keanekaragaman rendah. Terdapat 4 genera karang lunak yaitu Lobopyhtum, Sarcophyton, Nepthea dan Xenia. Coral reef community are different in several areas so that the distribution of soft coral in reef flat areas and reef slope areas has difference. Composition of coral reef found in the reef flat areas which is shallow waters and more influenced by environmental factors will has difference with coral reef found in reef slope areas which is deep waters and has variation of slope. The distribution of coral reefs will change when the environmental factors change either physical pressure, biological or human activity.The purpose of this research is to tell abudance soft coral on reef flat areas (reef flat) with the reef slope areas (reef slope) in Cemara Kecil island, Karimunjawa. And knowing the value of diversity index soft coral on reef flat areas and the reef slope areas. Methods used in this research method of surveying. Actually, methods used characterizes method of surveying that is descriptive. Methods used in taking data is Line Intercept Transect (LIT). Research carried on two spots was station A (Reef flat) and station B (Reef slope). The line’s long size is 10m, put in parallel along the coast, line used in the reef flat as much as three line and reef slope about three line. The distance between line each other location is 5m.Species of soft coral found in the reef flat and reef slope is Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia. Closure of the highest percentage soft coral in reef flat  areas is 24,03%. While closing of the highest percentage of soft coral in reef slope areas is 26,13%. The value of diversity index (H’) in station A and B is 0,96 includes categories low diversity. There are 4 of soft coral, Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia.
PENGARUH ARUS DAN SUBSTRAT TERHADAP DISTRIBUSI KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN Wulandari, Stephany Retna; Hutabarat, Sahala; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.475 KB)

Abstract

Pulau Panjang adalah salah satu pantai utara Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Salah satu ekosistem yang ditemukan di wilayah pesisir adalah ekosistem rumput laut. Rumput laut memiliki keanekaragaman spesies  yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus dan substrat terhadap distribusi kerapatan rumput laut di perairan Pulau Panjang sebelah barat dan selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data kerapatan rumput laut menggunakan metode line transect. Pengamatan dilakukan dengan menghitung kerapatan rumput laut pada 3 line di sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Panjang line transect yang digunakan adalah 100 meter, diletakkan tegak lurus garis pantai dan untuk memudahkan perhitungan kerapatan rumput kaut digunakan kuadran transect berukuran 1x1 m. Kemudian dilakukan pengukuran parameter oseanografi. Hasil penelitian dijumpai tujuh jenis rumput laut yaitu Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, dan Lenthesia difformis pada sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Nilai kecepatan arus Pulau Panjang di sebelah selatan adalah 0,10-0,12 m/detik dan arus Pulau Panjang di sebelah barat 0,09-0,01 m/detik. Substrat di Pulau Panjang sebelah barat adalah  karang hidup (26 m2), karang mati (83 m2), pasir (80 m2) dan pecahan karang (109 m2), sedangkan di Pulau Panjang sebelah selatan adalah karang hidup (31 m2), karang mati (93 m2), pasir (54 m2) dan pecahan karang (122 m2).  Kerapatan rumput laut tertinggi di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan adalah jenis Padina crassa sebanyak  37,39% dan 31,26%. Panjang island is one of Java’s northern sea which located in Jepara, Central Java. One of ecosystem which found in coastal area is seaweed ecosystem. Seaweed has high species’s variety. This research is intended to acknowledge how current and subtrate affect the seaweed’s density distribution in Panjang Island’s west and south waters. This research was done in October 2014. This research uses descriptive research method. While Line Transect is used to intake the data of seaweed’s density. The observation is done by counting the seaweed’s density on three lines in Panjang Island’s south and west waters. Line Transect’s lenght which used is 100 meters, be placed perpendicular to coastal area and use 1x1 meter transect quadran to make the counting of seaweed’s density easier.  And then, the measuring of oceanography parameter is conducted. As the result, seven seaweed’s varietis are found, they are Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, and Lenthesia difformis in Panjang Island’s south and west waters. Speed value of Panjang Island’s current in south area is 0,10-0,12 m/second and Panjang Island’s west area is 0,09-0,01 m/second. The substrate in Panjang Island’s west area is alive coral (26 m2), dead coral (83 m2), sand (80 m2), and coral’s fraction (109 m2), while in Panjang island’s south area is alive coral (31 m2), dead coral (93 m2), sand (54 m2), and coral’s fraction (122 m2). The highest seaweed’s density in west and south’s area is Padina Crassa, that is 37,39% and 31,26%.
PENGARUH JARAK PANTAI DAN TIPE SUBSTRAT DASAR PERAIRAN TERHADAP KELIMPAHAN DAN JENIS EPIFAUNA DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN JEPARA Setyaboma, Dyaning Betari; Supriharyono, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.718 KB)

Abstract

Perairan Pulau panjang sebelah selatan banyak dikunjugi oleh para wisatawan, karena banyak aktivitas yang terjadi termasuk lalu lalang kapal penangkapan ikan maupun kapal wisata. Berbeda dengan pantai yang berada di sebelah selatan, Pulau Panjang sebelah barat yang berbatasan dengan laut lepas dan letaknya jauh dari dermaga sehingga tidak banyak aktivitas. Potensi yang ada adalah karang dan rumput laut dimana dapat menyokong kelimpahan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis epifauna yang terdapat di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan, pengaruh jarak pantai dan tipe substrat dasar perairan terhadap kelimpahan epifauna serta untuk mengetahui hubungan antara jarak dari pantai dan tipe substrat dasar perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif. Aktivitas penelitian yang dilakukan meliputi survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi dan analisis data. Hasil penelitian diperoleh sebelas jenis epifauna pada sebelah barat dan sepuluh jenis epifauna pada sebelah selatan. Kelimpahan tertinggi pada kedua lokasi adalah jenis Turbo sp. Berdasarkan uji regresi linier hubungan jarak dari pantai dengan kelimpahan epifauna diperoleh nilai signifikan 0,012 pada sebelah barat dan tidak signifikan 0,298 pada sebelah selatan. Hasil uji T one-sample test untuk tipe substrat di dapatkan hasil p> 0,05 menunjukkan adanya beda nyata antar tipe substrat dengan epifauna. Epifauna banyak ditemukan pada substrat pecahan karang, pasir dan rumput laut. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara tipe substrat dasar perairan terhadap kelimpahan epifauna serta adanya pengaruh jarak pantai dengan faktor tipe substrat dasar yang terdapat pada setiap meter jarak terhadap epifauna pada sebelah barat tetapi tidak ada pengaruh pada sebelah selatan. Panjang Island waters, mainly in the south coast is the destination area of the tourists to visit. Therefore many activities may occured, including passing fishing and tourism boats. Unlike in the south coast, in the west coast of Panjang Island which face to the sea is not a lot of activity, may due to far from the pier. Potential of this tourism area is coral and seaweed which very supporting of abundance epifauna. The purpose of this study is to determine the type of epifauna contained in both the west and the south Panjang Island waters, the influences of distance of the coast and the type substrate bottom waters on the abundance of epifauna and to investigate the relationship between the distance from the coast and the type of substrate. This study uses explanatory method.  Activities of the study include survey of study location, sampling, identification, and data analysis. The study resulted that there eleven types of epifauna on the west coast and ten types of epifauna in the south. The highest abundance in the both sites (the west and thes outh coast) is Turbo sp.. Based on linear regression of the distance from the coast with abundance of epifauna it is  obtained signicantly correlation (sig=0,012) in the west and not significant (sig= 0,298) in the south. T test results of one-sample test for the type of substrate indicates significant difference between the type of substrate with epifauna (P>0,05). Epifauna substrates majority were found in the rubble, sand and seaweed. Based on the results of this study concluded that there is a very strong influence of the type of substrate on the abundance of epifauna waters, as well the effect of distance on the coast to the west epifauna but no influence on the south.
NILAI EKONOMI HUTAN MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Purnamawati, Ayu Dwi; Saputra, Suradi Wijaya; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.767 KB)

Abstract

Kerusakan hutan mangrove di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh perbuatan manusia, baik berupa konservasi kawasan mangrove menjadi sarana pemanfaatan lain seperti pemukiman, industri, rekreasi dan lain sebagainya. Lemahnya pemahaman mengenai nilai khas dari jasa ekologi, menyebabkan Hutan ini sering kurang dihargai dan cenderung dikonversi ke penggunaan lain. Sehingga perlu dilakukan penilaian (valuasi) terhadap keberadaan Hutan mangrove dan pengaruh lingkungan bagi masyarakat Desa Mojo. Penelitian bertujuan untuk mengetahui secara ekonomi nilai manfaat langsung, manfaat tidak langsung dan nilai  ekonomi total dari sumberdaya hutan mangrove di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Metode yang digunakan adalah purposive sampling. Data yang dibutuhkan berupa data primer yang dilakukan dengan cara wawancara melalui kuesioner dan data skunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Pemalang. Analisis data menggunakan pendekatan penilaian ekonomi menurut Ruitenbeek (1991). Nilai ekonomi manfaat langsung Hutan mangrove Desa Mojo, yang dimanfaatkan masyarakat setempat, meliputi: a) perikanan tangkap: pencari kepiting dan nelayan menggunakan perahu; dan b) perikanan budidaya: udang vaname, ikan bandeng dan kepiting soka. Diperoleh nilai ekonomi total manfaat langsung per tahun Rp200.364.004.000,00. Nilai ekonomi manfaat tidak langsung dari hutan mangrove Desa Mojo yang diestimasi melalui biaya pengganti, yaitu: a) sebagai penahan abrasi; b) pemecah gelombang; dan c) penyedia unsur hara diperoleh nilai total manfaat tidak langsung per tahun Rp18.953.232.310,00; dan nilai manfaat ekonomi total Hutan mangrove Desa Mojo yang diperoleh hanya dari sebagian jasa-jasa yang diambil dalam penelitian sebesar Rp219.410.973.910,00 per tahun dengan luas hutan mangrove 72 ha dan luas lahan tambak seluas 327 ha. Mangrove forest destruction in Indonesia is largely caused by human actions, either in the form of conservation of mangrove areas into other uses such as residential facilities, industry, recreation etc. Weak understanding of the typical value of ecological services, causing these forests are often undervalued and likely to be converted to another use. So that needs to be done appraisal (valuation) of the existence of mangrove forests and environmental effects for the community village of Mojo. The study aims to determine the economic value of direct benefits, indirect benefits and the total economic value of mangrove forest resources in the village of Mojo, District Ulujami, Pemalang. The method used is purposive sampling. Datas needed are  primary data by interview with questionnaire and secondary data obtained from related institutions in Pemalang. Data analysis using economic valuation approaches according Ruitenbeek (1991). The economic value of the direct benefits of Mojo village’s Mangrove, which utilized by local communities, including: a) fisheries: search crab and fishing boats; and b) aquaculture: vaname shrimp, fish and soft-shelled crabs. Retrieved total economic value of direct benefits annually is IDR 200.364.004.000,00. The value of indirect economic benefits of mangrove forests were estimated through the Mojo village replacement costs, namely: a) as a drag abrasion; b) breakwater; and c) providers of nutrient obtained total value of indirect benefits annually IDR 18.953.232.310,00; and the value of total economic benefits of Mojo village’s mangrove obtained only from the majority of services that are taken in the study amounted IDR 219.410.973.910,00 annually with an area of 72 ha of mangrove forest and land area of pond area 327 ha.
KAJIAN TENTANG FITOPLANKTON YANG BERPOTENSI SEBAGAI HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMs) DI MUARA SUNGAI PLUMBON, SEMARANG Aprianti, Nyayu Sandra; Sulardiono, Bambang; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.835 KB)

Abstract

Muara sungai Plumbon terletak di wilayah kelurahan Mangkang Kulon, kota Semarang. Muara sungai Plumbon digunakan sebagai jalur lalu lintas kapal nelayan untuk menangkap ikan di laut. Selain itu, sungai Plumbon diduga sebagai tempat pembuangan limbah dari industri tradisional dan pemukiman penduduk di sekitar aliran sungai. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton di muara sungai Plumbon dan untuk mengidentifikasi jenis fitoplankton yang berpotensi sebagai HABs (Harmful Algal Blooms) di muara sungai Plumbon. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dan metode dalam pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Terdapat tiga stasiun pada penelitian ini, setiap stasiun dilakukan tiga kali pengulangan pengambilan sampel.Total genus yang ditemukan selama penelitian adalah sebanyak 39 genus. Kelimpahan total fitoplankton pada stasiun satu adalah 3.766 ind/L, pada stasiun dua sebanyak 4.612 ind/L dan pada stasiun tiga sebanyak 4.800 ind/L. Fitoplankton penyebab HABs (Harmful Algal Blooms) yang ditemukan di lokasi penelitian terdapat lima genus dari kelas Baccilariophyceae, yaitu Pseudonitzschia, Nitzschia, Skeletonema, Chaetoceros, dan Thallassiosira. The estuary of Plumbon river is located in Mangkang Kulon, Semarang city. The estuary of Plumbon river is used as a traffic lane of fishing vessels to catch fish in the sea. In addition, the Plumbon river suspected as waste disposal sites of traditional industries and residential areas around the river. The purpose of this study was to determine the abundance of phytoplankton in the estuary of the Plumbon river and to identify the type of phytoplankton that is potentially as HABs (Harmful Algal Blooms) in estuary of Plumbon river. The method used in this research is descriptive method and the method of sampling using purposive sampling method. There are three stations in this study,  where each station is performed three repetitions.  Phytoplankton that found during the study consisted of four classes, namely Baccilariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, and Euglenaphyceae. Total genus were found during research in station one are as much as 39 genera. Total abundance of phytoplankton at the first station was 3766 ind/L,  at station two as many as 4612 ind/L and at station three as many as 4800 ind/L. Phytoplankton causing HABs (Harmful Algal Blooms) which is found in the study site are five genera of Baccilariophyceae classes, namely Pseudonitzschia, Nitzschia, Skeletonema, Chaetoceros, and Thallassiosira.
ASPEK BIOLOGI IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) YANG TERTANGKAP PAYANG DI TPI TAWANG, KABUPATEN KENDAL Arifah, Putri Nur; Solichin, Anhar; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.274 KB)

Abstract

Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah yang berada di pesisir utara laut Jawa. Salah satu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Kabupaten Kendal adalah TPI Tawang. Ikan  Tongkol umumnya dieksploitasi menggunakan alat tangkap payang. Spesies ikan Tongkol yang dominan tertangkap adalah Euthynnus affinis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi perikanan dan CPUE harian ikan Tongkol yang tertangkap Payang di TPI Tawang Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015. Metode dalam penelitian ini adalah metode survey. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling atau acak sederhana. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Hasil tangkapan ikan Tongkol diambil pada bulan Desember sebesar 30% dan Januari sebesar 100% dari total hasil tangkapan. Hasil penelitian yang dilakukan pada ikan Tongkol sebanyak 393 ekor, pertumbuhan ikan Tongkol bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,839. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,268 yang tergolong dalam ikan pipih atau tidak gemuk. Nilai Lc50% (307 mm) < Lm50% (413 mm), hal ini diduga ikan yang tertangkap sebagian belum matang gonad, sehingga tidak memberikan kesempatan ikan untuk memijah pertama kali.  Tingkat Kematangan Gonad ikan Tongkol menurut Cassie didominasi oleh TKG I dan II yaitu fase belum matang. Nilai indeks kematangan gonad ikan Tongkol berkisar 0,088% - 2,158%. Fekunditas  terendah ikan  Tongkol sebesar  376.436  butir dengan panjang cagak  405 mm dan berat tubuh 1050 gram, sedangkan nilai tertinggi sebesar 664.582  butir dengan panjang cagak 440 mm dan berat tubuh 1245 gram. CPUE ikan Tongkol selama penelitian mengalami fluktuasi, nilai tertinggi  CPUE terjadi pada tanggal 8 Desember 2015 sebesar 155,667 kg/Trip  dan CPUE terendah pada tanggal 27 Januari 2015 sebesar 2,833 kg/ Trip. Kendal is one area which is on the north coast of Java Sea. The biggest fish auction place in Kendal Regency is Tawang Fish Auction (TPI Tawang). Eastern Little Tuna generally exploited by seine net. The Eastern Little Tuna species that is more dominant to be caught is  Euthynnus affinis. The purpose of this study is to find out the biological aspect and the daily production of  Eastern Little Tuna caught by seine net on TPI Tawang, Kendal. This research started from December 2014  until January 2015. The method used in this research is survey method. The sampling was taken by using simple random sampling. The data that are being used are primary and secondary data. The fish caught in December is 30% while in January is 100% from the total haul. From the research on 393 fish, it can be seen that the growth of Tuna is negative allometric with B value of 2.839. The condition factor of 1.268 are flat fish. LC50 % ( 307 mm ) < Lm50 % ( 413 mm ) , it is suspected the fish is caught mostly immature gonads , so it does not give the fish a chance to spawn the first time The Gonad maturity level of  Eastern Little Tuna based on Cassie is dominated by Gonad maturity level I and II, which are immature phase. The value of Gonad maturity level is about 0,088% - 2,158%.  The lowest fecundity was 376.436 eggs with the  fork length was 405 mm and body weight was 1050 grams while The highest fecundity is  664.582 eggs with fork  length was 440 mm and weight was 1245 grams. The CPUE of  Eastern Little Tuna during the research is fluctuating with the highest fluctuating value on 8 December 2015 is 155,667 kg/Trip and the minimum CPUE on 27 January 2015 is  2,833 kg/ Trip.
HUBUNGAN TOTAL BAKTERI DENGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TOTAL DI MUARA SUNGAI BABON, SEMARANG Marwan, Ahmad Hadi; Widyorini, Niniek; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.253 KB)

Abstract

Muara merupakan salah satu ekosistem yang yang berada di pesisir, yang merupakan tempat terjadinya siklus dekomposisi unsur-unsur hara. Ketersediaan unsur hara didalam susatu perairan dapat menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur hara yang dilihat adalah kandungan bahan organik total di perairan muara kali Babon, Semarang. Zat hara tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme didalamnya. Bakteri sebagai dekomposer bahan- bahan organik sangat berperan aktif untuk menyediakan zat- zat hara di perairan seperti bahan- bahan organik. Oleh sebab itu, kandungan total bakteri di sebuah perairan terutama dalam penyediaan unsur hara dapat digunakan sebagai indikator kesuburan perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2015 dengan tujuan untuk mengetahui total bakteri, kandungan bahan organik total dan hubungan antara total bakteri dan kandungan bahan organik total di perairan muara sungai Babon, Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat deskriptif. Pengambilan sampel air pada penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun pengamatan, stasiun satu merupakan bagian akhir dari aliran muara Sungai Babon yang sudah berbatasan langsung dengan laut, stasiun dua merupakan bagian tengan aliran air muara Sungai Babon, dan stasiun tiga merupan bagian awal aliran muara Sungai Babon. Sampel air dianalisis di laboratorium untuk pengukuran total bakteri dan bahan organik total. Selain itu pengukuran yang dilakukan secara in situ adalah pengukuran suhu, kecerahan, arus, derajat keasaman, oksigen terlarut dan salinitas. Total bakteri di perairan muara Sungai Babon, Semarang berkisar antara  120 x 102 koloni/gr hingga 180 x 102 koloni/gr. Kandungan bahan organik total di perairan muara Sungai Babon, Semarang berkisar antara 15,484 mg/l hingga 28,598 mg/l . Total bakteri dengan bahan organik total yang terdapat di perairan muara kali Babon, Semarang memiliki hubungan yang sangat erat dengat tingkat keeratan sebesar 92%. Estuary is one of the important ecosistems located on the coast. Estuary is also site of the decomposition cycle nutrient. The availability of nutriens in the water can be an indicator of water fertility. In this case, the element nutrient which is visible content of Total Organic Matter in Babon River Estuary, Semarang. The nutrients are crucial to survival of organism in there. Bacteria as a decomposers of organic material very active role to provide nutrient substances in the water such as organic materials. Therefore, the total content of bacteria in a water especially in nutrient provider can be used as an indicator of waters fertility. This researh was conducted on February – March 2015 in order to determine the total bacteria, amout of total organic matter and relations between total bacteria and total organic matter in Babon River Estuary, Semarang. The method used in this research is descriptive. Sampling was conducted at Babon River Estuary at three observation stations, station one is the final part of Babon River Estuarine stream which is directly adjacent to the sea, station two is a central part of Babon River Estuarine stream, station three is the first part of Babon River Estuarine stream. Sample of waters was analized in the laboratory for measurement of total bacteria and total organic matter. In addition, measurements are made in situ measurements of temperature, brightness, flow, waters acidity, total oxygen and salinity. Total bacteria in Babon River Estuarine waters, Semarang ranging from 120 x 102 koloni/gr up to 180 x 102 koloni/gr. Content of total organic matter in Babon River Estuarine waters, Semarang ranging between 15,484 mg/l up to 28,598 mg/l. Total bacteria and content of total organic matter in Babon River Estuarine waters, semarang has a very close relation.
ANALISIS HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DENGAN BAHAN ORGANIK, LOGAM BERAT (Pb dan Cd) DAN MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BETAHWALANG, DEMAK Kinasih, Amanah Raras Nawang; Purnomo, Pujiono Wahyu; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.291 KB)

Abstract

Sungai Betahwalang merupakan perairan yang mendapat masukan material dan nutrient yang berasal dari kegiatan-kegiatan seperti industri rumah tangga, pertambakan, jalur pelayaran serta kegiatan pariwisata berlangsung tanpa adanya pengelolaan. Kegiatan tersebut diperkirakan berpengaruh terhadap sebaran sedimen, kandungan bahan organik, logam berat, dan kelangsungan hidup organisme di sedimen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tekstur sedimen, bahan organik, logam berat (Pb dan Cd), dan kelimpahan makrozoobentos yang terdapat pada Sungai Betahwalang. Selain itu juga untuk mengetahui hubungan antara tekstur sedimen, bahan organik, logam berat (Pb dan Cd), dan kelimpahan makrozoobentos. Metode sampling yang digunakan adalah metode purposive sampling yang dilaksanakan pada lima stasiun yang diukur selama tiga kali waktu sampling. Stasiun 1 berada didaerah pelabuhan kapal, stasiun 2 berada dilokasi yang dilewati kapal, stasiun 3 berada di pertemuan antar sungai, stasiun 4 di persimpangan sungai, dan stasiun 5 terletak di muara sungai. Hasil rata-rata konsentrasi tekstur sedimen fraksi pasir 8,65-11,53, lumpur 74,67-78,62, liat 8,17-16,62. Tekstur sedimen yang mendominasi yaitu lumpur, bahan organik yang terkandung dalam kategori sedang, logam berat (Pb dan Cd) dengan kisaran di bawah batas maksimum, dan kelimpahan makrozoobentos sebesar 86,95 – 2565,21ind/grab. Dari hasil penelitian diperoleh hubungan tekstur sedimen dengan bahan organik diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,24. Hubungan antara tekstur sedimen dengan logam berat Pb diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai korelasi sebesar r = 0.03. Hubungan antara tekstur sedimen dengan logam berat Cd diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur nilai korelasi sebesar r = 0.21. Hubungan antara tekstur sedimen dengan  kelimpahan makrozoobentos diduga memilki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai korelasi sebesar r = 0.41. Betahwalang river is a water area that receives material and nutrient from many activities of Betahwalang estuary. The activities are home industry, aquaculture, shipping line, and tourism that continuously without a proper management., The activities is expected to affect of sedimen distribution, organic matter content,  heavy metal, and the survival of organism in the sediment. The aim of this research is to explore sediment texture, organic material, heavy metal (Pb and Cd), and macrozoobenthic abundance. We use the purposive sampling method for data collecting  at five different stations with three times of sampling. Station 1 is located at ship harbour. Station 2 is located in the area of ship track. Station 3 is located in the confluence of rivers. Station 4 is located at the intersection of rivers. And Station 5 is located at river estuary. The average concentrated results of sand, mud, and clay are 8.65-11.53, 74.67-78.62, and 8.17-16.62, respectively. Sediment texture values dominated are silt.  Organics material are in the medium category. The value of heavy metal (Pb and Cd) is less than the maximum limit. And the value of the Macrozoobenthic is in the range of 86,95 – 2565,21 ind/grab. From the results, we conclude are obtained sediment texture relationship with organic matter are thought to have a positive relationship with the sludge fraction of the value of the correlation coefficient of r = 0.24. The relationship between the texture of the sediment with heavy metals Pb is thought to have a positive relationship with the sludge fraction of the value of a correlation of r = 0:03. The relationship between the texture of the sediment with heavy metals Cd is believed to have a positive relationship sludge fraction correlation value of r = 0:21. The relationship between sediment texture with macrozoobenthic abundance is thought to have the positive relationship with the sludge fraction of the value of a correlation of r = 0:41.

Page 3 of 3 | Total Record : 29