cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 15 Documents clear
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN, DAN CACING SUTRA SEGAR UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Chahyaningrum, Retno Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.454 KB)

Abstract

Pakan berperan penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan stadia larva.  Pakan alami cacing sutra sering digunakan sebagai pakan lele stadia larva.  Selain cacing sutra, pakan alami lainnya yang dapat diberikan adalah Artemia sp. Jenis pakan ini dapat diberikan dalam bentuk beku maupun awetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan dan cacing sutra segar untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva lele sangkuriang.  Metode penelitian ini adalah eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi 3 macam pakan perlakuan yaitu Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan cacing sutra segar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara selama 20 hari.  Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), dan kelangsungan hidup (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh (P<0.05) terhadap RGRW, EPP, PER, dan SR, namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap RGRL.  Nilai untuk RGRW, RGRL, EPP, PER, dan SR sebesar 10.05, 11.62%/hari, 14.24, 0.23, 60.18%.  Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa perlakuan pemberian pakan terbaik untuk larva ikan lele sangkuriang adalah cacing sutra segar. Feed played an important role on the growth and survival rate of fish larvae stage.  Silk worm was often used as life food for catfish larvae.  Instead of silk worm, the other life food for catfish larvae was Artemia sp. It can be used in the form of frozen and preserved.  This research was aimed to study the utilization rate of frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp., and fresh silk worm on the growth and survival rate of catfish “sangkuriang” larvae.  The experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replicates.  The trial fish were fed on frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp.,  and fresh silk worm respectively.  The research was conducted in The Coastal Development Laboratory (LPWP) Jepara for 20 days.  Variables measured  included relative growth rate weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio and survival rate.  The result of research was different types of life food (P<0.05) had effect for RGRW, EPP, PER, and SR, but it had not effect (P>0.05) for RGRL.  Those values for RGRW, RGRL, EPP, PER, and SR were 10.05, 11.62%/day, 14.24, 0.23, 60.18%, respectively.  Based on the result of these study, it was concluded that the best feeding trial for catfish “sangkuriang” larvae was fresh silk worms.
PERTUMBUHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni Dan Gracilaria sp.) DENGAN METODE LONG LINE DI PERAIRAN PANTAI BULU JEPARA Hernanto, Angga Dwi; Rejeki, Sri; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.652 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah pesisir. Dalam rangka pengembangan potensi ini diperlukan salah satu teknik budidaya yang dapat mengoptimalkan daerah perairan tersebut. Metode long line merupakan salah satu metode yang diterapkan pada budidaya rumput laut Eucheuma cottoni dan gracilaria sp. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan dua jenis rumput laut yang berbeda dengan metode budidaya yang sama di perairan pantai bulu jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis E. cottonii dan Gracilaria sp. dengan bobot awal 100 gram pada setiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 30 kali ulangan yaitu perlakuan A (E. cottonii), dan perlakuan B (Gracilaria sp.). Data yang dikumpulkan  adalah laju pertumbuhan relatif dan laju pertumbuhan harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumput laut E. cottonii dan Gracilaria sp. yang di budidayakan dengan metode long line di perairan laut bulu mempunyai pertumbuhan berbeda. Rumput laut E. cottonii memiliki pertumbuhan yang lebih baik dari pada Gracilaria sp., perlakuan A (E. cottonii) menunjukkan pertumbuhan relatif terbaik (190,00%), dan laju pertumbuhan harian (2,36%/hari). Sedangkan pada perlakuan B (Gracilaria sp) pertumbuhan relatif (95,33 %), dan laju pertumbuhan harian (1,49%/hari). Seaweed is one very potential comodities to be developed in coastal areas. In order to develop this potential takes a cultivation techniques that can optimize the area of water sea. Long line method is one method that is applied to the culture of seaweed Eucheuma cottoni and gracilaria sp. The purpose of this study was to compare growth of two different types of seaweed with same method in bulu sea Jepara. The research was conducted in July - August 2014.Test plants used in this study was the seaweed E. cottonii and Gracilaria sp. with initial weight of 100 grams in each treatment. The experimental design used was a completely randomized design with 2 treatments and 30 replications is A (E. cottonii), and B (Gracilaria sp.). The data collected is the relative growth rate and daily growth rate. The results showed that the seaweed E. cottonii and Gracilaria sp. is cultivated with a long line methods in bulu sea have different growth. Seaweed E. cottonii have better growth than in Gracilaria sp., Treatment A (E. cottonii) showed the best relative growth (190.00%), and daily growth rate (2.36% / day). While on treatment B (Gracilaria sp.) relative growth (95.33%), and daily growth rate (1.49% / day).
ANALISA KESESUAIAN PERAIRAN PULAU PARI SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DENGAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sinaga, Simon Giando; Hartoko, Agus; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.866 KB)

Abstract

Tiram mutiara merupakan komoditas ekspor yang penting bagi indonesia karena memiliki nilai jual tinggi. Kegiatan budidaya tidak lepas dari penentuan lokasi yang sesuai bagi organisme yang dikultur, tetapi keyataanya penentuan lokasi masih berdasarkan feeling atau trial error. Hal ini menyebabkan pengembangan budidaya laut tidak berjalan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran variabel oseanografi fisika, kimia dan biologi serta model spasial kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima.) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yaitu pengumpulan data lapangan kemudian analisis data melalui pendekatan spasial. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan, kemudian data yang telah didapatkan diolah pada citra Landsat 8  dengan menggunakan software Er Mapper 7.0 dengan tahapan terdiri dari Plotting titik koordinat, Pemodelan geo-statistik, cropping citra, gridding, overlay, pembuatan layout dan scoring  sehingga dihasilkan suatu model spasial. Peta yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk dijadikan kawasan budidaya laut. Peta hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah dengan tingkat kesesuaian berada pada kelas sesuai dan sesuai bersyarat. Daerah kesesuaian berada pada perairan terbuka. suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya tiram mutiara berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang  tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Pearl Oyster is an important export comodity for Indonesia which has a high value. The cultivation activity can not be separated from the election of land suitability for the organism which cultured. The problem of land election is based on the feeling or trial error. It makes the marine cultivation is not running optimally. The aim of this research is surveying the oceanography variable such as physics, chemistry and biology with spatial modelling as a land suitability for land Pearl Oyster (Pinctada maxima.) Cultivation in Pari Islad water, Seribu Island. The method of this research is survey methode which is data accumulation then data analyze by spatial modelling. Data accumulation was got by measuring in that place, then the data processing was did by using Er Mapper 7.0 Software. The stage of data processing was coordinate plotting, geo-statistic  modelling, gridding, overlay, make the layout, and scoring until product spasial modelling. Then the map was processed to presume land suitability value for pearl oyster culvation. The Analyze of land suitability is did by using a suitability matrices. The rating and scoring was based on the effects level of each parameter from the potencial region to be a sea cultivation area. The results map of the land suitability cultivation in Pari Island indicate that the level of suitability region is in suitable and marginally suitable. The suitable are is in the open water. The protect area of a pearl oyster cultivation give an effect for  an cultivation activity. All the station are recommended to make a cultivation area because the areas is not a ship traffic and included  a suitable area.
PEMANFAATAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Laucaena gluca) YANG TELAH DIFERMENTASIKAN DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) Restiningtyas, Rachma; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.674 KB)

Abstract

Tepung daun lamtoro merupakan sumberdaya bahan baku yang potensial untuk bahan baku pakan ikan nila merah (Oreochromis niloticus).  Namun pemanfaatannya terkendala dengan adanya kandungan zat antinutrisi yang terkandung di dalam daun lamtoro seperti neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), defisiensi asam amino esensial dan kandungan mimosin.  Hasil fermentasi diharapkan terjadi peningkatan terhadap kualitas bahan pakan yang akan digunakan campuran pakan ikan. Daya cerna ikan dapat meningkatkan serat kasar pada daun lamtoro menurun setelah proses fermentasi. Fermentasi tersebut menggunakan probiotik yang mengandung bakteri Tricoderma sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tepung daun lamtoro yang difermentasikan dan ditambahakan kedalam pakan terhadap pertumbuhan ikan nila merah (O. niloticus). Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi pakan buatan dengan kadar tepung daun lamtoro yang telah difermentasi sebanyak 0, 5, 10, dan 15%. Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relative (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisien sirasio (PER), dan kelulushidupan (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung daun lamtoro sebesar 10% memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai RGR, EPP, dan PER yaitu masing-masing sebesar 2.09%/hari; 60.84% dan 2.03% namun tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap nilai SR.  Berdasarkan pada hasil penelitian ini dapat simpulkan bahwa tepung daun lamtoro sebesar 10% dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan ikan nila merah (O.niloticus). Dosis optimum tepung daun lamtoro yang dapat ditambahakan kedalam pakan buatan untuk benih ikan nila merah adalah sebesar 10.00 – 11.25%. Leucaena leaf powder was a potensial ingredient for raw material feed of red telapia. However it has constrainet by week the presence of anti nutrient in the leaf as neutral detergent fiber (NDF), acid detergent  fiber (ADF), essential amino acid deficiency and mimosin. By fermentation process it was expected could in crase the quality of the ingediend for fish died. Fish does just dibelity on the leaf powder as crade fiber contains dicreasing after fermentation proses. The proces use probiotic containing Trichoderma sp. This research was aimed to study the influence of fermented Leucaena leaf powder to artificial feed on the growth of red tilapia (O. niloticus). The exsperimental method used was completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates. The fish were fed on trial feed containing fermented leucaena leaf as must as 0, 5, 10, and 15%. The variables, measured include the relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), and survival rate (SR). The data showed that the used of fermented leucaena leaf powder of significanly different (P<0.05) on the of 10% resulted of  RGR, EPP, and PER that were 2.09% / day, 60.84%,  2.03%, while the value of SR was similar (P>0.05).  It was concluded that fermented Leucaena leaf powder as must as 10% feeding enhances growth of tilapia (O.niloticus). Optimum dose Leucaena leaf powder that can be added into artificial feed for red telapia seeds as much as 10.00 – 11.25%.
PRODUKSI DAN KUALITAS RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN KEDALAMAN BERBEDA DI PERAIRAN BULU KABUPATEN JEPARA Muhamad Fikri; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.187 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah pesisir. Dalam rangka pengembangan potensi ini diperlukan salah satu teknik budidaya yang dapat mengoptimalkan kolom perairan sehingga hasil produksi maupun kualitas rumput laut Eucheuma cottonii dapat optimal. Kedalaman yang berbeda pada rumput laut E.cottonii dapat menyerap cahaya serta unsur hara yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh kedalaman yang berbeda terhadap produksi dan kualitas rumput laut Eucheuma cottonii, dan mengetahui kedalaman yang memberikan produksi dan kualitas rumput laut E.cottonii terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Eucheuma cottonii dengan bobot awal 100 gram pada setiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 12 kali ulangan. perlakuan A (kedalaman 30 cm), B (kedalaman 60 cm), dan C (kedalaman 90 cm). Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan harian, dan kandungan karaginan rumput laut E. cottonii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman yang berbeda berpengaruh nyata terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii. Perlakuan A (kedalaman 30 cm)  menunjukkan pertumbuhan relatif (176,67 %), laju pertumbuhan harian (2,26 %/hari), dan kandungan karagenan (87,70%) . Sedangkan pada perlakuan B (kedalaman 60 cm) pertumbuhan relatif (157,50 %), laju pertumbuhan harian (2,10 %/hari), dan kandungan karagenan (71,20 %). Perlakuan C (kedalaman 90 cm) pertumbuhan relatif (111, 25 %), laju pertumbuhan harian (1,66 %/hari), dan kandungan karagenan (70,01 %). Kesimpulan yang didapat ialah kedalaman berbeda berpengaruh terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii dan perlakuan A (kedalaman  30 cm) memberikan produksi serta kualitas rumput laut E.cottonii terbaik dan direkomendasikan untuk dibudidayakan. Seaweed is one of very potential comodity to be developed in coastal areas. In order to increase this potential can required cultivation techniques by optimize in water column production and quality of the seaweed Eucheuma cottonii. Seaweed E. cottonii can absorb light and different nutrient at different depth. The objective of was research were to know the effects of different depths on the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii, and the depth that gives the best production and quality seaweed E. cottonii. The research was conducted from July to August 2014. Seaweed used in this study was the seaweed Eucheuma cottonii with initial weight of 100 g in each treatment. The experimental design used was a completely randomized design with 3 treatments and 12 replications. Treatment A (30 cm depth), treatment B (60 cm depth), and treatment C (90 cm depth). Data collected are daily growth rate and the content of carrageenan. The results showed that different depths significantly affect the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii. Treatment A (30 cm depth) showed relative growth (176.67 %), daily growth rate (2.26%/day), and carrageenan content (87.70%). Treatment B (60 cm depth) relative growth (157.50%), daily growth rate (2.10%/day), and carrageenan content (71.20%). Treatment C (90 cm depth) relative growth (111, 25%), daily growth rate (1.66% / day), and carrageenan content (70.01%). The conclusion is a different depths significantly affect the production and quality of seaweed E. Cottonii, and treatment A (30 cm depth) provide production and the best quality of seaweed E. cottonii and recommended for cultivated.

Page 2 of 2 | Total Record : 15