cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2016):" : 9 Documents clear
THE USE OF POLITENESS STRATEGY IN “GOOD COMPANY” MOVIE PRATAMA PUTRA, ANGGA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegunaan dari strategi kesopanan merupakan ketrampilan dasar dari seseorang dalam besikap sopan karena karakteristik sesesorang dapat dilihat dan dinilai dari kesopanan mereka. Menjadi salah satu cabang dari kajian pragmatik, fungsi utama dari strategi kesopanan adalah menganalisa makna dalam konteks pembicaraan. Penelitian ini memperhatikan tentang pengaplikasian daripada strategi kesopanan dalam film in good company termasuk dua karakter utama (yakni Carter duryea dan Dan foreman) dan bagaimana mereka menkonsep strategi kesopanan dan apa saja faktor yang mempengaruhi mereka seperti kekuatan, jarak sosial dll. Tujuan penilitian ini adalah untuk menunjukkan keefektifan daripada strategi kesopanan dalam film yang berlatarbelakang tempat kerja yang dilakukan oleh dua karakter utama tersebut  Penilitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisa data dan bergantung pada teori Brown dan Levinson. Bahkan, data yang sudah di kumpulkan melalui proses melihat film, menyalin naskah dan mengelompokkan data di bagi menjadi beberapa poin. Poin-poin yang di maksud adalah (1) menunjukkan tipe-tipe kesopanan yang digunakan Carter dan Dan, (2) apakah faktor utama yang mempengaruhi mereka dalam pengaplikasian strategi kesopanan tersebut dan (3) apakah hasil dari pengaplikasiaan strategi kesopanan yang telah diterapkan. Penelitian ini juga mengemukakan beberapa poin dimana strategi kesopanan yang di pergunakan oleh Dan Foreman dan Carter Duryea yang dikategorikan sebagai strategi yang sukses atau tidak sukses bergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi mereka dalam menunjukkan kesopanan mereka. Didalam film tersebut, strategy kesopanan negative lebih sering di tunjukkan daripada strategi kesopanan yang lain, tetapi strategi kesopanan negatif ini juga dikategorikan sebagai strategi yang tidak sukses dikarenakan faktor jarak social dan kekuatan yang memaksa strategi yang telah di tunjukkan menjadi kurang efektif daripada kegunaan yang sebenarnya dimana strategi kesopanan negatif lebih cenderung dikaitkan dengan strategi yang sukses. Kata Kunci: percakapan, kesopanan, wajah   Abstract The use of politeness strategy is the basic skill of a person in being polite because someone characteristic can be seen through their politeness. As the branch of pragmatic study, the function of politeness is to analyze the contextual meaning in a conversation. This study focuses on the implied politeness strategies In Good Company movie including the two main characters (Carter Duryea and Dan Foreman) in how they construct politeness strategies and what factors that influences them. The purpose of this study is to show the effectiveness of politeness strategy in a workplace background movie by the main characters. This study used descriptive qualitative method to do the analysis and relied on the Brown and Levinson politeness strategy theory. Moreover, the data that have been collected through the process of watching movie, transcribing the script and classifying are analyzed by several points. Those are, (1) to shows what kind of politeness strategies that frequently used by Dan and Carter (2) what is the main factors that influence them to do politeness strategies and (3) what is the result in applying the politeness strategy. This study also points out the outcome of politeness strategy which is used by Dan Foreman and Carter Duryea which categorized as successful or unsuccessful strategy depends on several factors that influence them in being polite. In the movie, the negative politeness strategy is the most used strategy by both main characters than the others strategies, but that strategy is also failed and classified as unsuccessful strategy because the factors of social distance and power that pushed the strategy become less effective than it really is. Keywords: conversation, politeness, face
POLITENESS STRATEGIES IN CRAZY, STUPID, LOVE MOVIE SATRIA MANUPUTTY, YEREMIA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dalam penelitian ini untuk mendiskripsikan betapa serba gunanya kegunaan strategi kesopanan dalam film Crazy, Stupid, Love. Strategi kesopanan berhubungan dengan penggunaan strategi untuk menjaga tindakan pengancaman muka dan tindakan penyelamatan muka. Teori yang digunakan untuk masalah di penelitian ini yaitu teori Brown dan Levinson (strategi kesopanan)untuk memahami fungsi tiap tipe strategi yang ada digunakan dan Leech (prinsip kesopanan) untuk memahami tipe prinsip yang ada dibalik strategi kesopanan yang digunakan. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam menganalisa data dalam penelitian ini. Penggunaan deskriptif kualitatif guna memperdalam penjelasan setiap data. Peneliti memahami film Crazy, Stupid, Love dan mengklasifikasikan data dari awal hingga akhir film. Data yang diperoleh adalah dalam bentuk ucapan yang digunakan oleh dua tokoh utama dalam film ini, yang berkaitan dengan strategi kesopanan. Hasil dari penelitian ini menunjukan hasil bahwastrategi kesopanan sangat serba guna dalam penggunaannya. Tokoh utama selalu menggunakan strategi kesopanan dalam segala situasi untuk menyelamatkan kehormatan sang pendengar. Karena seluruh strategi kesopanan berdasar Brown dan Levinson ditemukan dalam penelitian ini. Hal tersebut memberikan penekanan lebih kepada betapa serba gunanya strategi kesopanan ini. Saat sedang menyelamatkan kehormatan pendengar, analisa pada prinsip kesopanan menunjukan bagaimana cara menjaga hubungan yang baik antar pembicara dan pendengar. Hubungan antata strategi kesopanan dan rinsip kesopanan adalah sang peneliti dapat menemukan tipe prinsip kesopanan tertentu dibalik strategi kesopanan tertentu. Di saat seorang pembicara ingin meminimalkan tindakan pengancaman muka, dia juga sedang membangun rasa anatara pembicara dan pendengar. Jadi saat pendengar menurunkan tindakan pengancaman muka hal tersebut disebut strategi kesopanan. Dalam proses penurunan ancaman muka, pembicara juga sedang membangun hubungan sosial yang baik yang disebut prinsip kesopanan. Maka dari itu hubungan antara strategi kesopanan dan prinsip kesopanan tak terpisahkan.   Kata Kunci: strategi kesopanan, prinsip kesopanan, tindakan pengancaman muka, tindakan penyelamatan muka Abstract The purpose of this research is to describe the versatility application of politeness strategy in Crazy, Stupid, Love. Politeness strategy is needed to maintain the face threatening act and face saving act. The theories that are used in this research are Brown and Levinson (politeness strategies) to understand the use of politeness strategy and Leech (politeness principles) to get an idea of the politeness principles that underly each politeness strategy. Descriptive qualitative is used to analyze the data in this research. The use of descriptive qualitative to give deeper explanation of each datum. Researcher understands the Crazy, Stupid, Love movie and classified the data from the beginning to the end of the movie. Data that are acquired are in the form of utterances that is used by the main characters, that is related to politeness strategies. The result of this study shows that politeness strategies are so versatile in the application. The main characters apply politeness strategy in every situation to save the hearer’s “face”. Since all politeness strategies according to Brown and Levinson are found in this research. It gives more focus on how versatile politeness strategies are. While saving the honor of the hearer, the analysis on politeness principles shows how to maintain relationship among speaker and hearer. All of politeness principles are found in this research. The relation between politeness strategies and politeness principles is that the researcher can find certain type of politeness principle that underly certain type of politeness strategy. When a speaker wants to minimize face threatening act, he also shall establish feeling between the speaker and the hearer. So when speaker minimizes FTA it is called politeness strategies. In the process of minimizing FTA, the speaker also establishing social relationship, which is called as politeness principle. Therefore, the relation of politeness principles and its strategies are inseparable.   Keywords: politeness strategies, politeness principles, face threatening act, face saving act
THE FLOUTING MAXIMS OF HUMOROUS LYING IN “HOW I MET YOUR MOTHER” TV SERIES SAFAUDIN,
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Selain digunakan untuk konteks yang luas dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa melihat bagaimana kebohongan digunakan sebagai media dalam komedi dengan melihat pada kecenderungannya untuk berputar pada pola tertentu. Hal ini menjadi dasar pada studi ini untuk berfokus padaaktingbohong berkarakteristik humor yang dilakukan oleh karakter dalam serial TV How I Met Your Mother. Tujuan dari studi ini adalah membahas pelanggaran maksim dalam proses bohong pada tataran Implikatur yang dilakukan dalam serial TV How I Met Your Mother selain juga untuk mendeskripsikan kontribusi dari pelanggaran maksim dan imlplikatur dari percakapan terhadap bohong yang ditunjukkan dalam serial TV How I Met Your Mother terkait hal nya dengan memunculkan efek humor. Teori yang digunakan adalah teori implikatur percakapan, prinsip kerjasama, dan mekanisme humor. Data dalam studi ini diambil dari kumpulan percakapan dalam serial TV How I Met Your Mother yang sudah dipilih terlebih dahulu. Studi ini menemukan hubungan yang kuat antara pelanggaran maksim dan implikatur percakapan dalam pembentukan fenomena bohong berkarakteristik humor. Tipe kebohongan tersebut menjadi mudah dikenali dengan adanya  eksploitasi oleh pelanggaran maksim. Sedangkan implikatur percakapan dibutuhkan untuk memahami adanya kebohongan dimana eksploitasi kebohongan berperan sebagai titik kulminasi nya.    Kata Kunci:Bohong, humor, implikatur percakpan, prinsip kerjasama, melanggar maksim Abstract Despite being used in a broad context of daily life, Lying is also seen to be an adequate device to be applied in comedy with a tendency to circulate the process around certain typical patterns. With regard to this fact, this study focuses upon the act of humorous Lying performed by characters of How I Met Your Mother TV Series. The purpose of this study is to examine the conversational maxims which are being flouted during the process of lying within conversational implicature performed at How I Met Your Mother TV Series as well as describing the contribution flouting maxims and conversational implicature toward the lie performed at How I Met Your Mother TV Series in terms of stimulating humorous effect. The theories of Conversational Implicature, Co-operative principles, and humor theories are used within this study. This study also uses descriptive qualitative method as a meant to do the data analysis.The data are set of utterances taken from the dialogue between the characters of How I Met Your Mother TV Series which has been filtered carefully beforehand. This study found that there is a well-established connection between the production of humorous lying with the flouting maxims and conversational implicature theory. Humorous lying are recognized through the exposition of lying in which the surprise element brought by the flouting maxims are somewhat useful in supporting the lying to be exposed. Meanwhile, the conversational implicature is needed in its importance to understand lying as method of asserting in which the exposition of lying is seen to be a culmination point within humorous lying.   Keywords:Lying, humor, conversational implicature, co-operative principles, flouting maxims  
ILLOCUTIONARY ACTS ON CHRIS GARDNER’S DIALOGUE IN PURSUIT OF HAPPYNESS MOVIE PRADANA AQUATAMA, RIO
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuandaripenelitianiniuntukmengidentifikasidanmenganalisisjenistindakanilokusidari Chris Gardner sebagaikarakterutamadalam film yang berjudulPursuit of Happyness. Film iniberdasarkankisahnyatadari Chris Gardner yang memilikimimpibesaruntukdirinyadankeluarganya. Chris memilikikesempatanuntukmenjadipialangsaham, tetapiiaharusberada di anggotamagangpertama yang berartiiatidakmenerimagaji. Chris memutuskanuntukmelakukannyatapiketikaistrinyameninggalkannyadandiadiusir, diaharusmengurusanaknyasendiri. Jadimerekakadang-kadanghidup di jalandanberjuanguntukmelewatinya. Dan Chris bertekaduntukmelaluinya.Penelitianinimenggunakankeduametodekualitatifdankuantitatifuntukmelakukananalisisdalamrangkauntukmengeksposmasalahpenelitian; 1) jenistindaktuturilokusi yang munculpadapercakapan Chris, dan (2) alasantinndaktuturilokusi yang dominanmunculdaripercakapan Chris. Data termasukucapan-ucapandaripercakapandengantokohutamaberisitindakanilokusidalam film. Teori yang diterapkanuntukpenelitianiniadalahjenistindakanilokusioleh George Yule. Data telahdiklasifikasikankedalamlimaklasifikasi; representatif, direktif, komisif, ekspresifdandeklaratifdaritindaktuturilokusidandianalisissemua.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaada 488 ucapan yang berisitindakanilokusi. Yang ditemukan 204 ucapanatau 41,8% dari total data untukrepresentatifdengantindakan yang dilakukanseperti: menegaskan, menginformasikan, melarang, mengklaim, danbersikeras. Kemudiandiikutiolehdirektifdengan 176 ucapanatau 36,1% data dengantindakan yang dilakukanseperti: meminta, memerintah, meminta, pemesanan, memohon, danmenasihati. Ekspresifdigunakan di 72 ujaranatausekitar 14,7% dengantindakan yang dilakukanseperti: berterimakasih, memintamaaf, ucapan, mengejek, danmemuji. Sementaraitukomisfdigunakan di 34 ujaranatau 7% dengantindakan yang dilakukanseperti: menjanjikan, menawarkan, memprotes, mengancam, menerima, menolak, danmeyakinkan. Yang terakhiradalahdeclaratifdenganhanya 2 ucapanditemukanatauhanya 0,4% dari total data denganhanyamenemukan 1 tindakanyaitumenerimapekerjaan.     Kata Kunci:tindaktuturilokusi, representatif, direktif, expresifs, komisif, deklaratif Abstract The purpose of this study to identify and analyze the types of illocutionary acts from Chris Gardner as the main Character in the movie entitled Pursuit of Happyness. This movie based on the true story from Chris Gardner who had big dream for him and his family. Chris had an opportunity to become stockbroker but he had to be in the internship member first which means he had no salary. Chris decided to do it but when his wife left and he was evicted, he had to take care of his son on his own. So they sometimes lived on the street and struggled to get by. But Chris was determined to make it.This study uses both qualitative and quantitative methods to do the analysis in order to expose the research problems which are; 1) the types of illocutionary acts that occur on Chris dialogues, (2) the function of illocutionary acts, and (2) the reason of dominant illocutionary acts that occur from Chris dialogue. The data included utterances from the conversation by main character contain illocutionary acts in the movie. The theory that were applied for this study was the types of illocutionary acts by George Yule. The data had been classified into five classification; representative, directive, commissive, expressive and declarative illocutionary acts and analyzed them.The result of the study showed that there are 488 utterances containing the illocutionary acts. That found 204 utterances or 41.8% from the total data for representative with the performed actions such as: asserting, informing, prohibiting, claiming, and insisting. Then followed by directive with 176 utterances or 36.1% data with performed actions such as: asking, commanding, requesting, ordering, pleading, and advising. Expressives used in 72 utterances or about 14.7% with the performed action such as: thanking, apologizing, greeting, mocking, and praising. Meanwhile commissives used in 34 utterances or 7% with performed actions such as: promising, offering, protesting, threatening, accepting, refusing, and assuring. The last is declaratives with only 2 utterances found or only 0.4%.   Keywords:illocutionary acts, representatives, directives, expressives, commissives, declaratives
THE RELEVANCE BETWEEN WORD FORMATION OF POKéMON NAME AND ITS APPEARANCE CIPTA AGI MAULANA, PRATAMA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pokemon telah menjadi waralaba yang sukses di dunia sejak kemunculan video game pertamanya pada tahun 90-an. Pokemon menjadi sangat unggul berkat ­gameplay-nya yang unik. Pemain dapat mengumpulkan atau menangkap berbagai jenis makhluk fiksi dengan nama yang berbeda. Nama-nama makhluk tersebut diciptakan dari kombinasi banyak kata. Relevansi antara makna nama dan penampilan mereka dianalisis menggunakan semantik kognitif dan metafora konseptual dari Dobri? (2010) dan segitiga relativitas dari Ogden dan Richards (1923). Metode yang paling cocok untuk menganalisis nama Pokémon adalah deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan teknik dokumentasi, nama Pokémon dan informasi terkait apapun dapat diperoleh. Ada enam jenis proses pembentukan kata yang digunakan dalam nama Pokémon. Mereka adalah penciptaan kata-kata baru, pencampuran, penggabungan, pemendekan, derivasi, dan proses ganda. Hubungan antara nama Pokémon dan penampilan dapat dibedakan menjadi hubungan langsung dan tidak langsung. Kata kunci: pembentukan kata, morfologi, Pokémon, semantik, metafora     Abstract Pokémon has become a successful franchise around the world since its first appearance as a video game in the middle of 90s. Pokémon becomes distinguished because of its unique gameplay. The player can collect or catch many kinds of fictional creatures with different names. The names of those creatures are created from the combination of many words. This study examines the relevance between the meaning of Pokémon names and using cognitive semantics and conceptual metaphor from Dobri? (2010) and basic triangle of relativity by Ogden and Richards (1923). The most suitable method to analyze Pokémon names is descriptive qualitative. By using documentation technique, Pokémon names and any related information can be obtained. There are six type of word-formation process used in Pokémon names. They are coinage, blending, compounding, clipping, derivation, multiple process. The relation between Pokémon names and appearances are direct and indirect. Keywords: word-formation, morphology, Pokémon, semantics, metaphor
ENGLISH LANGUAGE VARIATION IN COUNTRYBALLS CARTOONS Finsa Zulkarnain, Bachtiar
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat milyaran macam bahasa di seluruh dunia yang mana beberapa diantaranya digunakan sebagai bahasa internasional untuk mempermudah masyarakat antar bangsa berkomunikasi satu sama lain. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa internasional yang penggunaannya begitu luas. Penggunaan yang sangat luas ini mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dasar pada Bahasa Inggris, beberapa daerah bahkan memiliki versi bahasa Inggrisnya sendiri. Oleh karena itu, variasi dalam penggunaan bahasa Inggris mulai bermunculan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa salah satu contoh variasi Bahasa Inggris yang ditemukan dalam kartun Countryballs. Meskipun penggunaannya terbatas hanya pada kartun Countryballs, variasi bahasa Inggris ini sangat unik. Fokus penelitian ini menitik pada struktur variasi tersebut dengan menggunakan metode kualitatif dan menerapkan teknik pengambilan sampel dengan tujuan tertentu. Data yang dianalisa pada penelitian ini didapatkan dari sejumlah sosial media dan situs web. Dalam menganalisa strukturnya, penelitian ini berdasar pada penjelasan Tatabahasa dan Gaya oleh Simpson (2004). Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa variasi bahasa Inggris ini memiliki empat ciri struktural. Kata Kunci: Variasi bahasa Inggris, kartun Countryballs, tatabahasa dan gaya.   Abstract There exist billions of languages throughout the world, some of which are used as an international language helping people to communicate with one another easily. English is one of them; it is spoken so broadly that it may change from its proper structure, some regions even have their own version of English. Consequently, certain variation in English seems to begin emerging. This study aims at analyzing one example of English variations found in Countryballs cartoons. Despite its use is limited only in the cartoons, this particular variation is remarkably unique. This study specifically focuses on the structure of this English variation. This is a qualitative study applying purposeful data sampling which data were collected from various social media and web sites. This study analyzed the structure of this English variation based on an explanation of Grammar and Style by Simpson (2004). The findings show that this English variation has four structural characteristics. Keywords: English variation, Countryballs cartoons, grammar and style.  
CONCEPTUAL STRUCTURES OF EPONYMOUS BAND NAMES RISKY, ALFIAN
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nama adalah aspek penting dalam sebuah identitas yang harus dimiliki oleh semua objek. Karena nama pun sebuah objek agar dapat diingat. Nama diciptakan berdasarkan banyak alasan dibaliknya yang bisa dikatakan rasional maupun tidak rasional. Atas nama penggunaan nama oleh band music, nama mereka diciptakan dalam berbaga istruktur dan arti. Nama pun dikatakan menyimpan berbagai alasan sang pencipta nama yang dimana hampir tidak diketahui maksudnya dan melalui proses berpikir.  Studi ini bermaksud ingin mengungkap alasan-alasan dari pembuatan nama dan menjelaskannya melalui tiga elemenya yaitu struktur, fungsi, arti dan juga mencari relasi antara nama, aliran musik dan pemikiran atau konsep. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sebagai inti dari analisa. Dalam rangka membuat grup tematik, studi ini mengkategori ulang setiap data yang ada. Studi ini menggunakan sejarah dari nama itu untuk mengungkap pemikiran sang pembuat terlebih dalam hal arti dan fungsinya. Studi ini menggunakan teori oleh Evan tentang semantic kognitif dan teori oleh McGuigan tentang eponym juga beberapa pernyataan oleh Mark Nichol tentang tujuh tipe eponym. Studi ini menemukan bahwa ada berbagai arti yang tercipta dari nama tersebut, berbagai struktur yang digunakan, berbagai fungsi dari nama seperti kegunaan nama band dalam urusan bisnis band dan menjadi panutan atas band baru untuk membuat nama baru, relasi antara nama, aliran musik dan pemikiran. Tidak hanya itu, ada juga pengungkapan terhadap data yang tidak ber-relasi dengan tiga elemen. Berdasarkan dengan teori “Conceptual Structure” dan “Image Schema”, ditemukan berbagai aspek seperti sistem Forc-Dynamic, sistem perspectival, sub-skema “Existence”, sub-skema “Identity”, dan sub-skema “Force”. Berdasarkan fakta tersebut, nama bisa ber-relasi terhadap berbagai aspek, yaitu mengandung tujuan khusus dan bisa mengungkap konsep melalui hubungan nama dengan genre. Kata Kunci: isi, format, artikel.   Abstract Name is the main part of identity that every object should have. By the name, the object can be remembered. Name was created by many reasons behind which are reasonable even irrational. As the band used it for the identity, the name is created in various constructions and meanings. The name itself contains many unknown reasons that were created by the creator and through the thinking process to create the concept. This study wants to reveal the reason of creating the name and explain it through three elements which are based on form, function, and meaning also finds the relation of the name, genre, and thought. This study uses qualitative descriptive as the main core of analysis. In order of creating thematic groups, this study re-categorized all of the data based on it. This study uses the reference or history of each name to finds out the reason and especially in meanings and function. All data of this study were taken from online sources. The analysis of this study using the main theory from Evan’s about cognitive semantic and McGuigan’s theory about eponym also Mark Nichol’s statement of seven eponym types. This study found that there are various meanings were created by the name itself, the various form of name, many name functions such as the usage of band name in band business and as an influence to create a new name, relation between name, genre, and thought. There is also the revelation of concept through the data that not related with the three elements. Analysis towards the theory of conceptual structure and image schema founds there are various aspects, those are Force-Dynamic system, Perspectival system, Existence main image, Identity main image, and Force main image. By those facts, name can be related to many aspects, contain the specific purpose and can reveal the concept of it through the genre. Keywords: Eponym, Name, Concept, Relation.
PARENTAL GUIDANCE MOVIE: PSYCHOLINGUISTICS PERSPECTIVE OF UTTERANCES IN TURNER SIMMONS’S STUTTERING DESITA IRIYANTI, LELIANA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fenomena berbicara gagap umum terjadi di kalangan masyarakat namun tidak semua orang mengerti apa yang terjadi pada penderita gagap yang menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam berkata. Gagap dapat terjadi pada orang di segala umur, meski begitu gagap umum terjadi terutama pada usia pertumbuhan yang sedang belajar berbicara. Penderita gagap dalam memproduksi kata atau kalimat saat berbicara, biasanya tidak lengkap sebagaimana mestinya karena otak manusia yang berfungsi sebagai pengolahan bahasa memiliki gangguan fungsi. Tujuan dari peneitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis-jenis gagap yang lalu dikaitkan pada jenis-jenis bunyi ucapan yang susah dikatakan pada anak yang bernama Turner Simmon di film Parental Guidance. Penelitian ini menjelaskan jenis-jenis gagap dan bunyi ujaran pada anak penderita gagap dalam perspektif psikolinguistik. Dalam gagap, penyebabnya belum diketahui tetapi diyakini adanya gangguan dalam cara koordinat otak berbagai komponen yang berfungsi sebagai pengolahan bahasa.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif dengan prioritas untuk menganalisis dan menggambarkan data. Data dari penelitian ini diambil dari percakapan yang dilakukan oleh Turner Simmons, khususnya pada saat terjadinya gagap. Temuan penelitian ini hanya ditemukan empat jenis gagap dari enam jenis gagap dalam ucapan Turner yaitu pengulangan bagian - kata, pengulangan seluruh - kata, perpanjangan suara, dan blok yang muncul dalam fenomena Turner. Sebagian besar pengulangan bagian - kata terjadi di awal kata. Sementara, bunyi yang sebagian besar muncul dalam gagap Turner adalah / s /, / w /, / d /, dan / ð /. Bunyi / s / adalah bunyi tertinggi yang sering terjadi dalam ucapan Turner. Kata Kunci: gagap, ucapan,bunyi ujaran, psikolinguistik     Abstract The phenomenon of stuttering is common among people, but not everyone understands what happens to people with stuttering that caused them to have difficulty in speaking. Stuttering happens in persons of any age, however it is most basic in youthful kids who are creating and learning language and speech. In stuttering, producing speech is not complete as it should be, because human brain that functions as language processing has dysfunction.The purpose of this study is to identify and describe the types of stutteringthenassociatedto the kinds of speech sounds that occurs in children called Turner Simmon in Parental Guidance movie. This study explained the types of dysfluencies and speech sound of a child who has a stuttering in psycholinguistics perspective. In stuttering, the causes are not yet known but it is believing that there are disruption in the way the brain coordinates the various components which functions as language processing.This study used qualitative descriptive with priority to analyze and describe data. The data from this study were taken from conversations conducted by Turner Simmons, especially at the time he produced his stuttering. The findings of this study only found four types of stuttering from the six types of stuttering in speech Turner which is part – word repetition, whole – word repetition, sound prolongation, and block appear in Turner’s phenomena. Mostly part – word repetitions occurred in the beginning of word. While, the speech sounds that mostly appear in Turner’s stuttering are /s/, /w/, /d/, and /ð/. The /s/ sound is the highest sounds that often occur in Turner’s utterances.   Keywords: stuttering, utterances, speech sound, psycholinguistics
THE NATIVIZED WORDS CAUSED BY BORROWING IN INDONESIAN PERSONAL NAMES AND THE PRESTIGE WIDYA AWALIN, SELVIYANA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 9