cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2019): April 2019" : 9 Documents clear
Eksistensi Lahan Terlantar di Kawasan Renon Denpasar Marthin Gunardhy; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; Ni Made Yudantini
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1669.042 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p06

Abstract

The development of Denpasar City that stands out will run well if it is on land that is in accordance with the function of land use and runs continuously.The phenomenon that occurs in the Renon Area of Denpasar is that there are dozens of land that are not functioning or utilized to the maximum so that the land is vacant. This study identified the characteristics of vacant land and the factors that caused the vacant land in the Renon Area of Denpasar. The existence of vacant land can have a negative impact on the potential decline in land use, as well as the implications for the image of the city in the Renon Area of Denpasar. Typological theory, characteristics of vacant land and land use are used in the theoretical study approach. This study used a qualitative method, as a source of data carried out observation, direct documentation and data from interviews with informants of vacant landowners and surrounding communities. The results showed that the typology of vacant land in the Renon Area was land with natural vegetation and was not maintained, land with vacant buildings, land with building debris, and land with semi-permanent buildings that were used for temporary activities. Factors causing the vacant land include: socio-economic factors, factors in physical conditions / location, government policy / administration factors. The results of the research in the form of identifying typologies and causes of vacant land can have significant implications for the development of government policies, and for urban planners and designers in seeking the best benefits in the use of vacant land for the benefit of all parties. Keywords: function, vacant land, land utilization, Renon Area Abstrak Perkembangan pembangunan Kota Denpasar yang menonjol akan berjalan dengan baik apabila berada diatas lahan yang sesuai dengan fungsi dari peruntukan lahan dan berjalan secara berkesinambungan. Fenomena yang terjadi di Kawasan Renon Denpasar terdapat puluhan lahan yang tidak difungsikan ataupun dimanfaatkan dengan maksimal sehingga terjadinya lahan terlantar. Penelitian ini mengidentifikasikan karakteristik lahan terlantar dan faktor-faktor penyebab terjadinya lahan terlantar di Kawasan Renon Denpasar. Eksistensi lahan terlantar dapat berdampak buruk pada turunnya potensi pemanfaatan lahan, maupun implikasi terhadap citra kota di Kawasan Renon Denpasar. Teori tipologi, karakteristik lahan terlantar dan penggunaan lahan digunakan dalam pendekatan kajian teori. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sebagai sumber data dilakukan observasi, dokumentasi langsung dan data hasil wawancara informan pemilik lahan terlantar serta masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan tipologi lahan terlantar pada Kawasan Renon adalah lahan dengan tumbuh-tumbuhan alami dan tidak terawat, lahan dengan bangunan yang terbengkalai, lahan dengan puing-puing bangunan, dan lahan dengan bangunan semi permanen yang difungsikan untuk kegiatan temporer.Faktor penyebab terjadinya lahan terlantar diantaranya: faktor sosial-ekonomi,faktor kondisi fisik / lokasi,faktor kebijakan / administrasi pemerintah. Hasil penelitian yang berupa pengidentifikasian tipologi dan penyebab dari lahan terlantar ini dapat memberikan implikasi yang signifikan terhadap pengembangan kebijakkan pemerintah, dan bagi perencana serta perancang kota dalam mencari manfaat terbaik dalam pemanfaatan lahan terlantar demi kepentingan semua pihak. Kata kunci : fungsi, lahan terlantar, pemanfaatan lahan, Kawasan Renon
Konservasi Arsitektur Pura Berbasis Komunitas di Pura Dasar Buana Gelgel, Klungkung Made Agus Adi Prabawa; I Made Adhika; Ida Bagus Gde Wirawibawa
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.468 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p02

Abstract

Pura Dasar Buana Gelgel is one of Kahyangan Jagat temples of which the shrine of Catur Dewata, located in Desa Pakraman Gelgel, Klungkung, Bali. In recent years, conservation upon some architectural elements are conducted by the management. Concerning the conservation, this study aimed at: reviewing the significant value that triggered the conservation; the applied procedure, ethics, and degree of intervention on conservation; and formulating the relevant directive of community-based temple architecture conservation model that should be implemented in Pura Dasar Buana Gelgel. This study used qualitative research method, in form of case study and descriptive-qualitative analysis. The research finding showed that the conservation was triggered by the emotional value, cultural value, and use value. Referring the conservation procedure, there were some steps that were not passed, not yet passed, and some additional steps that should be passed. Based on the aspect of conservation ethic, all the conserved temple architectural elements had an ideal conservation ethic. The conservation degree of intervention was restoration with 2 (two) kinds of job, i.e. consolidation and rehabilitation. Community-based temple architecture conservation model were formulated, namely planning and implementation of community based architectural conservation program. Keywords: conservation, architecture, Pura Dasar Buana, community Abstrak Pura Dasar Buana Gelgel adalah Kahyangan Jagat linggih Ida Bhatara Catur Dewata yang terletak di Desa Pakraman Gelgel, Klungkung, Bali. Beberapa tahun belakangan ini, oleh pengelola Pura dilaksanakan upaya konservasi terhadap beberapa elemen arsitekturnya. Beranjak dari pelaksanaan konservasi itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri: nilai signifikansi yang melatarbelakangi upaya konservasi; prosedur, etika, dan tingkat intervensi yang diterapkan di dalam upaya konservasi itu; serta merumuskan arahan model konservasi arsitektur Pura berbasis komunitas yang relevan diterapkan di Pura Dasar Buana Gelgel. Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian studi kasus dan analisis kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya konservasi dilatarbelakangi oleh nilai emosional, nilai budaya, dan nilai kegunaan. Merujuk dari prosedur konservasi, ada tahapan yang tidak dilalui, belum dilalui, dan terdapat pula penambahan tahapan yang harus dilalui. Berdasarkan aspek etika konservasi, semua elemen arsitektur Pura yang dikonservasi memperoleh etika konservasi yang ideal. Tingkat intervensi konservasi yang diterapkan adalah pemugaran dengan 2 (dua) jenis pekerjaan, yaitu konsolidasi dan rehabilitasi. Model konservasi arsitektur Pura berbasis komunitas yang dirumuskan, yaitu perencanaan dan implementasi program konservasi arsitektur berbasis komunitas. Kata kunci: konservasi, arsitektur, Pura Dasar Buana, komunitas
Kajian Fasad Bangunan terhadap Visual Connection di Koridor Jalan Teuku Umar, Denpasar A. A. Gede Trisna Gamana Pratama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2168.446 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p05

Abstract

The development and growth of Denpasar City is accompanied by the development of diverse architecture. Mainly at Teuku Umar streetas one of the commercial centers there. It will affect the image of a city if the building façade doesn’t directed according to how the government wants based on regional Regulation Number 27 of 2011 about Denpasar city layout project. This research uses descriptive qualitative research with rationalistic approach based on the facts at the field, with primary data observations and direct documentation of building facade. The results of this research indicate visual connection which formed in this corridor is dominated by commercial buildings, so it contributes the modern building architectural image which is dominated.This kind of thing is still outlyingfrom what was expected from the look of Denpasar city. Whereas Denpasar should be a cultural insightful city although Teuku Umar street is one of the commercial and services center in Denpasar city. Denpasar government who take the responsibility of the wisdom is expected to make the reference of using building façade more specific based on the function of the building itself and not to generalize them. So as the function of commercial calibrate the look of the building that can attract the interest of customers and also can appropriate to how Denpasar city wants the city look like. Keywords: building facade, visual connection, Teuku Umar street corridor Denpasar (Times New Roman 10t, Blank, Times New Roman 12pt, Single-before 0-after 6) Abstrak (Times New Roman 12pt, Bold, Multiple at 1.15-before 0-after 6) Perkembangan dan pertumbuhan Kota Denpasar diiringi dengan perkembangan arsitektur yang beragam.Terutama di koridor Jalan Teuku Umar sebagai salah satu pusat komersial di Kota Denpasar. Hal tersebut mempengaruhi image sebuah koridor kota melalui tampilan fasad bangunan yang ada, tidak diarahkan sesuai wajah kota yang dinginkan pemerintah berdasarkan Peraturan Daerah No 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan rasionalistik berdasarkan kenyataan dilapangan, dengan data primer diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi langsung berupa image fasad bangunan. Hasil penelitian menunjukkan visual connection yang terbentuk pada koridor ini didominasi bangunan komersial, sehingga memberikan image bangunan arsitektur modern yang mendominasi tampilan fasad bangunan. Hal ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan dari wajah kota Denpasar yang berwawasan budaya, namun dengan kondisi Koridor Jalan Teuku Umar yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan jasa di Kota Denpasar. Diharapkan pada pengampu kebijakan yakni Pemerintah Kota Denpasar agar membuat acuan mengenai penggunaan fasad bangunan lebih khusus berdasarkan jenis fungsi bangunan dan tidak mengeneralisir sehingga pada fungsi bangunan komersial dapat menyesuaikan tampilan yang dapat menarik minat pengunjung dan juga sesuai dengan wajah kota yang diinginkan Kota Denpasar. Kata kunci: fasad bangunan, visual connection, Koridor Jalan Teuku Umar Denpasar
Detil Publikasi Made Swanendri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.526 KB)

Abstract

Filosofi Estetika Rumah Tradisional Desa Bayung Gede A. A. Gde Djaja Bharuna S.; Ida Bagus Bupala; Ketut Muliawan Salain
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.625 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p04

Abstract

The village of Bayung Gede is a mountain village (± 800-900 M asl) in Kintamani Subdistrict, Bangli Regency, and one of the traditional villages that have uniqueness in its architecture. The traditional house in Bayung Gede Village is not only a multifunctional dwelling, but also has aesthetic value, philosophy, and representation of the simple life of its inhabitants. The aesthetics seem simple, but they contain philosophical values in every detail. The use of natural materials such as wood and bamboo are abundant in the village environment affect the appearance of architectural form, while the shape will affect the appearance of aesthetic build. The purpose of this paper is to uncover the aesthetics of traditional houses in the village of Bayung Gede, within the framework of philosophy concept studies underlying the embodiment of the aesthetic aspect of architecture. The purpose of the study is, a proposition about the effort of appreciation and enrichment of Traditional Balinese Architecture, as one element of national/regional cultural identity. The method used is descriptive-naturalistic, which is a way to find and understand the values owned by society in accordance with the structure of components in the architecture. The conclusion of the research, that the essence of a work of architecture contains social functions and aesthetic rules, is a supernatural power that is incarnate, as a realized idea, the devotion to God, the means of continuity of tradition, as a form of creativity, and as a means of recreation . This is apparent in the aesthetic philosophy of a traditional house in Bayung Gede Village. Keywords: aesthetics, philosophy, traditional Balinese architecture, traditional house Abstrak Desa Bayung Gede merupakan desa pegunungan (±800-900 M dpl) di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, serta salah satu desa tradisional yang memiliki keunikan dalam arsitekturnya. Rumah di Desa Bayung Gede merupakan tempat beraktivitas juga menjadi simbol yang khas dari masyarakatnya. Rumah tradisional di Desa Bayung Gede tidak hanya sebagai hunian yang multifungsi, melainkan juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan representasi kehidupan sederhana penduduknya. Estetikanya nampak sederhana, namun mengandung nilai-nilai filosofi pada setiap detailnya. Topografi di daerah pegunungan dan pemakaian bahan alam seperti kayu dan bambu yang banyak terdapat di lingkungan desa mempengaruhi tampilan bentuk arsitekturnya, sedangkan bentuk akan mempengaruhi tampilan estetika bangunanannya. Maksud penulisan adalah untuk mengungkap estetika rumah tinggal tradisional di Desa Bayung Gede, dalam kerangka studi konsep filosofi yang melatari perwujudan hadirnya aspek estetika arsitekturnya. Tujuan penelitian adalah, sebuah proposisi tentang upaya penghargaan serta pengayaan khasanah Arsitektur Tradisional Bali, selaku salah satu unsur jati diri kebudayaan daerah/nasional. Metoda yang dipergunakan adalah deskriptif-naturalistik, yaitu suatu cara untuk mencari dan memahami nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat sesuai dengan struktur komponen pada arsitektur. Kesimpulan penelitian adalah, bahwa hakikat suatu karya arsitektur mengandung fungsi-fungsi sosial dan kaidah estetika, merupakan kekuatan adikodrati yanng menjelma, sebagai ide yang terwujud, bakti kepada Tuhan, kesinambungan tradisi, wujud kreativitas, dan sebagai sarana bersenang. Hal tersebut nampak pada filsafat estetika rumah tradisional di Desa Bayung Gede. Kata Kunci: estetika, filosofi, arsitektur tradisional Bali, rumah tradisional
Editorial: Urban Design – The Synthesis Discipline Alexander R. Cuthbert
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.181 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p01

Abstract

-
Eksistensi Konsepsi Kiwa-Tengen pada Tata Ruang Umah Dadia di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli Made Chryselia Dwiantari; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Tri Anggraini Prajnawrdhi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1666.235 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p08

Abstract

Sukawana Village is a village patterned in the Bali Aga culture located in the highland region of Kintamani District, Bangli Regency, Bali. The village's residential area is surrounded by hilly areas, ravines, and fields belonging to the residents. Within this village area there is a parent settlement complex that is the forerunner of the village. The settlements are in four banjar areas, namely in Munduk Lampah, Banjar Tanah Daha, Banjar Sukawana, and Banjar Desa. Each of these banjars is also composed of several umah dadia units in the form of a series of residential buildings in one natah or shared yard which is inhabited by a group of people who still have family ties. The pattern of building a house in one house unit is described as following the left lane pattern (kiwa) and the right lane (tengen). This pattern is formed in such a way based on many conceptual foundations that have been passed down from generation to generation. This study aims to determine the manifestation of the implementation of the concept of kiwa-tengen known in the cultural order in the village of Sukawana. The study was focused on spatial phenomena in umah dadia by applying rationalistic research methods. Findings found that the existence and application of the kiwa-tengen conception in Sukawana Village culture is related to the observer's point of view, the dichotomic conception of hulu-teben, brotherly relations between siblings and siblings, and the existence of imaginary axes in the umah dadia. Keywords: conception, kiwa-tengen, umah dadia, Sukawana Village, hulu-teben Abstrak Desa Sukawana adalah sebuah desa bercorak kultur Bali Aga yang berlokasi di wilayah dataran tinggi Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Wilayah permukiman desa ini dikelilingi oleh daerah perbukitan, jurang, serta area ladang milik para penduduk. Dalam wilayah desa ini terdapat suatu kompleks permukiman induk yang menjadi cikal bakal desa. Permukiman tersebut berada di empat wilayah banjar, yaitu di Banjar Munduk Lampah, Banjar Tanah Daha, Banjar Sukawana, dan Banjar Desa. Masing-masing banjar ini juga tersusun atas beberapa unit umah dadia yang berwujud sederetan bangunan rumah tinggal dalam satu natah atau pekarangan bersama yang dihuni oleh sekelompok orang yang masih mempunyai hubungan ikatan keluarga. Pola bangunan rumah dalam satu unit umah dadia digambarkan menganut pola lajur kiri (kiwa) dan lajur kanan (tengen). Pola ini terbentuk sedemikian rupa berdasarkan banyak dasar konsepsual yang sudah berlaku secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran wujud implementasi dari konsepsi kiwa-tengen yang dikenal dalam tatanan budaya di Desa Sukawana. Kajian yang dilakukan terfokus pada fenomena keruangan dalam umah dadia dengan menerapkan metode penelitian rasionalistik. Temuan yang didapatkan bahwa keberadaan dan penerapan konsepsi kiwa-tengen dalam kultur Desa Sukawana adalah terkait dengan sudut pandang pengamat, konsepsi dikotomik hulu-teben, serta keberadaan sumbu aksis imajiner dalam pekarangan umah dadia. Kata kunci: konsepsi, kiwa-tengen, umah dadia, Desa Sukawana, hulu-teben
Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah sebagai Upaya Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) di Kota Denpasar I Gusti Agung Adi Wiraguna; Ngakan Putu Sueca; I Made Adhika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.812 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p07

Abstract

An escalating need for space in a growing city has placed urban agricultural land a target for conversion. This is often done to accommodate the need for housing and commercial development. Many cities in Asia agricultural land comes in the form of rice paddy field and is treated as the main component of urban open space. In this position, the paddy field possesses important environmental, aesthetical, social, and economical values. Realizing this conditin, Local Government for Denpasar for instance, requires 30% of its total area dedicated for urban open space. But a statistical data for this city shows a average decrease of 31.86% of farming land annually. A record for year 2010 demonstrates 2.632 hectare of farmed land available accross the city. This figure droped into 2.409 hectare in 2017. This study aims to determine fundamental factors determining the conversion of agricultural land in Denpasar. It is conducted using a mixed of qualitative and quantitative method. The study reveals the important roles held by various parties involved including government, community, private sector and social institutions, in directing the conversion of agricultural land. This involves a three stages decision making process: planning, organization, and incentive provision. Planning stage is excecuted by stipulating a spatial planning that protects the sustainability of the agricultural zone. Management method is done by developing a Subak Lestari Zone. On top of these two stages, owners of agriclutural lands will also be given incentives in the forms of subsidized fertilizers to ease the cost of farming activities. The proposed methods are to be excecuted based on community participation concept. Keywords: spatial conversion, urban open space, land use control Abstrak Perkembangan suatu kota memberikan implikasi pada tingginya pemanfaatan ruang kota. Kebutuhan lahan yang meningkat berdampak terhadap munculnnya alih fungsi lahan terutama lahan sawah. Luas lahan sawah yang terus menurun berpengaruh terhadap proses penataan ruang kota. Lahan sawah merupakan salah satu bagian ruang terbuka hijau skala kota. Proporsi ruang terbuka hijau minimum adalah 30% dari luas wilayah kota. Luas lahan sawah di Kota Denpasar mengalami penurunan rata-rata sebesar 31,86 Ha setiap tahunnya. Luas lahan sawah tahun 2010 yaitu 2.632 Ha mengalami penyusutan menjadi 2.409 Ha di tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengendalian alih fungsi lahan sawah di Kota Denpasar. Penelitian ini mengunakan metode penelitian yang menggabungkan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menyimpulkan pentingnya eksistensi pemerintah, masyarakat, sektor swasta dan lembaga sosial melakukan intervensi terhadap faktor-faktor penyebab terjadinya alih fungsi lahan sawah. Pengambilan kebijakan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu peraturan, pengelolaan dan pemberian insentif. Pendekatan melalui peraturan secara umum diterapkan pemerintah melalui penetapan rencana tata ruang wilayah. Pendekatan melalui pengelolaan dilakukan dengan pembentukan kawasan subak lestari sebagai bagian dari lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pendekatan melalui pemberian insentif dilakukan dengan salah satunya melalui pemberian subsisi pupuk kepada para petani. Bentuk pengendalian lainnya dilakukan dengan pendekatan yang berbasis partisipasi masyarakat. Kata kunci: alih fungsi lahan sawah, pengendalian, ruang terbuka hijau kota
Pengaruh Konversi Religi pada Tata Bangunan Rumah Tradisional Bali di Banjar Umacandi Buduk Ni Luh Putu Meiasih; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; I Wayan Kastawan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.831 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p03

Abstract

Religious conversion has occurred in the residents of Banjar Umacandi in Buduk Village, Badung Regency, Bali Province since 1930 until now. Majority of the Banjar Umacandi community converted their religion from Hinduism into Christianity due to health, economic, educational and environmental factors. The religion conversion have resulted in the changing of layout of the Balinese traditional houses. Some buildings which are commonly found in the Balinese Hindu traditional houses are not finding in the Balinese Christian homes. A study objective to determine the layout of traditional houses in Banjar Umacandi before and after religious conversion. The method uses in this research is a qualitative phenomenology, by this method all phenomenologies are described in original setting in term of the spatial setting.The supporting data are carried out by the observations, documentations and interview activities. Data is presented in the form of tables, graphs, maps and images, anda discussion with the refference theories. The study result shows that the Balinese Hindu traditional houses layout before religious conversion such as: holy place, bale daja, bale adat, kitchen, jineng, angkul-angkul, natah and teba, which are based on the Sanga Mandala concept but after the religious conversion the layout concept as changed. The holy place and bale adat does not find in the Christian homes, but the angkul-angkul still conserved in the present day. This research is useful for the academic world to expand the repertoire of knowledge about the effects of religious conversion on the building layout of traditional Balinese houses. Keywords: religious conversion, building layout, Balinese traditional houses Abstrak Konversi religi terjadi pada warga di Banjar Umacandi di Desa Buduk, Kabupaten Badung Provinsi Bali sejak tahun 1930 sampai sekarang. Sebagian besar warga Banjar Umacandi melakukan konversi religi dari agama Hindu ke Kristen karena faktor kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lingkungan. Konversi religi mengakibatkan perubahan pada tata bangunan rumah tradisional Bali. Beberapa bangunan yang biasa terdapat dalam rumah tradisional Bali tidak ada lagi di rumah umat Kristen. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tata bangunan rumah tradisional Bali di Banjar Umacandi sebelum dan sesudah konversi religi. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu kualitatif fenomenologi. Dengan metode ini didiskripsikan fenomena yang ada secara murni dalam hal pengaturan ruang. Data pendukung didapatkan dengan observasi, dokumentasi dan kegiatan wawancara. Data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, peta dan gambar kemudian dibahas dengan teori. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa rumah tradisional Bali sebelum konversi religi terdiri dari: tempat suci, bale daje, bale adat, dapur, jineng, angkul-angkul, natah dan teba, yang berdasarkan konsep sanga mandala tetapi setelah konversi religi konsep tata bangunan berubah. Bangunan tempat suci dan bale adat tidak ada pada rumah umat Kristen, tetapi angkul-angkul masih dilestarikan di masa sekarang. Penelitian ini bermanfaat bagi dunia akademik untuk memperluas khasanah pengetahuan tentang pengaruh konversi religi pada tata bangunan rumah tradisional Bali. Kata kunci : konversi religi, tata bangunan, rumah tradisional Bali

Page 1 of 1 | Total Record : 9