cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019" : 7 Documents clear
PAT PINURBA Oky Bima Reza Afrita
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.162 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2803

Abstract

Pat Pinurba merupakan koreografi kelompok yang terinspirasi dari konsep kiblat papat lima pancer yang berarti “empat arah yang ke lima pusat” di Jawa. Judul ini diambil dari bahasa Sanskerta, Pat berasal dari kata papat yang berarti empat, sedangkan Pinurba berasal dari kata purba yang berarti kekuasaan. Pat Pinurba dapat dimaknai sebagai empat yang dikuasai/dikendalikan.  Karya tari Pat Pinurba diekspresikan secara simbolis dan ditarikan oleh delapan penari, empat penari putra dan empat penari putri. Esensi kualitas gerak lembut dan keras (kendho dan kenceng) serta kualitas gerak dengan tempo lambat/pelan dalam teknik tari alusan Jawa yang tenang, mengalir, lambat dan detail menjadi inspirasi dasar untuk mengekspresikan karya Pat Pinurba. Karya tari ini didukung dengan video mapping, sehingga pencahayaan yang digunakan membutuhkan beberapa special light. Pendekatan koreografis yang digunakan pada karya tari Pat Pinurba yaitu sensasi ketubuhan, sensasi emosi, sensasi imaji, dan ritus ekspresi.Pat Pinurba is a dance art work created as a group choreography. This title took from sanskerta language, “Pat” from the word papat which means four, then “Pinurba” from the word purba which means control. Pat Pinurba has a meaning to control the four. Kiblat papat lima pancer concept which means “four directions then the fifth is the central” in Java, was take to express Pat Pinurba. Pat Pinurba shown symbolisly and danced by eight dancers, four male dancers and four female dancers. The soft and strong movement quality (kendho and kenceng) also the dinamic movement in alusan dance from Java which are smooth, flow, slow, and detail become a basic inspiration to express Pat Pinurba. This dance art work supported with a video mapping, so it needs a special lights. To create this choreography it used fisical sensation, emosional sensation, imaginal sensation, and ritual expression.
BALI JAWI Menghidupkan Kembali Nilai-Nilai Luhur Manusia Jawa Anter Asmorotedjo
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.486 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2684

Abstract

Tari berjudul Bali Jawi, sebuah karya yang terinspirasi dari sebuah ritual tradisi Jawa yang sering disebut dengan sowan leluhur. Ritual tersebut sering dilakukan oleh masyarakat penganut paham spiritual Jawa atau yang sering disebut dengan kejawen. Ritual sowan leluhur dipercaya sebagai warisan para leluhur Nuswantara. Para pelaku spiritual Jawa percaya bahwa para leluhur selalu njampangi anak cucunya, maka ritual tersebut sebagai wujud bakti dan bukti memuliakan para leluhurnya. Salah satu situs yang sering dikunjungi untuk ritual tersebut adalah Watu Gilang di Kotagede yang merupakan singgasana raja peninggalan kerajaan Mataram. Dari ritual yang dilakukan, banyak nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Tetapi di era modern saat ini ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan orang. Orang Jawa sendiri semakin menjauh bahkan tidak mengenal ritual semacam itu. Ironisnya ritual semacam itu dianggap sebagai tindakan yang menyesatkan. Padahal realitanya banyak ajaran kebaikan serta nilai-nilai keluhuran yang ada. Akibatnya orang Jawa semakin kehilangan jati dirinya sebagai manusia Jawa. Nilai-nilai luhur manusia Jawa semakin luntur dan banyak orang Jawa yang kehilangan identitasnya, Wong Jawa Ilang Jawane. Melihat realita yang terjadi terkait nilai-nilai luhur Jawa yang mulai luntur, didukung pengalaman empiris, serta proses refleksi diri memunculkan suatu energi untuk mengangkat persoalan tersebut dalam sebuah karya tari agar manusia Jawa kembali menjadi Jawa. Situs Watu Gilang sebagai tempat yang dijadikan sebagai titik awal penelitian artistik dalam penciptaan karya ini. Hasil riset di lapangan, informasi dari berbagai sumber, serta referensi dari literasi yang ditemukan dijadikan sebagai kekuatan karya Bali Jawi. Gagasan ditransformasikan ke dalam simbol-simbol ketubuhan, musik, properti, serta elemen pendukung lainnya. Simbol-simbol yang dihadirkan diharapkan mampu menginspirasi dalam upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur manusia Jawa. Pencipta tari mencoba melihat kembali masa lalu yang dikaitkan dengan masa kini, sebagai bekal untuk membaca dan melihat masa depan. Nilai-nilai luhur manusia Jawa kembali para ranahnya, dan menjadi gerbang awal menuju kejayaan Nuswantara. The dance Bali Jawi is inspired by a ritual from the Javanese culture that used to called sowan leluhur; it is a ritual where people do an ancestral pilgrimage. This ritual is often done by a Javanese spiritual person or in Javanese culture called kejawen. The ancestral pilgrimage, sowan leluhur ritual is believed as a Nuswantara heritage. The Javanese spiritual person believes that their ancestors are always njampangi; a term in Javanese means „keep watching from a distance‟ their posterity. So, this ritual is often believed as a devotional form to the ancestors. One of the site that often be visited for this ritual is Watu Gilang at Kotagede that was the throne of a king of Mataram Kingdom. There are a lot of honorable values of Java in this ritual. In the other hand, this kind of ritual has been forgotten in this modern era. Javanese people tend to make a distance from this kind of ritual. Ironically, they also tend to consider this kind of ritual as a misguiding doctrine while the fact is there are so many values of kindness included in it. This reality, ironically, make the Javanese people lost their Javanese identity. The honorable values as a Javanese human faded day by day and most of them get lost; it is called “Wong Jawa Ilang Jawane”. Witnessing this reality that the Javanese honorable values begin to be faded, supported by empirical experiences, and also self-reflection brings out energy to raise this issue into a dance work. The Watu Gilang site is the starting point of the artistic research in this dance work creation. The result of the field research, literature research, and information gathered from various resources are processed to be a power from the dance Bali Jawi. The ideas are transformed into bodily symbols, music, dance properties, and other supporting elements. Every symbol presented on this dance are expected to tell the meaning and core values of the dance itself so Bali Jawi could be a meaningful yet high-quality that has honorable values of Java. The dance work is as well expected to inspire people in order to revive Javanese human honorable values. The choreographer is trying to look back to the past and connect it with the present time, as a provision to understand and forecast the future. The honorable values of Javanese human are back to its realm and become the initial gate into the glory of Nuswantara.
ANALISIS KOREOGRAFI TARI MELINTING LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Rahma Fatmala
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.19 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2810

Abstract

Tari Melinting adalah tari tradisional Lampung yang diciptakan oleh Ratu Melinting di Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur pada abad ke-16. Tari ini ditarikan oleh delapan orang penari yang terdiri dari empat orang penari putra dan empat orang penari putri dengan pola lantai yang unik. Keunikan lainnya adalah kostum yang dipakai, yakni siger Melinting yang menutupi sebagian wajah penari perempuan, musik iringan,  dan properti yang dipakai yaitu kipas, Cara menggerakkan kipas, serta henjutan kaki penari menjadikan penulis tertarik untuk menganalisis koreografi tari ini.   Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan pendekatan koreografi dengan menganalisis teks koreografi melalui aspek bentuk, teknik dan isi, serta digunakan pendokumentasian motif gerak melalui notasi Laban. Aspek bentuk Tari Melinting terbagi menjadi empat bagian, bagian ini dapat ditandai dengan perubahan musik iringan, pola lantai, dan motif geraknya. Tari Melinting memiliki dua belas motif gerak. Gerak tersebut meliputi gerak babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, dan luncat kijang.   Gerak Tari Melinting memiliki makna tentang kegagahan dan kelembutan putra putri Lampung. Gerak pada penari putra yang gagah dan lincah merupakan bentuk tanggung jawab lakilaki untuk menyejahterakan dan melindungi keluarga. Gerak pada penari putri yang lembut dan halus melambangkan kelembutan wanita Lampung. Serta gerak Tari Melinting memiliki ciri khas dalam geraknya yaitu terdapat efek enjutan ketika melakukan gerak Tari Melinting. Melinting Dance is a traditional dance created by Lampung Ratu Melinting in Labuhan Maringgai East Lampung Regency in the 16th century. Melinting dance is categorized as a group dance composition, because it can be seen from the form of performances that are danced by eight dancers. Melinting Dance uses the fan property held by the dancers. Melinting Dance describes the valor of Lampung princess. Along with its development, Melinting Dance has changed the function of dance ceremony to dance entertainment. From the change of the function Melinging Labuhan Maringgai Dance undergoes choreography changes but does not eliminate the basic movements that have been there since the first. Clothing on Melinting Dance wearing traditional clothes Lampung with corrective makeup. The accompaniment of Melinting Dance uses three types of percussion / Lampung accompaniment.  In this case the main problem is the choreography analysis Dance Melinting Labuhan Maringgai East Lampung regency. To answer the problem then used a choreography approach by analyzing choreographic texts through aspects of form, technique and content, and used documentation motion motion through Laban notation. Aspects of the form Melinting Dance is divided into four parts, this section can be marked by changes in music accompaniment, floor patterns and motion motifs. Melinting Dance has twelve motive motifs. The motion includes babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, lompat kijang. On the motion of Melinting Dance has a meaning about the valor of Lampung daughter. The motion of a handsome and agile male dancer is a form of male responsibility for the welfare and protection of the family. The motion of the soft and delicate female dancer symbolizes the softness of the Lampung woman. As well as the motion of Melinting Dance has a characteristic in motion that there are effects of driving when doing motion Dance Melinting.
BENTUK PENYAJIAN TARI LUKAH GILO DI MASYARAKAT SIJUNJUNG, SUMATERA BARAT Devi Kurnia Santi
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.938 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2809

Abstract

Tari Lukah Gilo merupakan salah satu kesenian yang hidup dan berkembang di Sijunjung, Sumatera Barat yang syarat dengan kekuatan supranatural dan unsur magis. Tari ini menggunakan lukah (bubu) sebagai properti utamanya. Pada dasarnya, tarian ini berupa kontrol atau pengendalian lukah (bubu). Keunikan pada tarian ini terletak pada  properti lukah yang dapat menari dan bergerak sendiri setelah dibacakan mantera oleh kulipah, sehingga lukah tersebut akan melompat dan juga menari tanpa digerakkan oleh seseorang.    Masalah dalam penelitian ini adalah bentuk penyajian tari Lukah Gilo di masyarakat Sijunjung, Sumatera Barat. Dalam membedah masalah yang ada, penelitian ini menggunakan metode deskripsi analisis dengan menggunakan pendekatan antropologi sebagai konteks dalam melihat keberadaan tari Lukah Gilo, yang dipengaruhi oleh aspek sosial, budaya, sejarah, latar belakang dan masyarakat pendukungnya. Untuk membedah bentuk penyajian tari dengan melihat analisis bentuk penyajian tari Lukah Gilo melihat tiga tahap proses pertunjukan, yaitu (1) proses persiapan yang meliputi mempersiapkan lukah, lukah direndam, lukah dipakaikan baju dan dirias, (2) pelaksanaan atau pementasan dipimpin oleh kulipah dengan menghadirkan jin untuk meng-gilo-kan lukah, (3) penutup untuk mengembalikan para jin ke tempat semula saat dipanggil.   Berdasarkan hasil yang diperoleh, penyajian tari Lukah Gilo menarik dikarenakan tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, akan tetapi juga untuk menguji ketangkasan dari anak-anak muda dan masyarakat Minang dalam mengontrol lukah yang sudah diberi mantera. Bentuk penyajian juga telah mengalami banyak perkembangan, terlihat pada penggunaan kostum dan alat musik sebagai iringannya. Meskipun bertentangan dengan agama Islam, namun tari Lukah Gilo tetap berada pada undang-undang adat, yaitu adat nan diadatkan sebagai warisan nenek moyang, dan  tidak bertentangan dengan falsafah adat Minangkabau “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.   Lukah Gilo dance is one of the arts that is alive and thriving in the Sijunjung, West Sumatera that terms with supernatural powers and magical elements. This dance used lukah (bubu) as its main property. Basically, this dance form’s the control of lukah (bubu). The uniqueness of this dance lies in lukah’s property who’s can dance or moves on its own after the spell was recited by kulipah.   The problem in this research is a presentation form of Lukah Gilo dance in Sijunjung society, West Sumatera. In dissecting the problem, this research using the method of the description of the analysis with the use of anthropology approach as context in view of the existence of the Lukah Gilo dance which is influenced by social, cultural, history, background, and community supporters. To dissect the form of the presentation of dance by looking at the analysis of the presentation form of Lukah Gilo dance sees three stages of the show process, (1) the preparatory process which includes preparing lukah, soaked the lukah, lukah wearing costume and applied makeup, (2) the implementation or performance is led by kulipah for presenting jin, (3) cover to restore the jin to the original place when called.   Based on the results obtained, presenting of Lukah Gilo dance are interesting, because the dance is not only serves as an entertainment, but also to test the agility of young kids and Minang’s society in controlling lukah already given a mantra. The presentation form also has undergone many developments, looks at the use of costume and musical instruments as accompaniment. Although contrary to Islam religion, but Lukah gilo dance remains on customary law, there is adat nan diadatkan  as the inheritance of the ancestors, and doesn’t conflict with the Minangkabau philosophy “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.   
A-Na(d) tayaSati Hubungan Anapanasati (Nafas Buddha) di dalam Struktur Tari Klasik Thailand Potchanan Pantham
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.52 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.3319

Abstract

RingkasanA-Na(d)tayaSati adalah penciptaan karya tari dengan menyatukan prinsip hubungan Anapanasati (napas Buddha) dengan struktur gerak tari klasik Thailand. Tujuan penciptaan agar bisa mengarah pada salah satu bentuk atau metode gerakan tari Thailand yang berfokus pada penggunaan napas sebagai landasan struktur gerakan independen, alami, dengan mengambil kekuatan energi dari dalam ke luar. Hal ini untuk membuat gerakan tersebut bertahan lama sehingga bisa bergerak dalam jangka waktu yang lebih lama, dan merupakan gerak yang tenang melalui meditasi yang alami, tanpa memaksa tubuh. Karya ini bertujuan pula untuk menciptakan gerakan lain dalam tarian Thailand yang konsisten dengan doktrin Buddha, yang sadar akan jangkauannya saat ini dan alami melalui latihan dan kesadaran diri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip meditasi dalam bentuk Anapanasati dan teori gerakan tubuh sesuai dengan (teori Pemrograman Motor) dalam anatomi untuk menemukan hubungan dari gerakan tari klasik Thailand yang memberikan arti penting bagi gerakan dengan napas penari. Proses penciptaan hubungan Anapanasati (Napas Buddha) dengan struktur gerak tari klasik Thailand, sebagai pengakuan adanya gerakan baru yang memiliki energi aerobik (Aerobic system) yang beredar sepanjang waktu. Hal ini merupakan sistem tubuh yang menggunakan oksigen untuk membakar sepenuhnya dan terbentuk sebagai energi yang berkelanjutan dan damai dari dalam tubuh yang disebabkan oleh meditasi dengan metode pernapasan sambil melalukan gerakan tari klasik Thailand. Selain itu, tubuh tetap memiliki postur yang jelas, kuat dan unik dengan struktur gerakan tari klasik Thailand namun menjadi lebih ringan, lebih nyaman dan lebih alami. Energi dari napas masuk dan ke luar itu membuat gerakan menjadi terus-menerus, tanpa akhir, tanpa masalah kelelahan dan kontraksi otot saat bergerak ketika menari.AbstractThe dance work creation with the principle of the relationship of Anapanasati (Buddha's breath) in the structure of the classical Thai dance movement. In the aim of being able to lead to one form or method of Thai dance movements that focuses on the use of breath as a foundation for the structure of independent movements, natural, and take energy from the inside to outside. This makes the movement very durable so that it can move for a longer period of time and is a quiet movement through natural meditation, without force. To create another movement in Thai dance that is consistent with Buddhist doctrine, which is aware of its current and natural reach through practice and self-awareness. By applying the principles of meditation in the form of Anapanasati and the theory of appropriate body movements (Motor Programming theory) in anatomy to find the connection of classical dance movements Thailand which gives importance mean to movement with the breath of dancers. The process of creating Anapanasati (Buddha's Breath) with the movement structure of the Thai classical dance as recognition of a new movement that has an aerobic system circulating around the time. This is a body system that uses oxygen to burn completely and is formed as a continuous and peaceful energy from the inside caused by meditation with the breathing method while moving the Thai classical dance movement. Besides that, the body still has a clear and strong posture that is unique with the structure of Thai classical dance movements such as lighter, more comfortable and more natural. The energy of in and out breath makes the movement become continuous, endless, without a problem of fatigue and muscle contraction during movements in the dance.
PERANAN SENI PERTUNJUKAN BARIKAN QUBRO DALAM MENDUKUNG PARIWISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Surojo Surojo; Iqbal Satrio Wicaksono
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.565 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2806

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang peranan pertunjukan Barikan Qubra dalam mendukung pariwisata di Karimunjawa. Barikan Qubra semula adalah upacara adat bulanan, di mana setiap penduduk Karimunjawa membuat sesaji tumpeng kecil, telur, garam, kacang ijo,  dan cabe merah. Sesaji ini diletakkan di perempatan desa (sekarang sudah menjadi di tengah kota), dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur warga atas panen ikan setiap hari, harapan keselamatan setiap warganya, dan agar dijauhkan dari gangguan penyakit.  Adat Barikan Qubra dilaksanakan setiap hari Kamis Wage menjelang Jumat Pon. Namun 5 tahun belakangan ini dijadikan sekali dalam setahun. Pemerintah desa dengan segenap simpatisan budaya membentuk panitia penyelenggara dengan konsep pergelaran budaya yang lebih besar. Setelah dilaksanakan pertama kali di tahun 2015 dan mendapat tanggapan positif dari seluruh elemen masyarakat, maka ujicoba  ini dijadikan event penting di setiap tahunnya, guna meningkatkan kedatangan wisatawan. Barikan Qubra yang dahulu sebagai upacara adat kini dikemas sebagai seni pertunjukan arak-arakan yang menarik, namun tidak meninggalkan nilai ritual mereka. Arak-arakan atau pawai upacara Barikan Qubra menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pawai Barikan Qubra dilaksanakan dari perempatan desa menuju pelabuhan atau dermaga di mana para nelayan  beraktivitas mencari ikan. Tidak hanya sampai di situ, puncak acara pertunjukan berakhir di Alun-alun desa Karimunjawa di mana para warga dan pengunjung menjadi satu dengan wisatawan. Gunungan yang dibuat dengan ukuran besar menjadi rebutan para pengunjung yang hadir. Masyarakat percaya, apabila mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka akan mendapat banyak berkah dari Tuhan. This paper presents the results of research on the role of the Barikan Qubra show in supporting tourism in Karimunjawa. The original Qubra was a monthly traditional ceremony, in which every Karimunjawa resident made small cone offerings, eggs, salt, green beans and red chili. These offerings are placed at the village intersection (now in the middle of the city), with the intention of expressing gratitude for waraga for harvesting fish every day and being kept away from diseased diseases and the safety of every citizen.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.
ANALISIS KOREOGRAFI TARI KETIMANG BURONG SUKU SAWANG Martha Sarassati Afnal
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.784 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2807

Abstract

Tari Ketimang Burong adalah sebuah pertunjukan tari yang lahir dari masyarakat suku Sawang Belitung. Tari ini adalah tari kelompok yang ditarikan oleh 6 orang penari laki-laki dan 6 orang penari perempuan secara berpasangan. Dilihat dari gerak, pola lantai, dan syair yang dilantunkan oleh para penyanyi memberikan gambaran mengenai kehidupan keseharian masyarakat suku Sawang yang dahulunya adalah suku yang menghabiskan hidupnya di lautan lepas.  Pemahaman analisis koreografi terdiri dari prinsip-prinsip kebentukan yang meliputi: keutuhan, variasi, repetisi, transisi, rangkaian, perbandingan dan klimaks.Dengan pendekatan Koreografi yang meliputi aspek bentuk, teknik, dan isi, serta menganalisis gerak tari dari aspek tenaga, ruang, dan waktu. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan dalam bentuk tari yang tidak dipisahkan dan merupakan satu kesatuan bentuk tari yang utuh.  Tari Ketimang Burong suku Sawang merupakan suatu tari hiburan dengan bentuk koreografi tari kelompok. Koreografi dalam tari ini memiliki motif gerak yang sangat sederhana, setiap motif geraknya dilakukan berulang-ulang. Dari kesederhanan yang terdapat dalam tari Ketimang Burong menyimpan berbagai makna disetiap hal yang terkait dengan tari tersebut, diantaranya tema, gerak, kostum, pola lantai, dan syair yang menjadi aspek penting dalam tari Ketimang Burong. This researchment analyze choreography of Ketimang Burong as a dance that comes from Sawang’s People of Belitung. This dance is a group dance that was danced by 6 male dancers and 6 female dancers in pairs. This dance is a dance that’s very closely related to daily life of the Sawang’s people. Judging from the motion, pattern of the floor, and the lyrics that sung by the singer provide an overview of the tribe of Sawang people who were former as the tribe who spend their life  in the sea.  This Researchment uses choreography appoarch, covering the aspect of form, technique, and content. And analyze the motion of dance from the aspect of energy, space, and time. The three concepts are unity in the form of dance that is not separated and is a unified whole dance form. The understanding of choreographic analysis consists of the principles of deformity which include : wholeness, variety, repetition, transition, sequence, comparison and climax.  Ketimang Burong dance of Sawang’s people is a entertainment dance where the form of choreography is a group dance. Choreography in this dance has a very simply motif, it is like every single of motion motif is done repeatedly. From the simplicity of Ketimang Burong dance, there are various meaning in ever thing related to the dance among theme are theme, motion, costume, floor pattern, and poem which become important aspect in Ketimang Burong dance.

Page 1 of 1 | Total Record : 7