cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 71 Documents
Search results for , issue "Jurnal Mahasiswa Desain Interior" : 71 Documents clear
KAJIAN ERGONOMI KOGNITIF INTERIOR BALAI BESAR REHABILITASI SOSIAL BINA GRAHITA KARTINI TEMANGGUNG BAGI PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL Jeviana Solihah
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.681

Abstract

Ergonomi kognitif berkaitan dengan karakteristik pikiran manusia dan hubungan aktivitas dan interaksi serta bagaimana informasi diperoleh, digunakan, disimpan dan dipanggil kembali. Termasuk di dalamnya sensasi dan persepsi, memori, penalaran dan perkembangan logis, pengolahan informasi, kontrol motorik dan respon. Penyandang disabilitas intelektual yang memiliki keterbatasan pada sistem kognitifnya tidak dapat beraktivitas seperti umumnya. Mereka membutuhkan pembimbing demi memudahkan aktivitas sehari-hari. Ergonomi kognitif dibutuhkan penyandang disabilitas intelektual dalam mengakses ruang dan fasilitas untuk menujang aktivitas sehari-hari di Balai Besar Rehabillitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggung.Kata kunci: ergonomi kognitif, penyandang tunagrahita, Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggung
PERANCANGAN INTERIOR LOBI, GALERI DAN KAFE LAWANGWANGI BANDUNG Suyudi Haryono
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.711

Abstract

Lawangwangi adalah galeri seniyang terletak di kota Bandung, Jawa Barat. Pada awalnya Lawangwangi diresmikan sebagai Art & Science Estate, sebuah infrastruktur yang menyerupai model Taman Seni dan Sains. Lawangwangi memiliki dari tiga fondasi utama perusahaan yang bergerak di bidang Art Gallery, Design Space dan kafe. Lawangwangi menyadari bahwa kota Bandung membutuhkan ruang kreatif yang dapat dinikmati kapan saja dan siapa saja, maka Lawangwangi membentuk sebuah kafe yang terletak pada lantai dua. Tujuan perancangan Lawangwangi adalah merancang interior yang merepresentasikan sebuah bangunan yang berintegrasi dengan kebudayaan lokal (sunda) pada desain interiornya. Dengan hadirnya desain interior yang mengusung kebudayaan lokal, sehingga dapat memberikan perasaan nyaman bagi para penggunanya serta memperkenalkan budaya sunda. Perancangan interior Lawangwangi meliputi area lobi, galeri dan kafe, menerapkan gaya modern vintage dan mengangkat tema urban nature. Tema yang digunakan pada perancangan interior lobi, galeri dan kafe Lawangwangi Bandung adalah urban nature. Maksud dari kata urban mengacu kepada bangunan dan perilaku masyarakat perkotaan sekarang ini yang gemar melakukan relaksasi atau hang out bersama kerabat disebuah kafe. Sedangkan maksud dari nature yaitu kehidupan masyarakat yang saling berdampingan dengan alam. Penggunaan material kayumerupakan cara menghadirkan suasana hangat, selain itu juga pengaplikasian kayu pada lantai berfungsi sebagai penanda arah sirkulasi. Selain kayu, terrazzo untuk lantai berfungsi baik untuk menahan beban yang berat, warna yang gelap dan bertekstur berguna untuk membiaskan sinar matahari yang masuk. Merespon lingkungan sekitar melalui aspek arsitektural dengan banyaknya penggunaan dinding kaca dimaksudkan agar mendapatkan suasana tanpa batas sehingga pengguna merasakan kedekatan diri dengan lingkungan sekitar. Sedangkan material yang diaplikasikan pada plafon adalah PVC putih yang dikombinasikan dengan material lokal yaitu bambu.  Kata Kunci: Kesenian, galeri seni, Bandung
PERANCANGAN INTERIOR GALERI, TOKO DAN CAFE SELASAR SUNARYO ART SPACE BANDUNG Teddy Rahadianto
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.712

Abstract

Kota Bandung merupakan kota yang dijadikanp royekrintisan kota berbasis ekonomi kreatif. Hal ini didasari pada pertemuan internasional di Yokohama tahun 2007. Salah satu hal yang menyebabkan tercapainya prestasi ini ialah adanya aktifitas pelaku kreatif dan apresiasi masyarakat kota Bandung sendiri terhadap aktifitas pelaku kreatif. Art space merupakan salah satu wadah bertemunya antara pelaku kreatif khususnya bidang seni dan masyarakat yang ingin mengetahui aktifitas yang terjadi didalamnya. Selasar Sunaryo Art space merupakan salah satu Art space di kota Bandung yang sudah berdiri selama kurang lebih 15 tahun dan dikelola secara mandiri. Selama perjalanannya dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan, pengelola dihadapi oleh bermacam permasalahan termasuk dari segi Interior ruang. Permasalahan utama yang dihadapi ialah faktor tat akondisi pencahayaan ruang, dan pengorganisasian penyimpanan barang dikarenakan terbatasnya area penyimpanan.Tujuan dirancangnya Interior Selasar Sunaryo Art space untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi dalam melangsungkan beragam kegiatan serta para pelaku seni dapat terakomodasi kebutuhannya selama berkegiatan didalamnya.Proses perancangan interior Selasar Sunaryo Art Space menggunakan metode perancangan analisis dan sintesis. Proses analisis didapat dengan cara menarik kesimpulan dari hasil survey secara langsung di Selasar Sunaryo Art Space, proses wawancara, dan permasalahan desain. Proses sintesis berupamemasukan konsep perancangan berupa program – program dan rancangan fisik yang dimasukan kedalam elemen perancangan untuk mencapai hasil perancangan interior Selasar Sunaryo Art Space yang kemudian dievaluasi kembali terhadap tujuan perancangan.Hasil perancangan interior Selasar Sunaryo Art Space kedalam wujud desain berupa panel – panel sirip pada bukaan di dindingr uang yang dalam penggunaanya dapat direspon oleh pengguna ruang untuk mendapatkan konfigurasi cahaya didalam ruang sesuai kebutuhan, penggunaan dinding – dinding temporer dengan sistem geser untuk mengurangi pemakaian area penyimpanan, mempermudah dalam penggunaan dinding temporer, serta diharapkan dapat meningkatkan aktifitas pelaku seni dalam merespon keadaan ruang.Dirancangnya, perabot penunjang aktifitas dengan sistem knock – down untuk mengurangi pemakaian area penyimpanan ketika tidak difungsikan.Kata Kunci : Bandung, interior Art space, SelasarSunaryo Art space, dinding temporer, perabot knock-down
Persepsi Visual Pengunjung Terhadap Interior Kopi Oey Sabang, Melawai, Dan Fatmawati Jakarta Prima Sarinastiti 1111818023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1073

Abstract

Gaya hidup masyarakat urban berkembang dan meningkat setiap tahunnya. Jakarta, kota metropolis memiliki populasi dengan tingkat konsumtif yang tinggi menyebabkan pertumbuhan ruang publik seperti kafe dan restoran. Kopitiam adalah tradisional kedai kopi yang muncul di Asia Tenggara, menyediakan makanan dan minuman menu sarapan. Salah satu kopitiam yang terkenal di Indonesia adalah Kopi Oey, milik ahli kuliner Indonesia, Bondan Winarno. Kopi Oey memiliki konsep djadoel yang unik dengan sentuhan Cina Peranakan. Kekuatan konsep djadoel yang namun keseluruhan total hingga ejaan pada daftar menu dibuat dengan tulisan djadoel. Kopi Oey saat ini memiliki 29 cabang, dengan cabang terbanyak di Jakarta. Kopi Oey Sabang, Melawai, dan Fatmawati Jakarta adalah Kopi Oey yang memiliki pasar dan desain ruang yang berbeda. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi visual pengunjung terhadap variabel ruang (warna, pencahayaan, bentuk, dan lain-lain). Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif yang mengkorelasikan data wawancara dengan data fisik ruang. Tinjauan pustaka berasal dari beberapa literature buku, baik elektronik maupun non elektronik, data internet dll. Persepsi visual pengunjung pada interior Kopi Oey Sabang, Melawai, dan Fatmawati adalah menarik, santai, hangat, dan unik. Kata kunci : Persepsi visual, interior, kafe
Perancangan Interior Gedung Museum Wayang Jakarta Arifin Trihernawan 0911710023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1064

Abstract

Ditengah modernisasi seperti dewasa ini keberadaan museum mulai terabaikan. Hal ini disayangkan karena museum memiliki peranan yang teramat penting dalam pertumbuhan unsur sosial, bisnis dan budaya. Dapat dikatakan demikian karena museum memiliki koleksi yang mampu menunjukan bagaimana proses dari unsur-unsur tersebut tumbuh hingga menjadi seperti sekarang ini, contohnya dengan melihat koleksi museum kita dapat membayangkan apa yang dilakukan masyarakat pada masa lampau hingga saat ini. Maka perlu dilakukan upaya sebagai wujud apresiasi generasi muda dalam melestarikan warisan budaya bangsa dalam mempertahankan nilai-nilai filosofi ditengah persaingan budaya global masa kini. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menciptakan museum yang menarik untuk dikunjungi oleh masyarakat luas sehingga mereka lebih mengenal budaya bangsa Indonesia. Museum Wayang Jakarta dipilih sebagai proyek pada perencanaan dan perancangan ini berdasarkan pertimbangan lokasinya yang merupakan salah satu tujuan wisata di Ibukota Negara Indonesia yaitu kota tua, Jakarta. Perencanaan dan perancangan interior Museum Wayang Jakarta yang meliputi ruang lobby, ruang pameran, ruang audiovisual (pertunjukan), dan ruang cenderamata ini akan mengangkat tema desain “Industrial” yang dipilih karena dianggap mampu merepresentasikan penataan interior yang menunjukan keselarasan unsur postmodernitas (melalui hal-hal yang berkesan industrial) sebagai gaya perancangan dengan koleksi museum itu sendiri. Gaya “postmodern” sendiri dipilih agar tercapai perpaduan antara apa yang ada dan elemen baru tanpa menghilangkan bentuk asli dari bangunan yang perlu dijaga kelestariannya. Hasil perencanaan dan perancangan desain interior museum ini diharapkan dapat bermanfaat dan mampu memecahkan berbagai permasalahan yang ada sehingga mampu mengakomodasi kebutuhan penggunanya baik pengelola maupun pengunjung. Selain itu perancangan ini diharapkan mampu merubah persepsi masyarakat akan bangunan-bangunan cagar budaya yang sering dianggap bersifat konvensional dan formal. Kata kunci : wayang, museum, bangunan cagar budaya
Perancangan Interior Terminal Bandara Internasional Lombok (Bil), Praya, Nusa Tenggara Barat (NTB) Winda Herliana Januar 1011749023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1078

Abstract

Bandara Internasional Lombok (BIL) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa transportasi udara, di bawah pengawasan PT. Angkasa Pura I (Persero). Bandara ini mengusung prinsip green design sebagai wujud dari kontribusi perusahaan terhadap lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan visinya yakni menjadi salah satu perusahaan pengelola bandar udara terbaik di Asia. Selain itu, sebagai pintu gerbang masyarakat Sasak, Lombok, tentunya Bandara Internasional Lombok (BIL) juga ingin memperkenalkan kebudayaan Lombok itu sendiri kepada para pengunjung, sebagai salah satu langkah dalam meningkatkan sektor pariwisata pulau Lombok. Perancangan ini bertujuan untuk dapat menampung dan merefleksikan keinginan perusahaan tersebut ke dalam desain interior area Check-in Hall, Waiting Room (domestic), Waiting Room (international), dan Food Court yang terdapat pada gedung terminal Bandara. Maka terpilihlah gaya modern dengan tema Tipologi Alam Pulau Lombok. Lebih khusus lagi, penerapan gaya dan tema ini lebih diutamakan dalam "irama alam" (rhythm of nature) yang sebagaimana kita pahami bahwa alam menyimpan sebuah kekuatan (power) dan nyawa yang dinamis. Di alam, kita dapat memperoleh berbagai prinsip-prinsip dasar komposisi dalam mendesain. Pemilihan tema rhythm of nature ini pula merupakan hasil pertimbangan bahwa desain sebuah terminal bandara memiliki sebuah "nyawa" yang dinamis dengan segala aktivitas dan pergerakan yang cepat dan tepat di dalamnya. Karya desain ini menggunakan metode perancangan proses desain yang terdiri dari analisa dan sintesa yang mengumpulkan keseluruhan data-data lalu mengolahnya menjadi alternatif desain yang dapat memberikan hasil solusi optimal. Penerapan gaya modern dan tema Tipologi Alam Pulau Lombok serta prinsip Environmentally Responsible Design (ERD) dan elemen-elemen interior pendukung lainnya diharapkan dapat mengoptimalkan aktivitas dan pergerakan dalam sebuah terminal bandara bertaraf internasional. Kata kunci : interior, terminal bandara internasional
Perancangan Interior Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Ayun Cahyaningrum 1011725023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1222

Abstract

Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta merupakan auditorium pertunjukkan seni yang dimiliki oleh pemerintah daerah Yogyakarta. Auditorium tersebut sebagai tempat pentasnya seniman dengan segudang pertunjukkan baik pertunjukkan daerah dan pertunjukkan kontemporer. Perancangan kembali interior Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta dimaksudkan untuk mengoptimalkan kegiatan seni pertunjukkan di dalamnya melalui peningkatan kualitas dan fasilitas ruang. Taman Budaya Yogyakarta mempunyai fasilitas yang memadai, walaupun perlu adanya perbaikan. Misalnya di lantai dua sebagai ruang pertunjukkan perlu adanya perbaikan akustik, penambahan fasilitas ruang, furnitur, dan perubahan gaya atau tema interiornya yang bertujuan menambah jumlah pengunjung. Tema dan gaya interior yang baru dapat meningkatkan daya tarik pengunjung. Mengangkat ciri khas rumah tradisional Yogyakarta ke dalam interior bangunan yang telah bergaya indis dapat membuat citra positif, mengingat gedung pertunjukkan tersebut mempunyai misi mengembangkan seni dan budaya lokal. Kata kunci : Perancangan, Interior, Concert Hall
Akulturasi Budaya Pada Interior Masjid Indrapuri Di Aceh Besar Faisal 0911706023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1069

Abstract

Masjid indrapuri merupakan sebuah masjid yang terletak di kecamatan Indrapuri kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sebelum ajaran Islam masuk di Aceh, bangunan ini diduga sebagai candi Hindu milik kerajaan yang oleh orang arab disebut sebagai Lamuri dan disebut Lambri oleh Marcopolo. Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini dirombak menjadi masjid. Puncak perkembangan kerajaan Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1637). Masa pemerintahan Sultan ini merupakan masa kejayaan kerajaan Aceh, baik politis maupun ekonomi. Pada masa ini banyak dibangun masjid sebagai tempat beribadah umat Islam. Ekspansi-ekspansi teritorial di daerah-daerah tetangga dilakukannya. Dari tahun 1612-1621, ia telah berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan pantai di sekitar selat malaka dan di pantai bagian barat pulau Sumatera. Sepulangnya dari Malaka, dibangunlah masjid Indrapuri diatas reruntuhan Candi tersebut. Pondasi Candi yang bertingkat di robohkan hingga tingkatan ke empat. Di tingkat ke empat inilah tiang-tiang masjid didirikan. Banyaknya kebudayaan yang masuk dan berkembang di Aceh, membuat penulis tertarik untuk meneliti akulturasi budaya yang terdapat pada masjid Indrapuri tersebut. Keunikan letak masjid Indrapuri yang dibangun diatas Candi Hindu itu juga membuat penulis ingin mengetahui bagaimanakah interior masjid Indrapuri tersebut ditinjau dari mihrab dan mimbar, ruang utama dan ornamen. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa masjid ini merupakan akulturasi dari budaya Hindu dengan budaya tradisional Aceh. Kebudayaan hindu dapat terlihat dari denah masjid, atap, lantai, dinding, dan mihrab masjid. Sedangkan kebudayaan Aceh dapat terlihat dari dinding, tiang dalam masjid, dan plafon. Kata kunci : Studi Akulturasi, Masjid, Indrapuri
Perancangan Interior Lobby, Restaurant, Honeymoon, Dan Spa. Hotel Resort Sanur, Bali Putri Ambarani Arief 1011751023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1074

Abstract

Saat ini perkembangan pariwisata sedang berkembang sangat pesat, terutama di daerah Bali yang semaik pesat. Di Bali banyak sekali pembangunan yang menyatu dengan alam. Maka banyak yang membangun villa dan resort di berbagai tempat khusus di Bali, seperti pinggir pantai, dekat sawah dan lain-lain. Hotel Resort Sanur ini adalah salah satu dari pembangunan resort-resort yang berada di pinggir pantai Sanur, Bali. Cakupan perancangan ini adalah Area Lobby, Area Resto, Area Honeymoon suite, dan Area Spa. Penerapan tema natural dengan gaya eklektik dipilih karena sesuai dengan keinginan klien yang ingin menggabungkan perpaduan dua budaya yaitu Bali dan Kalimantan ke dalam desain interior dan juga menginginkan agar ruangan lebih terbuka agar penghawaan dan pencahayaan alami dapat masuk ke dalam ruangan secara optimal. Dengan memilih bahan-bahan alam juga finishing yang natural, dapat mewakili image dari budaya Bali dan Kalimantan yang mengedepankan nilai-nilai filosofi dari alam. Kata kunci : Desain interior, resort, natural
Penerapan Konsep Ugahari Pada Interior Bangunan Karya Yoshi Fajar Aris Maulana 1011771023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1065

Abstract

Ugahari dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI) memiliki arti kesederhanaan. Menurut Yoshi Fajar dengan konsep ini tercipta sebuah karya perancangan dengan nilai kesederhanaan. Dimana bentuk, material, dan fungsi dikomunikasikan dengan keinginan, kebutuhan, dan kemungkinan lain sehingga terjadi sebuah timbal-balik atau dialog antara arsitek dengan penghuni, dengan tujuan untuk menciptakan karya perancangan yang memiliki keberlanjutan dan integrasi antara penghuni dengan ruang dan bangunan serta bangunan dengan lingkungan sekitar. Yoshi Fajar Kresno Murtir, merupakan seorang Architect – Researcher – Writer. Lahir pada tanggal 1 Maret 1977. Merupakan alumni Jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya, Yogyakarta pada tahun 2003. Yoshi Fajar mendirikan studio Ugahari Architecture. Melalui konsep Ugahari, Yoshi menciptakan bangunan dengan nilai kesederhanaan dengan estetika serta penghayatan citra arsitektur dan desain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam tentang proses desain dari konsep Ugahari oleh Yoshi Fajar. Penelitian ini menggunakan design analysis atau metode preseden (precedents) dalam desain yang memuat tiga aspek, yaitu aspek konseptual, aspek programati, dan aspek formal. Karya desain yang dikaji terdiri dari 5 karya Yoshi Fajar, yaitu Balai Warga 35 Kricak, Pendapa Hijau dan Rumah Baca LKiS, Rumah IVAA, Rumah Manggal Guest House, dan Galeri Lorong. Hasil penelitian dari kelima karya Yoshi Fajar dalam perancangan kelima karyanya, Yoshi mempertimbangkan kriteria-kriteria desain yang saling berkaitan satu sama lain. Kriteria tersebut diantarannya kriteria fungsi, kriteria ekonomi, kriteria bentuk, kriteria citra, kriteria waktu, kriteria lingkungan, serta kriteria sosial dan budaya. Kriteri-kriteria tesebut digunakan Yoshi dalam beberapa pertimbangan: (1) Pertimbangan denah dan mengelompokan serta menghubungkan ruang-ruangnya. (2) Karakter formal pada pembentukan denah dan fasad, pola-pola, serta material yang digunakan. Kata kunci : Design analysis, perancangan, Ugahari