cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 79 Documents
Search results for , issue "Jurnal Mahasiswa Seni Tari" : 79 Documents clear
SESUCI Yuliana Seconda Titasari S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.169

Abstract

Karya Sesuci menceritakan ruwatan anak-anak yang bercirikan Sukerta,diantaranya Sendang Kapit Pancuran, Ontang anting, Pendawa, Serimpi dan lainlain.Dimulai dari percintaan Betara Guru dengan Dewi Uma tidak seharusnya,sehingga lahirlah Kala yang meresahkan seluruh umat di bumi. Kala yang bringasmengganggu warga, terutama untuk anak-anak Sukerta, karena mereka akanmenjadi makanan Kala yang ganas, untuk mengatasi keserakahan Kala, makadiadakan ruwatan untuk bebas dari cengkraman Kala.Cerita Murwakala menjadi sumber inspirasi yang sangat membantu untukmenciptakan sebuah karya dengan kisah percintaan Betara Guru dengan DewiUma. Dengan imajinasi percintaan, cinta dan nafsu Betara Guru dapat terungkap.Gambaran dan tokoh Betara Kala yang besar dan ganas memberi inspirasi secaravisual demikian masyarakat sekitar terhadap suatu cerita yang dianggap sebagaimitos. Berbagai inspirasi maka tercipta improvisasi gerak mampu menyampaikanmaksud dan makna yang terkandung.Tari Sesuci ditarikan oleh lima penari perempuan dan satu penari laki-laki.Kehadiran para penari dimaksudkan untuk dapat menggambarkan sosok anakSukerta, Betara Kala, Betara Guru, Dewi Uma dan kelompok masyarakat yangpercaya pada ritual ruwatan.
NOGHEH GETAH KEHIDUPAN Ade Setiawan S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.170

Abstract

The writing discussed an article with title “Nogheh Getah Kehidupan” that tells us the way of rubber worker’s life with all of its problem. The article was inspired by the rubber worker’s living. Rubber as source of living was obtained with spirit and work hard. Even though a lot of obstruction, but all of obstruction couldn’t stop the rubber worker to work with high spirit and work hard.
Faktor-Faktor Penghambat Kontingen Kabupaten Kulon Progo Dalam Mengikuti Festival Sendratari Antar Kabupaten dan Kota se-DIY Dewi Puspita Sari S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor penghambat kontingen Kabupaten Kulon Progo dalam mengikuti Festival Sendratari antar kabupaten dan Kota se-DIY. Kabupaten Kulon Progo jarang mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan selama mengikuti festival sendratari. Permasalahan tersebut akan diungkap dengan menggunakan fungsi manajemen pertunjukan yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dan terbagi menjadi manajemen produksi dan manajemen artistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yang dilakukan melalui pendekatan manajemen dan historis untuk mengupas permasalahan yang muncul. Data terkumpul lewat observasi, wawancara, studi pustaka, serta  melihat dokumentasi pelaksanaan sendratari. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa sistem manajemen dalam sendratari kontingen kabupaten Kulon Progo, masih belum bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya baik dari manajemen produksi maupun artistik. Faktor penghambat di bidang produksi adalah, minimnya jumlah anggaran dalam perencanaan penyelenggaraan festival sendratari, kurangnya kerja sama yang baik antara seniman dan birokrasi, kurangnya pengarahan dari pihak yang memiliki pengetahuan kemampuan lebih, kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah dalam mengawasi proses penggarapan. Faktor penghambat di bidang artistik adalah, Perencanaan waktu latihan yang kurang jelas, Sumber daya manusia yang kurang bertanggung jawab, Kurangnya pengarahan dari pihak yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan lebih.   Kata kunci: Festival Sendratari, Manajemen, faktor penghambat
BEDAYA PARTA KRAMA Novilia Runi Prishastuti S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.172

Abstract

Kota Yogyakarta merupakan kota budaya, pendidikan, gudeg dan batik. Yogyakarta dikatakan kota budaya, karena masih banyak dijumpai berbagai seni budaya masyarakat yang diwariskan dan dijaga kemurniannya secara turun menurun. Sebagai contoh dalam sebuah kesenian yang ada disekitar kita. Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang merupakan hasil karya manusia, karena kesenian adalah sebuah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri, maka kehadiran kesenian ini mencipta, memberikan ruang gerak, memelihara dan mencipta yang baru lagi. Keberadaan kesenian merupakan pencitraan dari suatu aspek lingkungan wilayah yang akan berkembang menurut kondisi masyarakat. Maka kesenian dikatakan sebagai salah satu unsur yang menyangga kebudayaan.[1] [1] Umar Kayam, 1981,  Seni, Tradisi, Masyarakat, Jakarta ,  Sinar Harapan, pp.15-28
PANGGUNG KAHIRUPAN Ms. Apriyani S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.173

Abstract

PANGGUNG KAHIRUPAN merupakan judul yang dipilih untuk mewakili keseluruhan isi karya tari yangbertemakan realitakehidupanronggeng. Tipe dramatik digunakan untuk menghadirkan konflik batiniah dalam diri seorang ronggeng yang harus bisa menjalani dua pribadi yang berbeda ketika di atas panggung dan di luar panggung atau dalam kehidupan sehari-hari. Media gerak yang digunakan bersumber dari tari kerakyatan Sunda-Jawa Barat, yaitu ketuk tilu, ibingpencak dan Jaipongan. Gamelan Sunda dengan laras salendro yang berada di belakang area penari dimainkan oleh para nayaga untuk mengiringi karya ini. Tari Panggung Kahirupan merupakan karya yang menggunakan konsep tari pergaulan yang ditarikan oleh tujuh penari perempuan sebagai bentuk penggambaran sosok ronggeng.Penggunaan properti uang yang terjatuh di atas seorang penari pada adegan akhir menjadi klimaks dramatika dalam karya tari ini.Diharapkan karya tari ini dapat memberikan manfaat bagi setiap penikmatnya. Kata kunci: ronggeng, Panggung Kahirupan, tari pergaulan Sunda.
RIOH BALAK Ira Puspita Sari S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.174

Abstract

The writing with title “Rioh Balak dance” meaning frenzied people who are doing illegal logging. The writing tells us about story of illegal logging is now often the case in every area of ​​Indonesia. Rampant illegal logging going on, especially in Riau inspired to create a work of dance with theme illegal logging. Starting from the view of a paper mill with the raw material is natural wood, that’s make the writer asked if a factory used employment system illegal logging or not. With what has been experienced the writer because of the impact of illegal logging is burning of forest that’s make smoke so thick that cause illness, respiratory distress. The selection of the theme of illegal logging in this dance work certainly has some important goals for both writer, society and environment. One of those goals is to invite, to bring people to always preserve the environment, preservation of forests because forests provide a very useful source of life for us. Indonesian forest area vast stretches from Sabang to Marauke often referred to as the emerald equator which has an important role on the global ecological balance, and even Indonesia's tropical forests are considered as the lungs of the world that have a central role to life and living beings in the world.    
TIK-TOK Rikha arisanti S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.175

Abstract

Kecantikan wanita merupakan suatu kebanggaan tersendiri, apalagi kecantikan wanita dari dalam atau biasa disebut dengan inner beauty. Wanita tersebut seorang pesolek ataupun bukan pesolek tetap memikirkan penampilan mereka setiap harinya. Baju, tas, asesoris dan sepatu merupakan bahan pokok semua wanita dalam kegiatan sehari-harinya. Tanpa mereka menyadarinyapun terkadang mereka memadu madankan warna ataupun bahan dalam pemakaianya, sehingga terbentuklah sebuah karakter.Wanita adalah makhluk tuhan yang paling indah, dan dengan keindahannya tersebut wanitalah yang terkadang sering dipuja-puja karena kecantikannya ataupun sesuatu yang dipakainya seperti baju, tas, asesoris dan sepatu. Pemakaian yang terlihat bersih, sehat, elegance dan smart, terkadang tidak harus mempunyai label yang terlalu mahal ataupun kepunyaan seorang disaigner yang terkenal. Salah satunya adalah pemakaian sepatu, dalam hal ini tidak semua wanita menyukai sepatu hak tinggi (high heels). Alas kaki melindungi kaki agar tidak cedera dari kondisi lingkungan seperti permukaan tanah yang berbatu-batu, berair, udara panas, maupun dingin. Sepatu merupakan alas kaki atau kasut adalah produk seperti sepatu dan sandal yang dipakai untuk melindungi kaki terutama bagian telapak kaki. Alas kaki membuat kaki tetap bersih, melindungi dari cedera sewaktu bekerja, dan sebagai gaya busana.
NYIRIH Stefanie Retno Setiadi S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.176

Abstract

Tepak sirih selalu hadir dalam setiap acara dan upacara Melayu, baik instansi pemerintahan, lingkungan adat, maupun masyarakat umum sebagai silaturahmi masyarakat hingga saat ini. Namun sesungguhnya tidak banyak yang benar-benar memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Penata tari berusaha untuk merevitalisasi filosofi tersebut dalam sebuah karya tari yang akan ditampilkan dalam panggung prosenium. Penata meneliti makna dari setiap unsur penting yang terkandung dalam Tepak Sirih, yaitu sirih, artinya melambangkan sifat rendah hati, serta senantiasa memuliakan orang lain, kapur, artinya melambangkan hati yang putih bersih serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa akan lebih agresif dan marah, gambir, artinya melambangkan kecekalan/ keteguhan hati, pinang, merupakan lambang keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur, serta memiliki derajat tinggi, dan tembakau, artinya melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal. Karya tari ini menceritakan berbagai sifat manusia yang terwujud dalam unsur-unsur dalam tepak sirih. Bagaimana unsur-unsur tersebut terevitalisasi dan saling berinteraksi satu sama lain, hingga timbul konflik dan harmonisasi di antaranya. Pada akhir karya tari ini, ke lima unsur yang disimbolkan oleh lima orang penari dan lima warna kain yaitu merah, hijau, biru, kuning, dan putih tersebut terkemas menjadi satu dalam sebuah tepak sirih besar yang muncul di atas panggung.   Kata kunci : Koreografi, Harmonisasi, Tepak Sirih, dan Melayu.  
“Sikhandini”, Representasi dualistik karakter wanita dalam sebuah karya tari Susanti Pujiastuti S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.177

Abstract

“ Sikhandini “, Representasi dualistik karakter wanita dalam karya tari  menjelaskan tentang  sebuah karya koreografi duet yang menceritakan tentang sosok Srikandhi. Karya ini menggambarkan dualistik karakter yang ada pada diri Srikandhi, yaitu maskulin dan feminim. Karya ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama merupakan gambaran kelahiran Srikandhi, bagian kedua menggambarkan Srikandhi yang telah tumbuh dewasa, bagian tiga menceritakan tentang cerita Srikandhi Meguru Manah saat Srikandhi belajar ilmu perang kepada Arjuna dan dia jatuh cinta kepadanya, bagian empat merupakan klimaks dari karya tari ini menggambarkan Srikandhi sebagai Senapati perang melawan Resi Bisma dalam perang Baratayudha. Gerak yang dipergunakan merupakan hasil penjelajahan dan pengolahan teknik serta tubuh penata yang berpijak pada konsep yaitu tari klasik gaya Yogyakarta. Karya ini memadukan gerak tradisi dan kontemporer, selain itu juga memadukan wayang kulit yang dimainkan oleh dhalang melalui siluet. Kata Kunci : Srikandhi, Wanita, Dualistik Karakter
AKTIVITAS WARIA DALAM PENCIPTAAN SENI LUKIS Muhammad Nur S1
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.178

Abstract

Waria merupakan bentuk kehidupan manusia yang cukup aneh, secara fisik mereka adalah lakilakinormal memiliki alat kelamin yang normal tetapi secara psikis mereka merasa dirinyaperempuan, waria merupakan bagian dari masyarakat yang mengalami proses sosial disosiatifyaitu proses yang ditandai adanya suatu pertentangan yang bergantung pada unsur-unsur budayayang menyangkut struktur masyarakat dan sistem nilai-nilainya. Kehadiran mereka ditengahtengahmasyarakat belum sepenuhnya diterima, keadaan mereka dianggap sebagai perilaku yangmenyimpang tidak jarang mereka diperlakukan seperti orang aneh yang patut ditertawakan,dicemooh, dikucilkan karena dianggap tidak normal hal ini yang membuat ruang gerak yangdimiliki kaum waria sangatlah sempit dalam menuntut hak-haknya. Meskipun jumlah wariatidak terlalu besar, namun dalam beberapa hal dunia mereka telah mendatangkan problem yangtidak sederhana, fakta menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pekerjaseks komersial. Penyebab dari waria transeksual masih menjadi perdebatan, apakah disebabkanoleh kesalahan dalam pertumbuhan psikis seseorang, atau karena bawaan sejak lahir, sementaradari medis disebabkan karena kromosom yang tidak seimbang. Berbagai macam perspektif yangdigunakan untuk meneliti kaum waria tidaklah cukup untuk dijadikan suatu kesimpulan.Sebagai seorang transeksual, keindahan tubuh menjadi bagian terpenting dalam penampilansehari-hari hal ini didasari atas satu realitas bahwa secara biologis tubuh mereka ditandai denganciri fisik laki-laki padahal dunia mereka adalah dunia yang dipersentasikan dalam perilakuperempuan, sehingga tentunya akan ada upaya merubah dari citra laki-laki menjadi citra sosialsebagaimana perempuan.Mengacu kepada pokok permasalahan perilaku waria, kemudian dijadikan sebagai ide dasardalam penciptaan karya lukis. Penggambaran atau visualisasi ide menerapkan teknik kerokdengan beberapa karakter tekstur yang berbeda-beda, menggunakan objek tunggal sebagai pusatperhatian dengan mengolaborasikan beberapa unsur rupa seperti simbol, gesture, dan teks secararealistis pada setiap karya tujuannya agar mempermudah maksud dan tujuan yang ingindisampaikan. Selain itu penggunaan warna-warna terang mendominasi pada setiap karyatujuannya untuk menyelaraskan karakter feminim yang dimiliki waria dengan begitu visual yangdihadirkan akan terlihat harmonis.Kata Kunci : Waria, Transeksual, Perilaku menyimpang, Permasalahan sosial, GangguanPsikologis, Seni lukis, Teknik Kerok, Objek Tunggal.